Asal mulanya makanan dan minuman
<< Go Back


Asal Mulanya Makanan & Kesehatan

 

Mengapakah kamu membelanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengeyangkan? “Dengarlah dengan setia kepadaKu, dan makanlah olehmu sesuatu yang baik, dan hendaklah jiwamu bergemar dalam kegemukan. Cenderungkanlah telingamu dan datanglah kepadaKu: dengarlah, maka jiwamu akan hidup, maka aku akan membuat sesuatu janji yang kekal dengan kamu, yaitu berbagai kemurahan Daud yang pasti itu.” Yesaya 55 : 2, 3.

Untuk menghargai pentingnya nasehat Ilahi ini orang harus pertama-tama menyadari sepenuhnya, bahwa pada mula pertama Allah menciptakan manusia dalam bayangan peta-Nya sendiri, laki-laki dan wanita diciptakanNya mereka itu. Memang, dalam bayangan peta Allah sendiri keduanya akan hidup selama-lamanya sebagaimana Ia sendiri hidup, tidak pernah mengalami sakit atau kematian.

Tetapi untuk makan dengan kesadaran terhadap “apa yang baik” dan supaya tetap sehat, ialah supaya memakan hanya apa yang telah disucikan oleh Pencipta bagi makanan manusia. “Bahwasannya,” demikian perintahNya, “Aku telah memberikan kepadamu setiap tumbuh-tumbuhan yang berbiji-biji, yang ada di permukaan seluruh bumi dan setiap pohon kayu pada mana terdapat buah dari pohon yang mengeluarkan biji; ia itu bagimu merupakan makanan.” Kejadian 1 : 29.

Walaupun telah diberikan beraneka ragam bahan makanan yang besar sekali — yaitu setiap tumbuhan dan setiap pohon kayu yang mengeluarkan biji-bijian — namun karena dicobai dan karena tidak berpengalaman, maka pasangan suci yang tidak berdosa itu telah sampai pada satu-satunya buah terlarang dalam seluruh ciptaan Allah, yaitu buah dari pohom yang terdapat di tengah-tengah taman itu. Setelah memakannya, maka mereka telah menjadi pelaku dari pengalaman itu yang akan memperlihatkan kepada mereka dan kepada semua keturunannya berbagai akibat daripada baik dan jahat — kegembiraan dan kesedihan, kesehatan dan penyakit, penebusan dan hukuman — sekaliannya ini semenjak dari saat itu dan seterusnya akan menjadi nasib dari umat manusia. Akibatnya, sambil berjalan melalui pengalaman- pengalaman ini kematian menimpa semua orang dan menimpa juga semua yang lainnya yang dahulu tunduk kepada pemerintahan Adam.
 

Dengan demikian, sebagai keturunan-keturunan dari leluhur Adam, maka kita dengan sendirinya memasuki dunia ini sebagai orang-orang berdosa tingkat pertama, yang tunduk kepada semua yang baik maupun kepada semua yang jahat yang ada di dalamnya. Dan kini jika kita memilih mempraktikkan yang baik, janganlah kita menambahi dosa yang lain lagi, supaya pada akhirnya keadaan kita yang berdosa akan diubahkan, lalu dikendalikan oleh Terang Ilahi, kita akan dibawa kepada keadaan Eden yang tidak berdosa itu. Tetapi jika kita terus berbuat sebaliknya, maka sebagai akibatnya kita akan memperoleh berbagai kutuk tambahan, yaitu kutuk-kutuk yang berakibat dari perbuatan dosa kira sendiri. Dan jika kita tidak pernah lagi berbalik daripada mengikuti jalan kejahatan yang sedemikian ini, kita juga akan mengalami penderitaan kematian yang kedua.” Wahyu 20 : 14.

Kini ternyata, bahwa pada mulanya dalam sejarah manusia, orang-orang tidak sedemikian banyak sakitnya, tidak banyak terdapat penyakit dan penderitaan seperti yang dialami pada waktu ini, dan mereka itu pada umumnya mampu hidup mendekati seribu tahun. Ini membuktikan bahwa bangsa-bangsa pada waktu ini tidak memilih yang baik, melainkan mereka memilih jalan yang jahat — jalan yang membawa kepada kebinasaan tubuh maupun jiwa. Dengan demikian menambahi dosa pada dosa, menambahi kejahatan pada kejahatan, dan menambahi kesakitan pada kesakitan, mereka sedang berlari dengan kecepatan penuh kepada kehancuran dalam hidup ini menuju kepada kebinsaan yang terkahir dalam hidup yang akan datang, yaitu kematian yang kedua, suatu kematian dari mana tidak ada lagi kebangkitannya; terkecuali mereka bertobat.

 

 

 228 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart