<< Go Back
HARUSKAH KITA PERCAYA ATAU
MERAGUKAN ?
Pertanyaan No. 55 :
Adalah sulit bagi saya untuk berusaha mati-matian mencarikan sesuatu interpretasi Alkitab yang berbicara mengenai Ilham. Bukankah seseorang yang memberikan pernyataan sedemikian ini mendatangkan bahaya kepada seluruh struktur pekabarannya, membuka jalan bagi pekabaran itu untuk capat hanyut melalui kekeliruan seseorang yang terkandung di dalamnya?
Jawab :
Kesulitan si penanya bermula dari kenyataan yang berat bahwa dunia Protestan sudah lama memegang pengertian bahwa Allah di dalam zaman ini tidak mempekerjakan seseorang jurubicara yang diilhami untuk menginterpretasikan Firman Allah dan untuk menyatakan kehendak-Nya, melainkan ia mengisi dan memimpin setiap orang Kristen secara pribadi. Namun, teori ini secara universal meledak apabila ditinjau dalam terang dari kenyataan bahwa pribadi-pribadi itu yang mengatakan dirinya dikendalikan Allah, ternyata tidak sefaham di antara sesamanya, sama seperti halnya berbagai sekte agama tidak sefaham di antara yang satu dengan yang lainnya.
Sebelum keberangkatan-Nya Juruselamat menyatakan : “Apabila ….. Roh Kebenaran itu datang, la akan memimpin kamu ke dalam semua kebenaran, karena la tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri, melainkan apapun yang kelak didengar-Nya, itulah yang akan dibicarakan-Nya, maka la akan menunjukkan kepadamu perkara-perkara yang akan datang.” Yahya 16 : 13. Oleh sebab itu, tak dapat dibantah, bahwa kehendak Ilahi adalah agar supaya kita memiliki semua Kebenaran dan hanya Kebenaran saja. Dan haruslah diingat bahwa “tidak ada satu pun nubuatan Alkitab yang berasal dari sesuatu interpretasi sendiri. Karena nubuatan di masa lalu bukan datang dari kehendak manusia, melainkan orang-orang suci milik Allah yang berbicara sementara mereka digerakkan oleh Rohulkudus.” 2 Petrus 1 : 20, 21.
Memang, perkataan Ilham dalam pengertian theologinya, adalah berarti mengkomunikasikan petunjuk-petunjuk Ilahi bebas dari kecemaran manusia. Oleh sebab itu, maka setiap sanggahan terhadap Ilham, dalam analisa yang terakhir, hanya dapat merupakan suatu usaha untuk mengesampingkan Allah dari pandangan dan menempatkan manusia di depan, memutuskan satu-satunya saluran melalui mana Allah dapat menginterpretasikan Alkitab, berkomunikasi dengan umat-Nya — “mengungkapkan kebenaran dan menelanjangi kesalahan.” — Testimonies to Ministery, p. 107.
“Tuhan telah seringkali menyatakan dalam takdir-Nya,” demikian kata Roh Nubuat, “bahwa tidak kurang daripada kebenaran yang terungkap, yaitu Firman Allah, yang dapat menuntun kembali manusia dari dosa atau melindunginya dari pelanggaran.” — Testimonies to Ministers, p. 80.
Oleh sebab itu, jelaslah sekali bahwa Firman Allah tidak mungkin dapat diinterpretasikan sendiri dengan benar — tanpa bantuan Ilham (2 Petrus 1 : 20, 21). Setiap orang yang mencoba sedemikian ini untuk menginterpretasikan pekabaran-pekabaran yang dikirim Allah kepada mereka, mereka akan mendapatkan dirinya melayani Setan dan bukan melayani Kristus, dan mereka pasti akan mendesak dirinya berikut para pengikutnya untuk menghancurkan iman.
Untuk melindungi iman orang-orang yang jujur, secara simbolis Tuhan mendemonstrasikan metodenya di dalam Zakharia pasal empat, oleh mana Ia mengkomunikasikan kebenaran kepada umat-Nya. Gambar berikut ini adalah sebuah objek yang tepat mengenai apa yang telah diperlihatkan kepada nabi itu.
Di sini terlihat bahwa kaki pelita itu sebagaimana diinterpretasikan oleh Wahyu 1 : 20 adalah melambangkan keanggotaan sidang; pembuluh-pembuluh itu yang menghubungi mangkok keemasan dengan kaki-kaki pelita adalah melambangkan pihak pendeta (Testimonies to Ministers, p. 188); pohon-pohon zait itu melambangkan Alkitab Wasiat Lama dan Wasiat Baru (The Great Controversy, p. 267); dan kedua pipa keemasan yang membawa minyak keemasan dari pohon-pohon itu ke mangkok, adalah melambangkan para penginterpretasi Alkitab, yaitu utusan-utusan dari Allah yang diilhami, karena lambang itu secara tak bergerak menunjukkan bahwa hanya merekalah yang dimungkinkan oleh Ilham untuk menarik minyak dari pohon-pohon zait itu — yaitu menginterpretasikan Firman. Dan mangkok, yaitu tempat penampung dari apa yang dimasukkan oleh pipa-pipa (para penginterpretasi) kedalamnya, hanya dapat merupakan tulisan-tulisan Roh Nubuat.


Sebagai suatu urutan yang perlu dan alamiah dengan sendirinya, Allah akan memiliki hanya seorang jurubicara untuk mengajar umat-Nya dalam mendirikan Kerajaan-Nya, sesuai yang diceritakan-Nya kepada kita secara nubuatan dalam bahasa yang tepat : “Maka Aku akan menetapkan atas mereka itu seorang gembala, maka ia akan memberi makan mereka, yaitu hamba-Ku Daud; ia akan memberi makan mereka, dan ia akan menjadi gembala mereka itu. Maka Aku Tuhan akan menjadi Allah mereka, dan hamba-Ku Daud akan menjadi seorang penghulu di antara mereka; Akulah Tuhan yang telah membicarakannya. Maka Aku hendak membuat dengan mereka itu sebuah janji perdamaian, dan akan menghentikan binatang-binatang jahat dari tanah itu; maka mereka akan tinggal dengan sentausa di padang belantara dan tidur di hutan-hutan. Maka Aku akan membuat mereka dan tempat-tempat sekeliling bukit-Ku suatu berkat; dan Aku akan menurunkan hujan lebat pada musimnya; maka akan ada curahan berkat yang lebat.” Yeheskiel 34 : 23 – 26. “Suara Tuhan berseru-seru kepada negeri itu, maka orang bijaksana akan menyaksikan namamu : dengarlah olehmu akan Tongkat, dan Dia yang telah menetapkannya.” “Berilah makan orang-orangmu dengan Tongkatmu, yaitu kawanan domba pusakamu itu, yang tinggal terpencil di hutan, di tengah-tengah Carmel; biarkanlah mereka makan di Bashan dan Gilead, seperti di zaman dahulu. Sesuai dengan hari-hari keluarmu dari tanah Mesir Aku akan menunjukkan kepadanya perkara-perkara yang ajaib.” Mikha 6 : 9; 7 : 14, 15.
Bagi pekabaran di dalam Tongkat Gembala itu kita hanya mengucapkan hormat kepada Dia yang pemiliknya. Dan sekiranya ada seseorang yang ingin kehormatan itu diberikan kepada diri kita sendiri, maka diperbuatnya itu bukan karena mereka mencintai kita atau ingin meninggikan kita di atas mereka, melainkan jelas karena mereka secara tidak sadar sedang mendengungkan suara yang dari bawah, yang membenci Allah dan wahyu dari FirmanNya, dan yang senantiasa berbicara hanya untuk menggoda manusia untuk meninggikan diri sendiri sebagai pengganti Allah, sehingga secara buta menyesatkan dirinya sendiri dan menyelewengkan orang-orang lain dari kebenaran, kesemuanya disebabkan karena mereka terluka, karena membawa diri mereka ke bawah pemerintahan Kristus di waktu ini sewaktu “Ia sedang memegang pemerintahan di dalam tangan-Nya sendiri.” — Testimonies to Ministers, p. 300.
Hendaklah orang-orang yang tidak mau sepenuhnya tunduk kepada Ilham, menanyakan sendiri pada dirinya apakah yang mereka ingin terlaksana sekiranya mereka hidup di bawah Musa dan tongkatnya itu. la mengakui dirinya sendiri sebagai jurubicara Allah sama seperti yang diperbuat oleh Tongkat masa kini. Sebagai akibatnya, bukankah pemberontak-pemberontak ini telah bangkit bersama-sama dengan Korah melawan Musa dan Harun, sama seperti yang sedang mereka lakukan sekarang melawan Tongkat itu, dengan mengatakan : “Anda terlalu banyak mengambil bagi dirimu, karena seluruh perhimpunan itu adalah suci, setiap orangnya, dan Tuhan ada di tengah-tengah mereka, maka mengapakah anda mengangkat dirimu sendiri melebihi perhimpunan Tuhan?” Bilangan 16 : 3.
Jika mereka yang sedemikian ini tidak rela dengan sepenuh hati untuk menyambut sebuah pekabaran masa kini yang diilhami, maka maukah mereka menyambut pekabaran dari Pembaptis itu, dari Kristus, atau dari rasul-rasul? Tentu saja tidak, tanpa memandang profesi mereka. Dan jika mereka tidak mau menyerahkan dirinya kepada Ilham, maka bagaimanakah dapat mereka mengenal kebenaran? Dan bagaimanakah dapat mereka kelak masuk ke dalam Kerajaan itu? Karena Alkitab mengatakan:
“Sesungguhnya Tuhan Allah tidak mau berbuat apa-apa, terkecuali diungkapkan-Nya rahasia-Nya kepada hamba-hamba-Nya para nabi.” Oleh seorang nabi Tuhan telah menghantarkan Israel keluar dari Mesir, dan oleh seorang nabi ia telah dipelihara.” “Percayalah pada Tuhan Allahmu, dengan begitu engkau kelak diteguhkan: percayalah akan nabi-nabi-Nya, dengan begitu engkau kelak berbahagia.” Amos 3 : 7; Hosea 12 : 13 ; 2 Tawarikh 20 : 20.
“Maka Aku akan membuat lidahmu melekat pada langit-langit mulutmu, sehingga engkau kelak menjadi bisu, dan tidak akan bisa menjadi seorang penegor terhadap mereka itu, karena mereka adalah sebuah rumah durhaka. Tetapi apabila Aku berbicara dengan kamu, Aku akan membuka mulutmu, dan kamu akan mengatakan kepada mereka itu. Demikianlah firman Tuhan Allah; barangsiapa yang mendengar, hendaklah ia mendengar; dan barangsiapa yang membiarkan, biarlah ia membiarkan, karena mereka adalah sebuah rumah durhaka.” Yeheskiel 3 : 26, 27.
Adalah pendapat-pendapat dari orang-orang yang tidak diilhami yang telah memotong sidang Kristen menjadi potongan-potongan dari berbagai jenis dan ukuran-ukuran, dan telah membuatnya menjadi sebuah “tempat tinggal setan-setan, dan tempat bertahan setiap roh jahat, dan sebuah kandang dari setiap burung yang haram dan dibenci” (Wahyu 18 : 2), gantinya membuatnya menjadi sebuah tempat kebenaran dan tempat penyelamatan, dan suatu tempat kediaman umat kesucian.
Hendaklah semua orang yang ikut dalam perasaan-perasaan si penanya di atas diam sejenak dan merenungkan pertanyaan berikut ini : Bagaimanakah mungkin sesuatu pekabaran yang tidak diilhami berasal dari Allah — merupakan kebenaran — pantas untuk disambut? Jelaslah, bahwa celaan terhadap pengakuan Ilham dari seseorang dari pekabarannya, dan kecurigaan karena terdapat di dalamnya sesuatu kekeliruan kecil, bukanlah dianjurkan oleh DIA yang mengatakan : “Janganlah memadamkan Roh itu. Janganlah meremehkan nubuatan-nubuatan. Buktikanlah segala perkara, peganglah teguh mana yang baik.” 1 Tesalonika 5 : 19 – 21.
“Sebagaimana belum pernah sebelumnya, kita harus berdoa bukan hanya agar para pekerja dapat dikirim ke dalam ladang penuaian yang luas, melainkan agar supaya kita dapat memiliki suatu konsepsi kebenaran yang jelas, supaya apabila utusan-utusan kebenaran itu kelak tiba, maka kita dapat menyambut pekabaran itu dan menghargai utusan itu.” — Testimonies, vol. 6, p. 420.
Di zaman Kristus, orang-orang yang meragukan Ilham membantah para utusan berikut pekabaran-pekabaran mereka bagi zaman itu. Di satu pihak mereka menemukan kesalahan pada Yahya Pembaptis karena makanannya terdiri dari madu liar dan tanaman-tanaman lokust (Matius 4 : 4). Sebab ia “datang tanpa makan maupun minum, ….. mereka mengatakan, Ia kemasukan iblis.” Matius 11 : 18. Di lain pihak, karena Kristus “datang makan dan minum”, maka mereka menuduh-Nya sebagai “seorang yang gelojoh, dan peminum anggur, teman dari masyarakat umum dan orang-orang berdosa.” Matius 11 : 19. Sambil menyangkal bahwa Ia telah diutus oleh Allah, maka dengan mengejek mereka bertanya kepada-Nya : “Oleh kuasa apakah Engkau melakukan segala perkara ini? Atau siapakah Dia yang telah memberikan kepada-Mu kekuasaan ini?” Lukas 20 : 2.
Dan kini terhadap sidang-Nya di akhir zaman ini Roh-Nya menyatakan : “Nubuatan harus digenapi. Tuhan berfirman : ‘Tengoklah, Aku akan mengutus kepadamu Eliyah nabi itu dahulu daripada datang hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu.’ Seseorang akan datang dalam roh dan kuasa Eliyah, dan apabila ia muncul, orang-orang akan mengatakan : ‘Anda terlalu bersungguh-sungguh, anda tidak menginterpretasikan Firman itu dalam cara yang sepatutnya. Marilah kukatakan kepadamu bagaimana untuk mengajarkan pekabaranmu itu’.” — Testimonies to Ministers, p. 475.
Terhadap mereka yang ragu-ragu terhadap kemungkinan sesuatu pekabaran berisikan tidak lain daripada kebenaran, datang amarannya sebagai berikut : “Allah dan Setan tidak pernah bekerja saling membantu. Kesaksian-kesaksian itu membawa stempel pengesahan Allah atau stempel pengesahan dari Setan, hanya antara dua. Suatu pohon yang baik tidak mungkin mengeluarkan buah yang jelek …..” — Testimonies, vol. 5, p, 98. Mereka yang ragu-ragu terhadap Ilham itu mengatakan : “Kami percaya akan khayal-khayal itu, tetapi sister White dalam menuliskannya memasukkan kata-katanya sendiri, maka kami hendak percaya hanya kepada bagian itu yang pada hemat kami berasal dari Allah, dan kami tidak mau memperhatikan yang lainnya.” — Testimonies, vol. 1, p. 234.
“Kemudian kata-Nya kepada mereka, hai orang bodoh dan yang lamban hati untuk mempercayai semua yang telah dibicarakan oleh para nabi.” Lukas 24 : 25. “Dan jika seseorang kelak mengeluarkan dari perkataan-perkataan nubuatan ini, maka Allah akan mengeluarkan bagiannya dari kitab kehidupan, dan dari kota suci itu, dan dari segala perkara yang tertulis di dalam kitab ini.” Wahyu 22 : 19.
Sambil secara simbolis mengamanatkan kepada umat-Nya sebagai domba-domba dan gembala-gembala di dalam Yeheskiel pasal tiga puluh empat, maka Tuhan bertanya : “Apakah itu hanya persoalan kecil bagimu untuk memakan habis dari padang rumput yang baik, tetapi kamu harus menginjak-injak di bawah kakimu sisa-sisa dari padang rumputmu itu? Dan untuk minum dari air-air yang dalam, tetapi kamu harus mengotorkan sisanya dengan kakimu?” Apakah mereka benar-benar menganggap biasa untuk menyambut hanya sebagian dari kebenaran yang di kirim-Nya kepada mereka, lalu menginjak-injak yang sisanya itu di bawah kakinya? Kemudian la menambahkan : “Karena bagi kawanan domba-Ku, mereka itu memakan apa yang telah kamu injak-injak di bawah kakimu; dan mereka meminum apa yang telah kamu kotorkan dengan kakimu.” Dan karena sebab mereka yang menyambut hanya bagian pekabaran itu yang cocok dengan selera-seleranya yang tidak berubah itu, yang tidak menegor segala kemauan hati mereka yang salah, maka Tuhan mengamarkan : “Aku akan mengadili di antara ternak dengan ternak.”
Diantara umat Allah selalu ada terdapat suatu kelas orang-orang yang suka mempertanyakan dan suka mengeritik apa saja dalam “pengungkapan kebenaran.” — Testimonies, vol. 5, p. 690. Mereka mengatakan : “Kami menyambut ini dan itu, tetapi kami tidak mau menerima yang lainnya.” Kebanyakan dari mereka menganggapnya sebagai suatu kecerdasan yang tinggi apabila mempertanyakan dan mengeritik, untuk menguji pekabaran itu yang telah dikirim Allah kepada mereka. Jiwa-jiwa yang suka mementingkan diri sendiri ini adalah sedemikian bodoh dan sedemikian buta terhadap kebodohannya sehingga sungguhpun lebih dari lima puluh abad tragedi manusia secara mengerikan menegor dan mengamarkan kejahatan mereka dan jalan kebinasaan jiwanya, namun mereka tetap tuli terhadap seruan itu dan tetap buta terhadap jalannya. Dan yang lebih berbahaya lagi, keragu-raguan dan kritikan-kritikan mereka itu telah mencerai-beraikan jiwa-jiwa yang lemah dari Kristus, dengan akibat bahwa Allah mengucapkan hukumannya : “Karena sebab kamu telah mendorong-dorong dengan lambungmu dan dengan bahumu, dan mendesak semua yang sakit-sakitan itu dengan tanduk-tandukmu, sampai kamu menceraiberaikan mereka keluar; maka sebab itu Aku hendak menyelamatkan kawanan domba-Ku, dan mereka tidak akan lagi menjadi mangsa; dan Aku akan mengadili di antara ternak dengan ternak.” Yeheskiel 34 : 21, 22.
Oleh sebab itu, waspadalah, bahwa “sebagaimana murid-murid menyatakan bahwa tidak ada lagi penyelamatan di dalam nama lain di bawah langit, yang telah dikaruniakan di antara manusia, maka demikian itu pula hamba-hamba Allah harus dengan setia dan gagah berani mengamarkan kepada mereka yang memeluk hanya sebagian kebenaran-kebenaran yang berkaitan dengan pekabaran yang ketiga, bahwa mereka harus dengan gembira menyambut semua pekabaran sebagaimana yang telah diberikan Allah kepada mereka, atau tidak memperoleh bagian apapun dalam masalah itu.” — Early Writings, pp. 188, 189.
“’Setan memiliki kemampuan untuk menganjurkan keragu-raguan dan untuk menciptakan sanggahan-sanggahan terhadap kesaksian yang tegas yang dikirim Allah, dan banyak orang menganggapnya sebagai suatu keuntungan, suatu tanda kecerdasan di dalam mereka untuk menjadi tidak percaya, dan untuk mempertanyakan dan memperdebatkan. Orang-orang yang suka meragukan akan mendapat banyak kesempatan untuk ragu. Allah tidak merencanakan untuk menyingkirkan segala kesempatan untuk tidak percaya, la memberikan bukti, yang harus diselidiki dengan pikiran yang rendah dan dengan roh suka belajar; maka semua orang harus mengambil keputusan dari bobotnya kenyataan.’ ‘Allah memberikan cukup bukti bagi pikiran yang jujur untuk percaya, namun orang yang beralih dari kenyataan yang berbobot karena sebab adanya sejumlah kecil persoalan yang ia tidak dapat menjelaskan bagi pikirannya yang terbatas, ia akan dibiarkan dalam suasana ketidak-percayaan dan keragu-raguan yang dingin dan mencekam, dan yang akan menghancurkan iman’.” — Testimonies, vol. 5, pp. 675, 676.
Tidak seorang pun berani membandingkan hak-hak istimewanya dengan hak-hak-Nya Yesus, namun Yesus percaya semua tulisan para nabi, maka orang-orang yang menganggap dirinya terlalu pandai, dan menganggapnya terlalu hina untuk mempercayai semua, Yesus menyebutnya “orang-orang bodoh.” Lukas 24 : 25. Mereka telah membuat dirinya tidak mampu untuk memahami semua kenyataan ini di waktu ini sama seperti halnya orang-orang Yahudi telah membuat diri mereka tidak mampu untuk memahami ajaran-ajaran Yesus tentang “kerajaan” di waktu itu.
Setiap zaman telah memiliki rombongan besar orang-orangnya, yang gantinya dibaptis untuk mengikuti Kristus dan kebenaran-Nya, mereka ternyata telah dibaptis untuk mengikuti manusia. Mereka menggabungkan diri dengan orang banyak di dalam gereja dan bukannya dengan orang banyak yang di dalam sorga. Akibatnya, Kristus adalah merupakan seorang asing bagi mereka, dan apabila kebenaran mengungkapkannya, maka mereka menyebutkannya salah, lalu mengikuti manusia dan menolak kebenaran itu. Kebodohan ini telah diulangi berulang-ulang dengan akibat bahwa sejumlah kecil orang-orang yang setia yang telah mengikuti Kristus dan kebenaran-Nya, telah dipecat keluar dari gereja-gereja dan terpaksa memulai lagi segala-galanya dari semula. Demikianlah halnya di waktu ini. Namun bagi orang-orang yang terbuang dari Sion ini, datanglah suara penghiburan : “Dengarlah olehmu firman Tuhan, hai kamu yang gentar karena firman-Nya. Saudara-saudara-mu yang membenci kamu itu, yang memecat kamu keluar karena demi nama-Ku, sekalipun mereka mengatakan, Hendaklah Tuhan dimuliakan, namun la akan kelihatan bagi kesukaan kamu, dan mereka akan malu.” Yesaya 66 : 5. “Betapa indahnya di atas gunung-gunung kaki-kaki dari DIA yang membawakan kabar-kabar baik, yang memberitakan damai, yang membawakan kabar-kabar baik tentang yang baik, yang memberitakan penyelamatan, yang mengatakan kepada Sion, Allah-Mu memerintah!” Yesaya 52 : 7.
“Percayalah pada Tuhan Allahmu, dengan begitu engkau akan diteguhkan; percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dengan begitu engkau akan berbahagia.” 2 Tawarikh 20 : 20.
268 total, 2 views today


