<< Go Back
KRISTUS ATAUKAH HAMBA-NYA?
Pertanyaan No. 7 :
Bagaimanakah Saudara mempersamakan tulisan “Gospel Workers,” p. 44, paragraf 2, dengan tulisan “Tongkat Gembala,” Jilid 2. halaman 342, paragraf 2, yang dikemukakan sebagai berikut:
“Utusan itu adalah bukan Tuhan sendiri, ……. ia itu adalah seseorang yang akan menyediakan jalan bagi Tuhan,” — Tongkat Gembala, jilid 2, halaman 342.
“Kristus, Utusan perjanjian itu, membawa kabar-kabar keselamatan,” — Gospel Workers, p. 44.
Jawab :
Jika pada halaman 44 Gospel Workers mengaplikasikan gelar “Utusan Perjanjian” kepada Kristus, maka pada halaman 20 diaplikasikannya kepada Musa. Dalam perbandingan keduanya ini terlihat sebagai berikut :
“Sewaktu Musa dipilih sebagai utusan perjanjian, maka firman yang diberikan kepadanya adalah, ‘Hendaklah engkau menghantarkan umat itu kepada Allah.”’ — Gospel Workers, p. 20.
“Kristus, Utusan perjanjian itu, membawa kabar-kabar keselamatan.” — Gospel Workers, p. 44.
Sementara Gospel Workers mengaplikasikan sebutan itu kepada baik Musa maupun Kristus, maka Kristus sendiri mengaplikasikannya kepada Yahya pembaptis. Kata-Nya “kepada orang banyak itu dari hal Yahya …….. Tetapi apakah yang hendak engkau pergi keluar melihat? Seorang nabikah? Sesungguhnya Aku mengatakan kepadamu, bahkan lebih dari pada seorang nabi. Karena inilah dia, dari halnya ada tertulis sebagai berikut : Bahwasanya, Aku mengirim utusan-Ku ke hadapan wajahmu, yang akan menyediakan jalanmu di hadapanmu. Dan jika engkau mau menerimanya, maka inilah Elias, yang akan datang itu.” Matius 11 : 7, 9, 10, 14.
Karena Allah telah membuat perjanjian-perjanjian baik lisan maupun tertulis dengan umat-Nya dahulu, bahwa la akan mengutus kepada mereka Musa, Yahya, dan Kristus, maka mereka itu telah datang menggenapi perjanjian-perjanjian itu. Dan karena masing-masingnya membawa sebuah pekabaran, maka masing-masing mereka dalam zamannya adalah merupakan Utusan Perjanjian itu. Meskipun demikian, kata-kata Maleakhi menjelaskan, bahwa Utusan Perjanjian itu secara terbatas, ialah Eliyah nabi itu (Maleakhi 3 : 1 – 5 ; 4 : 5), utusan yang terakhir yang menyediakan jalan Tuhan. (Lihat Testimonies to Ministers, p. 475).
Namun dalam analisa yang terakhir gelar Utusan Perjanjian itu berlaku kepada Roh Suci. Misalnya, 1 Petrus 3 : 18 – 20 menegaskan bahwa Kristus berhotbah kepada orang-orang sebelum air bah melalui “Roh” yang sama Yang “menghidupkan” Dia. Tetapi karena la berhotbah melalui Roh di dalam pribadi Nuh, bukan oleh diri-Nya sendiri, maka oleh karenanya la mengungkapkan kebenaran itu bahwa Roh Suci terdapat sama di dalam semua utusan-Nya.
Demikianlah “hamba-hamba Allah yang suci berbicara karena mereka digerakkan oleh Roh kudus.” 2 Petrus 1 : 21. Kesimpulannya secara singkat, bahwa sebutan Utusan Perjanjian itu dimaksudkan kepada Roh Suci (Kristus yang tak kelihatan) yang terdapat di dalam wakil-wakll Sorga yang kelihatan — yang merupakan Musa, Yahya, Kristus, Eliyah, ataupun beberapa orang lainnya.
219 total, 1 views today


