<< Go Back
ORANG-ORANG LAODIKEA
BINASA TANPA “PEKABARAN
KEPADA ORANG-ORANG
LAODIKEA”
Oleh:
Victor T. Houteff
Pendeta dari Persekutuan Davidian Masehi Advent
Hari Ketujuh
Sabat, 27 Desember 1947
Gereja Mount Carmel, Waco, Texas
Amerika Serikat
Wahyu 3 : 15 – 17:
“Aku tahu segala perbuatanmu, bahwa engkau adalah sejuk tidak hangat pun tidak. Aku suka jikalau engkau sejuk atau hangat. Oleh sebab engkau begitu suam, dan hangatpun tidak sejukpun tidak, maka Aku hendak meludahkan engkau dari dalam mulutKu. Sebab katamu, aku kaya dan sudahlah bertambah segala kekayaanku, dan tidak lagi memerlukan apapun, padahal tiada engkau mengetahui, bahwa engkaulah orang malang, dan yang tiada terkasihan, dan miskin, dan buta dan bertelanjang.”
“Betapa besarnya kesesatan dapat datang pada pikiran manusia dari pada suatu keyakinan, bahwa mereka adalah benar, sementara mereka semuanya adalah keliru! Pekabaran dari Saksi Yang Setiawan menemukan umat Allah dalam suatu kesesatan yang menyedihkan, namun jujur di dalam kesesatan itu. Mereka tidak mengetahui, bahwa keadaan mereka adalah sangat menyedihkan di hadapan pemandangan Allah. Sementara orang-orang yang ditujukan ini memuji-muji dirinya, bahwa mereka berada dalam kondisi kerohanian yang tinggi, maka pekabaran dari Saksi Yang Setiawan itu memecahkan ketenangan mereka dengan tuduhan yang mengejutkan mengenai kondisi mereka yang sesungguhnya, yaitu buta rohani, miskin, dan menyedihkan. Kesaksian yang begitu tajam dan berat, tidak mungkin keliru, sebab adalah Saksi Yang Setiawan itu sendiri yang mengucapkannya, maka kesaksian-Nya itu pastilah benar.” — Testimonies, vol. 3, pp. 252 – 253.
Bilamana orang dalam keadaan malang, sengsara, miskin, buta, dan telanjang seperti halnya orang-orang Laodikea, lalu tidak menyadarinya, maka satu-satunya gelar yang dapat diberikan kepada mereka ialah ‘Sesat’, tetapi secara bertentangan sekali orang-orang Laodikea adalah orang-orang yang sangat takut terhadap kesesatan. Mereka menyangka dirinya tidak berkekurangan apa-apa lagi, walaupun Tuhan sendiri mengatakan, bahwa mereka adalah kekurangan dalam segala perkara. Mereka menyangkakan dirinya kaya dan telah bertambah-tambah kekayaannya. Kekayaan-kekayaan apakah ini? Saya yakin bukanlah uang, karena langsung saja kita mendengar mereka berteriak-teriak meminta uang, bahkan memohon-mohon untuk mendapatkannya.
Adalah dengan Kebenaran Alkitab yang diperkirakan cukup, sehingga mereka telah merasa puas. Mereka yakin, bahwa mereka telah memiliki semua Kebenaran yang telah dibuka yang mereka perlukan untuk membawa mereka langsung sampai ke Kerajaan itu. Inilah kesesatan mereka yang besar. Mereka tidak mengetahui kebutuhan mereka yang besar terhadap Kebenaran pada waktu ini sementara Sidang sedang akan memasuki fase terakhir tugas pekerjaannya. Mereka tidak menyadari, bahwa fase tugas pekerjaan Sidang yang selanjutnya ini tidak akan dapat diteruskan dengan fase Kebenarannya yang lama itu. Sidang pada waktu ini tidak lagi dapat berbuat tanpa pekabaran tambahan (Early Writings, p. 277) dari pada yang dapat ia lakukan pada penutupan sejarah Wasiat Lama memasuki sejarah Kristen dengan Kebenaran upacara bayang-bayangan Wasiat Lama yang dipisahkan dari Injil itu.
Tetapi, sedih untuk mengatakan, untuk berbicara kepada orang-orang Laodikea mengenai lebih banyak lagi kebenaran dari pada apa yang sudah mereka miliki ialah menimbulkan kejengkelan mereka yang terbesar; dan pendapat, bahwa mereka tidak lagi memerlukan Kebenaran, bahwa mereka memiliki semuanya itu, dan bahwa seseorang akan selalu mencoba menyesatkan mereka telah ditanamkan ke dalam diri mereka sedalam-dalamnya. Inilah yang telah membuat mereka ragu-ragu dan curiga terhadap setiap orang yang berani mendekati mereka dengan membawakan sesuatu yang baru. Inilah yang menjerumuskan mereka ke dalam suatu kedudukan yang sama jeleknya dengan kedudukan umat Yahudi di masa Ialu. Jelaslah halnya, bahwa jika orang-orang Laodikea itu memilih yang sedemikian untuk tetap tinggal suam, tetap puas di dalam kesesatan mereka, maka mereka kelak akan diIudahkan keluar dan untuk selama-Iamanya akan ditinggalkan tanpa harapan.
Wahyu 3 : 18:
“Aku nasehatkan kepadamu untuk membeli kepadaKu emas yang sudah teruji dengan api supaya engkau kaya; dan pakaian putih supaya engkau berkain, dan supaya jangan kelihatan malu keadaanmu yang bertelanjang; dan supaya meminyaki matamu dengan salp mata agar supaya kamu dapat melihat.” (Terjemahan yang lebih tepat).
Emas yang sudah teruji dalam api itu ternyata melambangkan Kebenaran yang diilhami bagi masa kini, yaitu satu-satunya kebenaran yang menyelamatkan, satu-satunya yang Allah hendak jual. Dan apakah yang diumpamakan dengan pakaian putih itu yang telah dianjurkan oleh Saksi Yang Setiawan kepada mereka untuk dibeli, kalau bukan kebenaran Kristus?
Dan apakah yang harus diperbuat seseorang untuk dapat memperoleh semuanya ini? Kita akan mendapatkan jawabannya di dalam:
Mikah 6 : 5:
“Hai umatKu! Ingatlah sekarang akan barang yang ditanyakan oleh Balak raja Moab itu, dan akan barang yang disahut kepadanya oleh Bileam bin Beor dari hal segala perkara yang jadi dari Sitim sampai ke Gilgal, supaya diketahui olehmu akan segala kebenaran Tuhan.”
Di sini kita dinasehatkan untuk mengenangkan pertanyaan Balak dan jawaban Bileam jika kita mau mengetahui kebenaran Tuhan. Marilah kita kembali kepada,
Bilangan 24 : 17 – 24:
“Bahwa aku akan melihat Dia, tetapi bukan sekarang, aku akan memandang Dia, tetapi tidak dekat, maka akan datang sebuah Bintang dari dalam Jakub, dan sebuah Tongkat Kerajaan akan keluar dari dalam Israel, dan akan dipalunya segala penjuru Moab, dan akan dibinasakannya segala anak Sheth. Maka Edom akan menjadi sebuah milik pusaka, Seir pun akan menjadi milik pusaka bagi musuh-musuhnya; maka Israel akan bertindak dengan beraninya. Dari dalam Jakub akan datang Dia yang akan memiliki kerajaan, dan akan membinasakan dia yang lagi tinggal dari negeri itu. Maka apabila ia memandang pada Amalek, diambillah olehnya perumpamaan lalu katanya, Amalek adalah yang pertama dari segala bangsa itu; tetapi nasibnya kemudian ialah, bahwa ia akan binasa untuk selama-lamanya. Lalu memandang ia pada orang-orang Keni, maka dimisalkannya dengan kata-kata, Teguh kedudukanmu, dan sudah kamu membuatkan sarangmu di atas bukit batu. Tetapi bagaimanapun juga orang-orang Keni itu akan dihabiskan, sehingga bangsa Assyur akan membawa kamu pergi dengan tertawan. LaIu diambilnya perumpamaan sambil mengatakan, Celaka, siapa gerangan yang dapat hidup apabiIa Allah melakukan semuanya ini! Maka kapal-kapal akan datang dari pantai Chitim, dan akan mengganggu menyusahkan Asshur, dan akan mengganggu menyusahkan Eber, dan ia pun akan binasa untuk selama-Iamanya.”
Jelaslah, bahwa ini adalah suatu nubuatan tentang Kristus yang akan ‘memegang pemerintahan di dalam tanganNya’. Testimonies to Ministers, p. 300. Demikian inilah kebenaranNya yang kepada kita dianjurkan untuk mengetahui. Berbicara secara tegas, maka dengan mengetahui kebenaran Kristus ialah mengetahui dengan sebulat hati, bahwa pada hari-hari kemudian Ia akan memegang Tongkat Kerajaan, sehingga Ia akan memerintah; bahwa pada permulaannya Ia akan memalu ‘segala penjuru Moab, dan membinasakan semua anak Sheth’; bahwa Edom dan Seir akan menjadi suatu milik pusaka bagi semua musuhNya; bahwa Israel akan berlaku dengan beraninya; bahwa Ia akan memiliki kekuasaanNya, dan seterusnya. Sesuai dengan firman Allah, maka inilah kebenaran Kristus jika kita mengetahuinya. Maka barangsiapa yang menyadari, bahwa pemerintahan Kristus dan kerajaanNya itu bukanlah sesuatu yang tak dapat dijangkau, bukanlah sesuatu yang secara khayal mengapung di dalam angkasa, bagaikan misalnya melewati neraka, melainkan sesuatu yang nyata seperti kenyataannya kerajaan-kerajaan pada waktu ini, maka mereka akan segera bertanya seperti halnya rasul Paulus, ‘Apakah yang patut saya lakukan Tuhan?’ Ini akan sekali lagi kita saksikan dari nubuatan Mikah:
Mikah 6 : 6, 7:
“Dengan apa boleh aku menghadap Tuhan dan menyembah sujud di hadapan Allah yang Maha Tinggi? Bolehkah aku datang ke hadiratNya dengan korban bakaran, dengan lembu muda yang setahun umurnya? Dapatkah Tuhan berkenan oleh domba jantan yang beribu-ribu, atau dengan berpuluh ribu sungai dari pada minyak wangi? Perlukah aku mempersembahkan anak sulungku untuk semua pelanggaranku, atau buah perutku karena dosa jiwaku?”
Pertanyaan seperti ini dari orang-orang oleh adanya pembukaan firman ini menunjukkan apa yang dipikirkan mereka yang terbaik agar berkenan bagi Tuhan. Mereka menyangka sesuatu pemberian yang berupa benda-benda materi mungkin merupakan pemberian yang sangat dapat diterima yang dapat ditawarkannya bagi penebusan dosa-dosa mereka. Kita dengan mata kepala sendiri menyaksikan semua perkara ini di dalam seluruh gereja-gereja kita. Keadaan yang sama ini ditemukan di hari-hari kedatangan Kristus yang pertama dahulu. Orang-orang Yahudi sangat teliti dari hal membayar perpuluhan sampai kepada yang sekecil-kecilnya daripada penghasilan mereka, seperti misalnya daun selasih, adas manis dan jintan, tetapi mereka lalaikan ‘hal-hal yang terpenting dari pada Torat, keadilan, kemurahan dan iman.’ Matius 23 : 23. Membayar perpuluhan dengan jujur adalah kewajiban mereka, demikianlah firman Tuhan, tetapi pembayaran perpuluhan hendaknya tidak menggantikan keadilan, kemurahan, dan iman. Jawaban yang sama ini pun datang kepada kita pada hari ini melalui nabi Mikah:
Mikah 6 : 8:
“Bahwa sudah diberitahu kepadamu, hai manusia, mana yang baik maka apa gerangan yang dituntut Tuhan dari padamu, terkecuali berbuat benar, dan menyintai kemurahan, dan berjalan dengan rendah hati bersama dengan Allahmu.”
Sekali memperoleh gambaran dari hal keperluan utama bagi pembangunan dan reformasi, maka umat Allah akan terus rela untuk melakukan apa saja, bahkan walaupun sampai kepada mengorbankan anak sulung mereka.
Bagi penjelasan selanjutnya Ilham menasehatkan:
Mikah 6 : 9:
“….Dengarkanlah olehmu akan cemeti, serta Dia yang telah menentukannya.”
Inilah jawaban-jawaban Tuhan terhadap pertanyaan, “Dengan apakah boleh aku menghadap ke hadirat Tuhan, dan menyembah sujud di hadirat Allah yang Maha Tinggi?”
Oleh karena kita diminta untuk melakukan ‘yang benar, dan untuk mencintai kemurahan, dan untuk berjalan dengan rendah hati bersama Allah kita,’ maka ini berarti, bahwa kita sebagai umat sedang tidak mempraktikkan segala perkara ini, bahwa terdapat ketidakjujuran, tidak ada kemurahan, dan kesombongan. Namun demikian kita bersyukur, bahwa kita masih mempunyai harapan untuk tidak dihukum begitu saja untuk semua kejahatan kita, melainkan kita diundang untuk melepaskan semua itu, jika kita mau berdiri di atas Gunung Zion bersama-sama dengan Anak Domba itu.
Oleh perantaraan nabi JeheskieI kita ditunjukkan di mana kita telah menyalahgunakan karunia kemurahan dan keadilan itu:
Yeheskiel 34 : 21, 22, 31:
“Sebab sudah kamu tusuk dengan siku dan bahumu, dan sudah kamu dorong semua yang sakit-sakit itu dengan tandukmu, sehingga sudah kamu mencerai-beraikan mereka itu keIuar; maka oleh karena itu Aku hendak menyeIamatkan kawanan dombaKu, maka tidak lagi mereka itu akan menjadi mangsa; maka Aku akan mengadili antara domba dengan domba. Maka kamu kawanan dombaku, kawanan domba dari padang rumputKu, yaitu orang-orang, dan Akulah Allahmu, demikianIah firman Tuhan Allah.”
Mereka yang sakit-sakit, yang lemah, tentunya adalah orang-orang yang kurang berpengaruh luas, maka untuk satu dan lain hal tak mungkin untuk berpegang sendiri. Mereka ini ditusuk dan ditanduk oleh yang kuat-kuat, yaitu keIas orang-orang yang tidak adiI, yang tidak memiliki kemurahan, yaitu kelas orang-orang yang menguasai pekerjaan itu. Bagaimana pun juga keIas inilah yang kelak akan diadili.
Hanya terdapat satu jalan yang aman untuk diikuti jika kita ingin memperoleh restu Tuhan, maka jalan itu dilukiskan oleh nabi Yesaya berikut ini:
Yesaya 7 : 21, 22:
“Maka akan jadi pada hari itu, bahwa seseorang akan memelihara seekor lembu muda, dan dua ekor domba; maka akan jadi kelak, bahwa karena berkelimpahan susu yang akan dihasiIkannya, sehingga ia akan memakan keju; karena keju dan air madu akan dimakan oleh setiap orang yang masih tertinggal di dalam negeri itu.”
Bayangkan seekor lembu dan dua ekor domba memberikan hasil keju dan air madu kepada semua orang yang masih tertinggal di negeri itu. Oleh karena secara pasti tidak mungkin seekor lembu dan dua ekor domba dapat mampu melakukan semuanya ini, maka kita harus setuju, bahwa mereka itu adalah lambang dari hal sesuatu yang bukan saja mampu untuk menghasilkan kelimpahan susu, tetapi juga mampu untuk mempertahankan kehidupan dari orang-orang pelindungnya.
Hanya ada satu perkara yang terdiri dari tiga bagian yang sedemikian itu (dua ekor domba dan satu lembu muda) yang mampu mempertahankan dunia ini hidup, dan itulah Alkitab yang dibukakan oleh Roh Nubuat, yaitu Roh yang memimpin kepada segala Kebenaran. Kedua ekor domba itu, tidak berada dalam umur muda, dan kedua-duanya dari jenis yang sama, harus melambangkan Alkitab itu sendiri, baik Wasiat Lama maupun Wasiat Baru. Lembu itu karena masih muda dan ukurannya lebih besar, jelas melambangkan sesuatu yang baru muncul kemudian, dan yang lebih luas isinya dari Alkitab itu sendiri. Oleh karena itu tidak ada lagi yang lain dari pada hasil-hasil penerbitan Roh Nubuat yang hidup itu, yaitu interpretasi-interpretasi Ilham dari firman Allah.
Oleh karenanya orang-orang yang masih tertinggal di negeri itu, apabila Kristus memegang tongkat kerajaanNya dan memerintah, tak dapat tiada adalah orang-orang yang hidup oleh keju dan air madu yang hanya Alkitab dan Roh Nubuat dapat menghasilkannya. Semua orang lainnya akan binasa bersama-sama dengan orang-orang Edom dan Moab modern itu.
Dalam lambang nubuatan yang sama kepada kita ditunjukkan, bahwa Kristus sendiri mengetahui perbedaan antara benar dan salah itu oleh mempelajari firman Allah.
Yesaya 7 : 14, 15:
“Oleh karena itu Tuhan sendiri akan memberikan kepadamu suatu tanda alamat; Bahwasanya, seorang anak dara kelak akan mengandung, dan melahirkan seorang anak laki-Iaki, dan akan dipanggil namaNya, Immanuel. Keju dan air madu akan dimakanNya, sehingga dapat Ia mengetahui bagaimana menolak yang jahat dan memilih mana yang baik.”
Tak seorang pun dapat menyangkal, sebagaimana yang disebut pada penyelidikan kita minggu yang lalu, bahwa ini adalah sebuah nubuatan dari hal kedatangan Kristus yang pertama. Dan sebagaimana catatan yang kita miliki, bahwa makananNya bukanlah keju dari tempat pemeliharaan hewan dan air madu, bukanlah dibatasi seperti hal makanannya Yahya Pembaptis; juga kenyataannya, bahwa bukanlah keju dan air madu yang memiliki tenaga dorongan yang jitu terhadap setiap orang untuk memilih mana yang baik dan menolak mana yang jahat, maka semuanya itu membuktikan, bahwa ‘keju dan air madu’ adalah melambangkan firman Allah, yang Kristus sendiri telah mempelajarinya dari Kitab suci untuk memilih mana yang baik dan menolak mana yang jahat.
Di sinilah Saudara saksikan, bahwa setiap orang memerlukan persediaan keju dan air madu rohaniah setiap harinya, jika ia ingin mempertahankan kehidupan kerohaniannya, artinya, makanan kemarin tidak dapat digunakan menggantikan makanan untuk hari ini; sama halnya pekabaran ilham dari Nuh untuk masanya di masa Ialu itu tidak dapat menggantikan pekabaran ilham dari hal Kerajaan itu di waktu ini.
Hanya pekabaran kiriman surga untuk hari inilah yang dapat menyelamatkan orang di waktu ini. Inilah adil, dan nyata dan benar dan yang masuk akal, seperti juga yang akan dikatakan, bahwa orang hidup tak mungkin diadili dengan pekabaran pehukuman bagi orang mati. Ya, ‘berbahagialah hamba yang setia dan bijaksana itu, yaitu dia yang oleh Tuhannya telah diangkat menjadi kepaIa rumah tanggaNya untuk menyajikan kepada mereka makanan pada waktunya.” Matius 24 : 45, 46.
Untuk selanjutnya dapat menginsafi, bahwa kita perlu belajar supaya mengenali berbagai kekejian yang sedang mengeIiIingi kita, dan untuk mengetahui bagaimana menjauhkan diri dari pada semuanya itu, maka saya akan membacakan dari buku Testimonies To Ministers, p. 445 sebagai berikut:
“Pemeteraian hamba-hamba Allah ini (144.000 orang itu) adalah sama seperti yang ditunjukkan kepada Jeheskiel di dalam khayal. Yahya juga menyaksikan wahyu yang sangat mengejutkan ini.”
Yeheskiel 9 : 4 – 6:
“Lalu firman Tuhan kepadanya, Berjalanlah engkau di tengah-tengah negeri itu, yaitu di tengah-tengah Yerusalem, dan bubuhlah suatu tanda pada dahi segala orang yang berkeluh kesah dan menangis dari karena segala perkara keji yang diperbuat di tengah-tengahnya itu. Dan kepada mereka yang lainnya itu firmanNya, di hadapan pendengaranku, Berjalanlah kamu mengiringi dia di dalam negeri itu sambil membunuh; matamu janganlah menaruh sayang, dan janganlah kamu kasihan. Bunuhlah akan orang tua dan akan orang teruna, dan anak dara, dan anak-anak, dan perempuan sampai binasa semuanya. Tetapi janganlah kamu menghampiri kepada segala orang yang padanya ada tanda itu, dan hendaklah kamu mulai dari tempat kesucianKu. Maka mulailah mereka itu dengan segala orang bangsawan yang berada di depan rumah itu.”
Apabila hari itu makin dekat bagi kegenapan kata-kata firman ini, maka kebenarannya itulah yang merupakan ‘makanan pada waktunya’ bagi semua umat pada masa itu. Tidak ada yang lain yang boleh menggantikannya. Dan demikian itulah kita saksikan, bahwa seperti halnya kota Nineweh telah diselamatkan oleh pekabaran yang dikirimkan kepadanya, maka demikian pula orang-orang Laodikea hanya dapat diselamatkan oleh ‘Pekabaran kepada orang-orang Laodikea.’
Dari kata-kata berikut ini akan kita saksikan, bahwa pekabaran kepada orang-orang Laodikea akan membawa hasil, supaya banyak orang dapat belajar bagaimana memilih yang baik dan menolak mana yang jahat:
“Pada masa apabila murkaNya kelak akan keluar di dalam sidang-sidang pehukuman, maka pengikut-pengikut Kristus yang sederhana dan yang setia ini akan dapat dikenal dari antara orang-orang dunia lainnya oleh kesedihan jiwa mereka yang terlihat dalam tangis dan ratap, tegoran-tegoran dan amaran-amaran mereka. Sementara orang-orang lain mencoba menutup-nutupi kejahatan yang ada, serta memaafkan berbagai kejahatan besar yang merajalela di mana-mana, maka orang-orang yang memiliki semangat bagi kehormatan Allah dan cinta bagi jiwa-jiwa tidak mau tinggal diam untuk memperoleh simpati siapa pun juga. Jiwa-jiwa mereka yang penuh kebenaran itu kesal setiap hari oleh karena perbuatan-perbuatan dan pembicaraan-pembicaraan yang tidak suci dari orang-orang yang tidak benar itu. Mereka tidak mampu untuk menghentikan arus kejahatan yang memuncak, dan karenanya mereka dipenuhi dengan kekecewaan dan takut. Mereka menangis kepada Allah karena melihat bagaimana ibadah diremehkan di dalam setiap rumah tangga orang-orang yang memiliki terang besar. Mereka meratap dan sedih jiwanya, sebab kesombongan, tamak, sifat mementingkan diri, dan penipuan pada hampir segala bentuk terdapat di dalam sidang.” — Testimonies, vol. 5, p. 210.
Oleh karena kita kini menyaksikan dengan jelas, bagaimana orang-orang Laodikea itu binasa tanpa pekabaran kepada orang-orang Laodikea itu, maka kita supaya hendaklah berpegang teguh kepada Kebenaran bagi masa kini, dan supaya kita memenangkan mahkota kehidupan kita, dan sebagai tambahan untuk itu kita akan diberikan suatu penuaian jiwa-jiwa yang berhasil dan disertai dengan pujian “Sabaslah, hai hamba yang baik.” Matius 25 : 23.
242 total, 1 views today


