Kekalahan tiga rangkap dari setan mendatangkan masa kesusahan besar yang sedemikian itu belum pernah ada
<< Go Back


KEKALAHAN TIGA RANGKAP DARI
SETAN MENDATANGKAN MASA
KESUSAHAN BESAR YANG SEDEMIKIAN
ITU BELUM PERNAH ADA

Oleh:
Victor T. Houteff
Pendeta dari Persekutuan Davidian Masehi Advent
Hari Ketujuh
Sabat, 29 November 1947
Gereja Mount Carmel, Waco, Texas
Amerika Serikat

 

 

Pokok pembicaraan kita pada sore hari ini terdapat dalam Wahyu pasal 12, dan digambarkan pada bagan yang dibawah ini.
 

 

Wahyu 12 : 1 – 6:
“Maka kelihatanlah di Iangit suatu keajaiban besar, yaitu seorang perempuan berpakaian matahari, dan bulan berada di bawah kakinya, dan di kepalanya bermahkotakan sebuah mahkota dengan dua belas bintang. Adalah ia itu mengandung dan berteriak sebab sakit dan sengsara hendak melahirkan. Maka kelihatan pula sebuah keajaiban yang lain di Iangit, yaitu ada seekor naga besar yang merah menyala, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh dan di atas kepala-kepalanya bermahkota tujuh. Dan ekornya menyeret sepertiga dari pada segala bintang di langit, Ialu dicampakkannya ke bumi; maka berdirilah naga itu di hadapan perempuan yang sedang hendak melahirkan itu, supaya apabila ia sudah melahirkan, naga itu dapat menelan anaknya itu. Maka ia memperanakkan seorang bayi Iaki-laki yang akan memerintah segala bangsa dengan tongkat besi; maka anaknya itu pun disambar dibawa kepada Allah dan kepada tahta-Nya. Maka perempuan itu melarikan diri ke padang belantara, disana ada suatu tempat disediakan Allah baginya supaya dipeliharakan orang akan dia di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.”

Saya yakin kita semua setuju, bahwa perempuan dari Wahyu 12 ini adalah melambangkan Sidang; bahwa naga itu adalah melambangkan Setan; dan bahwa anak kecil itu melambangkan Kristus. Tetapi karena sama halnya kita mungkin tidak sepaham mengenai apakah perempuan itu meIambangkan sidang Wasiat Lama atau sidang Wasiat Baru ataupun kedua-duanya, maka adalah penting agar kita mempelajari untuk membuktikannya.

Sekarang, dengan sendirinya pertanyaan-pertanyaan akan timbuI; jika Kristus melahirkan sidang Kristen, maka bagaimanakah mungkin perempuan itu adalah ibuNya? Dan bukankah Kristus lahir sedikit-dikitnya tiga puluh tahun sebelum sidang Kristen muncul berdiri? Bukankah telur lebih dulu keluar sebeIum ayam ditetaskan? Dan akhirnya, bukankah benar bahwa jika kita terus keIiru dengan sesuatu pegangan yang salah, maka kita akan menemukan diri kita makin hari makin jauh dari kebenaran mengenai pokok masalah ini? Tentu saja. Jadi, marilah kita mencari Iandasan yang pasti di atas mana kita akan membangun.

Kita semua mengetahui, bahwa Kristus telah lahir, bukan bagi sidang Kristen, melainkan bagi sidang Yahudi. Demikianlah halnya, maka bagaimanakah dapat kita menghindari diri dari kebenaran, bahwa perempuan bermahkota yang berisikan dua belas bintang ini terutama adalah sidang Yahudi yang gelisah kesakitan lalu melahirkan “Juruselamat dunia” dalam periode sejarah Wasiat Lama?

Lagi pula, sebelum anak itu lahir dan sebelum lnjil Kristus datang kepada Sidang, perempuan itu sudah bersalutkan matahari dan bulan berada di bawah kakinya. Oleh karena itu tidak dapat dimaafkan sedikit pun bagi siapa pun untuk menyimpulkan, bahwa perempuan itu adalah melambangkan Sidang yang bersalutkan lnjil Kristus. Dan jika sekiranya matahari pakaiannya itu bukan melambangkan lnjil Kristus, maka apakah yang dilambangkannya?

Oleh karena perempuan itu sudah berpakaian matahari sebelum Kristus lahir, dan sebelum lnjil datang, maka pakaian mataharinya itu tak dapat tiada harus melambangkan Alkitab, Firman Allah yang menyelubunginya dalam periode sejarah nabi-nabi.

Apakah yang dilambangkan oleh bulan di bawah kakinya itu? Dari kenyataan bahwa bulan dari segala langit memantulkan cahaya yang berasal dari matahari kepada bumi, maka sebab itu bulan simbolis itu yang berada di bawah kaki perempuan itu, dan matahari bercahaya langsung menyinarinya, bukan oleh pantulan melalui bulan, menunjukkan bahwa saluran pembawa terangnya itu, yaitu bulan, sedang berlalu, tidak diperlukan lagi, sehingga matahari sendiri sebagai sumber cahayanya bersinar langsung ke atasnya menyelubunginya dengan cahaya-cahayanya yang cerah. Apa lagi yang dapat dilambangkan oleh bulan kalau bukan masa periode sejarah sebelum Alkitab muncul, yaitu masa sejarah sebelum Musa di mana Firman Allah tidak menyinari langsung atas umat seperti halnya di waktu ini (sebab mereka belum memiliki Alkitab di waktu itu), melainkan telah dipantulkan kepada mereka itu oleh hamba-hamba Allah sebagai perantara, artinya para nabi sebelum Musa tidak pernah menuliskan pekabaran-pekabaran dari Allah melainkan meneruskannya secara lisan saja.

Walaupun perempuan bermahkota yang berisikan dua belas bintang ini melambangkan sesuatu dalam sejarah Wasiat Lama seperti yang kita saksikan, namun bagaimana pun ia terlihat juga melambangkan sesuatu di dalam sejarah Wasiat Baru. Ini dapat kita saksikan dari kenyataan, bahwa sesudah anak kecil itu lahir dan sesudah sidang Kristen datang kepada perempuan itu dikaruniakan sayap-sayap dari burung garuda, lalu dengan demikian memungkinkannya untuk terbang ke dalam padang belantara, untuk di sana ia dipeliharakan orang “selama satu masa, dua masa, dan setengah rnasa.” Lagi pula ditinggalkannya kebun anggurnya itu (tanah airnya — Palestina) lalu pergi ke dalam padang belantara (negeri-negeri bangsa-bangsa Kapir, karena itulah yang dilambangkan oleh padang belantara sebagai lawan kata dari kebun anggur), kembali menunjukkan, bahwa perempuan itu masih terus ada setelah anaknya lahir.

Dengan mengambil semua titik persoalan ini menjadi suatu kesatuan yang menyeluruh, maka semua itu secara positif menunjukkan, bahwa perempuan itu adalah melambangkan Sidang Allah yang kekal bagi segala zaman, dan bahwa ia adalah penyimpan KebenaranNya, yaitu istriNya yang sejati, Kebenaran yang telah melahirkan Kristus dan yang telah melahirkan semua “saudara-saudaraNya” (semua pengikutNya), “yang sisa dari benih perempuan itu.” Ayat 17.

Pada waktu dijanjikan tentang akan datangnya Juruselamat, maka pada waktu itulah Naga itu mengetahui, bahwa Sidang akan melahirkan “seorang bayi laki-laki,” dan semenjak itu ia terus mengamat-amati perempuan itu dengan teliti dengan harapan untuk membinasakan Penebus dunia itu segera setelah kelahiranNya. Ini diusahakannya untuk dapat diselesaikan melalui Herodes pada waktu ia menyuruh membantai sejumlah besar anak-anak kecil. Anak Kristus, bagaimana pun telah meloloskan diri, maka Iblis dalam hubungan ini telah menemui kegagalannya yang pertama.

Kini Naga itu sambil diperkuat dengan tujuh kepala dan sepuluh tanduk, menunjukkan bahwa ia menguasai semua penguasa sipil maupun agama pada hari itu (karena lambang dari angka “sepuluh” menunjukkan universal, sama seperti halnya yang dilambangkan oleh sepuluh jari kaki dari Daniel pasal 2, sepuluh tanduk dari binatang-binatang Alkitab lainnya, dan sepuluh anak dara dari Matius pasal 25).

Tanduk-tanduk melambangkan semua penguasa sipil, sementara kepala-kepala melambangkan semua penguasa agama, karena angka Alkitab “tujuh” menunjukkan kelengkapan. Lagi pula, dari kenyataan bahwa Sidang (orang-orang Yahudi), satu-satunya perantara melalui siapa Allah bekerja sampai kepada masa itu, telah menyalibkan Tuhan, maka cukup terbukti dengan sendirinya, bahwa Sidang sudah murtad, bahwa ia telah menjadi kepala yang ketujuh dari tubuh Naga itu, dan bahwa demikianlah Naga itu telah dipersenjatai dengan sepuluh tanduk dan tujuh kepala, — dengan semua penguasa sipil maupun agama. Dan begitulah sebagai anda saksikan, maka Naga dengan tanduk-tanduknya dan kepala-kepalanya itu melambangkan dunia yang telah ditaklukkan oleh Iblis.
 
Demikianlah, bahwa dunia telah hilang pada hari itu, dan demikianlah bahwa Kristus telah datang untuk menyelamatkannya. Untuk melaksanakan semuanya ini Ia telah memulaikan sebuah organisasi sidang yang baru. Dalam terang inilah kita melihat Kristus, Juruselamat dunia, dan missi-Nya menjadi makin lebih penting dari pada yang pernah kita melihatnya sebelumnya.

Terseretnya dari langit sepertiga bagian dari segala bintang oleh Naga itu (bintang-bintang = malaikat-malaikat, ayat 9) dengan ekornya, bukan dengan gigi-giginya, menunjukkan, bahwa pada permulaan pemberontakan umum Setan malaikat-malaikat itu dengan suka rela telah mengikuti pemimpin pemberontak itu lalu menggabungkan diri dengannya dalam pekerjaan jahatnya melawan keluarga manusia.

Wahyu 12 : 7 – 17:
“Maka jadilah peperangan di dalam sorga, Mikhail berikut segala malaikatNya berperang melawan Naga itu, dan Naga berikut semua maIaikatnya berperanglah, maka Naga dan malaikat-malaikatnya itu tiada menang dan tempat mereka pun sudah hilang di surga. Maka tercampaklah Naga besar itu, yaitu ular tua, yang dinamakan Iblis dan Setan, yang telah menyesatkan seIuruh isi dunia; ia teIah tercampak ke bumi, dan segala malaikatnya pun sudah tercampak beserta dengan dia. Maka aku dengar suatu suara besar mengatakan di dalam surga bunyinya: Sekarang sampailah keseIamatan dan kodrat dan kerajaan Allah kita, dan kuasa dari KristusNya, karena sudah tercampak ke bawah Penuduh semua saudara kita itu, yang telah menuduh mereka itu di hadapan hadirat Allah baik siang baik malam. Sekalian mereka itu sudah mengalahkan dia oleh darah Anak Domba dan oleh perkataan kesaksian mereka; maka mereka itu tiada menyayangi nyawanya walaupun sampai mati. Sebab itu bersoraklah kamu, hai segala langit, dan semua kamu yang diam di dalamnya. Celaka bagi semua penduduk bumi dan laut, sebab Iblis sudah turun kepadamu dengan besar amarahnya, sebab ia mengetahui, bahwa masanya sudah singkat. Dan pada waktu Naga itu melihat dirinya sudah tercampak ke bumi, maka ia lalu menganiaya perempuan itu yang teIah meIahirkan anak laki-laki. Maka dikaruniakanlah kepada perempuan itu kedua sayap burung garuda yang besar supaya ia dapat terbang ke dalam padang belantara, yaitu ke tempatnya, di sana ia akan dipeliharakan orang seIama satu masa, dua masa dan setengah masa jauh dari mata ular itu. Maka ular itu menyemburkan air dari dalam mulutnya seperti banjir mengikuti perempuan itu dari belakang, supaya ia dapat dihanyutkan oleh banjir air ular itu. Tetapi bumi telah menolong perempuan itu dengan mengangakan mulutnya lalu menelan air banjir yang telah disemburkan dari mulut Naga itu. Maka naiklah amarah Naga itu akan perempuan itu, lalu pergi memerangi yang lagi tinggal dari pada benih perempuan itu, yaitu mereka yang memeliharakan perintah-perintah Allah, dan yang memiliki kesaksian Yesus Kristus.”

Titik masalah penting yang harus dicatat dari ayat-ayat ini iaIah, bahwa setelah Naga itu dan malaikat-malaikatnya terbuang keluar dari Surga (kekalahan Setan yang kedua), dan sesudah ia menganiaya Sidang, dan perempuan itu melarikan diri ke dalam padang belantara, maka naga itu telah menyusulnya ke sana, tetapi bukannya ia menganiaya perempuan itu di sana, melainkan ia bahkan menyemburkan “air yang bagaikan banjir mengikuti perempuan itu dari belakangnya,” sambil berharap untuk membuat perempuan itu hanyut terbawa air semburan itu. Dengan kata lain, sesudah ia menyaksikan bahwa ia tak mungkin dapat menghentikan pertumbuhan Sidang Kristen dengan cara menganiayakan para pengikutnya, maka ia merubah siasatnya dan sebagai gantinya ia mendorong orang-orang Kapir untuk menggabungkan diri dengan perempuan itu, dengan begitu ia mengharap untuk mengkapirkan perempuan itu — “menghanyutkan dia.”

Sungguhpun demikian, Naga itu kembali gagal mencapai tujuannya, karena bumi akan membukakan mulutnya dan menelan air banjir itu; artinya, Ilham secara meyakinkan meramalkan, bahwa orang-orang yang menggabungkan diri dengan Sidang untuk maksud-maksud tertentu yang lain dari pada mengikuti dan mempraktikan Kebenaran akan kelak dibuang keluar dengan cara ajaib, yaitu seolah-olah ditelan oleh bumi. Maka apabila peristiwa ini jadi Setan akan kelak menemui kekalahannya yang ketiga kalinya. Kesimpulannya, di sinilah ketiga kekalahannya itu sebagai berikut:

No. 1: Kegagalannya untuk menelan anak kecil itu; No. 2: Kekalahannya dalam peperangan di dalam surga; No. 3: Kegagalannya untuk mengkapirkan Sidang dengan cara membanjiri perempuan itu dengan orang-orang yang tidak bertobat.

Bilamana ia menemui kekalahannya yang ketiga, apabila semua lalang yang ditaburnya itu terbakar (karena sebagai banjir mereka itu akan ditelan oleh bumi, tetapi sebagai lalang mereka akan dibakar oleh malaikat-malaikat), kemudian ialah, bahwa Sidang akan muncul “Indah bagaikan bulan, cerah bagaikan matahari, dan hebat bagaikan suatu bala tentara dengan panji-panjinya,” ia akan maju terus ke seluruh dunia dengan kemenangan dan untuk memenangkan lagi.” Prophets and Kings, p. 725.

Setelah menemui kekalahan besar yang sedemikian, dan setelah melihat bahwa Sidang telah bebas dari air banjir semburannya, maka murka Naga itu akan makin hebat meningkat. Ia akan naik amarahnya terhadap perempuan itu lalu “memerangi mereka yang lagi tinggal dari benih perempuan itu, yaitu mereka yang memeliharakan perintah-perintah Allah dan yang memiliki kesaksian Yesus Kristus” (ayat 17), yaitu “R o h  N u b u – a t” (Wahyu 19 : 10).

Jelaslah, bahwa mereka yang lagi tinggal itu adalah orang-orang yang tertinggal sesudah bumi mengangakan mulutnya dan menelan air banjir itu. Mereka sebagai sebuah badan memeliharakan perintah-perintah Allah, dan memiliki Roh Nubuat yang hidup, yaitu Roh yang mengucapkan Alkitab, yang telah menghantarkan umat Allah ke dalam segala Kebenaran sepanjang segala zaman, dan yang masih tetap ada. Demikianlah, bahwa murka Naga itu dan kesucian Sidang, yang disebabkan oleh kekalahan Naga itu yang ketiga kalinya, akan mendatangkan masa kesusahan besar yang sedemikian itu belum pernah ada:

“Maka pada masa itu akan bangkit berdiri Mikhail, penghulu besar itu yang akan berdiri membela semua bani bangsamu; maka akan ada suatu masa kesukaran besar yang sedemikian itu belum pernah ada semenjak berdirinya sesuatu bangsa sampai kepada masa itu; maka pada masa itu bangsamu akan dilepaskan, yaitu setiap orang yang akan didapati namanya tercatat di dalam buku.” Daniel 12 : 1.

Tidak ada apapun di dalam dunia ini yang lebih berharga dari pada memiliki nama kita tertulis di dalam buku itu. Maka di sanalah kita boleh memiliki nama kita tertulis di dalamnya jika kita memilih untuk mengikuti Roh Kebenaran itu dan memeliharakan perintah-perintah Allah. Di sinilah kita saksikan, bahwa orang-orang yang menyangka, bahwa hukum, sepuluh perintah itu, telah “dihapus,” bahwa kehidupan mereka tidak memerlukan penghiburan dari hukum itu; dan orang-orang yang menyangka, bahwa Roh Nubuat adalah sesuatu perkara dari masa silam, bahwa Allah telah membiarkan dunia ini mengikuti apa saja yang terbaik yang dapat diikutinya, bahwa Ia tidak mau lagi merepotkan diriNya untuk mengirimkan seorang nabi; bahwa semua orang yang sedemikian itu akan kelak mendapatkan diri mereka bergabung dengan Babil yang Besar itu, yaitu tempat duduknya Naga itu, maka gantinya memiliki nama mereka tertulis di dalam Buku, mereka akan memiliki tanda alamat dari binatang itu, lalu mengambil bagian dalam melaksanakan aniaya terhadap umat yang sisa yang memeliharakan perintah-perintah Allah, dan memiliki kesaksian Yesus Kristus.

Sekaranglah waktunya bagi semua orang untuk mengambil keputusan apakah untuk ditelan oleh bumi — dicampakkan ke dalam api, atau supaya dilepaskan oleh Mikhail, Penghulu Besar kita itu.

Sebab itu marilah kita memilih kelepasan dan bukan kekalahan. “Kasihilah olehmu akan Tuhan, hai segala orang salehNya; karena Tuhan memeliharakan segala orang yang percaya, dan dibalasNya dengan kelimpahan akan segala orang yang berlaku dengan sombong.” Mazmur 31 : 23.
 

*****

 

 

 231 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart