<< Go Back
PARADOKS BESAR DARI
SEGALA ZAMAN
Oleh:
Victor T. Houteff
Pendeta dari Persekutuan Davidian Masehi Advent
Hari Ketujuh
Sabat, 10 Januari 1948
Gereja Mount Carmel, Waco, Texas
Amerika Serikat
Zakharia 6 : 1 – 8:
“Maka kembali pula kuangkat mataku dan kulihat, bahwasanya adalah keluar empat buah kereta dari antara dua buah gunung; dan gunung-gunung itu adalah gunung-gunung tembaga. Pada kereta yang pertama terdapat kuda-kuda merah, dan pada kereta yang kedua terdapat kuda-kuda hitam, dan pada kereta yang ketiga kuda-kuda putih, dan pada kereta yang keempat terdapat kuda-kuda yang berwarna dauk dan kuda-kuda yang berwarna teji. Kemudian aku menjawab dan mengatakan kepada malaikat yang berkata-kata dengan aku itu: Apakah artinya semua ini Tuan? Maka sahut malaikat itu, katanya kepadaku: Semua ini adalah empat Roh dari segala langit yang keluar setelah sudah mereka berdiri di hadapan Tuhan seluruh bumi. Adapun kereta yang berkuda hitam itu, ia itu keluar ke tanah utara, dan kereta yang berkuda putih keluar menyusulnya dari belakang, dan kereta yang berkuda dauk itu keluar arah ke tanah selatan. Dan kereta yang berkuda teji itu keluar, dan berusaha pergi supaya mereka dapat berjalan pulang pergi di seluruh bumi; lalu kataNya, Pergilah kamu, berjalanlah pulang pergi di seluruh bumi itu. Demikianlah mereka itu berjalan pulang pergi di seluruh bumi. Kemudian berserulah Ia kepadaku, katanya: Bahwasanya, mereka ini yang pergi arah ke tanah utara telah mendiamkan Roh-Ku di tanah utara itu.” (Terjemahan yang lebih tepat).


Saudara lihat! Paradoks dalam simbol nubuatan ini terdapat pada kereta yang keempat. Kereta itu ditarik oleh dua pasang kuda, yaitu pasangan yang berwarna dauk dan pasangan yang berwarna teji, pasangan yang satu berusaha menarik kereta itu ke arah yang satu (selatan) dan pasangan yang lainnya berusaha menariknya ke arah yang lain lagi (pulang pergi di seluruh bumi). Apakah yang akan jadi dengan kereta itu, dan pasangan kuda manakah yang mungkin dapat berhasil menariknya? Itulah paradoksnya, karena tak mungkin kedua pasangan kuda itu dapat menguasai kereta itu jika tidak mereka berjalan bersama-sama. Karena ini adalah sebuah simbol yang paradoks (tak terpecahkan), maka ia telah menjadi rahasia semenjak nabi Zakharia menuliskannya. Dan karena ia itu kini untuk pertama kalinya diungkapkan, maka jelas Ilham sedang memperingatkan kepada seseorang tentang sesuatu yang amat serius yang sedang terjadi pada masa ini. Apa yang dapat terjadi dengannya?
Sebagaimana kita juga ingin sekali mengetahui, maka nabi Zakharia rindu sekali mengetahui sehingga ia bertanya: ‘Apakah artinya semua ini, Tuan?’ Maka terhadap pertanyaannya ini datanglah jawaban sebagai berikut: ‘Semua ini adalah empat Roh dari segala langit yang keluar setelah sudah mereka berdiri di hadapan Tuhan seluruh bumi.’
Jawaban malaikat itu adalah pasti. DijelaskanNya, bahwa kereta-kereta itu adalah Roh-Roh dari segala langit yang berdiri di hadapan Tuhan, dan yang diutus pergi pulang balik di seluruh bumi. Jadi jelaslah, bahwa keempat rombongan berikut kereta-keretanya ini adalah melambangkan empat pekabaran (empat Roh) yang dikirim dari hadirat Allah. Dan karena semua pekabaran yang berasal dari Allah dibawakan pulang balik di seluruh bumi oleh pihak Kependetaan dan Sidang, maka sebab itu kereta-kereta dan pasangan-pasangan kudanya itu terlihat melambangkan sidang dalam tugasnya dalam empat periode sejarah yang berbeda.
Pertanyaan berikutnya ialah, dimanakah dari sepanjang aliran sejarah yang ada akan kita carikan sidang pembawa pekabaran dan penanggung kekacauan ini? Dalam sejarah kitakah, dalam sejarah yang lampau, atau yang mana? Gunung-gunung tembaga itulah yang memberikan kuncinya, karena kereta-kereta itu datang dari antara kedua gunung itu. Oleh sebab itu kita hendaknya pertama-tama mencari tahu apa yang dilambangkan oleh gunung-gunung itu, dan dimana berdiri gunung-gunung itu dalam sejarah. Dan karena kereta-kereta itu datang dari antara kedua gunung itu, yang satu berdiri pada sebelah kiri mereka (dalam masa yang akan datang) dan yang lainnya berdiri pada sebelah kanan mereka (dalam masa yang lalu), maka perlu pertama-tama mencari dahulu tempat dari gunung-gunung itu. Interpretasi Alkitab mengenai gunung simbolis adalah sebagai berikut: “Yerusalem akan disebut orang kota Kebenaran, dan gunung Tuhan serwa sekalian alam akan disebut gunung kesucian.” Zakharia 8 : 3. Oleh karena itu gunung-gunung di dalam nubuatan Zakharia ini ataupun di mana saja di dalam Alkitab terlihat melambangkan dua pemerintahan, sidang-sidang, keadaannya benar-benar sama (keduanya dari pada tembaga) dan berada pada dua periode yang berbeda (periode yang satu pada sebelah kanan kereta-kereta itu dan periode yang satunya pada sebelah kiri kereta-kereta itu). Berasal dari tembaga, suatu logam yang kualitasnya tahan lama, yang tidak mudah rusak, menunjukkan bahwa gunung-gunung itu melambangkan sesuatu yang bersifat kekal. Lagi pula gunung-gunung itu berasal dari bahan simbolis yang sama, sama seperti bahan yang ditunjukkan oleh kaki Kristus (Wahyu 1 : 15) berupa tembaga, maka itu menunjukkan tempat gunung-gunung itu di dalam era sejarah Kristen.
Hanya ada dua pemerintahan Allah yang sedemikian ini di dalam sejarah Kristen, yang satu di masa yang lalu dan yang satu lagi dalam masa yang akan datang di antara mana terbentang jalan raya dari kereta-kereta itu, yaitu sidang dari Pantekosta pertama dengan 120 orang muridnya yang dipenuhi Roh, yang dilambangkan dengan gunung yang berada pada sebelah kanan kereta-kereta itu, dan sidang pada Pantekosta kedua (Yoel 2 : 28, 29, yang masih akan datang) dengan 144.000 orang muridnya yang dipenuhi Roh yang berdiri di atas Gunung Sion bersama-sama dengan Anak Domba (Wahyu 14 : 1), yang dilambangkan dengan gunung yang berada pada sebelah kiri kereta-kereta itu.
Dapatlah dipahami, bahwa sidang pada waktu itu dibentuk terdiri dari berbagai jenis bahan, bukan dari tembaga yang keras, bukan hanya dari orang-orang Kristen yang sejati, melainkan bercampur antara yang baik dan yang jelek — gandum dan lalang. Oleh sebab itu nyatalah kebenaran itu; bahwa akan ada suatu pemerintahan kerajaan Orang-orang Suci yang lain lagi yang membinasakan dosa dan menyaring orang-orang berdosa, sama seperti yang di masa Annanias dan Saphira dahulu yang telah jatuh menghembuskan nafas mereka karena berdosa di kaki rasul (Kisah Segala Rasul 5 : 1 – 11).
Jelaslah, bahwa kereta-kereta itu melambangkan sidang yang berjuang dalam tugasnya selama di antara kedua Pantekosta itu.
Kereta yang keempat merupakan yang terakhir, ia akan didapati bekerja pada menjelang datangnya Pantekosta yang kedua itu.
Oleh karena kereta-kereta itu ditarik oleh kuda, maka kuda-kuda itu sendiri harus melambangkan kepemimpinan dari kereta (sidang), dan para penumpang di dalam kereta-kereta itu tak dapat tiada harus melambangkan para anggota.
Sungguhpun demikian, lambang itu akan mengungkapkan situasi keadaan yang paradoks yang terdapat dengan kereta yang keempat, yaitu yang terakhir, dan karena itulah sidang Laodikea dengan pekabaran Pehukuman seperti yang ditunjukkan oleh namanya sendiri.
Saudara ingat, kereta yang pertama ditarik oleh kuda merah, kereta yang kedua oleh kuda hitam, kereta yang ketiga oleh kuda putih, dan kereta yang keempat oleh dua jenis kuda — kuda dauk dan kuda teji. Warna dari masing-masing kuda merupakan tanda dari jenis keturunan. ltu tak dapat tiada merupakan petunjuk dari akibat alamiah dan keadaan. Dan seperti yang dikemukakan terdahulu, kuda-kuda itu adalah melambangkan dinas kependetaan dalam setiap bagian dari sejarah gereja. Merah ternyata menunjukkan mati sahid, hitam menunjukkan perhambaan, putih menunjukkan kebebasan, warna dauk (suatu warna yang tidak tegas, hitam tidak dan putih juga tidak) melambangkan para pendeta yang bukan orang-orang Kristen sejati dan juga bukan orang-orang Kapir — orang-orang munafik. Tetapi warna teji menunjukkan kekuatan, seperti yang ditunjukkan oleh petunjuk yang marginal.
Nubuatan simbolis ini terlihat menguatkan sejarah. Ia menunjukkan, bahwa Gereja Kristen pada mulanya mengalami mati sahid, terlihat oleh warna merah. Kemudian menyusul Zaman Kegelapan dari agama pada waktu sidang berada dalam perhambaan (hitam). Kemudian dari pada semuanya ini datang periode Protestan, yaitu periode kebebasan agama (pasangan kuda putih). Dan pada akhirnya datang kereta yang keempat dengan pasangan-pasangan kudanya yang berwarna dauk dan yang berwarna teji. Pasangan-pasangan kuda itu terlihat memiliki perjuangan yang bertentangan untuk menarik kereta itu. Warna dauk merupakan suatu warna yang tidak tegas — hitam tidak dan putih pun tidak, menunjukkan kemunafikan, jenis yang sampai pada hari ini tidak dikenal, sebaliknya warna teji menunjukkan kekuatan rohani (batas tertinggi) jenis yang sampai pada hari ini tidak dikenal.
Oleh karena Sidang berasal dari Asia, khususnya Yerusalem, maka kereta yang pertama itu terlihat tetap tinggal di sana, karena ia tidak pergi kemana-mana. “Tanah Utara,” yang secara geografis terletak di sebelah Utara Palestina adalah tempat di mana kereta-kereta lainnya itu pergi; yaitu, negeri-negeri yang kini didiami oleh bangsa-bangsa Kristen. Sungguh pun demikian, kereta yang keempat itu diperkirakan akan pergi pulang balik di seluruh bumi kepada setiap bangsa, dan suku bangsa, dan bahasa, dan orang banyak. Tetapi berlawanan dengan ini pasangan kuda dauk itu “pergi keluar arah ke negeri selatan”, yang secara simbolis akan merupakan Mesir rohani — keduniawian.
Roh Allah didiamkan di negeri Utara tak dapat tiada menunjukkan, bahwa pekabaran-pekabaran Allah di negeri Utara pada umumnya telah ditolak, terutama pekabaran dari kereta yang keempat, yang telah membuat Roh Kebenaran dialihkan dan tidak lagi membawakan Kebenaran melalui mereka — menjadi diam di sana — dan bahwa oleh karena itu tidak dapat diharapkan lagi datangnya sesuatu Kebenaran apapun melalui mereka.
Pasangan kuda yang ganda dengan kedua jenis warnanya, yang saling menarik kereta itu ke arah yang berbeda dengan cepat terlihat melambangkan dua kelompok kepemimpinan sidang (para pemimpin Masehi Advent Hari Ketujuh dan para pemimpin Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh) yang berbeda dalam tabiat dan cita-cita. Secara nubuatan dikatakan, bahwa pasangan kuda dauk, yaitu mereka yang pertama sekali terlihat pada lukisan nubuatan itu, sedang menarik kereta itu menuju masuk ke Mesir – yaitu keduniawian, dari mana mereka seharusnya keluar dan bukan kembali ke sana. Sungguh pun demikian, pasangan kuda teji sedang berusaha untuk menarik keluar kereta itu dari sana lalu pergi pulang balik di seluruh bumi seperti yang diperintahkan, yaitu untuk menyelesaikan pekerjaan Injil sesuai dengan rencana Allah. Tetapi ini tidak akan bisa terjadi selama kedua pasangan kuda itu masih terikat pada kereta itu, sebab kereta tidak mungkin dapat bergerak ke sesuatu arah sementara pasangan-pasangan kuda itu masih tetap menarik ke arahnya sendiri-sendiri.
Oleh sebab itu yang diperlukan segera ialah melepaskan ikatan pasangan kuda yang satu, sehingga pasangan yang lainnya itu dapat dengan bebas pergi pulang balik di seluruh bumi secepat mungkin seperti yang diperintahkan kepada mereka untuk “Pergi.” Apabila ini jadi, maka paradoks ini tidak akan lagi merupakan paradox.
Apakah yang menempatkan dua jenis perbedaan dari hal para pemimpin yang bekerja pada cita-cita yang bertentangan itu? Saya akan membacakan jawabannya dari Roh Nubuat. Berikut ini gambaran dari salah satu kelompok pemimpin sidang:
” ……… Mereka yang menaruh penghargaan tertinggi kepada “ilmu pengetahuan yang disebut palsu,” tidak akan menjadi pemimpin-pemimpin pada waktu itu. Mereka yang menaruh harap kepada kecerdasan berpikir, kemampuan istimewa atau pun bakat, tidak akan kelak berdiri pada waktu itu daIam barisan pemimpin. Mereka tidak mengikuti kemajuan terang itu. Mereka yang telah membuktikan dirinya tidak setia, tidak akan dipercayakan kepada mereka pada waktu itu dengan kawanan domba ………” — Testimonies, vol. 5, p. 80.
Jelaslah, bahwa para pemimpin yang mementingkan diri ini, yang suka tidur-tiduran di dalam negeri yang suam, adalah yang dilambangkan dengan pasangan kuda yang berwarna dauk itu.
Sekarang kita akan membaca dari hal para pemimpin yang digambarkan oleh pasangan kuda teji, yaitu orang-orang yang terakhir terlihat pada gambaran nubuatan itu:
“….. Tuhan memiliki hamba-hambaNya yang setia, yang daIam masa keguncangan dan ujian akan muncul keluar. Ada orang-orang yang berharga yang kini masih tersembunyi yang tidak pernah menyembah sujud kepada Dewa-dewa. Mereka belum memperoleh terang yang sudah sedang bercahaya daIam suatu penyinarannya yang terpusat atas kamu. Tetapi adaIah mungkin sekaIi di bawah keadaan lahiriah yang kasar dan tidak menarik kecerahan yang murni dari suatu tabiat Kristen yang sejati akan dinyatakan. Pada siang hari kita memandang ke langit, tetapi tidak dapat melihat bintang-bintang. Mereka itu ada di sana, terpaku daIam bentangan langit, tetapi mata tak dapat membedakannya. DaIam maIam hari kita memandang cerah cahaya yang asli dari bintang-bintang itu.” — Testimonies, vol. 5, pp. 80 – 81.
Inilah tepatnya yang sedang terjadi sekarang. Orang-orang yang sedang menentang pekabaran yang memberitakan Pehukuman bagi Orang Hidup; orang-orang yang “tidak mengikuti kemajuan dari terang itu,” dan yang merasa puas untuk tetap tinggal di Mesir contoh saingan; dinas kependetaan dari Masehi Advent Hari Ketujuh akan dibebas-tugaskan (dilepaskan dari kereta); dan orang-orang yang “tersembunyi” itu, mereka yang dilambangkan oleh pasangan kuda teji, yaitu dinas kependetaan dari Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh, sedang datang kedepan. Mereka kini sedang “muncul keluar,” dan sedang bersiap-siap untuk mengambil kereta itu. Kemudian, segera setelah mereka diperintahkan untuk “Pergi,” maka mereka dengan cepat tanpa ragu-ragu akan bergerak maju “untuk pergi pulang balik di seluruh bumi” dengan pekabaran dari hal jam, yaitu Pehukuman bagi Orang-orang Hidup.
Sekarang dipersilahkan kepada pendiri dari Organisasi Masehi Advent Hari Ketujuh untuk menjelaskan dengan tegas apa dan dimana terdapat negeri selatan itu:
“Saya dipenuhi dengan kesedihan apabila saya pikirkan akan keadaan kita sebagai suatu umat. . …. Sidang telah berbalik dari mengikuti Kristus Pemimpinnya, dan sedang terus menerus mundur menuju Mesir. Namun ada sedikit yang terjaga atau tercengang karena kebutuhan mereka akan kuasa rohani. Keragu-raguan dan bahkan ketidakpercayaan terhadap kesaksian-kesaksian dari Roh Allah sedang meracuni gereja-gereja kita dimana-mana. Setan menghendakinya demikian. Para pendeta yang menghotbahkan diri sendiri sebagai pengganti Kristus menghendakinya demikian. Tulisan-tulisan kesaksian-kesaksian itu adalah tidak dibaca dan tidak disukai. Allah telah berbicara kepadamu. Terang sedang bersinar-sinar dari firmanNya dan dari tulisan kesaksian-kesaksian itu, tetapi kedua-duanya telah diremehkan dan ditinggalkan. Akibatnya adalah jelas dalam kehilangan kemurnian dan penyerahan dan iman yang sungguh-sungguh di antara kita.” — Testimonies, vol. 5, p. 217.
Apakah yang akan melepaskan pasangan kuda dauk itu dari kereta? Nabi Yesaya memberikan jawabannya sebagai berikut:
Yesaya 66 : 16, 19, 20:
“Karena oleh api dan oleh pedangNya Tuhan akan menghukumkan segala manusia; maka besarlah kelak bilangan segala orang yang dibunuh oleh Tuhan …. Maka Aku akan menaruh suatu tanda alamat di antara mereka itu, dan Aku akan mengutus orang-orang yang sudah Iuput dari antara mereka itu kepada segala bangsa, ke Tarshis, ke PuI, dan ke Lud, orang pemanah ke Tubal, dan ke Yawan, kepada pulau-pulau yang jauh, yang belum pernah mendengar nama baikKu dan yang belum pernah melihat kemuliaanKu; maka mereka akan memberitakan kemuliaanKu di antara segala bangsa Kapir. Dan mereka akan menghantarkan semua saudaramu bagi suatu persembahan bagi Tuhan dari segala bangsa dengan mengendarai kuda, dan dengan kereta-kereta, dan dengan kendaraan unta, dan dengan menunggang keledai, dan dengan kuda sembarani, ke gunung kesucianKu Yerusalem, demikianlah firman Tuhan, seperti bani Israel membawakan persembahan dalam bejana yang bersih ke dalam rumah Tuhan.”
Di sini dikemukakan suatu pembantaian yang terjadi di antara orang-orang yang telah diberi petunjuk untuk menjauhkan diri dari daging-daging yang haram, tetapi di antara mereka banyak yang melanggar perintah Allah. Orang-orang durhaka, yaitu mereka yang dewa-dewanya adalah perutnya, termasuk pula orang-orang yang menyucikan dan membersihkan diri mereka sendiri, (mereka yang merasa benar sendiri) di dalam taman-taman di belakang sebatang pohon (di belakang pendeta mereka yang membenci Kebenaran, ayat 17, bagian akhir) oleh Tuhan sendiri disingkirkan dari antara orang-orangNya yang mencari Kebenaran.
Sesudah orang-orang durhaka itu disingkirkan sedemikian, maka mereka yang tertinggal, mereka yang sisa, yaitu mereka yang luput itu, menjadi hamba-hamba Allah dan akan diutus kepada segala bangsa, khususnya kepada orang-orang yang belum mendengar baik mengenai kebesaran nama Allah maupun dari hal berita-berita baik tentang KerajaanNya. Orang-orang yang Iuput ini akan menghantarkan ke rumah Tuhan semua saudara mereka, yaitu semua orang yang mau bertobat kepada Kristus — “sejumlah besar orang-orang yang tak seorangpun dapat menghitungnya, dari segala bangsa, dan suku-suku bangsa, dan umat, dan bahasa-bahasa.” Mereka akan berdiri “di hadapan tahta, dan di hadapan Anak Domba berpakaian jubah-jubah putih, dan daun palm di dalam tangan mereka.” Wahyu 7 : 9.
Demikianlah kelak Injil akan diselesaikan oleh orang-orang yang Iuput dari pembantaian Tuhan itu (Yesaya 66 : 15, 16) dan umat Allah dengan cepat akan dihimpunkan dari seluruh empat penjuru bumi, dengan berbahagia dihantarkan sebagai suatu persembahan kepada rumah Tuhan (ayat 19, 20).
Sekaranglah kesempatan bagi setiap orang untuk memutuskan untuk berada dengan pihak yang satu atau dengan pihak yang lainnya, apakah akan bereformasi dan dibawa oleh orang-orang setia dari pasangan kuda teji itu, atau akan tetap berpegang kepada pasangan kuda dauk yang mementingkan diri itu lalu tetap tinggal bersamanya di negeri selatan, untuk binasa di sana. Sekaranglah betul-betul saat yang menentukan bagi setiap anggota Gereja. Hal ini menyerukan bagi suatu tindakan yang akan menentukan nasib hari depan dari para anggota maupun para pendeta.
Sekaranglah kesempatanmu untuk bertindak, dan adalah kerinduan saya dan doa agar kiranya Saudara, dan setiap anggota Gereja memilih untuk berada pada pihak yang dianjurkan secara pasti dan jelas oleh ungkapan dari paradoks segala zaman ini. Jangan lagi membiarkan dirimu ditipu oleh pasangan kuda dauk itu. Hadapilah ucapan-ucapan muluk mereka itu dengan “Demikianlah firman Tuhan.” Mintakanlah tanggung jawab mereka kepada Kebenaran Alkitab yang tegas ini.
229 total, 1 views today


