<< Go Back
MENGAPA PERLU PEMBANGUNAN DAN REFORMASI?
Pertanyaan No. 2 :
Jika sidang adalah objek kesayangan Allah di atas bumi (Testimonies to Ministers, p, 20) dan jika la sedang memimpinnya, maka mengapakah diperlukan “suatu pembangunan dan suatu reformasi”?
Jawab :
Karena memang sidang adalah objek kesayangan Allah di bumi, maka la seringkali harus menasehatkan, menegor, dan merotaninya sedemikian rupa untuk membuatnya tetap mempertahankan panji-panji yang telah diberikan-Nya baginya. Dan, walaupun sejarahnya hanya merupakan suatu catatan panjang yang menyedihkan mengenai berdosa dan bertobat, berdosa dan bertobat, namun Tuhan telah menahan hati terhadapnya dalam kesabaran yang tak terhingga dan panjang sabar kasih Ilahi yang begitu indah dilukiskan dalam perumpamaan mengenai anak yang terhilang. Dan akhirnya dalam kasih yang tak tergambarkan ini, la “telah menyerahkan diri-Nya sendiri” (Galati 1 : 4) baginya di dalam pribadi Putera satu-satu-Nya itu. Tetapi meskipun adanya korban yang maha besar ini ia belum pernah sepenuhnya menghargai kasih-Nya yang tidak pernah layu itu terhadap dirinya. Bahkan kini, Juruselamat dengan sedih menyatakan bahwa la agak menentangnya, dan menasehatkan kepadanya dengan kata-kata keras untuk bertobat dan duduk bersama-sama dengan-Nya di dalam tahta-Nya (Wahyu 3 : 14 – 21), sambil memperjelaskan nasib yang tak terelakkan dari pada semua orang yang lalai mematuhi nasehat-Nya (ayat 16). Namun, secara tragis ia tidak mematuhinya, maka sebab itu la “menyampaikan kepada para pendeta dan umat tuduhan berat terhadap kelemahan kerohanian mereka, dengan mengatakan : ‘Aku tahu segala perbuatanmu, bahwa engkau adalah dingin tidak panas pun tidak : Aku ingin engkau dingin atau panas.”’ — Christ Our Righteusness, 1941 Edition, p. 121.
Demikianlah Allah, dalam kasih-Nya yang tak terhingga, yang memperhatikan semuanya bagi sidang-Nya, menyerukan suatu pembangunan rohani dan suatu reformasi rohani. Jika ini tidak dilaksanakan, maka orang-orang yang suam itu akan terus bertumbuh makin menjijikan di hadapan Tuhan, sehingga la akan menolak mengakui mereka sebagai anak-anak-Nya.
“‘Suatu pembangunan dan suatu reformasi harus dilaksanakan di bawah pengendalian Roh Suci. Pembangunan dan reformasi adalah dua perkara yang berbeda. Pembangunan berarti suatu pembaharuan kembali kehidupan rohani, suatu kebangkitan daripada kemampuan-kemampuan pikiran dan hati, suatu kebangkitan dari pada mati rohani. Reformasi berarti suatu reorganisasi, suatu perubahan dalam pendapat-pendapat dan teori-teori, kebiasaan-kebiasaan dan perbuatan-perbuatan. Reformasi tidak akan menghasilkan buah kebenaran yang baik jika tidak ia itu dikaitkan dengan pembangunan dari pada Roh. Pembangunan dan reformasi akan melaksanakan tugasnya yang telah ditentukan, maka dalam melaksanakan tugas ini keduanya harus bergabung.”’ — lbid, p. 121.
Dalam pernyataan-pernyataan yang diilhami ini, ada tiga fakta yang menonjol : (1) Allah mengirim panggilan yang nyaring ini pertama-tama kepada para pendeta, baru kemudian kepada para anggota ; (2) la memberikan pernyataan yang pasti, bahwa la akan meludahkan keluar dari mulut-Nya semua orang yang lalai mematuhi seruan panggilan itu, dan masuk ke dalam suatu “pembangunan rohani dan suatu reformasi rohani” ; dan (3) la menjelaskan, bahwa pergerakan yang sedemikian ini berarti “suatu reorganisasi, suatu perubahan dalam pendapat-pendapat dan teori-teori, kebiasaan-kebiasaan dan perbuatan-perbuatan.” Jadi jelaslah, bahwa sidang harus menjalani suatu perubahan tiga-kali sebelum ia dapat terlihat “indah bagaikan bulan, cerah bagaikan matahari, dan hebat menakutkan bagaikan suatu bala tentara dengan panji-panjinya,” yang “masuk ke seluruh dunia dengan kemenangan dan untuk memenangkan.” — Prophets and Kings, 725.
Allah akan memerintah di dalam sidang-Nya di waktu ini seperti yang diperbuat-Nya di zaman Musa dahulu : “Pemerintahan Israel diketahui cirinya oleh pengorganisasian yang sangat menyeluruh, yang sama menakjubkan karena kelengkapannya dan kesederhanaannya. Tata-tertib yang sedemikian tepat terlihat dalam penyempurnaan dan pengaturan semua pekerjaan ciptaan Allah adalah dimanifestasikan dalam perekonomian bangsa Iberani itu. Allah adalah pusat dari pada kekuasaan dan pemerintahan, yaitu kedaulatan Israel. Musa berdiri sebagai pemimpin mereka yang dapat dilihat, oleh penunjukkan Allah, untuk mengelola hukum-hukum atas nama-Nya. Dari para tua-tua suku-suku bangsa itu sebuah majelis yang terdiri dari tujuh puluh orang kemudian telah dipilih untuk membantu Musa dalam urusan-urusan umum bangsa itu. Selanjutnya datang imam-imam, yang meminta petunjuk Tuhan di dalam kaabah. Para panglima, atau para penghulu, memerintah atas suku-suku bangsa itu. Di bawah mereka inilah terdapat para perwira yang berkuasa atas masing-masing seribu orang, dan para perwira atas seratusan orang, dan para perwira atas lima puluhan orang, dan para perwira atas sepuluhan orang; dan yang terakhir sekali, para pegawai yang dapat dipekerjakan bagi tugas-tugas khusus.” — Patriarchs and Prophets, p. 374.
Jika “prinsip-prinsip kejujuran dan keadilan yang sama itu yang mengendalikan para pemimpin di antara umat Allah di zaman Musa dan Daud dahulu juga diikuti oleh orang-orang yang telah diberikan kuasa pengawasan atas sidang Allah yang baru diorganisir dalam sejarah injil” (Acts of the Apostles, p. 95), dan jika orang tidak mungkin dapat memperbaiki peraturan pemerintahan Allah, maka mengapakah kita tidak meniru saja peraturan itu? Sebab itulah perlu adanya “suatu pembangunan dan suatu reformasi.”
Sebagai orang-orang yang mengembalikan setiap lembaga Ilahi, kami dengan senang hati mengumumkan kepada para pembaca Kebenaran Sekarang, bahwa di samping buku-buku mengenai “pembangunan,” mereka dapat juga sekarang memperoleh buku mengenai “reformasi,” sebagai terbitan organisasi kami, yang berjudul : Keimmamatan dari Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh.
***
257 total, 1 views today


