Sejarah dan Nubuatan, Perintah-Perintah dan Syariat-Syariat Alkitab
<< Go Back


SEJARAH DAN NUBUATAN,
PERINTAH-PERINTAH DAN SYARIAT-
SYARIAT — ALKITAB

 

 

Oleh: Victor T. Houteff
Pendeta dari Persekutuan Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh
Sabat, 17 Juli 1948
Gereja Mount Carmel, Waco, Texas
Amerika Serikat

 

 

Betapa suramnya hidup ini kelak kalau saja andai kata tidak ada sejarah — kalau saja sekiranya tidak ada cara yang mungkin untuk mengetahui masa lalu. Dan bahkan jauh lebih celaka lagi kalau saja sekiranya sama sekali tidak ada nubuatan — kalau saja sekiranya tidak ada lagi cara untuk memperoleh pemikiran tentang apa yang akan jadi di masa depan. Tetapi yang terburuk dari pada semuanya ialah kalau saja sekiranya tidak ada terdapat sesuatu terang pun mengenai masa sekarang.

Biarlah saya memberikan gambarannya sebagai berikut: Andaikata anda hendak memandang ke luar melalui jendela-jendela rumahmu arah ke timur maupun arah ke barat, dan anda hendak melihat tanah yang diterangi berkeliling bermil-mil jauhnya sampai sejauh-jauh batas pemandangan, tetapi sama sekali tidak terdapat terang di dalam rumahmu sendiri. Dan lagi, andaikata anda berkeinginan untuk berkendaraan pergi ke sesuatu tempat, dan anda mempunyai terang yang berkelimpahan baik pada bagian belakang maupun pada bagian depan kendaraan anda, tetapi motor kendaraan anda tidak mau memperlambat kecepatan. Kebaikan apakah kendaraan itu kelak bagi anda? Dan apa manfaatnya terang-terang itu? Itulah keadaan yang sulit bagi anda untuk mengambil keputusan jika anda memahami sejarah dan memahami nubuatan, tetapi sama sekali tidak mengetahui dari hal keadaan kerohanianmu sendiri, tidak mengetahui bahwa anda sedang dikuasai oleh tipu muslihat Iblis. Itu adalah bagaikan berjalan melewati sebuah jembatan yang tidak sepengetahuan anda sedang runtuh.

Saya yakin, anda akan setuju, bahwa adalah mutlak perlu untuk mengetahui baik sejarah maupun nubuatan, mutlak perlu untuk mengetahui dari hal masa yang lampau maupun dari hal masa depan. Tetapi ini sendiri pun tidak akan membawa manfaat apapun bagi anda jika jiwa anda masih tetap merana dalam kegelapan, jika anda berada dalam mati rohani dan tidak mengetahuinya. Ini tidak akan bermanfaat apapun bagi anda sama seperti hal sebuah mobil yang memiliki kelimpahan terang di depan dan di belakangnya tetapi mesinnya mati. Oleh karena itu, maka hidup bagi jiwamu dan terang yang terdekat bagi kakimu adalah terutama penting. Dan bagaimanakah semua ini dapat diperoleh?

Saudara tahu, Alkitab terdiri dari tiga bagiannya: (1) Sejarah, (2) Perintah-perintah dan Syariat-syariat, (3) Nubuatan. Berbagai Mazmur dan berbagai Amsal, berikut pula Nyanyian dari Solaiman, terdapat di dalam kategori-kategori ini. Sejarah membicarakan masa lampau, dan nubuatan membicarakan masa depan tetapi pemeliharaan akan perintah-perintah dan syariat-syariat itu membawakan berkat-berkat yang patut menjadi milik kita pada waktu ini, menerangi jiwa, dan melindungi tubuh. Benar, Yesus dalam perintah-perintah dan syariat-syariat itu adalah satu-satunya keselamatan kita. Benarkah saya sedang membicarakan kebenaran? Marilah kita lihat apa yang Yesus sendiri akan katakan:

Wahyu 22 : 16, 13, 14:
“Akulah Yesus telah mengutus malaikat-Ku untuk membuktikan kepadamu segala perkara ini di dalam sidang-sidang. Akulah akar dan benih Daud, dan bintang fajar yang gilang-gemilang itu. Aku adalah Alpha dan Omega, Yang terdahulu dan Yang terkemudian, Yang awal dan Yang akhir. Berbahagialah segala orang yang melakukan segala perintah-Nya, sehingga mereka itu berhak menghampiri pohon hayat, dan mereka boleh masuk melalui pintu-pintu gerbang ke kota itu”.

Matius 5 : 17 – 22, 27, 28:
“Janganlah menyangka bahwa Aku ini datang untuk menghapuskan hukum, ataupun kitab segala nabi itu: Aku datang bukan untuk menghapuskannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku mengatakan kepadamu, sampai langit dan bumi berlalu satu noktah atau satu titik pun sekali-kali tidak akan lenyap dari hukum itu sampai kelak semuanya dipenuhi. Sebab itu barangsiapa hendak merombak salah satu dari pada perintah-perintah yang terkecil ini, lalu mengajarkan demikian kepada orang-orang, ia akan disebut yang terkecil di dalam kerajaan sorga, tetapi barangsiapa yang melakukan dan mengajarkannya, mereka akan disebut besar di dalam kerajaan sorga. Karena Aku berkata kepadamu, bahwa jikalau tiada kebenaranmu melebihi kebenaran dari segala ahli Torat dan orang-orang Parisi, maka sekali-kali tiada dapat kamu masuk ke dalam kerajaan sorga. Kamu sudah mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orang dahulu kala, yaitu: Jangan kamu membunuh; maka barangsiapa hendak membunuh ia akan terkena hukum. Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa barangsiapa yang marah terhadap saudaranya tanpa sesuatu sebab, ia akan terkena hukum; dan barangsiapa yang berkata kepada saudaranya, hai jahil, ia akan dihukum oleh majelis besar; tetapi barangsiapa yang berkata, hai tolol, ia akan terkena hukum masuk api neraka. Kamu telah mendengar, bahwa telah dikatakan oleh orang dahulu kala: Jangan kamu berzinah; tetapi Aku mengatakan kepadamu, bahwa barangsiapa yang memandang kepada seseorang perempuan dengan bernapsu birahi kepadanya, maka ia telah berzinah dengan perempuan itu di dalam hatinya.”

Hanya orang-orang yang melakukan perintah-perintah Allah, sebagai anda saksikan, akan kelak masuk kedalam Kota Suci itu. Tidak ada orang lain yang memperoleh hak yang sedemikian ini. Yesus bukan datang untuk membawakan kejahatan dan menciptakan keadaan tidak berhukum, melainkan sebaliknya untuk membawakan kebenaran dan damai oleh cara menghapuskan segala dosa dari orang-orang yang bertobat dari melanggar hukum. Diselamatkan mengandung arti yang lebih lagi dari pada hanya memanggil Dia Tuhan dan Juruselamat serta menyerukan halleluya.

“Bukan setiap orang yang mengatakan kepada-Ku, Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam kerajaan sorga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di dalam sorga. Banyak orang akan mengatakan kepada-Ku pada hari itu, Tuhan, Tuhan, bukankah kami sudah bernubuat dengan nama-Mu? Dan dengan namaMu kami sudah membuang segala setan? Dan dengan nama-Mu kami sudah melakukan berbagai perbuatan yang ajaib? Maka kemudian Aku akan menegaskan kepada mereka itu bahwa Aku tidak pernah mengenal kamu; enyahlah kamu daripada-Ku, hai kamu yang melakukan kejahatan. Sebab itu barangsiapa mendengar segala perkataan-Ku ini, lalu melakukannya, Aku akan mempersamakannya dengan orang yang bijaksana yang membangunkan rumahnya di atas batu karang.” Matius 7 : 21 – 24.

Yesus mengatakan: “Jikalau kamu percaya akan Musa, kamu sudah akan mempercayai Aku juga.” Yahya 5 : 46. Percaya akan Musa ialah percaya terhadap apa yang ditulisnya; percaya kepada Yesus ialah percaya terhadap apa yang dikatakan-Nya. Jika kamu tidak dapat mempercayai Musa, maka kamu juga tidak akan dapat percaya akan Yesus. Dan berapa banyakkah kita harus percaya? Yesus menjawab: “Hai orang bodoh, dan yang berhati lamban untuk mempercayai segala perkara yang dibicarakan oleh nabi-nabi.” Lukas 24 : 25. Jika kita harus mempercayai semua, maka marilah kita pertama-tama membaca:

Maleakhi 4 : 4, 5:
“Hendaklah kamu ingat akan Torat Musa hamba-Ku itu, yang sudah Ku perintahkan kepadanya di atas gunung Horeb bagi seluruh Israel, dengan segala syariatnya dan hukum-hukumnya. Bahwasanya Aku akan mengutuskan bagimu Eliyah nabi itu dahulu dari pada datang hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu.”

Saudara mengetahui sekarang, bahwa nubuatan Maleakhi pasal 3 dan 4 berbicara kepada umat Allah di waktu ini, yaitu kepada umat yang ada menjelang hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu, yaitu kepada siapa nabi Eliyah contoh saingan itu diutus. Dan petunjuk yang bijaksana apakah yang diberikan Tuhan melalui perantaraan Maleakhi? Ia mengatakan, “Ingatlah olehmu akan Torat Musa hambaKu itu”. Hukum yang manakah itu? Yaitu hukum Torat yang berisikan syariat-syariat dan hukum-hukum yang diperintahkan Tuhan “di atas gunung Horeb”. Oleh karena ini adalah petunjuk Allah yang jujur bagi umat-Nya pada waktu ini, maka kita hendaknya berusaha untuk mempelajari kembali hukum Musa ini, dan ingat akan dia, sebab kita tidak bisa mengabaikan begitu saja nasehat-Nya sambil terus mengharapkan berkat-berkat-Nya.

Secara luas, hukum Musa itu terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama ialah hukum Upacara Bayangan, yaitu hukum mengenai kaabah — hukum persembahan korban. Tentu saja hukum ini pada waktu ini kita tidak boleh lagi melaksanakannya, terkecuali dalam contoh saingannya, karena itu membayangkan perkara-perkara yang akan datang, yaitu khususnya kedatangan Kristus yang pertama. Jadi, kalau saja kita telah hidup dalam sejarah Wasiat Lama yang lalu dan lalai melaksanakan hukum persembahan korban dan upacara pada waktu itu, maka kita dengan sendirinya telah menunjukkan ketidak percayaan kita terhadap Kristus, yang kemudian akan datang. Tetapi karena kita kini sedang hidup dalam sejarah Kristen, maka jika kita hendak melaksanakan contoh dari hukum persembahan korban dan upacara itu sekarang, kita dengan sendirinya akan menunjukkan ketidak-percayaan kita terhadap Kristus, yang sudah datang.

Dan demikianlah halnya, karena hukum ini telah disalibkan ke kayu palang (Kolose 2 : 14), maka kita tidak perlu, dan tidak boleh lagi melaksanakannya sekarang.

Bagian kedua dari hukum Musa ialah hukum dengan mana Israel harus mengatur bangsanya, yaitu hukum sipil atau hukum umum, hukum yang menentukan sanksi-sanksi apa pemerintah harus berlakukan terhadap orang-orang yang kedapatan mencuri, membunuh, atau sebagainya. Kini, karena kita sebagai orang-orang Kristen belum memiliki pemerintahan sendiri, melainkan masih berada di bawah pemerintahan bangsa-bangsa yang ada sekarang, maka kita secara pribadi atau pun secara berkelompok tidak juga diharuskan untuk menegakkan hukum Musa itu.

Oleh sebab itu satu-satunya hukum Musa yang mungkin dapat dianjurkan kepada kita supaya diingat ialah bagian ketiga dari hukumnya itu, yaitu hukum moral, yang terdiri dari perkara-perkara yang berhubungan dengan kita secara pribadi, perkara-perkara yang kita secara pribadi harus lakukan, perkara-perkara yang menyempurnakan tabiat-tabiat kita, perkara-perkara yang membuat kita menjadi suatu umat yang istimewa. Sebab itu kita perlu sekali menyelidiki lalu melaksanakan segala perkara yang terkandung dalam hukum moral Musa itu, yaitu “Perintah-perintah, dan syariat-syariat dan hukum-hukum”. Ulangan 5 : 31.

Dan cara yang pasti untuk memilih ketentuan-ketentuan moral yang terpenting ini dari antara segala perkara yang berhubungan dengan upacara-upacara korban dan upacara-upacara resmi itu, ialah pergi kepada kitab Ulangan. Kitab ini berisikan kesimpulan-kesimpulan dari semua hukum-hukum dan syariat-syariat yang Musa bicarakan kepada Israel kuno yang lalu, yaitu kata-katanya yang terakhir.

Kita akan mulai dengan ramalannya dari hal keadaan situasi kita sendiri, dari hal pengembaraan kita di tanah bangsa-bangsa Kapir, seperti halnya pada hari ini, kenyataan yang pasti bahwa di dalam nasehat-nasehat tulisan Musa itu kita pun ada termasuk di dalamnya.

Ulangan 4 : 26 – 31:
“Aku memanggil langit dan bumi untuk menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini, bahwa kamu akan segera binasa selengkapnya dari pada tanah yang kamu tujui menyeberangi sungai Yarden untuk mempusakainya; tiada kamu akan melanjutkan umur di dalamnya, melainkan kamu akan dibinasakan selengkapnya. Maka Tuhan akan mencerai-beraikan kamu di antara segala bangsa, dan dari kamu akan tertinggal sejumlah kecil saja di antara orang-orang kapir, di mana Tuhan akan memimpin kamu. Maka di sana kamu akan berbakti kepada dewa-dewa, yaitu perbuatan tangan-tangan manusia, kayu dan batu, yang tidak dapat melihat, atau mendengar, atau makan, atau pun mencium. Tetapi jika dari sana kamu hendak mencari Tuhan Allahmu, maka kamu akan menemukan Dia, yaitu jika kamu mencari-Nya dengan sebulat-bulat hatimu dan dengan sebulat-bulat jiwamu. Bilamana kamu berada dalam kepicikan dan segala perkara ini sudah datang atas kamu, yaitu di akhir zaman, jika kamu berbalik kepada Tuhan Allahmu, lalu hendak mematuhi suara-Nya; (karena Tuhan Allahmu adalah suatu Allah yang berkemurahan) maka Ia tidak akan meninggalkan kamu, atau pun membinasakan kamu, ataupun melupakan perjanjian semua nenek moyangmu yang telah diucapkan-Nya kepada mereka itu dengan memakai sumpah”.

Di sini Musa meramalkan dari hal pecahnya kerajaan yang diharapkan pada waktu itu, dan tercerai-berainya bangsa Israel ke seluruh bangsa-bangsa, yaitu suatu situasi keadaan yang tepat di mana kita berada sekarang. Ia juga meramalkan di sini tentang masa kepicikan kita di akhir zaman, di masa kita sekarang, yaitu masa dimana kita sebagai orang-orang Kristen akan mendapatkan diri kita sebagai pelarian-pelarian dan orang-orang berdosa di antara segala bangsa, masa dimana kita dikunjungi oleh Ilham dan kita dinasehati untuk kembali kepadaTuhan, untuk ‘mematuhi suara-Nya.’ Maka jika kita patuh Ia akan mendengar doa kita dan menyelamatkan kita.

Oleh sebab itu kita hendaklah sekarang memperhatikan suara-Nya, dan apapun yang diperintahkan-Nya kita harus lakukan jika kita mengharapkan berkat-berkat-Nya turun ke atas kita.

Ingatlah kita dahulu kehilangan Kerajaan karena kelalaian mematuhi perintah-perintah dan syariat-syariat-Nya, maka adalah pasti bahwa Ia tidak akan membawa kembali kita ke dalam kerajaan itu selama kita masih tetap lalai mematuhi suaraNya. Dan di sinilah Suara itu yang berdengung pada telinga kita pada hari ini dengan sekeras-kerasnya sama seperti bunyi dengungannya pada telinga mereka itu di masa Musa dahulu:

Ulangan 5 : 11 – 21:
“Janganlah kamu menyebutkan nama Tuhan Allahmu dengan sia-sia, karena Tuhan tidak akan membebaskan dari pada salah orang yang menyebutkan nama-Nya dengan sia-sia. Peliharakanlah hari Sabat itu dan sucikanlah dia sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan Allahmu kepadamu. Enam hari lamanya hendaklah kamu bekerja, dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari yang ketujuh itu adalah Sabat dari Tuhan Allahmu. Dalam hari itu janganlah kamu melakukan pekerjaan apapun, baik kamu, ataupun anakmu laki-laki, ataupun anakmu perempuan, ataupun hambamu laki-laki, ataupun hambamu perempuan, ataupun lembumu, ataupun keledaimu, ataupun salah seekor ternakmu, ataupun orang asing yang berada di dalam pintu gerbangmu; supaya hamba-hambamu laki-laki dan perempuan dapat juga berhenti istirahat seperti kamu. Dan ingatlah, bahwa kamu pernah menjadi hamba di negeri Mesir, dan bahwa Tuhan Allahmu telah menghantarkan ke luar kamu dari sana oleh perantaraan suatu tangan yang berkuasa dan oleh perantaraan suatu lengan yang direntangkan; sebab itu Tuhan Allahmu memerintahkan kepadamu untuk memeliharakan hari Sabat itu. Berilah hormat akan bapamu dan akan ibumu, seperti yang diperintahkan Tuhan Allahmu kepadamu, supaya segala hari umurmu dapat diperpanjang, dan supaya ia itu dapat berjalan dengan baik bagimu di dalam negeri yang akan diberikan Tuhan Allahmu kepadamu. Janganlah kamu membunuh. Janganlah kamu berzinah. Janganlah kamu mencuri. Jangan kamu menjadi saksi yang palsu melawan sesamamu. Janganlah kamu ingin akan isteri milik sesamamu, jangan kamu ingin akan rumah milik sesamamu atau akan tanahnya, atau akan hambanya laki-laki, atau akan hambanya perempuan, atau akan lembunya, atau akan keledainya, atau akan apa saja kepunyaan sesamamu”.

Ulangan 6 : 5, 8:
“Dan hendaklah kamu mengasihi akan Tuhan Allahmu dengan sebulat-bulat hatimu, dan dengan sebulat-bulat jiwamu, dan dengan seluruh kuat kuasamu …. Dan hendaklah kamu mengikat semuanya itu pada tanganmu menjadi suatu tanda alamat, dan hendaklah semua itu bagimu menjadi bagaikan patam di antara kedua belah matamu.”

Ulangan 7 : 6, 12, 15:
“Karena kamu adalah suatu bangsa yang suci bagi Tuhan Allahmu, Tuhan Allahmu telah memilih kamu menjadi suatu umat istimewa bagi diri-Nya melebihi segala bangsa yang terdapat di atas permukaan bumi… Oleh sebab itu akan jadi kelak, bahwa jikalau kamu mematuhi segala hukum ini, dan memeliharakannya, dan melakukannya, bahwa Tuhan Allahmu akan meneguhkan bagimu perjanjian dan kemurahan yang telah dijanjikan-Nya kepada nenek moyangmu dengan memakai sumpah; ….. maka Tuhan akan menyingkirkan dari padamu segala penyakit, dan menjauhkan dari padamu segala bela penyakit di Mesir yang sudah kamu ketahui itu, tetapi semua itu akan ditimpakan-Nya ke atas segala orang yang membenci akan kamu”.

Menurut ayat-ayat ini kebanyakan dari pada penyakit-penyakit kita adalah disebabkan oleh tidak menurut. Dan dari kenyataan, bahwa adanya terdapat sekian banyak penyakit dalam sejarah kita sekarang ini membuktikan dengan sendirinya, bahwa dunia sedang memungut sepenuhnya hasil tuaian daripada pelanggarannya. Dan lagi, makin lama kita terus dalam dosa-dosa kita makin berbahaya kelak keadaan kita.

Ulangan 10 : 12, 13, 19, 20:
“Maka sekarang, hai Israel, apakah yang dituntut Tuhan Allahmu dari padamu, kalau bukan supaya takutlah akan Tuhan Allahmu, supaya berjalan dalam segala jalan-Nya, dan supaya kamu mengasihi Dia, dan supaya kamu berbakti kepada Tuhan Allahmu dengan sebulat-bulat hatimu dan dengan sebulat-bulat jiwamu, supaya kamu memeliharakan segala perintah Tuhan, dan semua syariat-syariat-Nya, yang ku perintahkan kepadamu pada hari ini bagi kebaikanmu ….. Sebab itu kasihilah orang asing, karena dahulu kamu pun adalah orang-orang asing di negeri Mesir. Hendaklah kamu takut akan Tuhan Allahmu; dan berbuat bakti kepada-Nya, dan kepada-Nya lah kamu harus bergantung, dan bersumpah demi nama-Nya”.

Ulangan 11 : 26 – 28:
“Bahwasanya, pada hari ini juga aku menghadapkan kepadamu suatu berkat atau suatu kutuk; suatu berkat, jika kamu mematuhi segala perintah Tuhan Allahmu, yang kupesankan kepadamu pada hari ini; dan suatu kutuk, jikalau kamu menolak mematuhi perintah-perintah Tuhan Allahmu, dan kamu berpaling dari pada jalan yang ku pesankan kepadamu pada hari ini, untuk mengikuti dewa-dewa yang lain yang tidak kamu kenal.”

Ulangan 12 : 32:
“Apapun perkara yang ku pesankan kepadamu itu, perhatikanlah supaya kamu melakukannya; janganlah ia itu kamu tambahi atau kurangi.”

Ulangan 14 : 3:
“Janganlah kamu makan sesuatu barang yang keji.”

Ulangan 18 : 10 – 12:
“Janganlah didapati di antara kamu seseorang yang menyuruh anaknya laki-laki atau anaknya perempuan berjalan melewati api, atau yang menggunakan ilmu tenung, atau orang hobatan, atau yang melihat dalam nujum atau orang sulapan, atau juru mantera yang membaca manteranya, atau yang bertanyakan hantu setan, atau yang tahu ilmu ramal, atau yang bertanyakan kepada orang mati. Karena semua orang yang melakukan segala perkara ini adalah suatu kekejian bagi Tuhan, maka karena sebab segala kekejian ini Tuhan Allahmu menghalaukan mereka itu jauh dari hadapanmu.”

Ulangan 22 : 5 – 11:
“Orang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki, dan orang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan, karena barangsiapa yang berbuat demikian adalah kekejian bagi Tuhan Allahmu. Jika sebuah sarang burung kebetulan berada di hadapanmu dalam perjalanan baik diatas pohon atau pun di tanah, apakah mereka adalah anak-anak burung yang kecil, atau telur-telur, dan induknya sedang duduk di atas anak-anaknya, atau di atas telur-telur itu, janganlah kamu mengambil induknya bersama-sama dengan anak-anaknya, melainkan hendaklah kamu melepaskan induknya pergi, lalu mengambil anak-anaknya bagi dirimu, supaya selamatlah kamu dan supaya dapat kamu memperpanjangkan umurmu kelak. Bilamana kamu membangun sebuah rumah yang baru, maka hendaklah kamu memagari atap rumah itu, supaya tidak kamu mendatangkan darah atas rumahmu itu jika sekiranya kelak seseorang akan jatuh dari sana. Janganlah kamu menaburi kebun anggurmu dengan bermacam-macam benih, supaya jangan hasil dari pada benih yang kau taburi itu dan hasil dari pada kebun anggurmu itu menjadi rusak. Janganlah kamu membajak dengan menggunakan seekor lembu berpasangan dengan seekor keledai bersama-sama. Janganlah kamu memakai baju yang berlain-lainnan jenis benangnya, misalnya daripada wol dan benang kapas bersama-sama”.

Dalam daftar perintah-perintah dan syariat-syariat yang tertentu ini anda dapat melihat, bahwa Allah sangat memperhatikan terhadap apa yang dipakai oleh umat-Nya dan apa yang dimakan mereka. Ia mengharapkan mereka supaya mereka menyayangi binatang-binatang. Ia menghendaki mereka supaya berhati-hati tidak membiarkan orang-orang yang tak sadar jatuh ke dalam perangkap, atau membiarkan orang-orang lain kesakitan oleh cara apapun juga. Kemudian juga, bahwa umat Allah harus berkebun sesuai dengan hikmat pengetahuan-Nya jika mereka mau memperoleh berkat-berkat-Nya bagi usaha mereka, dan jika mereka mau memperoleh kesehatan dari makanan yang dimakannya.

Ulangan 23 : 19 – 23:
“Janganlah kamu memberi pinjaman kepada saudaramu dengan memungut bunga; baik bunga uang, baik bunga yang berbentuk makanan, ataupun bunga dari setiap perkara yang berupa pinjaman dengan bunga, kepada orang asing kamu boleh memberi pinjaman dengan bunga, tetapi kepada saudaramu janganlah kamu memberi pinjaman dengan bunga; supaya Tuhan Allahmu dapat memberkahi kamu dalam segala perkara usaha tanganmu di dalam negeri kemana kamu pergi untuk mempusakainya.

Apabila kamu hendak bernazarkan suatu janji kepada Tuhan Allahmu, maka janganlah kamu lalai membayarkannya, karena Tuhan Allahmu pasti akan memintakannya dari padamu; maka ia itu akan menjadi dosa di dalam kamu. Tetapi jikalau kamu hendak bertahan untuk tidak bernazar, maka ia itu tidak akan menjadi dosa di dalam kamu. Apa yang telah keluar dari pada mulutmu hendaklah kamu pegang dan laksanakan; sama halnya dengan suatu persembahan sukarela  yang sudah kamu nazarkan kepada Tuhan Allahmu, yang sudah kamu janjikan dengan mulutmu, hendaklah kamu pegang dan laksanakan”.

Ulangan 24 : 6, 10 – 15:
“Janganlah orang mengambil batu kilangan yang atas atau pun yang bawah untuk jaminan, karena yang sedemikian itu ia mengambil nyawa orang untuk jaminan. . . . . .

Apabila kamu meminjamkan sesuatu kepada saudaramu, maka janganlah kamu masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil barang jaminan dari padanya. Hendaklah kamu berdiri di luar, dan orang itu kepada siapa kamu telah meminjamkan akan membawa keluar barang jaminan itu kepadamu. Dan jikalau orang itu miskin keadaannya, maka janganlah kamu tidur bersama-sama dengan barang jaminannya; melainkan bagaimanapun juga hendaklah kamu kembalikan kepadanya barang jaminan itu setelah masuk matahari, supaya ia dapat tidur dalam pakaiannya sendiri, dan diberkatinya akan dikau; maka ia itu akan merupakan kebenaran bagimu di hadapan Tuhan Allahmu. Janganlah kamu menindas seseorang hamba upahan yang miskin dan berkekurangan, apakah ia itu berasal dari saudara-saudaramu ataupun ia berasal dari orang-orang asing yang berada di dalam negerimu di dalam pintu-pintu gerbangmu; pada hari ini hendaklah kamu memberikan kepadanya upahnya sebelum masuk matahari; karena ia adalah miskin, dan ia menaruh harap akan upahnya itu, supaya jangan ia berseru kepada Tuhan melawan kamu, dan ia itu akan menjadi dosa bagimu.“

Umat Allah di sini dianjurkan supaya jangan menggadaikan kekayaan mereka atau pun peralatan-peralatan kerja mereka (jangan menggadaikan “bagian atas atau bagian bawah batu kilangan”) dengan mana mereka mencari nafkah. Dan janganlah mereka menagih dengan setepatnya terhadap saudara-saudara mereka yang miskin. Janganlah mereka melaksanakan penagihan dengan paksaan, dan janganlah mereka menunda-nunda pembayaran upah kepada orang miskin.

Ulangan 25 : 4, 13 – 16:
“Janganlah kamu memberangus mulut lembu yang sedang mengirik biji-bijian…. Janganlah ada dalam pundi-pundimu dua macam batu timbangan, yang besar dan yang kecil. Janganlah kamu memiliki di dalam rumahmu dua macam sukat, yang besar dan yang kecil. Melainkan hendaklah kamu memiliki suatu batu timbangan yang sempurna dan benar, suatu sukat yang sempurna dan benar harus kamu miliki; supaya segala hari umurmu dapat diperpanjang di dalam negeri yang akan dikaruniakan Tuhan Allahmu kepadamu. Karena semua orang yang melakukan perkara-perkara yang sedemikian ini, dan semua orang yang berbuat tidak benar, adalah suatu kekejian bagi Tuhan Allahmu”.

Ulangan 27 : 17, 21, 24, 26:
“Kutuklah orang yang menggeserkan batas tanah sesamanya. Maka segenap orang banyak akan mengatakan, Amin … Kutuklah orang yang tidur dengan setiap jenis binatang. Maka segenap orang banyak akan mengatakan, Amin …. Kutuklah orang yang membunuh sesamanya dengan sembunyi-sembunyi. Maka segenap orang banyak akan mengatakan, Amin ….. Kutuklah orang yang tiada membenarkan segala perkataan Torat ini untuk melakukannya. Maka seluruh orang banyak akan mengatakan, Amin”.

Ulangan 28 : 1 – 4, 6, 15-22, 27, 35:
“Maka akan jadi kelak, bahwa jikalau kamu hendak mematuhi dengan rajin akan suara Tuhan Allahmu, menurut dan melaksanakan semua perintah-Nya yang ku pesankan kepadamu pada hari ini, bahwa kamu akan diangkat tinggi oleh Tuhan Allahmu melebihi segala bangsa yang di bumi; maka segala berkat ini akan datang kelak atas kamu, dan ia itu akan sampai kepadamu, jikalau kamu hendak mematuhi akan suara Tuhan Allahmu. Berkatlah kelak kamu di dalam negeri, dan berkatlah kelak kamu di ladang. Berkatlah kelak buah kandunganmu, dan hasil dari pada tanahmu, dan hasil dari pada ternakmu, kandungan lembumu, dan kawanan dombamu. Berkatlah kamu kelak apabila kamu masuk, dan berkatlah kamu kelak apabila kamu keluar…

Tetapi akan jadi kelak, jikalau tiada kamu mau mematuhi akan suara Tuhan Allahmu, untuk mematuhi melaksanakan segala perintah-Nya dan segala syariat-Nya yang ku pesankan kepadamu pada hari ini; bahwa segala kutuk ini akan datang menimpa kamu, dan sampai kepadamu. Terkutuklah kelak kamu di dalam negeri, dan terkutuklah kelak kamu di padang. Terkutuklah kelak bakulmu dan simpananmu. Terkutuklah kelak buah kandunganmu, dan hasil tanahmu, dan kandungan lembumu, dan kawanan dombamu. Terkutuklah kelak kamu apabila kamu masuk, dan terkutuklah kelak kamu apabila kamu keluar. Tuhan akan mendatangkan atas kamu kutuk, huru-hara, dan pengajaran dalam segala usaha yang kamu kerjakan sampai engkau punah dan sampai engkau binasa dengan segeranya, karena jahat segala perbuatanmu, dengan mana kamu telah meninggalkan Daku. Tuhan akan mendatangkan penyakit sampar melekat kepadamu, sampai dihapuskan-Nya kamu dari negeri itu, kemana kamu pergi untuk mempusakainya. Tuhan akan memalu kamu dengan suatu batuk kering, dan dengan demam panas, dan dengan demam kepilau, dan dengan sakit radang, dan dengan pedang, dan dengan hama dan dengan penyakit gandum; maka semua itu akan mengejarmu sampai binasalah kamu ….. Tuhan hendak memalu kamu dengan penyakit puru Mesir, dan dengan borok, dan dengan kedal dan kudis, dari mana kamu tidak akan lagi sembuh… Tuhan akan memalumu pada lutut-lutut kaki, dan pada betis dengan bisul-bisul yang parah yang tak dapat lagi disembuhkan, mulai dari alas kakimu sampai ke puncak kepalamu”.

Semua ayat ini tidak lagi memerlukan penjelasan. Semua persyaratan sudah cukup jelas bagi semua orang.

Ulangan 30 : 15:
“Bahwa sesungguhnya aku menghadapkan kepadamu pada hari ini hidup dan kebajikan, atau mati dan kejahatan”.

1 Yahya 1 : 4 – 6:
“Maka segala perkara ini kami tuliskan kepadamu supaya sukacitamu dapat menjadi sempurna. Maka inilah berita yang sudah kami dengar dari hal Dia, maka kami sampaikan kepadamu, bahwa Allah ialah terang, maka di dalam Dia sama sekali tidak terdapat kegelapan. Jika kita mengatakan, bahwa kita telah bersekutu dengan Dia, lalu berjalan dalam kegelapan, maka kita berdusta dan tidak melaksanakan kebenaran itu”.

Yakub 2 : 19, 20:
“Engkau percaya bahwa terdapat ada satu Allah; itu benar; segala iblis pun percaya dan gementar. Tetapi maukah engkau mengetahui, hai manusia yang sia-sia, bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati?”.

Kepatuhanmu terhadap “semua perintah, dan syariat-syariat, dan hukum-hukum” dari hukum moral Musa itu, sebagai anda saksikan, adalah merupakan kenyataanmu bahwa anda telah dilahirkan kembali, bahwa anda telah diisi dengan kuasa dari atas, sehingga anda telah mampu untuk memilih yang baik dan menolak yang jahat, sehingga anda adalah anak-anak Allah. Maka mematuhi perintah-perintah dan syariat-syariat dalam Tuhan adalah terang dan pelindung hidupmu. Itu adalah tanda alamat lahiriah, bahwa oleh kehidupan Kristus anda telah dapat mengalahkan Musuh dari pada jiwa dan tubuhmu. Oleh sebab itu cara ibadah yang sedemikian ini adalah benar-benar Kebenaran oleh iman yang mendatangkan kebenaran Kristus di dalam umat Allah. Marilah kita sekarang dengan telinga yang terbuka lebar mendengarkan bunyi lonceng dari teriakan orang yang mengatakan:

Yesaya 52 : 1, 7:
“Jagalah, jagalah, kenakanlah kuatmu, hai Sion, kenakanlah pakaian-pakaian perhiasanmu, hai Yerusalem, kota suci; karena tiada lagi akan masuk ke dalammu barang seorang kuluppun atau yang najis … Betapa indahnya di atas gunung-gunung kaki orang yang membawakan kabar-kabar baik, yang memberitakan damai; yang membawakan kabar-kabar dari hal yang baik, yang memberitakan keselamatan; yang mengatakan kepada Sion, bahwa Allahmu memerintah!”

Nahum 1 : 15:
“Tengoklah di atas gunung-gunung kaki orang yang membawakan kabar-kabar baik, yang MEMBERITAKAN damai! Hai Yehuda, rayakanlah pesta-pesta perayaanmu, sampaikanlah segala nazarmu; karena ORANG JAHAT tidak akan lagi menyerang kamu; ia telah DILENYAPKAN sama sekali”.

Di sini kata-kata nubuatan Firman Allah menyatakan dengan jelas baik oleh nabi Yesaya maupun oleh nabi Nahum, bahwa apabila kita menyaksikan kabar-kabar baik ini diberitakan oleh orang yang kaki-kakinya terlihat di atas gunung-gunung (dan ini kini sedang berjalan untuk pertama kalinya semenjak kedua nabi itu menuliskannya), maka itu akan merupakan suatu pertanda, bahwa orang jahat, yaitu para pendurhaka terhadap undang-undang Musa, tak lama lagi akan dilenyapkan dari antara umat Allah.

Dan kini, karena anda telah memperoleh kesempatan untuk mendengarkan semua perkara ini, maka “berbahagialah anda, jika anda melakukannya”, demikian firman Tuhan. Ayub 13 : 17.

 

Sebagai kesimpulan dari penyelidikan kita ini saya ingin mengajak anda memandang kepada gambar di atas ini dengan sungguh-sungguh. Pandanglah pada gambar itu, ingatlah selalu di dalam ingatanmu, dan pelajarilah kembali pada waktu-waktu senggangmu. Yakinilah akan kebenaran yang sudah ku coba menyajikan kepadamu, karena itu adalah hidupmu, kemakmuranmu, kesehatan dan kebahagiaanmu, dan hidup kekalmu.

*****

 

 197 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart