<< Go Back
PEMBANGUNAN DAN REFORMASI
Oleh: Victor T. Houteff
Sore hari ini kita akan memulai penyelidikan kita terhadap apa yang telah kita tinggalkan dalam penyelidikan kita yang terdahulu terhadap nubuatan-nubuatan Hajai dan Zakharia. Marilah kita kembali kepada:
Hajai 2 : 1 – 3:
“Pada bulan yang ketujuh, pada hari yang kedua puluh satu dari bulan itu datanglah firman Tuhan dengan lidah nabi Hajai, bunyinya: ‘Katakanlah sekarang kepada Zerubabel bin Sealtiel, penghulu Yehuda, dan kepada Yoshua bin Yozadak, imam besar, dan kepada orang-orang yang lagi tinggal itu demikian: Siapakah yang masih tertinggal di antara kamu yang telah menyaksikan rumah ini dalam kemuliaannya yang dahulu itu? Dan bagaimanakah kamu menyaksikannya sekarang? Bukankah pada pemandanganmu seakan-akan satu pun tiada adanya?”
Seperti pada masa pendirian kaabah yang menjadi contoh itu, demikian pula tak dapat tiada akan jadi pada masa pendirian kaabah contoh saingan dalam sejarah kita. Dari contoh itu terlihat bahwa seperti halnya Firman Tuhan kemudian telah dialamatkan kepada para penghulu, kepada imam besar, dan kepada orang-orang biasa, demikian pula pada waktu itu Firman Tuhan akan dibawakan kepada semua orang tanpa melihat kepada pangkat ataupun kedudukan dalam hidupnya.
Firman Tuhan kepada seluruh umat dalam masa hidupnya Hajai dan Zakharia adalah supaya para tukang hendaknya memikirkan bagi kekecewaan hatinya, bahwa kemuliaan dari kaabah yang sedang dibangunnya itu pada pemandangan mata mereka adalah sia-sia diperbandingkan dengan kemuliaan kaabah Solaiman.
Hajai 2 : 4, 5:
”Tetapi sekarang pertetapkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman Tuhan! Dan beranikanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar. Dan pertetapkanlah hatimu, hai segala anak negeri, demikianlah firman Tuhan, bekerjalah, karena Aku ada menyertai kamu, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam: sesuai dengan firman tatkala Aku berjanji dengan kamu pada masa kamu keluar dari Mesir, maka Roh-Ku akan tinggal di tengah-tengah kamu selalu; janganlah kamu takut.”
Tuhan memberikan jaminan kepada umat-Nya, bahwa cinta yang Ia miliki bagi mereka itu tidak berkurang, dan bahwa kuasaNya untuk melepaskan dan menolong masih tetap sama seperti pada masa Ia membawa keluar leluhur mereka itu dari Mesir; sebagaimana Ia tidak melalaikan umat-Nya di masa itu, maka Ia pun tidak akan melalaikan mereka itu, dan bahwa Roh-Nya akan tetap berada dengan mereka.
Hajai 2 : 6 – 8:
“Karena demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam: sekali lagi, seketika juga adanya, maka Aku akan menggentarkan segala langit dan bumi dan laut dan darat. Dan Aku akan menggetarkan segala bangsa, maka kegemaran segala bangsa itu akan datang: maka Aku akan mengisi rumah ini dengan kemuliaan, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam. Perak adalah milik-Ku, dan emas adalah milik-Ku, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam.”
Bahwa nubuatan di dalam ayat-ayat ini masih akan digenapi, adalah sangat jelas, karena pada masa kaabah ini diperdirikan Allah akan menggetarkan segala langit, bumi, dan segala bangsa; bahwa harapan mereka itu kemudian akan datang dan bahwa kaabah itu akan dipenuhi dengan kemuliaan; bahwa para tukang tidak akan kecewa memikirkan keuangan.
Adalah benar, bahwa orang-orang mengawasi dan menggunakan perak dan emas, namun tidak boleh dilupakan, bahwa semua itu adalah kepunyaan Allah, dan bahwa jika Ia memerlukannya, maka Ia mampu untuk mengambilnya dan berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya dengan semuanya itu, bahwa para tukang tidak perlu takut akan kekurangan emas dan perak itu jika mereka menggunakannya sesuai dengan apa yang Allah menghendaki mereka berbuat dengannya.
Oleh karena adalah jelas, bahwa kaabah yang kuno itu adalah contoh dari sebuah kaabah yang akan diperdirikan pada masa Allah menggetarkan segala langit, bumi, dan segala bangsa, maka persoalan ini menjadi sangat jelas, bahwa Ilham di sini berbicara dari hal sebuah kaabah contoh saingan.
Hajai 2 : 9:
“Adapun kemuIiaan rumah yang kemudian ini akan lebih besar dari pada kemuliaan rumah yang dahulu itu, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam; dan dalam tempat ini akan Ku karuniakan damai, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam.”
Janjinya adalah, bahwa kemuliaan yang pernah berada dengan kaabah Solaiman itu kelak akan melebihi lagi dengan kaabah contoh saingan, yang akan diperdirikan oleh sidang yang sudah suci, yaitu sidang selama masa penuaian, masa di mana Allah akan menggetarkan langit, bumi, dan segala bangsa — selama hari Tuhan yang besar dan hebat itu.
Oleh karena semua janji ini tidak digenapi di masa kaabahnya Zerubabel, maka persoalan ini menjadi sangat jelas, bahwa semua janji itu akan digenapi di waktu ini, dan oleh karena kebenaran-kebenaran akhir zaman ini kini telah dibukakan bagi kita, maka kita harus menjadi tukang-tukangnya, yaitu kemuliaan oleh mana akan melebihi semua kemuliaan yang di masa lalu. Lagi pula tempat di mana kaabah contoh saingan ini berkedudukan akan terdapat damai, dan caranya perdamaian itu selengkapnya akan dicapai diceriterakan dalam:
Hajai 2 : 21, 22:
“Katakanlah olehmu ini kepada Zerubabel, penghulu Yehuda, bahwa Aku akan menggoncangkan segala langit dan bumi; dan Aku akan meruntuhkan tahta segala kerajaan, dan Aku akan membinasakan kekuatan segala kerajaan orang kapir; dan Aku akan membalikkan segala kereta serta orang-orang yang menunggangnya; maka segala kuda dan penunggang-penunggangnya akan jatuh, masing-masingnya oleh pedang saudaranya sendiri.”
Kembali terlihat, bahwa pada masa Tuhan menggoncangkan segala langit dan bumi, Ia juga membinasakan segala kerajaan bumi dengan cara membiarkan mereka saling membunuh antar sesamanya. Jadi, tidaklah heran, bahwa segala bangsa kini ikut dalam perlombaan senjata, dan seluruh dunia berada di tepi jurang kejatuhan ke dalam pertikaian berdarah yang akan pernah diketahui. Adalah sukar bagi siapapun untuk sampai kepada sesuatu kesimpulan lain dari pada kesimpulan bahwa hari Tuhan yang besar dan hebat itu adalah sudah dekat.
Oleh karena Zerubabel adalah sebuah “tanda kecil”, yaitu suatu lambang atau contoh dari tukang-tukang itu di masa Tuhan menggoncangkan segala langit dan bumi, maka gambaran Yehezkiel dari hal kaabah mistik (pasal 40 – 47) yang masih akan diperdirikan itu, dapat merupakan denah dari kaabah contoh saingannya Zerubabel.
Tetapi anda mungkin bertanya, “tidakkah pendapat ini bertentangan terhadap kepercayaan kita yang terdahulu?” — Saya akui memang begitu. Tetapi akan kita terus berjalan dengan apa yang kita telah percayai, ataukah oleh apa yang Firman Tuhan katakan? Maka untuk tujuan apakah semua nubuatan itu jika kita tidak akan menaruh perhatian kepadanya? Dan mengapakah semuanya itu kini dibukakan lalu dibawakan ke hadapan perhatian kita jika ini bukan masanya dalam mana Allah akan menyatakan kuasa-Nya dan akan menyelesaikan semua perkara ini? Hendaklah diingat, bahwa kita bukanlah yang pertama dan satu-satunya umat yang sudah akan merubah cara berpikir kita; kita bukanlah yang pertama dan satu-satunya umat yang menemukan, bahwa rencana-rencana Allah adalah bertentangan terhadap rencana-rencana kita. Musa juga menemukan, bahwa rencananya untuk melepaskan bani Israel dari perhambaan Mesir adalah bukan rencana Allah. Sama seperti rencana Allah bagi rute perjalanan yang akan ditempuh mereka dalam perjalanan mereka menuju ke tanah perjanjian adalah bukan rencana mereka. Rasul-rasul percaya dengan pasti, bahwa Kristus akan mendirikan kerajaan-Nya pada kedatanganNya yang pertama, namun mereka juga harus merubah kepercayaan mereka. Lagi pula, oleh karena orang-orang Ibrani yang dari budak-budak telah dijadikan Allah raja-raja, telah dijanjikan, bahwa kerajaan mereka akan berdiri kekal untuk selama-lamanya, mereka betul-betul terkejut sewaktu ia itu runtuh. Maka masih terdapat berbagai kejutan yang lain sepanjang sejarah sampai kepada hari ini.
Para pelopor gereja Masehi Advent Hari Ketujuh mengharapkan Tuhan datang segera sesudah 144.000 orang bertobat menggabungkan diri dengan sidang, dan berharap hidup untuk menyaksikan kedatangan-Nya. Sungguh pun keanggotaan sidang sudah berjumlah beberapa kali lipat 144.000 orang, para pelopor itu sudah mati, dan Tuhan masih akan datang. Jadi, masalahnya adalah bukan apakah kita hendak merubah pikiran kita atau tidak, melainkan apakah kita harus merubah pikiran.
Beberapa tahun lalu kepada kita diceritakan, bahwa “Para pengerja akan tercengang oleh alat-alat sederhana yang Ia akan gunakan untuk mendatangkan dan menyempurnakan pekerjaan kebenaran-Nya. Orang-orang yang dinilai sebagai pengerja-pengerja yang baik akan perlu datang dekat kepada Allah, mereka akan memerlukan sentuhan Ilahi.” — Testimonies to Ministers, p. 300.
Sementara Ilham membukakan Gulungan kertas, maka pasti tak dapat tiada diharapkan, bahwa ia itu akan mendapatkan kita secara mengejutkan bodoh dalam banyak perkara — alasan yang sebenarnya sehingga Ia membukakan. Oleh karena itu, jika kita gagal merubah pikiran kita bagi pikiran-pikiran Tuhan, maka harapan apakah tersedia bagi kita untuk kelak dapat diterangi serta pantas bagi kekekalan? Semua pikiran kita akan jatuh merata, dan nubuatan-nubuatan Tuhan akan berdiri ‘tinggi dan terangkat ke atas.’ Kewajiban kita ialah membuktikan Firman Allah itu benar dan bukan berpegang teguh kepada konsep-konsep pengertian kita sebelumnya dan yang salah itu sampai kelak Allah sendiri datang dan membuat kita malu.
Sebagai orang-orang Masehi Advent Hari Ketujuh kita pernah sekali menyombongkan diri, bahwa kita “mengenal akan Alkitab kita”, tetapi semenjak kelompok ini berhenti menyombongkan diri, maka diketahui bahwa ia mengetahui sangat sedikit diperbandingkan kepada apa yang diketahuinya sekarang, dan saya masih belum dapat mengatakan, bahwa saya memiliki cukup pengetahuan terhadap Alkitab yang dapat membawa saya dengan lebih jelas sampai ke dalam pintu-pintu gerbang mutiara itu. Sesungguhnya, saya mengetahui, bahwa masih banyak lagi yang harus saya pelajari.
Hajai 2 : 10 – 13:
“Pada hari yang kedua puluh empat dari bulan yang kesembilan, dalam tahun kedua dari kerajaan Darius, datanglah Firman Tuhan dengan lidah nabi Hajai, bunyinya: ‘Demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam; bertanyakanlah sekarang segala imam akan torat, katakanlah; Apabila seorang membawa daging yang suci dalam punca kainnya, dan dengan punca itu terkenalah ia kepada roti, atau kepada kentang, atau kepada air anggur, atau kepada minyak, atau kepada barang sesuatu makanan, maka bolehkah ia itu menjadi suci? Maka sahut segala imam itu katanya. Tidak. Maka kata Hajai: ‘Jikalau barang seorang najis oleh bangkai lalu menyentuh sesuatu dari pada segala perkara ini, bolehkah itu menjadi najis? Maka sahut segala imam itu, katanya: ‘Ia itu akan najis juga.”
Jika sekiranya seseorang yang membawakan pesan-pesan Allah yang suci menyentuh sesuatu benda yang biasa, benda itu akan masih tetap biasa dan tidak pantas untuk dibawa kepada Allah; tetapi jika sekiranya seseorang yang tubuhnya kotor menyentuh sesuatu benda suci, maka benda itu akan menjadi najis, tidak pantas untuk digunakan bagi korban kepada Tuhan. Artinya, orang yang suci harus tidak membawakan sesuatu benda yang najis kepada Tuhan, dan orang yang tidak suci harus tidak membawakan walaupun benda-benda yang suci sekalipun kepadaNya.
Hajai 2 : 15 – 17:
”Maka sekarang, hendakIah kiranya kamu memperhatikan semenjak hari ini dan yang sudah lalu, dahulu dari pada batu ditumpangkan di atas batu di dalam kaabah Tuhan: Semenjak hari-hari itu, tatkala datang orang kepada timbunan gandum yang dua puluh gantang, maka didapatinya hanya sepuluh gantang: tatkala orang datang kepada tempat air anggur hendak menciduk lima puluh takar dari dalam apitan, maka didapatinya hanya dua puluh. Kamu sudah kupalu dengan peledakan dan dengan kelapukan dan dengan hujan air beku kepada segala perbuatan tanganmu; namun kamu tidak juga berbalik kepada-Ku, demikianlah firman Tuhan.
Dengan contoh pengalaman ini kata-kata firman ini mengajarkan, bahwa berusaha mencari nafkah sambil lalai melaksanakan pekerjaan Tuhan, maka kemelaratanlah sebagai ganti kemakmuran yang akan menjadi bagian seseorang. Oleh karena itu adalah mutlak penting, bahwa para penganut Kebenaran sekarang pertama-tama berusaha mendirikan Kerajaan Allah dan KebenaranNya, jika mereka hendak berkembang makmur. (Matius 6 : 28 – 34). Marilah kita kenangkan selalu, bahwa jika kita sepenuhnya berada pada pihak Tuhan, di balik pagar perlindungan Allah, seperti akan halnya Ayub, maka kita tak perlu takut akan sesuatu perkara, walaupun si jahat sekalipun.
Hajai 2 : 18, 19:
“Perhatikanlah sekarang semenjak hari ini dan ke atas, semenjak hari yang kedua puluh empat dari bulan yang kesembilan, yaitu semenjak dari hari dibubuh alas kaabah Tuhan, perhatikanlah dia baik-baik. Masih adakah lagi benih di dalam lumbung? Sesungguhnya karena pokok anggur, dan pokok ara, dan pokok delima, dan pokok zait belum juga berbuah, maka mulai dari pada hari ini Aku akan memberkati kamu.”
Contoh ini mengajarkan, bahwa semenjak dari hari kita mulai melaksanakan pekerjaan Tuhan, semenjak hari itu juga Tuhan akan memberkati kita.
Hajai 2 : 14:
” . . . . Begitulah hal umat ini, dan begitulah hal bangsa ini di hadapan hadirat-Ku, demikianlah firman Tuhan; dan begitulah hal segala perbuatan tangan mereka; maka apa yang dipersembahkannya di sana, semuanya itu najis adanya.”
Ayat ini menunjukkan, bahwa jika kita gagal melaksanakan tugas pemberian Allah kita, maka tidak akan ada penggantinya.
Segera setelah kepada mereka diceritakan dari hal dosa-dosa para leluhur mereka dan dosa-dosa mereka sendiri, maka contoh-contoh kita dengan gembira menyesuaikan kepada kehendak-kehendak Tuhan. (Lihat Hajai 1 : 5 – 11). Dengan cara yang sama Ia akan memberkahi kita semenjak dari hari ini dan seterusnya, jika kita juga mengakui perbuatan-perbuatan kita yang keliru, lalu memperbaikinya.
Hajai 1 : 12 – 14:
“Hata, maka pada masa itu dipatuhilah oleh Zerubabel bin Sealtiel dan Josua bin Jozadak, imam besar itu; dan segala orang lain yang masih tinggal itu akan suara Tuhan, Allah mereka, dan akan kata nabi Hajai yang telah disuruhkan oleh Tuhan, Allah mereka itu; maka takutlah orang banyak itu di hadapan hadirat Tuhan. Maka kata Hajai, utusan Tuhan itu, dengan firman Tuhan kepada orang banyak itu begini: bahwa Aku adalah menyertai kamu, demikianlah firman Tuhan. Maka dijagakan Tuhan akan roh Zerubabel bin Sealtiel, penghulu Yehuda, dan roh Josua bin Jozadak imam besar itu, dan roh segala orang yang lagi tinggaI itu; laIu datanglah mereka itu mengerjakan pekerjaan di daIam rumah Tuhan serwa sekalian alam, yaitu Allah mereka.”
Ayat-ayat ini menceriterakan kepada kita, bahwa segera setelah semua umat mematuhi akan utusan-utusan Allah itu, maka sesegera itu juga Roh Tuhan membangkitkan kemampuan mereka, laIu kemudian dengan segera semua mereka pergi bekerja. Kita pun akan memiliki suatu pengaIaman yang sedemikian jika kita sekarang memutuskan daIam hati kita, bahwa semenjak jam ini dan seterusnya kita akan memperhatikan dengan sungguh-sungguh akan pekabaran Allah dan melayani Tuhan Allah kita dengan sebulat-bulat hati dan jiwa. Hendaknya jangan kita mengesampingkan berkat-berkat Allah dari pada kita.
Hajai 2 : 20, 21:
“Maka kembali datanglah Firman Tuhan kepada Hajai pada hari yang kedua puluh empat dari bulan itu, bunyinya: Katakanlah kepada Zerubabel, penghulu Yehuda, bahwa Aku akan menggoncangkan segaIa langit dan bumi.”
Melihat kepada kenyataan, bahwa Tuhan akan segera menggoncangkan segala langit dan bumi, maka tidakkah sepatutnya, bahwa kita sekarang juga membuang semua kemunafikan? Marilah kita berhenti dari mengundang datangnya “kekeringan”, “letusan”, dan “kelapukan” atas diri kita sendiri. SebaIiknya marilah kita menyerahkan hati kita kepada Allah dan oleh karenanya menjaminkan bagi diri kita kegembiraan, kebahagiaan, kesenangan dan hidup yang kekaI. Jika kita tidak melakukan ini, maka pasti kita akan digoncangkan keluar, gantinya membangun dan bereformasi.
*******
259 total, 1 views today


