Jawaban Tuhan terhadap penyelidik akan Allah
<< Go Back


 

JAWABAN TUHAN
TERHADAP PENYELIDIKAN
AKAN ALLAH

Oleh:
Victor T. Houteff
Pendeta dari Persekutuan Davidian Masehi Advent
Hari Ketujuh
Sabat, 9 Agustus 1947
Gereja Mount Carmel, Waco, Texas
Amerika Serikat
 
Pokok pembicaraan kita terdapat di dalam buku Jeheskiel pasal dua puluh. Di dalam pasal ini akan kita jumpai berisikan suatu ramalan sejarah tentang sidang semenjak dari masa perhambaannya di Mesir sampai kepada masa pemeteraian dari 144.000 itu.
 
Jeheskiel 20 : 1 – 8 :
“Maka pada sekali peristiwa, yaitu pada tahun yang ketujuh, bulan yang ke lima, dan pada sepuluh hari bulan itu datanglah beberapa orang dari pada segala tua-tua Israel hendak bertanyakan Tuhan, lalu duduklah mereka itu dihadapanku. Maka pada masa itu datanglah firman Tuhan kepadaku bunyinya: ‘Hai anak Adam, berkatalah dengan tua-tua Israel itu, dan katakanlah kepada mereka. Demikianlah firman Tuhan Hua. Apakah kamu datang hendak bertanya tentang Aku? Sesungguh-sungguhnya Aku ini hidup, tak akan Kubolehkan kamu bertanya tentang Aku, demikianlah firman Tuhan Hua. Maukah kamu membenarkan mereka, hai anak Adam, maukah kamu membenarkan halnya? Beritahukanlah kepada mereka segala perbuatan keji bapa-bapanya, lalu katakan kepada mereka, bahwa demikianlah firman Tuhan Hua : Tatkala Aku memilih akan Israel, Kuangkat tanganKu kepada benih isi rumah Yakub dan Kunyatakan diriKu kepadanya di tanah Mesir, bilamana Kuangkat tanganKu kepada mereka sambil firmanKu, Aku ini Tuhan Allahmu. Pada masa itu juga Kuangkat tanganKu kepadanya hendak menghantar akan mereka itu keluar dari negeri Mesir ke negeri yang telah Ku pilih bagi mereka itu, suatu negeri yang berkelimpahan air susu dan madu dan kemuliaan segala negeri. Lalu firmanKu kepada mereka itu, buanglah olehmu masing-masing akan barang yang keji kepada pemandangannya, dan jangan kamu menajiskan dirimu dengan berhala tahi Mesir itu, bahwa Aku inilah Tuhan, Allahmu. Tetapi mereka itu mendurhaka juga kepadaKu, tiada mau mendengar akan Daku, seorangpun tiada membuang barang yang keji kepada pemandangannya atau meninggalkan berhala tahi Mesir. Maka sebab itu Aku berfirman, bahwa Aku hendak mencurahkan kehangatan murkaku kepada mereka itu dan menyempurnakan amarahKu kepadanya di tengah-tengah negeri Mesir.”
 
Di dalam tulisan-tulisan Musa tidak kita jumpai sesuatu catatan mengenai adanya kesetiaan bangsa Israel di negeri Mesir. Apakah mereka itu baik atau sebaliknya Musa tidak menyatakannya. Tetapi di sini oleh perantaraan Jeheskiel kepada kita diceriterakan bagaimana keadaan mereka di waktu itu. Tidak semua dari mereka dapat saudara catat, adalah umat Allah yang patuh. Kata-kata firman ini membuatnya jelas, bahwa walaupun pada waktu Allah memanggil mereka keluar dari tanah Mesir kebanyakan dari padanya adalah yang tidak setia di dalam perbaktiannya kepada Allah.
 
Jeheskiel 20 : 9, 10 :
“Tetapi tiada juga kulakukan itu oleh karena demi namaku, supaya tiada ia itu menjadi kehinaan kepada pemandangan segala orang kapir di antara siapa mereka itu duduk, supaya kunyatakan diriku sendiri dihadapan pemandangan mereka, yaitu dengan membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Olehnya itu aku membuat mereka itu pergi keluar dari tanah Mesir, lalu ku bawa mereka itu ke padang Tiah.”
 
Kita kini telah membaca catatan dari orang-orang Ibrani yang banyak itu, dari hal keadaan kerohanian mereka di tanah Mesir, dan dari hal alasan Allah untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Selanjutnya kita akan membaca catatan tentang apa yang telah dilakukan mereka itu selama di padang Tiah.
 
Jeheskiel 20 : 11 – 13 :
“Maka di sana kuberikan mereka itu segala syariatku, dan kunyatakan kepadanya segala hukumku, olehnya orang boleh hidup jika diturutnya akan dia. Dan lagi kuberikan kepada mereka segala Sabatku akan suatu tanda di antara Aku dan mereka itu supaya diketahui olehnya bahwa Akulah Tuhan yang menguduskan mereka. Tetapi di padang Tiah itu bangsa Israel mendurhaka kepadaku, tiada mereka itu menurut syariatku, dan direndahkannya segala hukumku oleh mana boleh hidup tiap-tiap orang yang menurutnya; dan lagi dicemarkannya sangat segala Sabatku, sehingga Aku berfirman hendak mencurahkan kehangatan murkaku kepada mereka itu di padang Tiah untuk menumpas mereka.”
 
Di sini kita saksikan, bahwa perbuatan-perbuatan dari pada para turunan Jakub adalah bahkan lebih jelek disebut di padang Tiah dari pada selama mereka berada di Mesir.
 
Jeheskiel 20 : 14 – 28 :
“Tetapi tiada juga Kulakukan itu oleh karena demi namaKu, supaya tiada ia itu menjadi kehinaan kepada pemandangan segala orang kapir dihadapan siapa Aku sudah menghantarkan mereka itu keluar. Namun Kuangkat juga tanganKu kepada mereka di padang Tiah supaya tidak akan Kubawa mereka ke dalam negeri yang telah Kuberikan kepadanya yang berkelimpahan susu dan madu, yaitu kemuliaan dari segala negeri itu, sebab mereka telah merendahkan segala hukumKu dan tiada menurut segala syariatKu, melainkan dicemarkannya segala SabatKu, karena dengan hatinya mereka itu mengikuti segala berhala tahinya. Tetapi mataKu juga sayang akan mereka itu sehingga tiada Kubinasakan mereka dan tiada Kuakhiri nasib mereka itu di padang Tiah itu. Maka firmanKu kepada segala anaknya di padang Tiah itu: Janganlah kamu turut segala syariat bapa-bapamu, dan janganlah turut segala adatnya dan jangan cemarkan dirimu dengan segala berhala tahinya mereka itu. Aku inilah Tuhan, Allahmu, turutlah kamu segala syariatKu dan peliharakanlah segala hukumKu, dan lakukanlah dia, dan sucikanlah segala SabatKu, supaya ia itu menjadi suatu tanda di antara Aku dengan kamu supaya diketahui olehmu, bahwa Aku ini Tuhan, Allahmu. Tetapi anak-anaknya mendurhaka kepadaKu, tiada mereka itu menurut segala syariatKu, dan tiada dipeliharakannya segala hukumKu untuk melaksanakannya yang olehnya juga boleh hidup tiap-tiap orang yang mematuhinya, mereka mencemarkan segala Sabatku, sehingga Aku berfirman hendak mencurahkan kehangatan murkaKu kepadanya dan menghabiskan amarahKu ke atas mereka di padang Tiah. Tetapi Aku juga menahankan tanganKu dan tiada Kubuat begitu demi karena namaKu, supaya tiada ia itu menjadi kehinaan di hadapan pemandangan orang kapir, di hadapan siapa telah Kuhantarkan mereka itu keluar. Dan lagi di padang Tiah juga sudah Kuangkat tanganKu kepadanya hendak mencerai beraikan mereka itu di antara segala bangsa kapir, dan menghamburkan mereka itu kepada segala negeri, sebab tiada dilakukannya segala hukumKu, melainkan meremehkan semua syariatKu serta mencemarkan segala SabatKu, dan matanya memandang kepada segala berhala tahi bapa-bapanya. Olehnya itu Kuberikan juga kepada mereka itu syariat yang tidak baik dan hukum yang olehnya tiada boleh mereka itu hidup; lalu Kucemarkan mereka itu di dalam semua persembahannya sendiri oleh karena dijalankannya segala anak sulungnya terus dari pada api, sehingga dapat Kubuat mereka itu sunyi, sampai pada akhirnya agar dapat diketahuinya, bahwa Akulah Tuhan. Olehnya itu, hai anak Adam, berkatalah kepada bangsa Israel, dan katakanlah kepadanya, bahwa demikianlah firman Tuhan Hua, bahwa bahkan dalam perkara ini pun segala bapamu sudah mendurhaka kepadaKu karena mereka telah melawan Aku dengan sengajanya. Karena pada waktu telah Kuhantarkan mereka itu ke dalam negeri yang telah Kujanji pakai sumpah hendak Kukaruniakan kepada mereka itu, karena dilihatnya segala bukit yang tinggi dan akan segala pohon kayu yang rindang, di sanalah dipersembahkannya korbannya dan dibawanya akan segala persembahannya yang mempersakiti hati, dan di sanapun ditaruhnya dupanya yang harum, dan dituangkannya di sana persembahan-persembahan minumannya.”
 
Mereka tidak setia di Mesir, tidak setia di padang Tiah, dan pun tidak setia di tanah perjanjian itu. Kita akan membaca kini bagaimana akibat-akibatnya.
 
Jeheskiel 20 : 29 – 36 :
“Lalu kukatakan kepada mereka, ‘Apakah tempat yang tinggi itu yang kepadanya kamu pergi? Dan namanya adalah disebut Bamah sampai kepada hari ini. Olehnya itu katakanlah kepada bangsa Israel, bahwa demikianlah firman Tuhan Hua; Adakah kamu tercemar seperti halnya bapa-bapamu? Dan adalah kamu ikut berzinah dengan berbagai kekejian mereka itu? Karena sewaktu kamu mempersembahkan segala persembahanmu, sewaktu kamu menjalankan anak-anakmu terus dari pada api, maka kamu telah mencemarkan dirimu sendiri dengan segala berhala tahimu sampai kepada hari ini; maka bolehkah kamu bertanyakan Aku, hai bangsa Israel? Sesungguh-sungguh Aku ini hidup, tiada boleh kamu bertanyakan Aku, demikianlah firman Tuhan Hua. Dan lagi barang yang terbit sekarang dalam hatimu itu pun sekali-kali tiada akan jadi, sehingga kau katakan, kami akan jadi bagaikan orang kapir, seperti halnya segala bangsa negeri-negeri lain hendak berbuat bakti kepada barang kayu dan batu. Sesungguh-sungguhnya Aku hidup, demikianlah firman Tuhan Hua, bahwa sesungguhnya dengan tangan yang kuat dan dengan merentangkan lenganNya dan dengan kehangatan murka yang tercurah Aku akan memerintahkan kamu; dan Aku akan menghantar kamu keluar dari segala bangsa dan menghimpunkan kamu dari pada segala negeri kepadanya juga kamu sudah dihamburkan dengan tangan yang kuat dan dengan lengan yang direntangkan dan dengan kehangatan murka yang tercurah. Dan Aku akan membawa kamu ke padang segala bangsa, dan di sanalah Aku akan berbicara dengan kamu muka dengan muka. Seperti halnya Aku telah berbicara dengan bapa-bapamu di padang negeri Mesir, maka demikianlah Aku akan berbicara dengan kamu, demikianlah firman Tuhan Hua.”
 
Pada satu pihak kita saksikan alasan-alasan bagi pengangkatan bangsa Ibrani yang banyak itu dari perbudakan Firaun menjadi imam-imam Allah, nabi-nabi, dan raja-raja. Di lain pihak kita melihat perpencaran mereka di antara segala bangsa-bangsa lain. Selanjutnya kita saksikan janji-janji Tuhan Allah tentang berkumpulnya mereka kembali dari segala negeri ke mana mereka pernah disebarkan. Inilah yang Ia janjikan akan dilaksanakanNya dengan tangan yang kuat, dan dengan lengan yang direntangkan.
 
Jeheskiel 20 : 37 :
“Dan Aku akan menyuruh kamu berjalan lalu dari bawah tongkat, dan membawa kamu ke dalam ikatan perjanjian.”
 
Ayat ini agaknya mengandung sesuatu di dalamnya, dan perlu dijelaskan dengan bantuan sesuatu petunjuk firman yang lain. Marilah kita beralih ke buku Immamat.
 
“Dan mengenai perpuluhan dari pada lembu atau dari pada kambing domba, bahkan dari setiap apapun yang lalu dari bawah tongkat itu, maka yang kesepuluh yang akan menjadi suci bagi Tuhan.”Immamat 27 : 32.
 
Untuk menunjukkan bagian milik Tuhan, yaitu perpuluhan, maka domba-domba, kambing-kambing atau domba-domba kepunyaan Tuhan harus dibuat berjalan lalu dari bawah tongkat. Setiap yang kesepuluh lalu diambil dan disisihkan bagi Tuhan. Sebutan pada Yeheskiel 20, ayat 37, “berjalan lalu dari bawah tongkat” dengan demikian dimaksudkan kepada pemisahan terhadap pilihanNya dari antara yang banyak, yaitu dari antara “lalang”, (Matius 13 : 30) atau dari antara “ikan yang jelek” (Matius 13 : 47, 48). Dengan dipisahkan sedemikian, maka mereka akan dapat dihitung. Demikian inilah, bahwa mereka yang 144.000 itu (Wahyu 7 : 3 – 8; 14 : 1) merupakan suatu rombongan tersendiri yang dapat dihitung.
 
Kita kini dapat saksikan, bahwa Jeheskiel 20 adalah berisikan suatu ramalan sejarah semenjak dari masa perhambaan mereka di Mesir sampai kepada masa pemeteraian mereka yang 144.000 itu, dan mengenai pengumpulan kembali umat itu.
 
Bilamana Allah membuat Umatnya sedemikian berjalan lalu dari bawah tongkat, maka Ia akan membawa mereka ke dalam ikatan “perjanjian yang telah dibuatNya dengan Ibrahim, dan yang telah diteguhkanNya kepada Ishak pakai sumpah, dan yang ditentukannya lagi kepada Jakub sebagai hukum, dan kepada Israel akan perjanjian yang kekal, firmanNya, bahwa Aku akan menganugerahi kamu dengan tanah Kanaan, bagian pusakamu yang besar.” 1 Tawarikh 16 : 16 – 18.
 
Janji-janji yang mereka gagal memperolehnya, Tuhan menjanjikan sekali lagi, bahwa Ia kini akan memungkinkan umatNya memperolehnya.
 
Jeheskiel 20 : 38 :
“Dan Aku akan mengasingkan dari padamu segala orang durhaka dan mereka yang melawan Aku, Aku akan membawa mereka keluar dari dalam negeri tempat mereka itu tinggal sebagai orang dagang, maka mereka tidak akan boleh masuk ke dalam negeri Israel; maka kamu akan ketahui bahwa Akulah Tuhan.”
 
Di sini kepada kita dijelaskan, bahwa hanya mereka yang terpilih akan dibawaNya “ke dalam ikatan perjanjian.” Hanya mereka yang akan dibawa ke dalam tanah Israel. Orang-orang berdosa (lalang, ikan yang jelek atau kambing-kambing) yang kini terdapat di antara umat Allah akan disingkirkan keluar, sehingga tidak akan ada lagi.
 
“Dan lagi pula Kerajaan Surga itu seumpama pukat,” kata Tuhan, “yang dilabuhkan orang di laut, dan yang mengumpulkan berjenis-jenis ikan, yang bilamana penuh ditarik orang ke pantai lalu mereka itu duduk memilih, yaitu yang baik ditaruhnya di dalam berkasnya, tetapi yang tidak baik itu dibuangkannya. Demikian akan jadi pada kesudahan alam, segala malaikat akan keluar mengasingkan orang jahat dari antara orang yang benar, lalu membuangkan mereka itu ke dalam dapur api. Disanalah kelak tangisan dan keretak gigi.” Matius 13 : 47 – 50. Pemisahan, Pehukuman bagi orang hidup, Saudara ketahui, akan membawa sejarah dunia ini kepada akhirnya.
 
Jeheskiel 20 : 39 :
“Bagi kamu, hai bangsa Israel, demikianlah firman Tuhan Hua, sejak sekarang juga pergilah kamu berbuat ibadah masing-masing kamu kepada berhala tahinya, jikalau tiada kamu mau mendengar akan daku, tetapi jangan lagi kamu mencemarkan namaku yang suci itu dengan segala persembahanmu dan dengan segala berhala tahimu.”
 
Allah membuat jelas kini ‘pekerjaan penyucianNya’ yang hendak dilaksanakanNya, baik terhadap mereka yang bertobat maupun terhadap mereka yang tidak bertobat. Kini terserah kepada mereka untuk memutuskan apakah akan beribadah kepadanya atau kepada segala berhala tahinya – mereka kini supaya tidak mengambil keputusannya secara bodoh. Jika mereka ingin binasa, maka mereka boleh saja terus melayani semua berhala tahinya.
 
Jeheskiel 20 : 40, 41 :
“Karena di atas gunung kesucianKu, di atas gunung Israel yang tinggi, demikianlah firman Tuhan Hua, di sana juga segenap bangsa Israel akan berbuat bakti kepadaku, yaitu segala orang yang di dalam negeri itu, di sana juga Aku berkenan akan mereka itu, dan di sana pun Aku akan menerima segala persembahan tatanganmu dan segala hulu hasilmu serta dengan segala barang-barangmu yang suci. Aku akan menerima kamu berikut segala harum persembahanmu setelah sudah kuhantarkan kamu keluar dari antara segala bangsa dan kukumpulkan kamu dari dalam segala negeri kepadanya juga kamu sudah dihamburkan, dan Akupun akan dikuduskan di antara kamu di hadapan mata segala orang kapir.”
 
Saudara lihat, bahwa semua perkara ini akan jadi di hadapan mata orang kapir.
 
Jeheskiel 20 : 42 – 44 :
“Maka pada masa itu akan diketahui olehmu, bahwa Akulah Tuhan, apabila Aku membawa akan kamu ke dalam negeri Israel, yaitu negeri yang telah kujanji pakai sumpah hendak mengaruniakan dia kepada nenek moyangmu. Maka di sana kamu kelak ingat akan segala perbuatanmu olehnya juga kamu sudah menajiskan dirimu, maka kamu kelak jijik akan dirimu oleh karena segala kejahatan yang sudah kamu perbuat itu. Maka kamu akan mengetahui, bahwa Aku ini Tuhan, apabila Aku berbuat akan kamu setuju dengan namaku, dan bukan sekedar segala jalanmu yang jahat atau sekedar segala perbuatanmu yang busuk itu, hai bangsa Israel, demikianlah firman Tuhan Hua.”
 
Semua perkara ini Allah lakukan bagi umatNya, bukan karena sepatutnya demikian bagi mereka, melainkan karena demi namaNya, karena janjiNya tak boleh gagal. Kau lihat, Kerajaan Allah bukanlah dimulai di sorga melainkan di atas bumi. Dan Kerajaan itu, sebagaimana kau kini saksikan, bukanlah dibentuk terdiri dari setan-setan, melainkan terdiri dari manusia-manusia, yaitu orang-orang suci, tak seorang berdosa pun terdapat di antaranya.
 
Yah Eden yang telah hilang itu akan dikembalikan. Dengan sesungguhnya, firman itu menyatakan dengan jelas, bahwa Eliyah harus pertama-tama datang lalu mengembalikan segala perkara (Markus 9 : 12). Sebagaimana halnya Eden adalah sebuah rumah yang sesungguhnya semenjak mula pertama didiami oleh manusia-manusia yang sesungguhnya, maka demikianlah pula keadaannya akan jadi kembali.
 
Ayat-ayat yang sisa dari Jeheskiel pasal 20 itu menyajikan sebuah perumpamaan yang lain lagi. Tetapi karena waktu tidak lagi memungkinkan kita untuk membicarakannya, maka kita akan mengakhiri penyelidikan kita di sini saja. Namun, pertama hendaklah dicatat, bahwa ayat-ayat yang sisa dari pasal ini, dan juga ayat-ayat dari pasal 21, dengan pegangan terang ini, sudah akan jelas dengan sendirinya; maka Saudara akan dapat mempelajarinya sendiri pada waktu-waktu senggang. Walaupun demikian ayat 27 dari pasal 21 dapat saya singgung selanjutnya di sini.
 
Jeheskiel 21 : 27 :
“Aku akan membalikan, membalikan, membalikannya, maka ia tiada akan ada lagi, sampai kelak akan datang Ia yang berhak atasnya, maka Aku akan memberikannya kepadaNya.”
 
Di dalam pasal-pasal ini dikemukakan baik isi rumah Israel maupun isi rumah Yehuda. Di dalam ayat ini Allah menyatakan dengan jelas, bahwa Ia akan membuat tiga pembalikan, dan bahwa setelah Kerajaan itu akan tidak ada lagi sampai ‘datang Ia yang berhak atasnya’, yaitu sesudah tiga kali pembalikan itu, maka Ia ‘Yang berkuasa atasnya’ kelak akan datang dan Kerajaan itu kelak akan dikembalikan.
 
Pembalikan yang pertama terjadi pada waktu Assiria membalikan isi rumah Israel, kerajaan dari sepuluh suku itu. Pembalikan kedua terjadi pada waktu raja dari Babilonia membalikan isi rumah Yehuda, kerajaan dari dua suku itu; dan pembalikan yang ketiga terjadi pada waktu Jenderal Titus dalam tahun 70 Tarikh Masehi membinasakan Yerusalem. Jadi, terlihat, bahwa kita kini hidup di dalam periode setelah pembalikan yang ketiga itu, yaitu periode dimana ‘Dia yang berkuasa atasnya’ itu akan datang lalu mendirikan KerajaanNya.
 
Kenyataannya, bahwa Ilham kini telah membuka nubuatan-nubuatan ini dan telah menyajikannya ke hadapan perhatian sidang, membuat kita mengetahui dengan pasti, bahwa masa bagi pengembalian Kerajaan itu sesungguhnya sudah dekat; bahwa kita kini berada dalam masa pemeteraian mereka yang 144.000 itu; dan bahwa jika kita betul-betul setia kita boleh tergolong di antara mereka, lalu berdiri bersama-sama dengan Anak Domba itu di Bukit Sion.
 
Saudara, Saudari, ini adalah jawaban Tuhan sendiri kepadamu.
 
Kewajibanmu kini adalah menyambutnya jika engkau ingin hidup untuk selama-lamanya. Janganlah membiarkan musuh Kebenaran memasukkan keragu-raguan ke dalam ingatanmu, dan janganlah membiarkan siapapun menjauhkan kamu dari pada Kebenaran ini, karena Setan tidak akan sia-sia berdiri di sampingmu. Ia akan berusaha dengan segala daya untuk menjatuhkan kamu. Periksalah berulang-ulang serta perhatikanlah apakah Alkitab mengajarkan Kebenaran ini sedemikian agar supaya dapat kamu memegangnya bagi dirimu sendiri. Saudara tidak akan rugi karena masih ada waktu.

 

 

******

 

 239 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart