Memberi hormat ataukah tidak ?
<< Go Back


MEMBERI HORMAT ATAUKAH TIDAK ?

 

 

Pertanyaan No. 142 :

Salahkah memberi hormat kepada bendera ?

Jawab :

“Berikanlah ….. kepada Kaizar segala perkara kepunyaan Kaizar”; “……….  kepada semua yang berhak dibayar: pajak kepada yang berhak menerima pajak, cukai kepada yang berhak menerima cukai, rasa takut kepada yang harus ditakuti, hormat kepada yang harus dihormati. Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun.” Matius 22 : 21; Rum 13 : 7, 8.

Pada waktu “para presiden dan para penghulu berusaha mencari kesempatan melawan Daniel dari hal kerajaan itu; ………. mereka tidak dapat menemukan kesempatan maupun kesalahan.” Daniel 6 : 4. Karena menemukannya demikian tanpa salah, maka para musuhnya lalu “merencanakan bersama-sama untuk mendirikan sebuah patung kerajaan, dan membuat sebuah keputusan raja yang kuat bahwa barangsiapa pun yang selama tiga puluh hari kelak mengajukan sesuatu permohonan kepada sesuatu Allah atau manusia, tidak kepada raja, Ia tak dapat tiada harus dicampakkan ke dalam kandang singa.” Ayat 7. Setelah memperoleh tanda tangan raja pada keputusan itu, maka mereka berusaha membuat suatu keadaan yang tak dapat tiada harus melibatkan Daniel ke dalam suatu perbuatan pendurhakaan melawan rajanya. Mereka tahu, bahwa meskipun ia merencanakan untuk mematuhi raja dengan setia, ia tidak mungkin dapat berbuat begitu tanpa mendurhakai Allahnya. Oleh sebab itu Daniel terus bermohon kepada Allahnya sebagaimana biasanya ia lakukan, yang akibatnya ia dicampakkan ke dalam kandang singa. Namun Dia yang didoaNya itu telah menyelamatkan nyawanya dari singa-singa yang lapar itu.

Kemudian terdapat lagi kasus terkenal mengenai Yusuf, yang karena kesetiaannya yang penuh kepada pemerintah Mesir ia telah diangkat menduduki suatu jabatan bersama-sama dengan Phiraun pada tahtanya.

Dari semuanya ini berikut peristiwa-peristiwa Alkitab lainnya, kita mengakui bahwa kesetiaan seseorang kepada pemerintahnya ialah janji setianya yang nyata kepadanya — yaitu suatu penghormatan kepada benderanya. Oleh sebab itu, kesemuanya bersama-sama kita saksikan bahwa sementara di satu pihak ketidaksetiaan seseorang kepada Allah adalah dosa melawan-Nya, di lain pihak ketidaksetiaan seseorang terhadap pemerintah adalah dosa melawannya, dan secara tidak langsung juga melawan Allah: karena ketidaksetiaan kepada pemerintah seseorang sama dengan ketidakpatuhan kepada perintah Tuhan yang tegas : “Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk kepada pemerintah dan para penguasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik.” Titus 3 : 1. “Karena tidak ada satupun kuasa, kalau bukan dari Allah : semua kuasa yang ada ditetapkan oleh Allah. Oleh sebab itu barangsiapa melawan penguasa, ia melawan ketetapan Allah; maka mereka melawan akan mendatangkan hukuman pada dirinya sendiri.” Rum 13 : 1, 2.

Karena bendera bukanlah sebuah berhala ataupun sesuatu jimat melainkan sebuah lambang, sebuah standard, maka penghormatan kepadanya bukanlah penyembahan berhala sebagaimana disangka sebagian orang, melainkan merupakan pengakuan umum kesetiaan seseorang kepada pemerintahnya, sama seperti halnya baptisan adalah pengakuan kesetiaan seseorang kepada Bapa, Anak, dan Rohulkudus.

Oleh perintah Allah, maka orang-orang Israel telah membuat standard (bendera-bendera) sesuai dengan masing-masing suku bangsa mereka, baik bagi maksud identitas pengenal maupun sebagai tanda kesetiaan mereka kepada yang menetapkan pendirian bendera itu. (Bacalah Bilangan pasal 2).

Jadi jelaslah, bahwa untuk menuduh seseorang dengan penyembahan berhala karena ia memberi hormat kepada sesuatu bendera nasional, akan sama halnya dengan menuduh Allah karena memaksakan penyembahan berhala, bukan saja kepada umat-Nva yang dahulu, melainkan juga oleh teladan mereka itu kepada semua orang yang setia semenjak zaman itu sampai sekarang.

Sebab itu setiap orang Kristen, jika ia mau setia kepada perintah-perintah Allah, maka ia harus setia kepada negara dimana ia tinggal. Dengan begitu, sebagai orang-orang Kristen di Amerika, yang berserah kepada Allah dan selanjutnya setia kepada prinsip-prinsip yang adil dari “pemerintah di bawah Allah” yang bebas ini, pertama-tama kita  berjanji dengan kejujuran hati kita, pikiran kita, tangan-tangan kita, keseluruhan milik kita, kepada bandera Kerajaan Allah yang kekal, dan kepada Pemerintahan Raja untuk mana ia itu berdiri, suatu umat yang terbentuk dari semua bangsa, dan terikat oleh tali-tali cinta yang kekal, kebebasan, kemurnian, keadilan, damai, kebahagiaan, terang dan kehidupan bagi semua orang; dan kedua kita “berjanji setia kepada bendera Amerika Serikat, dan kepada Republik untuk mana ia itu berdiri, satu Bangsa, yang tak dapat dipecahkan, dengan kebebasan dan keadilan bagi semua orang.” Maka selama Kemuliaan Lama membentangkan dirinya sebagai lambang dari prinsip-prinsip undang-undang dasarnya yang tak berubah, selama itu pula janji kesetiaan kita kepadanya tidak berubah.

 

 

 215 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart