<< Go Back
PADA PIHAK MANAKAH ANDA INGIN BERADA ?
Pertanyaan No. 66 :
Bagaimanakah orang-orang Davidian menganggap gereja Masehi Advent Hari Ketujuh? Bagaimana pendirian mereka mengenai tulisan-tulisan Nyonya White, dan Gunung Carmel melambangkan apa ?
Jawab:
Orang-orang Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh percaya bahwa sidang Masehi Advent Hari Ketujuh telah dilantik oleh sorga dan dibebani dengan sebuah pekabaran khusus bagi dunia, tetapi dalam perjalanan waktu ia telah membiarkan dirinya bertumbuh dengan kepuasan diri sendiri, suam, dan sembrono dalam melaksanakan semua tanggung jawabnya yang suci itu; dan dengan demikian setelah sekali “berbalik dari mengikuti Kristus Pemimpinnya”, maka semenjak itu “ia terus menerus mundur kembali ke Mesir,” dengan akibat yang menyedihkan dan tragis, sehingga “kejatuhannya sendiri yang terus menerus telah memisahkan” dirinya dari Allah. — Testimonies, vol. 5, p. 217.
Orang-orang Davidian selanjutnya percaya, bahwa pemisahan yang tragis ini dari Tuhan seluruhnya jelas nyata dalam keadaan perpecahan itu, yang terungkap di dalam madzab gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, oleh adanya saingan di dalamnya “di antara perintah-perintah Allah dan perintah-perintah manusia.” — Testimonies, vol. 5, p. 81. Sampai kepada akhirnya bahwa keadaan perpecahan yang rusak ini berikut kelemahannya dapat dipecahkan ke dalam suatu persatuan dan kekuatan, sesuatu yang mutlak perlu bagi sidang untuk senantiasa menggenapi keuntungannya yang tinggi, orang-orang Davidian masih terus percaya, bahwa sebagaimana tertulis, “emas akan dipisahkan daripada sanga di dalam sidang.” Dengan kata lain, mereka percaya bahwa kaum Modernist, yaitu orang-orang yang menaruh penghormatan tertinggi kepada “’Ilmu pengetahuan yang keliru’, ………. menaruh harap pada kemampuan berpikir, berkat-berkat istimewa, atau talenta-talenta (Testimonies, vol. 5, p. 80), akan disaring keluar dari antara kaum Fundamentalists — dari orang-orang yang “sedang berdiri di dalam terang …. berkeluh kesah dan menangis karena segala kekejian yang dibuat di tanah itu.” – Testimonies, vol. 5, p. 209.
Tetapi, hendaklah segera dipahami bahwa berbeda dengan orang-orang yang secara terbuka menegaskan pandangan-pandangan baru mereka, orang-orang Modernists Masehi Advent Hari Ketujuh mencela semua kecenderungan yang demikian, dan tetap mengaku berdiri dengan kokoh pada paham-paham Masehi Adventists Hari Ketujuh yang mendasar, sekalipun secara tidak disadarinya mereka secara perlahan-lahan sedang terus menerus menyeleweng dari semuanya itu (buku Christ Our Righteousness, Edisi 1941, halaman 36).
Bahwa kehanyutan ini dikenal sebagai suatu bahaya yang nyata oleh sebagian orang yang juga di dalam sidang, dapat terlihat dari suatu artikel yang diterbitkan di dalam The Review and Herald, 2 Juli, 1936, berjudul, “Modernisme — Suatu Pemakaian Pribadi” :
“Sementara kita memandang dengan cemas penyebaran faham Modernisme yang begitu cepat di antara berbagai gereja Protestan, maka adalah lebih baik agar supaya memikirkan kehidupan kita sendiri, untuk melihat kalau-kalau prinsip-prinsip dan kecenderungan-kecenderungan yang sama itu mungkin sudah mulai bergerak di dalam kita. Sementara ajaran-ajaran dan prinsip-prinsip dari Masehi Advent Hari Ketujuh adalah Fundamentalistic (bersifat mendasar), maka adalah sangat berbahaya apabila kita sebagai pribadi-pribadi dapat menjadi Modernistic (bersifat modern).
“Untuk menilai dengan lebih baik akan bahaya ini, maka lebih baik agar memikirkan perbedaan yang penting di antara orang-orang Fundamentalists dan orang-orang Modernists. Orang Fundamentalist percaya dalam firman Allah sebagai suatu otoritas yang terakhir, tetapi orang Modernist percaya pada interpretasi firman Allah yang sesuai dengan pemikiran manusia, sehingga dengan demikian mengandalkan pemikiran melebihi Allah dari sesuatu wahyu.
“Di akhir zaman ini Allah tidak membatasi wahyu-Nya sejauh Alkitab itu saja kepada kita sebagai umat, melainkan diberikan-Nya juga kepada kita petunjuk istimewa melalui manifestasi Roh Nubuatan ………..
“Oleh sebab itu sementara gereja-gereja yang terkenal itu memperlihatkan sikap Modernistic mereka hanya terhadap Alkitab, maka adalah mungkin bagi kita untuk memperlihatkan sikap yang sama terhadap pekabaran-pekabaran istimewa Allah yang dikirimkan kepada kita. Kenyataannya, hubungan kita dengan Kesaksian-Kesaksian (Testimonies) adalah tempat di mana sikap ini pertama sekali dapat dimanifestasikan.”
Berbagai faham modernisme yang terselubung ini, yang melemahkan ” iman umat Allah pada tulisan-tulisan Testimonies” (Testimonies to Ministers, vol. 4, p. 211), dan yang secara perlahan-lahan “membentuk baru” prinsip-prinsip dasar Madzab Organisasi (Testimonies to Ministers, pp. 48, 69, 70, 360, 372, 373, 409), adalah merupakan kenyataan yang menyedihkan bahwa orang-orang yang memegang kemudi adalah orang-orang Modernist. Tetapi keadaan mereka yang seolah-olah tidak bersalah dalam kenyataan ini, dan penyangkalan mereka akan hal itu, sangat mempersulit usaha kita berbuat sesuatu untuk membantu mereka. Dan untuk memastikan kesalahan karena menyeleweng dari landasan-landasan iman masa kini yang telah ditetapkan Sorga, adalah sama sulitnya dengan menelusuri kembali guru Yahudi yang pertama yang telah menggantikan sesuatu “demikianlah firman Tuhan” dengan sesuatu yang dikatakan dirinya sendiri atau seseorang yang lain. Memang, siapa yang harus dipersalahkan karena penyelewengan ini adalah sama sulit memastikannya, sama dengan memastikan saat kapan kejahatan mulai bekerja. Ilham mengatakan :
“Pada waktu ini ada orang-orang yang akan mengemukakan kepalsuan-kepalsuan sebagai kebenaran-kebenaran yang teruji, sama seperti orang-orang Yahudi menyajikan pepatah-pepatah manusia sebagai roti dari sorga. Peribahasa-peribahasa yang tak berharga diberikan kepada umat Allah sebagai porsi makanan mereka, sementara jiwa-jiwa terus lapar akan roti hidup. Dongeng-dongeng telah disusun sedemikian rupa, dan orang-orang sedang mencoba memintal semua dongeng ini menjadi jaring. Orang-orang yang melakukan ini pada sesuatu hari kelak akan menyaksikan perbuatan mereka sebagaimana ia itu dipandang oleh para pengamat samawi. Mereka memilih untuk membuat landasan yang dari kayu, rumput kering, dan jerami, padahal pada mereka ada firman Allah berikut semua kekayaan dan kuasanya, dari mana mereka dapat mengumpulkan perbendaharaan kebenaran yang berharga. Makanan itu yang sedang dipersiapkan bagi kawanan domba akan membuat mati rohani, kemerosotan, dan kematian. Apabila orang-orang yang mengaku percaya kebenaran sekarang menginsyafi kembali setelah mereka menerima firman Allah itu sesuai yang terbaca, apabila mereka tidak mencoba menyaingi Alkitab, maka mereka akan mengeluarkan dari rumah perbendaharaan hati perkara-perkara yang baru maupun lama, untuk menguatkan dirinya maupun orang-orang untuk siapa mereka bekerja. — The Review and Herald, June 18, 1901.
Berikutnya, orang-orang Davidian berpegang pada keyakinan, bahwa Roh Nubuatan akan tinggal di dalam sidang sampai kepada akhir sejarah, akan merupakan salah satu dari batu-batu pondasi faham Masehi Advent Hari Ketujuh. Pendeta A. G. Daniels menegaskan : “Karunia nubuatan yang diperoleh ini akan tinggal bersama sidang semenjak dari Adam sampai kepada kedatangan yang kedua kali Tuhan kita dan Juruselamat Yesus Kristus, apabila la datang menjemput umat tebusan-Nya untuk dibawa ke Firdaus. la itu tidak berakhir dengan para rasul-rasul saja, melainkan dapat ditelusuri sepanjang berabad-abad lamanya sampai kepada akhir zaman sejarah manusia, menjelang kembalinya Tuhan kita. Apabila peristiwa segala zaman yang termulia itu jadi kelak, maka pada waktu itu — dan bukan sebelumnya — akan jadi kelak apa yang dibicarakan oleh rasul Paulus berikut ini:
“‘…… apa pun yang berupa nubuatan-nubuatan, sekaliannya itu akan disingkirkan; apa pun yang berupa karunia-karunia lidah, sekaliannya itu akan berakhir; apa pun yang berupa pengetahuan, ia itu akan dibuang. Karena kita mengetahui sebagian, dan kita bernubuat sebagian; tetapi apabila yang sempurna itu datang, maka yang sebagian itu akan lenyap’. — 1 Korinthi 13 : 8 – 10, A.R.V.” — The Abiding Gift of Prophecy, p. 6.
Oleh karena karunia nubuatan ini dimanifestasikan melalui Nyonya White sebagaimana telah dikukuhkan secara nyata, maka ia tak dapat tiada telah menulis di bawah Ilham ilahi, sama seperti yang diperbuat oleh para penulis Alkitab. Dan karena itulah, maka faham Masehi Advent Hari Ketujuh yang lama terus berputar pada poros kebenaran bahwa “tidak ada satu pun nubuatan Alkitab yang datang dari sesuatu interpretasi sendiri,” dan tidak lagi dapat dimengerti sekarang tanpa penerangan ilahi yang khusus sama seperti halnya nubuatan di zaman Daniel yang tidak mungkin dapat dimengerti tanpa penerangan dari malaikat, yang mengatakan : “Aku hendak menunjukkan kepadamu apa yang tercatat di dalam injil kebenaran : dan tidak ada seorangpun yang bertahan bersama aku dalam segala perkara ini, terkecuali Mikhael Penghulumu.” Daniel 10 : 21. Demikian itulah, maka Mikhael yang sama itu juga harus menugaskan seorang “guru” bagi kita di waktu ini, sebab jika tidak, maka segala perkara itu yang berguna bagi kedamaian kita akan “tersembunyi dari mata” kita. Lukas 19 : 42.
Batu karang ajaran yang kokoh ini senantiasa menjadi landasan Madzab Gereja yang pasti, dan sejauh itulah bahwa prinsip-prinsipnya yang telah diikuti dengan setia akan mendatangkan kuasa di dalam sidang.
Oleh kematian Nyonya White dalam tahun 1915, maka karunia Ilham itu, sebagai Roh Nubuat yang aktif telah menjadi diam, tidak lagi memanifestasikan diri-Nya untuk beberapa waktu. Dengan adanya sidang terputus sedemikian ini dari sumber kehidupannya, sebagaimana sidang Yahudi semenjak dari kematian nabi Maleakhi sampai kepada datangnya Yahya Pembaptis, maka bagaimana mungkin dapat ia mempertahankan kekuatan dan pertumbuhannya? Sebab itulah, maka kini seperti halnya di waktu itu, telah menyusul kekurangan gizi kerohanian yang tak terelakkan berikut kerusakan bentuk, yang diikuti dengan suatu rangkaian sengsara yang lama.
Menentang latar belakang kemerosotan kerohanian dan penyusutan yang suram ini (tidak terkasihan, sengsara, melarat, buta, dan telanjang), dan ajal yang tak terelakkan (diludahkan keluar), muncullah keluar Pusat Gunung Carmel dalam gambar-gambar besar yang terpahat dengan menyolok, bagaikan puncak cahaya dari Carmel kuno yang lalu di tengah-tengah penyembahan berhala dan kemerosotan Israel yang murtad. Contoh kembali menemui contoh saingannya. Namun bagi Israel Allah di waktu ini malaikat itu mengatakan : “Kamu telah berbuat jauh lebih buruk daripada mereka itu.” — Testimonies, vol. 1, p. 129.
“Bagaikan sebuah palu untuk memecahkan hati yang membatu; bagaikan suatu api untuk memakan habis sanga” (Testimonies, vol. 5, p. 254), suara dari Carmel menyerukan kepada Laodikea amaran yang tak dlhiraukan sebagai berikut : “Saya penuh kesedihan apabila saya memikirkan keadaan kita sebagai suatu umat. Tuhan tidak menutup Sorga dari kita, tetapi kemurtadan kita sendiri yang terus menerus yang telah memisahkan kita dari Allah. Kesombongan, gelojoh, dan cinta akan dunia ini telah tinggal di dalam hati tanpa takut terhadap pembasmian atau hukuman. Dosa-dosa kesombongan dan dosa-dosa yang mendalam telah menetap di tengah-tengah kita. Tetapi pun pendapat umum mengira bahwa sidang sedang berkembang, dan bahwa damai dan kebahagiaan rohani terdapat pada semua keterbatasannya.
“Sidang sudah berbalik dari mengikuti Kristus Pemimpinnya, dan sedang terus menerus mundur kembali ke Mesir. Namun sedikit saja yang gempar atau tercengang karena mereka kekurangan kuasa rohani. Keragu-raguan dan bahkan ketidakpercayaan terhadap kesaksian-kesaksian Roh Allah sedang meracuni gereja-gereja kita di mana-mana. Setan menghendakinya demikian. Para pendeta yang menghotbahkan diri sendiri mengganti kristus menghendakinya demikian. Tulisan-tulisan Kesaksian adalah tidak dibaca dan tidak disukai. Allah telah berbicara kepadamu. Terang telah memancar dari firman-Nya dan dari kesaksian-kesaksian itu, tetapi keduanya telah diremehkan dan tidak dihiraukan. Akibatnya adaIah nyata dalam kegagalan kesucian dan penyerahan dan iman yang sungguh-sungguh di antara kita.” — Testimonies, vol. 5, p. 217.
“Sekaranglah waktunya di mana kita harus berhubungan erat dengan Allah, supaya kita dapat disembunyikan apabila kehangatan murka-Nya dicurahkan ke atas anak-anak manusia. Kita sudah mengembara jauh sesat dari tonggak-tonggak penunjuk jalan yang tua itu. Marilah kita kembali. Jika Tuhan itu Allah, berbaktilah kepada-Nya; jika Dewa itu Allah berbaktilah kepada-Nya. Pada pihak manakah anda ingin berada?” — Testimonies, vol. 5, p. 137.
Dan kini suara dari Carmel melalui penerbitan buku-buku Tongkat Gembala makin hari makin keras bunyinya. Penulis Ilahinya mengatakan : “Suara Tuhan …… kepada negeri itu, dan orang yang bijaksana akan menyaksikan namamu: dengarlah olehmu akan Tongkat itu, dan akan DIA yang telah menentukannya.” Mikha 6 : 9.
Ia memerintahkan : “Berilah makan umat-Ku dengan tongkatmu, kawanan domba pusakamu itu, yang tinggal terpencil di hutan, di tengah-tengah Carmel.” Mikha 7 : 14.
Demikianlah untuk menyelamatkan orang-orang yang jujur di Laodikea dari kelaparan dan kematian rohaninya, untuk menguatkan kembali, mengembalikan, dan mempersenjatai kembali mereka bagi peperangan yang terakhir, maka Tuhan telah mengirim Tongkat itu.
Apabila pekerjaan pengembalian ini selesai sesuai dengan Matius 17 : 11, dan unsur Modernist itu “ditumpas” sesuai yang diputuskan di dalam Yeheskiel pasal 9 dan di dalam Testimonies, vol. 5, p. 80, maka akan terlihat di dalam sidang suatu kegenapan kata-kata Kristus yang segera : “Hujan turun, dan air bah datang, dan angin bertiup, dan menghantam rumah itu;” tetapi ia itu tetap berdiri. Matius 7 : 25.
“Seperti halnya para pelopor gereja Advent yang mula-mula, orang-orang yang mematuhi Tongkat itu adalah orang-orang yang menata kembali “lorong-lorong tua”; mereka menyadari akan akibat-akibat berat yang termasuk di dalamnya karena menentang sesuatu terang yang sudah dipilih Tuhan untuk dikirimkan kepada umat-Nya. Dan karena pekabaran dari Tongkat itu telah membangkitkan perhatian akan perlunya “reformasi di antara umat Allah,” maka kita sebagai orang-orang Davidian bukan saja akan menyerah pada kepercayaan yang telah diberikan pada kita, melainkan juga akan melangkah “melalui seberang yang lain,” meninggalkan gereja Masehi Advent Hari Ketujuh kita yang kekasih merayap di dalam debu, membiarkan saudara-saudara kita hilang, dan dunia sekeliling kita binasa karena “kurang pengetahuan,” jika sekiranya kita tidak berusaha mengamarkan kepada sidang akan bahaya yang akan datang.
Semangat dan usaha kita yang tidak mementingkan diri untuk membantu semua saudara Modernist Masehi Advent Hari Ketujuh tanpa memandang suku, kebangsaan, ataupun kedudukan sosial mereka, cukup membuktikan kasih sayang kita bagi mereka dan penyerahan kita bagi mereka. Kita percaya bersama-sama dengan, rasul Paulus bahwa semua adalah berasal dari anak-anak Adam, yaitu anak-anak yang diadopsi ke dalam keluarga Allah oleh perantaraan Tuhan kita dan Juruselamat Yesus Kristus.
Sungguhpun kita sadar akan kebesaran tujuan kita, namun dengan keyakinan yang penuh pada Pemimpin kita, yang belum pernah lalai mengantarkan melalui setiap tahap rencana Ilahi, maka kita menghadapi tugas kita dengan keberanian dan keyakinan, percaya bahwa “kita akan mampu naik dan menguasai tanah” pusaka kita itu, dan akhirnya masuk ke dalam Kanaan samawi itu, di mana “susu dan madu” berkelimpahan untuk selamanya.
Jadi, perlulah Pusat Gunung Karmel dibangun sebagai suatu basis operasi bagi latihan dan pemantapan para pekerja untuk membawa pekabaran yang istimewa ini kepada sidang; bagi mendidik orang-orang muda yang patut ; bagi pemeliharaan orang-orang miskin, orang-orang tua, janda, dan anak piatu; dan bagi melayani orang sakit dan orang yang lemah sesuai dengan rencana Allah. Pusat Gunung Karmel itu telah mendengar penugasan rangkap Allah kepadanya yang berbunyi : “Nyaringkanlah suaramu, janganlah menahaninya, angkatlah suaramu bagaikan nafiri, dan tunjukkanlah kepada umat-Ku segala pelanggaran mereka, dan rumah Yakub segala dosa mereka.” Yesaya 58 : 1.
“Tiuplah nafiri di Sion, adakanlah suatu puasa yang kudus, serukanlah bagi suatu perkumpulan penting : Himpunkanlah orang-orang itu. sucikanlah perhimpunan itu. kumpulkanlah para tua-tua, kumpulkanlah anak-anak, dan semua yang menyusu : hendaklah pengantin lelaki itu keluar dari kamarnya, dan pengantin wanita dari ruangannya.” Yoel 2 : 15, 16.
Apabila sudah diselesaikannya “pekerjaan penghabisan bagi sidang” (Testimonies, vol. 3, p. 266) ini, maka orang-orang yang telah mengalahkan setiap “cobaan dalam kekuatan dari Dia Yang Maha Kuasa itu,” yang telah berkeluh-kesah dan menangis dan berhasil meloloskan diri dari kebinasaan, akan “jadi seperti Daud; dan rumah Daud akan jadi seperti Allah, bagaikan malaikat Tuhan di depan mereka itu.” Zakharia 12 : 8. Memang, orang-orang Davidian! — yaitu “suatu umat yang besar dan suatu umat yang kuat” (Yoel 2 : 2), “berpakaikan senjata kebenaran Kristus ……. ‘Indah bagaikan bulan, cerah bagaikan matahari, dan hebat bagaikan suatu bala tentara dengan panji-panjinya,’ ….. akan keluar ke seluruh dunia dengan kemenangan dan untuk memenangkan.” — Prophets and Kings, p. 725.
Dalam cara inilah orang-orang Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh akan mengumpulkan semua umat kesucian kepada rumah Tuhan.
Tanggung jawab Gunung Karmel yang besar ialah menyelesaikan pekerjaan yang bermacam-macam ini secepat mungkin, supaya dapat kita pulang ke peristirahatan kita yang kekal, tidak lagi terbelenggu dengan berbagai rantai dosa.
268 total, 2 views today


