AMARAN SEKARANG JILID 1 NOMER 37
<< Go Back


AMARAN SEKARANG
Jilid 1 No. 37

 

AKHIR DARI PERJALANANMU
YANG PANJANG DAN BERAT

 
  
Oleh:
Victor T. Houteff
Pendeta dari Persekutuan Davidian Masehi Advent

Hari Ketujuh
Sabat, 19 April 1947
Gereja Mount Carmel, Waco, Texas
Amerika Serikat

 

 

Pokok pembicaraan kita untuk sore hari ini terdapat di dalam pasal 51 dari buku Yesaya, dimulai dengan ayat yang pertama.

Yesaya 51 : 1, 2:
“Dengarlah akan Daku, hai kamu yang mengejar kebenaran, kamu yang mencari Tuhan. Pandanglah akan bukit batu tempat kamu sudah terpahat dari dalamnya, dan akan lubang penggalian dari mana kamu sudah digali. Pandanglah akan Ibrahim nenek moyangmu, dan akan Sarah yang sudah memperanakkan kamu …..”

Dalam pasal ini Allah sedang berbicara kepada keturunan-keturunan dari Ibrahim, kepada suatu generasi yang sedang mengejar kebenaran. Kita sekarang perlu menemukan di dalam sepanjang perjalanan sejarah generasi mana secara tepatnya yang dialamatkan oleh Ilham di sini.

Apakah itu umat yang di masa Musa? Ataukah umat di masa Yesaya dahulu? Ataukah mungkin di masa Rasul-Rasul yang lalu? Ataukah umat di masa sejarah kita sekarang? Ataukah dari masa sejarah yang lain? Jika pasal ini dialamatkan kepada kita, maka kebutuhan kita untuk mempelajarinya, dan kepentingan kita di dalamnya, akan jauh lebih besar dari pada jika sebaliknya. Informasi yang sedang kita cari ini terdapat di dalam ayat 17.

Yesaya 51 : 17:
“Jagalah, jagalah, bangkitlah, hai Yerusalem, engkau yang telah minum dari tangan Tuhan isi piala kehangatan murka-Nya; engkau sudah minum habis isi piala yang berisi barang yang memabukkan, bahkan kau cerup habis akan dia.”

Ayat ini menyatakan, bahwa Allah sedang berbicara kepada suatu umat yang telah berjalan meIewati semua cobaan — kesusahan, perhambaan dan aniaya di bawah mana mereka telah ditempatkan untuk dipikulnya untuk dosa dan pendurhakaan mereka — mereka telah minum habis isi piala yang berisikan barang yang memabukkan dan bahkan memeras habis akan dia. Pada akhirnya tidak ada lagi tertinggal sisa minuman di dalam piala. Ini tentunya tidak dapat dikatakan terhadap umat yang di masa Musa dahulu, ataupun terhadap umat di masa Yesaya, atau bahkan terhadap umat di masa Rasul-Rasul yang lalu. ltu tak mungkin dikatakan terhadap sesuatu umat pada sesuatu periode terkecuali terhadap mereka yang telah sampai pada masa kelepasan mereka dari kekurangan, ketakutan, dan bahaya yang telah mereka ciptakan sendiri melalui dosa dan pendurhakaan mereka. Namun panggilan Ilahi mereka untuk berjaga ini mengungkapkan, bahwa sungguhpun masa kelepasan itu sudah datang, namun mereka masih di dalam tidur rohani yang nyenyak — bodoh terhadap semua pekabaran baik ini.

Yesaya 51 : 22:
“Demikian inilah firman Tuhanmu, yaitu Tuhan dan AIlahmu yang teIah memperjuangkan perkara umat-Nya. Bahwasanya, Aku teIah mengambil dari tanganmu piala yang berisikan minuman yang memabukkan itu, yaitu isi cawan murka-Ku; engkau tidak akan Iagi meminumnya.”

Saudara saksikan, Allah secara positif mengamanatkan kepada suatu umat yang telah menjalani semua hukuman yang harus diterimanya, dan pada akhirnya Ia memperjuangkan bagi keIepasan mereka. Ini tak mungkin dikatakan terhadap sesuatu umat pada sesuatu masa sebelum sekarang. Bagaimanakah kita mengetahui, bahwa masa itu adalah sekarang dan bahwa Tuhan kini sedang berbicara kepada kita? Kita mengetahuinya dari kenyataan, bahwa nubuatan-nubuatan mengenai masalah ini yang sudah lama tersembunyi itu kini untuk pertama kalinya dibuka dan disajikan. Kita sekarang siap untuk mempelajari pasal ini ayat demi ayat.

Yesaya 51 : 1, 2:
“Dengarlah akan Daku, hai kamu yang mengejar kebenaran, kamu yang mencari Tuhan. Pandanglah akan bukit batu tempat kamu sudah terpahat dari dalamnya, dan akan lubang penggalian dari mana kamu sudah digali. Pandanglah akan Ibrahim nenek moyangmu, dan akan Sarah yang sudah memperanakkan kamu, karena sudah Ku panggil akan dia sendiri, dan sudah Ku berkati dia, dan memperbanyakkan dia.”

Allah menasehatkan kepada umat-Nya di waktu ini supaya mendengar kepada-Nya. Mereka itu adalah orang-orang yang sedang berusaha untuk memperoleh kebenaran, yaitu orang-orang yang sedang mencari Tuhan, dan yang bersungguh-sungguh ingin mendapatkan suatu pembangunan dan reformasi terlaksana di tengah-tengahnya. Mereka kini dianjurkan supaya memandang kepada bukit batu dari mana mereka telah terpahat keluar, dan kepada lubang penggalian dari mana mereka telah digali keluar.

Kita tidak akan menyimpulkan, bahwa hanya orang-orang Yahudi adalah keturunan dari Ibrahim. Orang-orang yang cukup beruntung memperoleh ungkapan kebenaran ini dihantarkan kepada mereka, adalah umat. Tidak ada lagi kesimpulan lain yang aman jika Allah menyuruh nubuatan-nubuatan itu ditulis, dimeteraikan, dan kemudian diungkapkan sesuai kehendak-Nya dan pada masa yang ditetapkan. Oleh sebab itu bukan hanya orang-orang Yahudi adalah keturunan dari Ibrahim. Untuk menemukan siapakah sebenarnya para pencari kebenaran ini, terdapat banyak bukti geneologis untuk dipertimbangkan:

 

  1. Hanya warga kerajaan Yehuda (kerajaan dua suku itu, yaitu Yehuda dan Benyamin) yang menerima gelar orang-orang Yahudi.
  2. Orang-orang dari kerajaan sepuluh suku (kerajaan Israel) telah tercerai-berai ke seluruh bangsa-bangsa, dan di sana mereka telah kehilangan selengkapnya ciri-ciri mereka.
  3. Gereja Kristen sendiri adalah sebuah tunas yang tumbuh dari gereja Yahudi dan bangsa Yahudi — para Rasul dan pengikut-pengikut mereka, sampai kepada kira-kira tahun 35 T.M. semuanya adalah orang-orang Yahudi. Kemudian ialah, bahwa kembali orang-orang Yahudi yang banyak itu kehilangan ciri-ciri mereka karena menyebut dirinya sendiri “Orang-orang Kristen.” Secara perbandingan dapat dikatakan, bahwa hanya segelintir orang-orang Yahudi yang berasal dari Kerajaan Yehuda yang telah mempertahankan gelar nasional mereka, yaitu orang-orang Yahudi.


Keturunan-keturunan dari orang-orang Kristen Yahudi yang mula-mula dan keturunan-keturunan dari sepuluh suku itu, sepanjang aliran sejarah tak dapat tiada telah berkembang menjadi suatu jumlah besar orang-orang yang tak terhitung banyaknya, sebab benih Ibrahim akan menjadi bagaikan pasir di tepi laut banyaknya. Oleh karena itu jelaslah, bahwa bukan hanya segelintir orang-orang Yahudi yang dikenal sekarang adalah keturunan dari Ibrahim, melainkan banyak juga dari orang-orang Kapir tak dapat tiada berasal dari Ibrahim. Karena adanya keadaan yang campur baur ini, maka sukarlah bagi seseorang untuk dapat mengatakan dengan pasti bahwa ia bukanlah salah satu dari anak-anak Ibrahim. Barangkali banyak dari bangsa-bangsa yang dunia memanggiInya sebagai orang-orang Kapir adalah anak-anak Ibrahim. Kita tidak mengetahui secara pasti siapa. Namun Allah memegang suatu daftar keturunan yang sempurna, karena Ia mengatakan: “Aku akan menyebutkan Rahab dan Babil bagi mereka yang mengenal akan Daku; bahwasanya Filistea, dan Tyre, dengan Ethiopia; orang ini telah lahir di sana. Dan dari hal Sion akan dikatakan, Orang ini dan orang itu telah lahir di dalamnya; maka Yang Maha Tinggi itu sendiri akan menegakkannya. Tuhan akan menghitung, apabila la mencatat umat itu, bahwa orang ini dilahirkan di sana. Selah.” Mazmur 87 : 4 – 6.

Selanjutnya sungguhpun seseorang berasal dari darah orang Kapir, jika ia betul-betul menerima Kristus, maka ia oleh kelahiran rohaninya menjadi salah satu dari benih Ibrahim karena Ilham mengatakan, “Jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Ibrahim dan pewaris-pewaris sesuai dengan janji itu.” Galati 3 : 29. Oleh sebab itu kepada anak-anak Ibrahim yang diamanatkan ini tidak akan dicari di antara orang-orang Yahudi tidak percaya yang dikenal itu, melainkan di antara orang-orang Kristen. Mereka dinasehatkan supaya memandang kepada Ibrahim dan Sarah, dan supaya mempertimbangkan bahwa apabila Allah memanggil Ibrahim, walaupun dia sendirian, maka bagaimanapun juga ia mematuhi dan Allah memberkahi dia; bahwa walaupun dengan segala ketidak-mungkinan yang nyata yang ada pada dia dan Sarah, Allah telah memperbanyakkan dia. Bagaimana jika Saudara pribadi dan sendirian dipanggil oleh firman-Nya, seperti halnya Ibrahim, untuk berdiri sendirian mempertahankan Kebenaran dan keadilan, maukah Saudara menjadi pahlawan bagi Allah seperti Ibrahim, atau maukah Saudara berlaku seperti yang diperbuat Yudas Iskariot yang murtad itu?

Jika kita tidak akan memperoleh kehormatan untuk memilih seperti halnya Ibrahim, Allah tidak mungkin akan mengingatkan kita kepada pengalaman Ibrahim itu. Kepada kita dijelaskan supaya jangan kehilangan semangat, melainkan supaya percaya kepada Allah, karena Ia bermaksud untuk memberkati dan memperbanyakkan kita, seperti halnya Ia memberkati dan memperbanyakkan leluhur kita, yaitu Ibrahim dan Sarah. Alasan mengapa Ia memberkati kita seperti juga Ia telah memberkati mereka, diberikan-Nya sebagai berikut:

Yesaya 51 : 3:
“Karena Tuhan akan menghiburkan Sion; Ia akan menghiburkan semua tempat reruntuhannya; dan Ia akan menjadikan padang tandusnya seperti Eden, dan gurun pasirnya bagaikan taman Tuhan; kesukaan dan kegembiraan akan terdapat di dalamnya, juga nyanyian syukur dan bunyi suara nyanyian.”

Titik pertemuan yang dituju dari Injil ialah pembangunan kembali Sion, dan inilah tantangan bagi kita.

Yesaya 51 : 4, 5:
“Dengarkanlah akan Daku, hai umat-Ku; dan perhatikanlah akan Daku, hai bangsa-Ku, karena suatu hukum akan keIuar dari padaKu, dan Aku akan membuat keputusan-Ku menjadi sebuah terang bagi orang banyak. Kebenaran-Ku adalah dekat; seIamat dari pada-Ku itu sudah keIuar, dan kedua lengan-Ku akan mengadili orang banyak; segala pulau akan menantikan Daku, dan mereka itu akan berharap pada lengan-Ku.”

Kita diminta untuk mendengar kepada Tuhan, sebab sebuah hukum dan sebuah keputusan akan keIuar dari pada-Nya. Semua ini akan menjadi “sebuah terang bagi orang banyak itu.” Kembali, Tuhan mengatakan: “Maka akan jadi kelak di akhir zaman, bahwa bukit rumah Tuhan akan diperdirikan pada puncak segala gunung, dan akan ditinggikan di atas segala bukit; maka segala bangsa akan mengalir datang kepadanya. Maka banyak orang akan pergi dan mengatakan, Datanglah, dan marilah kita naik ke bukit Tuhan, ke rumah Allah Yakub; maka Ia akan mengajarkan kita segala jalanNya, dan kita akan berjalan di dalam segala lorong-Nya, karena dari Sion akan terbit hukum dan firman Tuhan dari Yerusalem. Dan Ia akan mengadili di antara bangsa-bangsa, dan akan menghukum banyak orang; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya dibuatkannya penggali, dan lembing-Iembingnya menjadi sabit; bangsa tidak akan mengangkat pedang meIawan bangsa, dan tidak lagi mereka itu belajar perang.” Yesaya 2 : 2 – 4.

Hukum itu akan keluar apabila bukit (Kerajaan) dari rumah Tuhan teIah diperdirikan di atas puncak segala gunung (kerajaan-kerajaan), dan apabila Ia itu ditinggikan di atas segala bukit. Kemudian “terang” akan membuat bangsa-bangsa yang dipersalahkan itu mengalir datang ke gunung Tuhan. Dan juga, gantinya mereka menempa segala penggalinya menjadi pedang, dan segala sabitnya menjadi lembing (Yoel 3 : 10), mereka akan menempa semua pedangnya menjadi penggali, dan semua lembingnya menjadi sabit. “Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang melawan bangsa, mereka juga tidak akan lagi belajar perang.” Yesaya 2 : 4.

Mengatakan, bahwa “Kebenaran-Ku adalah dekat,” dan “Selamat dari pada-Ku itu sudah keluar,” adalah dimaksudkan, bahwa selamat-Ku itu sudah ada di sini, tetapi kebenaran sedang akan datang. Dan betapa benar adanya!

Apakah artinya “Iengan” Tuhan yang mengadili orang banyak itu? Ini akan kita saksikan setelah kita membaca —

Yesaya 51 : 9, 10:
“Jagalah, jagalah pakaikanlah kuatmu, hai lengan Tuhan! Jagalah seperti pada zaman dahulu kala, pada zaman bangsa yang dahulu-dahulu itu. Bukankah engkau juga yang sudah membinasakan Rahab dan yang sudah melukai naga laut? Bukankah engkau juga yang sudah mengeringkan laut, segala air tubir yang dalam itu; yang telah membuat semua kedalaman laut menjadi sebuah jalan bagi semua orang tebusan untuk menyeberang dari padanya.”

Alangkah janggalnya hal itu bagi Allah untuk berusaha menjagakan diri-Nya sendiri, seolah-olah Ia ataupun tangan-Nya sendiri itu sedang tidur, bukan? Ayat ini menunjukkan, bahwa Ia menyebutkan Pergerakan Exodus itu sebagai lengan-Nya. Dan memang begitu, sebab Allah melaksanakan pekerjaan-Nya bersama-sama dengan hamba-hamba-Nya. Oleh sebab itu hamba-hambaNya itu adalah lengan-Nya, dan mereka akan memutuskan (memerintah) atas orang banyak itu, dan orang banyak itu akan menaruh harap pada mereka.

Yesaya 51 : 6:
“Arahkanlah matamu ke langit, dan pandanglah ke atas bumi di bawah; karena segala langit akan lenyap bagaikan asap, dan bumi akan menjadi lapuk bagaikan pakaian, dan segala orang yang diam di dalam nya akan mati seperti nyamuk; tetapi selamat yang dari pada-Ku itu akan kekal selama-lamanya, dan kebenaran-Ku pun tidak akan terhapuskan.”

Adalah penting kita diperingatkan, bahwa semuanya yang lain akan binasa, tetapi orang-orang yang memperoleh keselamatan Allah dan kebenaran-Nya akan berdiri tetap selama-lamanya.

Yesaya 51 : 7:
“Dengarlah olehmu akan Daku, hai kamu yang mengetahui kebenaran, umat yang di dalam hatinya terdapat hukum-Ku; janganlah kamu takut akan celaan manusia, dan janganlah gentar akan segala kutuk mereka itu.”

Orang-orang yang mengetahui kebenaran-Nya, umat yang kepadanya Kebenaran ini diungkapkan, dan yang memiliki hukum-Nya di dalam hati mereka, jelas akan menderita mengalami celaan dan kutukan manusia, tetapi mereka dinasehatkan supaya tidak takut. Dan apakah akhir nasib segala musuhnya mereka? — Disinilah jawabannya:

Yesaya 51 : 8:
“Karena mereka itu akan dimakan habis bagaikan kain yang dimakan gegat, dan seperti buluh domba yang dimakan ulat; tetapi kebenaran-Ku akan tetap selama-lamanya, dan selamat yang dari pada-Ku itu dari generasi ke generasi.”

Dengan sedih kita merasa kasihan terhadap Saudara-saudara Laodikea kita yang amat marah, tetapi buta, melawan kita.

Yesaya 51 : 9, 10:
“Jagalah, jagalah, pakaikanlah kuatmu, hai lengan Tuhan! Jagalah seperti pada zaman dahulu kala, pada zaman bangsa yang dahulu-dahulu itu. Bukankah engkau juga yang sudah membinasakan Rahab dan yang sudah melukai naga laut? Bukankah engkau juga yang sudah mengeringkan laut, segala air tubir yang dalam itu; yang sudah membuat segala kedalaman Iaut menjadi sebuah jalan bagi semua orang tebusan untuk menyeberang dari padanya.”

Kalau saja umat-Nya itu tidak tidur, maka apakah perlunya adanya panggilan untuk menjagakan mereka? Kita bergirang karena Allah sendiri yang sedang menjagakan kita dan sedang menceritakan kepada kita, bahwa seperti halnya para leluhur kita telah melakukan perkara-perkara yang besar-besar, maka kita pun, sebagai “lengan” Allah mampu dan akan melakukan bahkan perkara-perkara yang lebih besar dari mereka.

Yesaya 51 : 11:
“Sebab itu segala orang tebusan Tuhan akan kelak kembali, dan akan datang dengan bersorak-sorak ke dalam Sion; maka kesukaan kekal akan berada di atas kepala mereka itu; mereka akan memperoleh kesukaan dan kegembiraan; maka kesusahan dan tangisan akan berlalu.”

Syukur kepada Allah, bahwa bukan saja Ia menjagakan umatNya dan membuat mereka itu menyanyi sambil berbaris masuk ke Sion, tetapi juga mampu menyingkirkan semua kesusahan dan tangisan untuk selama-lamanya. Ia adalah sangat mampu untuk meletakkan di atas kepala mereka itu kesukaan yang kekal.

Yesaya 51 : 12:
“Bahwa Aku, bahkan Aku juga yang menghiburkan kamu; siapakah engkau, maka harus engkau takut kepada manusia yang mati kelak, dan kepada anak Adam yang akan dijadikan seperti rumput?”

Dalam usaha untuk menunjukkan kepada kita betapa sia-sianya untuk takut terhadap manusia yang kelak akan mati seperti halnya rumput di telapak kaki, maka Ilham di dalam ayat ini menekankan kepada penghiburan-penghiburan yang dijanjikan pada ayat 11. Tak dapat tiada, bahwa masih ada saja orang yang besar takutnya kepada manusia. Kini karena kita telah memperoleh firman dan penghiburan Allah, maka hendaklah kita takut kepada-Nya, yaitu Satu-Satunya yang patut ditakuti.

Yesaya 51 : 13:
”Maka engkau melupakan Tuhan, penciptamu, yang sudah membentangkan segala langit dan sudah meletakkan segala alas bumi; dan kamu setiap harinya takut kepada amarahnya si penganiaya, seolah-olah ia telah siap hendak membinasakan? Maka di manakah gerangan geram si penganiaya itu?”

Apabila kita mulai takut kepada manusia, maka sejak saat itu juga kita melupakan Allah. Pertanyaan, “Di manakah gerangan geramnya si penganiaya itu?” mengandung arti, bahwa pada kenyataan tak ada satu pun yang ada, bahwa itu hanyalah suatu tipu muslihat.

Yesaya 51 : 14, 15:
“Dengan segera juga orang yang terbelunggu itu akan dilepaskan; tiada ia akan mati di dalam penjara, dan tiada ia akan kekurangan rejeki. Tetapi Akulah Tuhan Allahmu, yang memecahkan laut, yang ombak-ombaknya menderu: Tuhan serwa sekalian alam adalah nama-Nya.”

Ya, orang-orang terbelunggu mengharapkan kelepasan mereka, tetapi Allah tidak mengharapkan laut itu memecahkan dirinya sendiri, melainkan la memecahkannya pada saat kehendak-Nya dan membuat umat-Nya berjalan lalu pada tanah yang kering.

Yesaya 51 : 16:
“Maka Ku-bubuh firman-Ku dalam mulutmu dan Aku menudungi engkau di bawah naung tangan-Ku, agar Aku dapat menegakkan segala langit dan meletakkan segala landasan bumi, dan mengatakan kepada Sion, ‘Kamulah umat-Ku.’”

Di sini kita memperoleh pernyataan Allah sendiri agar kata-kata yang kita bicarakan hanyalah kata-kata Kebenaran yang datang langsung dari pada-Nya. Lagi pula, Ia menjaminkan kita, bahwa tangan-Nya, yaitu pengawasan dan perlindungan-Nya, adalah sekeliling kita; bahwa dengan inilah Ia dapat menegakkan segala langit, meletakkan segala landasan bumi, dan mengatakan kepada Sion, ”Kamulah umat-Ku.”

Yesaya 51 : 17:
“Jagalah, jagalah, bangkitlah, hai Yerusalem, engkau yang telah minum dari tangan Tuhan isi piala kehangatan murka-Nya; engkau sudah minum habis isi piala yang berisikan barang yang memabukkan, bahkan kau peras habis akan dia.”

Jagalah, jagalah, hai kawanku kepada kenyataan, bahwa belunggu kita, kesusahan dan tangis kita, sudah hampir berlalu; kita tidak akan lagi mengalaminya. Dia Yang membelah Iaut itu akan betul-betul dapat membebaskan kita.

Yesaya 51 : 18:
“Dari pada semua anak yang telah dilahirkannya seorangpun tiada yang menuntun dia, dan dari pada semua anak yang telah dibesarkannya seorang pun tiada yang memegang tangannya.”

Keadaan Sion yang lalu dan juga masa kini sekarang dikemukakan bagi pertimbangan kita. Alangkah sepinya! Betapa mengerikan keadaannya bagi sebuah sidang sesudah ia membawa keluar banyak orang-orang yang bertobat! Tak seorangpun yang memberikan bantuan kepadanya!

Di sini kita diberitahukan, bahwa para anggota biasa di Laodikea sama sekali tidak bisa menjadi bantuan rohani apapun bagi ibunya (kependetaan), bahkan tak seorangpun berusaha untuk mengangkat tangannya memberi bantuan kepada Saudara-saudara kependetaan itu. Semua mereka itu sedikit banyak setuju untuk tetap tinggal “merana, dan sengsara, dan miskin, dan buta, dan bertelanjang.” Wahyu 5 : 17.

Yesaya 51 : 19:
“Kedua perkara ini sudah berlaku atasmu, maka siapa gerangan mengasihani akan dikau? Adakah kerusakan dan kebinasaan dan kelaparan dan pedang, maka dengan siapa gerangan Aku akan menghiburkan dikau?”

Daud dahulu disuruh memilih salah satu dari tiga perkara: ” ….. Maka datanglah Gad kepada Daud, diberitahu kepadanya firman itu, lalu katanya: Maukah engkau, suatu bela kelaparan tujuh tahun lamanya berlaku dalam negerimu atau maukah engkau lari tiga bulan lamanya dari hadapan musuhmu yang mengusir akan dikau, atau maukah engkau suatu bela sampar tiga hari lamanya dalam negerimu? …..” 2 Samuel 24 : 10. Sekarang dengan cara yang sama umat Allah ditanya untuk memilih apakah ditinggalkan pada kebinasaan atau kelaparan dan pedang. Maka bukanlah seperti di masa Daud dahulu, melainkan la sendiri yang akan memecahkan masalah kita jika kita menyerahkannya kepada-Nya.

Yesaya 51 : 20 – 22:
“Anak-anakmu sudah terlentang kelesuan di semua hujung jalan seperti lembu hutan kena jaring; mereka diliputi kehangatan murka Tuhan dan hardik Allahmu. Sebab itu, dengarlah ini, hal engkau yang tertindas dan mabuk, tetapi bukan karena air anggur. Demikianlah firman Tuhan, Tuhan Allahmu, yang memperjuangkan perkara umat-Nya: Bahwasanya, Aku mengambil dari tanganmu piala dengan isinya yang memusingkan, dan isi cangkir kehangatan murka-Ku; kamu tidak akan meminumnya lagi.”

Tidakkah kita bersyukur karena mengetahui, bahwa setiap orang yang namanya terdapat di dalam kitab itu akan diselamatkan bahkan juga dari masa kesusahan besar yang segera akan kita masuki? — Michael akan berdiri bagi umat-Nya (Daniel 12 : 1)? Sekali Ia menghimpunkan kita, maka Ia tidak akan lagi mencerai beraikan kita.

Yesaya 51 : 23:
“Tetapi Aku akan memberikannya ke tangan orang yang menindas akan dikau, orang yang tadinya berkata kepadamu: Tunduklah, supaya kami berjalan melewatimu; dan kamu telah merentangkan badanmu serata dengan tanah, dan serata dengan jalan, bagi mereka yang berjalan melewatimu.”

Kedudukan kekuatan berubah: Apa yang umat Allah dahulu harus menerima dari musuh-musuh mereka, musuh-musuh mereka harus segera menerima dari mereka. Oleh sebab itu janganlah kita lalai mengambil manfaat dari panggilan kelepasan Allah.

Nah, Saudara-saudaraku, karena perjalanan kita yang panjang dan berat sudah akan berakhir, marilah kita sebagai “lengan” Allah menaruh perhatian sepenuhnya kepada seruan panggilanNya yang membangunkan itu. Kini pada akhir dari perjalanan kita yang panjang dan berat, janganlah kita membiarkan apapun menghalangi kita dari menerima dua perkara yang akan membuat kita berdiri untuk selama-lamanya, yaitu keselamatan Allah dan kebenaran-Nya.

Kita sekarang diminta untuk memilih apakah hendak berdiri pada pihak Allah atau pada pihak musuh-musuh-Nya (yaitu orang-orang yang kita takuti); orang-orang yang sedang melakukan apa saja demi untuk menutup mata kita dari Kebenaran Allah bagi zaman ini — apakah memilih Allah, Roh-Nya dan ungkapan Kebenaran-Nya, atau memilih manusia, ditinggalkan dengan kebinasaan, kelaparan dan pedang.

 

 
 
*****

 

 263 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart