<< Go Back
APAKAH ITU KEWAJIBAN SAYA UNTUK
MEMBENAHI PERBENDAHARAAN TUHAN?
Pertanyaan No. 98 :
Haruskah kita membayarkan perpuluhan kita kepada “rumah perbendaharaan” jika kita ketahui bahwa ia itu tidak digunakan dengan benar?
Jawab :
Karena mengetahui bahwa perpuluhan kita adalah milik perbendaharaan rumah Allah, maka tanggung jawab kita yang terbesar ialah melihat agar ia itu dengan setia dibayar ke sana. Tidak ada di manapun juga di dalam Alkitab kita jumpai bahwa Tuhan menguasakan pada setiap pembayar perpuluhan untuk mengawasi semua saluran yang dilalui oleh dana-dana ini.
Perbendaharaan Tuhan berada di bawah pengawasan-Nya, maka jika Ia sendiri belum menganggap pantas untuk mengoreksi sesuatu penyalah gunaan dalam menangani uang-Nya, kita tentunya tidak dapat mengoreksinya betapapun kita mencoba dengan sekuat-kuatnya. Jika kita mengawasi dengan saksama bagian pekerjaan-Nya itu yang dipercayakan-Nya kepada kita, maka satu-satunya perhatian kita ialah agar mencari tahu dimana “perbendaharaan rumahNya” berada dan kemudian dengan setia menyimpan uang-Nya itu ke sana. Ia tidak meminta tanggung jawab kita bagi penggunaannya; bahwa, Ia sendiri akan mengambil alih — sama seperti halnya Ia kini “memegang sendiri pemerintahan di dalam tangan-Nya.”
Sewaktu Tanah Perjanjian dibagi – bagikan di antara dua belas suku bangsa Israel, suku bangsa Lewi sama sekali tidak memperoleh tanah bagi warisannya seperti halnya sebelas suku itu. Sebagai gantinya, Tuhan memutuskan bahwa perpuluhan-perpuluhan dari suku-suku bangsa lainnya itu harus dibayarkan kepada orang-orang Lewi. Inilah warisan mereka. Itu sesungguhnya adalah milik mereka sendiri. Maka sama seperti mereka, seperti halnya para penerima perpuluhan, mereka tidak berhak untuk mengatur kepada orang-orang lainnya, para pembayar perpuluhan itu, apa yang harus diperbuat dengan penghasilan mereka sendiri setelah ia itu dipotong perpuluhan, maka demikian itu pun para pembayar perpuluhan tidak berhak untuk mengatur bagi para penerima perpuluhan apa yang harus mereka perbuat dengan perpuluhan itu. Masing-masing suku bangsa itu sendiri bertanggung jawab kepada Tuhan untuk apa yang sudah Ia percayakan untuk itu. Demikian itulah harus pula di waktu ini.
218 total, 1 views today


