<< Go Back
ANAK-ANAK YANG LAHIR
DARI IBU SUNDAL
MEMBAWAKAN DAMAI DAN
BAHAGIA DI DALAM
RUMAH TANGGA
Victor T. Houteff
Pendeta dari Persekutuan Davidian Masehi Advent
Sabat, 3 Januari 1948
Gereja Mount Carmel, Waco, Texas
Amerika Serikat
Pokok pembicaraan kita untuk hari ini terdapat di dalam buku Hosea, pasal 1 dan pasal 2. Perkara yang pertama dan terpenting untuk ditekankan mengenai pasal-pasal ini adalah masa sejarah dalam mana inti nubuatannya di sini membicarakan. Untuk menemukannya, maka kita akan membaca dari:
Hosea 2 : 18:
“Maka pada masa itu Aku akan membuat suatu perjanjian bagi mereka itu dengan binatang-binatang di padang, dan dengan burung-burung di udara, dan dengan segala binatang yang melata di atas bumi; dan Aku akan memecahkan busur dan pedang dan perang dari atas bumi, dan Aku akan memberikan mereka itu duduk dengan selamat sentausa.”
Sampai kepada hari ini umat Allah belum pernah mengalami kesentausaan dan kemerdekaan yang sedemikian sempurna dan lengkap sebagaimana yang dikemukakan di dalam ayat Injil ini. Oleh karena itu dengan cepat pula terlihat, bahwa permasalahan pada pasal ini adalah menjangkau jauh ke depan, yaitu jauh sesudah masa sejarah kita. Sementara kita mempelajari pasal-pasal ini ayat demi ayat, maka unsur waktu itu akan tampak makin hari makin jelas terlihat.
Hosea 1 : 1, 2:
“Firman Tuhan yang telah datang kepada Hosea, anak Beeri, pada zaman Uzia, Jotham, Ahaz, dan Heskiah, raja-raja Yehuda, dan pada zaman Jeroboam, anak Joas, raja Israel. Permulaan dari firman Tuhan yang disampaikan oleh Hosea. Maka firman Tuhan kepada Hosea, Pergilah engkau, ambillah akan dirimu seorang istri dari perempuan-perempuan sundal dan anak-anak sundal, karena negeri ini sangat berbuat zinah dan berpaling dari Tuhan.”
Nabi Hosea telah diperintahkan untuk mengambil bagi dirinya seorang istri dari antara perempuan-perempuan sundal tidak lain adalah sebagai alasan untuk menggambarkan keadaan kekejian dan yang menyedihkan yang pada waktu itu terdapat di Israel.
Perkawinan ini tentunya hanya berupa khayalan, sama seperti halnya nabi Yeheskiel yang berbaring selama 40 hari pada sisinya yang satu; dan 390 hari pada sisinya yang lain (Yeheskiel 4 : 4 – 6).
Hosea 1 : 3 – 5:
“Demikian, maka pergilah ia diambilnya akan Gomer, anak perempuan Dibelajim, maka mengandunglah perempuan itu lalu beranak baginya laki-Iaki seorang. Maka firman Tuhan kepadanya, namailah akan dia Jezriel, karena sedikit hari lagi, maka Aku akan membalas darah Jezriel ke atas isi rumah Jehu, dan Aku akan memberhentikan kerajaan Israel. Maka akan jadi pada hari itu, bahwa Aku akan mematahkan busur Israel di dalam lembah Jezriel.”
Anak laki-Iaki pertama dari perkawinan khayal nabi itu sebagaimana Saudara saksikan telah dinamai Jezriel supaya membayangkan apa yang akan menimpa bangsa itu, yaitu meramalkan tidak saja tentang berakhirnya kerajaan itu, tetapi juga tentang tempatnya yang tepat di mana bala tentaranya akan dikalahkan, yaitu di lembah Jezriel. Dan kejahatan yang membinasakan ini sudah seharusnya datang ke atas mereka karena pertumpahan darah Jezriel, tetapi jelas bukanlah Jezriel yang baru saja dilahirkan dan diberi nama ini. Siapakah Jezriel yang sudah terbunuh itu akan kita saksikan kemudian di dalam penyelidikan ini.
Hosea 1 : 6, 7:
“Kemudian dari pada itu mengandunglah kembali perempuan itu Ialu ia beranakkan perempuan seorang; maka firman Tuhan kepadanya, namailah olehmu akan dia, Lo-ruhamah, karena Aku tidak akan lagi mengasihani isi rumah Israel, tetapi Aku akan sama sekali membawa pergi mereka. Tetapi Aku akan mengasihani isi rumah Yehuda, maka Aku akan melindungi mereka oleh Tuhan, Allah mereka itu, dan, tiada Aku melindungi mereka itu oleh busur, ataupun oIeh pedang, ataupun oleh peperangan, ataupun oleh kuda, ataupun oleh orang-orang pengendara kuda.”
Kerajaan sepuluh suku itu, yaitu Israel, telah dipertahankan sampai kepada kelahiran Lo-ruhamah, tetapi nama dari anak yang kedua ini memastikan, bahwa Allah kelak tidak akan lagi mengasihani isi rumah Israel, sehingga akhir nasibnya telah tiba. Tetapi, Ia akan mengasihani isi rumah Yehuda, kerajaan dua suku itu, dan Ia akan melepaskannya oleh suatu keajaiban. Dan demikianlah apa yang telah jadi: seorang malaikat telah memalu 185.000 tentara Assiria, dan demikian itulah Allah telah memeliharakan isi rumah Yehuda (2 Raja-raja 19 : 35).
Hosea 1 : 8, 9:
“Kini apabila sudah dilepaskannya Lo-ruhamah dari pada susu mengandunglah kembali perempuan itu lalu beranaklah ia laki-Iaki seorang. Lalu firman Tuhan, namailah akan dia Lo-ammi, karena kamu ini bukanlah umatKu, maka Aku tidak akan menjadi Allahmu.”
Anak yang ketiga dinamai Lo-ammi menunjukkan, bahwa kemurahan Allah akan beralih juga dari isi rumah Yehuda. Namun dari pada membiarkan mereka ditaklukkan sebagai umatNya, Ia pertama-tama menolak mereka oleh mana mereka tidak lagi menjadi umatNya. Rasul Petrus mengungkapkan ayat Injil ini sambil menunjuk kepada orang-orang Yahudi yang tidak percaya; sebagai suatu bangsa mereka telah ditolak sesudah penyaliban Kristus, dan dengan demikian itu tidak lagi menjadi umatNya (1 Petrus 2 : 9, 10). Walaupun demikian, secara perseorangan, barangsiapa yang percaya di dalam Tuhan akan diterima, dan mereka menjadi ‘anak-anak Allah yang Hidup.’ (Lihat Rum 9 : 26).
Sekarang perhatikanlah, bahwa lambang ini sejauh itu telah membawa kita baik secara nubuatan maupun sejarah semenjak dari zaman isi rumah Israel sampai kepada sejarah Kristen.
Hosea 1 : 10:
“Namun demikian bilangan bani Israel akan kelak bagaikan pasir di laut, yang tidak dapat diukur ataupun dihitung banyaknya; maka akan jadi kelak, bahwa di tempat di mana pernah dikatakan kepada mereka, ‘Kamu bukanlah umatKu’, di sanalah akan dikatakan kepada mereka, ‘Kamulah anak-anak laki-Iaki dari Allah yang hidup.”
“Namun demikian”; artinya, walaupun kenyataannya, bahwa bani Israel akan tersebar ke dalam segala bangsa, dan ditolak, tidak lagi menjadi umat Allah, namun meskipun segala perkara ini, maka baik keturunan dari isi rumah Israel maupun isi rumah Yehuda (segala keturunan Yakub) akan diperlipat gandakan banyaknya bagaikan pasir di laut pada masa mereka akan diterima kembali dan dengan demikian itu mereka menjadi anak-anak laki-laki Allah yang hidup melalui Penebus Jesus Kristus.
Dari firman Injil ini Saudara saksikan; bahwa orang banyak keturunan Jakub ini bukanlah orang-orang Yahudi yang dikenal sekarang, melainkan sebaliknya keturunan-keturunan Yehuda dan Israel yang sudah hilang itu, yaitu dari antara mereka yang telah berasimilasi (bercampur kawin) dengan bangsa-bangsa kapir, yang telah bercampur dengan sidang Kristen yang mula-mula dengan cara menamakan dirinya ‘orang-orang Kristen’, dari antara orang-orang yang sedemikian itu telah kehilangan ciri-ciri keturunan maupun kebangsaannya. Dari semua ini, setelah tercerai berai di antara seluruh bangsa kapir, dan setelah kehilangan ciri-cirinya, akan datang anak-anak laki-laki Allah yang akan muncul keluar di dalam nubuatan yang mengibaratkannya ini. Demikian inilah banyak dari antara kita yang mungkin berasal dari bangsa-bangsa Kapir dapat saja pada akhirnya diketahui, bahwa kita adalah berasal dari suku-suku Yehuda dan Israel yang telah hilang itu, dan dari orang-orang Yahudi Kristen di zaman rasul-rasul dahulu. Walaupun tidak ada di antara kita betul-betul mengetahui garis keturunan kita sampai jauh ke belakang, namun Allah Yang Maha mengetahui sampai kepada jumlah rambut pada kepala orang itu memiliki catatan garis keturunan yang tepat dari masing-masing kita. Olehnya itu Ia mengatakan: “Aku akan menyebutkan Rahab dan Babil di antara mereka yang mengenal akan Daku; bahwasanya orang Philistine, dan Tsur, dengan orang Ethiopia; orang ini lahir di sana. Dan dari hal Sion akan dikatakan, bahwa orang ini dan orang itu telah lahir di dalamnya, maka Allah yang maha tinggi juga yang akan meneguhkan dia. Tuhan akan menghitung, apabila didaftarkanNya umat itu, bahwa orang ini telah lahir di sana. Selah.” Mazmur 87 : 4 – 6.
Hosea 1 : 11:
“Pada masa itu kelak segala bani Israel dan segala bani Yehuda berhimpun bersama-sama, lalu diangkatnya seorang penghulu atasnya, maka mereka akan datang keluar dari dalam negeri, karena kelak besarlah hari Jezriel itu.” (Terjemahan yang Iebih tepat).
Di sini kepada kita diceritakan dengan pasti, bahwa pada akhir zaman umat kesucian Allah, tanpa seorang berdosapun di antaranya, akan dikumpulkan bersama-sama dari seluruh empat penjuru bumi, lalu diorganisir ke dalam sebuah pemerintahan Theocrasi, oleh mana Daud contoh saingan akan menjadi raja. Demikian itulah, bahwa ” ….. pada zaman segala raja ini (bukan sesudah zaman mereka itu) akan Allah yang di surga itu mendirikan sebuah kerajaan, yang mana tidak pernah akan binasa; dan Kerajaan itu tidak akan diserahkan kepada bangsa lain, melainkan ia akan menghancurkan dan memakan habis semua kerajaan ini, dan ia akan berdiri untuk selama-lamanya. Oleh karena sebagaimana tuanku lihat bahwa batu itu telah terpotong keluar dari gunung tanpa pertolongan tangan, dan bahwa ia menghancur luluhkan besi, tembaga, tanah liat, perak, dan emas; Allah yang besar itu telah memberitahukan kepada raja apa yang akan jadi kemudian, maka mimpi itu adalah pasti, dan interpretasinya pun benar.” Daniel 2 : 44, 45.
Dalam nubuatan perlambang lainnya, dalam hubungannya dengan yang satu ini, kepada kita kembali diceritakan:
Hosea 3 : 4, 5:
“Karena bani Israel akan tinggal beberapa hari lamanya tanpa raja, dan tanpa seorang penghulu, dan tanpa korban, dan tanpa patung, dan tanpa efod, dan tanpa teraphim. Kemudian dari pada itu bani Israel akan kembali, lalu mencari Tuhan Allahnya, dan Daud rajanya, maka mereka akan takut akan Tuhan dan kebaikanNya pada hari-hari terkemudian.”
Di sini kembali janji-janji itu diucapkan dengan jelas, sejelas kata-kata itu sendiri, bahwa sesudah penyebaran dan penawanan itu “beberapa-beberapa hari lamanya”, umat Allah yang terceraiberai pada masa itu akan kembali ke tanah airnya, dan kemudian akan mencari Tuhan Allahnya, dan Daud rajanya. Oleh karena itu anak-anak laki-laki Allah ini bukanlah orang-orang Yahudi yang tidak beriman yang dikenal sekarang yang kini sedang berusaha mendirikan tanah air yang tetap di Tanah Perjanjian itu.
Umat Kristen selama berabad-abad lamanya menghotbahkan tentang Kerajaan Allah, tetapi itu belum cukup jelas bagi kebanyakan mereka apakah itu akan merupakan sesuatu yang dapat dijamah bagaikan bumi ini, ataukah itu sesuatu yang berupa buih atau busa, ataukah itu sesuatu yang berayun-ayun di angkasa, atau bagaimana? Tetapi, Ilham secara jelas telah membukakan, bahwa Kerajaan Kristus itu (Sidang yang telah dibersihkan — disucikan, Daniel 8 : 14) kelak akan nyata seperti halnya setiap kerajaan di bumi ini.
Sekarang kita akan melanjutkan penyelidikan kita melalui Hosea pasal 2, sebab sebagaimana sudah saya katakan sebelumnya i s i nya adalah merupakan kelanjutan dari pada yang terdapat dalam pasal 1.
Hosea 2 : 1 – 3:
“Katakanlah olehmu kepada Saudara-saudaramu laki-laki, Ammi, dan kepada saudara-saudaramu perempuan, Ruhamah. MohonkanIah kepada ibumu, mohonkanIah, sebab ia bukanlah istriKu, Akupun bukanIah suaminya, olehnya itu hendaklah ia meninggaIkan segala bujukan persundalannya dan segala perzinahan dengan kedua belah susunya; jika tidak Aku akan menelanjangi dia, lalu kutaruh akan dia bagaikan pada masa ia dilahirkan, dan Kulakukan dia bagaikan suatu padang belantara, dan Kutaruh akan dia bagaikan suatu tanah yang kering, dan Kupalu akan dia dengan kehausan.” (Terjemahan yang lebih tepat).
Hendaklah kita ingat, bahwa pasal yang pertama telah membawa kita sepanjang aliran sejarah sampai kepada sejarah Kristen. Kini, di dalam pasal dua perhatian kita kembali diarahkan kepada anak-anak khayal Hosea itu, tetapi tambahan sebutan “Lo” telah dihilangkan dari nama-nama Lo-ruhamah dan Lo-ammi sedemikian itu, sehingga telah merubah puIa arti dari tidak mengasihani dan bukanlah umatKu, menjadi, “mengasihani”, dan “umatKu.” Di sini di dalam lambang yang unik ini tergambar tahun-tahun sebelum sejarah Kristen. Ilham membayangkan kemurahan yang akan diberikan kepada umat di dalam sejarah Kristen, dan bahwa sebagai gantinya terus menerus disebut Yahudi, mereka akan disebut dengan gelar yang lain, yakni orang-orang Kristen, yaitu yang dikasihani, dan umatKu.
Perintah yang berbunyi, “Katakanlah olehmu kepada saudara-saudaramu laki-laki, Ammi, dan kepada saudara-saudaramu perempuan, Ruhamah,” dengan sendirinya menunjukkan, bahwa Allah sedang berbicara kepada Jezriel (kakak laki-laki dari Ammi dan Ruhamah), dan bahwa Jezriel selanjutnya harus berbicara kepada Ammi dan kepada Ruhamah. Dan dari kenyataan, bahwa Allah memanggil akan istri Hosea di dalam khayal ini sebagai istriNya sendiri, maka masalah ini menjadi makin jelas. Hosea, sebagai Saudara saksikan, adalah melambangkan Allah, dan istri Hosea melambangkan sidang Allah; Jezriel, yaitu seseorang kepada siapa Allah berbicara adalah melambangkan juru kabarNya, yaitu seorang nabi; dan saudara-saudaranya Jezriel, Ammi dan Ruhamah, melambangkan anggota-anggota sidang, baik laki-laki maupun perempuan. Sekarang, sebagaimana halnya Ammi dan Ruhamah melambangkan pihak anggota, maka jelaslah bahwa i b u mereka itu tentunya melambangkan pihak pemimpin (ministry), yaitu orang-orang yang telah membawa masuk orang-orang bertobat ke dalam sidang. Di sinilah kita memiliki lambang yang lengkap dari rumah tangga Allah.
Kenyataan, bahwa Jezriel harus menganjurkan kepada saudara-saudaranya, yaitu para anggota, untuk memohonkan kepada i b u (kepada pihak pemimpin, kepada mereka yang memasukkan anggota-anggota baru yang bertobat) agar supaya ia meninggalkan persundalannya, maka kebenaran membuktikan dengan jelas, bahwa pembangunan dan reformasi ini bukanlah datang kepada pihak anggota melalui pemimpin, melainkan kepada pihak pemimpin melalui anggota-anggota biasa.
Pihak anggotalah yang akan menjelaskan, bahwa jika para pendeta gagal bereformasi, maka Allah akan menelanjangi mereka sampai telanjang bulat bagaikan pada masa mereka dilahirkan.
Hosea 2 : 4, 5:
“Dan tiada akan kusayangi anak-anaknya, sebab mereka itu anak-anak sundal adanya. Karena ibu mereka itu telah melakukan persundalan, ia yang memperanakkan mereka itu amat jahatlah kelakuannya, karena katanya, aku hendak mengikuti kekasih-kekasihku yang memberikan kepadaku roti dan air, buIu domba dan kain khasah, minyak dan minumanku,”
Ayat-ayat ini mengemukakan pengertian kemurahan Allah; bahwa jika ‘ibu’ itu gagal mereformir dirinya, jika ia gagal mengakhiri persundalannya dengan dunia berikut semua praktik perbuatannya, maka bukan saja ibunya tetapi juga semua anaknya yang bersimpathi terhadapnya akan kehilangan kemurahan untuk selama-lamanya.
Kepada kita diceritakan di sini, bahwa ibu itu menyangka, bahwa kekasih-kekasihnya yang tidak sah itu adalah orang-orang yang memperlengkapinya dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya yang ada; maka dapatlah dimaafkan kepadanya jika ia berhubungan dengan mereka.
Lagipula kepada kita kembali diceritakan, bahwa sementara sedemikian itu ia melacurkan diri, maka ia pun melahirkan anak-anak yang tidak sah, yaitu orang-orang bertobat yang palsu. Di sinilah terdapat amaran yang dengan kata-kata yang pasti memerlukan suatu reformasi atau sebaliknya seIuruh keluarga sidang, terkecuali mereka yang bereformasi, akan dibinasakan selengkapnya seperti halnya Jerusalem yang dahulu telah dibinasakan beberapa tahun setelah penyaliban Kristus.
Hosea 2 : 6 – 13:
“Oleh karena itu, bahwasanya, Aku akan memagari jalanmu dengan duri, dan Aku akan membuat sebuah tembok, sehingga tiada ia akan menemui segala jalannya. Maka ia akan mengikuti segala kekasihnya, tetapi tiada ia akan berhasil mendapatkan mereka; dan ia, akan mencari mereka, tetapi ia tidak akan berhasil menjumpai mereka; pada masa itulah ia akan mengatakan, ‘Aku hendak pergi dan kembali kepada suamiku yang mula-mula, karena dahulu adalah lebih baik bagiku dari pada sekarang ini.’ Karena tidak diketahuinya, bahwa dahulu Aku juga yang memberikan dia gandum, air anggur dan minyak, dan telah kulipat-gandakan emas dan peraknya yang sudah dipersembahkan mereka kepada Baal. Olehnya itu Aku akan kembali, dan akan Kulalukan gandumKu pada masanya, dan air anggurKu pada musimnya, dan Aku akan mengambil kembali buluh kambingKu dan kain khasahKu yang pernah diberikan untuk menutupi ketelanjangannya. Maka sekarang Aku hendak membukakan segala persundalannya di hadapan mata segala kekasihnya, maka tak seorang pun yang akan melepaskan dia dari pada tanganKu. Aku juga akan mengakhiri segala kegembiraannya, segala hari-hari perayaannya, segala bulan barunya, dan segala Sabatnya, dan semua perayaan-perayaannya yang hikmah meriah. Maka Aku akan membinasakan segala pokok anggurnya dan segala pokok aranya dengan mana ia telah mengatakan, ‘Semua ini adalah upahku yang telah diberikan kepadaku oleh segala kekasihku’, maka Aku akan menjadikan mereka sebuah hutan, maka segala binatang di padang akan memakan mereka. Maka Aku akan membalas kepadanya sekedar segala hari Baal kepada siapa ia telah membakar dupa bagi mereka, dan ia telah memperlengkapi dirinya dengan anting-anting serta dengan perhiasan-perhiasannya, dan ia telah pergi mengikuti segala kekasihnya, lalu melupakan Aku, demikianlah firman Tuhan.” (Terjemahan yang lebih tepat).
Ayat-ayat ini menjelaskan cara-cara dan kuasa Allah untuk menyelamatkan, yaitu: Sebelum Ia menyerukan untuk bereformasi Ia mempersiapkan jalannya, yaitu: Ia menghantarkan sidangnya kepada suasana yang penuh cobaan dan kacau dari mana ia tak akan mudah dapat melepaskan sendiri dirinya. Ia membawa perempuan itu kepada suatu situasi yang sama seperti halnya Ia membawa anak yang terhilang itu. Ia melakukan ini dengan maksud agar supaya perempuan itu dapat dibuat insyaf dari mana sebenarnya bantuan kepadanya akan datang, untuk diketahuinya dengan pasti, bahwa bantuan itu tidak akan datang dari kekasih-kekasihnya. Demikian itulah, dan hanya dengan demikian itulah, dapatlah kiranya ia melakukan apa yang dilakukan oleh anak yang terhilang itu pada waktu anak itu kembali kepada bapanya.
Untuk kegenapan nubuatan yang terkandung dalam ayat sebelas, maka Allah membiarkan tanduk kecil dari Daniel pasal tujuh itu untuk merubah masa dan hukum, dan Ia membiarkan umat kesucian dari Yang Maha Tinggi berada dalam tangannya sampai kepada ‘satu masa dan dua masa dan setengah masa.’ Daniel 7 : 25.
Hosea 2 : 14, 15:
“Oleh karena itu, bahwasanya Aku akan membujuk dia, dan Aku akan membawanya ke dalam padang belantara, dan berbicara dengan santai kepadanya di sana. Maka Aku akan memberikan kepadanya kemudian segala kebun anggurnya, dan Lembah Akhor pun bagi sebuah pintu pengharapan; maka ia akan menyanyi di sana seperti pada hari-hari masa mudanya, dan seperti pada hari sewaktu ia keIuar dari negeri Mesir.”
Dengan membawa perempuan itu ke dalam keadaan yang sempit dan menyusahkan seperti halnya seseorang dapat merasakannya, maka Allah berjanji akan membujuknya, dan akan membawanya ke dalam padang belantara, untuk berbicara dengan santai kepadanya di sana. Secara lebih terperinci dikatakan, bahwa oleh muncul keluar dari “kesusahan besar yang sedemikian itu belum pernah ada semenjak permulaan dunia” (Matius 24 : 21), maka Allah membawanya bukan ke dalam kebun anggurnya, bukan di Tanah Perjanjian itu, melainkan ke dalam ‘padang belantara’ (ke dalam negeri-negeri orang-orang Kapir), untuk berbicara dengan santai kepadanya di sana, dan untuk menolongnya bereformasi. Sesudah terselenggaranya pertemuan yang menyenangkan ini, maka semenjak itu perempuan itu akan memperoleh kebun anggurnya, dan Lembah Akhor bagi pintu pengharapannya; di sanalah ia akan bernyanyi dan bersuka-ria seperti pada masa mudanya, dan seperti pada masa ia keluar dari Mesir.
Lembah Akhor, sebagai Saudara saksikan, adalah pintu pengharapannya, itulah satu-satunya jalan keluar dari mala-petakanya. Lembah itu mempunyai hanya sebuah pengertian; ia menjadi perlambang bagi suatu pembersihan yang menyeluruh, bagi pembinasaan orang-orang berdosa yang terdapat di tengah-tengah perempuan itu sebelum menguasai tanah itu, yaitu harapan satu-satunya untuk menjadi istri yang bersih dan terhormat dari Allah.
Adalah di Lembah Akhor Yuzak telah melempari orang-orang berdosa yang terakhir dari orang-orang berdosa Israel, yaitu Akhan berikut seluruh keluarganya. Kemudian dari pada itu baharulah bangsa Israel diperbolehkan untuk menguasai tanah perjanjian itu, yaitu kebun anggur. Jadi, pembersihan yang sedemikian inilah yang merupakan satu-satunya ‘pintu pengharapan’ sidang, demikianlah kata Ilham, yaitu satu-satunya jalan keluarnya dari kesukarannya yang ada sekarang. Kemudian ia akan kembali kepada kedudukan dan karunianya yang semula. Baharulah ia akan memperoleh berkat perjanjian itu sama seperti halnya Israel kuno memperoleh berkat-berkatnya di masa lalu. Peristiwa yang terkenal di Lembah Akhor itu kini tampaknya melambangkan pembersihan bagi pemilikan kembali tanah perjanjian itu; melambangkan Pemeriksaan Hukum bagi orang-orang Hidup, yaitu pengumpulan orang-orang suci dan pembinasaan orang-orang berdosa, yaitu pemisahan antara gandum dari pada lalang, pemisahan kambing-kambing dari pada domba, pemisahan ikan yang baik dari pada ikan yang tidak baik. “Lumbung” (Matius 13: 30) yang juga berarti Kerajaan di sini digambarkan sebagai hak milik Tuhan atas bejana-bejanaNya yang suci.
Hosea 2 : 16:
“Maka akan jadi pada hari itu, demikianlah firman Tuhan, bahwa engkau akan memanggil akan Daku I s h i, dan tiada lagi engkau memanggil akan Daku BaaIi.”
Ya, bukan lagi Ia menjadi tuannya, tetapi Allah akan sesungguhnya menjadi suaminya, karena seseorang dapat memiliki banyak tuan, tetapi hanya seorang suami.
Hosea 2 : 17:
“Karena Aku akan lalukan dari pada mulutnya segala nama Baal, sehingga nama-nama mereka itu tidak akan lagi teringat.”
Nama-nama dari BaaI adalah yang terkenal dari orang-orang yang memiliki tabiat-tabiat mementingkan diri seperti misalnya guru-guru agamanya Balhum, nabi-nabi yang lebih menyukai mengutuki Israel dari pada kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan duit, atau keuntungan dari promosi-promosi lainnya yang bersifat mementingkan diri dan bodoh yang meninggikan dan menyombongkan. Yang sedemikian ini kelak akan tidak lagi dikenal pada masa itu oleh gelar-gelar mereka yang ningrat, tinggi dan terhormat itu.
Apabila Sidang sedemikian itu dibersihkan dari pada segala berhalanya, maka kemudian ia akan mendapatkan damai yang kekaI.
Hosea 2 : 18 – 22:
“Maka pada masa itu Aku akan membuat suatu perjanjian bagi mereka dengan binatang-binatang di padang, dan dengan burung-burung di udara, dan dengan segala binatang yang melata di atas bumi; dan Aku akan memecahkan busur dan pedang dan perang dari atas bumi, dan Aku akan memberikan mereka itu duduk dengan selamat sentosa. Maka Aku akan bertunangan dengan dikau untuk selama-lamanya, bahkan Aku akan bertunangan dengan dikau dalam kebenaran, dan dalam keadilan, dan dalam kasih sayang, dan dalam berbagai kemurahan. Aku bahkan akan bertunangan dengan dikau dalam kesetiaan; maka engkau akan mengenal Tuhan. Maka akan jadi pada hari itu, bahwa Aku akan mendengar, demikianlah firman Tuhan, Aku akan mendengar akan segala langit, dan mereka akan mendengar akan bumi. Dan bumi akan mendengarkan gandum dan air anggur dan minyak, maka mereka semuanya akan mendengarkan JizrieI.”
Ayat-ayat ini menunjukkan dengan jelas, bahwa kehadiran Allah pada waktu itu akan berada di dalam sidangNya, bahwa bahkan segala langit pun akan mendengarkan suara Allah sewaktu Ia berbicara kepada umatNya di sini di bumi. Bumi akan juga mendengar akan “gandum, dan air anggur, dan minyak”, berarti, bumi akan mendengarkan Kebenaran itu, yaitu Kebenaran yang memuaskan jiwa seperti halnya makanan bergizi yang menyehatkan. Lagi pula, bukan saja gandum, air anggur, dan minyak, yaitu keseluruhan kelengkapan Kebenaran itu, melainkan juga Jizriel yang akan didengar oleh bumi. Jelaslah, bahwa semua janji ini kelak akan digenapi dalam masa kasihan, karena semuanya itu tak mungkin dapat membawa sesuatu pun kebaikan kepada bumi sesudah berakhir masa kasihan.
Jizriel yang darahnya telah dibebankan kepada kesalahan Israel kuno, sebagaimana Saudara saksikan, adalah melambangkan nabi-nabi yang telah ditolak dan dibunuh oleh Israel. Demikian itulah, bahwa isi rumah Israel pembenci nabi-nabi itu memenuhi kehancuran mereka di Lembah Jizriel, yaitu yang diartikan sebagai lembah pembantaian nabi-nabi.
Hosea 2 : 23:
“Maka Aku akan menaburkan perempuan itu bagi diriKu di bumi, dan Aku akan mengasihani dia yang tadinya tidak dikasihani; dan Aku akan mengatakan kepada mereka yang tadinya bukan umatKu, Kamulah umatKu; maka mereka akan mengatakan, Engkaulah Allahku.”
“Menaburkan perempuan itu bagi diriKu di bumi”, berarti memperlipat gandakan anak-anaknya sesuai dengan petunjuk-petunjuk Allah setelah ia memperoleh semua berkat-berkat perjanjian ini. Kemudian ia akan betul-betul dikasihani Allah, sedemikian besar kasih yang belum pernah diperolehnya sebelumnya. Demikianlah kepada mereka yang kepadanya dikatakan, ‘Kamu bukanlah umatKu’, kelak pada waktu itu dengan nyata sekali dikatakan, ”Kamulah anak-anak lelaki Allah yang hidup”.
Kini, bahwa keseluruhan kebenaran dari pasal-pasal ini telah dibukakan untuk pertama kalinya semenjak nabi itu menuliskannya, dan oleh karena tidak ada sesuatu nubuatan Alkitab datang oleh interpretasi sendiri, bukan oIeh kehendak manusia, melainkan oleh kehendak Roh itu (2 Petrus 1 : 20, 21), maka kenyataannya ialah, bahwa Allah telah memiliki kita di dalam pikiranNya (kita kepada siapa pasal-pasal ini telah dibukakan) pada waktu Ia mengendalikan semua perkara ini untuk ditulis. Lagi pula oleh karena ayat-ayat permulaan dari pasal yang kedua membawa kita sampai kepada masa pembangunan dan reformasi yang berlaku di dalam sejarah kita, yang disponsori oleh Tuhan Allah sendiri dan dibukakan melalui Jizriel, kemudian disampaikan kepada sidang oleh anggota-anggota biasa, maka adalah suatu tugas yang akan terpenuhi sendiri hanya oleh pergerakan anggota-anggota biasa yang kini sedang bergerak di seluruh dunia Masehi Advent Hari Ketujuh. Oleh karena itu Kebenaran ini menjulang tinggi bagaikan sebuah gunung menunjukkan, bahwa Allah sedang bekerja, bahwa segala perkara akan bergerak sesuai dengan kehendak KeilahianNya. Demikian itulah, bahwa ‘mereka akan mendengarkan Jizriel’, dan bahwa Allah sendiri akan berkata kepada mereka, ‘Kamulah umatKu,’ dan mereka pun akan mengatakan, ‘Engkaulah Allah kami.’
Demikianlah Ilham menunjukkan, bahwa semua usaha kita untuk pekabaran ini adalah betul-betul pasti untuk menggerakkan reformasi yang terbesar dari segala zaman; bahwa teguran anak-anak terhadap ibunya adalah pasti untuk membawakan perdamaian dan kesentausaan bagi isi rumah Allah. Olen karena itu kita memiliki setiap alasan yang positif, baik untuk menang maupun untuk bekerja dengan sungguh-sungguh seperti halnya Daud dahulu sewaktu ia menghadapi raksasa Goliath. Adalah jelas, bahwa anak-anak (pihak anggota) yang telah lahir dari seorang wanita sundal (sidang) membawakan damai dan kesentausaan di dalam rumah tangga Allah. Oleh karena itu Saudara harus dengan sebulat-bulat tekad dan dengan sungguh-sungguh menggabungkan diri kepada pergerakan anggota yang besar ini bagi pembangunan dan reformasi di seluruh Laodikea, dan menyelesaikan pekerjaan Injil dengan sebuah sidang yang “….. Indah bagaikan bulan, cerah bagaikan matahari, dan hebat bagaikan sebuah bala tentara dengan panji-panjinya, ia akan maju terus ke seluruh dunia dengan kemenangan dan untuk memenangkan.” – Prophets and Kings, p. 725. Saudara tak mungkin gagal.
229 total, 1 views today


