Apakah salahnya memakan daging yang bersih ?
<< Go Back


APAKAH SALAHNYA MEMAKAN DAGING
YANG BERSIH ?

 

 

Pertanyaan No. 148 :

Dalam terang dari Matius 15 : 11 dan ayat-ayat yang lain, bukankah jelas bahwa faham tentang memakan makanan tidak bernyawa itu berasal dari manusia dan bukan dari Allah?

Jawab :

Jika sekiranya ayat yang disebutkan itu membentuk keseluruhan pembicaraan Alkitab terhadap masalah itu, maka suatu jawaban tegas yang lengkap terhadap masalah itu kiranya diperlukan. Namun pada mula pertama “Allah berfirman, Tengoklah, Aku telah mengaruniakan kepadamu setiap tumbuhan yang berbiji-biji, yang terdapat pada permukaan seluruh bumi, dan setiap pohon kayu, yang di dalamnya terdapat buah pohon yang memberikan benih; hendaklah ia itu menjadi makanan bagimu.” Sekaliannya ini dan tidak satupun yang lainnya adalah untuk menjadi “makanan” manusia.

Dengan demikian pada mula pertama makanan manusia itu tidak termasuk makanan daging di dalamnya. Sesudah air bah, setelah setiap tumbuhan hijau di bumi binasa, baharulah ia diperbolehkan untuk memakan daging. Kemudian Allah berfirman : “Setiap barang yang bergerak yang hidup hendaklah ia itu menjadi makananmu, sudah Kukaruniakan kepadamu segala perkara seperti juga tumbuh-tumbuhan yang hijau.” — Kejadian 9 : 3.

Meskipun demikian, kemudian sewaktu bani Israel berada di padang belantara, Allah telah menyediakan bagi mereka manna. Namun setelah mereka bersungut-sungut menentangnya, dan mengaitkan kejadian yang luar biasa itu hanya kepada keadaan, sambil mengatakan bahwa tidak mungkin memperoleh makanan daging di padang, maka secara nyata dan dengan amarah Tuhan mendatangkan atas mereka itu burung-burung puyuh. Namun betapa akibatnya! Beribu-ribu orang mati untuk memberikan pelajaran bahwa manna bukan hanya akibat keadaan melainkan justru adalah kehendak lIahi. Karena selagi daging masih berada di antara gigi mereka, sebelum ia itu dikunyah, maka murka Tuhan menyala-nyala menghadapi mereka, dan Tuhan memalu orang banyak itu dengan suatu bela yang sangat besar.” Bilangan 11 : 33.

Oleh karena Pergerakan Exodus itu adalah untuk memantapkan suatu umat untuk merebut tanah perjanjian dan untuk mendirikan kerajaan di waktu itu, seperti halnya kita sekarang, maka mereka itu diwajibkan untuk menahan diri dari semua makanan daging. Dan karena Yahya Pembaptis membawakan suatu pekabaran penting pada zamannya (“Bertobatlah kamu : karena Kerajaan Sorga sudah dekat” — Matius 3 : 2) sama dengan pekabaran kita pada waktu ini, makanannya adalah madu dan buah dari pohon locust. Maka betapa jauh lebih penting, seperti diajarkan oleh contoh-contoh kita, bahwa kita yang memiliki puncak pekabaran Injil, dan yang merupakan barisan depan dari rakyat kerajaan yang kekal itu, agar jangan menajiskan kaabah-kaabah jiwa kita dengan apa yang contoh-contoh kita dilarang makan.

Selanjutnya, sebagaimana Eliyah dari Maleakhi 4 : 5 dan Matius 17 : 11 akan mengembalikan segala perkara mendahului hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu, maka tak dapat tiada perlu ia mengembalikan faham memakan makanan tidak bernyawa, makanan asli manusia sejak mulanya. Kemudian, bukan hanya manusia melainkan juga binatang yang harus menjadi pemakan makanan non bernyawa secara ketat, dan semua akan sekali lagi bergaul bersama-sama dalam persekutuan perdamaian Eden yang diperbaharui itu.

“Serigala juga akan tinggal bersama-sama dengan anak domba, dan macan tutul akan berbaring bersama-sama dengan anak kambing; dan anak lembu dan singa muda akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan bersama-sama makan rumput, anak-anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan sama-sama makan jerami seperti lembu. Dan anak yang menyusu akan bermain-main pada lubang ular tedung, dan anak yang lepas susu akan memasukkan tangannya ke dalam sarang ular beludak. Mereka tidak akan melukai ataupun merusak di dalam seluruh gunung kesucian-Ku; karena bumi akan kelak penuh dengan pengetahuan akan Tuhan, bagaikan segala air menutupi laut.” Yesaya 11 : 6 – 9.

Lagi pula, jika kata-kata : “bukan yang masuk ke dalam mulut itu menajiskan seseorang, melainkan yang keluar dari mulut, inilah yang menajiskan seseorang” (Matius 15 : 11), diartikan sebagai tidak perduli apapun kita makan atau minum, maka mengapakah kita tidak boleh memakan daging babi, meminum teh, kopi, dan juga arak, dan merokok tembakau, — sesungguhnya; makanlah dan minumlah apa saja yang kita kehendaki.

 

 

 253 total,  2 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart