<< Go Back
PEMBENARAN OLEH KARUNIA,
PEMBENARAN OLEH IMAN, DAN
PEMBENARAN DARI KRISTUS
Oleh:
Victor T. Houteff
Pendeta dari Persekutuan Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh
Sabat, 31 Juli 1948
Gereja Mount Carmel, Waco, Texas
Amerika Serikat
Banyak dibicarakan di antara kita dari hal “pembenaran oleh karunia” dan “pembenaran oleh iman”, juga dari hal “pembenaran dari Kristus.” Tetapi manfaat apakah semua pembicaraan ini kelak bagi kita jika kita tidak berbuat sesuatu untuk mencari apa sebenarnya semuanya ini, dan bagaimana membuat semua persoalan itu menjadi milik kita sendiri? Sebab itu kita harus tidak gagal dalam hal ini, dan kita tidak akan gagal jika kita mencari Tuhan dengan sebulat-bulat hati sambil kita menyelidiki semua contoh-contoh yang nyata yang sudah ditaruh di atas tangan saya ini oleh Roh Kebenaran.
Untuk memulai penyelidikan ini saya akan membaca dua ayat dari Injil, pertama-tama dari kitab Roma, kemudian dari kitab Ibrani, sebagai berikut:
Roma 11 : 6:
“Dan jika dari pada karunia, maka ia itu bukan lagi oleh karena perbuatan, sebab jika tidak demikian karunia itu bukan lagi karunia. Tetapi jika ia itu karena perbuatan, maka ia itu bukan lagi karunia, sebab jika tidak demikian perbuatan bukan lagi perbuatan”.
Kita telah terpanggil ke dalam pilihan Allah, demikianlah kata firman, bukan karena sesuatu perbuatan baik dari pihak kita sendiri, melainkan karena karunia Allah. Oleh sebab itu kita telah diundang untuk menjadi orang-orang Kristen, yaitu anak-anak Allah, bukan karena kita berhak untuk diangkat anak oleh-Nya, melainkan karena Ia berkenan terhadap kita. Sesungguhnya tidak ada jalan lain oleh mana kita dapat diselamatkan, karena kita semua telah berdosa; maka sebab itu bagaimana dapat kita diselamatkan kalau bukan oleh Dia; yaitu oleh karunia-Nya Ia mengampuni segala dosa kita Ialu membuat kita kembali memulai dari semula? Inilah yang disebut suatu kelahiran kembali, kesimpulan mana ialah, bahwa kita tidak berhak untuk masuk ke dalam rumah tangga Allah. Dialah yang berhak memasukkan kita.
Oleh kelahiran badani kita, kita telah dilahirkan sebagai orang-orang berdosa, tetapi oleh kelahiran rohani kita, kita dilahirkan sebagai orang-orang benar. Karena dilahirkan sebagai orang-orang berdosa kita mengabdi kepada dosa, tetapi karena dilahirkan sebagai orang-orang benar kita mengabdi kepada kebenaran. Karena itu bukan oleh perbuatan, melainkan oleh “karunia” sehingga kita berada sekarang sebagaimana adanya.
Ibrani 11 : 1:
“Adapun iman itulah percaya yang sungguh akan hal perkara-perkara yang diharapkan, dan keyakinan akan hal perkara-perkara yang tidak kelihatan”.
Oleh iman, bukan oleh penglihatan, kita mengetahui bahwa kita adalah anak-anak Allah, yaitu warga negara dari pemerintahanNya. Dan karena demikian inilah kita tunduk kepada peraturan-peraturan-Nya dan hukum-hukum-Nya. Karena demikian inilah kita menghormati dan menghargai Dia sebagai Juruselamat dan Raja kita.
Marilah kita sekarang sebagai contoh melihat ke belakang ke sejarah Nuh. Nuh hidup di dalam sebuah dunia yang sangat jahat. Adalah sedemikian jahatnya sehingga karena telah melebihi kemurahan Allah, maka Ia tak dapat lagi menahan diri-Nya sementara kejahatan terus berlangsung. Setelah sekian lamanya maka Ia memerintahkan Nuh supaya membangun sebuah bahtera, dan Ia berjanji bahwa semua orang, baik yang benar ataupun yang jahat, siapapun yang mau masuk ke dalam bahtera itu akan memperoleh kelepasan dari bencana banjir yang dahsyat itu. Oleh karena mereka tidak menghargai suatu tawaran kesayangan yang sedemikian ini, maka kepada mereka ditawarkan kelepasan dari air bah hanya melalui “pembenaran oleh karunia” – artinya mereka dihargai dengan pembenaran dan dikaruniai hidup yang mereka sendiri tidak hargai. Jadi kita saksikan “karunia” mengambil kesempatan untuk menyelamatkan orang berdosa jauh kebelakang sampai di masa sejarah Nuh. Maka demikianlah “dimana dosa melimpah, di sana karunia pun lebih melimpah lagi”. Roma 5 : 20.
Juga di masa sejarah Ibrahim, hanya kira-kira 400 tahun sesudah air bah dunia telah terjerumus jauh dalam penyembahan berhala, dan Allah telah memerintahkan Ibrahim untuk keluar meninggalkan rumah bapanya, meninggalkan negerinya yang penuh berhala itu, dan pergi ke suatu negeri yang lain yaitu negeri yang diperuntukkan baginya dan bagi umat Allah saja. Dan karena setiap orang, yang baik ataupun yang jahat, yang telah mengikuti Ibrahim dan Allahnya diijinkan dengan bebas untuk masuk ke Tanah Perjanjian itu seperti halnya orang-orang sebelum masa air bah telah diijinkan untuk memasuki bahtera, maka oleh karena itu mereka pun diberikan “pembenaran oleh karunia”; artinya mereka diberi hak untuk berpihak kepada Allah dengan Ibrahim dan memperoleh bagian berkat, tetapi bukan karena sesuatu perbuatan baik dari pihak mereka sendiri. Setelah bertahan sampai kepada penghabisan, maka Ibrahim, yang imannya tidak gagal itu telah menjadi bapa dari semua orang yang oleh “pembenaran oleh karunia” mencapai “pembenaran oleh iman”. Oleh karena anda saksikan bahwa “pembenaran oleh karunia” yang mula-mula membawa kita masuk ke dalam “pembenaran oleh iman”, maka pahalanya ialah “pembenaran dari Kristus”.
Kemudian dalam sejarah datanglah suatu masa di mana siapa saja, baik orang yang baik maupun orang yang jahat bersama-sama mengikuti pergerakan Exodus keluar dari Mesir, mereka memperoleh kelepasan dari tuan-tuan tanah kepunyaan Phiraun dan dari kejaran tentara Phiraun yang mengejar mereka itu dari beIakang. Kelepasan ini mereka peroleh bukan karena mereka berhak memperoleh kelepasan, melainkan karena “karunia” Allah terhadap mereka itu. (Lihat Yeheskiel 20 : 1 – 8). Demikianlah mereka semua berada di bawah awan, dan semua berjalan melalui laut; dan semuanya telah dibaptis bagi Musa di dalam awan dan di dalam Iaut; dan semuanya memakan makanan rohani yang sama; dan semuanya meminum minuman rohani yang sama, karena mereka minum dari pada Batu Karang rohani yang mengikuti mereka, dan Batu Karang itu ialah Kristus”. 1 Korinthi 10 : 1 – 4. Benar, melalui “pembenaran oleh karunia” tak seorangpun dikecualikan dari ikut mengambil bagian dalam berkat-berkat yang ditawarkan.
Setelah memperoleh “pembenaran oleh karunia” yang cukup untuk menyeberangi lautan, dan setelah turun ke padang beIantara, maka mereka kemudian memperoleh kesempatan yang terbaik untuk mempraktikkan “pembenaran oleh iman”. Tetapi hanya orang-orang yang telah mempraktikkan “pembenaran oleh iman” yang hidup terus dan masuk ke Tanah Perjanjian. Sungguhpun demikian, orang-orang yang tidak lagi memerlukan “i m a n” di padang belantara seperti yang mereka butuhkan di Mesir, mereka telah binasa di padang belantara itu.
Akhirnya tibalah masanya bagi orang-orang yang setia untuk mempusakai tanah itu. Dan demikianlah halnya, bahwa hanya orang-orang yang “pembenaran oleh iman”nya telah membantu mereka, yang berhasil menyeberangi Sungai Yarden. Tak ada orang lain yang berbuat demikian. Maka bagi kebaikan kita Rasul itu telah meninggalkan nasehat yang berikut ini: “Sebab itu hendaklah kita takut, supaya jangan kita ketinggalan terhadap janji-Nya untuk masuk ke dalam perhentian-Nya, supaya jangan barang seorang dari padamu tertinggal di belakang. Karena kepada kita Injil sudah diberitakan, sama seperti juga kepada mereka; tetapi Firman yang dihotbahkan itu tidak mendatangkan manfaat bagi mereka, sebab tiada disertai iman di dalam diri mereka yang mendengarkannya.” Iberani 4 : 1, 2.
Sejauh penyelidikan kita sampai di sini telah kita saksikan, bahwa Allah tidak pilih kasih, bahwa la telah berusaha untuk menyelamatkan semua umat pada segala zaman dengan cara yang sama seperti yang sedang Ia usahakan untuk menyelamatkan kita di waktu ini; bahwa Ia tidak melakukan percobaan-percobaan bagi diri-Nya sendiri — tidak menyelamatkan kita dengan cara yang satu dan menyelamatkan orang lain dengan cara yang lain lagi.
Kerajaan pada akhirnya didirikan di Tanah Perjanjian dan umat dibiarkan untuk terus berada dalam “pembenaran oleh iman”. Tetapi seperti halnya di masa-masa yang lalu “i m a n” kembali menjadi layu, dan bangsa itu menjadi sedemikian jahatnya, — begitu jahatnya sehingga Allah tidak dapat lagi membiarkannya untuk dipanggil dengan nama-Nya sementara mereka hidup di tanah-Nya itu. Segera itu juga baik kaabah maupun istana — baik yang rohaniah maupun yang badaniah — kedua-duanya diratakan sampai ke tanah, dan bangsa itu dibawa pergi.
Allah bagaimanapun juga tetap berpegang pada umat-Nya sama seperti seorang ibu memegang anak-anaknya, maka sesudah tujuh dasawarsa Ia kembali memberikan kepada mereka pembenaran oleh karunia, Allah memberikan kepada mereka kesempatan untuk kembali ke tanah air mereka di mana di sana dapat mereka menikmati pembangunan dan reformasi, tetapi hanya untuk sementara waktu. Gantinya mereka terus berada dalam “pembenaran oleh i m a n,” mereka ternyata telah lepas dari “karunia” dan menjadi tujuh kali lebih jahat dari pada para leluhurnya.
Demikianlah haInya sehingga kalau saja Allah pada waktu itu akan menyelamatkan salah seorang anggota dari bangsa itu Ia hanya dapat melakukannya dengan cara menawarkan suatu kesempatan “karunia” yang lain lagi. Kali ini Ia mengaruniakan Anak-Nya sendiri, Yesus Kristus, yaitu Juruselamat yang memikul semua kejahatan kita. Maka kemudian, sekalipun bengis dan jahat baik bangsa Yahudi maupun bangsa Kapir, semua mereka diundang kepada pemberian “karunia” yang terbesar itu, yaitu karunia yang hanya dapat diberikan oleh nyawa dari Anak Allah. Rasul-rasul sendiri pun tidak karena sesuatu perbuatan baik dari diri mereka, melainkan oleh perantaraan pemberian “pembenaran oleh karunia” ini, mereka memperoleh hak untuk ikut mengambil bagian “pembenaran oleh iman.”
Dan demikianlah segala orang yang tidak benar, semua pelanggar hukum Allah, selalu mendapat undangan melalui “pembenaran oleh karunia” untuk datang masuk kepada “pembenaran oleh iman”, yaitu satu-satunya pembenaran yang benar-benar akan memperoleh pahala “pembenaran Kristus”, dan hidup kekal. Ilham mengatakan, “Sekarang orang benar akan hidup oleh iman; tetapi jika seseorang menarik diri, maka jiwa-Ku tidak akan berkenan kepadanya.” Iberani 10 : 38. Saudara saksikan, orang benar itu hidup oleh iman, tetapi orang jahat hidup oleh karunia. “Karunia”, sebagai saudara catat, bukanlah sentuhan penyelamatan yang terakhir. “Karunia” ditambah “i m a n” ditambah “pembenaran Kristus” akan menghasilkan hidup kekal.
Lagi pula, hukum itu tidak menyelamatkan. Hukum mempersalahkan dosa dan menegakkan kebenaran. “Sebab itu oleh pelaksanaan hukum tak seorang pun akan dapat dibenarkan di hadapan-Nya; karena oleh hukum terdapat pengenalan akan dosa.” Roma 3 : 20. Karena sudah menjadi seorang berdosa, maka oleh hukum manusia dihukum mati. Oleh sebab itu, hanya oleh “karunia” dapatlah ia dibebaskan dari tuduhan hukum. Akibatnya, orang berdosa adalah pelanggar hukum, dan orang benar adalah pemelihara hukum. Oleh sebab itu “karunia” memaafkan orang berdosa, membiarkan dia keluar dari penjara, demikianlah dimisalkan, lalu memberikan kepadanya suatu kesempatan lain untuk menang atas dosa; tetapi “i m a n” tetap mempertahankannya bebas. Kesimpulan dari masalah ini ialah: “pembenaran meIalui karunia” ialah pembenaran melalui pengampunan, tetapi “pembenaran melalui iman” ialah pembenaran karena tindakan, maka ia itu akan dimahkotai dengan “pembenaran Kristus”.
Mengulangi: “Karunia” mengampuni semua dosa kita dan memerdekakan kita – memberikan kepada kita suatu kesempatan lain Iagi untuk membuat hidup ini menjadi sebagaimana yang sepatutnya. Akibatnya, jika anda berada di bawah “karunia”, maka anda tidak berada di bawah hukum, karena “karunia” telah menjadikan anda bebas dari hukuman yang dijatuhkan oleh hukum.
Karena gagal mempertahankan “pembenaran oleh iman” maka orang-orang Yahudi kembali jatuh lepas dari “karunia”; dan karena oleh hukum mereka dijatuhi hukuman kematian yang kekal, maka kepada mereka kembali diberikan “karunia” — suatu kesempatan yang kedua kali — yaitu melalui kematian dari Anak Allah. Orang-orang yang memanfaatkan bagi dirinya “karunia” itu kemudian memasuki sidang Kristen untuk selanjutnya tetap tinggal bebas, dan untuk tidak berdosa lagi terkecuali karena kekeliruan, karena kecelakaan, atau karena kurang pengetahuan, dosa-dosa mana dari kita dapat dimaafkan asalkan tidak terus kita melakukannya.
Ilham mengatakan: “Hai anak-anakku, segala perkara ini kutuliskan bagimu supaya kamu tidak berdosa. Dan jika seseorang berdosa, maka kita mempunyai seorang pembela pada Bapa, yaitu Yesus Kristus yang benar itu; maka Ia adalah korban penebus bagi segala dosa kita; dan bukan bagi dosa-dosa kita saja, melainkan juga bagi dosa-dosa seluruh dunia. Maka oleh karenanya kita mengetahui, bahwa kita mengenal Dia, jika kita memeliharakan segala perintah-Nya. Barangsiapa yang mengatakan, saya mengenal Dia tetap tidak memeliharakan perintah-perintah-Nya, ia adalah pembohong, maka kebenaran tidak terdapat didalam dirinya. Tetapi barangsiapa yang memeliharakan Firman-Nya begitu, di dalam dialah kasih Allah benar-benar disempurnakan; demikianlah kita mengetahui, bahwa kita berada di dalam Dia.” 1 Yahya 2 : 1 – 5.
Walaupun demikian, sidang Kristen tidak lama berjalan dalam “karunia”, karena ia pun dalam suatu masa telah jatuh lebih jauh lagi daripada kejatuhan Gereja Yahudi. Perlu sesuatu dilakukan juga baginya jika seseorang dari antara anggota-anggotanya hendak dibebaskan, dan jika Allah masih akan memiliki sebuah sidang di atas bumi ini. Tak dapat disangkal, bahwa yang disebut “sesuatu” itu tak lain adalah Reformasi Protestan. Namun karena kita semua ketahui bahwa Reformasi itu belum menyelesaikan maksud Ilahi yang telah ditentukan, belum mencapai persamaan dan iman yang pernah dinikmati Sidang pada hari Pantekosta yang Ialu, maka jelaslah bahwa suatu usaha pembangunan dan reformasi yang lain lagi adalah mutlak diperlukan. Tetapi untuk mengetahui semua ini secara pasti, maka kita harus melihat kepada “kata-kata nubuatan yang lebih pasti”, yaitu kepada nabi Yeheskiel.
Yeheskiel 4 : 1, 2:
“Engkau juga, hai anak Adam, ambillah bagimu sebuah batu bata, lalu letakkanlah itu di depanmu, dan gambarkanlah padanya rupa kota Yerusalem. Dan kepunglah kota itu, dan perdirikanlah sebuah benteng pertahanan melawan dia, dan timbunlah tanah mengepung dia, perdirikanlah kemah pertahanan melawan dia, dan letakkan alat-alat pendobrak melawan dia berkeliling.”
Di sini nabi itu diperintahkan untuk mengukirkan sebuah kota, yaitu suatu Yerusalem – ibu kota dari Sidang. Tentu saja Yerusalem ini bukanlah benar-benar Yerusalem secara geografis, melainkan sebuah kota yang menggantikan apa yang diartikan dengan Yerusalem itu sendiri — yaitu Sidang yang tercerai-berai di antara seluruh bangsa-bangsa “Kapir”. Lagi pula, kepada Yeheskiel sendiri sesunguhnya dikatakan, bahwa lambang ini adalah mengenai sidang selama tercerai-berainya di antara bangsa-bangsa Kapir. (Lihat: ayat 13). Selanjutnya Yeheskiel diperintahkan supaya mengepung kota itu untuk merebutnya. Kini, karena Yerusalem ini adalah menggantikan Sidang selama masih berada di antara bangsa-bangsa Kapir, dan karena Allah memerintahkan kepada hamba-Nya sendiri, nabi itu, untuk mengepungnya, untuk menantangnya, dan untuk merebutnya, maka sebab itu jelaslah bahwa Sidang, yaitu Yerusalem yang digambarkan disini, diperlihatkan sebagai sedang meninggalkan Allah, dan bahwa Allah sedang berusaha untuk menyelamatkannya, menggiatkan suatu pembaharuan di tengah-tangahnya. Oleh sebab itu untuk alasan sedemikian inilah terdapat adanya pengepungan Yeheskiel itu.
Akhirnya, karena sidang Kristen, Yerusalem, terlepas dari lokasi geografis asalnya, adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah telah diserang, atau dikepung, oleh Marthin Luther — yaitu oleh Reformasi Protestan — maka kegenapan dari nubuatan ini jelas dimulai semenjak Luther. Kenyataan ini akan terllhat di seluruh pasal jika kita terus menyelidikinya pasal demi pasal.
Yeheskiel 4 : 3:
“Dan lagi ambiIIah bagimu sebuah kuali besi, dan taruhlah akan dia menjadi sebuah dinding besi di antara kamu dan kota itu; dan arahkanlah mukamu menantangnya, maka ia akan terkepung, maka hendaklah kamu mengepungnya. Ini akan menjadi suatu tanda bagi isi rumah Israel.”
Tembok besi, yang digambarkan oleh kuali besi itu, adalah suatu lambang yang sempurna mengenai pemisahan yang terdapat di antara Luther dan apa yang disebut Yerusalem itu, yaitu Sidang. Ini merupakan suatu pertanda, bukan bagi Yehuda, kerajaan dua suku contoh saingan yang terdapat di antara bangsa-bangsa Kapir, melainkan bagi Israel, yaitu bagi anggota-anggota dari kerajaan sepuluh suku contoh saingan selama tercerai berai mereka itu di antara segala bangsa.
Yeheskiel 4 : 4, 5:
“Hendaklah engkau berbaring juga pada sisi kirimu; dan letakkanIah kejahatan isi rumah Israel di atasnya; sesuai dengan angka bilangan segala hari yang harus engkau berbaring di atasnya itu hendaklah engkau memikul segala kejahatan mereka itu. Karena sudah Ku letakkan atasmu tahun-tahun kejahatan mereka itu, sesuai dengan angka bilangan segala hari, yaitu tiga ratus sembilan puluh hari lamanya; demikianlah keIak engkau akan menanggung kejahatan isi rumah Israel.” (Terjemahan yang lebih tepat).
Meletakkan kejahatan seseorang ke atas orang lain, ialah membebaskan orang berdosa dari hukuman yang harus dipikulnya. Ini adalah suatu tindakan yang memberikan pinjaman kredit “pembenaran” kepada orang berdosa yang belum memperolehnya, dan inilah yang oleh Ilham disebut “pembenaran oleh karunia” itu. Sebelumnya kejahatan orang-orang Yahudi ditanggungkan ke atas Kristus, dan bangsa itu diberikan kesempatan untuk melangkah ke luar meninggalkan sel-kematiannya, demikianlah dimisalkan, dan untuk berdiri merdeka dalam Kristus. Banyak dari mereka, tetapi tidak semuanya, kemudian memanfaatkan bagi dirinya “pembenaran oleh karunia” ini lalu melangkah masuk ke dalam “pembenaran oleh iman”. Karunia yang sama ini pun, sebagai anda saksikan, telah ditawarkan kepada Sidang dalam abad ke-enam belas yang lalu, karena untuk meletakkan semua kejahatan isi rumah Israel ke atas Yeheskiel berarti secara praktis sama saja dengan meletakkan segala kejahatan kita semua ke atas Kristus.
Karunia ini oleh perantaraan Yeheskiel berlangsung selama 390 hari — tahun (ayat 6). Sesudah jangka waktu ini, maka isi rumah Israel, yaitu gereja-gereja Protestan, akan memikul sendiri kejahatan-kejahatan mereka; artinya, sesudah jangka waktu yang diberikan ini habis, maka tawaran “karunia” yang diperpanjang ini berakhir dan tidak akan ada Iagi yang Iain. Yeheskiel kemudian tidak lagi memikul dosa-dosa mereka. Kemudian adalah masa dimana mereka harus berpegang teguh kepada “pembenaran oleh
iman” jika mereka hendak diberi penghargaan “pembenaran Kristus” dan hidup kekal.
Yeheskiel 4 : 6, 7:
“Maka apabila sudah engkau menyelesaikan segala hari itu, berbaringlah kembali engkau pada sisi kananmu, maka engkau akan memikul kejahatan isi rumah Yehuda empat puluh hari lamanya; aku telah menentukan bagimu setiap hari untuk setahun. Oleh sebab itu hendaklah engkau menengadakan mukamu arah ke pengepungan Yerusalem, dan lenganmu hendaklah terbuka, maka hendaklah engkau bernubuat akan halnya”.
Yeheskiel harus berbaring pada sisi kanannya, bukan saja karena kejahatan isi rumah Israel, melainkan juga karena kejahatan isi rumah Yehuda, maka demikianlah ia menanggung kejahatan mereka itu juga untuk selama empat puluh tahun. Dan begitulah kedua isi rumah itu (keseluruhan dunia Kristen) diberikan kesempatan yang sama. Yang satu datang lebih dulu pada waktunya, dan yang lainnya pada akhirnya. Tiga ratus sembilan puluh tahun lamanya “karunia” diberikan kepada yang pertama, dan empat puluh tahun kepada yang kemudian, jumlah keseluruhannya 430 tahun. Selama jangka waktu ini mereka akan menang atas dosa, dan pada akhirnya memperoleh “pembenaran oleh iman”, dan diberi pahala “pembenaran Kristus”. Tahun yang tepat dimana jangka waktu 430 tahun ini dimulai akan kita saksikan sementara kita terus melanjutkan penyelidikan kita.
Yeheskiel 4 : 7, 8:
“Oleh sebab itu hendaklah engkau tujukan mukamu arah ke pengepungan Yerusalem, dan lenganmu hendaklah terbuka, dan hendaklah engkau bernubuat akan halnya. Maka tengoklah, bahwa Aku akan membubuhi tali atasmu supaya janganlah engkau berbalik dirimu dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya, sampai keIak engkau mengakhiri segala hari pengepunganmu itu”.
Pembentangan lengan Yeheskiel tentunya berarti, bahwa kekuatan dari Reformasi akan dapat terlihat, dan dosa-dosa Yerusalem akan diteIanjangi secara terbuka — dari halnya akan dinubuatkan.
Lagi pula segala perkara yang dibicarakan di sini pasti akan jadi, karena Yeheskiel telah diikat sedemikian rupa supaya ia tidak akan dapat berbalik dan merubah lambang yang sudah digariskan ini. Ia tidak dapat bangun dengan semaunya sebeIum ia berhasil menyelesaikan perintah Allah, sebelum ia berhasil mengakhiri segala hari pengepungan itu. Kemudian pada akhir dari masa ini ia akan bangun dan semenjak itu dan seterusnya biarlah setiap orang memikul sendiri kejahatannya. Oleh sebab itu, YeheskieI sementara berbaring adalah melambangkan keadaan-keadaan selama Reformasi semenjak dari sejarah Luther sampai kepada akhir dari masa 430 tahun itu. Kemudian Yeheskiel bangun Ialu ia dijadikan pengawal: “Hai anak Adam, Aku telah menjadikan engkau seorang pengawal bagi isi rumah Israel; sebab itu dengarlah olehmu firman dari mulut-Ku, dan berikanlah kepada mereka amaran dari pada-Ku”. Maka karena nubuatan ini adalah kini untuk pertama kalinya diungkapkan, maka jelaslah, bahwa Yeheskiel adalah khusus melambangkan usaha terakhir ini dari pembangunan dan reformasi yaitu melambangkan usaha sesudah Yeheskiel berbaring dan sementara ia bangkit dan aktif. Akibatnya, usaha yang sama yang telah dimulai oleh Luther dalam abad ke enam belas itu akan kelak dikerjakan dalam cara yang lebih besar lagi sekarang ini dalam abad ke dua puluh, karena demikian inilah tantangan dari nabi itu.
Perbedaan di antara Reformasi selama masa 430 tahun itu dan Reformasi yang satunya sesudah itu adalah sebagai berikut: Selama jangka waktu 430 tahun itu “karunia” masih tetap ada, namun sebaliknya sesudah jangka waktu itu habis, dan sementara Yeheskiel bangkit, maka barang siapa yang gagal berpegang kepada “pembenaran oleh iman” mereka sendirilah yang harus membayar untuk semua dosa-dosanya. Dosa-dosa mereka tidak lagi dapat dipikulkan ke atas Yeheskiel, dan Yeheskiel tidak lagi berbaring dan berdiam diri; mereka tidak lagi dapat dimaafkan karena alasan tidak tahu sesudah amaran disampaikan ke telinga mereka, karena YeheskieI dengan jelas mengatakan:
“Hai anak Adam, Aku sudah menjadikan dikau pengawal bagi isi rurnah Israel; sebab itu dengarlah olehmu akan Firman dari mulut-Ku, dan berikanlah kepada mereka amaran dari pada-Ku. Apabila Aku berfirman kepada orang jahat itu, Tak dapat tiada engkau akan mati kelak; dan tiada kamu berikan amaran kepadanya, ataupun berbicara mengamarkan kepada orang jahat itu untuk meninggalkan segala jalannya yang jahat, untuk menyelamatkan hidupnya; orang jahat itu tak dapat tiada akan mati kelak dalam kejahatannya, tetapi darahnya akan Ku tuntut dari tanganmu. Tetapi jika kamu mengamarkan orang jahat itu, namun tidak juga ia berbalik dari pada segala kejahatannya, ataupun dari segala jalannya yang jahat, ia tak dapat tiada akan mati dalam kejahatannya, tetapi kamu telah berhasil melepaskan jiwamu. Kembali, apabila orang benar itu menyimpang dari pada kebenarannya, lalu terlibat dalam kejahatan, dan Aku meletakkan sebuah batu sandungan di hadapannya, ia akan mati kelak; karena kamu tidak memberikan amaran kepadanya, maka ia akan mati dalam dosanya, dan kebenarannya yang telah diperbuatnya itu tidak akan diingat lagi; tetapi darahnya akan Ku tuntut dari tanganmu. Tetapi bagaimanapun juga jika kamu mengamarkan orang benar itu sehingga tidak ia berdosa, dan tidak ia berbuat dosa, maka ia pasti akan hidup, sebab ia telah diberi amaran; juga kamu telah menyelamatkan jiwamu”. — Yeheskiel 3 : 17 – 21.
Yeheskiel 4 : 9 – 11:
“Dan lagi hendaklah diambil olehmu akan gandum dan syeir dan kacang dan miju dan sekui dan cawak, masukkanlah semuanya itu ke dalam sebuah bejana dan buatlah roti dari padanya bagi dirimu, maka sesuai dengan angka bilangan segala hari engkau berbaring pada sisimu yang satu itu, yaitu tiga ratus sembilan puluh hari hendaklah kamu makan dia. Dan makanan yang akan kamu makan itu hendaklah beratnya dua puluh syikal sehari; dari waktu ke waktu hendaklah kamu makan dia. Dan lagi air pun hendaklah kamu minum sesuai takarannya, yaitu seperenam hin; dari waktu ke waktu hendaklah kamu minum dia”.
Biji-bijian yang disebut dalam ayat 9 adalah sebanyak enam macam, dan tentunya melambangkan makanan rohani, yaitu makanan yang telah disuguhkan kepada kawanan domba selama
masa 390 tahun. Enam jenis biji-bijian tidak saja menunjuk kepada enam macam kebenaran, ajaran-ajaran yang disampaikan kepada kawanan domba selama jangka waktu 390 tahun itu, melainkan juga menunjuk kepada tidak lengkapnya Kebenaran, sebab angka tujuh, bukan enam, adalah petunjuk Alkitab mengenai kelengkapan. Semua itu adalah hasil ajaran-ajaran yang dibawakan oleh para reformator dalam:
(1) Ajaran tentang i m a n yang telah mendirikan organisasi gereja Lutheran; (2) ajaran tentang R o h yang telah mendirikan organisasi gereja Presbyterian; (3) ajaran tentang k a r u n i a yang telah mendirikan organisasi gereja Methodist; (4) ajaran tentang b a p t i san yang telah mendirikan organisasi gereja Baptist; (5) ajaran tentang kedatangan Kristus yang kedua kali yang telah mendirikan organisasi gereja Masehi Advent Hari Pertama; (6) ajaran tentang pembersihan tempat suci berikut Sabat Hari Ketujuh yang telah mendirikan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. (Semua sekte agama lainnya dengan berbagai tambahan ajarannya di sana sini, pengurangan-pengurangannya di sana sini, dan penghapusan-penghapusannya di sana sini, jelas telah muncul sebagai cabang-cabang dari enam organisasi gereja di atas ini).
Orang dapat saja mengemukakan argumentasi, walaupun hanya sesuatu yang tak bakal menang, mengenai organisasi-organisasi gereja yang disebutkan di atas ini, tetapi orang sulit untuk dapat mengemukakan sesuatu argumentasi yang jujur melawan kenyataan, bahwa keenam ajaran ini (kacang-kacangan) adalah ajaran-ajaran utama pada mana faham Protestant secara keseluruhan telah didirikan. Tetapi, terlepas dari apakah semua itu adalah ajaran-ajaran ini atau ajaran-ajaran lainnya, kebenaran bahwa semuanya adalah hanya enam, berarti bahwa kebenaran yang ketujuh masih akan kelak diungkapkan. Lagi pula, Ilham mengatakan, bahwa kebenaran-kebenaran ini akan diberikan secara ditakar sedikit-sedikit, sesuai dengan beratnya, — bukan apa saja yang berkenan dengan pokok masalah ini, — dan semua dunia Kristen mengetahui bahwa memang inilah masalahnya.
Yeheskiel 4 : 12 – 15:
“Dan hendaklah kamu makan dia sebagai kue apam syeir, dan hendaklah kamu membakarnya dengan tahi yang keluar dari manusia di hadapan mata mereka itu. Maka firman Tuhan, demikianIah juga kelak segala bani Israel akan makan rotinya yang telah dinajiskan itu di antara segala bangsa Kapir, kemana mereka itu akan Ku halau keluar. Kemudian sembahku: Ya Tuhan Hua! Tengoklah, belum pernah jiwaku menjadi najis; karena semenjak dari masa mudaku sampai sekarang belum pernah aku memakan bangkai atau barang sesuatu binatang yang tercarik-carik; belum pernah masuk ke dalam mulutku sesuatu daging yang keji. Maka firman-Nya kepadamu, lihatlah, bahwasanya Ku berikan kepadamu tahi lembu akan ganti tahi manusia, maka hendaklah kamu mempersiapkan rotimu dengannya”.
Sebagaimana halnya apam syeir yang telah memalu dan membinasakan perkemahan orang-orang Midian dahulu itu telah meramalkan bantuan Ilahi bagi kemenangan Gideon atas orang-orang Midian, demikianlah pula kacang-kacangan yang dimakan sebagai apam syeir melambangkan bahwa kebenaran-kebenaran yang diterima adalah bagaikan dari Roh, bagaikan dari Tuhan asalnya. Walaupun demikian, dalam mempersiapkan kue-kue apam itu telah masuk bagian yang meragukan di dalamnya, karena Ilham menunjukkan bahwa semua ini telah dibakar di atas “t a h i” bukan di atas kayu api, secara tegas menunjukkan bahwa kebenaran-kebenaran ini telah dinajiskan oleh manusia sewaktu sementara dipersiapkan bagi kawanan domba. Dan apa lagi yang dimaksudkan oleh persiapan itu kalau bukan interpretasi-interpretasi pribadi, penghapusan di sana-sini, pengacauan-pengacauan, dan berbagai aplikasi yang salah yang dibuat oleh orang-orang yang tidak diilhami yang berhotbah di atas mimbar-mimbar membicarakan pokok-pokok masalah ini, dan yang menulis apa yang disebut kebenaran-kebenaran Alkitab yang murni lalu menyampaikannya kepada seluruh umat, bukan?
Tidak ada rahasia dalam hal ini, karena setiap orang tahu, bahwa berbagai angin ajaran sedang meniup dari segala jurusan, yang satu bertentangan terhadap yang lainnya, tak mungkin semuanya merupakan kebenaran Alkitab yang murni. Satu-satunya bagian yang menggembirakan ialah, bahwa Ilham telah meramalkannya begitu sejak dahulu, dan bahwa tak seorang pun menemukannya sebelum Ilham sendiri yang mengungkapkannya.
Allah tentu saja tidak menahan ini dari setiap orang, karena Ia mengatakan: “Bahkan demikian juga kelak bani Israel akan makan roti mereka yang telah dinajiskan itu di antara segala bangsa Kapir, kemana akan Ku halau mereka itu pergi”. Yeheskiel 4 : 13.
Demikianlah Nubuatan menyatakan, bahwa yang sedemikian inilah telah menjadi makanan rohani dengan mana kawanan domba telah diberi makan selama 390 tahun lamanya, yaitu tahun-tahun selama Reformasi. Dan siapakah yang dapat menyangkal hal ini? Maka masih herankah kita organisasi gereja mana yang sedang mengurusi Kebenaran yang tidak dipalsukan bagi anggota-anggotanya? Nubuatan menyatakan bahwa tidak ada satupun organisasi gereja, karena yang sedemikian itulah yang akan menjadi makanan bagi semua orang selama masa 390 tahun itu. Maka jika mereka tidak memperoleh Kebenaran Surga baru yang di ilhami sesudah berlalu masa 390 tahun itu, maka mereka tak dapat tiada harus memakan roti yang dipanggang diatas “t a h i” untuk selamanya, sampai mati dengannya.
Saya katakan sekali lagi, bahwa ini hendaknya tidak perlu menjadi sesuatu yang mengherankan bagi siapapun, karena setiap orang tahu bahwa oIeh sebab semua organisasi gereja tidak ada yang sefaham antara sesamanya dalam masalah doktrin, maka mereka semuanya tidak mungkin benar. Tetapi adalah mungkin mengherankan untuk mengetahui, bahwa tidak satu pun yang adalah mutIak benar.
Nubuatan menyatakan, bahwa keterbatasan kebenaran-kebenaran manusia yang rusak telah disampaikan kepada dunia Kristen supaya mereka itu “tercengang”, supaya mereka dapat menyadari akan kemelaratan mereka, kebutuhan mereka terhadap suatu kebenaran yang mutIak, supaya apabila datang kelak Roh Kebenaran itu, maka Roh itu akan menemukan suatu tali perhubungan yang serasih di dalam hati manusia, supaya tidak mereka itu dibinasakan dalam kejahatannya.
Untuk menemukan dengan tepat saat permulaan dari masa 430 tahun itu, maka kita harus pertama-tama mencari tahun yang terakhir dari masa periode itu, yaitu tahun dimana YeheskieI contoh saingan telah bangkit dan mulai menyuarakan amarannya, yaitu tahun di mana Roh Kebenaran telah membuka gulungan surat-surat dan menghasilkan suatu Kebenaran Ilahi yang diiIhami yang limpah, murni dan yang tidak dikacaukan (tidak dipanggang di atas tahi), yang tidak ditimbang beratnya dan yang juga tidak ditakar, — yaitu kebenaran-kebenaran yang sedang kita rayakan dari serial penyelidikan-penyelidikan ini dan yang oleh Persekutuan telah diterbitkan dengan gratis dan dengan setia di dalam buku-buku keciI Amaran Sekarang dan penerbitan-penerbitan lainnya, dan yang telah disebarkan ke seluruh dunia bagaikan daun Iuruh di musim gugur — yaitu sesuatu yang luar biasa yang belum pernah disaksikan oleh Sidang sebeIumnya. Maka bilamana saya katakan bagaikan daun-daun Iuruh di musim gugur, saya sesungguhnya memaksudkan begitu, karena daun-daun itu — ya, berjuta-juta banyaknya — berguguran di mana-mana di antara orang-orang Laodikea secara tak terbatas dengan gratis, dan tidak mengikat.
Pekabaran ini, sebagaimana beberapa orang di antara anda telah mengetahui, mulai diungkapkan daIam tahun 1930. Sebab itu jika kita mengurangkan 430 tahun dari 1930 tahun itu, maka kita akan dibawa kembaIi ke belakang ke tahun 1500, saat Marthin Luther dipanggil, yaitu saat ia mulai menyelidiki AIkitab, saat ia mulai mempersiapkan diri bagi tugas Reformasi. Oleh sebab itu pekabaran ini teIah direncanakan oleh Allah sendiri jauh sebelumnya semenjak di masa Yeheskiel, kesemuanya demi kebaikan anda dan saya. Allah sungguh sangat waspada! Dan aIangkah sia-sia kita ini.
Karena masa periode 430 tahun itu, selama mana dosa-dosa kita dipikulkan ke atas Yeheskiel, ternyata sudah lewat, maka sekarang dan seterusnya kita sendiri, bukan YeheskieI, akan bertanggung jawab untuk semua dosa kita jika kita laIai mematuhi pekabaran dari hal jam dan menerima “pembenaran oleh iman”. Maka aIangkah pentingnya, agar kita jangan sekali melalaikan kesempatan kita sekarang ini untuk menyambut apa yang Allah kirimkan, dan untuk menerima “pembenaran oleh iman” supaya kita dapat dianugerahi dengan “pembenaran Kristus”. Hanya dengan demikian inilah dapat kita berharap untuk lolos dari senjata-senjata pembunuh dari malaikat-malaikat Ialu hidup dan memerintah bersama dengan Kristus seIama seribu tahun yang akan datang itu.
Sesuai dengan nubuatan yang baru diungkapkan ini tidak akan ada kesempatan yang lain lagi, tidak ada lagi kesempatan yang lain bagi orang-orang Laodikea, yaitu isi rumah Yehuda. Oleh sebab itu, maka pekabaran ini kepada orang-orang Laodikea adalah pekabaran yang terakhir, kesempatan mereka yang terakhir. Memandang ke depan kepada umat dari pembersihan ini nabi Yesaya menuliskannya sebagai berikut: “Jagalah, jagalah, kenakanlah kuatmu, hai Sion, kenakanlah pakaian-pakaian perhiasanmu, hai Yerusalem, kota suci; karena tiada lagi akan masuk ke dalammu barang seorang kulup pun atau yang najis. Betapa indahnya di atas gunung-gunung kaki orang yang membawakan kabar-kabar baik, yang memberitakan damai; yang membawakan kabar-kabar baik dari hal yang baik, yang memberitakan keselamatan; yang mengatakan kepada Sion, bahwa Allahmu memerintah!” Yesaya 52 : 1, 7.
Oleh karena kita telah melihat, bahwa 430 tahun itu telah berakhir dalam tahun 1930, maka kita sebaiknya sekarang mencari tahu kapan 390 tahun itu berakhir, yaitu saat di mana 40 tahun masa karunia itu dimulai. Untuk menemukan saat ini kita kurangi 40 tahun dari 1930 tahun itu, maka kita akan dibawa kembali ke tahun 1890. Apakah yang telah jadi pada waktu itu untuk menandai permulaan dari masa 40 tahun itu? — Justru inilah dia: Gereja pada waktu itu sepenuhnya menolak pekabaran yang hendak mengungkapkan kebenaran dari hal “pembenaran oleh i m a n” dan “pembenaran dari Kristus”, yaitu kebenaran penting yang kembali mulai diungkapkan bertahun-tahun kemudian, yaitulah Kebenaran yang kita sedang nikmati sekarang ini. Oleh sebab itu, Allah oleh kemurahan-Nya telah meletakkan dosa-dosa mereka itu pada diri nabi Yeheskiel selama masa 40 tahun itu, — memberikan kepada mereka suatu kesempatan melalui “pembenaran oleh karunia” supaya mereka dapat memperoleh kesempatan sekarang untuk masuk ke dalam “pembenaran oleh iman”, lalu dengan demikian memetik hadiah “pembenaran dari Kristus”.
Di sini kita lihat, bahwa sejarah terus berulang. Orang-orang Israel kuno percaya kepada Iaporan jahat yang dibawa oleh sepuluh orang mata-mata yang telah membuat mereka kehilangan iman mereka kepada kuasa Allah, dan karena itulah mereka telah membuat diri mereka terlambat 40 tahun lamanya memasuki Tanah Perjanjian.
Dengan cara yang sama, sebagaimana anda saksikan, Organisasi pun telah mengembara dari tahun 1890 sampai tahun 1930 di padang belantara, demikianlah dimisalkan. Kita dapat mengatakan, bahwa mereka telah dicobai. Disinilah anda dapat jelas melihat, bahwa pengembaraan di padang belantara yang dahulu itu adalah merupakan contoh. Di sini pula contoh bertemu dengan contoh saingannya. Maka anda lihat, penolakan mereka terhadap “pembenaran oleh iman” itu tidaklah berarti bahwa Allah telah kalah dan bahwa karenanya Ia tidak lagi mau membawa kita kepada Kebenaran yang sama yang telah dapat menjadi milik mereka empat puluh tahun yang lalu.
Lagi pula, sama halnya dengan orang-orang di masa Musa dahulu yang telah menolak untuk maju dalam iman telah mati di padang belantara, demikian pula halnya orang-orang di dalam tahun 1888 – tahun 1890 yang bertanggung jawab karena menolak untuk maju dalam Kebenaran telah mati sebeIum AlIah datang kembali dengan kebenaran itu pada kedua kalinya. Akhirnya, sebagaimana halnya dahulu usaha yang kedua untuk merebut tanah itu berhasil segera sesudah Akhan orang berdosa yang terakhir di waktu itu dilontari dengan batu, maka demikian pula usaha yang kedua pada waktu ini harus juga berhasil segera sesudah Akhan-Akhan modern yang ada sekarang dibinasakan oleh malaikat-malaikat dari Yeheskiel pasal 9.
Alangkah kerasnya teguran ini bagi Saudara-saudara pemimpin! Betapa bergunanya ajaran ini bagi kita! Dan betapa sedikitnya kesempatan bagi mereka jika mereka terus saja secara buta menentangnya. Sungguhpun demikian, para anggota yang datang berhubungan dengan Kebenaran ini dapat menjadi pertolongan besar bagi mereka, kalau saja gantinya mereka terus menentang dengan tuntutan-tuntutannya yang tidak beralasan agar para anggota melepaskan penyelidikan-penyelidikan firman ini atau dipecat dari keanggotaan sidang, mereka sendiri menuntut dari tantangan itu suatu penyajian firman yang dipermasalahkan yang lebih baik, atau sedikit-dikitnya yang sama benarnya, daripada menyerah begitu saja. Adalah bodoh sekali menolak Kebenaran demi untuk mempertahankan namamu di dalam Laodikea. Bukankah lebih baik menyambut Kebenaran dan mempertahankan namamu di daIam Buku Kehidupan Anak Domba?
Saya katakan adalah bodoh sekali menolak Kebanaran hanya terhadap kata-kata orang yang sedemikian itu, bukan terhadap pergi kepada Allah dalam doa lalu bertindak sesuai dengan pengakuan-pengakuan meIaIui Roh yang memimpin kepada segala Kebenaran. Berbuat yang sebaIiknya berarti menyangkal setiap hubungan pribadi dengan Surga, dan menaruh harapanmu kepada manusia, menjadikan “daging sebagai pegangan”. Yesaya 2 : 22. Oleh sebab itu janganlah membiarkan musuh mengaIihkan kamu dari pada Kebenaran ini, terutama dalam menghadapi kenyataan bahwa tantangan yang ada sama sekali tak seberapa, sama sekali tidak berkuasa, atau pun resmi, tak ada apapun yang dapat menggantikan Kebenaran itu. Maka aIangkah bodohnya orang yang mencoba menentukan kepastian Kebenaran dengan menggunakan pikiran yang menentang. Sama saja halnya dengan jika anda mengumpulkan pendapat dari seorang politisi partai Republik untuk keinginan anda memberi suara untuk memilih seseorang dari partai Demokrat. Mungkin saja ada perasaan untuk pergi meminta bantuan kepada seseorang yang tidak memihak, namun jangan sekali berpikir untuk pergi kepada seseorang yang menentang Kebenaran ini, seperti misalnya para imam, ahli-ahli torat, dan orang-orang Parisi yang menentang semua ajaran Kristus.
Jika anda belum dapat melihat setiap pokok dari Kebenaran itu sejelas-jelasnya seperti yang anda ingini, maka mengapakah tidak anda mencari penjelasannya kepada Roh Nubuat? Marilah ku bacakan bagimu beberapa paragraf di bawah ini:
“ …. Jika suatu pekabaran datang yang tidak kamu mengerti, maka usahakanlah agar kamu dapat mendengar semua aIasan yang dapat diberikan oleh pembawa pekabaran itu, perbandingkanlah Injil dengan InjiI, sehingga dapat kamu ketahui ada tidaknya firman Allah yang menunjang pekabaran itu. Jika kamu yakin bahwa pendirian-pendirian yang diambil itu tidak memiliki firman Allah sebagai landasannya, jika pendirian yang kamu pegang mengenai pokok persoalan itu tidak dapat ditentang, maka keluarkanlah aIasan-alasanmu yang kuat; karena kedudukanmu tidak akan goyah oleh datang berhubungan dengan sesuatu yang salah. Tidak ada satu pun kebaikan atau kegagahan dalam meneruskan suatu pertentangan yang terus menerus dalam gelap, yang menutup matamu supaya tidak dapat kamu melihat, yang menutup teIingamu supaya tidak dapat kamu mendengar, yang mengeraskan hatimu dalam kebodohan dan ketidak-percayaan supaya tidak dapat kamu merendahkan dirimu dan mengakui, bahwa kamu telah menerima terang dalam beberapa pokok masalah kebenaran.” — Counsels on Sabbath School Work, p. 29.
“Terang yang berharga akan memancar keluar dari firman Allah, maka janganlah seorang pun mengira untuk memaksakan apa yang akan disajikan atau tidak boleh disajikan kehadapan umat dalam pekabaran-pekabaran penerangan yang akan dikirimNya, sehingga dengan begitu memadamkan Roh Allah. Apapun juga kedudukan kekuasaannya, tidak seorang pun berhak untuk menghalangi terang dari umat. Apabila sesuatu pekabaran datang daIam nama Tuhan kepada umat-Nya, tidak seorang pun boleh mengelakkan dirinya dari melakukan penyeIidikan terhadap semua kewajiban yang terkandung di dalam pekabaran itu. Tidak seorang pun boleh berdiri di belakang dengan sikap acuh dan percaya diri sendiri sambil mengatakan: ‘Saya tahu apa artinya kebenaran. Saya sudah puas dengan kedudukan saya. Saya sudah memutuskan, dan saya tidak mau beralih dari kedudukan saya, apapun juga yang terjadi. Saya tidak mau mendengar kepada pekabaran dari juru kabar ini; sebab saya tau bahwa itu adaIah tidak mungkin kebenaran.’ Adalah karena mengikuti cara yang sedemikian ini, maka gereja-gereja yang terkenal telah tertinggal dalam sebagian kegelapan, dan itulah sebabnya mengapa pekabaran-pekabaran dari Surga tidak berhasil mencapai mereka”. — Counsels on Sabbath School Work, p. 28.
“Masih banyak kebenaran yang berharga yang akan diungkapkan kepada umat daIam masa yang berbahaya dan gelap sekarang ini, tetapi adalah maksud Setan yang teguh untuk menghaIangi terang kebenaran supaya tidak bersinar ke dalam hati manusia. Jika kita ingin memiliki terang yang telah disediakan bagi kita, maka kita wajib menunjukkan kerinduan kita terhadapnya dengan cara menyelidiki firman Allah dengan rajin. Kebenaran-kebenaran yang berharga yang sudah lama tersembunyi dalam gelap akan diungkapkan dalam suatu terang yang akan memanifestasikan kepatutannya yang suci; karena Allah akan memuliakan firmanNya, sehingga ia itu akan terlihat dalam suatu terang di mana kita belum pernah menyaksikannya sebelumnya. Tetapi barangsiapa yang mengaku mencintai kebenaran wajiblah membentangkan semua kekuatan mereka, supaya dapat mereka memahami perkara-perkara yang dalam dari firman Allah, supaya Allah dapat dipermuliakan dan umat-Nya dapat memperoleh berkah dan terang. Dengan hati yang rendah, yang berserah karena kemurahan Allah, hendaklah kamu datang kepada tugas penyelidikan Injil, bersiap untuk menerima setiap sinar dari terang Ilahi, dan supaya berjalan dalam jalan kesucian”. — Counsels on Sabbath School Work, p. 25.
Lagi pula, anda tidak pernah dapat melihat seluruh dunia ini pada sekali pandang. Anda hanya melihat sebagiannya saja pada sekali melihat. Sama juga halnya anda tak dapat mengharapkan untuk melihat seluruh Kebenaran secara sekaligus, melainkan hanya sedikit pada setiap kali. Berpeganglah kepada yang sedikit itu, maka sementara anda terus dalam doa dan belajar, semuanya kelak akan menjadi jelas secerah matahari dan anda akan mulai memahami pokok masalah itu dalam keseluruhannya.
Saudara, Saudariku, jangan lagi melewati kesempatanmu yang ada. Bertindaklah sekarang dan berdamailah dengan Allah. Jauhkanlah dirimu sekarang dari kekejian, dan berdirilah anda pada sebelah kanan Allah jika anda memerlukan berkat-Nya dan hidup untuk selamanya. “Hari ini jikalau engkau mau mendengar suaraNya, maka janganlah mengeraskan hatimu”. Iberani 4 : 7. Insyafilah bahwa Allah sendiri yang sedang berbicara kepadamu, bahwa semua ini bukanlah kata-kata mati, bukan kata-kata dongeng, bahwa ini adalah sebuah pekabaran yang telah termeterai selama berabad-abad lamanya, dan yang kini diungkapkan dan dibawakan kepadamu sesegar bunga bakung yang tertutup embun di musim panas.
Satu dari antara bagian-bagian terpenting dari penyelidikan ini, sebagai anda saksikan, ialah kenyataan bahwa selama masa 430 tahun — dari tahun 1500 sampai tahun 1930 — semua kejahatan kita telah ditanggungkan pada nabi Allah. Saya katakan, oleh sebab kelimpahan “karunia” ini yang telah menguasai sepanjang tahun-tahun itu, maka kita telah diinjinkan untuk berada di sini pada hari ini. Walaupun demikian, manusia telah mengambil keuntungan dari “karunia” Allah, dan telah datang mengira bahwa Ia telah meninggaIkan bumi, bahwa Ia telah membiarkan kita untuk berbuat sesuka hati kita, dan untuk maju dengan sebaik kemampuan kita. Kita semua akan merubah pikiran kita segera setelah amaran Allah lengkap.
Kemudian, orang-orang Laodikea yang hendak memanfaatkan kesempatan bagi dirinya untuk ikut mengambil bagian berpesta dengan “makanan pada waktunya” ini yang segar dan yang tidak diracuni, yang kini pada panggilan yang terakhir ini hendak berpegang kepada …… “pembenaran oleh karunia” yang sudah diberikan kepada mereka, — semua mereka dapat masuk ke dalam “pembenaran oleh iman” yang kelak akan dihadiahi dengan “pembenaran dari Kristus”, lalu dengan demikian ini dimahkotai dengan hidup yang kekal. Jelaslah, bahwa semua orang lainnya akan wajib memikul sendiri kejahatan mereka dan membayar sendiri hukumannya. Mereka akan harus binasa.
Benar, anda mengira bahwa anda tidak memerlukan apa-apa Iagi, tetapi Allah yang betul-betul tahu mengatakan bahwa anda adalah “terkasihan, dan menyedihkan, dan miskin, dan buta, dan telanjang”, anda membutuhkan segala-galanya. Maukah anda menerima nasehat-Nya lalu mengobati mata anda dengan salp mata supaya dapat anda melihat?
Akhirnya, bilamana pekabaran amaran berhasil mencapai seluruh umat, maka barangsiapa yang tidak mengambil manfaat dari padanya, yang tidak bereformasi, — yang lalai untuk “berkeluh-kesah dan menangis karena segala kekejian yang terdapat di tengah-tengahnya,” — maka kelak orang-orang yang sekarang tidak mau menerima “pembenaran oleh iman”, akan mendapatkan diri mereka tanpa “c a p meterai”. Akibatnya mereka akan harus membayar sendiri hukuman bagi segala dosanya, yaitu binasa di bawah senjata-senjata pembantaian dari malaikat-malaikat (Bacalah Yeheskiel 9; Testimonies for the Church, vol, 3, pp. 266, 267; Vol. 5, pp. 210, 211).
Jelaslah, bahwa isi rumah Yehuda semenjak tahun 1930 mempunyai kebutuhan yang sama seperti juga yang dibutuhkan oleh isi rumah Israel semenjak tahun 1890. Semua mereka kini membutuhkan pekabaran sekarang jika mereka berharap untuk kelak memiliki sebuah rumah di dalam kerajaan Allah. Lagi pula, adalah jelas terlihat, bahwa apa yang isi rumah Yehuda gagal menyelesaikan sesudah tahun 1890, kita harus sekarang menyelesaikannya melawan berbagai keganjilan yang lebih besar dan dalam waktu yang lebih singkat.
Pelajaran-pelajaran yang diajarkan di dalam pasal ini adalah sebagai berikut: Pertama ditunjukkan bahwa periode “pembenaran oleh karunia” kini sudah berlalu; bahwa kita sekarang telah sampai kepada masa dimana keselamatan kita terletak hanya kepada mempraktikkan “pembenaran oleh iman”, jika kita berharap untuk dihadiahi dengan “pembenaran dari Kristus”, dan dimahkotai dengan hidup kekal. Pelajaran yang kedua mengajarkan bahwa Sidang belum memiliki semua Kebenaran, dan bahwa apa yang dimilikinya sekarang sudah diracuni, “dipanggang di atas tahi”. Sebab itu keperluan kita yang terutama ialah supaya kita memiliki Kebenaran yang diilhami yang berasal dari Tahta Allah; karena hanya dengan Kebenaran itu kita akan selamat, dan tanpa Kebenaran itu kita akan hilang.
*******
233 total, 1 views today


