Bagaimanakah untuk menghindar dari membesarkan anak-anak yang tidak pandai menyesuaikan diri ?
<< Go Back


BAGAIMANAKAH UNTUK MENGHINDAR DARI MEMBESARKAN ANAK-ANAK YANG TIDAK PANDAI MENYESUAIKAN DIRI ?

 

Pertanyaan No. 107 :

Bagaimanakah yang terbaik dapat kita membantu anak-anak yang berusia di antara dua dan dua belas tahun, untuk memanfaatkan waktu mereka ?

Jawab :

Oleh karena kebanyakan anak-anak dalam zaman Laodikea ini dalam beberapa hal dibiarkan begitu saja bertumbuh bagaikan rumput gantinya sebagai mahluk-mahluk manusia yang terlatih, maka persoalan mengenai bagaimana  mereka dengan sebaik-baiknya dapat memanfaatkan waktunya adalah benar-benar penting.

Di tempat pertama, semua orangtua harus menyadari akan nilai dari pada latihan yang telah diberikan kepada anak-anak mereka supaya setia, cerdas, dan berani memikul segala kewajiban hidup dan untuk menghadapi segala permasalahannya, sekiranya mereka tidak akan menjadi parasit-parasit masyarakat atau orang-orang yang canggung di dalam masyarakat.

Meskipun demikian, banyak orangtua membiarkan anak-anak mereka hanyut begitu saja tanpa dilengkapi untuk memeliharakan dirinya sendiri, dan acuh tak acuh saja menghadapi sekian banyak tantangan hidup. Kemudian setelah dewasa jiwa-jiwa yang kurang beruntung ini menemukan hidup yang sengsara bukannya suatu hidup yang gembira; apa saja yang mereka coba, pada setiap belokan jalan, mereka menjumpai kegagalan yang pahit. Rumah-rumah tangga mereka menjadi tidak tertib dan tidak bersih, tidak pantas untuk didiami; dan keluarga-keluarga mereka pada gilirannya menjadi tertekan, tidak berharga, menjadi kelompok masyarakat yang tidak berguna.

Anak-anak yang dibesarkan demikian ini, yang dibiarkan kepada rencana-rencana hidupnya sendiri, untuk membuang-buang waktu sesuka hatinya, adalah bagaikan rumput alang-alang. Dengan bermain-main, menyanyi-nyanyi, dan berjemur diri di matahari sepanjang musim, tanpa memperhatikan menggigilnya musim dingin yang sedang mendekat, sebelum mana rerumputan yang hijau mulai menghilang dari ladang, alang-alang telah membuang-buang waktunya dan kini ia harus menderita lapar karena kehabisan makanan, lalu membeku di lapangan terbuka. Tetapi semut yang telah bekerja dengan giatnya sepanjang musim panas, memiliki kelimpahan persediaan untuk dimakan dan sebuah rumah musim dingin yang cukup hangat. Hanya penilaian yang jelek dan cinta buta yang akan membiarkan anak-anak itu sendiri bertumbuh dalam kebiasaan rumput alang-alang, tanpa terlatih dalam kepandaian melakukan semua pekerjaan mereka dalam enam hari yang ditentukan maupun untuk beristirahat pada hari yang ketujuh. Para orangtua yang membiarkan anak-anaknya membuang-buang waktu, olehnya sedang memasang jerat yang mematikan bagi dirinya sendiri; mereka sedang lalai mempersiapkan mereka itu baik bagi hidup ini maupun bagi hidup yang akan datang.

Dalam memberikan kepada mereka suatu latihan rumah tangga yang tepat maka salah satu pelajaran-pelajaran pertama yang sangat penting untuk diajarkan kepada mereka ialah selalu memiliki suatu tempat yang teratur untuk berpakaian dan untuk mengganti pakaian, dan supaya pada segala waktu menggantungkan pakaiannya pada tempat yang pantas, jangan sekali meletakkannya di sembarang tempat. Dengan memiliki suatu tempat sedemikian ini bagi apa saja dan meletakkan apa saja pada tempatnya, maka dari permulaan sekali keluarga ini bukan saja akan menerangi pekerjaan rumah dan tetap menjaga rumah bersih, rapih dan tertib sepanjang malam maupun sepanjang siang hari, dan sambil lalu menambah kepada kehidupan baik pakaian maupun perabotan mereka, melainkan juga akan menyusul pemeliharaan kebersihan dan kerapihan pribadi seseorang dan suatu kehidupan yang tertib dan terpelihara.

Di antara sekian banyak hal-hal yang berguna dan yang membawa kebaikan bagi anak-anak, ialah berbagai tugas rumah tangga seperti misalnya cuci piring, membenahi tempat tidur, menyapu rumah, membersihkan debu, menggosok jendela-jendela kaca, menggosok lantai dan bahan-bahan yang terbuat dari kayu, membakar kue, memasak, dan juga membuat bahan-bahan pakaian yang sederhana dan perabotan.

Kemudian ada pekerjaan-pekerjaan di luar rumah seperti misalnya memelihara pekarangan rumah supaya rapih dan bersih, berkebun, memelihara unggas, dan lain-lain, sebagai tambahan kepada pekerjaan-pekerjaan praktis lainnya, termasuk melakukan pembelian dan penjualan secara ekonomi dan dalam cara berdagang.

Dan yang teramat penting dari semuanya, membaca dan menghafal ayat-ayat dari Alkitab dan Roh Nubuatan harus dengan seksama dipelihara sebagai suatu hiburan yang mulia.

Untuk memiliki suatu kepribadian dan tabiat yang serba bias dan berintegrasi (bergabung satu dengan lainnya), seseorang anak harus dengan sepatutnya mengembangkan kemampuan-kemampuan fisik dan mentalnya maupun kemampuan kerohaniannya. Bagi yang terakhir ini, latihannya harus dimulai semenjak dari kecil sekali —- secepatnya setelah ia mampu berjalan dan berbicara —- sebab jika ia dibiarkan membuang-buang waktunya sampai ia tumbuh dewasa, ia akan memperoleh suatu sifat yang bagaikan seekor zebra —- suatu ketidak-mungkinan untuk merubah dari tidak berbuat sesuatu kepada berbuat sesuatu.

Untuk menghindari cacad tabiat yang sedemikian ini dengan akibat kerusakannya yang hampir tak terperbaiki lagi selama hidup, maka sejak pagi-pagi sekali tugaskanlah kepadanya pekerjaan-pekerjaan rumah tertentu, dan apabila ia belajar menguasai sesuatu perkara, promosikan kepadanya yang lain lagi. Rumah tangga harus menjadi sebuah sekolah, bukan rumah bermain. Jangan sekali membiarkan dia bermain menghabiskan waktu di luar rumah sehingga membiasakan dirinya hanya kepada suatu kehidupan bermain dan yang salah.

Dan bagaimanapun juga jangan sekali membiarkan anak-anakmu jatuh ke dalam kebiasaan lambat atau malas yang membiarkan tugas-tugas pagi untuk dikerjakan di sore hari, atau pekerjaan suatu hari dibiarkan untuk hari berikutnya. Piring-piring harus dicuci segera sesudah makan; jangan sekali membiarkan makanan tertinggal mengering dan mengeras di atasnya, “Enam hari lamanya,” demikian firman Tuhan.” hendaklah kamu bekerja, dan melaksanakan semua pekerjaanmu.” Keluaran 20 : 9.

Apabila terdapat banyak anak di dalam rumah tangga, maka kewajiban-kewajiban rumah tangga setiap harinya harus dibagi-bagikan di antara mereka, dan para orangtua mengambil tugas-tugas guru. Dalam hal ini setiap anak kecil tidak akan hanya menjauhi dirinya dari pergaulan yang salah dan jelek, melainkan juga akan menjadi berguna dan rajin, pada waktu yang sama mereka membangun suatu fisik tubuh yang kuat, suatu tabiat yang mulia, dan suatu kepribadian yang gembira. Dijamin dengan jenis pertumbuhan anak sedemikian ini, maka orang akan jarang sekali hanyut ke dalam pengembaraan menjadi gelandangan atau menjadi kapir.

Tetapi, membiarkan anakmu jatuh ke dalam kebiasaan yang menyedihkan yang memperoleh sesuatu yang selesai dilakukan hanya sesudah engkau membujuknya atau mempermalukannya, maka engkau pasti mengajarkannya untuk membenci baik akan dirimu maupun akan pekerjaan itu. Dan karena itulah, gantinya engkau melatihnya untuk mencintai suatu kehidupan yang rajin yang akan membuatnya berbahagia dan tidak bergantung pada siapa pun, engkau justru akan mengendalikannya ke dalam kemalasan, yaitu perkara yang justru sedang engkau hindarkan dari padanya, dan bahkah mempengaruhinya kepada pertengkaran. Tetapi biarkanlah dia mengerti bahwa apa yang engkau katakan, itulah yang engkau maksudkan, maka kemungkinan persangkaannya yang keliru terhadapmu akan jauh berkurang, dan pada giliran berikutnya ia akan makin berkurang membantah perkataanmu maupun menyanggahnya karena bukan saja ia itu benar melainkan juga terpuji.

Kemudian, berusahalah memimpin anak-anakmu supaya mereka mencintai pekerjaan mereka dengan cara meneruskan perhatian mereka pada pekerjaan itu. Berlakulah seperti Allah. Ajarkanlah kepada mereka dalam cara yang sama seperti yang sedang diajarkan-Nya kepadamu. Ada tertulis, bahwa “barangsiapa yang dicintai Tuhan, ia itu dipukul-Nya.” Ibrani 12 : 6. Ia menjelaskan segi-segi kehidupan yang benar maupun yang salah, dan mengamarkan secara jelas kepadamu semua akibat yang akan menyusul jalan apa saja yang engkau tempuh — yaitu suatu berkat bagi yang satu dan suatu kutuk bagi yang lainnya.

Berbuatlah juga yang sama kepada anak-anakmu. Namun berhati-hatilah agar dalam berbuat demikian itu kamu tidak akan membalikkan mereka melawan Allah dengan cara mengancam mereka, bahwa jika mereka tidak berlaku baik, maka Ia akan menghukum mereka dengan cara ini ataupun dengan cara itu. Sebaliknya supaya mengajarkan kepada mereka, bahwa Ia sedang menghimbau mereka supaya mereka menghindari jalan yang jahat karena ia itu dengan sendirinya akan membawa mereka memungut hasil laknat dan bukan berkat.

Dalam memasukkan ke dalam pikiran-pikiran muda kedua akibatnya ini, supaya gunakan ilustrasi-ilustrasi yang sederhana. Perlihatkanlah, misalnya, bahwa jika  seseorang lalai mengeluarkan bakteri makanan dari giginya dengan cara menyikat gigi secara  teratur sesudah makan, maka gigi-gigi itu akan habis dimakan bakteri, seperti halnya buah menjadi makanan ulat apabila pohon-pohonnya tidak disemprot dan dipelihara, sehingga akibatnya akan menjadi sakit, kehilangan gigi, keadaannya menjadi jelek, dan mahal. Dari urutan sebab akibat yang khusus ini, kendalikanlah pikiran anak untuk melihat kepada aplikasinya yang luas — bahwa melanggar hukum-hukum Allah dalam bentuk apapun akan dengan sendirinya berakibat sakit, menderita, tabiat yang jelek, suatu kehidupan yang tidak terhormat, dan suatu kematian yang belum sampai saatnya.

Supaya diperhitungkan juga dalam perhatian yang mendesak ini ialah kenyataan yang ironis, bahwa anak-anak secara alami cenderung kepada kebiasaan-kebiasaan yang salah gantinya kepada kebiasaan-kebiasaan yang benar, sama seperti halnya binatang-binatang pemakan daging biasanya mencari daging dan bukan mencari tumbuh-tumbuhan. Kepada kita diperingatkan: “Kebodohan melekat pada seseorang anak, tetapi tongkat didikan akan menjauh dari dia.” Amsal Solaiman 22 : 15. Ia harus dengan sabar dan bijaksana dilatih, didisiplinkan, dipukul. “Ajarkanlah seorang anak pada jalan yang patut dijalaninya, maka apabila ia tua tiada ia berpaling dari padanya.” Amsal Solaiman  22 : 6. Tetapi jika ia menjadi keras kepala, menolak untuk dilatih, maka “pukullah anakmu selagi masih ada harapan, dan janganlah jiwamu menahaninya karena tangisnya.” “Orang yang menahani tongkatnya membenci anaknya, tetapi orang yang mencintai anaknya memukulnya berkali-kali.” Amsal Solaiman 19 : 18 ; 13 : 24. Memang, “Janganlah menahan didikan dari pada anak, karena jika engkau memukulnya dengan tongkat, ia tidak akan mati. Hendaklah engkau memukulnya dengan tongkat, dan hendaklah engkau melepaskan jiwanya dari neraka.” Amsal Solaiman 23 : 13, 14.

Sampai kepada usia lima atau enam tahun, tergantung pada watak pribadi, anak-anak dapat dikenakan hukuman badan apabila tindakan-tindakan disiplin dan didikan lainnya telah dilaksanakan tanpa hasil. Jika pada kesempatan-kesempatan yang sedemikian ini tongkat digunakan dengan sepantasnya, maka anak akan menjawab juga sedemikian itu bahwa ia tidak pernah lagi memerlukannya. Tetapi jika diperlukan sekali lagi, maka berhati-hatilah sekali dengan apa yang hendak engkau lakukan.

Karena anak-anak yang sedemikian ini yang memerlukan hukuman yang lebih drastis lagi dari pada anak-anak pada umumnya, dapat menjadi anak-anak yang tidak dapat diperbaiki lagi lalu mengembangkan suatu perasaan takut bercampur benci terhadap para pemukulnya. Dengan begitu, sementara pemukulan yang sedemikian ini diperkirakan untuk menghindari terulangnya kembali kejahatan yang lebih besar dalam mereka, ia itu mungkin mendatangkan suatu kejahatan yang bahkan lebih berbahaya lagi, jika langkah-langkah hasil penyelidikan yang seksama tidak ditempuh untuk menjamin keberhasilan melawan akibat brutalnya. Ia itu harus dilaksanakan dengan suatu demontrasi kasih sayang yang sedemikian rupa mendalam yang seimbang dan meyakinkan yang mengharapkan dengan sangat anak yang bersalah itu tidak akan kehilangan kasih sayang dan hormatnya kepada para pemukulnya, dan supaya kehidupan rumahnya tidak akan menjadi sedemikian menakutkan baginya sehingga mendorongnya untuk lari meninggalkan rumah pada setiap kesempatan yang terbuka.

Para orangtua “hendaklah pertama-tama berbicara dengan anak-anak mereka, menunjukkan dengan jelas kesalahan-kesalahan mereka, memperlihatkan kepada mereka dosa mereka, dan meyakinkan kepada mereka, bahwa mereka bukan saja telah berdosa melawan orangtuanya, melainkan juga melawan Allah. Dengan hatimu sendiri yang lemah lembut dan penuh kasih dan sedih terhadap kesalahan anak-anakmu, berdoalah bersama-sama mereka sebelum memperbaiki mereka. Maka pendidikanmu tidak akan membuat anak-anakmu membenci kamu. Mereka akan melihat bahwa engkau bukan menghukum mereka karena mereka telah menyusahkan kamu, atau karena engkau ingin melampiaskan kemarahanmu kepada mereka, melainkan karena alasan kewajiban, demi untuk kebaikan mereka, supaya mereka tidak dibiarkan bertumbuh dalam dosa.” — Testimonies, vol. 1, p. 398.

Dengan cara apapun mereka harus selalu dipengaruhi untuk merasa, bahwa para pemukulnya itu adalah teman-teman karib mereka sendiri, bukan orang-orang penggertak dan musuh-musuh.

“lbu mungkin bertanya: ‘Tidak bolehkah saya menghukum anak saya?’ Mencambuk dapat saja bila perlu apabila cara-cara lainnya gagal, namun janganlah ia menggunakan tongkat jika masih mungkin untuk menghindarinya. Tetapi jika tindakan yang lunak ternyata tidak berhasil, maka hukuman yang akan mengembalikan anak itu kepada kesadarannya harus dilaksanakan dengan kasih sayang. Seringkali satu saja pendidikan yang sedemikian ini akan cukup bagi seumur hidup, untuk menunjukkan kepada anak itu bahwa ia tidak berpegang pada garis-garis pengawasan.” — Counsels to Teachers, p. 116.

Tetapi kebiasaan meraih anak-anak pada setiap kali perselisihan, lalu menggoncang-goncangkan mereka dengan penuh amarah, menempeleng, menampar, memukul pantat, atau mencambuk mereka, dan sesekali menonjok-nonjok kepala mereka, ialah kebodohan yang sangat merusak, yang juga dibenci oleh setiap pemikiran yang sehat, kerapihan dan peri kemanusiaan. Kelanjutannya akan makin mengeraskan dan lebih brutal, sehingga bukannya menyelamatkan melainkan bahkan merusak. Ia itu akan membuat korbannya menjadi binatang-binatang kecil yang ganas, bukannya terhormat sebagai anak-anak yang menyerupai Allah.

“Sebagian orangtua mendidik anak-anak mereka dengan keras sekali dalam roh yang tidak sabar, dan seringkali dengan bernafsu. Pendidikan-pendidikan yang sedemikian ini tidak akan berhasil baik. Dalam usaha memperbaiki kejahatan yang satu, mereka menciptakan dua lagi kejahatan. Larangan dan pencambukan yang terus-menerus akan mengeraskan hati anak-anak, dan akan menjauhkan mereka dari orangtuanya.” — Testimonies, vol. 1, p. 398.

Tetapi apabila engkau hendak mendisiplinkan, maka berlakulah sungguh-sungguh, tegas, dan lakukanlah itu sebagai suatu tugas yang baik dan berperasaan. Perhatikanlah agar supaya engkau melakukannya dengan baik supaya tidak perlu lagi engkau mengulanginya.

Pada waktu ini, sebagaimana belum pernah ada sebelumnya, anak-anak muda sedang menyatakan keyakinan diri sendiri yang belum waktunya, sampai sedemikian jauh sehingga mereka bahkan mengancam meninggalkan rumah jika setiap keinginan mereka tidak dipenuhi oleh orangtuanya. Tetapi janganlah berkompromi dengan mereka pada masa periode yang kritis ini, atau mereka pada akhirnya akan memaksakan perkara-perkara yang sedemikian rupa menjengkelkan sehingga mereka pada akhirnya akan pergi keluar untuk membuktikan gertakan mereka. Jangan menyerah kepada mereka. Berikan jaminan kepada mereka bahwa jika mereka mau pergi, engkau akan membantu mereka pergi secara resmi dan terhormat, tetapi supaya mereka tidak perlu malu lalu pergi diam-diam.

Akhirnya, janganlah membuat mereka kehilangan hormat kepadamu atau kepada agamamu. Mereka tidak memerlukan ajaran-ajaran pada mulanya seperti halnya pelajaran-pelajaran sederhana yang mereka perlukan mengenai hidup yang ditanamkan setiap hari secara agama di dalam pikiran mereka. Doronglah mereka untuk memahaminya, untuk melihat kebenaran dan keindahannya. Jangan sekali-kali mencoba memaksa mereka untuk mengambilnya; mereka hanya akan membencinya. Dan jangan sekali lupa, bahwa jika caramu membuat mereka menguasaimu gantinya engkau menguasai mereka, atau membuat engkau memerintah mereka dengan paksaan gantinya dengan kasih sayang, maka ia itu akan merusak mereka untuk selama-lamanya, dan ya, engkau pun rusak. Kemudian apabila Allah bertanya: “Di manakah kawanan domba itu yang diberikan kepadamu, kawanan dombamu yang cantik-cantik itu ?” engkau akan diam saja.

Hendaklah setiap orangtua atau pengasuh, oleh perkataan dan oleh teladan memasukkan ke dalam pikiran anak-anak muda kenyataan bahwa :

Waktu Itu Berharga

“Kehidupan Kristus semenjak dari tahun-tahun permulaan-Nya adalah suatu kehidupan yang penuh kegiatan.” — Christ’s Object Lessons, p. 345.

“Waktu kita adalah milik Allah. Setiap saat adalah milikNya, maka kita benar-benar berkewajiban untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya bagi kemuliaan-Nya. Tidak ada satu pun talenta pemberian-Nya yang merupakan tanggung jawab yang lebih ketat dari pada waktu kita yang akan dituntut-Nya.

“Nilai daripada waktu adalah tak terhitungkan. Kristus menganggap setiap saat itu berharga, dan demikian itulah halnya sehingga kita harus menghargainya. Kehidupan adalah sangat singkat untuk diremehkan begitu saja. Kita memiliki hanya heberapa hari masa kasihan dalam mana untuk mempersiapkan diri bagi hidup yang kekal. Kita tidak punya waktu untuk disia-siakan, tidak ada waktu untuk dihabiskan bagi keplesiran pribadi, tidak ada waktu untuk memanjakan diri dalam dosa. Adalah sekarang bahwa kita harus membentuk tabiat bagi kehidupan kekal masa depan. Adalah sekarang bahwa kita harus mempersiapkan diri bagi pemeriksaan Pengadilan itu.

“Keluarga manusia hampir tidak dapat memulai hidup apabila mereka mulai mati, dan usaha dunia yang tidak henti-hentinya berakhir dengan sia-sia jika suatu pengetahuan yang benar mengenai kehidupan yang kekal tidak dicapai. Orang yang menghargai waktu sebagai hari kerjanya akan membuat dirinya pantas bagi sebuah tempat tinggal dan bagi suatu kehidupan yang tidak mati. Adalah pantas bahwa ia telah lahir.

“Kita dinasihati untuk menebus waktu. Tetapi waktu yang telah dihabiskan sia-sia tidak pernah dapat ditemukan kembali. Kita tidak mungkin dapat memanggil kembali bahkan sejenaknya pun. Satu-satunya cara dalam mana kita dapat menebus waktu kita ialah dengan cara memanfaatkan dengan sebaik-baiknya waktu yang masih ada, dengan cara bekerja sama dengan Allah dalam rencana penebusan-Nya yang besar.

“Di dalam dia yang melakukan ini suatu perubahan tabiat akan terjadi. Ia menjadi anak Allah, menjadi anggota dari keluarga kerajaan, menjadi anak dari Raja samawi. Ia adalah pantas untuk menjadi teman malaikat-malaikat.

“Sekaranglah waktu kita untuk berusaha bagi keselamatan sesama manusia kita. Ada sebagian orang yang menyangka, bahwa jika mereka memberi uang kepada pekerjaan Kristus, maka inilah semuanya yang dipersyaratkan untuk diperbuat; waktu yang berharga dalam mana mereka dapat melakukan pelayanan pribadi bagi-Nya berlalu tanpa dimanfaatkan. Tetapi adalah kesempatan dan kewajiban semua orang yang memiliki kesehatan dan kekuatan untuk memberikan kepada Allah pelayanan yang aktif. Semua orang harus berusaha memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus. Sumbangan uang tidak dapat menggantikan hal ini.

“Setiap saat adalah dibebani dengan konsekuensi-konsekuensi kehidupan yang kekal. Kita harus berdiri sebagai manusia-manusia yang siap setiap saat, yang siap bertugas segera setelah datang perintah. Kesempatan yang kita miliki sekarang untuk berbicara kepada sebagian orang yang membutuhkan firman kehidupan mungkin tidak akan pernah lagi ditawarkan. Allah mungkin mengatakan kepada orang itu: ‘Malam ini jiwamu akan diminta dari padamu.’ dan karena kelalaian kita ia mungkin menjadi tidak siap. Dalam hari Pehukuman yang besar itu nanti, bagaimanakah kelak kita mempertanggung jawabkannya kepada Allah?

“Kehidupan adalah terlalu penting untuk dihabiskan hanya dengan masalah-masalah dunia yang bersifat sementara, dalam urusan yang membosankan dan keinginan perkara-perkara yang hanya berupa sebutir atom diperbandingkan dengan perkara-perkara kepentingan samawi yang kekal. Namun Allah telah memanggil kita untuk melayani-Nya dalam persoalan-persoalan kehidupan yang sementara. Kerajinan dalam pekerjaan ini adalah merupakan bagian peribadatan yang benar yang sama dengan penyerahan diri. Alkitab tidak menyetujui pengangguran. Pengangguran ialah kutuk yang terbesar yang meresahkan dunia kita. Setiap laki-laki dan perempuan yang benar-benar bertobat akan menjadi pekerja yang rajin.

“Atas pemanfaatan yang tepat waktu kita, bergantunglah keberhasilan kita dalam mencarikan pengetahuan dan kebudayaan mental. Pemeliharaan orang pandai itu tidak perlu dihalangi oleh kemiskinan, asal mula yang sederhana, ataupun lingkungan-lingkungan yang tidak menguntungkan. Hanya supaya saat-saat itu disimpan. Sejenak di sini dan sejenak di sana, yang mungkin disia-siakan dengan pembicaraan yang tidak bertujuan; jam-jam pagi seringkali dihabiskan sia-sia di tempat tidur; waktu yang dihabiskan dalam perjalanan di dalam kereta api atau kendaraan umum, atau menunggu di stasiun; waktu-waktu menunggu makan, menunggu orang-orang yang lambat memenuhi janji, — jika sebuah buku berada di dalam tangan, dan kesempatan-kesempatan ini dimanfaatkan dengan mempelajari, membaca, atau berpikir dengan seksama, akan memungkinkan orang mendapatkan pengetahuan dan disiplin mental yang akan membuat mereka mampu bagi hampir setiap kedudukan yang berpengaruh dan berguna.

“Adalah kewajiban setiap orang Kristen untuk mencapai kebiasaan-kebiasaan yang tertib, cermat, dan cekatan. Tidak ada maaf bagi kelambatan bekerja yang sembrono dengan cara apapun. Apabila seseorang selalu bekerja, dan pekerjaan itu tidak pernah selesai, maka itu adalah karena pikiran dan hatinya tidak ada pada pekerjaan itu. Orang yang lambat, dan yang bekerja secara tidak bermanfaat, hendaklah menyadari bahwa inilah kesalahan-kesalahan yang harus diperbaiki. Ia perlu melatih pikirannya dalam merencanakan bagaimana menggunakan waktu sehingga mendapatkan hasil-hasil yang terbaik. Dengan kebijakan dan metode sebagian orang akan menghasilkan sama banyak hasil pekerjaan dalam lima jam dengan orang lain yang menghasilkannya dalam sepuluh jam. Sebagian orang yang melibatkan diri dalam pekerjaan-pekerjaan di rumah selalu bekerja, bukan karena banyak sekali yang harus dikerjakannya, melainkan karena mereka tidak merencanakan sedemikian itu untuk menghemat waktu. Oleh cara-cara mereka yang lambat, dan bertele-tele itu, mereka membuat banyak pekerjaan yang berasal mula dari yang paling sedikit. Tetapi semua orang mau, dapat mengalahkan kebiasaan-kebiasaan rewel dan berlambatan ini. Dalam pekerjaan mereka hendaklah mereka memiliki suatu tujuan yang pasti. Tentukanlah berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi suatu tugas tertentu, lalu kemudian kendalikan setiap usaha menuju kepada penyelesaian pekerjaan itu dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Melatih kuasa kemauan akan membuat tangan-tangan bergerak dengan lincah.

“Karena tidak adanya keputusan untuk mengambil sendiri di dalam tangan dan memperbaharui kembali, maka orang-orang dapat meniru-niru dalam suatu cara tindakan yang keliru; atau oleh memeliharakan kekuatan-kekuatan mereka dapat mencapai kemampuan untuk melakukan pelayanan yang terbaik. Kemudian mereka akan menemukan dirinya dibutuhkan di mana saja dan di mana-mana. Mereka akan dipuji untuk semua yang pantas baginya.

“Banyak  anak-anak dan orang-orang muda menghabiskan waktu dengan sia-sia, yang sesungguhnya dapat digunakan dalam melaksanakan tugas-tugas rumah tangga, sehingga dengan demikian menunjukkan suatu perhatian kasih sayang pada bapa dan ibu. Orang-orang muda dapat mengangkat ke atas bahu-bahu mereka yang muda dan kuat banyak tanggung jawab yang harus dipikul oleh seseorang — Christ’ Object Lessons, pp. 342 – 345.

“Itulah pokok yang sebenarnya dari pada semua iman yang tepat untuk melakukan perkara yang benar pada waktu yang tepat.” — Testimonies, vol. 6, p. 24.

 

******

 

 255 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart