<< Go Back
APAKAH KATA ROH KEPADA
LAODIKEA?
Pertanyaan No. 5 :
Bukankah Laodikea dalam kesuamannya berada dalam suatu kesempurnaan kondisi yang berbahaya yang ditentang oleh rasul Paulus dalam amarannya sewaktu ia mengatakan : ‘Hendaklah orang yang menyangka dirinya berdiri supaya perhatikan agar jangan sampai ia jatuh’?
Jawab :
Sejarah Alkitab berulang kali berisikan pelajaran yang menyedihkan bahwa apabila sesuatu umat berjalan salah seperti yang diperbuat Israel di zaman Eliyah dan kemudian di zaman Kristus, maka mereka tidak lagi sadar akan kesalahan mereka. Ulangan yang sama halnya ialah pelajaran yang lebih menyedihkan lagi bahwa orang-orang yang sedemikian itu seringkali menyalahartikan usaha-usaha Allah untuk membawa mereka kepada kesadaran akan kekeliruan-kekeliruannya. Sebab itu sekali mereka menyeleweng dari pada ajaran-ajaran para nabi, lalu terpikat oleh kepemimpinan manusia baru yang lebih menarik, maka usaha untuk membebaskan maupun untuk memperbaiki mereka hampir-hampir tidak mungkin lagi. (Baca Prophets and Kings, pp. 121 – 126).
Dalam berbagai jalan, kelemahan yang berbahaya yang menjadi sifat dari pada setiap Pergerakan, semenjak dari Pergerakan Israel sampai kepada Pergerakan Laodikea, adalah dalam “meletakkan kembali landasan pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang mati.” Iberani 6 : 1. Dan apa yang lebih mendasar lagi, dan yang lebih mendesak kepada sasaran, ialah bahwa setiap Pergerakan sama-sama gagal untuk maju dari pekabaran yang satu kepada pekabaran berikutnya, dan untuk terus maju untuk mencapai tujuan akhirnya dari pada hasil-hasil yang sukar dimengerti dalam pengetahuan ilahi. Malahan, masing-masing jatuh dari semua ketinggian pengalaman kekayaannya sendiri yang mula-mula, yaitu turun sampai mencapai kemelaratan rohani, karena ia gagal mengatur langkahnya mengikuti Kebenaran itu. Setiap Pergerakan panggilan Ilahi secara tiba-tiba berhenti gerak majunya setelah ia dengan gembira memuaskan dirinya bahwa ia masih dalam langkah-langkahnya yang suci menuju ke Gunung Kesempurnaan, bahwa ia sedang “berkembang, dan bahwa damai dan kesejahteraan rohani” terdapat “pada semua perbatasan (nya)” (Testimonies, vol. 5, p. 217), padahal kenyataannya sangat bertentangan dengan kebenaran. Demikian pula yang diikuti oleh Laodikea, yang menyangka dirinya semua benar, padahal dia sama sekali keliru.
Belum pernah dalam sejarah kekejaman dari dunia yang dibanjiri dosa ini terdapat sedemikian besarnya bahaya dan sedemikian besarnya kebutuhan yang telah menantang sidang. Dalam keseluruhan bahaya yang meliputi ini, “apakah yang dikatakan Allah tentang umat-Nya? — ‘Tetapi inilah umat yang dirampok dan dijarahi ; mereka sekaliannya terjerat di dalam lobang-lobang, dan mereka adalah tersembunyi di dalam rumah-rumah penjara ; mereka adalah menjadi mangsa, dan tidak seorangpun yang luput ; mereka menjadi barang rampasan, dan tidak seorangpun yang mengatakan, Kembalikan.’ (Lihat juga Yesaya pasal 43). Inilah nubuatan-nubuatan yang akan digenapi.” — Testimonies to Ministers, p. 96.
“Kesesatan yang lebih besar apakah yang dapat datang menimpa pikiran manusia dari pada keyakinan bahwa mereka adalah benar, padahal mereka adalah salah sama sekali!” — Testimonies, Vol. 3, pp. 252, 253.
Kembali, ada tertulis di dalam Amzal Solaiman 29 : 18, “Dimana tidak ada sama sekali khayal, maka binasalah umat.” (Terjemahan yang lebih tepat).
Di sini dalam suatu lukisan yang lebih luas terdapat gambaran mengenai suatu umat yang benar-benar kehilangan “khayal” mereka (bimbingan luar biasa yang diperoleh dari suara yang hidup dari orang yang memperoleh karunia nubuatan dari antara mereka), tetapi tidak mereka menyadarinya. Lebih mengherankan lagi, bahwa mereka secara nyata-nyata telah memperkenalkan hasil-hasil ciptaannya sendiri (berhala-berhala) sebagai pengganti perkara-perkara Allah. Ini telah dilakukannya sedemikian rupa secara perlahan-lahan sehingga mereka agaknya seolah-olah tidak menyadarinya, bahwa banyak orang tidak lagi memanfaatkan bagi dirinya buku-buku Roh Nubuat — yaitu “salp mata” mereka yang sebenarnya itu. Maka di mana orang-orang lainnya menawarkan buku-buku yang berisi khayal ini ke sekeliling mereka, maka mereka membiarkannya tanpa dibaca atau tanpa diperhatikan dan karena itulah “tidak disukai.” — Testimonies, vol. 5, p. 217. Demikianlah keadaan ini melebihi yang lainnya, sehingga mereka telah menjadi buta — tidak lagi mengharapkan kebenaran ungkapan apapun yang berikutnya untuk memberikan kuasa dan tekanan bagi pekabaran mereka (Early Writings, p. 277). Namun demikian mereka masih tetap menyombongkan dirinya, bahwa mereka berada di dalam Iingkungan kasih sayang Allah.
“Pekabaran dari Saksi Yang Benar itu menemui umat Allah dalam suatu kesesatan yang menyedihkan, namun mereka jujur dalam kesesatan itu. Mereka tidak mengetahui bahwa keadaan mereka adalah menyedihkan sekali dalam pemandangan Allah. Sementara orang-orang yang ditegor itu menyombongkan dirinya bahwa mereka sedang berada dalam kondisi kerohanian yang tinggi, maka pekabaran Saksi Yang Benar itu memecahkan kesentausaan mereka dengan tuduhan yang mengejutkan tentang keadaan mereka yang sesungguhnya, yaitu buta rohani, melarat rohani, dan tidak terkasihan. Kesaksian yang sedemikian tajam dan keras itu tidak mungkin salah, karena adalah Saksi Yang Benar itu sendiri yang berbicara, maka kesaksian-Nya tak dapat tiada harus benar.” — Testimonies, vol. 3, 253.
Sekiranya proses berpikir orang-orang Laodikea itu bukan dalam keadaan terdesak memerlukan suatu perbaikan kembali dan orientasi kembali yang lengkap, maka mereka tidak mungkin akan “berpikir bahwa mereka adalah semuanya benar padahal mereka seluruhnya keliru,” berpikir bahwa mereka adalah “kaya” padahal pada kenyataannya mereka sama sekali “miskin” — melarat kebenaran dan keadilan.
Sesuai dengan itu, maka tak ada lagi yang lain terkecuali sebuah pekabaran dengan “penyembuhan di dalam sayap-sayapnya” yang akan dapat menyembuhkan pikiran Laodikea itu dari penyakit rohaninya. Dalam jam krisis sidang sekarang ini “orang-orang yang malu-malu dan yang kurang percaya diri sendiri akan menyatakan dirinya secara resmi bagi Kristus dan kebenaranNya. Orang-orang yang terlemah dan ragu-ragu di dalam sidang akan jadi seperti Daud — rela berbuat dan berani.” — Testimonies, vol. 5, p. 81. Sebab apa? — Karena mereka memperoleh janji bahwa “akan terdapat sebuah mata air yang terbuka bagi isi rumah Daud dan bagi segala penduduk Yerusalem untuk pembersihan dosa dan kecemaran.
“Maka akan jadi kelak pada hari itu, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam, bahwa Aku akan menghapuskan nama-nama dewa-dewa dari tanah itu, sehingga sekaliannya itu tidak lagi akan diingat, dan lagi segala nabi dan roh-roh yang najis akan Ku lalukan dari tanah itu.” Zakharia 13 : 1, 2.
“Karena pada hari itu setiap orang akan membuang berhala-berhalanya ………. yang oleh tanganmu sendiri telah dibuat bagimu untuk sesuatu dosa. ………. Berbaliklah kamu kepada-Nya dari Siapa bani Israel telah mendurhaka dengan hebatnya.” Yesaya 31 : 7, 6.
“Pada hari itu Tuhan akan melindungi semua penduduk Yerusalem ; maka orang yang lemah di antara mereka itu pada hari itu akan jadi seperti Daud ; dan rumah Daud akan jadi seperti Allah, seperti malaikat Tuhan di hadapan mereka itu.” Zakharia 12 : 8.
Suara Roh melalui Yesaya juga kini sedang berseru-seru dengan nyaring : “Bangunlah, bangunlah, kenakanlah kuatmu, hai Sion ; kenakanlah pakaian-pakaianmu yang indah-indah, hai Yerusalem, kota suci ; karena mulai dari sekarang ini tidak akan lagi masuk ke dalammu orang-orang yang tidak bersunat dan yang najis itu ………… Betapa indahnya di atas gunung-gunung kaki-kaki DIA yang membawakan kabar-kabar baik, yang memberitakan damai ; yang membawakan kabar-kabar baik, yang memberitakan selamat, yang mengatakan kepada Sion, bahwa Allah-mu memerintah!” Yesaya 52 : 1, 7.
Suara yang sama itu melalui Nahum juga mengimbau : “Tengoklah di atas gunung-gunung kaki-kaki dia yang membawakan kabar-kabar baik itu, yang memberitakan damai! Hai Yehuda, laksanakanlah pesta-pesta perayaanmu, lakukanlah janji-janji nazarmu ; karena orang-orang jahat tidak akan lagi berjalan lalu melewatimu, ia telah ditumpas habis.” Nahum 1 : 15.
Tetapi dalam seluruh sejarahnya sidang secara keseluruhan belum pernah menyambut sesuatu pekabaran dari sorga. Oleh sebab itulah panggilan itu datang kepada masing-masing anggota secara pribadi. Masing-masing harus memutuskan bagi dirinya sendiri. Janganlah seorangpun membiarkan dirinya dipengaruhi oleh orang lain. Dan “tidak seorangpun berhak menutup terang itu dari pada orang banyak. Apabila sesuatu pekabaran datang dalam nama Tuhan kepada umat-Nya tidak seorangpun dapat memaafkan dirinya untuk tidak melakukan sesuatu penyelidikan terhadap tuntutan-tuntutan yang terkandung di dalam pekabaran itu ……… Adalah karena mengikuti jalan yang sedemikian ini maka gereja-gereja yang terkenal telah tertinggal dalam sebagian kegelapan, dan itulah sebabnya pekabaran-pekabaran dari sorga itu tidak berhasil mencapai mereka.” — Testimonies on Sabbath School Work, p. 65 ; Counsels on Sabbath School Work, p. 28.
“Tetapi kita saksikan bahwa Allah dari sorga seringkali menugaskan orang-orang untuk mengajarkan apa yang dianggap sebagai bertentangan dengan ajaran-ajaran yang sudah ada. Karena orang-orang itu yang pernah menjadi penyimpan-penyimpan Kebenaran telah menyeleweng dari kepercayaan yang diberikan kepada mereka, maka Tuhan memilih orang-orang lain yang mau menerima sinar-sinar terang yang cerah dari Matahari Kebenaran, dan mau mengajarkan kebenaran-kebenaran yang tidak sesuai dengan pendapat-pendapat para pemimpin agama. Dan kemudian para pemimpin ini dalam kebutaan pikiran mereka, memberikan kuasa penuh kepada apa yang dianggap merupakan penghinaan yang benar menentang orang-orang yang telah mengesampingkan dongeng-dongeng yang dijunjung tinggi. Mereka bertindak bagaikan orang-orang yang tidak waras. Mereka tidak memikirkan kemungkinan, bahwa mereka sendiri belum memahami dengan tepat akan Firman itu. Mereka tidak mau membuka mata mereka untuk melihat akan kenyataan, bahwa mereka telah salah menginterpretasikan dan salah mengaplikasikan Injil itu, dan telah membangun teori-teori yang
salah, sambil menyebutkannya sebagai ajaran-ajaran iman yang mendasar.” — Testimonies to Ministers, pp. 69, 70
Oleh karena orang-orang Laodikea sudah berada dalam kesesatan yang mendalam, maka bagi setiap orang dari mereka untuk menolak menyelidiki suatu pernyataan kebenaran karena takut tertipu, ialah melemahkan akal sehat. Menyelidiki dan mempelajari adalah satu-satunya penyelamatan seseorang — satu-satunya harapan baginya untuk dapat keluar dari kesesatannya yang “menyedihkan,” “berbahaya,” “menakutkan,” sekarang ini (Testimonies, vol. 3, pp. 253, 254, 260), dan satu-satunya harapan perlindungannya yang menahan dia untuk tidak jatuh ke dalam jurang. Sebab itu ia harus belajar lebih banyak lagi dari pada sebelumnya. Dan dengan berbuat demikian ia akan menemukan bahwa inilah permulaan dari pada pekabaran yang sebenarnya yang harus ia miliki untuk membersihkan sisik-sisik dari matanya dan menghilangkan kebutaan, tetapi meskipun demikian nyata, Musuh akan tetap mengikatnya dalam belenggu-belenggu kelembaman dan meninggikan diri sendiri.
255 total, 1 views today


