Sakit Kronis dengan terlalu banyak pengetahuan dan terlalu sedikit pengertian
<< Go Back


SAKIT CHRONIS DENGAN
TERLALU BANYAK PENGETAHUAN
DAN TERLALU SEDIKIT
PENGERTIAN

 

Oleh:
Victor T. Houteff
Pendeta dari Persekutuan Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh
Sabat, 14 Februari 1948
Gereja Mount Carmel, Waco, Texas
Amerika Serikat

 

 

Untuk melukiskan pokok penyelidikan kita pada sore hari ini, maka marilah kita mengambil sebagai contoh buku yang Organisasi telah terbitkan mengenai Daniel dan Wahyu, yaitu dua buku yang sangat berharga dari Alkitab. Buku yang saya maksudkan ialah yang aslinya berjudul THOUGHTS ON DANIEL AND THE REVELATION. Buku itu telah ditulis sesuai model bentuk ilmiah, dan semua isinya adalah demikian meyakinkan, sehingga beribu-ribu buah telah berhasil dijual di seluruh dunia dalam sejumlah bahasa. Seseorang yang dapat menulis sebuah buku seperti itu tentunya memiliki pengetahuan yang luas. Tetapi bagaimana pun juga kita hendaknya memeriksa untuk melihat berapa luas pengertian yang terdapat pada buku-buku dari Daniel dan dari Wahyu itu sendiri.

Ambillah sebagai contoh Wahyu pasal 12, di mana dibicarakan dari hal wanita yang bermahkota dengan dua belas bintang. Di dalam buku yang kusebutkan itu Organisasi menjelaskan, bahwa wanita ini adalah melambangkan sidang Kristen, bahwa pakaian mataharinya ialah Injil Kristus, maka masyarakat tampaknya menerimanya dengan baik sekali.

Tetapi jika saudara-saudara itu ditanya: “Bagaimana mungkin wanita itu melambangkan sidang Kristen, lalu pada waktu yang bersamaan juga menjadi ibu dari Kristus?” Mereka akan memerlukan waktu untuk menjawab, sebab Kristus sendiri yang telah melahirkan sidang Kristen itu menjadi kenyataan tiga puluh tahun atau Iebih sesudah kelahiran-Nya. Akibatnya sidang itu tidak mungkin menjadi ibu-Nya.

Dan jika mereka ditanya, ‘Bagaimana mungkin wanita yang berpakaian matahari itu melambangkan sidang Kristen yang berpakaikan pakaian lnjil Kristus seperti yang anda tegaskan?’ maka mereka akan mendapat kesulitan untuk menjawab karena perempuan itu berpakaian matahari pada waktu sebelum Kristus Iahir, dan bahkan sebelum Injil muncul.

Kalau saja pertanyaan-pertanyaan ini disampaikan kepada saudara-saudara itu, maka saya yakin bahwa mereka mungkin sekali akan menjadi sangat kacau dalam usahanya untuk menjawab. Tetapi karena dari kenyataan tak seorang pun mengemukakan pertanyaan-pertanyaan ini, maka terbukti bahwa di seluruh dunia Kristen terdapat sangat sedikit pengertian.

Sekali lagi anda tak dapat membantah kenyataan, bahwa Organisasi telah memberikan suatu penyajian yang sangat ilmiah mengenai nubuatan Tujuh Trompet, dengan memaksakan suatu cara untuk membuka jalan terhadap lambang yang sedemikan ruwet itu, sambil menguatkan penjelasan-penjelasan mereka terhadapnya dengan menggunakan berbagai komentar dan sejarah dan memungkinkan orang banyak menerimanya dengan senang hati sesuai dengan yang mereka sajikan. Sungguhpun demikian, dengan metode-metode mereka yang ilmiah mereka pertahankan bahwa belalang-belalang yang dilepaskan segera setelah Bintang dari Langit itu membukakan “lubang yang tak terduga dalamnya itu” pada waktu trompet yang ke lima berbunyi (Wahyu 9 : 1 – 3), adalah melambangkan bala tentara orang-orang Mohammedan. Ini mereka lakukan walaupun pada kenyataanya belalang-belalang itu tidak akan membunuh seorang pun terkecuali hanya menyakiti orang-orang yang tidak memiliki meterai Allah pada dahi-dahi mereka, tetapi sebaliknya orang-orang Mohammedan itu membunuh setiap orang yang bangkit melawan mereka, terutama orang-orang Kristen, yaitu orang-orang yang memiliki meterai itu.

Lagi pula saudara-saudara itu menjelaskan, bahwa 200.000.000 ekor kuda itu berikut para penunggangnya yang akan membunuh sepertiga bagian dari umat manusia (Wahyu 9 : 18) adalah melambangkan pasukan kuda dari orang-orang Mohammedan itu, walaupun pada kenyataannya orang-orang Mohammedan itu tidak pernah memiliki sesuatu pasukan kuda yang sedemikian besar itu selama sejarah mereka.

Selanjutnya Yahya Pewahyu menceritakan dengan jelas, bahwa ekor dari kuda-kuda itu adalah seperti ular, dan kepala-kepalanya adalah seperti kepala singa, yang menyemburkan api, asap, dan belerang. Bertentangan terhadap kenyataan-kenyataan ini saudara-saudara itu mengatakan, bahwa kuda-kuda itu adalah kuda-kuda Arab yang biasa, bahwa tentara-tentara Turki yang bersenjata sedang menungganginya, bahwa Yahya gagal untuk melihat dengan tepat bahwa api, asap, dan belerang itu sesungguhnya keluar dari senjata-senjata, bukan dari mulut kuda-kuda itu.

Saya mengatakan bagi seseorang untuk sekian kali dengan cara yang kacau memberikan pendapat yang salah terhadap Alkitab lalu kemudian membuat orang percaya bahwa ia sedemikian itu sedang mengungkapkan Kebenaran, ia tak dapat tiada harus memiliki kemampuan yang luas, tetapi terlalu sedikit pengertiannya terhadap kenyataan, bahwa kalau saja Yahya telah dibiarkan keliru dalam sebagian khayalnya ini, maka ia mungkin sekali sudah dibiarkan keliru pada keseluruhan Buku Wahyu itu; dan bahwa bagi setiap orang yang menyuarakan pendapatnya mengenai Alkitab sedemikian itu, ia bukanlah sedang membangun iman, melainkan justru sedang meruntuhkan iman kepada semua nabi, mendorong orang untuk mengatakan, bahwa kalau saja Alkitab itu adalah sedemikian tidak sempurna begitu seperti yang di perlihatkan oleh mereka, maka apakah kebaikan-kebaikannya Alkitab itu? Dan bagaimanakah dapat kita menemukan Kebenaran itu lalu diselamatkan olehnya, karena jika para nabi itu sendiri tidak mampu menceritakan kenyataan-kenyataannya, maka bagaimanakah seseorang dari kita dapat berbuat begitu beribu-ribu tahun lamanya sesudah sejarah mereka?

Oleh karena saudara-saudara itu ternyata tidak mampu untuk melihat hal ini, dan karena tak ada seorang pun yang telah mempelajari ungkapan-ungkapan mereka itu juga mampu untuk melihatnya, maka tidakkah hal itu kelihatan jelas olehmu, bahwa walaupun terdapat banyak pengetahuan di mana-mana, ternyata terlalu sedikit pengertian terdapat dimana saja, bukan?

Dalam menangani keadaan yang seperti ini, maka Rasul Paulus mengatakan:

1 Korinthi 3 : 1:
“Hai Saudara-saudaraku, dahulu tiada dapat aku mengatakan kepada kamu seperti kepada orang-orang rohani melainkan seperti kepada orang-orang yang bertabiat duniawi, bahkan seperti kepada orang-orang menjadi bayi dalam Kristus.”

Di sini Paulus, menegur orang-orang yang pengetahuannya tampaknya luas, tetapi pengertian mereka tumpul, yaitu orang-orang, yang tidak memiliki pertambahan kerohanian yang seimbang dengan perkembangan masa, yang tidak dapat berpegang teguh kepada apa yang dikatakan Firman, tidak berkembang menjadi orang-orang Kristen yang dewasa. Oleh sebab itu ia terdorong untuk mengatakan:

1 Korinthi 3 : 2:
“Aku sudah memberikan kamu susu, dan bukan daging, karena sampai sekarang kamu belum tahan memakan daging, bahkan detik inipun kamu belum tahan.”

Paulus merasa kecewa dengan kemajuan yang dicapai oleh orang-orang Korinthi. Mereka masih belum mampu untuk memakan makanan keras. Dengan lebih tegas ia mengatakan:

1 Korinthi 3 : 3, 4:
“Karena kamu masih dalam tabiat duniawi, karena jikalau ada dengki dan pertengkaran di antara kamu, bukankah kamu di dalam tabiat duniawi lalu melakukan cara orang dunia? Karena sementara seseorang mengatakan, saya adalah dari pihak Paulus, dan yang lain mengatakan, saya adalah dari pihak Apollos, bukankah kamu orang duniawi?”

Dengan cara memihak, sebagian memihak kepada Paulus dan sebagian kepada Apollos, mereka ternyata menerima apa yang Allah kirimkan melalui perantaraan juru kabar yang satu, dan menolak apa yang dikirimkanNya melalui perantaraan juru kabar yang lain. Hal ini akan anda saksikan lebih jelas dalam ayat-ayat berikutnya:

1 Korinthi 3 : 5 – 7:
“Maka siapakah Paulus itu, dan siapakah ApolIos, kalau bukan hanya pendeta-pendeta, yang oleh mereka kamu teIah percaya, yaitu seperti yang Tuhan sudah karuniakan kepada setiap orang? Aku ini yang menanam, Apollos yang menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan. Maka sebab itu bukan dia yang menanam sesuatu, juga bukan dia yang menyirami itu yang dihargakan, meIainkan Allah yang menumbuhkan.”

Allah adalah segala-galanya, dan orang-orang pilihanNya adalah hanya penyambung lidahNya saja.

1 Korinthi 3 : 8, 9:
“Kini dia yang menanam dan dia yang menyirami itu adalah satu, maka setiap orang akan menerima upahnya sendiri sesuai dengan usahanya. Karena kami adalah orang-orang pekerja bersama-sama dengan Allah; kamu adalah pertanian Allah, kamu adalah bangunan Allah.”

Cara-cara memihak kepada seseorang yang seperti ini merusak orang-orang Kristen di masa Paulus dahulu, dan itu pun sedang merusak orang-orang Kristen di masa kita sekarang; artinya, orang-orang sedang menyanjung-nyanjung mereka yang pernah membawanya kepada pengetahuan Injil, gantinya mereka meninggikan Dia yang telah mengutus orang-orang itu dengan Injil. Dan bahkan lebih celaka lagi ialah nyata sekarang bahwa orang banyak sedang menyanjung-nyanjung orang-orang yang justru sarna sekali tidak memiliki sedikit pun terang Ilham dalam dirinya, yaitu orang-orang yang sama sekali tidak diutus oleh Allah, melainkan yang bekerja sendiri dengan bebas menurut kehendaknya.

1 Korinthi 3 : 10 :
“Sesuai dengan karunia Allah yang telah diberikan kepadaku, sebagai seorang ahli bangunan yang pandai, maka aku sudah meletakkan alas, dan orang lain membangun di atasnya. Tetapi hendaklah setiap orang memperhatikan bagaimana ia membangun di atasnya.”

Kehidupan orang Kristen adalah seolah-olah bagaikan sebuah bangunan yang sedang dibangun. Seorang jurukabar Allah membangun pondasinya, orang lain membangun di atasnya. Jadi, tidak seluruh bahan bangunan dipercayakan kepada seorang jurukabar saja untuk membangun.

Akibatnya, jika seseorang hendak memilih menaruh harap kepada jurukabar yang ini atau yang itu sebagai gantinya menaruh harap kepada Allah dan kepada semua hambaNya yang telah diutusNya satu demi satu, maka orang itu pasti akan dibiarkan dalam kekurangan bahan bangunan, dan akibatnya ia tidak akan memperoleh cukup bahan yang diperlukan untuk dimiliki pada kedatangan Tuhan yang akan datang.

1 Korinthi 3 : 11 – 18:
“Karena lain pondasi tak dapat diletakkan oleh siapa pun, kecuali apa yang sudah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Kini jika barang seorang mendirikan rumah emas, perak, batu yang indah-indah, kayu, rumput kering, atau jerami di atas pondasi itu, maka semua pekerjaan orang-orang itu akan nyata kelak, karena hari itu akan menerangkan halnya, sebab ia itu akan diungkapkan oleh api, dan api akan menguji setiap pekerjaan manusia. Jika pekerjaan seseorang dapat bertahan, yaitu yang telah dibangunkannya di atas pondasi itu, niscaya kelak akan diperolehnya pahala. Jika pekerjaan seseorang terbakar, maka ia akan menderita rugi, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, namun seolah-olah dari dalam api. Tidakkah kamu ketahui, bahwa kamulah kaabah Allah, dan bahwa Roh Allah berdiam di dalam dirimu? Jika barang seorang menajiskan kaabah Allah, maka ia akan dibinasakan Allah, karena kaabah Allah itu kudus adanya, yaitu kamulah. Janganlah seseorang menipu dirinya sendiri. Jikalau barang seorang di antara kamu tampaknya bijaksana di dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh supaya ia dapat menjadi bijaksana.”

Di sini kepada kita diceritakan, bahwa teori-teori yaitu kayu, rumput kering, jerami — yang dihasilkan oleh orang-orang yang bukan utusan Allah, yang tidak diilhami, terhadap yang sedemikian ini seperti yang saya mintakan perhatian anda sejak mulanya, yaitu teori-teori yang tampaknya akan keluar dari suatu perbendaharaan pengetahuan yang luas, tetapi ternyata tanpa Roh Suci, seperti yang sudah anda saksikan adalah sampah yang mudah terbakar oleh api dari Allah dan jiwa-jiwa manusia tetap merana.

Dan sekali lagi kepada kita diceritakan, bahwa kepandaian duniawi adalah kebodohan bagi Allah, dan bahwa jika kita ingin susunan Kebenaran kita dapat menentang angin ribut, maka kita perlu membuang semua sampah itu lalu mengambil semua bahan kiriman Allah sementara kita terus membangun.

1 Korinthi 3 : 19, 20 :
“Karena kepintaran dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Karena ada tertulis, bahwa Tuhan menangkap orang pandai itu dalam kecerdikannya sendiri.” Dan Iagi, bahwa Tuhan mengetahui segala pikiran orang pandai, bahwa mereka itu sia-sia adanya.”

Oleh karena kepintaran dunia ini adalah kebodohan bagi Allah, maka kita lebih baik tidak berurusan dengannya, dan janganlah kita memihak — seseorang memihak kepada Luther, seseorang yang lain memihak Wesley, orang lain lagi kepada Campbell, atau kepada White — tetapi lebih baik kita berdiri pada pihak Tuhan saja, lalu menyambut semua Kebenaran yang datang dari semua hamba pilihan utusanNya. Jika tidak, maka apabila kita tiba di pintu Ia tak dapat tiada akan mengatakan kepada kita: “Enyahlah kamu, saya tidak pernah mengenal kamu.

1 Korinthi 3 : 21, 22:
“Oleh sebab itu janganlah seorang pun bermegah-megah atas hal manusia. Karena segala perkara adalah kepunyaanmu, baik Paulus, baik Apollos, baik Kepas, baik dunia ini, baik hidup ataupun mati; baik segala perkara yang ada sekarang, ataupun segala perkara yang akan datang kelak; semua itu adalah kepunyaanmu.”

Bermegah-megah dalam manusia, apakah itu dalam diri sendiri ataupun dalam orang lain, ialah membohongi dirimu sendiri dalam segala perkara. Ambillah sebagai contoh orang-orang Yahudi. Mereka telah mengambil keputusan bahwa “mereka berasal dari Musa”, dan karena mereka berpandangan begitu, maka untuk menerima para nabi atau pun Kristus, bagi mereka hal ini berarti melepaskan Musa. Sebagai akibatnya, gantinya segala perkara adalah milik mereka, mereka ternyata telah kehilangan segala-galanya, termasuk juga Musa; maka di manakah mereka itu pada waktu ini? Kayu, rumput kering, dan jerami yang sudah mereka susun pada struktur Kebenaran sesudah Musa meninggalkan mereka, sudah sejak lama habis terbawa oleh Api Kebenaran, yaitu Roh Suci.

Satu-satunya jalan yang selamat untuk membangun ialah dengan Kebenaran yang datang dari tahta Allah. Inilah caranya bagaimana Musa, nabi-nabi, dan para Rasul dahulu telah membangun, dan ini pun, caranya bagaimana kita patut membangun. Musa misalnya telah mendirikan pondasi bagi struktur Kebenarannya di atas batu karang kejadian yang kokoh, kitab Kejadian, pada pekerjaan dari Dia yang telah menciptakan segala dunia (Iberani 1 : 1). Para nabi yang kemudian dari padanya, termasuk juga para Rasul, mereka terus membangun di atas pondasi yang sama, bukan di atas teori-teori dari para imam dan ahli-ahli Torat, yaitu para pendidik yang dikenal pada masa itu. Dan itulah sebabnya mengapa struktur Kebenaran mereka itu tetap berdiri makin teguh pada waktu ini dari pada sebelumnya.

Saudara dapat saksikan, bahwa pengetahuan yang tidak disertai pengertian Ilahi adalah sama bahayanya bagi jiwa seperti api yang dilepaskan di dalam rumah yang dibangun dari pada kayu dan rumput kering. Oleh sebab itu jangan lagi kita menjadi orang-orang yang suka memihak, melainkan datanglah ke meja santapan Allah yang telah dipenuhiNya dengan limpah dengan makanan rohani, dan dengan tidak ragu-ragu dan bebas dari semua syakwasangka berpesta pora sampai kenyang, menyegarkan jiwa kita dan menguatkan tulang punggung kita dengan pengertian-pengertian yang baik sehingga kita dapat mampu berdiri melawan semua penyakit kronis dari pengetahuan duniawi; supaya kita mengalahkan cobaan dengan kekuatan dari Dia Yang Maha Tinggi, dan kita diijinkan mengambil bagian dalam memberitakan pekabaran apabila ia itu akan berkembang menjadi Seruan Keras.

 

***

 

 223 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart