<< Go Back
APAKAH MENIKAH ATAUKAH MEMBUJANG?
Pertanyaan No. 73 :
Paulus mengatakan : “Saudara-Saudara, waktu adalah singkat, dalam waktu yang masih ada ini agar mereka yang mempunyai isteri supaya berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri.” “Karena aku ingin bahwa semua orang seolah-olah jadi seperti diriku.” 1 Korinthi 7 : 29, 7. Apakah yang dimaksudnya?
Jawab :
Untuk memahami dengan tepat ajaran tentang perkawinan dan membujang dari rasul itu, seperti yang dikemukakan pada ayat- ayat yang dipertanyakan itu, dan untuk memperoleh suatu pandangan yang benar terhadap tujuannya, dan terhadap pokok-pokok yang sedang dibicarakannya, maka adalah perlu pertama sekali meninjau pasal itu dalam penempatannya yang lengkap.
1 Korinthi 7 : 1 mengungkapkan bahwa ia pada waktu itu menerima sebuah surat, dan jawabannya terhadap surat itu (di dalam pasal yang sama ini) menunjukkan bahwa di antara orang-orang percaya di sidang Korinthi terdapat kekecewaan dan kurang pengertian mengenai hubungan perkawinan. Sebagian orang tidak puas dengan nasib mereka yang membujang, yang lainnya merasa bosan oleh nasib kehidupan perkawinan mereka, sementara yang lain lagi mempertanyakan apakah mereka harus meninggalkan suami-suami atau istri-istri mereka yang tidak beriman, lalu menikah lagi.
Karena selalu merupakan semua perkara yang berlaku terhadap semua orang, maka dalam usahanya yang keras untuk menghindari sedapat mungkin setiap perselisihan di dalam sidang yang muda itu, Paulus dengan bijaksana dan jelas mengemukakan manfaat-manfaat dari keadaan menikah maupun dari keadaan membujang.
Dari hal orang-orang yang tidak menikah dan para janda ia mengatakan : “Adalah baik bagi mereka sekiranya mereka tetap saja seperti saya. Tetapi jika mereka tidak dapat menguasai diri, maka hendaklah mereka menikah, sebab lebih baik menikah daripada hangus karena hawa nafsu.” Ayat 8, 9.
“Dan kepada mereka yang menikah” — baik terhadap pasangan yang masing-masingnya percaya pada Kristus, maupun terhadap pasangan yang salah satunya tidak percaya pada Kristus — ia menulis : “Aku perintahkan, tetapi bukan aku, melainkan Tuhan, Janganlah istri menceraikan suaminya, ……………. dan janganlah suami menceraikan istrinya. Tetapi kepada yang lainnya aku mengatakan, bukan Tuhan : Jika seseorang saudara mempunyai istri yang tidak percaya (beriman), tetapi ia (wanita itu) senang tinggal bersamanya, maka janganlah ia menceraikannya. Dan wanita yang mempunyai suami yang tidak percaya (tidak beriman), maka sekiranya ia (suami) senang tinggal bersamanya, maka janganlah ia menceraikannya.” Ayat 10 – 13.
Dalam pembicaraan yang singkat ini kita saksikan bahwa rasul itu tidak menganjurkan hidup membujang, melainkan mengusulkan dengan jelas bahwa untuk “menghindari perzinahan, ….. setiap orang laki-laki memiliki istrinya sendiri, dan ….. setiap wanita memiliki suaminya sendiri.” Ayat 2.
Ia menghimbau kepada para suami dan para istri yang kedua-duanya beriman, tetapi yang kehidupannya kurang serasih antar sesamanya, supaya mencoba sedapat mungkin untuk hidup damai di antara sesamanya. Dan sekiranya hanya satu yang beriman, maka yang satunya itu harus berusaha mentobatkan rekannya yang tidak beriman itu (ayat 14). Sungguhpun demikian tambahnya, bahwa sekiranya rekannya yang tidak beriman itu hendak bercerai, maka “seseorang saudara atau seseorang saudari tidak akan terikat dalam kasus-kasus sedemikian ini.” Ayat 15.
Dengan ketegasan yang sama ia mengajarkan bahwa sekiranya pasangan yang beriman sama memutuskan untuk bercerai, maka mereka tidak diperkenankan mengawini orang lain, melainkan harus mencoba untuk rukun kembali (ayat 11). Sungguhpun demikian lebih berbahagia lagi : “Adakah anda lepas dari seseorang istri? Janganlah mencari istri.” Ayat 27. “Hendaklah setiap orang laki-laki tetap dalam panggilan yang sama dalam mana ia telah terpanggil” (ayat 20), dan belajarlah untuk merasa puas sebagaimana “saya telah belajar dalam keadaan apa pun saya berada untuk merasa puas karenanya.” Pilipi 4 : 11.
Keadaan hidup sekarang karena singkat waktunya, maka ia menganjurkan kepada mereka untuk selama itu supaya memasang semua keinginan mereka bukan kepada perkara-perkara dunia ini, melainkan kepada kemuliaan-kemuliaan dunia yang akan datang, karena “apa yang belum pernah terlihat oleh mata, atau pun terdengar oleh telinga, dan yang belum pernah masuk ke dalam hati manusia, perkara-perkara itulah yang telah disediakan Allah bagi mereka yang mencintai-Nya.” 1 Korinthi 2 : 9.
Apabila keadaan yang suci dan berbahagia ini dicapai, maka kelak akan jadi bahwa “mereka yang beristri akan berlaku seolah-olah tidak beristri, dan mereka yang meratap akan berlaku seolah-olah tidak meratap, dan mereka yang bersuka-gembira akan berlaku seolah-olah mereka tidak bergembira, dan mereka yang membeli, seolah-olah mereka tidak memiliki, dan mereka yang memanfaatkan dunia ini, seolah-olah mereka tidak menyalah gunakannya, karena mode dunia ini sudah berlalu.” 1 Korinthi 7 : 29 – 31.
Artinya, orang-orang yang kini mempunyai istri, kelak tidak akan lagi ada manfaatnya mereka itu dalam kehidupan yang akan datang, sama seperti halnya mereka tidak beristri; demikian pula orang-orang yang berbelanja sekarang, pada waktu itu mereka tidak akan lagi memiliki lebih daripada orang-orang yang sama sekali tidak berbelanja apa pun di waktu ini; tetapi semua orang — yang menikah maupun bujang, orang-orang yang meratap dan orang-orang yang bersuka gembira, orang-orang yang membeli dan orang-orang yang tidak membeli — kelak pada waktu itu dipersamakan keadaannya, sehingga semua orang akan bersuka gembira bersama-sama, “karena mode dunia ini sudah berlalu.” “Sebab itu, maka orang yang mengawini wanita supaya berlaku dengan baik; tetapi orang yang tidak mengawini wanita supaya berbuat lebih baik lagi.
“Isteri adalah terikat oleh hukum selama suaminya hidup, tetapi jika suaminya mati, maka bebaslah ia untuk mengawini siapa saja yang dikehendakinya, asalkan hanya dalam Tuhan. Tetapi adalah lebih berbahagia ia jika ia tetap begitu, demikianlah penilaian saya; dan saya juga mengira bahwa saya memiliki Roh Allah.” Ayat 38 – 40.
Tidak ada di dalam nasehat perkawinan ini terdapat Paulus memaksakan peraturan dan teladannya sebagai pilihan yang mutlak bagi kehidupan seseorang yang melebihi yang lainnya, ataupun yang menghapuskan hak-hak dan kesempatan-kesempatan perkawinan yang suci yang dijamin oleh janji perkawinan.
Orang-orang yang menyimpulkan dirinya dipimpin untuk memilih perkawinan, dan yang bertekad untuk bergerak dalam takut kepada kemuliaan Allah, mereka tak dapat tiada akan menikah “hanya dalam Tuhan”; mereka tidak akan mengambil bagi dirinya orang-orang yang tidak beriman maupun orang-orang yang tidak bertobat, yang bersifat duniawi, sembrono, dan orang-orang percaya yang tidak berserah diri. Orang yang bijaksana akan senantiasa tetap menyadari, bahwa pakaian dan perilaku dunia tidak mungkin dapat menarik bagi seorang Kristen yang benar, dan karena itulah tidak mungkin dapat membawa suatu perikatan Kristen yang benar berbahagia dan abadi. Mereka akan hanya menaruh perhatiannya pada seseorang yang bersungguh-sungguh, bersemangat, rajin, berpikiran rohani penganut Kebenaran Sekarang.
Dan suatu persyaratan keberhasilan penting yang sama bagi usaha-usaha kehidupan yang amat sempurna ini, namun tersulit, ialah agar jangan seorang pun memasukinya (perkawinan) secara terburu-buru, tanpa melakukan persiapan sepenuhnya yang diperlukan. Sesuai dengan itu, maka tidak seorang pun pemuda Davidian yang takut akan Allah dapat secara moral membiarkan dirinya merencanakan menikah, kalau bukan ia adalah seseorang yang sejak mudanya telah menentukan usaha apa atau pun profesi apa yang cocok baginya, yang telah menjadi tujuannya, yang sudah dicapainya atau pun sedang dalam perjalanan untuk mencapainya, yang telah membangun dan mempersiapkan bagi dirinya sebuah rumah atau memiliki uang untuk membangun rumah, atau sedikit-sedikitnya telah mempersiapkan atau mampu untuk mempersiapkannya.
Dengan mencoba mengambil tanggung jawab-tanggung jawab rumah tangga yang rumit, berat dan penuh cobaan itu, sesuai tata-tertib Allah, tanpa sepenuhnya melakukan persiapan-persiapan penting yang disebutkan di sini, maka kecil harapan bagi seseorang untuk dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan fisik, mental, maupun rohaninya sesuai yang dituntut secara Ilahi dari seorang Kristen. Jika ini dilalaikan, maka ia akan membuat kehidupan menjadi suatu penderitaan dan kutuk, dan oleh keputusan yang menyedihkan itu ia akan menjadi sekedar hambatan di tanah gantinya menjadi berkat bagi bumi. Gantinya lepas secara terhormat dari ketergantungan pada orang lain, ia justru akan secara hina bergantung pada mereka; gantinya menjadi suatu pengaruh yang mulia bagi masyarakat, ia justru akan menjadi pengaruh yang merendahkan derajat; gantinya memberikan kepada anak-anaknya kesempatan perlindungan yang memadai, memelihara dan memberi mereka latihan-latihan yang patut bagi setiap manusia, ia justru akan bertindak sebagai ayah dari sekelompok anak-anak malang yang kemungkinan nasibnya tidak beruntung.
Setiap pemuda Davidian yang jujur akan menghindari tragedi yang sedemikian ini dengan cara sepenuhnya melakukan persiapan bagi pengalaman yang terbesar ini dalam kehidupan sebelum terjun menjalaninya. la akan ingat bahwa sebelum Tuhan menciptakan manusia, la pertama sekali menciptakan bumi, yaitu rumah tinggal manusia, dan kemudian melengkapinya dengan terang, udara, makanan, dan air, dengan semak belukar, pohon, dan rerumputan, dengan burung, binatang dan ternak. Maka dengan mengetahui, ia akan sesuai mengikuti.
Di samping memenuhi semua persyaratan yang sangat diperlukan ini, maka calon suami yang mengingini perkawinan yang berhasil, tidak akan menempuh langkah perkawinan sebelum dirinya memenuhi syarat untuk melaksanakan tugas-tugas rumah tangga dari istri dalam hal istrinya sakit, menjadi tidak mampu atau dibawa pergi, atau semua tugas dibebankan padanya karena sesuatu alasan lain yang tak disangka-sangka.
Di lain pihak, tidak seorang pemudi Davidian pun yang takut akan Allah dapat secara moral merencanakan perkawinan sebelum ia memiliki keahlian-keahlian rumah tangga dan dapat memikul setiap tugas rumahnya. Jika ia dapat memelihara rumah tetap bersih, rapih, dan teratur, jika ia dapat memasak, mencuci, dan menjahit dengan baik, jika ia dapat menjaga orang sakit dan melaksanakan pertolongan pertama, jika ia dapat dengan pandai menjaga anak-anak, jika ia dapat mengusahakan suatu kebun yang subur untuk melengkapi meja makannya dengan kelimpahan sayur-sayuran segar (karena apabila dipotong berhari-hari sebelum digunakan, semuanya itu akan banyak sekali kehilangan vitamin-vitaminnya karena oksidasi). — jika ia dapat melakukan semuanya ini, maka pantaslah ia mendapat kehormatan untuk menjadi seorang istri yang baik, ia telah mendapatkan campuran dari suatu gabungan yang kokoh dan tahan lama. Sungguh pun demikian, meski dihormati dan terhormat sebagaimana yang seharusnya baginya, ia juga harus memiliki beberapa keahlian atau profesi, supaya sekiranya suaminya sakit atau menjadi tak mampu atau dibawa pergi, maka ia akan dapat mengepalai rumah tangga dan mengawasi semua kebutuhannya dan menghadapi semua permasalahannya.
Pada akhirnya, keduanya harus membuat perhitungan yang tepat dengan kenyataan, bahwa jarang sekali terdapat sesuatu mental pemuda, moral, maupun peralatan profesinya yang sempurna bagi tanggung jawab-tanggung jawab perkawinan sebelum ia mencapai usia dua puluh empat tahun — yaitu masa pertumbuhan dan perkembangan pria yang penuh, dan bahwa seorang pemudi jarang sekali dapat dipersiapkan sedemikian ini sebelum ia mencapai usia dua puluh tahun — yaitu masa pertumbuhan dan perkembangan wanita yang penuh.
240 total, 2 views today


