Apakah perwujudan dari pada Ilham itu ?
<< Go Back


APAKAH PERWUJUDAN DARI PADA ILHAM ITU?

 

 

Pertanyaan No. 3    :

Apakah artinya Interpretasi sendiri? Dalam cara bagaimanakah seseorang diilhami? Dan melalui siapakah Ilham bekerja?

Jawab :

“Seluruh kitab suci adalah dikaruniakan oleh llham Allah, dan adalah bermanfaat sebagai doktrin, sebagai tegoran, sebagai pembetulan, sebagai petunjuk dalam kebenaran; supaya hamba Allah itu sempurna, selengkapnya dipersiapkan bagi segala pekerjaan yang baik.” 2 Timotius 3 : 16, 17.

“Ketahuilah dahulu ini, bahwa tidak ada satupun nubuatan Alkitab berasal dari sesuatu hasil interpretasi sendiri. Karena nubuatan tidak datang di zaman dahulu oleh kehendak manusia ; melainkan hamba-hamba Allah yang suci yang mengucapkannya sementara mereka digerakkan oleh Rohulkudus.” 2 Petrus 1 : 20, 21.

Secara tegas dikatakan, bahwa seluruh kitab suci (bukan hanya sebagiannya) adalah diilhami. Secara negatif dikatakan, bahwa tidak satupun dari Alkitab itu adalah hasil dari interpretasi sendiri, karena alasannya Alkitab itu bukan datang dari manusia, melainkan dari Allah. Dan Alkitab itu dapat diinterpretasikan hanya oleh orang-orang sesuai dan apabila Roh Allah memutuskan. Sesuai dengan itu, maka setiap catatan Alkitab yang terkecil sekalipun berikut interpretasinya adalah berasal dari Ilham, sehingga dengan demikian seluruhnya bermanfaat untuk mengendalikan hamba Allah sesuai doktrin, untuk menegor dan untuk memperbaiki dia, dan untuk memberi petunjuk kepadanya dalam kebenaran, sampai mencapai kesempurnaan iman dan perbuatan.

Oleh sebab itu marilah kita berjanji kepada Tuhan, bahwa mulai dari sekarang dan seterusnya kita tidak akan mau menerima ataupun memajukan setiap hasil interpretasi sendiri Alkitab sebagai kebenaran yang diungkapkan. Dan untuk tetap secara sadar tidak melanggar janji yang penting ini kepada Tuhan, maka tentunya kita harus pertama sekali mengerti akan

Wujud Dari Pada Ilham Itu

Dalam pengertian Alkitabnya, IIham itu telah didefinisikan sebagai “suatu pengaruh ilahi yang langsung dan cepat yang bekerja pada pikiran atau jiwa manusia” (The New Century Dictionary) ; dengan perkataan lain, Ilham itu adalah suatu pekerjaan dari Roh Allah yang istimewa. Oleh sebab itu, maka Ilham dalam berbagai manifestasinya, terpampang dalam pelaksanaan, bukan oleh kerjanya pikiran sendiri, melainkan oleh kuasa Roh. Namun, untuk mendapatkan suatu pengertian yang tepat mengenai proses ini, orang harus melihatnya dalam kenyataan sejarah, yang bekerja di tengah-tengah umat manusia semenjak dari permulaan kejadian dunia.

Dalam peta-Nya sendiri Allah telah menciptakan Adam, lalu mengaruniakan kepadanya kedaulatan “kerajaan atas ikan di laut, dan atas unggas di udara, dan atas ternak, dan atas seluruh bumi, dan atas setiap barang melata yang merayap di bumi.” Kejadian 1 : 26.

Sesuai dengan itu, maka sebagaimana la membuat Adam menjadi raja dari kerajaan bumi yang pertama, dan semua mahluk hidup sebagai warganya, maka kemampuan alamiah Adam untuk memerintah mereka itu dan kepatuhan alamiah mereka kepadanya, menunjukkan bahwa semua kejadian, baik manusia maupun binatang, baik burung-burung maupun binatang-binatang melata, sekaliannya telah dipengaruh atau diisi secara ilahi – diilhami. Sebab itu sewaktu Adam memeriksa seluruh binatang ciptaan pada waktu sekaliannya itu berjalan melewatinya, maka ia tidak lagi membuang waktu menyelidiki keadaan alami mahluk-mahluk itu untuk mengenalinya, melainkan langsung saja diberikannya kepada setiap jenis namanya masing-masing ; mereka juga kemudian segera mengakuinya sebagai raja mereka — tunduk kepadanya. Inteligensia yang Maha Tinggi ini (seperti yang sedemikian ini diberikan di dalam Matius 10 : 19) jelas menunjukkan bahwa semua ciptaan telah dipengaruhi oleh sesuatu kuasa yang melebihi dan melampaui kekuasaannya sendiri. Tegasnya, bahwa baik pengertian Adam maupun pengertian binatang-binatang itu telah datang oleh Ilham.

Dengan sendirinya, Ilham itu tidak terbatas pada manifestasi-manifestasinya kepada manusia saja. Dan sejarah Alkitab mengungkapkan bahwa ia itupun tidak terbatas pada khayal-khayal (Daniel 7 : 2), atau mimpi-mimpi (Kejadian 28 : 12), atau komunikasi yang tidak langsung (Keluaran 40 : 35 ; 28 : 30), atau pembicaraan muka dengan muka yang langsung (Kejadian 18 : 2) dengan mahluk-mahluk ilahi, atau kepada sesuatu bentuk penampilan lain. Melainkan ia itu datang “dalam berbagai cara.” Demikian halnya, Allah “pada berulang kali ……… berbicara di zaman dahulu kepada nenek moyang kita.” Iberani 1 : 1.

Kebenaran yang mendasar ini, barangkali lebih baik dijelaskan dalam pekerjaan Nuh, khususnya dalam puncak pekerjaan itu, sewaktu kecerdasan khusus diberikan kepada anggota-anggota pilihan dari binatang-binatang ciptaan sehingga dari jauh-jauh maupun dekat mereka dapat menemukan jalannya sampai masuk ke dalam bahtera dan dapat memelihara kedamaian satu dengan yang lainnya. (Baca Kejadian 7 : 1 – 4).

Tetapi setelah luput dari air bah itu, maka semua keturunan dari keluarga Nuh langsung lupa akan pelajaran yang tak ternilai itu. Demikianlah telah jadi, bahwa orang-orang sesudah air bah itu telah bertekad untuk percaya bahwa tak dapat tiada akan ada lagi suatu bencana air bah yang kedua, sama seperti halnya orang-orang sebelum air bah percaya bahwa tidak mungkin ada sesuatu air bah. Demikianlah ketidak-percayaan kepada ilham yang diperoleh Nuh itu seperti yang diucapkan sesudah air bah, demikian itu pula yang telah diucapkan sebelumnya, yang akibatnya, bahwa dalam usaha untuk mencapai kesentausaan hidup manusia telah mencoba membangun tugu Babil, bangunan pencakar langit dunia yang pertama dan monumen yang mula-mula itu dengan kebodohan usaha-usaha manusia yang begitu boros untuk menghimpun keselamatannya sendiri tanpa bantuan Ilham Ilahi. Sikap dari para pendiri tugu yang memalukan ini terhadap janji Tuhan melalui Nuh, sedemikian rupa telah membangkitkan amarah-Nya sehingga la telah menghapuskan dari ingatan mereka bahasa yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka melalui Adam, dan sebagai gantinya mereka telah dillhami dengan semua bahasa-bahasa dunia yang bermacam-macam itu, sehingga akibatnya para pendiri tugu itu telah menjadi kacau di antara sesama mereka dan tidak lagi dapat meneruskan bangunan itu. (Kejadian 11 : 7 – 9).

Dalam peristiwa yang luar biasa ini yang sedemikian itu telah mengubah secara radikal perjalanan masyarakat manusia, kita melihat sesuatu bentuk Ilham yang lain yang mengungkapkan bahwa sementara seseorang atau sekelompok orang mungkin dengan sengaja bekerja tidak sejalan dengan Allah, maka la dapat mengaruniakan karunia-Nya juga pada mereka, untuk mengacaukan rencana-rencana jahat mereka sendiri (Kejadian 11 : 1 – 9) sambil mempromosikan rencana kekal-Nya sambil memperoleh pujian bagi nama-Nya (Mazmur 76 : 10).

Suatu contoh lain dari manifestasi yang mentakjubkan ini terlihat dalam pertentangan mengenai rencana jahatnya Biliam. Tuhan sedemikian rupa telah mengendalikan lidah Biliam sehingga walaupun pikirannya cenderung untuk mengutuk Israel, ia hanya dapat mengucapkan berkat-berkat (Bilangan 22, 23, 24).

Hendaklah “teladan-teladan” ini menjadi kenangan kita selalu, bahwa setiap orang yang berusaha bekerja menentang kehendak Tuhan yang sudah diungkapkan akan berakhir dengan kegagalan dan malu.

Pada zaman kemudian sesudah air bah Tuhan telah kelihatan dan mengatakan kepada Ibrahim : “Kepada benihmu Aku akan mengaruniakan tanah ini.” Kejadian 12 : 7. Maka beberapa tahun kemudian “tiga orang laki-Iaki telah berdiri disampingnya,” dan salah seorang dari mereka itu mengatakan kepadanya : “Sarah isterimu akan melahirkan seorang anak laki-laki.” Kejadian 18 : 2, 10. Demikianlah melalui perantara Ilahi, dalam beberapa hal yang berbeda dari apa yang telah mengendalikan Adam dan Nuh, Ibrahim telah dibuat (diilhami) mengerti akan apa yang berlaku di masa depan baginya dan bagi keturunannya.

Kemudian juga, terjadi di masa sewaktu Biliam (yang pada peristiwa Raja Balak, ia dalam perjalanan ke Moab) memukul keledainya yang setia, yang karenanya keledai itu telah memperoleh karunia berbicara, lalu mengatakan kepada tuannya yang kasar itu : “Apakah yang telah ku perbuat bagimu, sehingga engkau memukul aku sedemikian ini tiga kali?” Bilangan 22 : 28. Binatang yang bisu itu, sebagai kita saksikan, telah dibuat (diilhami) berbicara oleh KUASA yang telah menciptakannya. Sebab itu, sesungguhnya adalah baik bagi setiap orang untuk memperhatikan apa yang dikatakan Tuhan lalu melakukannya tanpa menghiraukan bagaimana, kapan, atau melalui siapa la berfirman atau melakukannya.

Kembali, bertahun-tahun sebelum Israel pergi masuk ke Mesir, maka Allah dalam kekuasaan-Nya (Kejadian 45 : 5) telah mempengaruhi Jakub untuk membuat sebuah baju dengan bermacam-macan warna bagi anak bungsunya Jusuf. Hal yang tampaknya memilih kasih ini, bersama-sama dengan mimpinya Jusuf berikut interpretasi dari ayahnya terhadap mimpi itu (Kejadian 37 : 10), telah membangkitkan kebencian saudara-saudaranya yang iri hati itu untuk menjualnya sebagai budak, untuk dibawa ke Mesir supaya menghalangi dia menduduki kedudukan dan pengaruh mereka. Tetapi di sana di Mesir Tuhan dalam waktu pilihan-Nya sendiri telah mengangkat dia menduduki tahta kedua dari kerajaan itu, kemudian Tuhan menghantarkan tahun-tahun kelimpahan itu, juga tahun-tahun kelaparan itu, sebagai sarana untuk memindahkan seluruh isi rumah Jakub ke Mesir.

Dalam usaha jerih payah mereka untuk menghindari diri dari Yusuf supaya tidak diperintah olehnya, maka saudara-saudaranya hanya berhasil (oleh membangunkan kekuasaan Takdir yang senantiasa awas itu) dalam meninggikannya pada tahta administrasi Mesir, dan dalam menghantarkan diri mereka sendiri tunduk kepadanya. Di sinilah terbukti jelas, bahwa orang yang mencoba menggagalkan rencana-rencana Allah akan hanya berhasil menggagalkan rencana-rencananya sendiri dan meninggikan rencana-rencana Allah.

Sewaktu, sebagai seorang pelarian dari Mesir, Musa menunggui kawanan ternak mertuanya di Midian, “malaikat Tuhan telah kelihatan kepadanya dalam sebuah nyala api dari tengah-tengah sebuah belukar : dan tampak olehnya, dan, bahwasanya belukar itu terbakar dengan api, tetapi tidak hangus.” Keluaran 3 : 2. Oleh manifestasi ini Musa telah diilhami untuk membebaskan Israel dari perhambaan Mesir mereka yang berat itu. Dan kemudian sebagai pemimpin orang-orang Iberani selama empat puluh tahun pengembaraan mereka di padang belantara itu, ia berbicara dengan Tuhan muka dengan muka (Keluaran 34 : 30 – 35), lalu pergi dengan wajahnya bersinar-sinar secara Ilahi. Dengan demikian pengalamannya adalah ganjil dibandingkan dengan orang-orang yang ada di depannya.

Phiraun dan Nebukhadnezar memperoleh mimpi-mimpi. Jusuf dan Daniel yang menginterpretasikannya (Kejadian 40 : 8 – 12 ; 41 : 25 – 38 ; Daniel 2 : 28 ; 4 : 20, 24). Nabi Daniel, Yahya pewahyu, dan hamba-hamba Allah yang suci lainnya memperoleh khayal-khayal. Masing-masing adalah penerima Ilham yang khusus dalam bentuk yang berbeda, dan sesuai dengan tingkat yang lebih besar atau lebih kurang.

Dari semua contoh-contoh ini dan banyak lagi yang lainnya dapat kita saksikan bahwa Ilham bekerja dalam berbagai cara mujizat-mujizat-Nya untuk memperlihatkan. Melalui manusia maupun melalui binatang, pada kenyataannya melalui semua mahluk, pekerjaan-Nya terlihat dalam banyak bentuk. Sebagian orang mendengar-Nya dalam bunyi suara, baik melalui perantara-perantara yang terlihat (Keluaran 34 : 30 – 35) maupun melalui perantara-perantara yang tidak terlihat (Keluaran 3 : 2).

Orang-orang lainnya telah menyaksikan-Nya melalui kesan-kesan yang pasti, mimpi-mimpi, khayal-khayal, berbagai takdir, karunia-karunia bicara yang luar biasa dan cepat.

Oleh sebab itu, maka perhatikanlah dengan sungguh-sungguh akan setiap manifestasi yang bersifat luar biasa di dalam sidang Allah, tanpa mempedulikan sumbernya, apakah itu bersifat manusiawi atau kasar, kecil atau besar, hitam atau putih, kaya ataupun miskin. Janganlah ragu-ragu membandingkan pekerjaannya dengan Alkitab, maka jika ia itu sesuai dengan sekaliannya, jika ia menemukan landasannya dan ramalannya di sana, membuat orang setia mematuhi Torat dan nabi-nabi, dan menambahkan terang kepada kebenaran yang ada, maka sambutlah dia betapapun harganya dalam uang, harta, kedudukan, teman-teman dan saudara-saudara, karena itulah kehidupanmu yang sebenarnya. Orang yang mau membuktikan dengan jujur dalam tanggung jawab ini akan menerima seratus kali bagi pengorbanan yang timbul olehnya untuk mematuhi suara Tuhan dengan benar (Matius 19 : 29).

Tetapi untuk menjadi benar, lalu dengan demikian menyelamatkan diri sendiri dari dosa yang tak dapat diampuni lagi itu, orang harus senantiasa waspada. Dan ini dapat ia lakukan hanya oleh menyelidiki dengan penuh doa akan roh yang mengaku datang dalam nama Tuhan. Kelalaian berbuat demikian ini, ia akan berdiri dalam bahaya besar menolak himbauan Rohul kudus (Ilham), dan dengan demikian secara acuh tak acuh mengesampingkan hidupnya yang sebenarnya.

“Bilamana sesuatu pekabaran datang dalam nama Tuhan kepada umat-Nya.” demikian kata Roh Kebenaran, “maka tak seorangpun dapat dimaafkan dirinya untuk tidak melakukan penyelidikan terhadap semua tuntutan dari pekabaran itu. Tidak seorangpun dapat berdiri membelakangi dengan sikap acuh dan percaya diri sendiri, sambil mengatakan : ‘Aku tahu apa artinya kebenaran. Aku puas dengan pendirianku. Aku sudah berdiri teguh, maka aku tidak mau lagi goyah dari pendirianku apapun juga yang datang. Aku tidak mau mendengar kepada pekabaran yang dibawa oleh utusan ini, karena aku tahu bahwa itu tidak mungkin kebenaran.’ Adalah karena mengikuti jalan yang sedemikian inilah, maka gereja-gereja yang terkenal itu telah ketinggalan dalam kegelapan sebagian, dan itulah sebabnya pekabaran-pekabaran dari sorga tidak berhasil mencapai mereka.” — Testimonies on Sabbath School Work, p. 65; Counsels on Sabbath School Work, p. 28.

IIham sangat memperjelaskan, bahwa utusan Tuhan tidak akan berani dalam cara apapun membicarakan wahyu sesuai kehendaknya sendiri (Wahyu 22 : 18 – 20) meskipun seringkali berkesempatan untuk membicarakannya dengan kata-katanya sendiri. Jika diuji dengan ukuran yang sama ini, maka tidak seorangpun akan berani mencampur adukkan dengan pekerjaan penulis yang diilhami. Akibat yang masuk akal  ini dengan sendirinya menyimpulkan, bahwa apabila sesuatu hal di dalam tulisan-tulisan seseorang belum jelas, maka hanya penulis itulah yang harus diminta keterangannya mengenai hal itu, sekiranya ia masih hidup. Jika tidak, maka hanya Roh Ilham yang sama itu, Penulis tulisan-tulisan itu yang asli, yang dapat menjelaskan apapun juga yang terkandung di dalamnya. Memang, sebagaimana dikatakan Ilham : “Jika sesuatu pekabaran datang yang belum dapat engkau mengerti, maka usahakanlah agar engkau dapat mendengar alasan-alasan yang dapat diberikan oleh jurukabarnya, membandingkan injil dengan injil, sampai dapat engkau mengerti apakah benar ia itu ditunjang oleh Firman Allah.” — Testimonies on Sabbath-School Work, pp. 65, 66 ; Counsels on Sabbath-School Work, p. 29.

Bukanlah merupakan prosedur yang aman dan pantas untuk menanyakan kepada penentang dari tulisan seseorang untuk menjelaskan setiap bagian tulisan itu. Seorang anggota partai Demokrat tidak akan mau menanyakan kepada seorang anggota partai Republik untuk menjelaskan kepadanya landasan dari pada partai Demokratnya, ataupun sebaliknya, jika sekiranya masing-masing ingin mengetahui kebenaran. Ingatlah, bahwa karena Hawa percaya pada hasil interpretasi Musuh terhadap Firman Tuhan (sesuatu perbuatan yang telah membawa keduanya dia dan Adam kepada pelanggaran dan kejatuhan mereka, dan kepada akibat pembuangan mereka keluar dari Eden), maka inilah yang telah mendatangkan kutuk dosa dan kematian atas seluruh kejadian di bumi. Sebaliknya, adalah lebih baik bagi kita sekarang menggunakan balok perintang tua ini menjadi batu loncatan ke Kerajaan itu dari pada menghindarinya untuk masuk ke dalam lobang.

Ingatlah juga, bahwa praktik membanding-bandingkan ucapan-ucapan yang dilepaskan dari isi konteks tulisan pada dasarnya adalah tidak jujur, dan kini telah menimbulkan kekacauan-kekacauan dan penggunaan-penggunaan kebenaran secara tidak pada tempatnya, sama seperti halnya pertikaian yang sengaja dilakukan dalam tantangan Setan melawan Kristus : “Jika Engkau benar Anak Allah, buangkanlah diri-Mu ke bawah, karena ada tertulis, bahwa la akan memberikan malaikat-malaikat-Nya mengawasi Engkau, dan di dalam tangan merekalah mereka akan memikul Engkau, supaya tidak pada sesuatu saat terantuk kaki-Mu pada batu.” Matius 4 : 6.

Dari hal-hal yang sedemikian jauh telah dikemukakan, cukup kita saksikan dengan jelas, bahwa hasil-hasil akhir dari pada Ilham itu jatuh dalam dua kategori — yaitu Ilham dalam kata-kata atau Ilham dalam pendapat-pendapat. Gambarannya secara terperinci sebagai berikut : seseorang malaikat muncul dan mengatakan kepada seseorang : “Tuhan pada sesuatu saat yang sedemikian ini dan sedemikian ini akan berbuat demikian dan demikian kepada umat-Nya. Sampaikanlah kepada mereka pekabaran ini, dan tunjukkanlah itu kepada mereka dari Alkitab yang benar, karena nabi-nabi telah membicarakannya di dalamnya di zaman dahulu.” Pekabaran malaikat itu harus disampaikan dengan setia sesuai pendapat itu ; walaupun jelas pilihan kata-kata, yang menyimpang dari kutipan-kutipan itu perlu diserahkan kepada juru-kabar itu sendiri. Akibatnya, setiap saat ia melihat kemungkinan untuk membuat pendapat yang diilhami itu menonjol dengan lebih jelas dan lebih berkuasa, juru-kabar itu berada di bawah kewajiban moral yang dalam untuk selalu memperbaiki bahasanya. Hanya dengan demikian aliran pendapat yang diilhami itu dapat menjadi makin maju, makin jelas dan indah.

Selanjutnya, ada beberapa hal dalam kaitannya dengan aspek-aspek tertentu dari setiap pekabaran yang memerlukan penjelasan. Tetapi, penjelasan yang sedemikian ini tidak dapat lebih luas dari pada terang yang bercahaya pada waktu itu. Dan terang itu dapat datang hanya dari dalam pekabaran itu sendiri, atau, kembali, ia itu dapat keluar dari suatu pengertian yang terbatas yang biasa untuk saat “pada waktu itu” — yaitu suatu pengertian yang dibagikan oleh juru-kabar itu sendiri.

Suatu hal yang sedemikian ini terdapat dengan Yahya Pembaptis. Telah diilhami untuk hanya menyatakan kedatangan Raja itu, namun Yahya telah ditantang dengan pertanyaan mengenai pendirian kerajaan itu. la telah menjawab sejalan dengan pengertian biasa yang ia miliki sama seperti pengertian yang dimiliki orang banyak itu dari hal kerajaan — bahwa apabila Raja itu datang la pasti akan mendirikan kerajaan-Nya lalu dengan demikian membebaskan umat-Nya dari belenggu Romawi. Tetapi setelah pada akhirnya Kristus muncul, la menjelaskan bahwa saat bagi pendirian kerajaan itu, dan bagi belenggu Romawi untuk disingkirkan dari pikulan umat-Nya belum lagi datang. Maka orang-orang yang benar-benar “bijaksana” tidak merisaukan ajaran-ajaran yang pincang ini, melainkan dengan gembira menyambut kebenaran itu dalam bentuk perkembangannya, lalu keluar dengan makin naik dan terus naik pegangan-pegangan kerohaniannya, sedangkan orang-orang yang terantuk pada perbedaan ini ada yang menyangkal Yahya sebagai nabi palsu lalu menyambut Yesus sebagai Kristus, atau menyambut Yahya sebagai nabi yang benar dan menolak Jesus sebagai seorang Kristus palsu, lalu dengan sendirinya jatuh makin jauh ke belakang dan ke bawah sampai mereka kemudian tidak lagi menjadi pengikut-pengikut Kristus ataupun Yahya.

Semua cara dari Ilham adalah tetap sama di masa lalu, hari ini, mau pun besok. Oleh sebab itu, maka pertanyaan-pertanyaan yang berkenan dengan kebenaran yang diungkapkan harus dijawab dalam cara yang sama di waktu ini seperti halnya di zaman Yahya. Dan dengan demikianlah sekarang seperti halnya di masa lalu orang-orang yang suka mengeritik, yang tidak mau percaya, dan yang ragu-ragu akan menemukan banyak cantolan untuk menggantungkan keragu-raguan mereka. Tetapi sama halnya sekarang seperti di masa lalu orang-orang yang suka ragu-ragu itu akan terbawa dalam kepintarannya sendiri.

Lagi pula, Ilham selalu menghantarkan para utusan Allah ke dalam keserasian yang sempurna, tidak pernah ke dalam perpecahan. Kebenaran yang utama ini terlihat dilukiskan dengan menarik sekali dalam pengalaman rasul Petrus, seorang Yahudi, dengan Cornelius Perwira tentara Romawi itu, seorang yang bukan Yahudi. Tuhan tahu bahwa Petrus tidak pernah akan mau menerima seorang Kapir, dan bahwa Cornelius tidak akan pernah mau menghadapkan dirinya sendiri kepada seorang Yahudi. Oleh sebab itu keduanya telah diberikan suatu khayal yang memerintahkan kepada mereka apa yang harus dilakukan. (Lihat Kisah Rasul-Rasul 10). Maka karena mematuhi khayal samawi itu untuk mana keduanya sama-sama menaruh hormat, maka tanpa kesulitan apapun keduanya telah memasuki kesepakatan bersama.

Kemudian terdapat pengalaman yang menakjubkan dari Paulus. Sementara ia terlibat dalam pekerjaan tidak suci menganiaya orang-orang Kristen, maka Tuhan telah mendatanginya pada perjalanannya menuju ke Damaskus, mengubah dia, dan mengaruniakan kepadanya petunjuk-petunjuk untuk bagaimana berbicara dengan Ananias. Tetapi karena mengetahui bahwa Ananias, yang mengenal Paulus hanya sebagai seorang penganiaya umat percaya, tidak akan pernah mau menerima Paulus oleh pengakuannya sendiri tentang pertobatan dan persahabatan, maka Tuhan mengaruniakan kepada Ananias suatu khayal yang sama, yang mengungkapkan kepadanya tentang pertobatan Paulus. Dan dengan demikian ini pula, maka mereka sebagaimana halnya Petrus dan Cornelius sebelumnya, tidak lagi menolak mematuhi khayal samawi mereka itu. (Kisah Rasul-Rasul 26 : 19).

Di zaman Musa, beberapa orang telah bangkit sambil mengaku bahwa Tuhan sedang berbicara melalui mereka sama seperti halnya melalui Musa (Bilangan 16 : 2, 3). Tetapi agitasi mereka itu gantinya membawa ketertiban dan kesesuaian di antara mereka sendiri dengan Musa, justru telah mendatangkan kekacauan dan perpecahan, dengan akibat yang tragis yaitu beribu-ribu orang kehilangan nyawa mereka (Bilangan 16 : 32, 35, 49). Kalau sekiranya Tuhan telah berbicara kepada mereka itu, maka la tentunya sudah akan memberitahukan hal itu kepada Musa. Tetapi karena tidak adanya sesuatu wahyu yang sedemikian ini, maka jelaslah kepada Musa bahwa Tuhan tidak menghargai Korah, Dathan, dan Abiram, seperti yang dinyatakan mereka, melainkan sebaliknya bahwa mereka itu sebagai pemberontak-pemberontak dan pengacau-pengacau yang iri hati yang meninggikan dirinya sendiri. Sekiranya Musa sebagai seorang hamba Allah telah tunduk kepada tuntutan-tuntutan mereka itu, maka ia pasti sudah akan mendapat sebagian pembalasan yang sedemikian seperti halnya “hamba Allah” yang telah dibujuk oleh “nabi yang tua” untuk keluar dari perjalanan itu dan supaya makan roti bersama-sama dengannya, sewaktu Tuhan melarangnya berbuat sedemikian itu, ia telah dibunuh oleh seekor singa. Alangkah pentingnya pelajaran ini! Janganlah mematuhi suara-suara manusia yang bertentangan dengan suara Allah. (Bacalah 1 Raja-Raja 13).

Selanjutnya, orang-orang yang dilantik Tuhan pernah segan membawa dirinya ke depan. Walaupun Daud, sebagai contoh, telah diurapi oleh Samuel untuk menjadi raja atas Israel, ia tidak pernah mencoba untuk merebut tahta itu. Sebagai kenyataan, ia bahkan tidak banyak memperkenalkan pengangkatannya. Dan kemudian pada saat resiko mati di tangan Saul, ia bahkan telah melindunginya. Dalam semua kesatriaan yang mulia ini Daud telah memperlihatkan kasih, rendah diri, lemah lembut dan kebenaran yang lahir (diilhami) dari Roh Allah. Kesabarannya adalah tenang, ramah tamah, tahan yang datang bersama-sama dengan keyakinan yang pasti bahwa Allah tetap mengawasi. Karena yakin bahwa Tuhan telah memilihnya menjadi raja, maka ia dengan senang hati menunggu sampai Tuhan sendiri menganggap pantas untuk menaikkannya ke atas tahta.

Dari semuanya ini dan masih banyak lagi contoh yang lain, dapatlah kita saksikan bahwa Allah bukan saja tidak pernah mendelegasikan seseorang agen untuk mengubah, mendudukkan kembali, atau memberi perintah yang bertentangan dengan pekabaran yang telah diberikan kepada agen yang lain, tanpa terlebih dulu diberitahukan-Nya hal itu kepada keduanya, melainkan juga bahwa la tidak pernah menghargai dengan mengangkat orang-orang yang berusaha meninggikan dan membesarkan diri sendiri, tetapi bahwa la meninggikan pada saatnya orang-orang yang merendahkan diri di bawah tangan kekuasaan-Nya (1 Petrus 5 : 6).

Sebagai akibat logis dari pada tahap-tahap yang dibicarakan sebelumnya mengenai masalah Ilham, adalah perlu diketahui bahwa semua orang yang bertobat Ialu berserah kepada Tuhan adalah orang-orang yang menerima penerangan Ilahi. Karena tidak seorangpun terkecuali Roh Suci saja yang dapat meyakinkan orang akan Kebenaran, membuat dia mengakui segala dosanya, membawa dia kepada pertobatan, dan memberi kuasa kepadanya untuk mampu mematuhi hukum-hukum Allah, peraturan-peraturan-Nya dan ketentuan-ketentuan perintah-Nya. Manusia sendiri tidak lagi mampu melakukan perubahan ini, sama seperti halnya harimau kumbang tidak lagi mampu merubah bintik-bintiknya.

“Jika engkau melihat akan keadaanmu yang berdosa, maka jangan lagi menunggu untuk membuat dirimu menjadi lebih baik. Betapa banyak orang yang mengira mereka belum cukup baik untuk datang kepada Kristus. Adakah anda berharap untuk menjadi lebih baik melalui perantaraan usaha-usahamu sendiri? ‘Dapatkah orang Ethiopia mengubah kulitnya, atau harimau kumbang mengubah bintik-bintiknya? maka engkaupun dapat berbuat baik, yaitu engkau yang telah terbiasa berbuat jahat.’ Terdapat bantuan bagi kita hanya dalam Allah. Janganlah kita menunggu mengharapkan himbauan-himbauan yang lebih keras, mengharapkan kesempatan-kesempatan yang lebih baik, atau suasana-suasana yang lebih suci. Kita tidak dapat berbuat apa-apa oleh diri kita sendiri. Kita harus datang kepada Kristus sebagaimana adanya kita.” — Steps to Christ, pp. 35, 36.

“Anda tidak mungkin dapat menebus dosa-dosamu yang lalu, anda tidak mungkin dapat merubah hatimu, lalu membuat dirimu menjadi suci. Tetapi Allah berjanji untuk melakukan semuanya ini bagimu melalui Kristus. Percayalah olehmu akan janji itu. Akuilah olehmu akan dosa-dosamu, dan serahkanlah dirimu kepada Allah. Anda mau berbakti kepada-Nya. Segera anda melakukan hal ini, maka Allah akan menggenapi janjiNya kepadamu. Jika anda percaya akan janji itu, — percaya bahwa anda akan diampuni dan dibersihkan, — Allah akan memberikan buktinya; anda akan disembuhkan, sama seperti halnya Kristus memberikan kekuatan kepada orang lumpuh itu untuk berjalan pada waktu ia yakin bahwa ia telah sembuh. Adalah demikian itu jika anda percaya,” — Sda., p. 55.

Demikianlah setiap pengikut Kristus yang benar itu diilhami dalam bagiannya sendiri-sendiri — seorang untuk menginterpretasikan, yang lainnya untuk menyelidiki yang lain lagi untuk mengajar, dan yang lain lagi untuk melihat, dan sekaliannya untuk bertindak dan untuk berkorban bagi kepentingan-Nya.

Demikianlah juga setiap orang Kristen yang benar dibuat mampu secara ilahi untuk menderita atau untuk bergembira. Oleh sebab itu, apapun juga yang menimpanya, apakah itu penderitaan atau kesusahan, atau kebahagiaan dan kegembiraan, anak Allah yang penuh harap itu hanya akan menagih kepada Tuhan dan tidak kepada seorangpun yang lain untuk bagiannya. Maka ingatlah bahwa “cobaan-cobaan yang kamu alami itu ialah cobaan-cobaan biasa, karena Allah adalah setia, tidak dibiarkan-Nya engkau dicobai melebihi kemampuanmu; melainkan dengan cobaan itu juga akan diberikan jalan untuk keluar, supaya engkau mampu memikulnya.” 1 Korinthi 10 : 13.

“Bahwasanya, Dia yang memeliharakan Israel itu tidak akan mengantuk ataupun tidur. Tuhan adalah penjagamu; Tuhan adalah penudungmu pada sebelah kananmu. Matahari tidak akan memalumu pada siang hari, atau pun bulan pada malam hari. Tuhan akan memeliharakan dikau daripada semua yang jahat, la akan melindungi jiwamu. Tuhan akan memeliharakan kepergianmu dan kedatanganmu dari sekarang dan seterusnya, dan bahkan sampai selama-lamanya.” Mazmur 121 : 4 – 8.

Oleh sebab itu janganlah kamu menjadi orang-orang yang bersungut-sungut seperti halnya orang-orang yang “meremehkan tanah yang permai itu,” dan “yang tidak percaya pada FirmanNya; melainkan bersungut-sungut di dalam” perkemahan-perkemahan mereka, dan tidak mematuhi suara Tuhan. Oleh sebab itu la mengangkat tangan-Nya menentang mereka itu, untuk meruntuhkan mereka itu di padang belantara.” Mazmur 106 : 24 – 26.

Tetapi jadilah seperti rasul yang setia itu : “Ku katakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupi diri dalam segala keadaan. Aku tahu bagaimana berkekurangan, dan aku tahu bagaimana berkelimpahan. Di mana saja dan dalam segala perkara aku diberi petunjuk baik untuk menjadi kenyang dan untuk menjadi lapar, baik untuk berkelimpahan maupun untuk menderita kekurangan. Aku dapat berbuat segala perkara melalui Kristus yang menguatkan daku.” Pilipi 4 : 11 – 13.

Tetapi sementara di sana mengalir keluar dari mangkok keemasan (Zakharia 4 : 2) Ilham itu yang memungkinkan seseorang untuk menjadi seorang Kristen yang benar, maka di sana mengalir juga keluar dari kancah neraka ilham yang bertentangan itu yang bekerja membuat orang menjadi Kristen yang palsu. Yang satu menyelamatkan yang lainnya membinasakan. Karena perlu sebanyak-banyaknya seperti juga kita untuk sepenuhnya insyaf dan memperhatikan yang satu itu, yang Ilahi itu, maka pada saat yang sama kita juga memiliki keperluan yang sama untuk sepenuhnya sadar terhadap

Ilham Setan

Secara tragis kuasa Setan ini tanpa kecuali sepanjang berabad-abad lamanya telah berhasil secara menyolok di antara para pemimpin gereja. Tanpa diketahui mereka semua sepanjang perjalanan telah diperdaya mengikuti rencana-rencana dan usaha-usaha Setan untuk meruntuhkan (model baru) pekerjaan penting yang disangkanya untuk mendirikan.

Pada kedatangan Kristus yang pertama para pemimpin gereja adalah sedemikian rupa diilhami oleh roh Setan, sehingga seperti yang diungkapkan oleh sejarah gereja, mereka berkali-kali bertindak seperti iblis, seperti orang-orang yang kehilangan kesadarannya. Karena diri mereka tidak dapat ditembusi hujan Kebenaran seperti yang jatuh pada waktu itu, maka para imam, ahli-ahli torat dan orang-orang Parisi dengan sendirinya diisi dengan semangat untuk menghalangi orang banyak itu daripada derasnya hujan Kebenaran. Demikianlah halnya sehingga mereka melakukan apa saja yang mungkin untuk seolah-olah memasang payung di atas kepala orang banyak itu supaya satu tetesan pun siraman hujan awal yang menyelamatkan itu dapat dicegah dari mereka. Akibatnya, walaupun butir-butir Kebenaran jatuh di sekeliling mereka yang belum pernah ada sebelumnya, mereka tetap saja puas dalam kekeringan di bawah payung anti Kebenaran milik para imam itu.

Adalah dalam jam-jam sejarah manusia yang gelap ini, maka Kebenaran dan kekeliruan, terang dan kegelapan, kebebasan dan perhambaan tergabung bersama-sama dalam apa yang barangkali merupakan pertikaian terbesar dari segala zaman. Sampai kepada hari Pantekosta itu hanya 120 orang dari antara berjuta-juta orang yang hidup di waktu itu berhasil diselamatkan dari kekurangan rohani di seluruh tanah itu. Dan sesudah mereka dibaptiskan dengan Roh kudus dan diisi dengan kuasa pada hari Pantekosta barulah mereka mampu membantu orang-orang yang berhaus lainnya untuk keluar dari lingkaran Setan itu.

Setelah kalah dalam usaha ini untuk memadamkan Kebenaran untuk selama-lamanya, maka Setan secepatnya memperbaharui kembali usaha-usahanya. Datanglah Zaman Kegelapan, maka ia kembali terlihat mengilhami berbagai permusuhan menentang Kebenaran dan para penganutnya. Dengan melepaskan semua setan-setannya dalam segala kebencian mereka terhadap sidang, maka ia mendatangkan “kesusahan yang besar itu, yang sedemikian itu belum ada semenjak dari permulaan dunia sampai kepada saat itu, tidak, bahkan juga tidak pernah akan ada.” Dan sekiranya hari-hari itu tidak diperpendek, maka sudah tidak akan ada lagi seorang manusia pun yang hidup, “tetapi demi karena umat pilihan itu hari-hari itu” telah diperpendek (Matius 24 : 21, 22) oleh Reformasi. Sesuai dengan itulah, maka hanya campur tangan Ilahi yang telah menghalangi dia mendiamkan suara Reformasi itu dan memecah belahkan kuasanya. Demikianlah hal itu yang selalu terjadi, di waktu ini, dan akan jadi sampai kepada akhirnya yang menyedihkan.

Sebagai akibatnya, meskipun semua terang kini bercahaya, namun orang banyak secara bodoh terus pergi sambil berlindung di bawah tudungan Setan, sambil pada saat yang sama membantu menarik dan menahan rombongan orang banyak yang lainnya ke bawah tudungan yang sama dengan mereka. Meskipun demikian

Janji Allah Tetap Berdiri

“Pasanglah telinga, hai kamu segala langit, maka Aku hendak berbicara ; dan dengarlah, hai bumi, akan kata-kata dari mulutKu. Ajaran-Ku akan jatuh bagaikan hujan, bicara-Ku akan menetes bagaikan embun, bagaikan hujan kecil jatuh menimpa tanaman biji-bijian yang lunak, dan bagaikan hujan deras yang menimpa rerumputan.” Ulangan 32 : 1, 2.

“Hai anak-anak Sion, bergembiralah, dan bersuka-sukalah dalam Tuhan Allahmu, sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan awal secukupnya, dan la akan menurunkan kepadamu hujan itu, yaitu hujan awal dan hujan akhir dalam bulan yang pertama. Maka segala lantai akan penuh dengan gandum, dan segala apitan akan tumpah dengan air anggur dan minyak ………. Maka akan jadi kemudian kelak, bahwa Aku akan menuangkan Roh-Ku atas semua manusia ; maka anak-anakmu laki-Iaki dan anak-anakmu perempuan akan bernubuat, orang-orangmu yang tua akan memimpikan berbagai mimpi, orang-orang mudamu akan melihat khayal-khayal ; dan juga di atas para hamba laki-laki dan para hamba perempuan pada masa itu Aku akan menuangkan Roh-Ku.” Yoel 2 : 23, 24, 28, 29.

“Pada masa itu orang timpang akan melompat seperti rusa, dan lidah orang bisu akan menyanyi ; karena di padang belantara air-air akan muncul keluar, dan sungai-sungai mengalir di gurun. Maka tanah pasir yang hangat akan menjadi sebuah kolam, dan tanah-tanah yang gersang akan muncul keluar air ; di tempat kediaman ular-ular naga; di mana masing-masingnya berbaring, akan terdapat rumput dengan tebu dan pandan.” Yesaya 35 : 6, 7.

Meskipun Setan berusaha untuk menutupi seluruh bumi dengan peralatan anti Kebenarannya, “di akhir zaman akan jadi kelak, bahwa gunung rumah Tuhan akan diperdirikan di atas puncak gunung-gunung, maka ia itu akan ditinggikan di atas segala bukit; maka orang-orang akan mengalir datang ke dalamnya”. Maka banyak bangsa akan datang, sambil mengatakan, Datanglah, dan marilah kita naik ke gunung Tuhan itu, dan ke rumah Allah Yakub; maka la akan mengajarkan kita segala jalan-Nya, dan kita akan berjalan di dalam lorong-IorangNya; karena hukum akan terbit dari Sion, dan firman Tuhan dari Yerusalem.

“Maka la akan mengadili di antara orang banyak, dan menegor bangsa-bangsa besar yang jauh-jauh; maka mereka akan menempa segala pedangnya menjadi alat-alat pembajak, dan tombak-tombak mereka menjadi sabit; bangsa tidak lagi mengangkat pedang melawan bangsa lainnya, mereka tidak lagi belajar perang-perangan. Melainkan mereka akan duduk masing-masingnya di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya ; maka tidak seorangpun lagi yang akan membuat mereka itu takut ; karena mulut Tuhan serwa sekalian alam telah mengucapkannya. Karena semua orang akan berjalan masing-masing orang dalam nama dewanya dan kita akan berjalan dalam nama Tuhan Allah kita untuk selama-lamanya.” Mikha 4 : 1 – 5.

 

 266 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart