<< Go Back
Renungan Doa Pembukaan
Saya akan membaca dari buku The Mount of Blessing, dimulai dengan paragraf yang terakhir pada haIaman 159.
Mount of Blessing, pp. 159, 160:
“….. ‘Kerajaan dan kekuasaan, dan kebesaran kerajaan di bawah seIuruh langit,’ akan diberikan kepada ‘umat kesucian dari Yang Maha Tinggi.’ Mereka akan mewarisi kerajaan yang telah disediakan baginya ‘semenjak berdirinya dunia.’ Maka Kristus akan mengambil bagi diriNya sendiri kuasaNya yang besar itu dan akan memerintah ……….. Hanya orang-orang yang mengabdikan dirinya bagi pekerjaanNya, akan mengatakan, ‘Di sinilah hamba; utuslah hamba,’ mencelekkan mata-mata yang buta, membalikkan orang-orang dari ‘kegelapan kepada terang, dan dari kuasa Setan kepada Allah, supaya mereka boleh memperoleh pengampunan dosa-dosa, dan mewarisi bersama-sama mereka yang disucikan,’ ——– mereka sendiri berdoa dengan sungguh-sungguh, ‘Datanglah kerajaan-Mu.’“
Semua baris kaIimat-kaIimat ini menceritakan kepada kita, bahwa orang-orang yang dengan sungguh-sungguh berdoa “Datanglah kerajaanMu,” orang-orang yang mengabdikan dirinya bagi pekerjaan Allah, orang-orang yang lidahnya teIah disentuh dengan batu-batu bara dari medzbah (yang memandang akan dirinya sendiri sebagai orang-orang berdosa), dan yang kemudian mengatakan, “Di sinilah hamba; utuslah hamba,” adalah khusus orang-orang yang pantas untuk diutus ke dalam kebun anggur Allah di masa ini.
Dan sekarang bagaimanakah hendaknya doa kita? –- Supaya kita dapat dengan sadar mengatakan, “Datanglah kerajaan-Mu,” sambil menyadari, bahwa kita sedang betul-betul mengatakan, bahwa kita sedang melakukan apa saja yang dapat kita buat untuk mengatakan kata-kata itu, bahwa kita sedang bekerja dengan tak henti-hentinya untuk itu; bahwa kita sedang menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan seperti halnya malaikat-malaikat.
Betapa bertentangannya bagi seseorang yang mengucapkan doa Tuhan itu sementara melakukan sesuatu yang lain dari pada berusaha bagi kegenapannya! Itu adalah bagaikan seseorang yang mengatakan, “Berikanlah saya tanganmu,” sementara pada waktu yang sama ia menghapuskannya. Doa yang sedemikian justru merupakan suatu bentuk hojat. Kita hendaknya berdoa supaya kita menyesuaikan kemauan kita dengan kehendak Allah, setia di dalam pekerjaanNya, dan jujur kepada milikNya saja.
— 0 —
270 total, 1 views today


