Hanya ada Dua Jalan
<< Go Back


HANYA ADA DUA JALAN

 

 
Oleh:
Victor T. Houteff
Pendeta dari Persekutuan Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh
Sabat, 10 Agustus 1946
Gereja Mount Carmel, Waco, Texas
Amerika Serikat
Saudara sering mendengar, bahwa ada banyak jalan menuju ke Kerajaan damai dan sejahtera yang kekal itu, sehingga kita dapat menempuh salah satu dari jalan-jalan itu lalu sampai ke sana. Saya adalah salah satu yang percaya, bahwa ada hanya dua jalan, bahwa yang satu membawa kepada hidup yang kekal dan yang lainnya membawa kepada kematian yang kekal. Untuk memberikan kepada Saudara alasan kepercayaan saya, bahwa hanya ada kedua jalan ini, maka saya akan membaca dari Buku yang tak pernah salah itu di bawah ini:

 

Matius 7 : 13, 14 :

“Masuklah kamu dari pada pintu yang sempit, karena luaslah pintu dan lebarlah jalan yang membawa kepada kebinasaan, dan banyaklah orang yang masuk dari padanya. Karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang membawa kepada hidup, dan hanya sedikit orang yang menemukannya.”

Berapa banyak jalan? Hanya dua, yaitu jalan yang benar dan jalan yang salah. Kedua jalan ini selalu berada dengan kita, dan akan senantiasa ada selama kedua manusia badani dan rohani itu hidup di bumi. Mereka itu muncul dahulu bersamaan dengan munculnya dua orang bersaudara yang pertama yang hidup di bumi, yaitu Kain dan Habel. Orang-orang yang berjalan pada jalan yang sempit adalah para pengikut Habel, dan orang-orang yang berjalan pada jalan yang luas adalah para pengikut Kain. Ada banyak yang berjalan pada jalan yang luas itu, sebab semua yang datang ke dunia ini memulai berjalan di dalamnya, bahkan kebanyakan dari mereka senantiasa tinggal di dalamnya.

Demikianlah hal, sebab untuk memulai kita telah dilahirkan dari daging, yaitu orang-orang Kain secara alamiah. Akibatnya, sebelum kita dilahirkan kembali, yaitu dilahirkan oleh Roh lalu dengan demikian itu dibawa ke dalam jalan yang sempit itu, maka kita semuanya berjalan di dalam jalan yang lebar. Di samping itu jalan yang lebar itu adalah cukup luas bagi seseorang untuk memikul segala-galanya yang ditawarkan kepadanya oleh dosa, tetapi jalan yang sempit itu adalah sangat sempit sehingga harus melepaskan apa saja, terkecuali diri orang itu sendiri. Akibatnya, secara perbandingan, maka hanya sedikit yang memilih untuk menolak segala keinginan daging dan meninggalkan dosa dalam segala bentuknya. Lalu pada hakekatnya, maka banyak akan berjalan pada “jalan yang disangka orang betul adanya”, walaupun “….. akhirnya kelak menjadi jalan-jalan kepada maut.” Amsal Solaiman 14 : 12. Sekarang marilah kita kembali kepada Injil Yahya pasal 9 :

Yahya 9 : 39 :

“Maka kata Jesus: ‘KedatanganKu ke dalam dunia ini karena hal keadilan supaya orang yang tiada melihat itu dapat melihat, dan supaya orang yang melihat itu menjadi buta.”

Di sini kepada kita dikatakan, bahwa Jesus telah datang bagi keadilan yang akan membuat orang-orang yang melihat itu menjadi buta, dan orang-orang yang buta itu menjadi celek. Ucapan itu adalah aneh, tetapi artinya adalah jelas. la datang untuk merubah setiap manusia — untuk mengembalikan kedudukan setiap orang, yaitu orang-orang yang buta menjadi celek, dan orang-orang yang melihat menjadi buta.

Marilah kita sekarang mengadili sendiri persoalan kita. Jika penglihatan kita pada saat ini masih tetap sama seperti sebelumnya, maka jelas kedatanganNya itu belum membawa manfaat apapun juga bagi kita. Jika pada kedatanganNya itu kita mengakui, bahwa kita telah melihat dan telah cukup mengetahui, sehingga tidak memerlukan apa-apa lagi, sehingga tidak dapat membawa kesan sebaliknya bagi kita, maka kita akan menjadi buta untuk selama-lamanya, kita tidak akan pernah lagi dapat melihat akan apa yang diinginkanNya kepada kita untuk melihat. Tetapi jika kita mengakui, bahwa kita adalah buta terhadap perkara-perkara rohani, sehingga mata kita perlu lagi dibukakan, maka Kristus akan membuat kita celek dan melihat. Yang sedemikian inilah oleh pengalaman akan dikatakan: “Dahulu aku buta, tetapi kini aku melihat.” Pengalaman orang buta itu hendaklah menjadi milik kita.

 

Yahya 9 : 40, 41 :

“Maka beberapa orang Parisi yang beserta dengan Jesus mendengar perkataan ini, Ialu berkata kepadaNya: ‘Kamipun butakah?’ Lalu kata Jesus kepada mereka itu: ’Jikalau kamu buta, maka kamu seharusnya tidak berdosa; tetapi sebab katamu, ‘Kami nampak’, maka oleh karena itu dosamu tetap ada.”

Jika engkau mengatakan engkau melihat, lalu masih terus berbuat dosa, maka engkau sendirilah yang bertanggung jawab atas dosamu. Tetapi jika engkau tidak melihat, maka la akan membuatmu melihat, supaya kamu akan berhenti berbuat dosa.

Yahya 10 : 1 :

“Sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu, barangsiapa yang tiada masuk kandang domba itu melalui pintu, melainkan memanjat melalui tempat lain; maka ialah seorang pencuri dan penyamun.”

Maukah Saudara masuk ke dalam ‘kandang domba’ itu? Jika Saudara mau, maka Saudara harus masuk melalui ‘Pintu’. Jika Saudara berhasil masuk melalui cara lain, maka akhirnya Saudara akan dilempar keluar ke dalam kegelapan, di sanalah kelak ada keretak gigimu. Dari kedua pilihan ini kita semua harus membuat pilihan.

Yahya 10 : 2 :

“Tetapi dia yang masuk dari pada pintu itu ialah gembala dari pada kawanan domba.”

Di dalam ayat 9 Kristus mengatakan: “Akulah pintu itu”. Gabungkan ayat 9 dengan ayat 2, maka Saudara akan melihat, bahwa orang-orang yang masuk melalui jalan Tuhan adalah hanya orang-orang yang diakuiNya sebagai gembala-gembala dari kawanan dombaNya. Olehnya itu, Tuhan memaksudkan juga, bahwa terdapat pula gembala-gembala yang tidak direstuiNya yang sedang menggembalakan kawanan dombaNya.

Yahya 10 : 3 :

“Maka kepada orang ini pintu dibukakan oleh penunggu pintu, dan segala domba itu mendengar akan suaranya, maka ia memanggil dombanya sendiri itu masing-masingnya dengan namanya, lalu membawa mereka keluar.”

Penjaga pintu, yaitu orang yang bertugas, akan membuka pintu hanya kepada mereka yang telah memenuhi semua persyaratan untuk masuk. Dengan kata lain, Tuhan menceriterakan kepada kita dengan jelas, bahwa tidak seorangpun dapat menerobos pengawasan penjagaan pintu lalu untuk selamanya lolos. Namun walaupun adanya amaran ini, dan walaupun nyatanya, bahwa masuk melalui pintu itu adaIah lebih mudah daripada memanjat pagar, banyak orang memilih untuk mengambil kesempatan secara menyeludup masuk, mereka berpura-pura memiliki “i- m a n” laIu dengan demikian masuk ke dalam kandang dan berharap dapat menguasai atau  memperoleh pengikut. Tetapi adalah tidak mungkin untuk membujuk-bujuk domba-domba Allah yang asli untuk mengikuti mereka karena domba-domba itu mengenal  Suara Gembalanya yang asli.

Hanya orang-orang yang berhasil masuk melalui Pintu dan kepada siapa “penjaga pintu itu” (orang kepada siapa Roh Nubuatan itu dinyatakan) membukakan pintu adalah gembala-gembala yang dikuasakan, yang suara-suaranya akan didengar oleh kawanan domba-domba Allah. Semua gembala yang sedemikian inilah yang memanggil domba-domba itu sesuai nama-namanya. Mereka cukup dikenal oleh kawanan domba-domba mereka, sebab mereka menaruh perhatian penuh terhadap domba-domba itu, dan mereka menghantarkan domba-domba itu dengan saksama keluar masuk.

Di sinilah siswa Kebenaran sekarang dapat mencatat, bahwa oleh gambaran ini  Kristus menunjukkan, bahwa hanya gembala-gembala yang diakuiNya sebagai milikNya adalah orang-orang yang kepadanya “penjaga pintu itu” membukakan Pintu lalu mengundangnya masuk. Para siswa akan juga mencatat, bahwa semua orang lainnya akan dicap sebagai orang-orang yang masuk secara menipu. Dan kawanan domba yang mendengar suara gembala-gembala yang palsu ini, kataNya, adalah bukan kawanan dombaNya.

Yahya 10 : 4 :

“Apabila sudah Ia mengeluarkan semua dombaNya sendiri, maka berjalanlah la di depan, maka domba-domba itupun lalu mengikuti Dia, sebab semua domba itu mengenal suaraNya.”

Oleh karena kawanan dombaNya itu tidak mengenal wajah-wajah orang terkecuali bunyi suara-suara, maka mereka yang menaruh perhatian terhadap wajah-wajah orang dan yang tidak dapat membeda-bedakan di antara bunyi suara yang satu dan lainnya pasti akan sesat dibawa oleh para gembala palsu. Tetapi mereka yang menaruh perhatian hanya kepada Suara itu, yaitu Suara Kebenaran, akan dibawa masuk dengan pantas bagi perlindungan, dan dibawa keluar dengan pantas ke padang-padang rumput. Umat Allah tidak memperdulikan persoalan wajah-wajah orang, melainkan mereka menaruh perhatian yang sungguh terhadap suara-suara pilihan Allah yang mengucapkan Kebenaran.

Yahya 10 : 5, 8, 10 :

“Tetapi akan orang lain sekali-kali tiada akan diikuti mereka, melainkan akan lari mereka dari padanya, sebab tiada dikenal oleh mereka itu akan suara orang-orang lain. …… Semua orang yang datang mendahului Aku, ialah pencuri dan penyamun, tetapi kawanan domba tidak mendengar akan mereka itu. …….. Adapun pencuri itu datang hanya untuk mencuri dan membunuh, dan membinasakan. Aku ini datang supaya domba itu memperoleh hidup dengan berkelimpahan.”

Kawanan domba Allah dengan demikian inilah dihantarkan dengan saksama keluar dan masuk, baik ke dalam kandang maupun kepada “makanan pada waktunya”, yaitu kepada Kebenaran sekarang. Walaupun demikian, “kawanan kambing”, yaitu mereka yang memperdaya penjaga pintu sambil masuk pasti harus juga melakukan demikian sambil keluar. Akibatnya, mereka tak akan dapat dibawa oleh para gembala pilihan Allah. Marilah kita kembali kepada Yahya 14 dan membaca satu ayat saja.

Yahya 14 : 6 :

“Maka kata Yesus kepadanya: “Aku inilah Jalan dan Kebenaran dan Hidup; tiada seorangpun sampai kepada Bapa, terkecuali melalui Aku.”

Dari ayat ini kita saksikan, bahwa Jesus adalah satu-satunya jalan menuju ke Kerajaan itu. Jadi, adanya pendapat, bahwa terdapat banyak jalan sementara sebaliknya hanya ada satu Jesus, dan bahwa mereka semuanya membawa menuju ke Kerajaan Kekal itu, akan hanya merupakan suatu “dengungan bohong” yang hanya senang didengar oleh hati orang yang tidak suci. Semua itu berasal dari orang-orang yang memperdaya penjaga pintu di “Pintu Masuk”, yaitu dari orang-orang yang menyadari, bahwa semua perbuatannya itu tidak akan lolos pemeriksaan.

Jika kita hendak memiliki sebuah tempat tinggal di dalam Kerajaan itu, maka kita hendaknya jangan sekali berlaku seperti mereka itu. Kita harus mengetahui semua kejelekan dari persoalan kita. Kita hendaknya jangan sekalipun mengatakan, bahwa jika “demikian dan demikian” akan sampai ke sana, maka kita pun mau juga. Mungkin itu benar, bahwa jika “begini dan begitu” akan sampai ke sana, maka kita semua menghendaki juga, tetapi “begini dan begitu” tidak akan sampai ke sana. Olehnya itu kita hendaknya tidak membodohi diri dengan mengatakan “begini dan begitu” sebagai suatu misal bagi kita. Kita harus mengikuti Tuhan melalui KebenaranNya, yaitu Kebenaran yang akan memerdekakan kita.

Sebagaimana hanya adanya satu Jalan yang benar dan hanya ada satu Pintu, dan oleh karena semua umat Kristen tidak sama melihat dan tidak bersama-sama berjalan, mungkinkah itu berarti kita semua keliru? Semuanya berjalan menuju suatu arah yang keliru? Tidak, itu tidak akan pernah jadi selama Tuhan tidak meninggalkan bumi ini. Sesungguhnya tidak, karena Ia harus memiliki suatu umat kepada siapa Ia akan mempercayakan KebenaranNya, dan oleh siapa Ia akan menyelamatkan orang-orang yang memilih berjalan pada jalanNya. Jadi, orang-orang yang memilih berjalan pada jalan-jalan yang lain akan pada akhirnya menemukan, bahwa Setanlah, dan bukan Tuhan, yang berada di belakang mereka itu, dan bahwa nerakalah, dan bukan Kerajaan itu yang berada di depan mereka.

Kita harus memperbincangkan dengan saksama beberapa saat persyaratan-persyaratan apa yang harus dimiliki oleh seorang gembala supaya ia dapat lolos melewati pengawasan penjagaan pintu. Kalau boleh saya memberikan beberapa ilustrasi, misalnya hanya dua atau tiga buah ilustrasi untuk itu.

Saudara ingat, bahwa ada seorang anak yang bernama Samuel yang sejak permulaan masa hidupnya telah datang berjalan pada “Jalan itu”, dan pada Jalan ituIah ia telah dilatih sejak semula. Sekarang pikirkan selanjutnya apa yang terjadi. Saudara ingat, pada suatu malam Samuel secara tiba-tiba dibangunkan oleh suatu Suara. Karena mengira suara itu adalah suara Eli, maka ia segera meloncat dari tempat tidur lalu pergi menanyakan kepada Eli. Tentu saja Eli menjadi tercengang, namun dengan tenang Eli menjawab, “Saya tidak memanggil engkau, kembalilah tidur.” Oleh karena tidak ada lagi orang lain di sana selain Eli. Samuel yakin, bahwa orang tua itulah yang memanggil dia. Tetapi bagaimanapun ia mematuhi lalu langsung kembali ke tempat tidurnya.

Walaupun begitu tak berapa lamanya kemudian, mungkin segera setelah Samuel tertidur lagi, maka Suara itu memanggil kembali pada kedua kalinya. Saudara ketahui, bahwa Samuel dapat saja dengan mudah mengatakan kemudian dalam diriNya, “Orang tua itu pasti sedang bermimpi. Di sinilah ia memanggil saya kembali. Tetapi saya tidak akan mau memperdulikannya lagi; saya akan membiarkan dia berteriak sebanyak-banyaknya sekuat-kuatnya.” Tetapi bagaimanapun juga, Samuel seperti sebelumnya ia secepatnya berlari ke tempat tidur pengasuhnya itu, hanya untuk sekali lagi mendengarkan kata-kata, “Kembalilah tidur, saya tidak memanggil engkau!” Masih pada ketiga kalinya ia mendengar seseorang memanggil, maka dengan rela dan  penuh hormat seperti pada umumnya ia pergi ke tempat tidur pengasuhnya pada ketiga kalinya. Eli pada akhirnya menyadari, bahwa Tuhan pasti telah memanggil anak itu, maka olehnya itu ia memberi petunjuk kepada Samuel tentang apa yang harus diperbuatnya. Maka apakah yang diperbuat Samuel? Tepatlah seperti apa yang telah dipesankan kepadanya.

Kalau saja Samuel tidak rela serta tidak sepenuhnya menghargai dan tidak sabar seperti akan halnya, dapatkah ia pernah sampai pada memegang jabatan yang tertinggi di negeri itu? Tentu saja tidak, bukan? Tidak ada lagi yang lain, terkecuali persyaratan- persyaratan tabiat orang suci, yang telah didemonstrasikan pada malam itu oleh Samuel, yang telah mempromosikannya kepada jabatan nabi, imam, dan hakim.

Masih herankah kita mengapa Samuel telah dipanggil keluar dari tempat tidurnya tiga kali berturut-turut, dan mengapakah ia dan Eli telah diganggu pada malam itu? Ada dua alasan :


(1) Untuk membuktikan, bahwa tanpa memikirkan ketidakenakan Samuel tidak akan ragu-ragu untuk bangkit apabila dipanggil, dan bahwa ia tidak akan marah, sehingga ia tidak akan berlaku kurang sopan terhadap Eli.
(2) Tuhan bermaksud untuk membantu Eli. Ia hendak menghindari kemungkinan kesimpulan Eli, bahwa Samuel akan keluar dan akan permasalahkan kemampuannya untuk mendisiplinkan anak-anaknya sendiri. Kalau saja Eli tidak diberikan kesempatan itu untuk mengetahui dengan pasti, bahwa Tuhan telah berbicara dengan anak itu, maka ia dapat saja dengan mudah mengambil kesimpulan, bahwa Samuel secara diam-diam sedang akan mengambil tempat kedudukan anak-anaknya Eli itu. Namun oleh peristiwa-peristiwa yang ditakdirkan itu sebagaimana yang telah jadi, maka Eli tentunya telah mengetahui tanpa ragu-ragu, bahwa Allah mempunyai sesuatu amanat baginya. Tidak ada tempat bagi keragu-raguan.

Banyak pemuda pada waktu ini, seperti halnya di masa-masa lalu, adalah bersungguh-sungguh berusaha untuk berada di mana-mana di dalam hidupnya, tetapi berjuta-juta mereka gagal mencapai cita-citanya dan banyak yang binasa hidupnya. Mereka ingin menjadi orang-orang besar, tetapi mereka gagal walaupun hanya untuk menjadi orang-orang menengah saja. Apakah alasannya? Itu hanya karena mereka menilai terlalu tinggi kemampuan-kemampuannya sendiri, dan terlalu rendah kekuasaan Allah. Mereka tidak mengetahui, bahwa dengan Allah tidak akan ada kegagalan, dan bahwa bersama Dia ‘mereka dapat memperoleh berbagai kedudukan’.

Kamu pemuda dan pemudi, pasrahkanlah dirimu selengkapnya kepada Allah. la memerlukan orang-orang besar, maka la dapat membuatmu menjadi yang sedemikian itu. Apabila engkau mempelajari jalan Allah lalu menjadi seorang pemuda atau pemudi yang bertanggung jawab seperti yang dilakukan Samuel, maka Allah tidak akan melalaikan semangat cita-cita hatimu, kesungguhan hatimu, dan kejujuranmu. la akan mengaruniakan kepadamu sesuatu yang besar bagi penghargaanmu. Sesungguhnya, engkau akan kelak menjadi besar.

Daud di masa lalu pun adalah seorang pemuda dan tidak lebih dari pada seorang gembala biasa. Tetapi ia adaIah seorang gembaIa yang baik, yang terbaik di negeri itu. Allah melihat, bahwa ia adaIah cukup awas dan setia pada tugas-tugasnya, maka demikian itulah la memutuskan untuk menjadikan pemuda itu raja atas umatNya. Sesungguhnya, apabila seseorang melakukan sesuatu perkara dengan baik, maka mungkin sekaIi, bahwa ia akan melakukan perkara lainnya juga sama baiknya. Daud adaIah sama baiknya terhadap kewajiban-kewajibannya seperti halnya Samuel terhadap tugas-tugasnya. Itulah sebabnya ia telah diangkat dari kandang domba laIu ditempatkan di daIam istana.

Saya sedang pikirkan dari hal seorang pemuda yang lain, yaitu seorang muda remaja Jusuf. Tuhan melihat sesuatu di dalam dirinya yang tidak dapat dilihatNya di dalam diri kakak-kakaknya Jusuf. Bukan saja ia adalah putera kesayangan ayahnya, tetapi ia adaIah kesayangan Allah juga. Allah memikirkan sesuatu yang besar bagi Jusuf, yang lebih besar dari pada apa yang dunia pernah pikirkan. Untuk membuktikan dirinya sendiri sebagai orang yang dapat dipercaya, maka Jusuf harus pertama-tama menjadi budak. la harus dilatih untuk pekerjaan yang besar itu.

Demikian itulah takdir Ilahi berlaku, maka terjadilah, bahwa saudara-saudaranya telah menjual dia sebagai seorang budak. Maka pada waktu itulah teringat dia akan apa yang Tuhan telah janjikan kepadanya di dalam mimpi, bahwa di samping semua saudaranya, termasuk pula ayah dan ibunya, mereka akan menyembah sujud kepadanya. Dapatlah Saudara bayangkan betapa suatu kesempatan yang gampang baginya untuk menghojat Allah sewaktu ia mendapatkan dirinya sendiri sedang akan mengalami nasib perbudakan! Ia mungkin dapat saja mengatakan, “Mengapa harus saya berbakti kepada sesuatu Allah yang menjanjikan kemuliaan, tetapi ternyata memberi kehinaan, kesusahan, dan kepicikan?” Tetapi Jusuf telah berlaku dengan bijaksananya seperti halnya Ayub. Oleh menyucikan Allah di dalam hatinya, maka ia secara tegas mengatakan, ”Walaupun Ia memalu akan daku, tetapi di dalam Dialah aku akan bergantung.”

Jusuf secepatnya menyesuaikan dirinya kepada keadaan lingkungannya; ia yakin, bahwa Allah bapanya itu mengetahui semua dari hal segala penderitaannya. Demikian ini pun para pemilik budaknya, yaitu orang-orang keturunan Ismail itu, segera mereka mengetahui, bahwa mereka sedang memiliki seseorang budak yang bagus, yaitu seseorang budak yang dapat dijual dengan harga yang tinggi. Bagaimanakah dapat saya mengetahui ini? Saya mengetahuinya, sebab orang-orang keturunan Ismail itu telah membawanya langsung kepada seseorang yang hanya mau membeli yang terbaik, yaitu kepada orang yang terkaya di Mesir, yaitu kepada orang yang dapat membayar untuk harga yang tinggi itu. Saudara mengetahui, bahwa orang-orang kaya tidak akan membeli barang-barang yang murah. Demikian pula para pedagang tidak akan menawarkan barang-barang yang murah kepada mereka.

Walaupun sementara di dalam penderitaan itu, Jusuf sudah harus dapat menunjukkan kemampuannya untuk melayani, dan harus sudah dapat menunjukkan hormatnya yang tinggi kepada para penguasa perbudakannya selama dalam perjalanannya ke Mesir, sebab pada waktu itulah para pedagang akan mengetahui nilai harganya budak mereka, dan akan menyadari, bahwa mereka dapat menjualnya kepada seseorang yang menyukai sesuatu yang bagus dan yang dapat membayar untuk harganya. Potiphar pun segera mengetahui, bahwa Jusuf dalam segala hal adalah dapat dipercaya. Dengan demikian itulah, maka ia telah menjadi orang nomor satu dari Potiphar. Bahkan nyonya Pothiphar sendiri telah jatuh cinta padanya. Adalah pada keadaan yang genting inilah, Saudara ingat, bahwa ia telah sampai kepada puncak ujian penammatannya. Dengan lulusnya dia pada ujian terbesar hidupnya ini, maka luluslah dia dari rumah Potiphar, kemudian dari rumah penjara, oleh mana ia telah diangkat menduduki tahta pemerintahan Mesir, yang terbesar di dunia. Baik dalam pengangkatannya kepada kedudukan yang tinggi, maupun dalam kejatuhannya dalam penderitaan perbudakan Jusuf telah memuliakan Allah dan telah melaksanakan segala kejujurannya yang terbaik.

Di dalam hal apapun ia ditempatkan, ia adalah selalu nomor satu, maka demikian itulah ia telah menjadi yang terbesar di antara semua yang hidup di bumi.

Dari hal rahasia keberhasilannya yang sebenarnya akan dapat Saudara jumpai dalam suatu prinsip yang sederhana, yaitu teguh melawan pencobaan untuk berbuat dosa, dan setia kepada kewajiban: “Wah!” Saya tak dapat melakukan perkara yang jahat ini. Saya tidak akan mau berdosa baik melawan manusia maupun melawan Allah,” demikianlah jawabannya terhadap pencobaan.

Inilah sebabnya mengapa Jusuf adalah terbesar di dalam rumah tangga bapanya, di dalam tawanan orang-orang keturunan Ismail itu, di dalam rumahnya Potiphar, di dalam kamar penjara, di atas tahta Phiraun, dan di seluruh dunia. Inilah sebabnya mengapa semua penduduk bumi yang Ialu telah menyembah sujud kepadanya.

Dari bukti-bukti pengalaman hidup ini terlihatlah, bahwa prinsip-prinsip yang sederhana yang telah membawa keberhasilan kepada Samuel, kepada Daud dan kepada Jusuf, secara tak meragukan dapat pula membawa sukses kepada kita semua. Dan supaya diingat, bahwa kesuksesan itu dimulai segera di manapun kita kebetulan berada, apakah itu di dalam kaabah, atau di tengah-tengah kawanan domba, atau di dalam perhambaan tuan pemilik budak, atau di dalam penjara, atau di dalam istana raja, di manapun saja tidak ada bedanya. Saudara tidak perlu berlari-lari mengejar kesuksesan, tetapi Saudara perlu sekali membungkuk untuk mengambil kesuksesan itu. Sebenarnya sukses itu jatuh dari langit, namun untuk mengambilnya Saudara harus membungkuk sampai rendah sekali. lnilah yang harus Saudara lakukan jika Saudara ingin betul-betul sukses di dalam segala hal.

Sekarang ini Tuhan sedang memberikan tawaran kesempatan bagi sedikitnya 144.000 orang yang akan menjadi penyelamat manusia, yang akan bermarkas besarnya di Gunung Sion yang terkenal itu, yaitu suatu jabatan yang lebih besar dari pada yang pernah dipegang oleh Jusuf dahulu. Maukah Saudara menjadi salah satu dari mereka itu? Ada banyak kesempatan yang lebih besar pada waktu ini dari pada yang pernah ada sebelumnya di masa lalu. Mengapakah tidak berusaha di dalam sesuatu usaha yang di dalamnya tak terdapat usaha untung-untungan? Siapapun saja dalam hal ini dapat berhasil jika ia mau memenuhi harganya.

Melihat kepada pilihan-pilihan yang tidak akan keIiru ini, maka mengapakah orang-orang muda pada dewasa ini demikian sembrono dan acuh tak acuh sikapnya? Mengapakah demikian halnya? Mereka bukanlah pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang jelek. Mereka telah dilahirkan dalam alam yang sama seperti halnya setiap generasi yang lain. Sesungguhnya mereka yang ada di sini adalah pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang baik, namun mereka perlu dilahirkan kembali, yaitu dilahirkan oleh Roh, menjadi berubah dan dibuat menjadi dapat melihat.

Orang-orang muda secara alamiah adalah buta terhadap perkara-perkara rohani sama seperti halnya anak-anak kucing yang baru lahir buta terhadap benda-benda. Orang-orang muda perlu dididik mengenai jalan kehidupan kerohanian. Perlu dikeluarkan dari diri mereka keinginan-keinginan dosa alamiahnya, dan ditanamkan di dalam mereka suatu alam kebencian terhadap dosa.

Para orang tua yang telah dibuat celek penglihatannya perlu sekarang bangkit kepada tugas-tugasnya. Mereka perlu sekaIi mendidik anak-anaknya di dalam jalan Kristus seperti juga halnya mereka perlu melatih mereka itu di dalam kehidupan bermasyarakat. Semua ini hanya dapat dilakukannya oleh bantuan petunjuk-petunjuk dan teladan-teladan mereka.

Teladan kita yang terbesar telah turun dari sorga ke bumi ini, berjalan dan bekerja bersama-sama dengan manusia tiga puluh tahun lamanya, mati dan telah bangkit kembali. Semua ini dilakukanNya dengan tujuan untuk merubah manusia, untuk mengembalikan peta Allah di dalam mereka, dan untuk memberikan kepada mereka hidup untuk selama-lamanya. Jika pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi ini melaksanakan usaha-usaha yang perlu bagi diri mereka sendiri, maka kita tentunya dengan bergembira harus menolong mereka supaya mereka dapat mencapai tujuan-tujuannya.

Saudara-saudara, pria dan wanita, telah datang ke sini, bukanlah karena seseorang telah membawamu ke sini, tetapi karena kesadaranmu sendiri akan tugasmu. Bagaimanapun juga Saudara telah membawa bersama serta semua anak-anak kecil ini. Jadi demikianlah Saudara-saudara telah datang masuk melalui “Pintu”, tetapi para pemuda pemudi ini seolah-olah datang di dalam barang-barang bawaanmu. Maka sekarang, jika mereka hendak menjadi anggota-anggota yang tetap di dalam “kandang domba” ini, mereka juga harus menjalani ujian. Saudara melihat, mereka sedang berjuang sekarang sama seperti halnya Saudara-saudara orang dewasa telah berjuang sebelum Saudara-saudara datang ke sini. Maka seperti halnya seseorang telah memberikan bantuan usaha bagi Saudara di sana, sekarang pun Saudara harus memberikan bantuan usaha bagi anak-anak muda itu di sini.

 

Kita memerlukan penginjil-penginjil orang-orang muda, yaitu pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertobat untuk bekerja bagi orang-orang yang belum bertobat, untuk melaksanakan bentuk pengaruh-pengaruh yang benar terhadap pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi lainnya. Ini adalah penting, sebab pemuda pemudi yang bertobat akan berbuat lebih banyak bagi orang-orang muda sesamanya dari pada yang dapat dibuat oleh orang-orang yang lebih tua. Lagi pula kita memerlukan orang orang muda pria dan wanita untuk membantu pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi dalam pekerjaan memenangkan jiwa-jiwa, bukan untuk berhotbah kepada mereka, melainkan untuk memimpin mereka.

Saudara saksikan bagaimana pemuda-pemuda itu berkerumun mengelilingi Saudara D ———- sewaktu ia berada di sini. Kalau saja D ———- telah bertobat, kaIau saja ia telah mengambil keputusan untuk melayani Allah seperti yang dilakukan Daud di masa laIu, maka bayangkanlah betapa suatu kuasa bagi kebaikan yang dapat dimilikinya. Ia sudah akan menjadi suatu pengaruh yang mentakjubkan bagi kebaikan di antara orang-orang muda itu. Ia sudah akan menjadi seorang pemimpin besar. Ia memiliki kesempatan yang sama besarnya seperti yang dimiliki setiap orang besar milik Allah di masa Ialu. Tetapi kesempatan yang dipunyai oleh D ———- itu, dipunyai juga oleh setiap pemuda dan pemudi. Seorang pemuda atau pemudi yang bertobat dapat membalikkan suatu percakapan yang jelek dan yang tidak menguntungkan menjadi suatu percakapan yang pantas. Suatu teladan yang baik dapat berbuat lebih banyak dari pada sebuah khotbah.

Saudara-saudara pemuda dan pemudi, ada suatu kesempatan bagimu untuk masuk berusaha dengan Allah, serta untuk mempersiapkan pikiranmu bagi apa yang dikehendaki olehmu. Kamu tidak wajib untuk memulai sebagai seorang pendeta, tetapi kamu dapat segera sekarang juga menjadi penginjil-penginjil sosial. Kamu pemuda pemudi dapat membalikkan pemuda pemudi lainnya dari pada kebodohan mereka, dari pada semua kegiatan-kegiatan mereka yang tidak bijaksana serta dari pada semua percakapan mereka yang jahat. Orang-orang lain akan mengikuti teladanmu. Betapa besarnya suatu kesempatan bagimu kaIau saja mau Saudara menggunakan kesempatan itu.

Kita semua rindu melihat kamu pemuda dan pemudi memiliki suatu kesempatan yang baik. Kita merasa jemu karena mengenakan pembatasan ini dan itu kepadamu. Kamu supaya menegakkan kepercayaan-kepercayaan kami di dalam dirimu, maka dengan begitu kamu akan membebaskan dirimu dari peraturan-peraturan dan pembatasan-pembatasan.

Jika kamu dapat menunjukkan kepada kami, bahwa kamu telah memutuskan untuk menjadi seperti halnya Samuel dan Jusuf, maka kami tidak akan perlu kecewa mengenai apa yang kamu perbuat ataupun kemana kamu pergi. Ya, menegakkan kepercayaan kami di dalam dirimu, maka kamu tidak akan pernah diganggu oleh kami. Adalah hanya oleh kepercayaan seseorang di dalam dirimu, maka kamu dapat memperoleh apa saja dengan bagaimanapun juga caranya.

Jusuf dan Samuel telah melakukan perkara yang penting. Mereka menetapkan seluruh perhatiannya kepada apa saja yang dilakukannya. Semua orang besar di dunia ini melaksanakannya, maka itulah sebabnya mereka adalah besar. Apapun juga yang kamu pemuda pemudi lakukan, lakukanlah itu dengan sungguh-sungguh. Jangan meremehkannya. Pada akhir dari setiap hari engkau akan dapat mengatakan, “Tugasku sudah hampir rampung, dan semua perbuatanku tidak dapat diragukan.“ Inilah yang dapat anda lakukan. Pergilah kepada “Pintu” itu, lalu ceriterakan kepadaNya segala keperluanmu dan segala kesulitanmu. Katakanlah, “Tuhan, kesulitanku adalah kesulitanMu. Aku tidak mau membiarkan lagi mereka mengganggu. Aku hendak menetapkan hati dan jiwaku kepada pekerjaan-Mu.”

Lakukanlah ini, Saudara-saudara pemuda dan pemudi, maka kamu akan menyaksikan perkara-perkara yang berbeda secara menakjubkan. Kamu akan menyaksikan, bahwa semua jalan-jalanmu yang Ialu itu adalah jalan-jalan kebodohan. Kamu akan mengatakan pada dirimu sendiri, “Tidakkah aku seorang tolol besar yang melakukan itu dan lainnya?” Saya mengerti apa yang saya sedang bicarakan. Saya mengatakan ini kepadamu dari pengalaman.

Mengapakah banyak orang berjalan pada jalan raya? Sebab di sanalah engkau akan dapat menjadi sesuatu. Tetapi pada jalan yang sempit engkau harus menjadi sesuatu yang betul-betul besar.

Sejumlah pemuda dan pemudi tidak lagi berada dengan kita, sebab mereka telah memutuskan untuk terus berjalan pada jalan raya. Mereka mungkin memperoleh beberapa kepuasan di sana, namun mereka sedang menuju kepada suatu ujian yang besar, dan bagi suatu kerugian yang besar pula. Kalau tidak semua yang belum “dilahirkan kembali” itu kembali kepada dirinya sendiri seperti yang dilakukan oleh anak pemboros itu, maka mereka akan terus berjalan sampai kepada akhir dari pada jalan raya itu. Lalu apa selanjutnya? Setan di belakang dan di sebuah jurang besar di depan. Akan kelak terjadi tangisan dan keretak gigi. Mengapakah anda terus berjalan pada jalan orang-orang bodoh?

Adalah lebih baik tidak melangkahi kesempatanmu sementara ada bunyi ketukan pada pintumu. Tempuhlah “jalan yang lurus” itu dan tinggallah di sana, maka kamu akan memiliki kebahagiaan dan kepuasan sepanjang hari umur hidupmu. Engkau tidak akan lagi berkekurangan maupun menyesaI. Pikiran yang penuh damai inilah yang engkau perlukan. Mengapakah tidak engkau menempuhnya?

 

———-oOOOo———-
 
 
SEORANG KRISTEN
 

Dapatkah aku disebut Kristen
    Sekiranya setiap orang tahu
Berbagai ingatan dan perasaanku yang tersembunyi
    Dan setiap perkara yang ku lakukan ?

Oh, dapatkah mereka melihat akan kesamaan
    Kristus di dalam diriku setiap hari ?
Oh, dapatkah mereka mendengar DIA berbicara
    Dalam setiap kata yang ku ucapkan ?

Dapatkah aku disebut Kristen
    Kalau saja setiap orang dapat mengetahui
Bahwa aku ditemukan di berbagai tempat
    Dimana Yesus tidak akan mau ke sana

Oh, dapatkah mereka mendengar pantulan suaraNya
    Dalam setiap lagu yang ku nyanyikan?
Dalam makan, minum, dan berpakaian
    Dapatkah mereka melihat Yesus dalam diriku?

Dapatkah aku disebut Kristen
    Jika dinilai dari apa yang ku baca,
Dari semua rekreasi kegemaranku
    Dan dari setiap pikiran dan perbuatanku?

Dapatkah aku dipersamakan dengan Kristus
    Karena aku kini bekerja dan berdoa
Tidak mementingkan diri, ramah, suka mengampuni
    Terhadap orang lain setiap hari?

 

                                                                            – The Evangel.

 

 289 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart