Disucikan dalam sekejap, atau dari hari ke hari ?
<< Go Back


DISUCIKAN DALAM SEKEJAP ATAU
DARI HARI KE HARI ?

 

 

Pertanyaan No. 81 :

Peran apakah yang akan kita mainkan dalam proses penyucian, dan kapankah seseorang disucikan ?

 

Jawab :

“Kita harus mempertimbangkan semua perkataan rasul Paulus itu, dalam mana ia menghimbau kepada saudara-saudaranya, oleh segala kemurahan Allah, supaya mempersembahkan tubuh mereka sebagai ‘suatu korban yang hidup, suci, dan berkenan kepada Allah.’ …………. Kesucian bukanlah hanya suatu teori, suatu perasaan, atau suatu bentuk kata-kata, melainkan suatu prinsip yang aktif dan hidup, yang memasuki kehidupan setiap hari. Ia itu mempersyaratkan bahwa kebiasaan-kebiasaan makan minum, dan berpakaian kita harus sedemikian rupa untuk mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan moral, supaya kita dapat mempersembahkan kepada Tuhan tubuh kita — bukan suatu yang salah, melainkan — ‘suatu korban yang hidup dan suci yang berkenan kepada Allah.’ Rum 12 : 1 .” — Counsels on Health, p. 67.

“Kesucian yang benar datang melalui pelaksanaan prinsip kasih. ‘Allah adalah kasih ; maka orang yang tinggal dalam kasih ia juga tinggal dalam Allah, dan Allah di dalam dia.’ Kehidupan orang, yang di dalam hatinya ditinggali Kristus, akan mengungkapkan peribadatan yang praktis. Tabiat akan dibersihkan, ditinggikan, dibesarkan, dan dimuliakan. Ajaran yang murni akan membaur dengan perbuatan-perbuatan kebenaran; peraturan-peraturan sorga akan bercampur dengan perbuatan-perbuatan yang suci.

“Kesucian ……. bukanlah dicapai melalui suatu perasaan terbang yang menggembirakan, melainkan adalah hasil daripada terus-menerus mati untuk dosa, dan senantiasa hidup bagi Kristus. Kesalahan-kesalahan tidak mungkin dapat diluruskan, juga reformasi-reformasi tidak mungkin dapat dilaksanakan di dalam tabiat oleh usaha-usaha yang hanya sekali-sekali dan lemah. Adalah hanya oleh usaha yang tekun dan lama, disiplin yang ketat, dan perjuangan yang keras, maka kita akan menang. Kita tidak tahu pada hari yang satu berapa kuatnya kelak perjuangan kita pada hari berikutnya. Selama setan memerintah, maka kita harus berhasil mengalahkan diri sendiri, menguasai semua dosa untuk menang; sepanjang hayat dikandung badan tidak akan ada satupun tempat berhenti, tidak ada satupun titik tujuan yang dapat kita capai lalu mengatakan : ‘Saya sudah sepenuhnya berhasil. Kesucian ialah hasil dari pada kepatuhan seumur hidup.” — The Acts of the Apostles, p. 560.

“Hari demi hari, jam demi jam, suatu pekerjaan penyangkalan diri yang luas dan pekerjaan penyucian yang besar harus terus berlangsung di dalam; kemudian pekerjaan-pekerjaan itu akan menyaksikan, bahwa Yesus sedang menetap di dalam hati oleh iman. Kesucian tidak menutup jalan-jalan masuk jiwa dari pengetahuan, melainkan memperluas pikiran, dan mengilhaminya untuk menyelidiki kebenaran itu bagaikan akan harta benda yang tersembunyi.” — Counsels to Teachers, p. 449.

“Tidak ada satupun kesucian Alkitab bagi orang-orang yang mengesampingkan sebagian kebenaran” (Testimonies, vol. 1, p. 338), karena “pekerjaan ini tidak mungkin dapat maju di dalam hati sementara terang atas sesuatu bagian kebenaran itu ditolak atau dilalaikan. Jiwa yang suci tidak akan merasa puas untuk tetap di dalam kebodohan, melainkan akan ingin terus berjalan dalam terang dan berusaha mendapatkan terang yang lebih besar lagi. Sebagaimana pekerja tambang menggali tanah mencari emas dan perak, maka demikian itu pula pengikut Kristus akan berusaha mencari kebenaran, bagaikan mencari harta benda yang tersembunyi, dan akan mendesak dari terang yang satu kepada terang yang lebih besar lagi, senantiasa meningkat dalam pengetahuan. Ia akan terus bertumbuh dalam kemurahan dan dalam pengetahuan kebenaran.” — The Review and Herald, June 17, 1890.

“Banyak orang ………… tidak mencontoh kebenaran itu dalam kehidupan mereka. Mereka memperoleh latihan-latihan khusus mengenai penyucian itu, tetapi mereka mengesampingkan firman Allah ke punggung mereka. Mereka berdoa penyucian, menyanyi penyucian, dan menyerukan penyucian ……… Kebenaran sekarang itu, yang justru merupakan saluran, tidak mereka hargai, melainkan dipijak-pijaknya di bawah telapak kaki. Orang-orang boleh saja menyerukan, Kesucian, kesucian, penyucian, penyucian, penyerahan yang suci, penyerahan yang suci, tetapi mereka tidak lagi mengerti melalui pengalaman akan apa yang dibicarakannya itu, tidak lebih dari pada orang berdosa yang memiliki kecenderungan-kecenderungan jahat. Allah akan segera merobek-robek pakaian orang-orang yang dicuci putih ini, yang mengakui dirinya suci yang oleh sebagian mereka yang berpikiran jahat telah dipakai untuk menyembunyikan cacad cela jiwanya.” — Testimonies, vol. 1. pp. 338, 336.

“Nabi Daniel adalah sebuah teladan dari kesucian yang benar. Kehidupannya yang panjang itu dipenuhi dengan pelayanan yang mulia bagi Tuhannya. Ia adalah seseorang yang sangat dikasihi Sorga. Namun gantinya mengakui dirinya bersih dan suci, nabi yang dihormati ini telah mempersamakan dirinya dengan Israel yang benar-benar berdosa, sementara ia memohon ke hadapan Allah demi untuk umatnya sebagai berikut: ‘Kami menyampaikan permohonan-permohonan kami ini ke hadapan-Mu bukan karena kebenaran kami, melainkan karena kebesaran segala kemurahanMu.’ ‘Kami sudah berdosa, kami sudah berbuat durhaka.’ Katanya: ‘Saya sedang berbicara, dan berdoa, dan mengakui dosa saya dan dosa umat saya.’ Dan sewaktu di kemudian hari Anak Allah muncul untuk memberikan kepadanya petunjuk, maka Daniel mengatakan: ‘Keelokan rupaku berubah menjadi cacad, dan saya sama sekali tidak berkekuatan.’

“Sewaktu Ayub mendengar suara Tuhan dari dalam angin puyuh itu, maka berkatalah ia : ‘Saya membenci diriku, dan menyesal dalam tanah dan habu.’ Adalah sewaktu Yesaya melihat kemuliaan Tuhan, dan mendengar cerubim berseru-seru: ‘Suci, suci, suci, Tuhan serwa sekalian alam,’ maka berserulah ia: ‘Celakalah saya, karena saya tidak sempurna.’ Paulus, setelah ia dibawa ke dalam langit yang ketiga, dan mendengarkan segala perkara yang tidak mungkin diucapkan oleh manusia, berbicara dari hal dirinya sebagai ‘yang terkecil dari pada semua umat kesucian yang terkecil pun.” — The Great Controversy, pp. 470, 471.

“Kesucian Paulus adalah hasil dari pada suatu peperangan melawan diri sendiri yang tetap terus-menerus. Katanya: ‘Saya mati setiap hari.’ Kemauan dan keinginannya setiap hari berperang melawan tugas dan kehendak Allah. Gantinya mengikuti kecenderungan hatinya, ia melaksanakan kehendak Allah betapa pun menyalibkan bagi sifatnya sendiri.

“Allah memimpin umat-Nya terus maju langkah demi langkah. Kehidupan Kristen adalah suatu peperangan dan pergerakan maju. Dalam peperangan ini tidak ada kelepasan; usaha harus berjalan terus-menerus dan dengan lebih tekun. Adalah oleh usaha yang tak henti-hentinya baharu dapat kita mencapai kemenangan atas berbagai cobaan Setan. Integritas Kristen harus dicari dengan energi yang tak terlawan, dan dipertahankan dengan ketekadan maksud yang pasti.

“Tidak seorangpun akan dapat dibawa ke atas tanpa usaha yang keras dan tekun dalam kepentingannya sendiri. Semua harus melibatkan diri dalam peperangan ini ……….. Peperangan untuk menang atas diri sendiri, untuk mencapai kesucian dan sorga, adalah suatu peperangan seumur hidup. Tanpa usaha yang terus-menerus dan aktifitas yang tetap, tidak akan terdapat kemajuan dalam kehidupan ilahi, tidak akan tercapai mahkota pemenang.” — Testimonies, vol. 8, p. 313.

“Inilah kehendak Allah terhadap manusia, yaitu kesucian mereka. Dalam menganjurkan perjalanan kita ke atas, ke sorga, maka setiap kemampuan harus dipelihara dalam kondisi yang sangat sehat, dipersiapkan untuk melaksanakan pelayanan yang setia. Semua kemampuan yang sudah dikaruniakan Allah pada manusia harus dipakai ………… Manusia tidak mungkin dapat melakukan ini oleh dirinya sendiri; ia harus memperoleh bantuan Ilahi. Bagian manakah yang merupakan perantara manusia untuk bertindak? — ‘Usahakanlah selamatmu sendiri dengan takut dan gentar. Karena itulah Allah yang bekerja di dalam dirimu baik untuk mengendalikan kemauan maupun untuk melaksanakan kesenangan hati-Nya.’ Pilipi 2 : 12, 13.” — Testimonies, vol. 8, p. 64.

Akhirnya, fungsi dari pada prinsip penyucian yang benar di dalam hati orang Kristen secara tak tertandingi dilukiskan dalam perumpamaan Kristus mengenai pertumbuhan benih bibit sebagai berikut : “mula-mula kecambah, kemudian mayangnya, sesudah itu butir gandum yang penuh.” Markus 4 : 28.

Demikianlah dari rahmat demi rahmat naiklah panjatan penyucian yang benar itu, yaitu proses dinamis dari pada regenerasi yang meningkat melalui pemberian pembenaran Kristus yang terus-menerus, “oleh kuasa Roh Allah yang tinggal di dalam” (The Great Controversy, p. 469); karena “pemberian Roh itu sama dengan pemberian kehidupan Kristus” (Gospel Workers, p. 285) — penyucian yang lengkap.

Dengan cara perbandingan: “Kebenaran yang oleh mana kita diberi pembenaran (fase pertama penyucian) adalah dipakaikan (imputed). Kebenaran yang oleh mana kita disucikan (fase kedua) adalah diberikan. Yang pertama adalah hak kesempatan kita ke sorga: yang kedua adalah kepantasan kita bagi sorga.” — The Review and Herald, June 4, 1895 (Di dalam Christ Our Righteousness, p. 98).

“Bertumbuhnya benih itu melambangkan permulaan kehidupan rohani, dan berkembangnya tanaman itu ialah suatu bentuk pertumbuhan Kristen yang indah. Seperti halnya di dalam alam, demikian itu pula dalam rahmat, tidak mungkin terdapat kehidupan apapun juga tanpa pertumbuhan. Tanaman itu tak dapat tiada harus hidup atau mati. Sementara pertumbuhannya adalah diam dan tidak kelihatan, namun terus bertumbuh, demikian itu pula perkembangan kehidupan Kristen. Pada setiap tahap perkembangan kehidupan kita dapat menjadi sempurna; namun jika maksud Allah bagi kita digenapi, maka akan terjadi peningkatan yang terus-menerus. Penyucian adalah suatu pekerjaan seumur hidup. Sementara kesempatan-kesempatan kita meningkat, maka pengalaman kita akan meluas, dan pengetahuan kita bertambah. Kita akan menjadi kuat untuk memikul tanggung jawab, dan kematangan kita akan menjadi seimbang dengan semua hak dan kesempatan kita.” — Christ’s Object Lessons, pp. 65, 66.

“Di sinilah penyucian Alkitab itu. Ia itu bukan hanya sesuatu pameran atau pekerjaan sebelah luar. Itu adalah penyucian yang  diperoleh melalui saluran kebenaran. Itulah kebenaran yang diterima di dalam hati, dan yang dipraktikkan dalam kehidupan.” — Testimonies, vol. 1, p. 339.

“Kristus berdoa bagi murid-murid-Nya dengan kata-kata ini: “Sucikanlah mereka melalui kebenaran-Mu: firman-Mu ialah kebenaran.’ Tidak ada satupun penyucian yang murni, terkecuali melalui kepatuhan kepada kebenaran.” — The Sanctified Life, p. 49.

 

 

 268 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart