<< Go Back
Sebab-sebab Penyakit
Penyakit telah diindentifikasikan dalam tiga kategori yang berbeda, yaitu penyakit yang bersifat keturunan, yang bersifat komunikatif, dan yang bersifat ciptaan sendiri (diperoleh). Karena demikian halnya, maka tak dapat tiada harus ada tiga jenis dosa, yaitu tiga jenis hukum yang dilanggar. Dua dari hukum-hukum ini terdapat di dalam Dua Log Batu itu (Kejadian 20 : 3 – 17). Yang pertama melarang berbuat dosa melawan Allah, dan yang kedua melawan sesame manusia kita. Oleh sebab itu, yang ketiga ialah hukum kesehatan, yaitu yang melarang melakukan pelanggaran terhadap tubuh kita sendiri (Imammat 11; Yesaya 66 : 16, 17).
Jadi jelaslah, bahwa dosa melawan Allah akan mendatangkan suatu kutuk yang bersifat turun-menurun, yaitu jenis kutuk yang turun dari ayah kepada anak ”sampai kepada generasi yang ketiga dan keempat dari mereka yang membenci akan Daku” (Keluaran 20 : 5), demikianlah firman Tuhan. Dan berdosa melawan sesama manusia akan mendatangkan penyakit-penyakit komunikatif, yang ditunjukkan dalam kenyataan sewaktu Miriam berdosa melawan saudaranya, Musa, ia telah dipalu dengan penyakit menular, yaitu Lepra (Bilangan 12). ”Hormatilah akan bapamu dan akan ibumu supaya segala harimu dapat menjadi panjang….” Keluaran 20 : 12. Sebab itu ”apa pun yang ditabur seseorang, itu juga yang akan dituainya.” Galati 6 : 7. Demikan halnya, bahwa sewaktu Haman membangun tiang gantungan untuk menggantung Mordekai di atasnya, maka ia sendirilah yang telah digantung pada tiang itu (Ester 7 : 9, 10). Dan sewaktu Daniel secara tidak adil dicampakkan ke dalam kandang singa, maka justru musuh-musuhnya sendirilah yang telah ditelan oleh binatang-binatang yang lapar itu, sedangkan Daniel telah diluputkan (Daniel 6 : 16, 22, 24). Lagi pula, sewaktu tiga orang Iberani itu dicampakkan ke dalam dapur api yang menyala-nyala, maka orang-orang yang membawa mereka itulah yang justru dimakan oleh nyala-nyala api, sedangkan orang-orang Iberani itu keluar tanpa cedera (Daniel 2 : 21 – 23). Demikian pula, ”orang yang membawa ke dalam tawanan tak dapat tiada ia juga akan masuk ke dalam tawanan; orang yang membunuh dengan pedang tak dapat tiada akan dibunuh juga dengan pedang”. Wahyu 13 : 10.
Maka itulah suatu kenyataan yang tidak pernah gagal, bahwa jika seseorang menganiaya tetangganya, atau bermaksud hendak berbuat sedemikian itu, maka cidera itu akan menimpa dirinya sendiri; dan jika ia mengganggu anak-anak tetangganya, maka anak-anaknya sendiri akan menderita sebagai akibatnya. Sungguh pun demikian, penyakit-penyakit yang bukan karena keturunan diciptakan sendiri oleh orang yang berdosa oleh berdosa melawan dirinya sendiri. Bagaimanapun juga berdosa melawan tetangga ataupun berdosa melawan diri sendiri secara tidak langsung adalah juga berdosa melawan Allah.
Apakah yang harus diketahui oleh setiap orang ?
Jika seseorang menderita sesuatu penyakit keturunan, karena hanya kesalahan dari orangtuanya, atau karena kesalahan dari kakek-neneknya, atau karena kesalahan dari leluhurnya, maka ia tentunya tidak berdaya untuk berbuat apapun dalam usaha untuk sembuh kembali selengkapnya, baik itu melalui makanan atau pun oleh menggunakan obat-obatan. Namun ia dapat mengendalikan penyakit itu atau menguasainya dengan cara mematuhi secara ketat semua hukum Allah, sambil menyadari bahwa tidak ada apa pun di dunia ini yang dapat menyembuhkan secara sempurna penyakit yang sedemikian ini, terkecuali doa, sekiranya hikmah Allah berkenan demikian itu.
Sebaliknya, jika seseorang menderita sesuatu penyakit yang telah dihubungkan kepadanya atau penyakit yang bersifat komunikatif, yang disebabkan karena dosa seseorang terhadap sesamanya, maka untuk membuang penyakit itu sekaligus dan untuk selamanya, ia harus bertobat daripada dosanya, lalu mempraktikkan pedoman emas yang berbunyi: ”Segala perkara apa pun juga yang akan kamu kehendaki supaya dilakukan orang kepada dirimu, lakukanlah juga sedemikian itu kepada mereka.” Matius 7 : 12.
Tetapi jika penyakit itu adalah bukan penyakit keturunan dan juga bukan penyakit komunikatif, maka ia itu tak dapat tiada merupakan penyakit ciptaan sendiri, yang diperoleh diri sendiri karena melanggar hukum-hukum kesehatan, oleh cara hidup yang tidak benar dari segi apa pun.
Oleh sebab itu, maka orang bijaksana akan mengoreksi kebiasaan-kebiasaan hidup mereka — yaitu menjamin agar mereka tidak berdosa melawan Allah atau melawan sesama manusianya, agar mereka tidur, bernafas, makan, minum dan bekerja dengan benar dan beribadah, sehingga sekiranya ada terdapat suatu pengobatan atas semuanya itu, maka akan memperolehnya.
Sesudah penyebab dari setiap contoh penyakit kini berhasil dirumuskan, maka penderita sesuatu penyakit dari antara ketiga jenis penyakit-penyakit itu tanpa kesulitan dapat memastikan sendiri, yang mana dari antara ketiga hukum itu yang sedang dilanggarnya, sehingga ia harus membayar sanksi yang diakibatkannya. Sungguhpun demikian, jika ia menderita akibat komplikasi dari berbagai penyakit, maka ia tak dapat tiada sedang melanggar semua hukum Allah. Mulai sekarang hendaklah ia berhenti berbuat dosa dalam garis apa pun jika sekiranya ia berharap untuk sembuh kembali dan tetap sehat.
Tentu saja, banyak penyakit secara keliru telah diklasifikasikan sebagai menular. Sebagai contoh, Tubercolosis (T.B.C) sesungguhnya tidak dapat menular, karena apabila seseorang terjangkit oleh penyakit itu, maka ia dapat menyembuhkannya secara efektif, jika ia mulai hidup dengan benar selagi iaitu masih dalam tahap-tahap permulaannya. Jadi jelaslah, jika orang selalu hidup benar, maka ia tidak perlu takut terhadap penyakit yang kelak memperoleh tempat berpijak di dalam tubuhnya. Sebab itu dalam analisa yang terakhir sejumlah penyakit yang disebut menular itu pada kenyataannya sesungguhnya tidak. Tegasnya, sekaliannya itu adalah infeksi yang disebabkan oleh diri sendiri. Dan kini, betapa beruntungnya seseorang harus memikirkan dirinya sendiri untuk mengerti, bahwa hidup yang benar dan berbuat yang benar, disertai iman pada Allah, sesungguhnya akan menyingkirkan sejumlah besar kesusahan.
Meringkaskan sebab-sebab dari semua penyakit
Orang-orang yang tercengang terhadap apa penyebab dari penyakit ini, penyakit itu, dan penyakit lainnya, dapat dengan cepat menguji setiap persoalan sebagai berikut :
Adalah sekarang sepenuhnya dimengerti, bahwa kehidupan dan kematian sedang berperang di antara sesamanya bagaikan peperangan di antara bangsa-bagsa manusia sendiri. Bala tentara dari bangsa yang satu mungkin memuntahkan peluru atas bala tentara bangsa yang lainnya, namun tidak semua prajurit menerima bentuk luka yang sama sekalipun bala tentara diberondong oleh tembakan yang sama. Dalam keadaan yang sama, tubuh-tubuh manusia adalah prajurit-prajurit, dan penyebab penyakit ialah senjata musuh yang dasyat dalam peperangan di antara sorga dan bumi. Oleh sebab itu, meskipun sebagian orang menderita karena sakit kepala, sebagian karena sakit perut, sebagian karena sakit gula, sebagian karena penyakit anemia, karena sakit jantung, batu empedu, neuritis, atau sakit-sakit yang lainnya, namun semua mereka itu menderita karena alasan yang sama — yaitu hanya karena mereka dalam satu dan lain hal telah keluar dari satu-satunya benteng pertahanan mereka, yaitu hukum-hukum Allah. Inilah diagnosa yang terkahir dari semua penyakit. Tinggal dekat pada Alam, maka Alam akan tinggal dekat pada anda.
Pelajaran-pelajaran dari mesin masa kini
Orang harus menyadari, bahwa tubuh manusia dalam beberapa hal adalah sama dengan sebuah mesin buatan manusia. Apabila tangki gas sebuah mobil habis mesin akan segera berhenti. Hukum yang sama ini pun berlaku di dalam tubuh manusia. Apabila tubuh kehabisan energi (lapar, kehabisan kalori) ia akan berhenti bekerja, mati; maka sekalipun orang yang membuat mobil itu dapat mengisi kembali tangkinya dengan bensin lalu membuatnya berjalan kembali, ia tidak mungkin dapat berbuat yang sama itu terhadap tubuh manusia. Sekali jantung berhenti berdenyut, maka pada saat yang sama itu juga kehidupan berhenti dan tubuh terbaring di bawah sampai kepada hari kebangkitan-sampai Orang Yang menciptakannya itu kelak menghidupkan dan menggerakkannya kembali.
Apabila bak mesin dari sesuatu mesin mobil menjadi kering, sedangkan mesinnya terus hidup, maka mesin itu akan pecah dan kegunaannya akan berakhir. Maka sebagaimana hidupnya sebuah mobil dipelihara dengan cara mengurangi pergesekan mesinnya melalui pemberian minyak pelumas, maka hidup manusia dipelihara dengan cara penggantian sel-sel yang rusak oleh Alam sesudah bekerja seharian, yaitu sewaktu ia beristirahat di tempat tidur. Demikianlah ia akan mampu bangun di pagi hari dengan kekuatan yang sudah diperbaharui. Namun jika ia lalai menyediakan bahan yang diperlukan oleh Alam untuk membangun kembali sel-sel dan jaringan-jaringan yang rusak, maka ia tentunya akan menderita akibatnya, sama seperti halnya orang yang sembrono yang lalai memberikan minyak pelumas ke dalam bak mesin mobilnya. Dan juga jika seseorang lalai meminum cukup air pada siang hari, maka sebagai akibatnya darahnya akan kurang bermutu dan akan terjadi sumbatan dan kemacetan di dalarn sistem tubuhnya dengan sisa-sisa buangan yang menjadi fermentasi dan membusuk; maka jika tidak diberi energi kepada Alam untuk menyingkirkan racun-racun itu melalui pori-pori, ginjal, dan isi perut, atau untuk menimbulkan demam lalu menjalani proses pembakaran sisa-sisa buangan, maka tidak ada lagi yang akan diperbuat selain menyerah-meninggal.
Oleh sebab itu adalah perlu agar alam dilengkapi secukupnya dengan semua bahan-bahan penting jika sekiranya seseorang ingin mempertahankan kegunaan dirinya secara seimbang lalu menghayati hidup yang telah ditakdirkan kepadanya.
Lagi pula, tidak ada satu pun teknisi yang akan memasukkan suku cadang yang tidak berguna atau pun tidak perlu ke dalam sesuatu mesin, sehingga jika pemakainya mengeluarkan sesuatu, betapa pun kecilnya dan tak berarti, maka mesin itu akan menjadi kurang effisien. Demikian ini pula halnya dengan tubuh manusia. Namun sekalipun teknisi dapat menggantikan suku cadang yang hilang di dalam mesin yang dirancang dan dibangunnya, ahli bedah tidak mungkin dapat menggantikan organ-organ tubuh manusia, yang oleh pasiennya diminta untuk digantikan. Sebagai contoh, seseorang mungkin dapat mengeluarkan hanya suatu pasangan mur dari sesuatu mesin tanpa mempengaruhi fungsi mesin itu untuk sementara, namun lama kelamaan ia akan menemukan bahwa mesin itu akan gagal berfungsi, sehingga jika ia tidak dapat menggantikan suku cadang itu yang telah dikeluarkannya, maka mesin itu akan menjadi sama sekali tidak berguna. Hal yang saran ini pun kurang lebih berlaku, apabila seseorang mengeluarkan sesuatu organ dari tubuhnya.
Pelajaran-pelajaran dari alam
Oleh karena kebahagiaan tubuh adalah jauh lebih tepat diajarkan oleh IBU ALAM sendiri, maka tidak seorang pun yang rindu menikmati hidup akan berani melalaikan nasehatnya. Tanaman-tanaman tidak pernah bertumbuh dengan subur di tanah yang jelek, atau yang sudah habis unsur-unsur penyuburnya. Sebagian tanaman bertumbuh lebih subur di tanah atau iklim yang satu daripada di tanah atau iklim yang lainnya. Sebagian tumbuh subur pada dataran-dataran yang lebih tinggi dan yang lainnya di dataran-dataran yang lebih rendah. Hukum yang sama ini pun tampaknya berlaku juga pada tubuh manusia. Bangsa-bangsa yang lebih gelap warna kulitnya lebih baik hidupnya pada daerah-daerah yang panas, sedangkan yang lebih putih kulitnya lebih baik pada daerah-daerah yang dingin.
Sementara kehidupan tanaman bergantung pada bahan yang bukan organik, maka kehidupan binatang adalah bergantung pada bahan organik. Lagi pula, karena kehidupan tanaman telah diciptakan lebih dulu daripada kehidupan binatang, maka kebenarannya adalah, bahwa dunia tanaman dapat terus hidup tanpa binatang, tetapi dunia binatang tidak mungkin dapat hidup terus tanpa tanaman. Demikian halnya bahwa tumbuh-turnbuhan hanya membutuhkan IBU BUMI, tetapi manusia membutuhkan keduanya, baik bumi maupun tanaman. Dengan perkataan lain, kehidupan tanaman adalah bergantung pada tanah bagi kehadirannya, sedangkan kehidupan binatang adalah bergantung pada tumbuh-tumbuhan. Oleh sebab itu, maka makanan daging itu bersifat tiruan, sehingga dengan demikian tidak cukup – tidak mampu untuk mempertahankan kehidupan.
Sebab itu, sebagaimana halnya tanaman-tanaman tidak mungkin dapat bertumbuh subur pada tanah yang jelek, manusia pun tidak mungkin dapat bertumbuh subur dengan makanan yang jelek. Dan sekiranya orang dapat menyadari akan kenyataan, bahwa secepatnya sesudah tanah diberi pupuk, tanaman itu lalu bangkit dengan sehat dan kukuh, maka tidak akan sulit baginya untuk menginsyafi bahwa segera setelah ia memperbaiki makanannya sendiri, kesehatannya pun akan berkembang. Jadi, bukankah benar, bahwa kesehatan seseorang itu bergantung pada makanan yang dimakannya, seperti juga halnya tanaman bergantung pada tanah di mana iaitu hidup?
Jika memang makanan yang salah dari penderita merupakan penyebab dari penyakitnya, dan kebanyakan demikian itulah halnya di zaman kita sekarang, maka tidak satu pun jenis atau jumlah obat yang dapat menyembuhkannya. Namun demikian apabila terjadi sesuatu yang salah dalam organisme tubuh seseorang, maka ia pada umumnya akan lari ke doker, bukan untuk mencarikan dan menyingkirkan penyebabnya, melainkan hanya supaya disembuhkan, padahal penyebabnya itu tetap saja dibiarkan, sementara ia itu (penyebab itu) terus menghantarkannya makin hari makin dekat ke liang kubur. Dan jika kepadanya tidak diberi obat, maka ia akan membenci dokter itu. Mengapa tidak meneliti penyebabnya itu pada makananmu yang setiap hari dimakan dan pada kebiasaan-kebiasaan hidupmu? Mengapa menggunakan obat padahal engkau perlu meminum air, menghirup udara bersih, matahari, jenis-jenis makanan yang tepat; berolahraga; atau mungkin perlu membersihkan rumahmu, tubuhmu, dan sekitarmu?
Hendaklah sekarang dimengerti, bahwa setiap orang yang hidup dari sesuatu makanan yang jelek, atau hidup pada lingkungari-lingkungan yang tidak sehat dan kondisi-kondisi yang tidak bersih, akan menjadi sasaran penyakit dalam berbagai bentuknya, sama seperti halnya sesuatu tanaman yang ditanam pada tanah yang jelek dan lingkungan-lingkungan yang tidak teratur. Kemudian juga harus diingat bahwa makanan yang tidak seimbang ialah makanan yang jelek, tanpa memandang mutu maupun jumlahnya; maka sebagaimana kebanyakan pupuk mematikan tanaman, demikian itu pula terlalu banyak makanan akan membunuh manusia. Apa pun yang terlalu banyak akan sama saja jeleknya dengan terlalu sedikit. Oleh sebab itu, maka sakit adalah hanya merupakan amaran terhadap kebiasaan-kebiasaan hidup seseorang yang tidak sepatutnya, Tetapi sayang ! Siapakah yang dapat mengerti, dan siapakah yang mau mematuhinya!
Apa lagi yang dapat menimbulkan penyakit-penyakit yang bukan bersifat keturunan atau komunikatif kalau bukan kehidupan yang salah – kurang gizi, makanan daging yang “haram” (Imamat 11), kebanyakan makan, kurang mernbersihkan tubuh, kurang berolah raga, kurang cahaya matahari dan udara bersih, hidup pada tempat-tempat yang kotor, lalai meminum cukup air di antara waktu makan, atau barangkali merokok atau mengunyah tembakau, kebiasaan minum kopi, teh, atau minuman perangsang lainnya yang mendorong tubuh sampai kepada tenaganya yang terakhir. Yakinlah, bahwa penyakit-penyakit yang sedemikian ini seperti halnya kanker adalah akibat dari kehidupan yang salah. Kalau yang sedemikian ini bukan penyebab dari sakitnya si penderita, maka penyebab yang pasti dan terakhir, seperti yang dikemukakan di atas, ialah dosa melawan Dua Log Batu itu.
Alam mengajarkan, bahwa jika sebuah pohon mengalami sakit dari dalamnya dan bukan dari luarnya, maka apabila ia itu disemprot dengan jenis obat apapun juga, iaitu hanya akan mempercepat kematiannya, membuang-buang obat, waktu dan tenaga orang. Tubuh manusia pun tidak terkecuali. Jika penyakit itu penyebabnya dari dalam, maka kebaikan apakah yang dapat dibuat untuk mencoba rnenyingkirkannya oleh menggunakan obat-obatan? Dalam hal yang sedemikian obat-obatan tidak akan menyingkirkan penyebab itu, melainkan justru akan lebih merusak dan mempercepat kematiannya.
Jika tidak mungkin untuk menjaga sebuah mesin pendingin daripada kepanasan apabila radiatornya kosong, dan jika tidak ada lagi yang lain selain mengisinya dengan air yang akan menyembuhkan gangguan itu, maka mungkinkah menyembuhkan sesuatu tubuh yang sakit tanpa menyembuhkan penyebabnya? Pikirkanlah sejenak!
Memang, banyak yang menderita berbagai penyakit keturunan dan menular, namun terbanyak orang menderita penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan-kebiasaan hidup yang keliru. Minuman-minuman alkohol dan perangsang-perangsang lainnya, kue-kue yang mahal-maHal, gula-gula, coklat dan lain-lain, makan yang berlebihan, kombinasi-kombinasi makanan yang keliru,dan terlalu banyak makanan biji-bijian, – salah satunya atau semuanya ini secara bersama-sama lebih kurang telah menimbulkan kesusahan manusia zaman ini dengan berbagai penyakit.
Sukar berak adalah salah satu dari penyakit-penyakit biasa yang didatangkan orang atas dirinya sendiri karena makan yang keliru. Dan dalam sukar berak itu sendiri terdapat penyebab dari sejumlah penyakit, seperti halnya assimilasi yang sukar. Manusia secara alamiah tidak akan terkena sukar berak,-sekali-kali tidak, sama seperti halnya saluran air tidak akan terkena penyumbatan selama air mengalir melaluinya, yaitu satu-satunya barang yang oleh pembuatnya dimaksudkan untuk mengalirkan air melaluinya.
Bahwa makanan-makanan yang disajikan secara komersial pun terdapat diantara banyak penyebab-penyebab sukar berak, oleh salah seorang anggota fakultas sebuah lembaga kesehatan tertentu ditulis sebagai berikut: “Karena makanan-makanan kita yang sudah dibudayakan dan cara sekaliannya itu mengisi perut dengan bahan-bahan beracun dan gas, maka mutlak perlu memberikan kepada diri sendiri suatu rangkaian saluran-saluran irigasi usus besar sedikitnya dua kali setahun supaya tetap sehat. Sakit kepala, demam, flu, sakit-sakitan pada usus, keluar lendir, gas, dan banyak lagi gangguan-gangguan menghilang sesudah satu atau dua kali pembersihan usus.”
Kita hendaknya jangan melalaikan kenyataan, bahwa Nuh telah menghayati 900 tahun kehidupan yang baik dan berbahagia, dan bahwa tidak ada satu catatan pun yang kita miliki tentang apakah ia pernah harus membuat irigasi perut besar (cuci perut) atau pernah menjalani sesuatu operasi besar. Daripada menggunakan cara-cara tiruan bagi pembersihan (cuci perut) sekali-kali, mengapakah tidak memakan saja jenis-jenis makanan yang tepat, yaitu jenis-jenis makanan yang memelihara perut tetap bersih setiap hari setiap tahun? lagi pula, suatu makanan yang seimbang bukan saja akan memelihara perut dari “berbagai bahan racun dan gas,” melainkan juga akan memberikan kepada seluruh tubuh meneral-mineral dan vitamin-vitamin yang perlu, yang mana tidak seorangpun dapat bertahan cukup lama dengan sehat tanpa memilikinya. Kemudian mengapakah membelanjakan uangmu untuk vitamin-vitamin hasil pabrik dan makanan-makanan yang tidak penting dengan harga-harga yang setinggi langit, padahal engkau dapat memperolehnya dari milik Alam sendiri, yang penuh vitalitas, dan dengan harga-harga yang serendah tarikan bumi? Ingatlah selalu, bahwa gizi-gizi tiruan sesungguhnya sama saja halnya dengan lengan-lengan tiruan atau pun kaki-kaki tiruan.
Sejenak memikirkan makanan dari pada memikirkan obat
Janganlah seorang pun melalaikan kenyataan bahwa tubuh manusia telah dibentuk dari mineral-mineral tertentu, yang sekaliannya itu terdapat di dalam bahan-bahan makanan, dan oleh sekaliannya ini Alam akan mampu memeliharakan tubuh dalam kondisi yang sempurna, asalkan pemilik tubuh menyediakan bahan-bahan itu, dan asalkan mekanisme kerja yang tahan lama ini tidak dikacaukan. Jadi jelaslah, jika kita lalai oleh makanan yang kita makan untuk melengkapi Alam dengan bahan-bahan bangunan yang tepat, maka Alam dengan sendirinya tidak akan mampu melaksanakan pekerjaannya, dan sekalipun akibat dari kekurangan ini mungkin tidak cepat terasa, namun bagaimana pun ia itu akan terasa sepanjang hayat dan bertahun-tahun ke depan.
Dan jika si pelanggar lalai bangun lalu memperbaiki jalan-jalannya pada waktunya, maka bahkan penganut hukum-hukum kesehatan yang sangat teliti sekalipun akan gagal memperbaiki kerusakan yang telah diperbuat. Jelaslah, bahwa orang harus berusaha untuk hidup benar, bukan karena ia sedang makin sakit-sakitan, melainkan karena ia bertekad selalu untuk tetap sehat. Lagi pula, sebuah mesin yang telah rusak berantakan dan telah diperbaiki tidak akan pernah sebaik mesin yang belum pernah rusak. Demikian pula halnya dengan orang yang membuat dirinya sakit dan kemudian sembuh. Yang terbaik baginya ialah supaya jangan sekali membiarkan kesehatannya menjadi tidak seimbang. Setiap orang harus menyadari, bahwa kesehatannya adalah sama dengan kekayaannya, bahwa tanpa kesehatannya itu sekaliannya yang lain-lain sarna saja lenyap, dan bahwa ia tidak akan dapat menikrnati semua hak karunia Allah miliknya dan semua kesempatan jika ia tidak teliti mengikuti kebahagiaan fisik maupun rohaninya itu.
Obat-obatan memiliki tempatnya sendiri, namun janganlah mengharapkan sekaliannya itu untuk melakukan apa yang engkau sendiri harus lakukan.
Banyak orang adalah seperti raja Asa. Ia terkena “penyakit pada kakinya, sampai penyakit itu menjadi sangat parah; namun dalam penyakitnya itu ia tidak berusaha mencari Tuhan, melainkan mencarikan dokter-dokter.” 2 Tawarikh 16 : 12. (Bacalah Prophets and Kings, p. 113.)
270 total, 1 views today


