Penyucian Sabat
<< Go Back


THE SIMBOLIC CODE

Jilid 13                                        No. 5, 6

    PENYUCIAN SABAT

Maret – April
1958

 

“Sabat adalah merupakan suatu pegangan keemasan yang mempersatukan Allah dengan umat-Nya. Tetapi perintah atau hukum Sabat itu telah dihancurkan. Hari milik Allah yang suci itu telah dicemarkan. Sabat telah disobek keluar dari tempatnya oleh manusia durhaka itu, dan suatu hari kerja biasa telah ditinggikan sebagai gantinya. Suatu pelanggaran telah dibuat di dalam hukum Torat, maka pelanggaran ini harus diperbaiki. Sabat yang benar harus dijunjung tinggi ke tempatnya yang wajar sebagai hari istirahat milik Allah. Di dalam Yesaya pasal 58 dilukiskan pekerjaan yang harus dibuat oleh umat Allah. Mereka harus membesarkan hukum Torat itu, dan menghormatinya, membangun tempat-tempat tua yang rusak, dan mendirikan landasan-landasan dari banyak generasi. Kepada mereka yang melaksanakan pekerjaan ini Allah berfirman: ‘Engkau akan disebut, Orang yang memperbaiki yang rusak, Yang membetulkan lorong-lorong untuk didiami. Jika engkau menarik kakimu daripada menginjak-injak Sabat, daripada melakukan segala kesenanganmu pada hari suci-Ku; lalu menyebut Sabat itu sebagai sesuatu yang menyenangkan, kesucian Tuhan, terhormat, lalu memuliakan DIA, tidak mengikuti jalan-jalanmu sendiri, dan juga tidak mencari kesenanganmu sendiri, atau pun membicarakan segala perkataanmu sendiri, maka engkau akan menyenangkan dirimu dalam Tuhan, dan Aku akan membuatmu melintas di atas tempat-tempat yang tinggi di bumi, dan memberi makan kamu dengan milik pusaka Yakub moyangmu; karena mulut Tuhan telah mengucapkannya.” Yesaya 58 : 12 – 14.

Masalah Sabat akan merupakan persoalan dalam pertikaian besar terakhir yang akan datang dalam mana seluruh dunia akan ikut serta. Manusia telah menjunjung tinggi prinsip-prinsip Iblis melebihi prinsip-prinsip yang berkuasa di dalam segala langit. Mereka telah menyambut Sabat yang palsu, yang telah ditinggikan oleh Setan sebagai tanda kekuasaannya. Tetapi Allah telah menempatkan meterai-Nya pada tuntutan kerajaan-Nya. Setiap pembentukan Sabat menyandang nama dari penciptanya, suatu tanda yang tak terhapuskan yang menunjukkan otoritas dari masing-masingnya. Itulah tugas kita untuk memimpin orang-orang supaya memahami hal ini. Kita harus menunjukkan kepada mereka, bahwa ini mempunyai konsekwensi penting apakah mereka menyandang tanda kerajaan Allah ataukah tanda kerajaan pemberontakan itu, karena mereka mengakui dirinya warga kerajaan dari tanda yang mereka sandang, Allah telah memanggil kita untuk menjunjung tinggi standar dari Sabat-Nya yang telah diinjak-injak. Jadi, betapa pentingnya agar teladan kita dalam pemeliharaan Sabat supaya hendaknya benar.” — Testimonies, vol. 6, pp. 351 – 353.

Dari waktu ke waktu pertanyaan-pertanyaan telah datang ke kantor ini menanyakan berbagai aspek penting mengenai Sabat. Sebelum kematiannya, Saudara Houteff telah mempersiapkan bahan yang berbentuk tanya jawab untuk sebuah traktat yang membahas masalah Sabat. Oleh karena traktat itu belum pernah diterbitkan, dan karena ia itu penting agar kita memperoleh suatu pengertian mengenai Kebenaran Sabat yang menyeluruh, maka CODE dengan senang hati memperkenalkan suatu seri bahan-bahan tanya jawab yang diambil dari bahan traktat itu. Permasalahan yang akan dibicarakan dalam terbitan ini ialah:

SABAT
Apakah Itu? Kapankah Itu?
Bagi Siapakah Itu?

Seorang pencari Kebenaran menulis: ”Bersama ini saya kirimkan kepada Saudara tulisan yang tampaknya doktrin Alkitab yang membicarakan, bahwa Sabat Alkitab itu jatuh pada hari Jumat, bukan pada hari Sabtu ataupun hari Minggu. Ia itu tampaknya bagiku tak terjawab. Mohon memberikan kepada saya suatu.

“Jawaban Alkitab Yang Tegas”

Sorotan penyelidikan oleh kaca pembesar pengungkap rahasia dari Sorga (Roh dan Firman) menemukan tulisan Sabat-hari Jumat itu membangun keseluruhan struktur ajarannya pada Keluaran 16, ayat 1 dan 2, yang oleh penulisnya diberi judul “The Key to God’s Week” (Kunci Yang mengungkapkan Mingguan Allah). Maka dengan demikian jika sekiranya di bawah sorotan kaca pembesar milik Sorga sendiri kedudukannya terbukti tertanam kuat dan pasti berdasarkan fakta, maka ajaran itu akan disambut dengan penuh penghargaan. Tetapi jika penyelidikan yang sedemikian ini terhadap kedudukannya terbukti tak dapat dipertahankan, maka tentunya ia itu harus dilepaskan. Oleh karena kedudukannya itu dilandaskan pada Keluaran 16 : 1 – 12, maka bersama ini kami kutip ayat-ayat itu sebagai berikut:

“Dan setelah mereka berangkat dari Elim, maka tibalah seluruh perhimpunan bani Israel di padang belantara Sin, yang terletak di antara Elim dan Sinai, pada hari yang kelima belas dari bulan yang kedua sesudah keberangkatan mereka keluar dari tanah Mesir. Maka seluruh perhimpunan bani Israel bersungut-sungut melawan Musa dan Harun di padang belantara itu; lalu kata bani lsrael kepada keduanya, ‘Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan, sewaktu kami duduk menghadapi kuali-kuali berisi daging, dan sewaktu kami makan roti sampai kenyang; karena kamu telah menghantarkan kami keluar ke dalam padang belantara ini, membunuh seluruh perhimpunan ini dengan kelaparan.

“Kemudian firman Tuhan kepada Musa, Tengoklah, Aku akan menurunkan hujan roti dari langit bagimu; maka orang banyak itu akan pergi keluar dan mengumpulkan setiap hari sebanyak yang perlu bagi hari itu, supaya dapat Ku cobai mereka itu, apakah mau mereka berjalan sesuai hukum-Ku atau tidak. Maka akan jadi kelak, bahwa pada hari yang keenam hendaklah mereka mempersiapkan apa yang mereka bawa masuk itu, maka ia itu akan dua kali banyaknya daripada yang mereka kumpulkan setiap hari. Lalu berkatalah Musa dan Harun kepada seluruh bani Israel: Pada petang hari, kemudian kamu akan mengetahui, bahwa Tuhan telah menghantarkan kamu keluar dan tanah Mesir; dan pada pagi hari, kemudian kamu akan menyaksikan kemuliaan Tuhan, karena Ia telah mendengar semua persungutanmu melawan Tuhan; dan apa artinya kami ini, sehingga kamu bersungut-sungut menentang kami? Lagi kata Musa, Ini akan jadi, apabila Tuhan kelak memberikan kamu pada malam hari daging untuk dimakan, dan dipagi hari roti sampai kenyang, untuk mana Tuhan telah mendengar semua persungutanmu yang kau sunguti melawan-Nya; maka apa artinya kami ini? Persungutanmu bukan melawan kami, melainkan melawan Tuhan.

“Lalu kata Musa kepada Harun: Katakanlah kepada seluruh perhimpunan bani Israel itu, Marilah dekat ke hadapan Tuhan, karena Ia telah mendengar semua persungutanmu. Maka ia itu jadi kemudian seperti yang dikatakan Harun kepada seluruh perhimpunan bani Israel itu, bahwa mereka memandang ke arah padang belantara, lalu, bahwasanya, kemuliaan Tuhan muncul dalam awan.

“Lalu firman Tuhan kepada Musa, katanya, Aku telah mendengar semua persungutan bani Israel; berbicaralah kepada mereka, dan katakan, Pada malam nanti kamu akan memakan daging, dan pada pagi hari kamu akan dikenyangkan dengan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah Tuhan Allahmu.” Keluaran 16 : 1 – 12.

Dengan ayat-ayat ini pemikiran-pemikiran yang ditonjolkan oleh penulis Sabat-hari Jumat itu disajikan dalam empat belas paragrap yang dikutip berikut ini.

“Kepada kami juga diberikan hubungan ilahi itu, atau hubungan yang benar antara hari-hari milik Allah dengan bulan-bulan-Nya di dalam Keluaran pasal 16. Allah telah membuktikan kepada bani Israel yang setiap hari dari minggu itu hidup oleh “kejatuhan manna”. Manna yang pertama jatuh pada hari keenam belas dari bulan yang kedua, yaitu hari yang jatuh sesudah hari kelima belas, lihat Keluaran 16 : 1 – 22. Ini menandai hari yang pertama dari minggu Alkitab, yaitu Minggu Kejadian. Kini hari yang ke – 16 dari bulan yang kedua dari tahun milik Allah sebagaimana terlihat di mana saja dalam penyelidikan ini, kini disebut hari Sabtu (Saturday) di bawah nama Romawi. Hari yang ke – 2 pada mana manna itu jatuh kini disebut hari Minggu (Sunday), dan hari ke – 3 disebut hari Senin (Monday), hari ke – 4 disebut hari Selasa (Tuesday), hari ke – 5 disebut hari Rabu (Wednesday), hari ke – 6 atau ‘Hari Persiapan’, disebut hari Kamis (Thursday); dan Hari ke – 7 pada manna tidak ada manna yang jatuh kini disebut hari Jumat (Friday). Hubungan yang sama ini pun telah dipertahankan semenjak dari Kejadian karena kami melihat disana, bahwa saat pertama bulan mencatat waktu yang akan merupakan hari pertama dari bulan, ialah pada hari ke – 5 dari minggu. Kejadian 1 : 14 – 18.

“Sekarang bacakanlah dengan saksama kembali mengenai keberangkatan bani Israel keluar dari tanah Mesir. (Keluaran 12). Engkau akan menemukan, bahwa mereka telah diperintahkan untuk melaksanakan paskah (Abib 14) di Mesir lalu kemudian berangkat pada hari berikutnya (Abib 15). Immamat 23 : 5 – 6, Bilangan 33 : 2 – 3.

“Kita dapat memahami hikmat pengetahuan Allah dalam memberikan kepada bani Israel Waktu-Nya yang Benar, karena Ia pada waktu itu sedang menunjukkan kepada mereka hari-hari perayaan penting untuk diperingati, dan sebagaimana yang akan segera kita saksikan, Ia, sedang akan memberikan kepada mereka hukum-hukum-Nya untuk dipatuhi.

“Sesuai dengan Bilangan 33 : 2 – 3 bani Israel berangkat keluar dari tanah Mesir pada hari ke – 15 dari bulan yang pertama (Abib).

“Adalah dalam pengembaraan bani Israel itu, maka Allah telah memperlihatkan salah satu yang terbesar dari segala keajaiban Alkitab, yaitu turunnya manna. Adakah engkau melewati ayat ini sebagai hanya suatu pemberian makanan secara ajaib kepada bani Israel untuk memelihara mereka daripada kematian karena lapar? Allah mempunyai suatu maksud yang dalam. Menurut Keluaran 16 : 3 Allah bermaksud untuk menguji ‘apakah mereka mau berjalan sesuai hukum-Ku atau tidak.”

“Ada suatu tanggal yang menyolok yang diberikan di dalam buku Keluaran.”

Keluaran 16 : 1 berbunyi: Maka setelah berangkat mereka dari Elim, kemudian tibalah seluruh perhimpunan bani Israel itu di padang belantara Sin, yang terletak di antara Elim dan Sinai, pada hari kelima belas dari bulan yang kedua sesudah keberangkatan mereka keluar dari tanah Mesir.

“Dua setengah atau tiga juta orang berada pada perjalanan ini selama tiga puluh hari, dan semua bekal yang dibawa mereka ternyata telah habis dimakan sehingga kondisi mereka telah menjadi sedemikian buruk pada hari ke – 15 ini dari bulan yang kedua itu, yaitu Zif, (menunjuk ke kalender), sehingga seluruh perhimpunan bani Israel itu bersungut-sungut melawan Musa dan Harun. Mereka lebih menyukai mati ditangan Tuhan di Mesir, (Keluaran 16 : 2 – 3).

“Tetapi pada hari yang, sama itu juga Allah telah membuat suatu janji melalui Musa, dengan mengatakan:

“Keluaran 16 : 12 berbunyi : Aku telah mendengar semua persungutan bani Israel; berbicaralah kepada mereka dan katakan, Pada malam nanti kamu akan memakan daging, dan pada pagi hari kamu akan dikenyangkan dengan roti; maka akan diketahui olehmu, bahwa Akulah Tuhan Allahmu.

“Kini pagi yang pertama sesudah hari ke – 15 itu akan merupakan pagi dari hari ke – 16, yaitu hari yang pertama di mana manna jatuh di padang belantara. Telah dinyatakan kepada kita dengan jelas, bahwa inilah hari yang pertama dari minggu itu, karena Keluaran 16 : 22 mengatakan mereka mengumpulkannya setiap pagi selama enam hari. Juga lihat Keluaran 16 : 26.

“Oleh sebab itu marilah kita menghitung: Manna pertama kali jatuh pada hari ke – 16 dari bulan kedua (Zif) atau hari pertama dari minggu Alkitab; hari ke – 17 ialah hari kedua dari minggu; hari ke – 18 ialah hari ketiga dari minggu; hari ke – 19 ialah hari keempat dari minggu; hari ke – 20 ialah hari kelima dari minggu; hari ke – 21 ialah hari keenam dari minggu, dan dua kali banyaknya Manna yang jatuh. Pada hari ke – 22 tidak ada Manna yang jatuh, karena ini adalah hari yang ketujuh dari minggu atau Sabat yang suci dari Kejadian. Keluaran 16 : 23 – 30. Ini mengajarkan kepada kita seperti yang telah diajarkan kepada mereka siklus tujuh hari yang benar itu atau minggu Alkitab. Sebab itu kita benar-benar dapat mengaitkan bersama-sama dengan Minggu Alkitab milik Allah itu sebagai berikut:

Hari dalam minggu   : …… 1     2     3     4     5     6     7
Bulan Zif                 : …… 16   17   18   19   20    21   22

Sabat Hari Ketujuh milik Allah adalah disebut Hari Jumat pada Kalender Gregori Romawi.

“Sambil menunjuk sekali lagi kepada kalender itu, kita menggunakan ‘key week’ atau minggu pembuka dan akan menemukan, bahwa kita dapat mengikutinya ke depan atau pun ke belakang. Dengan mengikuti ke belakang, kita akan menemukan bahwa hari pertama dari bulan yang pertama dari tahun pertama dari suatu siklus 3 tahun akan sampai pada hari yang kelima dari minggu milik Allah itu.

“Bulan baru ini yang menunjukkan hari pertama dari tahun yang pertama siklus itu akan selalu masuk pada hari di mana kalender Romawi menyebutkannya hari Rabu. Sesungguhnya hari milik Allah akan dimulai pada malam sebelumnya. (yaitu Selasa malam, waktu Romawi) sesuai Alkitab. Kejadiah  1 : 23.

“Karena hari Rabu ialah hari dari bulan baru, dan bulan baru itu datang pada hari kelima dari minggu milik Allah, maka kita dapat dengan aman mengatakan, bahwa hari ke – 6 akan jatuh pada hari Kamis, dan Sabat hari ke – 7 dari minggu millk Allah adalah disebut hari Jumat, waktu Romawi.

“Suatu hari Alkitab adalah terhitung semenjak dari masuk matahari sampai masuk matahari. Kamis sore masuk matahari sampai Jumat sore masuk matahari sesungguhnya adalah Sabat milik Allah.” — GOD’s Calendar, pp. 3, 7.

Semua komentar yang dikemukakan oleh penulis buku Sabat hari Jumat mengenai Keluaran 16 : 1 – 12 di atas ini mengungkapkan, bahwa pendiriannya adalah berlandaskan asumsi (perkiraan), bahwa ada terdapat kontinuitas yang chronologis yang tidak terputus diantara peristiwa dari Keluaran 16 : 1 dan peristiwa-peristiwa dari Keluaran 16 : 2 – 12. Alasan yang dibuatnya adalah sedemikian rupa sehingga terlihat, bahwa pada malam dari hari kelima belas, hari kedatangan bani Israel di padang belantara Sin itu, burung-burung itu keluar, dan bahwa pada pagi hari berikutnya, hari keenam belas, manna turun dari langit. Pada janji yang bersifat kunci (key promise) inilah ajaran tentang Sabat-hari Jumat itu telah dibangun; dan atas dasar itulah ia itu harus bertahan atau jatuh. Oleh sebab itu, marilah kita dengan saksama menelitinya dengan penuh doa melalui lensa-Iensa peneropong dari Roh Kebenaran terhadap Firman itu sendiri.

Anaiisa yang saksama terhadap catatan Alkitab (Keluaran 16) yang dibicarakan ini mengungkapkan, bahwa satu-satunya hari dari bulan yang disebut Ilham ialah hari ke – 15, yaitu hari kedatangan Eksodus itu di padang belantara Sin (Keluaran 16 : 1). Alkitab tidak menyebutkan hari atau bulan pada mana Israel bersungut-sungut; dan ia itu juga tidak menyebut bulan atau hari di mana Manna pertama kali turun, atau pun hari di mana burung-burung itu muncul.

Kenyataan-kenyataan ini menjadi bukti yang mutlak apabila dicatat, bahwa tidak semua unsur-unsur waktu dari ayat 2 sampai ayat 12 itu berurutan atau berkaitan secepatnya dengan unsur-unsur waktu dari ayat 1, yaitu ayat yang membicarakan hari kedatangan Israel di padang belantara Sin. Ayat 2 sampai ayat 12 dan seterusnya sampai ayat 35 hanya menceriterakan secara singkat aspek-aspek yang sangat berarti dari pengalaman-pengalaman yang sangat berarti yang telah menimpa mereka selama empat puluh tahun pengembaraan mereka di padang belantara.

Juga, ayat-ayat ini membuktikannya secara seimbang, bahwa tidak satupun peristiwa-peristiwa yang mereka ceritakan itu terjadi pada hari-hari yang menyusul segera kedatangan Eksodus itu di padang belantara Sin. Setiap pembandingan yang saksama terhadap catatan-catatan itu akan menguatkan, bahwa peristiwa-peristiwa yang ditunjukkan itu adalah meliputi suatu masa periode yang luas, dan bahwa terdapat suatu jarak waktu di antara ayat 1 dan ayat 2; juga bahwa secara berurutan peristiwa-peristiwa dari pasal 17 itu pun masuk di antara peristiwa-peristiwa dari pasal 16 ayat 1 dan 2.

Kenyataannya adalah, bahwa terlepas dari menyebutkan hari dari bulan kedatangan Eksodus itu di padang belantara, catatan itu sama sekali tidak menyebutkan sesuatu hari lain, baik dalam kaitannya dengan turunnya manna maupun dengan datangnya burung-burung itu, melainkan hanya menunjukkan, bahwa yang satu datang di malam hari (harinya tidak tercatat) dan yang lainnya di pagi hari (harinya tidak tercatat). Lagi pula, dan kembali bertentangan dengan teorinya, bahwa manna itu lebih dulu datang dan burung-burung itu datang sesudah berhari-hari kemudian, seperti yang akan kita saksikan sekarang.

Oleh karena buku Bilangan pasal 11 mencatat peristiwa-peristiwa manna dan burung-burung itu jauh lebih terperinci daripada yang tercatat di dalam Keluaran 16, maka secara singkat kita akan memeriksa hikayat itu sebagaimana diceriterakan di sana:

“Kami teringat akan ikan yang kami makan di Mesir dengan sebebas-bebasnya; kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih; tetapi kini jiwa kami mati kekeringan; sama sekali tidak ada barang apa pun, terkecuali manna ini di hadapan kami.” Bilangan 11 : 5, 6.

Karena tidak puas akan persungutan-persungutan mereka itu terhadap manna, maka Tuhan memerintahkan kepada Musa:

“………… katakanlah olehmu kepada orang banyak itu, Kuduskanlah dirimu akan hari esok, maka kamu akan memakan daging; …… Bukan hanya sehari kamu akan memakannya, juga bukan hanya dua hari, atau pun lima hari, atau pun sepuluh hari, atau pun dua puluh hari, melainkan bahkan sebulan penuh, sampai ia itu kelak dari lubang-lubang hidungmu, dan ia itu menjadi muak bagimu ……………… ” Bilangan 11 : 18 – 20.

Ayat-ayat ini maupun ayat-ayat sebelumnya dan pasal 11 itu mengungkapkan secara pasti, bahwa burung-burung itu datang setelah bani Israel bersungut-sungut menentang manna; dan bahwa sesudah mereka kehilangan selera makan terhadapnya mereka menjadi makin bersungut-sungut karena mereka tidak yakin akan kemampuan Tuhan menyediakan makanan daging bagi suatu rombongan orang banyak yang sedemikian besarnya. Sungguh pun demikian secara tak terduga oleh mereka, ” . . . . keluarlah di sana suatu angin dari Tuhan, yang membawa burung-burung puyuh dari lautan, lalu membiarkannya jatuh di dekat perkemahan, kira-kira sehari perjalanan pada segala penjuru sekeliling perkemahan itu, dan kira-kira dua hasta tingginya pada permukaan tanah. Lalu bangkitlah orang banyak itu sepanjang hari dan sepanjang malam itu, dan sepanjang hari berikutnya, lalu dikumpulkannya burung-burung itu; setiap orang sedikit-dikitnya mengumpulkan sepuluh homer; lalu mereka menyebarkannya keluar bagi dirinya sekeliling perkemahan itu. Maka selagi daging masih berada di antara gigi-giginya, sebelum dikunyah, maka naiklah murka Tuhan atas orang banyak itu, lalu dipalu Tuhan akan mereka itu dengan suatu bela yang besar sekali.” Bilangan 11 : 31 – 33.

Ayat-ayat Alkitab ini menyajikan bukti yang kuat, bahwa burung-burung itu tidak datang mendahului manna (Bilangan 11 : 1 – 9, 13, 18 – 23, 31 – 33), dan bahwa adanya sekalian itu di sana bukan hanya semalam melainkan sedikit-dikitnya dua hari lamanya (Bilangan 11 : 32). Inilah bukti yang mutlak, bahwa hari kedatangan Israel (hari kelima belas) di padang belantara Sin (Keluaran 16 : 1) bukanlah hari burung-burung itu datang, seperti yang disangka oleh penulis buku Sabat-hari Jumat itu.

Juga mengherankan, karena ia telah lalai mencatat, bahwa adalah bukan rencana Allah untuk memberi makan umat-Nya semata-mata dengan daging selama empat puluh tahun itu; tidak seorangpun akan membayangkan bahwa IA secara main-main memberi mereka makan daging langsung sejak keberangkatan, kemudian secara tiba-tiba menyingkirkannya dari mereka lalu menggantikannya dengan manna. Lagipula sekiranya ini yang terjadi, maka yang sedemikian inilah dan bukan sebaliknya yang sudah akan tercatat.

Juga, adalah dapat dimengerti bahwa segera setelah mereka melihat bahwa tidak mungkin lagi untuk hidup di padang belantara, maka mereka secara tidak percaya membayangkan dirinya akan kekurangan, melarat, lapar, dan mati, Ialu langsung mulai menuduh-nuduh Musa karena nasib mereka yang ditakutinya, dan berteriak-teriak dengan sedihnya meminta makanan apa saja, gantinya sesuatu makanan yang istimewa. Karena kasihan akan kekhawatiran mereka itu dan karena memikirkan kebutuhan mereka, maka Tuhan mengirimkan kepada mereka “roti (manna) dari langit.” Keluaran 16 : 4. Sungguhpun demikian, segera setelah mereka bosan dengan manna itu, maka mulailah mereka bersungut-sungut kembali merindukan makanan daging, yang bukan bagi kebaikan mereka. Demikianlah halnya, sehingga sekalipun bertentangan dengan maksud baik-Nya bagi mereka, Tuhan akhirnya mengirimkan kepada mereka burung-burung puyuh (Keluaran 16 : 8). Sekalipun demikian, manna masih tetap turun seperti biasanya pada keesokan harinya. Demikianlah mereka kemudian memperoleh baik roti maupun daging untuk berpesta pora — bahkan, daging sampai kepada kehancurannya (Keluaran 16 : 12, 13; Bilangan 11 : 31 – 33).

Pemazmur secara wajar menegaskannya: “Bahkan mereka berbicara menentang Allah, kata mereka, Mampukah Allah menyajikan makanan di padang belantara? Bahwasanya, Ia memalu batu karang sehingga air memancar keluar, dan sungai-sungainya penuh; mampukah Ia juga memberikan roti? Mampukah Ia menyediakan daging bagi umat-Nya?” Mazmur 78 : 19, 20.

Yang masuk akal dari rangkaian peristiwa-peristiwa yang ditegaskan di atas oleh Pemazmur, memberikan bukti yang menguatkan: (1) bahwa “roti” (manna) itu turun agaknya pada sesuatu waktu sesudah hari kelima belas; (2) bahwa ia itu datang sesudah perjalanan mereka yang kedua memasuki padang belantara Sin — sejauh sampai ke Rephidim (Keluaran 17 : 1), tempat dimana Musa memalu batu karang yang kemudian mengeluarkan air; dan (3) bahwa burung-burung puyuh memasuki perkemahan masih lebih lagi sesudah itu. Menegaskannya kembali, pertama air keluar dari batu karang, kemudian turun manna, dan kemudian daripada itu datang burung- burung. Penegasan Pemazmur yang diilhami itu — “Bahwasanya, Ia memalu batu karang …… ; mampukah Ia memberikan roti juga? Dapatkah Ia menyediakan daging bagi umat-Nya?” — menyatakan bahwa Tuhan sudah membuat batu karang itu mengeluarkan air jauh sebelum mereka secara tidak percaya meneriakkan keragu-raguannya terhadap kemampuan Tuhan untuk memberikan roti kepada mereka, dan bahwa selanjutnya mereka meneriakkan keragu-raguan terhadap kemampuan Tuhan memberikan daging kepada mereka.

Karena gagal melihat dan memperhitungkan kenyataan-kenyataan kunci yang sesungguhnya ini, maka penulis buku Sabat hari Jumat itu secara keliru menganggap, bahwa burung-burung itu lebih dulu datang, kemudian manna, kemudian baru air. Ternyata ia telah melalaikan kenyataan, bahwa Keluaran 16 itu sendiri menunjukkan, bahwa peristiwa-peristiwa yang tercatat disana meliputi suatu masa periode (semua hari-hari pengembaraan mereka di padang belantara Sin) dan bukan hanya beberapa hari saja yang menyusul kedatangan mereka di padang belantara Sin. Peristiwa-peristiwa dari pasal itu meliputi juga pengiriman mata-mata ke tanah itu, juga penganugerahan “Kesaksian” Tuhan (hukum Torat) dari Sinai, maupun, pembangunan tabernakel berikut mempersiapkannya (Keluaran 16 : 33 – 35; 40 : 2 – 6). Semua peristiwa ini tercatat di dalam pasal yang sama, sekalipun sebagaimana telah kita saksikan, peristiwa yang pertama secara berurutan mengikuti peristiwa dari hari kelima belas itu — hari kedatangan mereka di padang belantara Sin (Keluaran 16 – 1) — ialah Musa memalu batu karang di Rephidim (Keluaran 17).

Langkah berikutnya dari penulis buku Sabat-hari Jumat itu dalam proses membentuk teorinya, ialah pertentangan yang salah, bahwa “malam” (Keluaran 12 : 6) dari hari dimana persiapan-persiapan bagi Paskah akan dimulai bukannya sore hari keempat belas itu, melainkan pada saat matahari masuk pada hari ketiga belas, dan bahwa itulah sebabnya makan Paskah, “perayaan itu”, terjadi pada waktu itu, pada permulaan hari keempat belas. Ini dilakukannya sekalipun pada kenyataannya Ilham secara tegas memerintahkan:

“Berbicaralah kamu kepada semua perhimpunan Israel, dan katakan: Pada hari kesepuluh bulan ini hendaklah mereka mengambil bagi dirinya masing-masing orang seekor anak domba menurut kaum keluarga mereka, seekor anak domba bagi setiap rumah tangga: … dan hendaklah kamu memeliharakannya sampai hari keempat belas dari bulan yang sama; maka seluruh yang hadir dari perhimpunan Israel harus membunuhnya pada malam hari itu.” Keluaran 12 : 3, 6.

Tandailah dengan saksama, perintah itu secara tegas mewajibkan agar domba korban itu dipisahkan dari kawanannya pada hari kesepuluh dari bulan pertama, dipelihara hidup hanya sampai hari keempat belas, bukan sampai hari ketiga belas, kemudian dibunuh pada malam dari hari yang sama; artinya, anak domba itu akan dibunuh menjelang akhir dari hari keempat belas, bukan pada permulaannya. Batas itu menempatkan saat pembunuhan anak domba itu “diantara dua malam itu.” Secara Alkitab maupun secara tradisi “malam” yang satu ialah waktu sesudah matahari jam 12.00 mulai turun — yaitu sore, sesudah jam 13.00; “malam” yang satunya merangkul periode senja, semenjak dari waktu matahari masuk sampai waktu tidur. Kedua batas ini menetapkan jam-jam bagi semua persiapan-persiapan.

Demikianlah Israel membuat semua persiapan ini dalam hari keempat belas, kemudian memakan korban itu dalam malam dari hari kelima belas (Keluaran 12 : 18; Immamat 23 : 6), malam dari masa raya itu juga dimana sebagaimana dijelaskan oleh Alkitab, mereka bukan saja makan Paskah melainkan juga meninggalkan Mesir (Bilangan 33 : 3; Immamat 23 : 6). Untuk memperjelas kenyataan yang penting ini secara grafik, maka kami menambahkan bagan berikut.

Oleh sebab itu, dengan melihat kepada catatan-catatan Alkitab yang jelas ini, maka bagaimanakah mungkin orang dapat menyimpulkan seperti yang dilakukan oleh penulis Sabat-hari Jumat itu, bahwa perayaan Paskah itu diselenggarakan pada akhir dari hari ketiga belas (yang menurut perhitungan Alkitab akan merupakan malam dari hari keempat belas), sekalipun Alkitab dengan tegas menyatakan, bahwa ia itu dirayakan pada malam dari hari kelima belas, benar-benar di luar semua dugaan. Bukan hanya ketegasan yang pasti dari Alkitab mengenai waktu bagi perayaan yang penting ini, tetapi juga sejarah dan tradisi membuat hampir sama sekali tidak mungkin bagi seseorang untuk melalaikan kenyataan-kenyataannya. Namun, meskipun hal ini berlawanan dengan semuanya penulis Sabat-hari Jumat itu terbawa memikirkan pemotongan satu hari peristiwa — kembali ke hari ketiga belas — supaya menyesuaikan waktu dengan teorinya. Oleh karena ia sudah harus terlebih dulu membaca seluruh Alkitab, maka sulit untuk mengingkari kesimpulan, bahwa kesalahan itu tampaknya bukan hanya masalah keliru tafsir, melainkan adalah suatu masalah penyelewengan yang disengaja.

Kemudian juga, angka-angka pada peta-petanya menunjukkan dengan pasti, bahwa dalam usahanya untuk membuat teorinya itu cocok dengan peristiwa-peristiwa lainnya, ia telah memasukkan kedalam penyelidikannya interpretasi yang keliru bahwa pernyataan Kristus, “. . . tiga hari dan tiga malam di dalam perut bumi,” berarti tiga hari dan tiga malam di dalam kubur. Berdasarkan dugaan pegangannya ini berikut juga penerapan waktu yang salah mengenai penyaliban Kristus dan kebangkitan-Nya, dan juga teorinya mengenai “burung dan manna” itu, ia membangun ajaran Sabat-hari Jumat, jelas tanpa memperhitungkan bahwa tak dapat tiada suatu hari kelak Kebenaran akan menyerbu landasan pasirnya itu lalu meruntuhkannya ke tanah.

Akan terlihat sekarang, bahwa untuk menunjang teori Sabat hari Jumat itu, maka penulisnya juga terpaksa mencoba menyesuaikan hari dan jam dari kematian Yesus dengan hari dan jam di mana domba Paskah dibantai. Dengan demikian ia terpaksa mengalihkan ke belakang waktu perayaan Paskah itu dari hari kelima belas ke hari keempat belas dari bulan, sekalipun bertentangan dengan Alkitab. Dengan manuever dan pemikiran yang sedemikian ini penulis itu akan menemukan pembantaian domba Paskah dan penyaliban Kristus pada hari yang sama, yaitu hari ketiga belas, hari Rabu. Demikian itulah ia terus menjelaskan, bahwa Yesus belum mungkin ada untuk merayakan Paskah itu. Ia kemudian menjelaskan pemikiran Matius 28 : 1 dengan menempatkan kebangkitan pada hari ketujuh belas, Sabtu malam. Tetapi betapapun manipulasinya ini ia ternyata tidak mampu menyesuaikan waktu dari peristiwa-peristiwa itu, karena sekalipun ia bertahan, bahwa domba Paskah itu dibantai pada saat matahari masuk, namun ia harus mengakui bahwa Yesus telah disalib diantara matahari terbit dan siang tengah — pada “jam tiga.” Markus 15 : 25.

Ia memindah-mindahkan peristiwa-peristiwa ini justru bertentangan dengan fakta-fakta Alkitab yang ada di depan matanya, bahwa Yesus menghadiri hari Paskah itu, pada hari keempat belas, bersama-sama dengan murid-murid-Nya (Markus 14 : 12 – 25); bahwa Ia merayakan bersama-sama dengan mereka perayaan Paskah pada hari kelima belas, Rabu malam (ayat 18); bahwa Ia ditangkap malam itu juga segera setelah perayaan Paskah, kemudian diadili oleh Annas dan Pilatus, lalu disalibkan dan dikuburkan pada kira-kira matahari turun (Markus 15 : 42 – 46) pada hari keenam belas, hari Jumat; akhirnya, bahwa Ia bangkit pada hari kedelapan belas, hari Minggu, hari pertama dari minggu (Markus 16 : 9). Memang, penulis Sabat-hari Jumat itu tampaknya mengabaikan sama sekali semua catatan Alkitab mengenai peristiwa-peristiwa itu. Dan dalam hal ini secara bersama-sama ia ikut serta dengan para pengacau yang memutar balikkan masalah tiga-hari dan tiga-malam Alkitab itu.

Dalam usaha yang tidak menentu untuk mewujudkan teori tiga-hari-tiga-malam mereka, semua pengacau Alkitab ini mencoba menceritakan kepada kita, bahwa “hari persiapan” dan “hari Sabat” dari Matius 27 : 62, Markus 15 : 42, Lukas 23 : 54, dan Yahya 19 :  31 bukan jatuh pada hari Jumat dan hari Sabtu, melainkan pada hari-hari lainnya di dalam minggu. Sungguhpun demikian, jelas terlihat bahwa mereka seringkali menunjuk kepada apa yang disebut naskah-naskah asli yang tidak dikenal dalam bahasa Ibrani  dan Gerika — kepada apa saja yang dapat digunakannya untuk menunjang maksud mereka diantara orang-orang yang tidak mungkin mengecek semuanya itu. Meskipun demikian, cepat atau pun lambat kebenarannya akan terbuka, bahwa para pengutip banyak-terjemahan ini tidak pemah mengutip dari Alkitab Gerika “hari persiapan” dan “hari Sabat” itu. Dan mengapa tidak? — karena alasan yang benar ialah pada setiap kesempatan apa saja ia itu tertulis napaoxevn (hari Jumat), dan aaBBarov (hari Sabtu) sedangkan dalam bahasa Inggris terbaca “hari persiapan,” dan “hari Sabtu”!

Ambillah selanjutnya “berkas timangan” yang merupakan contoh atau lambang dari kebangkitan Kristus. Karena harus dipersembahkan selama minggu Paskah dan tidak pada hari lainnya terkecuali “pada hari esok sesudah Sabat” (Immamat 23 : 11) — yaitu pada hari pertama dari minggu — maka itu pun menunjukkan, bahwa hari dimana Tuhan akan bangkit dari kematian, akan jadi pada hari pertama dari minggu, yaitu hari sesudah Sabat hari ketujuh. Meskipun demikian para pengelak-Sabat terus mencoba untuk membuat kita percaya, bahwa “hari esok sesudah Sabat” itu adalah bukan hari sesudah Sabat hari ketujuh, apabila jelas kejadian sebelumnya itu (dalam ayat 3) adalah Sabat dari DUA LOG BATU itu. Di samping itu, sekalipun kadang-kadang suatu hari istirahat didalam Alkitab ada disebut “suatu sabat”, tidak pernah ada sesuatu hari selain Sabat Hari Ketujuh yang disebut “Hari Sabat.”

Berikutnya, peraturan Kaabah mewajibkan “tujuh sabat” semenjak dari hari berkas timangan dipersembahkan sampai ke Pentakosta (ayat 15), sama sekali msnghapuskan kemungkinan adanya sesuatu hari yang lain daripada Sabat hari ketujuh mendahului hari persembahan berkas timangan itu dan demikian pula kebangkitan, dan hari Pentakosta. Artinya, untuk mendapatkan tujuh Sabat dalam 49 hari lalu memperoleh hari ke – 50 itu datang pada hari sesudah Sabat (ayat 16), pada hari pertama dari minggu, maka orang harus mulai menghitung dari hari pertama dari minggu, hari Minggu. Tidak mungkin dari hari lain. Cobailah dan lihat! Juga pikirkan, bahwa tradisi merayakan Easter (kebangkitan) adalah pada hari Minggu.

Sungguhpun demikian, meskipun semua terang menerangi masalah ini, terdapat sedikit sekali harapan bahwa para pengacau itu akan mau berhenti daripada memperdebatkan melawan berkat hari Sabat itu.

Benar-benar tragis karena mereka tidak mau membuka matanya untuk melihat, bahwa Alkitab memperjelaskannya tanpa salah bahwa mereka salah menginterpretasikan perut bumi (the heart of the earth = hati dari bumi), karena Yesus bukan memaksudkannya kepada kubur, sehingga Ia bukan berada tiga hari dan tiga malam di dalam kubur, juga bahwa pemeriksaan terhadap diri-Nya, penyaliban-Nya, dan penguburan-Nya memakan lebih dari sehari. Mereka tampaknya secara tidak sadar terpesona, bahwa Alkitab mencatat jam dari setiap peristiwa sebagai berikut: (a) pada kira-kira jam enam (mungkin tengah hari atau tengah malam sesuai waktu yang dianut dahulu — matahari masuk pada jam dua belas), Yesus berada di dalam Aula Pengadilan Pilatus (Yahya 19 : 14); (b) pada jam tiga Ia dipaku ke kayu palang (Markus 15 : 25); (c) pada “jam enam berikutnya”, jam sewaktu Ia masih tergantung pada kayu palang, kegelapan menutupi bumi (Markus 15 : 33); (d) pada “jam sembilan” Ia meninggal (Markus 15 : 37); dan (e) pada kira-kira jam dua belas, tepat menjelang matahari masuk, Ia dikuburkan (Markus 15 : 42 – 46). Sekarang perhatikanlah catatan Ilham (1) bahwa dari jam enam yang pertama sampai ke jam enam yang kedua terdapat dua belas jam; (2) bahwa dari jam enam yang kedua sampai kepada jam dua belas (matahari masuk) ada tambahan enam jam; (3) bahwa hanya ada satu jam enam (tengah hari) selama bagian yang terang dari hari dan satu jam enam (tengah malam) selama bagian yang gelap dari hari itu; (4) bahwa adalah pada jam enam dalam bagian yang terang dari hari itu kegelapan menutupi bumi, selagi Yesus tergantung di kayu palang (Matius 27 : 45); (5) dan bahwa karena jam enam di mana Ia dibawa ke Aula Pengadilan Pilatus adalah sebelum penyaliban-Nya, maka dengan sendirinya tak dapat disangkal bahwa jam enam sebelum penyaliban-Nya itu akan jatuh mungkin pada Kamis tengah hari atau tengah malam jam enam di malam hari di antara Kamis masuk matahari dan Jumat pagi matahari naik. Mengapa mereka berhasil membawa-Nya ke Pilatus pada malam hari? Karena alasan yang sama maka mereka telah menangkap dan membawa-Nya kepada Annas dan Kaiyaphas pada malam hari — artinya, karena mereka takut terhadap orang banyak itu, karena banyak orang percaya kepada-Nya, dan karena itulah mereka bermaksud mendiamkan perbuatan gelap mereka itu, supaya tidak timbul keributan atau perlawanan.

Kenyataan bahwa para penangkap Yesus itu pertama-tama membawa-Nya kepada Annas (Yahya 18 : 13 – 24), di mana mereka menunggu datangnya siang bagi pengadilan yang resmi terhadap-Nya di depan Sanhedrin (yang mendahului pemeriksaan diri-Nya di hadapan Pilatus), adalah suatu bukti nyata yang tak dapat disangkal, bahwa waktu yang berlalu semenjak dari pemeriksaan Sanhedrin sampai kepada penguburan, adalah semenjak dari pagi-pagi sekali, Kamis hari kelima belas, sampai kepada kira-kira masuk matahari hari berikutnya, Jumat hari keenam belas, seluruhnya berjumlah tiga puluh enam jam. Dan karena jam-jam semenjak dari penguburan-Nya pada kira-kira masuk matahari hari Jumat sampai kepada kebangkitan-Nya, pada kira-kira hari Minggu matahari terbit, memakan sejumlah tiga puluh enam jam lagi yang lain, maka jumlah jam keseluruhannya dimana Ia berada dalam pengawasan Sanhedrin adalah 72 jam — tiga hari dan tiga malam tepat.

Inilah jam demi jam catatan Alkitab sendiri mengenai waktu dari semua peristiwa ini, dan yang cocok sekali dengannya ialah perayaan tradisional dan yang bersifat sejarah yang memperingati peristiwa-peristiwa yang sama itu. Karena urut-urutan jam semenjak dari penangkapan dan pemeriksaan atas diri Yesus sampai kepada kebangkitan-Nya tercatat keseluruhannya berjumlah 72 jam, dan karena orang-orang yang menguburkan-Nya itu kembali pulang lalu menyucikan Sabat sesuai dengan perintah hukum (Lukas 23 : 56), dan juga karena kepada kita diberitahu bahwa Ia bangkit pada hari yang pertama dari Minggu, hari Minggu (Yahya 20 : 1 – 8; Lukas 24 : 1 – 7; Markus 16 : 1 – 6), maka tidak sedikitpun Alkitab dapat membenarkan setiap orang yang menyimpulkan secara keliru mengenai hari dan jam dari setiap peristiwa itu dan juga keseluruhan jam yang habis terpakai. Akhirnya, karena hanya Alkitab yang  menceritakan seluruh kebenaran yang tepat, maka setiap suara yang bertentangan bunyinya pasti akan berasal dari Penyesat itu, Iblis, yang berkomplot untuk menyingkirkan Alkitab dan memasang jerat kepada setiap orang dimana saja.

Sebagaimana waktu yang habis terpakai dalam rentetan peristiwa-peristiwa ini (semenjak dari waktu Kristus menghadapi Annas sampai kepada waktu Ia bangkit dari kematian) adalab mutlak tulisan Alkitab, yang tepat sama jumlahnya seperti yang diramalkan tiga hari penuh dan tiga malam penuh, maka tidak satupun kesimpulan yang berlandaskan Alkitab maupun akal sehat yang dapat diterima selain daripada apa yang dimaksudkan dengan ucapan Kristus itu saja, yaitu “tiga hari dan tiga malam di dalam hati dari bumi” (in the heart of the earth), berarti bukan hanya semenjak dari waktu Ia dimasukkan ke dalam kubur sampai kepada masa Ia bangkit keluar. Melainkan, dimaksudkan-Nya dari saat Sanhedrin mulai menangkap-Nya sampai kepada saat batu mulai digulingkan dari kubur untuk memungkinkan Dia bangkit keluar (Lukas 24 : 7). Lagipula, karena Sanhedrin ialah markas besar, yaitu hati dari sidang, dengan demikian hati dari bumi dalam masanya, dan karena Kristus berada dalam pengawasannya tiga hari dan tiga malam (karena Sanhedrin mengawasi dengan ketat atas diri-Nya bahkan selagi ia itu beristirahat di dalam kubur pun), maka Sanhedrin, sidang, ialah yang disebut-Nya, “hati dari bumi.” Maka siapakah yang secara jujur menyangkal akan ketepatan lambang itu, mengingat bahwa karena Alkitab mengajarkan, bahwa bumi masih berdiri hanya karena sidang, hati dari bumi (penerus kehidupan rohani itu) masih berfungsi dalam usaha memberikan hidup kekal kepadanya?

Sidang (dengan Kristus di dalamnya), bukan kubur, dalam setiap pengertian rohani ialah hati dan kehidupan di bumi. Sesungguhnya, tidak satupun pikiran yang rational pernah menganggap kubur sebagai “hati dari bumi “; jadi, tidak mungkin Tuhan menganggapnya demikian itu. Pikiran yang cerah pun cukup mengetahui, bahwa kubur bukanlah mesin pembangkit nyawa, melainkan tempat penampung kematian, dan karena itulah tidak pernah dapat disebut hati dari bumi, tidak, sama halnya bangkai seseorang tidak pernah disebut jiwanya.

Karena kesengsaraan Yunus itu adalah sebuah contoh dari kesengsaraan Kristus, maka hendaklah sekarang kita melihat ke dalamnya. Ikan paus, suatu mahluk hidup yang telah mengangkut kehidupan Yunus dengan aman melewati segala kedalaman, tak dapat tiada harus melambangkan sesuatu yang hidup, bukan sebuah kubur, sesuatu perkara yang tidak bernyawa, yang dirinya sendiri melambangkan neraka yang kekal. Jadi apakah, yang mungkin dapat dilambangkan oleh ikan paus kalau bukan kapal Sion yang tua itu dalam pelayarannya mengarungi lautan dosa yang bergelora, menuju ke Negeri Kekal itu! Ya, betapa jelasnya,betapa pastinya, betapa mentakjubkan!

Gagalnya ikan paus itu membuang Yunus, sebaliknya membawanya dengan selamat sampai ke pantai sehingga Nineweh tidak binasa, melambangkan kegagalan Sanhedrin yang dikuasai Setan membuang Yesus, sekalipun menggenapi nubuatan-nubuatan “bahwa satu orang harus mati bagi bangsa itu, dan bahwa seluruh bangsa itu tidak binasa!” Yahya 11 : 50. Maka tepat sebagaimana Takdir telah membiarkan anak buah kapal membuang Yunus ke laut demi untuk keselamatan kapal dan demi keselamatan nyawa mereka sendiri, demikian pula untuk keselamatan Nineweh, maka demikian pula Takdir telah membiarkan orang banyak itu menangkap Kristus lalu memaku-Nya ke kayu palang demi untuk keselamatan sidang-Nya dan anggota-anggotanya yang tertawan, demikian pula untuk keselamatan dunia yang hilang.

Di sini juga terlihat kenyataan, bahwa sebagaimana kapal dan anak buahnya tidak akan pernah dapat bertahan melawan angin ribut, sebagaimana Nineweh juga tidak dapat bertahan menghadapi pehukuman yang sedang akan menimpanya, terkecuali oleh kesengsaraan Yunus di dalam perut paus dan keluputannya dari air laut yang dalam, maka demikian pula halnya Sidang dan dunia tidak akan pernah berhasil lolos daripada cengkeraman Setan atas mereka, terkecuali oleh kerelaan kesengsaraan Kristus dan oleh kemenangan kebangkitan-Nya.

Karena di dalam perut seekor paus yang lapar Allah telah menghantarkan Yunus dengan selamat melewati segala kedalaman suatu lautan yang bergelora, dan karena di dalam tangan-tangan sebuah sidang yang haus darah IA telah membawa Kristus dengan aman melewati segala kedalaman dosa itu sendiri, maka demikian itu pula di waktu ini IA akan menghantarkan dengan selamat setiap orang yang mengalami seperti Yunus dan Kristus melewati segala kedalaman kemunafikan, Kekristenan yang ternoda oleh isme-isme, dan masyarakat pencipta keplesiran, Allah akan berbuat yang sama banyaknya bagi semua orang di waktu ini, sekalipun mereka berada dalam cengkeraman pihak pendeta yang haus uang, yang membenci nabi dan yang sudah merasa kecukupan sendiri (suam). Ya, Ia akan mengangkut dengan aman semua orang yang sedemikian ini ke pantai-pantai Gunung Sion, untuk berdiri di sana bersama-sama dengan Anak Domba itu. Akan tetapi, orang-orang yang mengikuti teladan Yunus dan Kristus, pasti akan menemukan dirinya di antara “orang-orang yang terbuang” karena Kebenaran. Tetapi bersyukurlah kepada Allah, bahwa tidak seorang pun, baik imam ataupun wali gereja, dapat menarik mereka daripada menikmati makanan pada waktunya, atau kebenaran sekarang, yang khusus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka yang istimewa. Dengan demikian semua orang yang bangkit menyadari akan isme Laodikeanya, dan akan kewajibannya untuk memberitakan Kebenaran Allah bagi masa ini tanpa menghiraukan akibat-akibatnya, mereka akan mendarat dengan kemenangan dan dengan kebesaran pada pantai-pantai kekekalan.

Maka demikian itulah, bahwa kerelaan Yunus membiarkan dirinya dibuang ke dalam lautan yang kejam dengan angin ributnya yang bergelora itu demi keselamatan kapal dan anak buahnya, dan demikian pula bagi keselamatan Nineweh, adalah merupakan contoh; dan bahwa kerelaan Kristus membiarkan diri-Nya dibuang ke dalam berbagai topan dosa yang kejam, untuk di sana diolok-olok, dipaku ke kayu palang, lalu dimasukkan ke dalam kubur, demi keselamatan Sidang berikut anggota-anggotanya yang tertawan, dan demikian pula bagi keselamatan dunia, ialah contoh saingannya.

Turunnya Kristus ke bumi untuk menyelamatkan semua penduduknya pada saat Setan berhasil menguasai sepenuhnya dunia maupun Sidang, lalu dengan demikian mengharapkannya untuk selamanya menjauhkan diri daripada satu-satunya Juruselamat segera setelah Ia datang; juga penerobosan Kristus melewati garis-garis pertahanan Setan, penegakan kembali saluran-saluran komunikasi Sidang-Nya di seluruh dunia bagi umat-Nya untuk masuk, ialah kemenangan-Nya yang gilang-gemilang.

Inilah pelajaran-pelajaran yang Tuhan ingin membawakan kepada orang-orang Yahudi melalui lambang Yunus dan ikan paus itu, dan ini pun adalah pelajaran-pelajaran yang Ia ingin terutama dibawakan kepada kita. Sungguhpun demikian, teori tentang tiga hari dan tiga malam di dalam kubur tidak akan membawa pelajaran apapun bagi setiap orang.

Juga terlihat jelas sekarang, bahwa untuk mengartikan pernyataan Kristus, “tiga hari dan tiga malam di dalam hati bumi,” kepada kepergian-Nya ke dalam kubur, akan dipandang sebagai bukan saja menyingkirkan Sabat yang Suci itu, melainkan juga mengesampingkan arti dari pemeriksaan diri-Nya dan penderitaan-Nya, menutup-nutupi pelajaran yang diajarkan oleh lambang “hati dari bumi.”

Dengan demikian susunan batu kerikil yang lemah dan tipis dari tukang Sabat-hari Jumat itu akan terbentur hancur sendiri melawan fakta-fakta yang kuat yang tak tergoyahkan di atas. Sekalipun dengan menggunakan cara menghitung yang bagaimanapun ia akan gagal menemukan hari Jumat sebagai Sabat. Dimana ia benar-benar mendapatkan hari Jumat menggantikan hari Sabtu sebagai Sabat, terdapat dalam dua paragraf berikut ini yang benar-benar adalah ciptaannya sendiri.

“Bulan baru ini yang menunjukkan hari yang pertama dari tahun pertama dari silus itu selalu datang pada hari di mana kalender Romawi menyebutkannya hari Rabu. Sesungguhnya hari milik Allah dimulai pada malam sebelumnya (yaitu Selasa malam, waktu Romawi) menurut injil.” Kejadian 1 : 23.

“Karena hari Rabu ialah hari dari bulan baru, dan bulan baru datang pada hari yang kelima dari minggu milik Allah, maka dapatlah kita dengan aman mengatakan, bahwa hari keenam jatuh pada hari Kamis dan Sabat hari ketujuh dari minggu milik Allah disebut hari Jumat, waktu Romawi.” God’s Calenar, p.7.

Sekalipun penegasan-penegasan ini bunyinya mengesankan, namun bahannya itu hanyalah bahan sepuhan yang tak barharga. Bulan baru dari hari pertama dari tahun pertama dalam siklus tiga tahun tidak selalu datang pada hari Rabu, seperti yang dikatakannya. Almanak Dunia mengungkapkan, bahwa sesudah suatu masa periode 25 tahun hanya tiga kali sebuah bulan baru jatuh pada hari Rabu dalam bulan Maret (musim dari siklus tiga tahun) — yaitu (1) 21 Maret 1928; (2) 10 Maret 1948; dan (3) 7 Maret 1951. Bulan tidak mengikuti jalannya sesuatu bulan kalender dari setiap tahun sesuai khayalannya.

Setelah pokok masalah yang dibicarakan itu jelas sekarang bagaikan “belukar yang bernyala-nyala,” maka adalah harapan kami yang jujur kiranya penulis ajaran Sabat-hari Jumat itu berikut semua korban-korbannya akan cepat melihat, bahwa suatu Sabat-hari Jumat adalah merupakan satu lagi kasus isme yang muncul kini pada jam kesebelas, satu lagi usaha Musuh untuk mengalihkan pikiran dari pekabaran Tuhan yang menyelamatkan, mengacau, membingungkan, dan membuat enggan baik orang-orang percaya maupun siswa-siswa Alkitab yang baru. Oleh sebab itu, adalah doa kami yang sungguh-sungguh agar kiranya penulis Sabat-hari Jumat itu berikut semua korbannya, mau bergembira sekarang bahwa Roh Allah telah sekali lagi menegor kekeliruan dan membuat Kebenaran itu bercahaya makin terang daripada sebelumnya; bukan saja menelanjangi suatu teori palsu yang lain, melainkan benar-benar menyingkirkan suatu Musuh yang lain lagi yang kembali mencoba “menyingkirkan Yang Sehari-Hari Itu,” lalu kembali menggantikannya dengan “kekejian yang membuat sunyi” (Daniel 11 : 31); yang pada kali ini bukan berusaha menegakkan kembali hari dari Romawiisme itu, melainkan benar-benar mempromosikan hari dari Mohammedanisme.

Saudara-saudara, kiranya Anda yang telah terjerat oleh faham Sabat-hari Jumat itu, sekarang bergembira dengan segala kedalaman jiwamu, bahwa “Roh Kebenaran itu” telah memungkinkan anda melepaskan diri dari kubu Musuh. Kiranya tidak sedetikpun Anda berlambatan meninggalkannya, supaya jangan Anda mengecewakan karunia Allah.

Saya yakin, bahwa Anda kini melihat, bahwa apa yang disebut ”Kunci Pengungkap Minggu milik Allah” itu, bukannya menjadi kunci yang mengungkapkan bukti-bukti yang menguatkan hari Jumat sebagai Sabat Tuhan, melainkan justru merupakan kunci yang akan mengunci kekeliruan dan membebaskan semua tawanannya.

Oleh karena melalui Tongkat itu (Mikha 6 : 9; 7 : 14) Ilham pada waktu ini telah menimbun bukti nubuatan yang tidak ada tandingannya mengenai makin dekatnya “hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu” (Maleakhi 4 : 5), maka apakah yang lebih mendesak dan lebih pasti daripada berbagai pemutar-balikkan Alkitab yang sangat licik itu yang dilontarkan Setan kepada dunia Kristen? Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan apabila mendengar gonggongan nyaring “anjing-anjing yang rakus, … gembala-gembala yang tidak dapat mengerti” (Yesaya 56 : 11), yang berusaha mengalihkan perhatian daripada persoalan yang sangat berat yang dihadapi manusia — semua — kepentingan kebenaran, bahwa “hari Tuhan yang besar itu sudah dekat, sudah dekat, dan segera mendekat, yaitu bunyi hari Tuhan itu: orang perkasa akan meratap di sana dengan getirnya.” Zefanya  1 : 14.

Karena pekabaran saat ini dalam kaitannya dengan hari Tuhan itu (Maleakhi 4 : 5, 6), adalah untuk menjunjung tinggi “hukum Taurat dari Musa itu” yang telah “diperintahkan Allah kepadanya di gunung Horeb” (ayat 4 — hukum dari Dua Log Batu, Keluaran 20 :  3 – 17), lalu dengan demikian memberitakan Sabat (hati dari hukum Taurat itu) “lebih sempurna lagi,” maka Setan dalam jubah pendetanya sedang menelorkan sejumlah teori Sabat palsu untuk sedapat mungkin memutar-balikkan Kebenaran. Tetapi Roh Allah juga bekerja mengungkapkan Kebenaran untuk menelanjangi semua kepalsuan, untuk melindungi orang-orang yang setia yang ingin mengetahui kebenaran dengan berapapun harganya, dan yang mau mematuhinya tanpa menghiraukan akibat-akibatnya.

 

 251 total,  2 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart