Bagaimanakah rumah tangga itu sebenarnya ?
<< Go Back


BAGAIMANAKAH RUMAH TANGGA ITU SEHARUSNYA ?

 

 

Pertanyaan No. 105 :

Mohon dijelaskan Epesus 5 : 22 –  24 !

Jawab :

“Hai para istri, hendaklah kamu tunduk kepada suamimu seperti kepada Tuhan. Karena suami adalah kepala atas istri, sama seperti Kristus adalah kepala atas sidang : dan Dialah penebus tubuh. Oleh sebab itu sebagaimana sidang tunduk kepada Kristus, maka hendaklah para istri tunduk kepada suami mereka dalam segala perkara.” Epesus 5 : 22 – 24.

Jelaslah, bahwa perintah ilahi ini mewajibkan istri menghormati suaminya sama seperti ia kepada Tuhan, karena suami merupakan juruselamat sementara bagi keluarga, sama seperti Tuhan adalah Juruselamat yang kekal bagi sidang. “………. Kristus ………. mencintai sidang, sehingga Ia telah menyerahkan diri-Nya bagi sidang: supaya Ia dapat menyucikan dan membersihkannya dengan pencucian air oleh firman.” Epesus 5 : 25, 26. Apabila istri melalaikan perintah Ilahi ini, ia mempermalukan Allah.

“Hai segala suami, cintailah istrimu, seperti Juga Kristus telah mencintai sidang.” Epesus 5 : 25.

Dengan demikian, adalah sama terikat dan suci tanggung jawab suami kepada istrinya. Ia harus menghargainya sebagaimana Kristus menghargai sidang-Nya. Apabila ia berlaku kurang dari pada ini, maka ia melanggar hukum Tuhan.

Dengan demikian, sementara sidang adalah berkewajiban untuk menghormati dan mematuhi Tuhannya, maka istri wajib menghormati dan mematuhi suaminya; dan suami pun berkewajiban untuk mencintai dan melindungi istrinya sama seperti Tuhan mencintai dan melindungi sidang-Nya. Dari ini terbuktilah, bahwa rumah Tuhan adalah disamakan dengan rumah dari suami.

Sesuai dengan itu, maka dalam cara yang sama sebagaimana Tuhan mengawasi segala persoalan rumah-Nya, sidang, demikian itu pula suami harus mengawasi segala persoalan rumah tangganya, keluarga. Dan karena kebahagiaan sidang sendiri adalah bergantung pada kerjasamanya dengan kehendak Tuhan, maka demikian itu pula kebahagiaan keluarga adalah bergantung pada kerja samanya dengan kehendak ayah. Oleh sebab itu, lebih jelas lagi ialah kenyataan, bahwa sebagaimana Kristus memegang kemudi pengendali sidang, demikian itu pula ayah memegang kemudi pengendali rumah tangga. Maka sebagaimana sidang yang bertobat itu bersuka cita dengan memuaskan hati Kepalanya, Kristus, demikian itu pula istri yang bertobat itu bersukacita dalam menggembirakan hati kepalanya, suaminya. Dalam keadaan yang berbahagia ini, baik lelaki maupun wanita akan menyadari bahwa mereka, bagaimanapun, masing-masing adalah yang kedua bagi sesamanya.

“Tetapi aku ingin kamu mengetahui,” demikian pernyataan Paulus, “bahwa kepala dari setiap lelaki itu ialah Kristus, dan kepala dari wanita ialah lelaki, dan kepala dari Kristus ialah Allah. Setiap orang laki-laki yang berdoa atau bernubuat, sambil kepalanya tertutup, ia mempermalukan kepalanya. Tetapi setiap wanita yang berdoa atau bernubuat dengan kepalanya tidak tertutup ia mempermalukan kepalanya : karena itu adalah sama dengan seolah-olah perempuan yang dicukur rambutnya.”

“Meskipun demikian dalam Tuhan tidak ada laki-laki tanpa perempuan, dan tidak ada perempuan tanpa laki-laki. Karena sama seperti perempuan berasal dari laki-laki demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; namun segala perkara berasal dari Allah.” 1 Korinthi 11 : 3 – 5, 11, 12.

Hubungan rumah tangga yang indah ini seringkali dirusak dan hancur karena salah urus keuangan atau karena pendidikan yang keliru, atau karena kedua-duanya, sebab petunjuk Ilahi tidak diikuti. Tuhan menunjang istri-Nya, sidang, namun sidang sendiri harus menangani media pertukaran uang, membayar segala perkara yang dibelinya; maka sesuai dengan itu, sungguhpun suami menunjang rumah tangga, istri harus menangani uang bagi pembelian barang-barang yang dibutuhkan untuk menjalankan rumah  tangga. Dan jika suami menerima suatu penghasilan yang hanya sekedar cukup, maka bahkan lebih istimewa lagi ia harus memberikan upahnya itu kepada istrinya, supaya ia dapat menyusun rencana belanjanya untuk menutupi semua kebutuhan rumah tangga sampai kepada perolehan penghasilan berikutnya. Dengan istri yang menangani uang, maka dengan demikian ini banyak manfaat akan meningkat, sebab dia sendirilah yang menggunakannya, maka hanya dialah yang tahu apa saja yang dibutuhkan di dalam rumah tangga. Dengan demikian karena ia mengerti akan keuangannya sehari-hari yang serba terbatas itu, maka iapun akan mengerti dengan tepat apa yang dapat dibelinya bagi kebutuhan rumah tangga.

Jadi, dengan sendirinya ia akan senantiasa melihat, bahwa hanya kebutuhan-kebutuhan rumah yang sangat perlu yang akan pertama kali disediakannya, sehingga dengan demikian menghindari perbelanjaan yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu barang olehnya, atau berbelanja kurang terhadap sesuatu barang oleh suaminya, atau sebaliknya — keadaan yang terakhir ini tak dapat tiada akan timbul jika suami yang memegang dompet lalu memberi kepadanya untuk berbelanja. Jika dilakukan dengan sepatutnya, maka dompet tidak akan pernah kosong, dan rumah tangga tidak akan menderita kekurangan, tidak akan ada perselisihan-perselisihan, dan tidak akan ada perpecahan. Tentu saja, suami dan istri harus selalu berkonsultasi untuk mencapai kesepakatan bersama bagi apapun yang hendak mereka lakukan.

Tetapi jika penghasilan keluarga jauh lebih besar dari pada kebutuhan hidup, maka ia dan istrinya, secara bersama-sama dapat dengan lebih terbuka merencanakan anggaran penerimaan dan perbelanjaan mereka, pertama-tama memperhatikan semua pembelanjaan kebutuhan mereka sehari-hari, kemudian menabung di bank atau menginvestasikan selebihnya.

Dengan demikian pahamilah, bahwa suami itu bukan hanya merupakan kantong uang, melainkan ia adalah raja rumah tangga, “tali pengikat keluarga,” dan bahwa istri itu bukan hanya sekedar untuk memasak makanan, mencuci piring dan pakaian, membersihkan lantai, dan memelihara dan membesarkan anak-anak, melainkan ialah permaisuri rumah tangga, yaitu pembantu yang tepat, — memahami sekaliannya ini ialah memiliki suatu penghargaan yang benar terhadap keseluruhan perkawinan yang diilhami Ilahi.

“Siapakah yang dapat menemukan seorang istri yang berbudi? Karena nilainya itu adalah jauh melebihi batu-batu permata. Hati suaminya dengan aman menaruh harap kepadanya, sehingga ia tidak akan kehilangan apapun. Ia akan berbuat baik kepada suaminya dan bukan jahat pada segala hari hidupnya. Ia mencari bulu domba, dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya sendiri. Ia adalah bagaikan kapal-kapal milik pedagang; dari jauh ia mendatangkan makanannya. Ia juga bangun pagi-pagi sekali selagi masih gelap, lalu menyediakan makanan kepada orang seisi rumahnya, dan sebagian kepada para dayang-dayangnya. Ia menghendaki sebuah ladang, lalu dibelinya: maka dengan hasil tangannya ia menanami sebuah kebun anggur.

Diikatnya pinggangnya dengan kuat, lalu dikuatkannya lengan-lengannya. Ia tahu bahwa barang dagangannya menguntungkan; pelitanya tidak padam di malam hari. Ditaruhnya tangannya pada kumparan, dan telapak tangannya memegang pemintal. Ia mengulurkan tangannya kepada orang miskin; bahkan, dikeluarkannya tangannya kepada orang-orang yang kekurangan. Tiada ia takut akan salju bagi keluarganya; karena semua isi rumahnya adalah berpakaian rangkap. Ia sendiri membuat berbagai permadani; pakaiannya adalah sutera dan kain halus yang berwarna ungu. Suaminya dikenal di dalam pintu-pintu gerbang, apabila ia duduk di antara para tua-tua negeri. Ia membuat kain khasah yang halus, lalu menjualkannya; dan menyerahkan ikat-ikat pinggang kepada pedagang. Kekuatan dan hormat adalah merupakan pakaiannya; dan ia akan bersukaria dalam masa yang akan datang. Ia membuka mulutnya dengan bijaksana, dan di dalam lidahnya terdapat hukum kebaikan dan kemurahan. Ia mengawasi dengan baik segala perilaku rumah tangganya, dan makanan kemalasan tidak dimakannya. Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia ; suaminya pun, lalu memujinya. Banyak anak perempuan telah berbuat baik,  tetapi kamu melebihi mereka semuanya. Kemolekan itu adalah  penipu, dan kecantikan itu adalah sia-sia, tetapi seorang perempuan yang takut akan Tuhan, ia itu akan dipuji-puji.” Amzal Solaiman 31 : 10 – 30.

Sebab itu sementara istri yang bagaikan permaisuri mengurusi segala persoalan dalam keluarga, maka suami yang bagaikan raja mengurusi segala persoalan luar keluarga.

Berikutnya, karena Tuhan sendiri adalah Kepala dari sidangNya sebagai sebuah sekolah, dan “istri”-Nya (sidang, teristimewa pihak kependetaan — yaitu mereka yang melahirkan orang-orang baru yang bertobat, anak-anak dalam iman), adalah guru dari anak-anak mereka (para anggota), maka demikian itu pula suami adalah kepala dari rumah tangganya sebagai sebuah sekolah, dan istrinya adalah guru dari anak-anak mereka.

“Untuk mencapai suatu pengertian yang tepat mengenai hubungan perkawinan,” demikian kata Roh Nubuatan, “ini merupakan pekerjaan seumur hidup”. Barang siapa memasuki perkawinan, mereka memasuki sebuah sekolah yang tidak pernah akan mereka tammati dalam hidup ini.

***

“Dalam ikatan hidup keduamu kasih sayangmu harus saling mengalir kepada kebahagiaan sesamamu …….. Tetapi sementara kedua-mu akan bergabung menjadi satu, janganlah seorangpun di antara kamu tenggelam dalam kepribadian rekanmu. Allah adalah pemilik ……….. Dari Dialah engkau harus meminta ……….. Bagaimana sebaiknya saya memenuhi rencana ciptaan diriku? ………. Kasih-mu kepada apapun yang bersifat manusia harus dinomor duakan dari pada kasihmu kepada Allah ………. Adakah aliran kasihmu yang terbesar itu menuju kepada-Nya yang telah mati bagimu? Jika demikian halnya, maka kasihmu terhadap sesamamu akan sesuai dengan kebiasaan Sorga.

***

“Janganlah suami ataupun istri mengajukan permohonan untuk bisa berkuasa ………. Keduamu harus memeliharakan roh kasih sayang, bertekad untuk jangan sekali menyusahkan hati atau melukai sesamamu ………. Jangan mencoba melaksanakan yang lainnya untuk berbuat sesuai kehendakmu. Engkau tidak dapat berbuat demikian ini, sambil tetap mempertahankan kasih sayang rekanmu. Semua manifestasi kehendak sendiri akan merusak kedamaian dan kebahagiaan rumah tangga. Jangan membiarkan kehidupan perkawiananmu menjadi sebuah ajang pertikaian. Jika engkau melakukannya, maka keduamu tidak akan berbahagia.

Berbicaralah yang lemah lembut dan bertindaklah yang baik, sambil menghentikan segala keinginanmu sendiri. Perhatikanlah dengan seksama segala perkataanmu, sebab sekaliannya itu mempunyai pengaruh kuat bagi kebaikan atau bagi kerusakan. Jangan membiarkan kata-kata yang tajam masuk ke dalam suaramu. Masukkanlah ke dalam kehidupan keduamu keindahan kesamaan Kristus.

“Sebelum seseorang lelaki memasuki sesuatu persekutuan yang seerat hubungan perkawinan, ia harus belajar bagaimana ia mengontrol dirinya sendiri dan bagaimana bergaul dengan orang-orang lain.
 

***

“Saudaraku, berlakulah yang baik, sabar, tahan hati. Ingatlah selalu, bahwa istrimu telah menerima kamu sebagai suaminya, bukan supaya kamu dapat memerintahnya, melainkan supaya kamu dapat menjadi pembantunya ………..

“Suatu kemenangan adalah pasti penting bagi keduamu untuk dicapai, —- yaitu kemenangan atas kemauan yang membandel.

Dalam peperangan ini engkau hanya dapat menang oleh bantuan Kristus. Engkau dapat berjuang dengan keras dan lama untuk menundukkan diri sendiri, namun engkau akan gagal jika engkau tidak memperoleh kekuatan dari atas. Oleh kemurahan Kristus engkau dapat mencapai kemenangan atas diri sendiri dan atas sifat mementingkan diri. Karena engkau menghayati kehidupan-Nya, sambil memperlihatkan pengorbanan diri pada setiap langkah, senantiasa mengungkapkan suatu simpathi yang lebih kuat bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan, engkau akan mencapai kemenangan demi kemenangan. Dari hari ke hari engkau akan belajar dengan lebih baik bagaimana mengalahkan diri sendiri dan bagaimana menguatkan titik-titik yang lemah dari tabiatmu. Tuhan Yesus menjadi terangmu, kekuatanmu, mahkota kegembiraanmu, sebab engkau menyerahkan kehendak hatimu kepada kehendak-Nya ………. Dengan bantuan-Nya engkau akan dapat membinasakan selengkapnya akar dari pada sifat mementingkan diri.

***

“Tahan hati dan sifat tidak mementingkan diri menandai segala perkataan dan tindakan dari pada orang-orang yang telah dilahirkan kembali, untuk menghayati kehidupan yang baru dalam Kristus.” — Testimonies, vol. 7, pp. 45 – 50.

“Pergerakan reformasi yang besar harus memulai dengan menyajikan kepada para bapak-bapak dan ibu-ibu dan anak-anak semua prinsip hukum Allah. ………. Perlihatkanlah bahwa kepatuhan kepada hukum Allah adalah satu-satunya pelindung kita melawan segala kejahatan yang sedang melanda dunia kepada kebinasaan. ………. Oleh teladan (para orangtua) mereka dan ajarannya, nasib kekal pada rumah tangga-rumah tangga mereka dalam kebanyakan hal akan ditentukan ………..

“Jika para orangtua dapat dikendalikan untuk mengikuti semua akibat dari tindakan mereka, ………. mereka akan memecahkan adat dan kebinasaan lama ………. Masukkanlah ke dalam hati para orangtua keyakinan akan kewajiban-kewajiban mereka yang utama, yang sudah lama dilalaikannya. Inilah yang akan memecahkan roh Parisi dan perlawanan yang menentang kebenaran yang tidak dapat dipecahkan oleh apapun yang lainnya. Agama di dalam rumah tangga adalah harapan kita yang utama, yang membuat cerah harapan masa depan bagi pertobatan seluruh keluarga kepada kebenaran Allah.” —- Testimonies, vol. 6, p. 119.

“Hanya dalam cara yang sedemikian inilah sebuah rumah tangga Kristen akan merupakan contoh Kerajaan Kristus. Dan dalam memantulkan Kerajaan itu sedemikian di sini, semua rumah tangga yang sedemikian ini, apabila diikat bersama-sama secara kolektif, akan membentuk Kerajaan yang akan datang. Jadi, betapa pentingnya, agar supaya ibu dan bapa bekerjasama sepenuhnya membentuk rumah tangga yang sesuai dengan cara Kristus untuk menjamin eksistensinya baik sekarang maupun untuk selama-lamanya.

Kelalaian sesuatu pihak melaksanakan prinsip-prinsip ini, akan menghancurkan rumah tangga dan mencerai-beraikan bukan saja untuk waktu ini melainkan juga untuk hidup kekal yang akan datang; sebaliknya ketelitian melaksanakan prinsip-prinsip ini akan mengamankan kemakmuran dan kebahagiaan keluarga di dalam dunia ini, menjamin kelanjutannya yang kekal di dalam dunia yang akan datang.

 

 

 247 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart