<< Go Back
APA YANG AKAN JADI SELAMA
TROMPET KE ENAM SEMENTARA
PINTU KASIHAN MASIH
TERBUKA


Victor T. Houteff
Pendeta dari Persekutuan Davidian Masehi Advent
Sabat, 15 November 1947
Gereja Mount Carmel, Waco, Texas
Amerika Serikat


Pokok dari penyelidikan kita terdapat di dalam Buku Wahyu pasal 10 dan 11. Kita akan memulai dengan:
Wahyu 10 : 1:
“Dan aku tampak seorang malaikat perkasa Iainnya turun dari surga, berjubahkan awan, dan sebuah pelangi terdapat di atas kepaIanya, dan mukanya seperti matahari, dan kakinya seperti tiang-tiang dari pada api.”
MaIaikat ini memiIiki semua ciri dari sesuatu kuasa yang mengirimkan ke bawah “hujan akhir itu”, dan yang menyebabkan biji-bijian rohani itu berkembang dengan sempurnanya, karena itulah yang ditunjukkan oIeh awan, cahaya matahari, dan peIangi. Sebagaimana peIangi tidak akan pernah muncul tanpa adanya hujan, maka oIeh karenanya maIaikat itu adaIah maIaikat yang akan membawa hujan dan cahaya matahari bagi perkembangan penuaian yang terakhir.
Wahyu 10 : 2:
“Dan ia memiliki di daIam tangannya sebuah buku kecil yang terbuka: maka kaki kanannya berpijak di laut, dan kaki kirinya di darat.”
Terdapat hanya sebuah buku di dalam Alkitab yang masih harus dibuka, dan itu ialah buku Daniel (Daniel 12 : 4). Dan karena perkara yang pertama yang dilakukan oleh malaikat itu adalah membuka buku itu, maka dari analisa membuktikan, bahwa ia sesungguhnya muncul pada peristiwa pada permulaan dari masa akhir zaman, yaitu masa di mana buku itu akan dibukakan. (Wahyu 10 : 2).
Saudara ketahui bahwa manusia secara alamiah memulai berjalan dengan kaki kanannya. Sekarang, oleh karena kaki kanan malaikat itu berpijak di laut, dan kaki kirinya berpijak di darat, maka lambang itu menunjukkan, bahwa ia memulai berjalan di laut, di daerah binatang-binatangnya Daniel (Dan. 7), kemudian di bumi, di daerah dari binatang bertanduk 2 (Wahyu 13 : 10 – 18). Oleh karena itu pekerjaannya dimulai di Negeri Lama (Old Country), dan tak dapat tiada akan meliputi kebenaran yang pertama sekali dibukakan dari buku Daniel. Segala-galanya dari pekabaran dan kuasanya itu membuktikan akan kelak tersebar luas ke seluruh dunia — di laut dan di darat.
Wahyu 10 : 3, 4:
“Maka berteriaklah ia dengan suara besar seperti bunyi singa meraung, dan tatkala ia berteriak, ketujuh guruh pun membunyikan bunyi masing-masing. Tatkala ketujuh guruh sudah berbunyi itu, sementara aku hendak menyuratkan, lalu aku dengar suatu suara dari langit, katanya: ”Meteraikanlah apa yang dikatakan oleh ketujuh guruh itu, dan jangan dituliskan”.
Di sini kita saksikan, bahwa terdapat lagi sesuatu kebenaran lain yang seharusnya sudah dapat dicatat, tetapi kepada Yahya diperintahkan untuk tidak menuliskannya. Kita tidak mengetahui berapa luas kebenaran yang dibawakan oleh Tujuh Guruh itu, namun mungkin sama banyak atau lebih banyak dari pada yang dibawa oleh Tujuh Trompet. Tetapi terlepas dari pada itu terdapat sesuatu hal yang muncul menyolok, dan itu ialah, bahwa oleh karena kebenaran Tujuh Guruh itu dilewati maka terdapatlah sesuatu kekosongan dalam rantai hubungan Kebenaran itu. Dan karena Tujuh Guruh itu tidak dicatat, maka segala kebenarannya tidak dapat dibuka secara diinterpretasikan, karena tidak terdapat apapun yang tertulis dari halnya, dan karena itu tidak ada yang dapat diinterpretasikan dari padanya. Jika kemudian kita akan pernah dapat mengetahui kebenaran dari Tujuh Guruh itu, maka itu mungkin akan ditunjukkan kepada kita dengan cara yang sama seperti halnya Wahyu telah ditunjukkan kepada Yahya.
Wahyu 10 : 5 – 7:
“Maka malaikat yang tampak berdiri di laut dan di bumi itu mengangkat tangannya arah ke langit serta bersumpah demi Dia yang hidup selama-Iamanya, Yang telah menciptakan langit dan segala perkara yang di dalamnya, dan bumi berikut segala perkara yang di dalamnya, dan laut berikut segala perkara yang di dalamnya, bahwa tidak akan ada tempo lagi; tetapi pada masa suara malaikat yang ketujuh itu, apabila ia hendak meniup sangkakaIanya (trompetnya), maka Rahasia Allah akan genap sebagaimana yang telah dibukakan olehNya kepada segala nabi hamba-hambaNya itu. (Pada permulaan bunyi trompet yang ketujuh itu, maka Rahasia Allah akan diselesaikan).
Dari hal apakah sebutan, ‘tidak akan ada tempo lagi?’ Jawabannya terdapat dalam pasal 6 yang secara nyata akan membuktikan, bahwa tidak akan ada tempo lagi bagi Rahasia Allah untuk diselesaikan; bahwa hari-hari yang masih tinggal dari trompet yang keenam, yaitu waktu menjelang bunyi trompet yang ketujuh itu, adalah waktu yang diperuntukkan bagi Rahasia Allah, yaitu Injil Kristus, untuk diselesaikan. Sesungguhnya, pengumuman yang pertama sekali dari malaikat yang ketujuh itu adalah, bahwa kerajaan-kerajaan dunia ini telah menjadi kerajaan-kerajaan Tuhan kita, artinya, bahwa pekerjaan Injil selesailah sudah.
Wahyu 10 : 8 – 10:
“Maka suara yang sudah kudengar dari langit itu kembali berkata kepadaku, katanya, PergiIah dan ambiIIah buku kecil yang terbuka di dalam tangan malaikat yang berpijak di laut dan di darat itu. Lalu pergilah aku kepada malaikat itu, dan kataku kepadanya, Berikanlah kiranya kepadaku buku kecil itu. Lalu katanya kepadaku, AmbiIlah dia, dan makanlah semuanya; dan ia akan memahitkan perutmu, tetapi di dalam mulutmu akan terasa manis seperti madu. Maka kuambillah buku keciI itu dari tangan malaikat itu lalu kumakan semuanya; maka itu di mulutku terasa manis seperti madu, dan segera setelah sudah kumakannya, maka perutku terasa pahit.”
Memakan buku itu sebagaimana hakekatnya ialah ‘menelan’ semua perkataannya. Madu yang manis seharusnya berarti kegembiraan yang datang dari janji-janji yang terkandung di dalamnya, dan jelaslah kepahitan menunjukkan kepada ketidakmampuan untuk mencerna, yaitu untuk memahami semuanya, dan demikianlah suatu kekecewaan. Semua ini, Saudara ketahui, telah memenuhi kegenapannya di masa Pergerakan Advent Yang Pertama, yaitu sewaktu oleh perantaraan penyelidikan terhadap buku Daniel, mereka temui bahwa pembersihan Kaabah (Daniel 8 : 14) akan dimulai dalam tahun 1844, tetapi mereka telah salah mengartikan pembersihan itu kepada akhir sejarah dunia dan kedatangan kembali Kristus. Kekecewaan itu datang setelah tanggal yang telah ditetapkan itu berlalu dan setelah semua harapan umat itu gagal menemui kenyataannya.
Wahyu 10 : 11:
“Lalu dikatakannya kepadaku, “Kamu harus bernubuat lagi ke hadapan banyak kaum dan banyak bangsa dan banyak bahasa dan banyak raja.”
Sesudah kekecewaan itu mereka diperintahkan untuk bernubuat kembali; artinya, kembali memberitakan dari hal pembersihan Kaabah itu. Pekerjaan ini akan mereka lakukan di antara banyak kaum, banyak bangsa, banyak bahasa, dan banyak raja; ternyata belum untuk semua.
Demikian itulah, maka Pergerakan Advent yang pertama itu kembali direorganisir dan kembali diberi nama, Masehi Advent Hari Ketujuh. Oleh karena itu organisasi Masehi Advent Hari Ketujuh tidak akan menyelesaikan pekerjaan itu. Pekabarannya tidak akan pergi kepada segala kaum, kepada segala bangsa, segala bahasa dan segala raja. Akibatnya, Sidang pun akan harus direorganisir kembali jika Injil Kerajaan akan diberitakan kepada segala bangsa. “Suatu pembangunan dan suatu reformasi harus terlaksana di bawah pengendalian Roh Suci. Pembangunan dan Reformasi adalah dua perkara yang berbeda. Pembangunan menunjukkan kepada suatu pembaharuan kehidupan rohani, suatu kebangkitan terhadap kuasa-kuasa pikiran dan hati, suatu kebangkitan dari mati rohani. Reformasi menunjuk kepada suatu reorganisasi, suatu perubahan dalam pendapat-pendapat dan teori-teori, kebiasaan-kebiasaan dan perbuatan-perbuatan”. Christ Our Righteousness, p. 121, edisi 1941.
Bagaimanakah reorganisasi itu akan dapat terjadi?
“Karena, sesungguhnya, Tuhan akan datang dengan api, dan dengan segala keretaNya, bagaikan suatu angin puyuh, untuk membalas kemarahanNya dengan geramnya, dan membalas teguranNya dengan nyala api. Karena oleh api dan oleh pedangNya Tuhan akan memutus hukum atas segala manusia; maka pembunuhan Tuhan itu akan besar jumlahnya.
“Mereka yang menyucikan dirinya sendiri, dan yang membersihkan diri sendiri dalam taman-taman di balik sebuah pohon yang di tengah-tengahnya, yang memakan daging babi berikut segala yang keji, dan tikus, akan dihapuskan semuanya secara bersama-sama, demikianlah firman Tuhan.”
“Maka Aku akan memberikan suatu tanda di antara mereka itu, dan Aku akan mengutuskan orang-orang yang lolos dari antara mereka itu kepada segala bangsa, ke Tarsis, ke PuI, dan ke Lud, orang pemanah, ke Tubal, dan ke Yawan, kepada segala kepuIauan yang jauh yang belum pernah mendengar kebesaran namaKu, yang belum melihat kemuIiaanKu; maka mereka akan memberitakan kemuIiaanKu di antara segala orang Kapir.”
“Maka mereka akan menghantarkan semua saudaramu merupakan suatu korban bagi Tuhan yang berasal dari segala bangsa dengan mengendarai kuda, dan kereta, dan unta berpelana, dan bagal, dan kuda semberani, menuju ke bukit kesucianKu Yerusalem, demikianlah firman Tuhan, bagaikan bani Israel membawakan suatu kurban dalam bejana yang suci ke dalam rumah Tuhan.” — Yesaya 66 : 15 – 17, 19, 20.
Di dalam ayat-ayat ini kita saksikan terjadinya suatu pembantaian, suatu pembantaian yang menyingkirkan pelanggar-pelanggar kebenaran. Orang-orang yang lolos dari pembantaian Tuhan akan dikirim kepada segala bangsa yang belum pernah menyaksikan kemuliaan Allah, atau mendengar dari hal kebesaran nama-Nya, maka mereka akan menghantarkan semua saudaranya keluar dari ‘segala bangsa’. Jelaslah, pada waktu itu, bahwa pembantaian terjadi di dalam Sidang, karena orang-orang yang lolos akan dikirim untuk berhotbah kepada bangsa-bangsa Kapir yang belum mendengar apapun dari hal Allah. Pengiriman orang-orang setia kepada segala bangsa, setelah pembinasaan terhadap orang-orang yang tidak setia, diperkirakan merupakan suatu reorganisasi kembali. Dan perintah itu pada akhirnya dikeluarkan untuk pergi, bukan hanya kepada banyak bangsa, melainkan kepada semua bangsa. Jika mereka adalah yang akan membawa segala saudaranya keluar dari antara segala bangsa, maka mereka tak dapat tiada adalah yang terakhir, yaitu orang-orang yang akan menyelesaikan pekerjaan itu, yaitu “Rahasia Allah itu”, yang akan menghantarkan pintu kasihan itu kepada penutupannya dan dunia kepada akhir sejarahnya.
Wahyu 11 : 1:
“Maka diberikan kepadaku sejenis buIu pengukur yang seperti tongkat rupanya, maka berdiri malaikat itu sambil mengatakan, BangkitIah kamu dan ukurlah olehmu akan Kaabah Allah itu, dan mezbah itu, dan mereka yang berbakti di dalamnya.”
Pelaksanaan pengukuran terhadap orang-orang yang berbakti itu adalah sesungguhnya dimaksudkan kepada perhitungan jumlah mereka itu. Dan begituIah saudara saksikan, bahwa menyusul Pergerakan Masehi Advent Hari Ketujuh akan terjadi suatu perhitungan yang akan dilakukan terhadap anggota-anggotanya. Dan oleh karena terdapat hanya sebuah rombongan orang yang telah terhitung jumlahnya, yaitu 144.000 (Wahyu 7 : 3) itu, yaitu buah-buah pertama (Wahyu 14 : 4), hamba-hamba Allah (Wahyu 7 : 3), maka itu menyusul, bahwa merekalah orang-orang yang telah dihitung itu, yaitu orang-orang yang telah lolos, dan juga yang dikirim kepada segala bangsa. Yah, merekalah orang-orang yang akan menyelesaikan Rahasia Allah karena mereka menghantarkan semua saudaranya keluar dari segala bangsa (Wahyu 7 : 9), yaitu buah-buah yang kedua itu.
Wahyu 11 : 2:
“Tetapi ruangan yang berada di luar kaabah supaya dibiarkan, jangan diukur akan dia, karena itu diberikan bagi segala bangsa Kapir; dan kota suci itu akan dipijak-pijak mereka itu empat puluh dua bulan Iamanya.”
Orang-orang yang berbakti, yaitu anggota-anggota sidang, segala suku Israel itu, kelak akan dihitung, tetapi orang-orang yang akan memenuhi halaman, yaitu mereka yang berasal dari bangsa-bangsa Kapir itu adalah tak terhitung jumlahnya: “Sesudah ini aku tampak, dan terlihatlah suatu jumlah besar orang banyak yang tak seorang pun dapat menghitung, berasal dari segala bangsa, segala suku, segala umat, segala bahasa, berdirilah mereka di hadapan tahta itu, dan di hadapan Anak Domba, berpakaikan jubah-jubah putih, dan daun kurma berada dalam tangan mereka.” Wahyu 7 : 9.
Tujuh kali tujuh, empat puluh sembilan, menunjukkan tahun Kesukaan, pembebasan umat itu dan negeri mereka, contoh dari pada Kerajaan yang lengkap itu. Di samping adanya sesuatu pengertian yang lain, maka empat puluh dua bulan itu adalah hanya enam kali tujuh bulanan, itu menunjukkan, bahwa kota suci, Yerusalem, tidak akan ‘dipijak-pijak’ sepanjang perjalanannya sampai kepada masa raya Tahun Kesukaan contoh saingan, — dimana orang-orang Kapir akan diusir keluar dari dalamnya sebelum Rahasia Allah diselesaikan, sebelum malaikat yang ketujuh memulai meniup trompetnya.
Wahyu 11 : 3, 4:
“Maka Aku akan memberikan kuasa kepada kedua saksiKu, maka mereka akan bernubuat seribu dua ratus enam puIuh hari lamanya, berkainkan kain goni. Mereka ini ialah kedua pohon zaitun itu, dan kedua kaki dian itu yang berdiri di hadapan Allah yang empunya bumi itu.”
Pada waktu nabi Zakharia menanyakan apa yang dilambangkan oleh pohon-pohon zaitun khayalnya itu, maka malaikat itu menjawab, “firman Tuhan.” Zakharia 4 : 6.
Kedua pohon zaitun itu oleh karenanya adalah melambangkan Wasiat Lama dan Wasiat Baru, yaitu Alkitab (The Great Controversy, p. 267). Mengenai lambang terhadap kaki dian-kaki dian itu Tuhan sendiri menunjukkan, bahwa mereka itu adalah melambangkan sidang-sidang. (Wahyu 1 : 20). Kedua kaki dian itu oleh hubungannya dengan pohon-pohon zaitun itu oleh karenanya adalah melambangkan sidang-sidang Wasiat Lama dan Wasiat Baru, yaitu sidang-sidang yang memberikan kepada kita AIkitab itu.
Wahyu 11 : 5:
“Maka jikalau seseorang hendak merusak mereka, api akan keluar dari dalam mulut mereka, lalu menelan semua musuh-musuhnya; dan jika seseorang hendak merusak mereka, maka ia patut dibunuh dengan cara ini”.
Dari ini kita saksikan, bahwa walaupun Alkitab itu adalah kawan terdekat bagi semua kawan-kawanNya, Itu pun merupakan suatu musuh yang sangat berbahaya terhadap semua musuhNya. Apabila Kebenaran tak dapat menyelamatkan, maka Ia akan membunuh.
Wahyu 11 : 6 – 11:
“Keduanya ini memiliki kuasa untuk mengunci langit sehingga tidak akan turun hujan selama keduanya bernubuat itu; dan keduanya memiliki kuasa atas segala air untuk merubah mereka itu menjadi darah, dan untuk memalu bumi dengan segala belanya, seberapa sering dikehendakinya.
Dan apabila sudah mereka menyelesaikan semua kesaksiannya, maka binatang yang keluar dari dalam lubang yang tak terduga dalamnya itu akan berperang melawan keduanya, dan akan menang atas keduanya, Ialu membunuh keduanya. Maka mayat-mayat keduanya itu akan bergelimpangan di jalan raya negeri besar itu, yang secara rohaniah disebut Sodom dan Mesir, di tempat mana Tuhan kita pun telah disalibkan.
Maka mereka yang berasal dari segala kaum dan suku dan bahasa dan bangsa akan menyaksikan mayat-mayat keduanya itu tiga setengah hari lamanya, dan tidak akan dibiarkan mereka kedua mayat itu dimasukkan ke dalam kubur. Maka mereka yang berdiam di atas bumi akan bersukaria karenanya, lalu bergembira ria, dan saling memberikan hadiah antar sesamanya; sebab kedua nabi ini sudah menyiksa rnereka yang berdiam di atas bumi itu. Dan sesudah tiga setengah hari Roh Kehidupan dari Allah memasuki mereka, maka berdirilah mereka pada kaki-kakinya; maka datanglah ketakutan yang amat sangat ke atas orang-orang yang melihat kedua mereka itu.”
Tak perlu lagi saya membicarakan dari hal ayat-ayat ini, karena saudara akan menemui penjelasannya secara terperinci dalam Buku Kecil Traktat No. 2, Paradoks Besar, halaman 45 – 46.
Wahyu 11 : 12, 13:
“Maka orang-orang itu mendengar suatu suara besar dari langit yang mengatakan kepada keduanya itu, ‘Naiklah kemari!’ Maka naiklah keduanya ke langit di dalam sebuah awan; maka segala musuhnya memandang akan keduanya. Dan pada jam yang sama itu juga terjadilah suatu gempa bumi besar, maka sepersepuluh dari pada negeri itu roboh, dan dalam gempa bumi itu telah terbunuh tujuh ribu orang: maka mereka yang lagi tinggal itu ketakutanlah amat sangat, Ialu memuliakan Allah yang di sorga.”
Alkitab menunjukkan, bahwa hanya ada sebuah lubang yang tak terduga dalamnya yang terbuka, yaitu lubang dari mana belalang-belalang keluar (Wahyu 9 : 2), dan adalah Bintang surga itulah yang telah membuka Iubang itu untuk membiarkan keluar semua orang tawanannya, — belalang-belalang itu yang akan menyakiti hanya orang-orang yang tidak memiliki meterai Allah pada dahinya. Oleh karena belalang-belalang itu mampu mengenali siapa-siapa yang memiliki dan juga siapa-siapa yang tidak memiliki meterai Allah itu pada dahi-dahi mereka, dan oleh karena mereka sendiri adalah teman-teman dari umat Allah yang termeterai itu, maka jelaslah kebenaran itu: Bintang yang membebaskan mereka keluar dari lubang itu adalah Kristus, dan belalang-belalang itu adalah orang-orang Kristen, yaitu umat yang telah diselamatkan dari faham ajaran Yahudi yang nyeleweng itu.
Lagi puIa, dari kenyataan, bahwa Malaikat dari Wahyu 20 : 1 (musuh Setan yang terbesar), adalah Dia Yang memiliki kunci dari Iubang yang tak terduga dalamnya itu, maka itu menunjukkan, bahwa Malaikat dari Wahyu 20 : 1 dan Bintang dari Wahyu 9 : 1 itu adalah s a m a, karena Dia kepada siapa kunci itu diberikan adalah Satu-satuNya yang dapat memilikinya.
Sekarang bolehlah kita bertanya siapakah binatang yang berasal dari lubang yang tak terduga dalamnya itu? Jika Bintang yang turun dari surga dan yang telah membuka lubang itu adalah Kristus, dan jika belalang-belalang yang keluar dari lubang itu adalah orang-orang Kristen, maka tak dapat dipungkiri lagi, bahwa kesimpuIannya ialah binatang yang keluar dari lubang yang tak terduga dalamnya itu adalah melambangkan dunia Kristen. Demikian ituIah, bahwa Tuhan telah disalibkan di sana.
Sekarang, oleh karena kota itu secara rohaniah disebut Mesir, maka itu menunjukkan, bahwa kota itulah yang memperbudakkan umat Allah. Nama dari Sodom menunjukkan, bahwa umat Allah yang sebenarnya kelak akan diselamatkan dari padanya seperti akan halnya Lot.
SepersepuIuh bagian dari kota itu harus melambangkan bagian milik Tuhan, yaitu perpuluhan, begituIah disebut. Oleh karena itu gempa bumi melambangkan suatu kegoncangan di dalam sidang Tuhan Allah. Umat yang sisa yang memuIiakan Allah itu, hanya dapat merupakan orang-orang yang setia yang luput dari pada kegoncangan itu. Demikian inilah Sidang disucikan. Olehnya itu gempa bumi ini adalah melambangkan pembunuhan besar-besaran yang disebut pada Yeheskiel pasal 9, dan tepat peristiwa ini juga yang disebut pada Jesaya 66 : 16.
Lagi pula, kenyataannya, bahwa Rahasia Allah akan genap apabila malaikat yang ketujuh itu mulai meniupkan terompetnya, dan juga kenyataannya, bahwa kegoncangan yang ditunjukkan di sini akan jadi selama bunyi terompet yang keenam, maka Kebenaran ini membuktikan, bahwa kegoncangan itu jadi sebelum pekerjaan Injil selesai. Roh Nubuat di dalam sejarah kita juga meramalkan kegoncangan ini sebagai berikut:
“Saya menanyakan arti dari pada kegoncangan yang telah saya lihat itu, maka ditunjukkan kepada saya, bahwa itu akan disebabkan oleh kesaksian yang tegas yang datang dari nasehat Saksi Yang Setiawan itu kepada orang-orang Laodikea. Ini akan membawakan efeknya pada hati orang yang menerimanya, dan akan memimpinnya untuk menjunjung tinggi standar dan menyampaikan kebenaran yang tegas. Beberapa orang tidak akan tahan terhadap kesaksian yang tegas ini. Mereka akan bangkit berdiri menentangnya, maka inilah yang akan menyebabkan suatu kegoncangan di antara umat Allah.” — Early Writings, p. 270.
Wahyu 11 : 14 – 19:
“Adapun bela yang kedua itu sudah berlalu; maka tengoklah, bela yang ketiga itu datang dengan segeranya.
Maka malaikat yang ketujuh itu pun meniup terompetnya, lalu kedengaranlah beberapa suara besar di surga mengatakan: Kerajaan-kerajaan dunia ini menjadi kerajaan-kerajaan Tuhan kita, dan kerajaan-kerajaan KristusNya, maka Ia akan memerintah selama-lamanya.
Lalu kedua puluh empat ketua yang duduk di kursi-kursinya di hadapan hadirat Allah itu bersujud menyembah Allah, sambil berkata, Kami ucapkan syukur kepadaMu, ya Allah, Tuhan yang Maha Kuasa, Yang ada, Yang sudah sedianya ada, dan Yang akan datang, sebab Engkau telah mengambil bagi diriMu kekuasaanMu yang Besar itu, dan telah memerintah. Dan segala bangsa telah naik amarahnya, dan telah sampailah murkaMu, dan telah tiba masa segala orang mati itu, agar supaya mereka itu diadili, dan supaya Engkau memberikan pahala kepada semua hambaMu segala nabi-nabi itu, dan kepada semua orang suci, dan kepada mereka yang takut akan namaMu, baik besar maupun kecil, dan supaya Engkau membinasakan orang-orang yang membinasakan bumi.
Maka terbukalah Rumah Allah yang di dalam surga, maka terlihat di sana di dalam KaabahNya itu tabut perjanjianNya itu: maka jadilah beberapa kilat, dan beberapa suara, dan beberapa guntur, dan suatu gempa bumi, dan hujan batu yang lebat.”
Jika Saudara ingin mempelajari pasal sebelas dari buku Wahyu ini secara mendetail, maka bacalah buku kecil yang berjudul “Kepada Tujuh Sidang”.
215 total, 1 views today


