<< Go Back
LAODIKEA ATAU DAVIDIAN
YANG MANA?
Victor T. Houteff
Pendeta dari Persekutuan Davidian Masehi Advent
Sabat, 28 September 1946
Gereja Mount Carmel, Waco, Texas
Amerika Serikat
Wahyu 3 : 14 – 18 :
“Suratkanlah kepada malaikat sidangnya orang-orang Laodikea seperti yang demikian : Inilah Sabda daripada Dia yang bernama Amin, yaitu Saksi Yang Setia dan benar, awal segala kejadian Allah; Aku tahu segala perbuatanmu; engkau itu sejukpun tidak hangatpun tidak. Aku suka jikalau engkau sejuk atau hangat. Oleh sebab engkau begitu suam, dan hangatpun tidak sejuk pun tidak, maka Aku hendak meludahkan engkau dari dalam mulutKu. Dengan sebab katamu: ‘Aku kaya dan sudahlah aku peroleh kekayaan dan satupun tiada kekurangan padaku,’ padahal tiada engkau mengetahui, bahwa engkaulah orang malang, dan yang tiada terkasihan, dan miskin, dan buta, dan bertelanjang; sebab itu Aku anjurkan engkau membeli kepadaKu emas yang sudah teruji dengan api supaya engkau kaya, dan pakaian putih supaya engkau berkain, dan jangan ketara malu keadaanmu yang bertelanjang, dan lagi supaya menggosokkan matamu dengan salp mata supaya engkau boleh tampak.”
Apakah kesalahan malaikat sidang Laodikea itu? Ia suam. Ia adalah dingin tidak panas pun tidak. Tuhan menganjurkan kepadanya supaya ia menjadi dingin atau panas, yaitu gelisah mengusahakan sesuatu yang lebih baik daripada tetap tinggal suam, yaitu merasa puas dengan keadaan kerohanian yang telah dicapainya, sambil merasa diri kaya dan bertambah-tambah dengan kekayaan (dengan Kebenaran). Tidak menyadari, bahwa ia adalah miskin, buta dan telanjang secara rohani, maka kepadanya diamarkan untuk itu oleh Dia Yang Maha Tahu sambil diminta untuk bertobat. Jika amaran Tuhan sendiri pun gagal untuk merubah pikirannya, maka satu-satunya jalan yang masih ada bagi Tuhan untuk dilaksanakan ialah meludahkan dia keluar dari dalam mulutNya.
Oleh kata-kata, “Aku kaya, dan telah bertambah-tambah kekayaan,” malaikat Laodikea itu sedang mengatakan, bahwa ia memiliki pengertian yang baik tentang Alkitab dan memiliki “Kesaksian-kesaksian bagi Sidang, dan bahwa semuanya inilah yang membuatnya kaya”. Dan bahwa sebagai tambahan kepada semuanya ini ia memiliki terbitan buku-buku gereja yang lain, yaitu tambahannya. Demikianlah ia membohongi dirinya sendiri, bahwa ia telah memiliki seluruh kebenaran untuk membawanya langsung sampai melewati Pintu-pintu Gerbang Mutiara, sehingga ia tidak memerlukan apa-apa lagi. Tetapi nasehat Tuhan, bahwa ia supaya membeli kepadaNya emas yang telah teruji dengan api supaya ia boleh menjadi kaya, membuka tabir kenyataan, bahwa kekayaan-kekayaan orang-orang Laodikea itu bukanlah “emas murni”, dan bahwa apa yang disebut tambahan kekayaan mereka itu bukanlah tambahan Kebenaran, melainkan interpretasi-interpretasi yang bukan diilhami yang sama sekali tidak berharga yang tidak teruji di dalam api.
Apakah yang dilambangkan oleh salp itu? Pertama-tama sekali marilah kita lihat apa yang menyebabkan seseorang buta rohani. Dia Yang Mengetahui sampai kepada jumlah rambut pada kepala kita itu, menunjukkan bahwa jika “terang yang ada di dalam dirimu itu menjadi gelap, maka betapa besarnya kegelapan itu!” Matius 6 : 23. Jika kelalaian untuk memanfaatkan dengan sepatutnya terang rohani telah membuat pelanggarnya buta, maka sesuatu yang memiliki kuasa untuk membangunkan di dalam dirinya semangat untuk menemukan kembali keadaannya yang sepatutnya, adalah satu-satunya obat baginya. Hanya salp mata yang sedemikian inilah yang mungkin dapat membuka matanya. Marilah secara konkrit saya gambarkan sebagai berikut :
Orang-orang sering menulis ke kantor dengan mengatakan : “Saya dengar begitu banyak yang menentang buku “Tongkat Gembala,” dan apa yang ku dengar itu membuat saya sangat ragu-ragu. Tetapi kebetulan saya dapat memegang salah sebuah dari buku-buku kecil Saudara ……….. lalu demi kehormatan saya pikir saya ingin melihat apa isi buku itu. Tetapi setelah saya membaca beberapa halamannya, dan setelah mata saya mulai terbuka, saya lalu membaca seluruh buku kecil itu. Saya kini ingin sekali membaca semua buku Saudara yang lainnya yang masih ada. Dapatkah Saudara mengirimkan kepada saya bahan-bahan bacaan apa saja yang dapat Saudara sediakan?
Suatu peristiwa yang takdir yang sedemikian lainnya telah menarik perhatian kami dari Tiongkok yang jauh sebagai berikut : “Saya memungut sebagian dari buku kecil Saudara (Traktat No. 13) di jalan, dan isteri saya beberapa hari kemudian memungut bagian lainnya di tepi tempat pejalan kaki dari jalan yang sama. Saya menggabungkan kedua bagian buku itu menjadi satu lalu saya memperoleh alamat Saudara. Saya sangat terkesan kepada semua yang terkandung di dalamnya, maka saya kini dengan penuh perhatian menunggu berita dari Saudara. Dapatkah Saudara menceriterakan kepada saya apa saja yang dapat membantu saya menemukan kegembiraan saya?
Saudara-saudara pencari kebenaran ini jelas melambangkan orang-orang yang dapat ditarik keluar dari faham Laodikeanya. Pengalaman-pengalaman mereka itu menggambarkan, bahwa “salp” itu adalah melambangkan Kebenaran pada waktunya yang diilhami.
Sekarang marilah kuceriterakan kepadamu suatu kelas orang-orang yang lain dari siapa saya seringkali mendengar. Dengarkanlah apa yang mereka katakan: “Peganglah ‘Tongkat’ mu itu bagi dirimu sendiri saja, keluarkanlah namaku dari daftar nama pengiriman saudara. Saya sedikitpun tidak tertarik pada apa yang anda sedang lakukan itu. Semua buku-buku kecilmu itu masuk api segera setelah semua itu sampai kepada saya. Saya tidak pernah membacanya dan saya tidak akan pernah mau membacanya walau hanya sebaris pun. Saya cukup puas (suam) dengan agama saya. Saya adalah bagian dari sidang yang sisa yang sebenarnya dan saya berharap akan berjalan bersamanya. Bagaimana beraninya anda mencoba menipu saya?”
Seorang yang lain mengatakan : “Harap supaya jangan mengirim lagi bahan-bahan bacaanmu, karena saya sudah puas dengan pandangan-pandanganku sendiri.”
Jenis pembicaraan ini adalah contoh dari orang Loadikea. Itu menunjukkan dengan sempurna kesuaman mereka. Tuhan bagaimana pun juga adalah bertentangan terhadap sikap mereka. Adakah sesuatu yang dapat memisahkan garis hubungan seseorang dengan Allah untuk selama-Iamanya secara lebih lengkap dan lebih cepat daripada suatu sikap memiliki semua Kebenaran dan sikap tidak memerlukan apa-apa lagi? Jika bahasa dari surat-surat yang baru saja saya bacakan kepadamu itu tidak mengatakan, “Aku kaya, dan tidak memerlukan apa-apa lagi,” maka apakah sebenarnya yang dikatakannya?
Kelompok orang-orang Laodikea ini tidak akan pernah dapat membuka matanya, tidak akan pernah menjadi sesuatu terkecuali melarat, menyedihkan, miskin, buta, dan telanjang. Mereka tidak akan pernah dapat dijangkau oleh Sorga, bahkan oleh Tuhan sendiri pun tidak. Jika mereka terus saja demikian itu, maka satu-satunya jalan yang Kristus dapat lakukan ialah meludahkan mereka keluar dari dalam mulutNya, artinya tidak akan pernah lagi menyebut nama-nama mereka itu pada Tahta Kemurahan. Apa saja yang baru dari Alkitab yang dibawakan oleh seseorang yang bukan dari mereka, walaupun dikatakan melalui Ilham, dengan cepat dicapnya sebagai “penipuan”, walaupun mereka sendiri telah berada dalam suatu kesesatan yang mendalam. Mereka membaca Alkitab dengan harapan dapat menemukan bukti oleh mana menunjukkan ketidaksepahamannya dengan siapa saja terkecuali dengan diri mereka sendiri.
Marilah kugambarkan: Saya misalkan dalam perjalanan menuju ke bank dengan membawa sejuta dollar, dan saya mungkin yakin secara sungguh-sungguh, bahwa saya adalah seorang jutawan. Tetapi misalkan petugas bank itu mengatakan kepada saya, “Uangmu adalah palsu,” dan misalkan saya tidak lagi memiliki uang yang lain. Maka kaya yang bagaimanakah saya ini? Saya akan menjadi kaya seperti halnya malaikat Laodikea itu. Justru pengalaman terbuka mata yang sedemikian inilah yang dibutuhkan oleh orang-orang Laodikea. Tanpa sesuatu yang terjadi seperti itu bagi mereka, maka mereka akan selamanya mengira, bahwa mereka adalah kaya dan tidak memerlukan apa-apa lagi. Sungguhpun tidak lama lagi, pada sesuatu hari Pengawasan Samawi Sendiri akan mendemonstrasikan kepada mereka di hadapan matanya, bahwa emas mereka itu tidak teruji di dalam api. Baharu mata mereka akan terbuka, tetapi tidak cukup waktu untuk membawakan sesuatu kebaikan bagi mereka.
Apa yang mereka kini saksikan dari jauh, tampaknya bagi mereka secara meyakinkan merupakan “laut kaca” itu. Tetapi apabila mereka sampai pada akhir perjalanan, Ialu memandang dari dekat, maka mereka akan berada di dalam kesedihan yang tak tergambarkan, lalu memandang dari dekat, maka mereka akan berada di dalam kesedihan yang tak tergambarkan, lalu dengan suara yang bergetar ketakutan akan berseru “Bayangan, bayangan! Bukan laut kaca!” Kemudian baharulah mereka bersungguh-sungguh ingin mengetahui Kebenaran, dan bersedia membayar apa saja untuk memperolehNya, tetapi sudah terlambat, dan dengan merubah lambang, mereka akan sampai ke pintu hanya untuk mendengarkan bunyi suara dari dalam yang mengatakan, “Aku tidak mengenal akan kamu.” Matius 25 : 12.
Dari ciri-ciri wajah seseorang kita akan dapat mengenali asal keturunannya; maka sama halnya kita akan dapat menentukan profesi seseorang oleh bentuk pakaian yang dipakainya. Jika seseorang mengenakan pakaian-pakaian yang baik dan tidak dihiasi dengan apa saja yang dapat dikenakannya, maka kita menilainya seorang pengusaha. Jika ia mengenakan pakaian yang bermutu lebih rendah dan mengenakan pada badannya perhiasan apa saja yang dapat ditempelkannya, maka kita menilainya sebagai seorang olahragawan murahan. Jika ia berpakaian apa saja, maka kita menilainya sebagai seorang pekerja. Jika ia berpakaian sebaliknya, maka kita menilainya sebagai seorang pegawai kantor. Tetapi jika ia tidak berpakaian sama sekali, maka tak seorang pun terkecuali Allah sendiri yang dapat mengatakan apa sebenarnya orang itu. Yang sedemikian inilah seorang Laodikea.
Sekarang, jika pakaian putih melambangkan pembenaran Kristus, maka jika seseorang tidak berpakaian sama sekali, telanjang, pembenaran siapakah yang mungkin dimilikinya itu? Pembenarannya sendiri, hanya kulit dalam mana ia telah dilahirkan. Ketelanjangan orang Laodikea justru menggambarkan hal itu, tetapi mereka tidak mengetahuinya. Dalam segala hal saya menyadari, bahwa kata-kata ini keras, tetapi bukannya mengatakan berlebih-lebihan, karena adalah Tuhan sendiri yang mengatakannya.
Ia mengundang Saudara-saudara orang-orang Laodikea untuk membeli kepadaNya emas, yaitu sejenis yang sudah teruji di dalam api (Kebenaran yang diilhami), supaya mereka boleh menjadi betul-betul kaya. Ia mengundang mereka supaya mengenakan pakaian kawin, supaya mereka tidak akan terbuang ke dalam “kegelapan yang di luar”, di sana terdapat tangisan dan keretak gigi. Jika mereka tidak menyambut undanganNya sekarang —- ya, sekaranglah — maka ketelanjangan mereka itu akan dibukakan dan mereka akan dibuat malu.
Jika anda berbuat bertentangan dengan apa yang diperbuat orang-orang Laodikea itu, maka tentunya anda tidak lagi menjadi seorang Laodikea. Dan adalah sama gampangnya untuk mengetahui apakah anda seorang Davidian atau bukan. Untuk menemukan jika anda benar seorang Davidian, maka anda harus pertama-tama mengetahui apa artinya seorang Davidian. Secara ringkas dapat dikemukakan, bahwa seorang Davidian dikenal dari pakaiannya, dari sumber dari mana ia memperoleh pakaian itu, dan oleh apa yang ia berikan sebagai pengganti untuk mendapatkannya. Nabi Zakharia menjelaskan:
Zakharia 3 : 1 – 4 :
“Kemudian daripada itu diberinya aku melihat Yosua, imam besar itu, berdiri di hadapan malaikat Tuhan, dan Setan pun ada berdiri pada kanannya hendak menuduh dia. Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Setan, dilaknatkan Tuhan akan dikau, hai Setan! Bahkan engkau dilaknatkan oleh Tuhan yang memilih Yerusalem! Bukankah ia kini suatu puntung yang sudah direbut dari dalam api? Adapun Yosua adalah berpakaikan pakaian yang kotor sewaktu ia berdiri di hadapan malaikat itu. Maka sahutNya dan berfirmanlah Ia kepada mereka itu sekalian yang berdiri di hadapan hadiratNya, kataNya, ‘Tanggalkanlah kamu pakaian yang kotor ini daripadanya.’ Setelah itu berfirmanlah Ia kepadanya, ‘bahwasanya Aku sudah memaafkan segala kesalahanmu, dan Aku akan mengenakan pakaian pengganti kepadamu.’
Orang yang pertama yang akan diberikan pakaian itu adalah Yosua, imam besar itu, yaitu pejabat yang tertinggi di dalam sidang. Jika ia tidak memiliki pakaian itu, maka tidak seorang pun yang lain dapat pula memilikinya. Dari sini kita saksikan, bahwa pembangunan dan reformasi yang murni dimulai dari kepala, bukan dari kaki, dan bahwa sebelum seseorang diberi kuasa untuk memakaikan pakaian itu, maka kejahatannya sudah lebih dulu disingkirkan ——– ia bertobat dari segala dosanya, dan Tuhan menghapuskan semuanya itu. Sungguhpun Setan adalah juga di sana hendak menolak dan menuduhnya, namun syukurlah kepada Allah, bahwa Tuhan juga berada di sana untuk menghukum musuh itu. Dapatkah anda menangkap pelajaran ini, Saudara dan Saudari? Sementara anda berusaha mendapatkan baju itu anda akan harus menghadapi tantangan-tantangan yang hebat. Tetapi dari hal apakah itu? Adakah iaitu keterlaluan sehingga menghalangi untuk berdiri teguh bagi Kebenaran dan Yang benar apabila orang banyak menolaknya? Dan cara lain yang bagaimana lagi yang dapat menjadikan anda seorang pahlawan bagi Allah? (Bacalah Matius 5 : 10 -12).
Para rasul dan para nabi bukan saja berdiri menentang tantangan dari saudara-saudaranya sendiri, tetapi mereka bahkan dengan gembira mati demi untuk pakaian putih mereka. Sungguhpun demikian anda kini tidak diminta untuk menyerahkan nyawamu, melainkan menyelamatkannya. ‘Meja-meja’ itu kini telah berbalik. Tuhan tidak mau membiarkan anda dimakan habis oleh api. Ia akan menyelamatkan anda bagaikan “suatu puntung yang dipungut dari dalam api.”
Dari sini kita saksikan, bahwa Yosua masa kini harus menggantikan pakaian-pakaian kotornya itu dengan jubah-jubah putih, yaitu dengan pembenaran Kristus.
Zakharia 3 : 5 :
“Maka sebab itu firmanKu: ‘Hendaklah dikenakan destar yang suci pada kepaIanya! Maka dikenakan orang destar yang suci itu pada kepaIanya, dan dikenakan kepadanya pakaian-pakaian, sementara malaikat Tuhan ada hadir.”
Bukan saja kepadanya dikenakan sebuah pakaian putih, tetapi ia juga dimahkotai dengan sebuah destar yang indah. Maka apakah yang dapat ditunjukkan oleh sebuah destar yang sedemikian kalau bukan kekuasaan yang diberikan kepadanya sebagai pemimpin yang ditunjuk Sorga? Yang sedemikian iniIah ia berpakaian muIai dari kepala sampai kepada kaki-kakinya, “dan malaikat Tuhan berdiri di sampingnya.” Alangkah besarnya pemberian itu! Dan aIangkah mulianya pengawaI pribadi itu bagi seseorang yang sama saja keadaannya di dunia ini dengan kita! Walaupun demikian keadaannya manusia adaIah sangat lambat dan ragu-ragu untuk mengambiI pendiriannya pada pihak Tuhan. Kebanyakan dari mereka sebagai gantinya bersandar kepada manusia.
Zakharia 3 : 8 :
“Sekarang dengarlah olehmu, hai Josua, imam besar! Baik engkau baik segaIa kawanmu yang duduk di hadapanmu, karena mereka itu adaIah orang-orang yang dimuIiakan. Karena, bahwasanya Aku akan mendatangkan Pucuk itu, yaitu hambaKu.”
Bukan saja Yosua, melainkan juga orang-orang yang duduk di hadapannya (jemaat) dianjurkan untuk mendengarkan pesan ini. Dan orang-orang yang manakah mereka itu? Mereka adalah orang-orang yang dimuliakan. Simbol ini menunjukkan, bahwa pada kegenapan nubuatan ini malaikat sidangnya orang-orang Laodikea tidak lagi berkuasa atas rumah Tuhan, dan bahwa umat Allah akan dibentuk keseluruhannya terdiri dari orang-orang yang dimuliakan.
Jelaslah pada masa itu, bahwa sebagai hasil dari pembangunan dan reformasi ini di dalam sidang Laodikea, maka muncullah sebuah sidang yang lain oleh mana Yosua menjadi penguasanya, bukan malaikat Laodikea. Di dalamnya tidak akan terdapat baik “lalang” (Matius 25 : 32), “ikan jelek” (Matius 13 : 47, 48) atau “kambing-kambing” (Matius 25 : 32). Laodikea, yaitu yang ketujuh, adalah yang terakhir yang bercampur dengan orang-orang munafik, orang-orang suci dan orang-orang berdosa.
Siapakah yang akan membawakan pembangunan dan reformasi ini kepada perubahan yang sebesar ini? —- PUCUK itu. Dan sesuai dengan kata-kata Jesaya 11 : 1 sampai 5, PUCUK itu adalah Tuhan, yaitu Anak Daud. Kita sekarang membaca :
Zakharia 3 : 9 :
“Karena bahwasanya batu yang sudah Kutaruh di depan Yosua itu; di atas sebuah batu akan terdapat tujuh mata: bahwasanya Aku akan mengukirkan ukirannya, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam, dan Aku akan menghapuskan kesalahan tanah itu dalam satu hari jua.”
Orang-orang yang duduk di hadapan Josua adalah “orang-orang yang dimuliakan.” Karena sedemikian mereka digambarkan dengan “batu” (sidang, atau Kerajaan) yang berada di depan mata Yosua. Batu itu memiliki tujuh mata — artinya penglihatan yang sempurna. Apabila penyucian sidang ini terjadi, maka dosa di dalam negeri itu akan segera disingkirkan — “dalam sehari saja.”
Tampaklah di sini pembangunan dan reformasi yang murni yang diikuti dengan penyucian sidang. Tuhan akan memiliki sebuah sidang yang bersih dan suatu umat yang suci.
Zakharia 3 : 10 :
“Pada hari itu juga, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam; kamu akan memanggil seorang akan seorang di bawah pohon anggur dan di bawah pohon ara.”
“Pada hari itu”, pada hari penyucian ini terjadi, pekerjaan Injil akan segera diselesaikan dengan cara setiap anggota dari rumah Allah memanggil tetangganya datang kepada bagian tanahnya sendiri, kepada apa yang Allah telah tentukan sebelumnya supaya setiap orang dapat memiliki. Oleh karena itu setiap anggota akan menjadi missionaris dalam berbagai kemampuan yang ada. Sesungguhnya inilah pergerakan anggota itu yang akan menyelesaikan pekerjaan lnjil.
Sebutan, “Memanggil seorang akan seorang di bawah pohon anggur dan di bawah pohon ara,” muncul juga di dalam Mikah pasal 4. Di sana diajarkan juga perkara yang sama seperti yang diajarkan oleh Zakharia.
Tetapi pokok persoalan ini tidak berakhir dengan Zakharia pasal 3 saja. laitu masih berlanjut terus.
Zakharia 6 : 11:
“Lalu ambillah olehmu emas dan perak, dan perbuatlah mahkota-mahkota, dan kenakanlah semua itu pada kepala Yosua bin Yozadak, imam besar itu.”
Malaikat itu diperintahkan untuk mengambil perak dan emas, lalu membuatkan mahkota-mahkota — bukan hanya sebuah, melainkan lebih dari sebuah. Semua ini ditempatkan di atas kepala Yosua.
Zakharia 6 : 14:
“Maka mahkota-mahkota itu adalah bagi Helem, dan bagi Tobia, dan bagi Jedaiah, dan bagi Hen bin Zefania, akan suatu tanda peringatan di dalam kaabah Tuhan.”
Ayat 14 mengungkapkan, bahwa Yosua akan meneruskan mahkota-mahkota itu kepada pembantu-pembantunya yang namanya disebut sendiri oleh Tuhan. Inilah akan menjadi suatu peringatan, suatu kenangan yang kekal di dalam kaabah Tuhan.
Apakah yang dapat dimaksudkan oleh semua ini? Beginilah maksudnya: Yosua adalah hakim yang ditunjuk oleh Sorga, yaitu penghulu. Ia sendiri dimahkotai sedemikian. Dan sebagai tanggung jawabnya kepada perintah Tuhan sendiri, maka Yosua memahkotai (memberi kuasa) pembantu-pembantunya yang nama-namanya disebut sendiri oleh Tuhan. Dengan kata lain, sebagai anggota-anggota dari “isi rumah Daud,” Yosua memberi kuasa kepada mereka untuk ikut di dalam tugas. Begitulah, Yosua bertanggung jawab kepada Tuhan, tetapi semua pembantunya bertanggung jawab kepada Yosua. Di sini terlihat sebuah organisasi memiliki seorang Pemimpin dan seorang pemimpin bawahan —– Tuhan dan Yosua. Dengan demikian, maka apa yang akan diikat di atas bumi akan terikat juga di dalam Sorga (Matius 16 : 19).
Sama seperti yang ditegaskan oleh Sorga, maka simbol ini menggambarkan, bahwa umat Allah di dalam pekerjaan penghabisan ini tidak akan bekerja dengan perencanaan yang bertentangan. Semua akan berbicara perkara yang sama. Demikianlah halnya, bahwa “Semua PengawalNya akan mengangkat suara; dengan suara itu bersama-sama mereka akan menyanyi, karena mereka akan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, apabila Tuhan akan membawa kembali Sion” Jesaya 52 : 8. Pada masa itu umatNya akan dipanggil “Umat yang Suci, Orang tebusan Tuhan,” “Yang dicari, sebuah kota yang tidak ditinggalkan” (Yesaya 62 : 12).
Zakharia 6 : 12 :
“Dan katakanlah ini kepadanya, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam, berbunyi, Bahwasanya adapun orang yang bernama PUCUK itu, Ia itu akan tumbuh kelak dari dalam tempatNya, dan Ia pun akan membangun kaabah Tuhan.”
Kepada Yosua diberitahukan, bahwa tanggungan dan ketulusan bagi pembangunan kaabah rohani ini adalah bagi Dia yang namaNya adalah “PUCUK itu”. Ia bangkit keluar dari tempatNya. KepadaNyalah kemuIiaan. Ia sajalah yang harus ditinggikan. Dia yang akan membangun kaabah Tuhan itu.
Zakharia 6 : 13, 15 :
“Bahkan la akan membangunkan kaabah Tuhan itu; dan la akan membawa kemuIiaan, dan akan duduk dan memerintah di atas tahtaNya; dan Ia menjadi imam di atas tahtaNya; dan bicara selamat akan ada di antara keduanya itu. Maka mereka dari negeri yang jauh-jauh akan datang dan membangun di dalam kaabah Tuhan, maka akan diketahui olehmu, bahwa Tuhan serwa sekalian alam itu telah menyuruhkan daku kepadamu. Maka ini akan jadi, jikalau dengan rajin kamu mendengar akan bunyi suara Tuhan Allahmu.”
Demikianlah kelak nubuatan-nubuatan Yesaya pasal 2 dan 4, juga Mikah pasal yang ke 4 akan digenapi.
Akhirnya, bagaimanakah dapat kita mengetahui dengan pasti, bahwa pekabaran ini telah direncanakan dan dicatat terutama bagi sidang pada masa ini? Kita mengetahuinya dari kenyataan, bahwa wahyu dari kata-kata firman ini kini, belum pernah sebelumnya, dibukakan dan diberitakan. Kini pemberitaannya membuat kita tahu, bahwa Tuhan “sedang memegang pimpinan di dalam tanganNya sendiri.” (Testimonies to Ministers, p. 300); bahwa masa penyucian sidang (Pehukuman terhadap orang hidup di dalam rumah Allah —– 1 Petrus 4 : 17) sudah dekat (Testimonies, vol. 5, p. 80); bahwa orang-orang yang sudah suci itu, yaitu mereka yang 144.000 (gandum) —- Wahyu 14 : 1 akan dimasukkan ke dalam lumbung (Matius 13 : 30), tidak akan lagi bercampur dengan lalang; bahwa suatu rombongan besar dari segala bangsa (Wahyu 7 : 9), akan dibawa ke rumah Tuhan (Yesaya 66 : 19, 20).
Saudara, Saudara sendirilah, akan sekarang dapat menjawab pertanyaan apakah Saudara adalah seorang Davidian ataukah masih tetap seorang Laodikea. Jika Saudara sudah merasa cukup dengan diri sendiri, dengan semua pegangan kerohanianmu, dengan rencana Injil buatan manusiamu; jika Saudara mengira, bahwa Tuhan sedang berbicara kepadamu dengan cara apa saja yang kebetulan “mengetuk” di dalam ingatanmu; jika Saudara mengira Saudara telah memiliki semua Kebenaran, dan bahwa Saudara tidak memerlukan apa-apa lagi; jika Saudara mengira, bahwa setiap orang yang tidak memperoleh cap persetujuanmu terhadap kepercayaannya adalah seorang nabi palsu; dan jika Saudara tetap merasa takut, bahwa ada orang sedang terus menerus berusaha menipumu karena ia mengajarkan sesuatu yang baru; jika Saudara tidak pernah memberikan perhatian kepadanya, sehingga Saudara mungkin membanting pintu pun terhadap seorang pembawa Kebenaran yang mungkin membawakan kepadamu “Salp mata” Tuhan itu, dan “pakaian kawin” itu — jika Saudara melakukan semuanya ini ataupun sebagian dari padanya, maka Saudara lebih mungkin harus menjadi seorang Laodikea, dan bukan seorang Davidian.
Tetapi jika Saudara menyadari, bahwa pakaian-pakaianmu adalah kotor, dan bahwa kejahatanmu belum terhapus; jika Saudara menyadari, bahwa Saudara perlu berjalan dalam jalan-jalan Allah sebagaimana yang dikendalikanNya oleh perantaraan Yosua masa kini, jika Saudara adalah seutuhnya bagi Allah saja dan sama sekali tidak bagi diri sendiri ataupun bagi dunia, maka tentu Saudara adalah seorang Davidian atau sedang memulai menjadi seorang Davidian. Jika Saudara belum berpegang pada semuanya ini, maka Saudara hendaknya melihat supaya Saudara laksanakan dan jika Saudara sudah berpegang, maka majulah terus dalam terang itu, maka pastilah Saudara pada akhirnya akan berdiri di Gunung Sion bersama-sama dengan anak Domba itu.
Sekarang sambutlah nasehat Tuhan, dan jangan lagi bagaikan sepotong kulit kayu yang terapung-apung di laut dengan setiap angin kebenarannya.
“………….. Umat Allah ditunjukkan dalam pekabaran kepada orang-orang Laodikea itu bagaikan berada dalam suatu kedudukan kesentausaan badani. Mereka sedang bersantai-santai, sambil percaya akan dirinya sendiri sedang berada dalam kondisi puncak dari pegangan-pegangan kerohanian mereka.
“Betapa besarnya kesesatan yang dapat datang ke atas pikiran manusia dari pada suatu keyakinan, bahwa mereka adalah benar, padahal mereka seluruhnya keliru! Pekabaran dari Saksi Yang Benar itu mendapatkan umat Allah dalam suatu kesesatan yang menyedihkan, tetapi jujur dalam kesesatan itu. Mereka tidak mengetahui, bahwa keadaannya adalah sangat menyedihkan pada pemandangan Allah. Sementara orang-orang yang ditegur itu sedang memuji-muji dirinya, bahwa mereka sedang berada dalam suatu kondisi kerohanian yang tinggi, pekabaran dari Saksi Yang Benar memecahkan ketenangan mereka dengan tuduhan yang mengejutkan tentang keadaan mereka yang sebenarnya, yaitu buta rohani, melarat, dan tidak terkasihan. Kesaksian yang demikian berat dan tajam ini tidak akan mungkin keliru, karena adalah Saksi Yang Benar itu juga yang mengucapkannya, dan KesaksianNya pastilah benar.” — Testimonies for the Church, vol. 3, pp. 252, 253.
Kita tidak berhak menghakimi orang
Sebelum ia diadili seadil-adilnya;
Bukankah kita sama dengan kelompoknya,
Kita tahu dunia adalah luas,
Seseorang mungkin saja bersalah – – – maka
siapakah yang tidak ?
Baik tua maupun muda;
Barangkali kita pun, karena semuanya kita tahu,
Memiliki lima puluh berbanding satu dari mereka.
– Joseph Kronthal.
Bilamana kita berjalan bersama Tuhan
dalam terang dari FirmanNya
Betapa mulianya Ia pancarkan atas perjalanan kita,
Selagi kita melakukan kehendak baikNya,
Ia masih akan terus tinggal bersama kita,
Dan bersama semua orang yang mau percaya dan patuh.
Tidak satupun beban kita pikul
tidak satupun kesusahan dibagikan kepada kita,
Tetapi jerih payah kita dilunasiNya dengan melimpah,
Tidak satupun kesedihan ataupun kerugian,
tidak satupun muram durja ataupun salib
Melainkan berkat jika kita percaya dan patuh.
Tetapi kita belum pernah dapat membuktikan
kegembiraan-kegembiraan dari kasihNya
Sebelum semuanya di atas medzbah kita letakkan,
Bagi perkenan yang Ia perlihatkan,
Dan kegembiraan yang Ia karuniakan,
Adalah bagi mereka yang mau percaya dan patuh
– J. H. Sammis. –
238 total, 1 views today


