Berbagai Faham dan Obatnya
<< Go Back


BERBAGAI FAHAM DAN OBATNYA

 

Oleh: Victor T. Houteff

 

 

Perkenankanlah saya memperkenalkan pokok pembicaraan saya dengan menceritakan kepada saudara suatu cerita sederhana.

Pada suatu hari ada enam orang bersaudara sedang membangun sebuah jembatan, misalkan bagi dewa Keadilan. Maksud dari jembatan itu adalah untuk mempersatukan timur dengan barat.

Mereka tidak memiliki kesulitan dalam meletakkan pondasi-pondasi dan mendirikan tonggak-tonggak utamanya. Namun ternyata, apabila mereka sampai pada menyambungkan sayap timur dengan sayap barat, maka mereka menemukan dirinya berlawanan terhadap suatu hambatan yang luar biasa: Apa yang mereka telah perdirikan pada siang hari, ia itu telah diruntuhkan pada malam hari. Keajaiban ini berlangsung dari hari ke hari. Akhirnya saudara bersaudara ini berkumpul dalam suatu pertemuan rapat membicarakan bagaimana dapat mereka memecahkan persoalan gangguan mereka itu. Mereka berpikir, bahwa untuk meninggalkan pekerjaan itu akan merupakan suatu kebodohan terbesar yang pernah dideritanya, bahwa itu akan menjatuhkan nama baik mereka, mereka mempelajari dan mereka berdoa.

Setelah sekian lamanya mereka memutuskan, bahwa dewa Keadilan karena satu dan lain hal tidak merestui mereka dan bahwa suatu pengorbanan manusia mungkin akan menenteramkan dia. Demikian itulah sehingga mereka memutuskan untuk mengorbankan salah seorang istri mereka yang terbaik. Tetapi ini bukanlah untuk dibukakan kepada para wanita itu. Untuk melaksanakan suatu pilihan yang dapat diterima dan adil, maka mereka selanjutnya memutuskan, bahwa pada keesokan hari pagi-pagi masing-masingnya supaya memerintahkan kepada istrinya untuk mempersiapkan makan pagi dan siang yang terbaik mungkin, dan supaya menghantarkan makanan itu kepadanya di jembatan itu pada pagi-pagi sekali. Mereka harus menjelaskan kepada istri-istri mereka, bahwa mereka perlu sekali makan dan berdoa pada tepi jembatan bagi kemuliaan dari dewa Keadilan, dan bagi keberhasilan proyek bangunan mereka itu. Wanita yang pertama datang dengan makanan-makanan akan dijadikan korban.

Sungguhpun demikian lima dari orang-orang itu tidak berpegang teguh pada sumpah setia mereka. Masing-masing mereka langsung pergi menceritakan kepada istri mereka dari hal apa yang akan dilakukan, dan oleh karena itu supaya mereka hendaknya jangan tergesa-gesa pergi ke jembatan itu dengan makanannya.

Pada pagi hari, pada saat yang telah ditentukan, orang-orang laki-laki itu telah berada di tempat pada jembatan itu. Tak lama kemudian mereka menyaksikan dari kejauhan seseorang sedang datang ke jembatan itu. Untuk beberapa saat lamanya tak seorang pun mengetahui dengan pasti siapa orang itu, tetapi segera kemudian orang yang telah memegang teguh bagiannya dari persetujuan itu mengenalnya bahwa itulah istrinya. Ia tentunya tak lama kemudian menangis, dan dengan ratap tangisnya rebahlah ia ke tanah. Memandang kepada tingkah laku suaminya yang aneh itu, maka istri itu lalu melepaskan bakul makanannya dan berlarian ke tempat itu mencari tahu apa sebabnya. Tetapi sementara ia mencoba untuk menenteramkan suaminya, maka kelima saudara laki-laki lainnya itu menangkapnya lalu membawanya ke dalam sebuah lubang di dalam jembatan itu, dan di sanalah mereka menanamkannya secara hidup-hidup. Kini, para saudara itu dengan yakin mengharapkan jembatan itu akan tetap bertahan, karena mereka merasa, bahwa mereka telah melaksanakan semua yang dapat mereka lakukan untuk menenteramkan dewa Keadilan.

Demikianlah keadaannya, bahwa sementara kelima orang yang tidak jujur pada malam hari itu kembali pulang dengan gembira, maka seorang yang jujur itu kembali ke rumahnya dengan kesedihan.

Pada pagi hari berikutnya semua orang laki-laki itu bergegas-gegas menuju ke jembatan itu, mereka mengharapkan untuk mendapatkannya tetap berdiri teguh. Tetapi dengan terkejut dan takut mereka menemukan keseluruhan jembatan itu terletak rata dengan tanah.

Dengan sendirinya peristiwa itu telah menjadi buah bibir orang di seluruh kota, dan para hakim dari kota itu pergi menyaksikan kegemparan besar apa yang telah terjadi. Setelah mereka mendengarkan berbagai argumentasi dan falsafah dari para pembangun jembatan itu semenjak dari sebab-musabab sampai kepada akibat, mereka menemukan, bahwa wanita yang malang itu telah dikorbankan tidak secara jujur, melainkan secara curang. Jadi mereka menyimpulkan, bahwa keseluruhan bencana itu adalah disebabkan karena kenyataan, bahwa orang-orang yang tidak benar sedang mencoba membangun sebuah jembatan dengan kehormatan suatu dewa yang adil. Masalah itu dibawakan ke hadapan pengadilan dan para hakim akhirnya memutuskan, bahwa Keadilan harus dipenuhi, jika tidak maka bukan saja jembatan, melainkan juga kota mereka mungkin akan runtuh ke tanah. Bersamaan dengan itu, maka pada hari itu juga kelima orang laki-laki yang tidak jujur itu dihukum mati, dan orang laki-laki yang setia itu diangkat menjadi walikota dari kota itu.

Demikianlah misalkan, orang-orang Kristen membangun sebuah jembatan bagi Allah Keadilan untuk bertahun-tahun lamanya. Tetapi mereka tampaknya tidak memperoleh satu pun kemajuan, sama seperti keenam orang laki-laki pembangun jembatan itu. Dan karena alasan apakah itu? — Karena alasan yang sama itu juga di mana keenam pembangun itu telah gagal: Orang-orang yang mementingkan diri ikut dalam pekerjaan itu, dan sungguhpun mereka melihat perlunya suatu pengorbanan, namun bagaimanapun juga mereka selalu berusaha untuk membuat orang lain yang melakukan pengorbanan itu.

Dan saudara ingat, bahwa sungguhpun pembangunan tugu Babel yang dulu itu adalah bertentangan terhadap kehendak Allah dan ketertiban-Nya, namun selama para pembangunnya bekerja dengan penuh keharmonisan di antara mereka, proyek bangunan mereka berkembang — tugu mereka menonjol sampai ke langit. Tetapi setelah bahasa mereka itu dikacaukan, dan setelah mereka tidak lagi dapat mengerti antar sesamanya, maka kemajuan pembangunan tugu itu lalu berhenti. Maka untuk menunjukkan kepada mereka, bahwa Ia tidak merestui akan proyek mereka itu dan bahwa Ialah Satu-Satunya Yang telah mengacaukan bahasa mereka itu, Allah telah memusnahkan tugu itu sehingga ia itu telah menyusut sampai ke tanah. Apa yang telah jadi pada jembatan itu, telah berlaku pula terhadap tugu Babel itu.

Orang-orang Kristen sedang bekerja secara saling bertentangan di antara mereka sendiri. Saudara Kristen yang satu sedang menghianati saudaranya yang lain. Gantinya menghotbahkan Kebenaran, pendeta-pendeta Kristen sedang berhotbah bertentangan satu terhadap yang lain. Yang satu maju terus untuk membangun, dan yang lainnya menyusur di belakang untuk meruntuhkan. Mereka tidak saling sepakat antara sesamanya, mereka juga tidak saling mengerti antar sesamanya, sama seperti halnya para pembangun tugu Babel yang kacau itu.

Selama sifat mementingkan diri dan ketidak jujuran yang sedemikian, kekacauan dan kebencian, masih terdapat di antara umat Kristen, maka jembatan mereka dan tugu mereka, begitulah kita misalkan, akan pasti sia-sia seperti akan halnya jembatan dari keenam penghianat janji itu dan seperti akan halnya tugu dari para pengolok-olok nabi Nuh itu. Tidak ada jalan untuk mengakhiri kekacauan faham tanpa menyingkirkan penyebabnya — tidak, sebuah luka pecahan tidak akan sembuh sebelum pecahan itu sendiri disingkirkan.

Saudara telah mengetahui akan kenyataan, bahwa tidak ada terdapat kekacauan faham di masa Musa dahulu selama Musa sendiri yang menginterpretasikan Firman Allah itu kepada seluruh umat. Tetapi segera setelah Korah, Datan, Abiram dan lain-lainnya mencita-citakan menduduki jabatan Musa, maka kekacauan faham mulailah. Maka satu-satunya obat yang hanya Allah sendiri yang dapat menemukannya ialah membuat bumi mengangakan mulutnya dan menelan orang banyak penghirup faham itu, yaitu para hamba Allah ciptaan sendiri itu.

Di dalam sejarah kita terdapat bahkan kebanjiran para penterjemah Firman yang lebih besar (penyebab dari berbagai faham masa kini) dari pada yang terdapat di masa Musa dahulu. Dan sesuai dengan Wahyu 12 : 15, 16, Tuhan mengamarkan, bahwa Ia akan kembali menggunakan suatu obat yang sama dengan obat kuno dahulu itu untuk melawan makanan ciptaan faham masa kini. Maka orang dapat belajar untuk menghargai jabatan dari Roh Nubuat. Marilah sekarang kita membaca dari hal nasib orang-orang yang memilih untuk terus berjalan di bawah terang ciptaannya sendiri.

Wahyu 12 : 16:
“… dan bumi mengangakan mulutnya, lalu menelan air bah yang disemburkan oleh naga itu dari dalam mulutnya.”

Di sini kita saksikan, bahwa suatu obat yang sama yang mengakhiri berbagai faham di masa Musa dahulu akan kembali digunakan untuk mengakhiri semua faham yang ada dalam sejarah kita sekarang ini, satu-satunya alat oleh mana keharmonisan akan dapat dikembalikan di antara semua teman anggota di dalam sidang sendiri, sama seperti juga di antara umat Kristen pada umumnya.

2 Timotius 3 : 16, 17:
“Adapun segala Kitab itu telah diberikan melalui Ilham dari Allah, dan berguna bagi ajaran, bagi teguran, bagi pembetulan yang salah, bagi petunjuk dalam segala kebenaran: supaya hamba Allah boleh menjadi sempurna, sepenuhnya lengkap bagi segala perbuatan yang baik.” (Terjemahan yang lebih tepat).

2 Petrus 1 : 20, 21:
“Pertama-tama sekali ketahuilah ini, bahwa tak ada nubuatan Alkitab yang berasal dari pada akal orang sendiri. Karena tiada pernah ada nubuatan yang datang di masa lalu oleh kehendak manusia, melainkan datangnya dari pada Allah, diucapkan oleh orang-orang suci Allah yang dikendalikan oleh Roh Suci.”

Dengan pasti ditegaskan, bahwa semua Kitab, bukan hanya sebagian dari pada-Nya, adalah diilhami. Secara negatif ditegaskan, bahwa tak satupun dari pada-Nya adalah hasil terjemahan sendiri, karena alasan, bahwa Ia itu bukan datang dari manusia, melainkan dari pada Allah; artinya, sebagaimana Roh Allah mendiktekan kepada manusia Kitab-kitab itu, demikian itu pula Roh Allah harus menginterpretasikan pengertian Kitab-kitab itu kepada manusia, sehingga tak seorangpun dengan sendirinya (tanpa diilhami) mampu memecahkan nubuatan-nubuatan yang termeterai itu atau menginterpretasikan sesuatu bagian dari semuanya itu atau bahkan mampu memahami pentingnya nubuatan-nubuatan itu sesudah semua itu diinterpretasikan, terkecuali ia itu diinterpretasikan oleh karunia Roh Kebenaran. Oleh karena itu, “tak seorangpun dari pada segala orang jahat akan dapat mengerti; tetapi orang-orang bijaksana akan mengerti.” Daniel 12 : 10.

Kita hendaknya sekarang menyadari, bahwa selama perintah Ilahi ini dan prinsip menginterpretasikan Firman Allah diabaikan dan disalahgunakan, dan selama sifat mementingkan diri dan keras kepala masih terdapat di antara umat Kristen pada umumnya dan di antara para pelajar Alkitab pada khususnya, maka berbagai faham akan terus meningkat, dan kekuatan umat akan terus dihambur-hamburkan sama seperti kekuatan dari para pembangun jembatan itu maupun dari para pembangun tugu Babel itu. Sesungguhnya, secara pasti seperti halnya sesudah siang hari menyusul malam, maka pasti segala usaha mereka itu akan sia-sia, dan semua malu mereka itu akan ditelanjangi.

Bahwa kita tak mungkin dapat dibawa ke dalam semua Kebenaran tanpa karunia dari Roh Nubuat, Ilham secara simbolis mengamarkan melalui nabi Zakharia. Marilah kita kembali kepada Zakharia pasal 4, dan memulai dengan ayat yang pertama.

Zakharia 4 : 1 – 4:
“Maka kembalilah malaikat yang berkata-kata dengan aku itu, lalu dijagakannya aku seperti orang yang dijagakan dari pada tidurnya. Maka katanya kepadaku, ‘Apakah yang engkau lihat?’ Maka sahutku, ‘Bahwasanya aku melihat sebuah kaki dian yang dari pada emas seluruhnya, dan sebuah tempat minyak terdapat pada puncaknya, dan ia memiliki tujuh buah lampu padanya, dan tujuh buah pipa yang menghubungkan tujuh lampu itu, yang berada di atasnya: dan adalah dua pohon zait di sampingnya, yang sebuah pada sebelah kiri dari tempat minyak itu, dan yang lainnya pada sebelah kanannya. Demikianlah sahutku dan kataku kepada malaikat yang berbicara dengan aku itu, bunyinya: ‘Apakah artinya semuanya ini, Tuhanku?” (Terjemahan yang lebih tepat).

Saudara perhatikan bahwa gambar yang dikemukakan di sini adalah suatu penggambaran kembali yang tepat dari lambang Zakharia itu. Supaya penyelidikan kita dapat sederhana dan jelas, maka kita akan mempelajari pasal itu bersama-sama dengan gambar ini.

Lihat gambar ini

 

 


Sekarang marilah kita mendengarkan penjelasan malaikat itu tentang lambang ini.

Zakharia 4 : 5, 6:
“Maka sahut malaikat yang berkata dengan aku itu, katanya kepadaku: ‘Tiadakah engkau mengetahui artinya ini?’ Maka kataku: ‘Tidak Tuan. Maka sahutnya, dan katanya kepadaku: ‘Inilah Firman Tuhan kepada Zerubabel, bunyinya’: ‘Bukan oleh kuat, pun bukan oleh gagah, melainkan oleh Roh-Ku, demikianlah Firman Tuhan serwa sekalian alam.”

Malaikat itu mengemukakan dua hal: Pertama ia memberitahukan, bahwa lambang itu adalah mengenai Firman Tuhan (Alkitab) kepada semua hamba Allah; kedua, bahwa Firman-Nya diwahyukan, bukan oleh kekuatan manusia pun bukan oleh kuasa manusia, melainkan oleh Roh Allah.

Jelaslah lambang ini keseluruhannya melambangkan prosedur oleh mana Tuhan meneruskan Firman-Nya yang diwahyukan kepada umat-Nya. Agar kita dapat memiliki suatu pengertian yang lengkap dari hal prosedur Ilahi yang telah ditentukan ini, maka kita perlu mengetahui apa yang dimaksudkan oleh setiap bagian komponen dari pada gambar di atas. Roh Nubuat memberikan kuncinya. Dalam buku The Great Controversy, p. 267 dijelaskan, bahwa ‘pohon-pohon zait itu’ melambangkan ‘Alkitab Wasiat Lama dan Baru’; buku Testimonies To Ministers, p. 188, mengatakan, bahwa minyak keemasan itu melambangkan Roh Suci; dan pada halaman 337 dari buku yang sama, bersama-sama dengan Wahyu 1 : 20, mengatakan, bahwa ketujuh lampu itu melambangkan sidang, dan bahwa ketujuh pipa itu (kependetaan) membawa minyak kepada sidang-sidang.

Sekarang pelajarilah gambar itu saja bagaikan saudara akan mempelajari sesuatu gambar karton. Pertama-tama sekali, pohon-pohon itu melambangkan Firman Allah (Alkitab – baik Wasiat Lama maupun Wasiat Baru – dua buah pohon).

Di sini terlihat, bahwa seluruh lambang yang terpampang itu adalah untuk maksud menggambarkan penyelesaian hanya satu hal, yaitu menjaga keseluruhan tujuh lampu itu (keseluruhan anggota sidang) supaya terjamin dengan minyak rohani (Kebenaran Alkitab) sehingga ia dapat memancarkan terang rohani ke sekelilingnya, sehingga sidang dapat menerangi dunia dengan Firman Allah yang diwahyukan. Dan oleh karena tugas kependetaan adalah memberi makan kepada sidang dengan makanan rohani, maka nyatalah, bahwa tujuh pipa itu adalah melambangkan kependetaan pada fungsinya, yaitu mengambil minyak (Kebenaran yang diwahyukan) dari tempat minyak bagi tujuh lampu itu, yaitu sidang-sidang. Kini kebenaran yang di dalam gambar, pipa-pipa itu (para pendeta) tidak mengambil minyak itu langsung dari pohon-pohon zait (Alkitab), ini menunjukkan secara pasti, bahwa tempat minyak itu dalam mana minyak itu disimpan melambangkan tempat penampungan atau tempat penyimpanan dalam mana seluruh kumpulan hasil interpretasi Alkitab yang diilhami disimpan, dan bahwa dari sini, bukan dari pohon-pohon zait itu, para pendeta membantu dirinya sendiri dengan minyak lalu menyalurkannya ke tujuh lampu-lampu itu (kepada sidang).

Oleh karena itu, kedua pipa keemasan itu akan hanya merupakan lambang dari saluran-saluran yang diilhami yang mampu untuk mengeluarkan minyak (terang Kebenaran) dari pohon-pohon itu (dari kedua buku Wasiat) lalu menampungnya di dalam tempat minyak (buku-buku) bagi semua pipa-pipa itu (para pendeta) untuk menyalurkannya kepada kakidian (kepada sidang-sidang).

Oleh karena itu, lambang itu menunjukkan prosedur yang Surga telah tetapkan bagi penyampaian Firman Tuhan kepada sidang-Nya: bahwa Roh Nubuat pada fungsinya adalah satu-satunya obat melawan berbagai faham di dalam sidang dan di dalam dunia.

Barangsiapa yang tidak memakaikan bagi dirinya sendiri minyak keemasan itu, dan barangsiapa yang terus saja memburu mencarikan jenis-jenis minyak lain, atau barangsiapa yang mencoba mengeluarkan minyaknya sendiri, akan pasti jatuh ke dalam lubang apabila bumi mengangakan mulutnya untuk menelan segala air bah itu. Kemudian akan jadi, bahwa para penghirup dan pencari faham akan kelak lenyap untuk selama-lamanya.

Zakharia 4 : 8, 9:
“Lagi pula Firman Tuhan telah datang kepadaku, bunyinya, bahwa kedua tangan Zerubabel telah membubuh alas rumah ini; maka tangannya juga akan menyelesaikannya; maka kamu akan mengetahui, bahwa Tuhan serwa sekalian alam telah mengutus aku kepadamu.”

Kata-kata firman ini secara pasti mengandung arti, bahwa terdapat keragu-raguan di dalam pikiran beberapa orang mengenai apakah Zerubabel contoh saingan, atau beberapa yang lain yang akan menyelesaikan pekerjaan yang telah dimulai oleh Zerubabel. Siapakah yang dilambangkan oleh Zerubabel?

Firman Allah menjelaskan, bahwa Zerubabel kuno adalah suatu pertanda, contoh, pada masa Allah meruntuhkan tahta-tahta kerajaan-kerajaan, pada waktu bala tentara-bala tentara mereka itu dibinasakan oleh pedang seorang “saudara laki-laki” Kristen yang memotong mati seorang saudara Kristen yang lain. (Hajai 2 : 22, 23). Oleh karena itu Zerubabel melambangkan hamba Allah pada sesuatu masa raja-raja yang bermahkota, yaitu “tahta dari kerajaan-kerajaan,” diruntuhkan, dan dalam waktu mana suatu bangsa Kristen berada dalam perang melawan suatu bangsa Kristen lainnya. Oleh karena kerajaan-kerajaan yang dimahkotai itu akan segera berlalu, dan bentuk-bentuk pemerintahan-pemerintahan yang lain sedang akan mengambil tempat mereka, semuanya membuktikan, bahwa munculnya Zerubabel contoh saingan adalah seharusnya di waktu ini. Maka jawaban Tuhan sendiri ialah “tangan-tangan Zerubabel telah membubuh alas rumah ini; tangan-tangannya juga yang akan menyelesaikannya.”

Zakharia 4 : 10:
“Karena siapakah yang telah meremehkan hari segala perkara kecil itu? Karena mereka akan bersuka ria, dan mereka akan menyaksikan batu bandulan pengukur itu di dalam tangan Zerubabel bersama dengan batu-batu yang tujuh itu; mereka adalah biji-biji mata Tuhan yang berlari kian kemari sepanjang seluruh bumi.”

Hari yang digenapi di dalam kata-kata firman ini, adalah hari dalam mana Tuhan serwa sekalian alam memulaikan suatu pekerjaan reformasi dengan cara yang ternyata sangat kecil dan tak berarti, dan orang-orang yang meremehkan permulaan-permulaan yang kecil dan tak berarti ini akan pada akhirnya bersuka ria dan akan menyaksikan, bahwa Zerubabel contoh saingan adalah seseorang yang akan mengendalikan pekerjaan itu bersama-sama dengan semua (tujuh) pembantu-pembantunya. Mereka adalah biji-biji mata Tuhan. Alangkah pentingnya hari itu! Betapa besar suatu umat! Terbukti mereka membentuk “batu” dari Zakharia pasal tiga yang sudah kita pelajari beberapa minggu lalu, dan telah kita ketahui, bahwa ia itu mempunyai tujuh mata, lengkap dengan penglihatan rohani. Jelas, inilah batu yang menghantam patung besar dari Daniel 2 : 45 itu.

Zakharia 4 : 11, 12:
“Lalu sahut aku, kataku kepada-Nya, ‘Apakah artinya kedua batang pohon zait pada kiri kanan kakidian itu?’ Maka kembali sahutku, dan kataku padaNya, ‘Apakah artinya kedua cabang pohon zait ini yang melalui kedua pipa keemasan itu mengosongkan minyak keemasan dari dalamnya?’

Semua ini mengambil tempat pada masa yang tertentu ini, dan nubuatan-nubuatan yang kini telah terbuka membuktikan, bahwa Zerubabel contoh saingan itu tak dapat tiada sekarang berada di sini, dan bahwa karena ia telah memulai pekerjaan itu, maka ia juga harus menyelesaikannya. Kenyataan, bahwa Ilham berusaha untuk menceritakan siapa yang akan menyelesaikan pekerjaan itu dengan sendirinya membuktikan, bahwa tak dapat tiada terdapat perampas-perampas yang giat terhadap jabatannya seperti halnya terhadap jabatan Musa dahulu.

Zakharia 4 : 13, 14:
“Maka sahut-Nya kepadaku, katanya, ‘Tiadakah engkau tahu artinya ini?’ Maka kataku, ‘Tidak, Tuanku. Lalu kata-Nya, ‘Inilah keduanya yang diurapi itu yang berdiri dekat Tuhan seluruh bumi.'”

Dari pemberitahuan malaikat itu jelaslah terlihat sekarang, bahwa lambang itu menggambarkan prosedur menginterpretasikan Firman Allah yang tertulis, dan prosedur meneruskan-Nya kepada sidang. Masanya adalah dalam sejarah Wasiat Baru, apabila kedua batang pohon itu sudah ada.

Marilah kita sekarang menyimpulkan pelajaran ini dengan bantuan gambar. Di sini kita saksikan sebuah kakidian (sebuah sidang) seluruhnya daripada emas, yang terbaik daripada semua kakidian (tak ada ‘lalang’ di dalamnya). Ia ini membentuk umat yang sisa (orang-orang yang tertinggal setelah orang-orang berdosa disingkirkan dari antaranya) yang betul-betul memeliharakan hukum-hukum Allah, dan memiliki Kesaksian Jesus Kristus, yaitu Roh Nubuat (Wahyu 12 : 17; 19 : 10). Kedua pipa keemasan itu (para penginterpretasi Allah yang diilhami) menampung minyak keemasan di dalam tempat minyak (penerbitan buku Roh Nubuat). Dan ketujuh pipa itu (keseluruhan kependetaan) menyalurkan dari tempat minyak keemasan itu minyak keemasan kepada tujuh lampu keemasan (kepada keseluruhan anggota).

Dengan prosedur pengadaan dan pembagian Firman Allah yang sempurna ini, yaitu “makanan pada waktunya,” bagi umatNya, maka tidaklah perlu ditakuti, bahwa persediaan akan cepat kering, atau bahwa lampu-lampu akan makin kecil nyalanya. Lagi pula inilah satu-satunya prosedur yang dapat membuat sidang menjadi sempurna, tak bercacat, tak berkerut, atau sesuatu hal yang sedemikian — suatu umat dengan tiada tipu di dalam mulut mereka, semuanya sefaham, semuanya mengatakan perkara yang sama. Sungguh-sungguh “suatu bangsa besar dan kuat; belum pernah ada yang seperti itu.” Yoel 2 : 2. Ini di luar dugaan adalah kuasa besar yang menerangi bumi, ialah Seruan Keras itu. Sebenarnya lambang ini menyatakan sidang pada masa ia dipenuhi dengan Roh Nubuat dan dengan kebenaran Kristus.

Jelaslah, bahwa prosedur interpretasi Alkitab yang digambarkan oleh Zakharia adalah satu-satunya cara kepunyaan Tuhan. Inilah satu-satunya obat bagi berbagai faham dan perpecahan di antara umat Kristen. Demikianlah, bahwa para pengawal-Nya akan mengangkat suara, dengan suara itu bersama-sama mereka akan menyanyi, karena mereka akan sepakat, apabila Tuhan akan membawa kembali Sion.” Yesaya 52 : 8.

 
*******

 222 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart