Tujuh terompet – Tanda-tanda dari segala zaman
<< Go Back


Tujuh Meterai

Tanda-Tanda Dari Segala Zaman

 

“Wahyu ini dari Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya; untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nva perkara-perkara yang tak dapat tiada harus jadi dengan segeranya; maka disuruhNya malaikat-Nya memberitahukannya hepada hamba-Nya Yahya, yang menyaksikan Firman Allah, dan kesaksian Yesus Kristus, dan semua perkara yang dilihatnya. Berbahagialah orang yang membaca, dan mereka yang mendengar segala perkataan nubuatan ini, dan memegang segala perkara itu yang tertulis di dalamnya; karena masa itu sudah dekat.” Wahyu 1 : 1 – 3.

Yesus Kristus memberikan Wahyu itu untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya “perkara-perkara” yang segera akan datang (Wahyu 1 : 1). Untuk mempersiapkan jalan bagi khayal dari “perkara-perkara” itu, maka S U A R A itu memperkenalkan masalah itu dengan sebuah pekabaran kepada masing-masing dari tujuh malaikat (kepemimpinan-kepemimpinan) yang mengawasi tujuh kakidian (sidang-sidang) itu masing-masingnya. Pekabaran-pekabaran ini dicatat di dalam pasal 2 dan pasal 3.

Berikutnya Yahya dibawa untuk menyaksikan acara-acara besar dari urutan peristiwa-peristiwa itu sebagai berikut:

“Sesudah ini aku tampak, maka tengoklah, sebuah pintu terbuka di dalam sorga, maka suara yang pertama sekali yang ku dengar adalah bagaikan dari sebuah trompet yang berbicara kepadaku, yang mengatakan: ”Naiklah kemari, maka aku akan menunjukkan kepadamu perkara-perkara yang tak dapat tiada harus jadi kemudian.” Maka segeralah aku berada dalam Roh; maka tengoklah, sebuah tahta dipersiapkan di dalam sorga, dan Seorang duduk di atas tahta itu.

”Maka Dia yang duduk itu rupanya seperti sebuah permata yasip dan sebuah batu akik; dan terdapat sebuah pelangi yang mengelilingi tahta itu, seperti sebuah zamrud rupanya. Dan sekeliling tahta itu ada dua puluh empat tempat duduk; dan pada tempat-tempat duduk itu aku tampak dua puluh empat tua-tua sedang duduk, yang berpakaian putih-putih; dan mereka memiliki di atas kepalanya mahkota-mahkota emas.

 

“Maka dari tahta itu keluar kilat-kilat dan guruh-guruh dan suara-suara; dan adalah di sana tujuh buah pelita dari pada api yang bernyala-nyala di hadapan tahta itu, yaitu tujuh Roh Allah.

“Dan di hadapan tahta itu terdapat suatu lautan kaca seperti kristal rupanya: dan di tengah-tengah tahta itu, dan sekeliling tahta itu, terdapat empat binatang yang penuh dengan mata (eyes) di depan dan di belakang. Maka binatang yang pertama itu adalah bagaikan seekor singa, dan binatang yang kedua bagaikan seekor anak lembu, dan binatang yang ketiga itu memiliki wajah seperti wajah seorang laki-laki, dan binatang yang keempat itu adalah bagaikan seekor burung garuda yang terbang.

“Maka empat binatang itu masing-masingnya memiliki enam sayap di sekelilingnya; dan mereka adalah penuh dengan mata di dalamnya; dan tiada mereka itu berhenti siang dan malam mengatakan: ‘Suci, suci, suci, Tuhan Allah Yang Maha Kuasa,Yang dahulu ada, dan Yang ada, dan Yang akan datang’.

“Maka bilamana binatang-binatang itu memuliakan dan memberi hormat dan mengucapkan syukur kepada Dia yang duduk di atas tahta itu, yang hidup selama-lamanya, maka sujudlah dua puluh empat tua-tua itu di hadirat Dia yang duduk di atas tahta itu dan menyembah Dia yang hidup selama-lamanya, sambil mereka itu menanggalkan mahkota-mahkota mereka di hadapan tahta itu, dan mengatakan:

“Ya Tuhan, berlayaklah Engkau untuk menerima kemuliaan dan hormat dan kuasa, karena Engkau telah menciptakan segala perkara, dan karena kesenangan-Mu juga sekalian itu ada dan telah diciptakan.

“Maka aku tampak di dalam tangan kanan Dia yang duduk di atas tahta itu sebuah kitab yang tertulis di dalamnya dan di luarnya, yang termeterai dengan tujuh buah meterai.
 
”Maka aku tampak seorang malaikat perkasa memberitakan dengan suatu suara besar: ‘Siapakah yang layak untuk membuka kitab itu, dan melepaskan meterai-meterainya?’ Maka baik di sorga, baik di bumi, atau di bawah bumi, tak seorang pun yang mampu membuka kitab itu atau pun memandangnya. Maka sangatlah aku menangis sebab tiada seorangpun didapati layak untuk membuka dan membaca kitab itu, ataupun untuk memandang kepadanya.

”Maka salah seorang dari ketua-ketua itu mengatakan kepadaku: ‘Jangan menangis; tengoklah, singa dari pada suku bangsa Yehuda, yaitu Akar Daud itu, telah menang untuh membuka kitab itu, dan untuk melepaskan tujuh meterainya.’

”Maka aku tampak, dan, heranlah, di tengah-tengah tahta dan di tengah-tengah empat binatang itu, dan di tengah-tengah para tua-tua itu berdiri seekor anak Domba yang bagaikan sudah disembelih rupanya, yang bertanduk tujuh dan bermata tujuh, yaitu tujuh Roh Allah yang sudah diutus ke seluruh bumi.

”Maka datanglah Anak Domba itu lalu mengambil kitab itu dari dalam tangan kanan Dia yang duduk di atas tahta itu. Dan setelah diambilnya kitab itu, maka empat binatang dan dua puluh empat tua-tua itu bersujudlah di hadapan Anak Domba itu, masing-masing mereka memegang kecapi dan bokor emas yang penuh bau-bauan yaitu doa-doa dari orang-orang suci.

”Maka menyanyilah mereka itu suatu nyanyian yang baru, bunyinya: ”Layaklah Engkau mengambil kitab itu dan membuka meterainya, karena Enghau sudah tersembelih, dan oleh darahMu Engkau telah menebus k a m i bagi Allah daripada setiap suku bangsa, dan bahasa, dan umat, dan bangsa, dan Engkau telah menjadikan kami raja-raja dan imam-imam bagi Allah kami; maka kami akan memerintah di bumi.

”Maka aku tampak, dan aku dengar suara dari banyak malaikat yang mengelilingi tahta dan binatang-binatang dan para tua-tua itu: maka angka bilangan mereka itu adalah sepuluh ribu kali sepuluh ribu, dan beribu-ribu; yang mengatakan dengan suara besar: ‘Layaklah Anak Domba yang tersembelih itu untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan berkat.

“Maka setiap mahluk yang di dalam sorga, dan di bumi, dan di bawah bumi, dan sedemikian ini yang ada di dalam laut, dan semua yang ada di dalamnya, ku dengar mengatakan: ‘Bagi Dia yang duduk di atas tahta dan bagi Anak Domba itu adalah berkat, dan hormat, dan kemuliaan, dan kuasa, sampai selama-lamanya.

”Maka empat binatang itu mengatakan: ‘Amin. Lalu dua puluh empat tua-tua itu pun bersujudlah dan menyembah Dia yang hidup untuk selama-lamanya”. Wahyu 4, 5.

Kegenapan yang sebenarnya dari “perkara-perkara” ini akan jadi kemudian — yaitu sesudah khayal Yahya; artinya, di zaman Yahya kejadian-kejadian penting ini belum akan terjadi, juga tidak akan jadi di waktu itu, tetapi sekalian itu akan jadi pada sesuatu waktu sesudah khayal itu, yaitu sesudah abad yang pertama. Walaupun demikian, berapa cepatnya ataupun berapa lama kemudian ia itu tidak diungkapkan kepada Yahya.

Ia dibawa dalam khayal untuk melihat dan untuk menuliskan peristiwa “perkara-perkara” itu yang akan jadi pada waktu orang berbondong-bondong bagaikan sidang pengadilan orang banyak dari Wahyu 4, 5 itu yang akan benar-benar berlangsung. Mengenai “perkara-perkara” yang lain, yaitu perkara-perkara yang menyusul sebagai akibat dari peristiwa itu, Dia Yang memiliki “konci-konci neraka dan kematian” itu menjaminkan, bahwa sebagiannya sudah berlalu dan sebagiannya akan jadi (Wahyu 1 : 19); artinya, apabila perhimpunan Ilahi ini bersidang, maka sebagian “perkara-perkara” yang dikemukakan itu sebagai akibat dari peristiwa itu sudah menjadi sejarah, sebaliknya sebagiannya lagi masih berupa nubuatan — artinya sebagian menunjuk ke belakang dan sebagian menunjuk ke depan.

Perkara yang pertama dan terpenting yang akan jadi di dalam persidangan besar ini ialah pembukaan kitab itu. Hendaklah juga diingat, bahwa kitab itu disegel dengan tujuh buah meterai (Wahyu 5 : 1). Karena kitab itu berada dalam tujuh bagian, setiap bagiannya dimeteraikan sendiri-sendiri, maka tujuh meterai itu keseluruhannya dipecahkan secara berurutan, sehingga memungkinkan masing-masing bagian mengungkapkan isinya sendiri-sendiri sebagai berikut: Meterai yang pertama, atau bagian buku yang pertama, mengungkapkan perkara-perkara dari Wahyu 6 : 2; meterai yang kedua mengungkapkan perkara-perkara dari Wahyu 6 : 4, meterai yang ketiga mengungkapkan perkara-perkara dari Wahyu 6 : 5 dan 6; meterai yang keempat mengungkapkan perkara-perkara dari Wahyu 6 : 8; meterai yang ke lima mengungkapkan perkara-perkara dari Wahyu 6 : 9 – 11; meterai yang ke enam mengungkapkan perkara-perkara dari Wahyu 6 : 12 – 17 dan dari Wahyu pasal 7; meterai yang ketujuh mengungkapkan perkara-perkara dari Wahyu pasal 8 sampai pasal 22. Bahwa meterai yang ketujuh itu berisikan Wahyu pasal 8 sampai pasal 22 adalah cepat terlihat dari kenyataan, bahwa setiap pasal dihubungkan dengan kata sambung “dan”. Dengan lain perkataan, Buku Wahyu itu, terkecuali bagi lima pasal pertamanya, adalah hanya suatu reproduksi (ulangan) dari perkara-perkara yang sudah ada tercatat di dalam meterai-meterai itu, dan yang sebagai akibat dari pemecahan meterai-meterai itu telah diperlihatkan dalam gambar dalam penglihatan Yahya.

Sekarang Kebenaran menunjukkan dengan jelas; bahwa Buku Wahyu itu bukannya terdiri dari sesuatu yang bersumber dari khayal Yahya, melainkan bahwa ia itu terdiri dari perkara-perkara yang terdapat di dalam buku yang termeterai itu dan yang kemudian diumumkan. Oleh karena tulisan-tulisan Yahya mencatat perkara-perkara yang diungkapkan oleh buku yang termeterai itu pada saat meterai-meterainya dipecahkan, maka Ilham menamakan tulisan-tulisan itu “W a h y u” — perkara-perkara termeterai yang dibukakan, perkara-perkara rahasia yang diungkapkan.

Pokok-pokok masalah yang mendasar di dalam pasal 4 dan 5, yaitu pasal-pasal yang disebut di depan, adalah sebagai berikut:

  1. Bahwa sebuah pintu terbuka, bukan di bumi, melainkan di dalam sorga;
  2. Bahwa sementara Yahya memandang ke dalam, maka tampak olehnya “Seseorang” duduk di atas tahta;
  3. Bahwa sebuah kitab yang termeterai dengan tujuh meterai berada di dalam tangan kanan-Nya;
  4. Bahwa kitab itu kemudian dibukakan dari meterai-meterainya, maka sebagai akibatnya kepada Yahya telah ditunjukkan gambaran dari pada semua isinya, dan bahwa penulisannya mengenai isi kitab itu memberikan kepada kita Wahyu itu;
  5. Bahwa ada juga terdapat kitab-kitab lainnya (Wahyu 20 : 12), dan bahwa sungguhpun kitab-kitab itu tidak dimeteraikan, Yahya tidak diantarkan untuk melihat apa yang tertulis di dalamnya;
  6. Bahwa dua puluh empat tua-tua sedang duduk mengelilingi tahta itu;
  7. Bahwa Anak Domba itu (juga disebut singa) berikut sepuluh ribu kali sepuluh ribu, dan beribu-ribu malaikat berada sekeliling tahta itu;
  8. Bahwa ada terdapat empat binatang, tujuh pelita dari pada api (kakidian), dan lautan kaca;
  9. Bahwa Suara itu dengan tegas memberitahukan kepada Yahya bahwa ia sedang akan dikaruniakan suatu pemandangan singkat mengenai suatu peristiwa nubuatan yang akan jadi pada suatu saat kemudian – ”kemudian” dari zamannya, yaitu kira-kira sesudah abad yang pertama.

Bahwa khayal Yahya itu adalah sebuah ramalan dari hal peristiwa yang sama seperti yang diungkapkan kepada Daniel (pasal 7), akan cepat terlihat dari perbandingan singkat berikut ini:

Khayal Daniel
(Daniel 7) 
Khayal Yahya
(Buku Wahyu)
1. “Aku tampak sampai tahta-tahta itu ditaruh.” Ayat 9. 1. “Maka aku tampak beberapa tahta.” Wahyu 20 : 4.
2. “Dan Yang Tiada Berkesudahan HariNya itu duduklah.” Ayat 9. 2. “Dan Seseorang duduk di atas tahta itu.” Wahyu 4 : 2.
3. “Suatu sungai api mengalir dan keluar dari hadapanNya.” Ayat 10. 3. “Dan aku tampak seakan-akan suatu lautan kaca yang bercampur dengan api.” Wahyu 15 : 2.
4. “Seseorang seperti Anak Manusia itu datang …. kepada Yang Tiada Berkesudahan HariNya itu, lalu mereka menghantarkanNya ke hadapan hadiratNya.” Ayat 13. 4. “Di tengah-tengah tahta dan di tengah-tengah empat binatang itu ….. berdiri seekor Anak Domba.” Wahyu 5 : 6.
5. “Kitab-kitab dibuka.” Ayat 10. 5. “Dan Kitab-kitab dibuka.” Wahyu 20 : 12.
6. “Beribu-ribu berbakti kepadaNya dan sepuluh ribu kali sepuluh ribu berdiri di hadapan hadiratNya.” Ayat 10. 6. “Ku dengar suara dari banyak malaikat yang mengelilingi tahta itu …. dan angka bilangan mereka itu adalah sepuluh ribu kali sepuluh ribu dan beribu-ribu banyaknya.” Wahyu 5  : 11.
7. “Pengadilan itu duduk, dan kitab-kitab dibuka.” Ayat 10. 7. “Jam pehukumanNya sudah sampai.” Wahyu 14 : 7. “Maka aku tampak segala oang mati itu, kecil dan besar, berdiri sekaliannya dihadapan hadirat Allah dan kitab-kitab dibuka dan sebuah kitab lainnya juga dibuka, yaitu kitab kehidupan; maka segala orang mati itu diadili menurut segala perkara itu yang tertulis di dalam kitab-kitab itu, sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka.” Wahyu 20 : 12.

                  

Kedua saksi di atas (Daniel dan Yahya) menyatakan dengan tegas, bahwa peristiwa yang mereka saksikan itu ialah “Pehukuman”. Perbedaan di antara kedua khayal itu ialah, bahwa Daniel telah dihantarkan untuk melihat ke dalam Kaabah Kesucian itu sementara persiapan-persiapan sedang dibuat bagi Pehukuman itu untuk bersidang; sedangkan Yahya telah dibawa untuk memandang ke dalam Kaabah Kesucian itu sesudah Sidang Pehuhuman itu duduk, pada kenyataannya, Yahya bukan saja melihat sidang Pehukuman itu berlangsung, tetapi ia melihat keseluruhan kejadian itu semenjak dari mulainya sampai kepada akhirnya.

Sebagai contoh, Daniel melihat perkara-perkara itu sewaktu tahta-tahta itu sedang “ditaruh”, dan sewaktu Yang Tak Berkesudahan Hari-Nya itu sedang beralih dari tahta Administrasi (tahta dimana Kristus duduk pada sebelah kanan Bapa-Nya – Wahyu 22 : 1) menuju ke tahta Pengadilan (Tahta di dalam kaabah kesucian). Kemudian adalah, bahwa “Seseorang seperti Anak Manusia datang”, “lalu mereka menghantarkan-Nya dekat ke hadapan hadirat” Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu (Daniel 7 : 13), bukan pada sebelah kanan-Nya. Tetapi orang-orang yang akan duduk pada “tahta-tahta”, atau tempat-tempat duduk lainnya itu yang kemudian “ditaruh”, atau diatur belum lagi datang. Walaupun demikian, pada waktu Yahya melihat ke dalam ia menyaksikan dua puluh empat tua-tua itu sudah duduk pada tahta-tahta itu.

Daniel melihat “Seseorang yang seperti Anak Manusia” itu sewaktu Ia sedang dibawa hampir ke hadapan Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu. Tetapi Yahya melihat-Nya sesudah Ia dibawa ke sana.

Kepada Yahya kedatangan-Nya itu adalah seperti seekor “Anak Domba”, dan salah seorang dari tua-tua itu memanggilNya “singa dari suku bangsa Yehuda”. (Jelas Ia adalah “Anak Manusia”, yaitu Penebus, Raja Israel — Kristus, Tuhan itu). Di samping ini Yahya juga menyaksikan empat binatang itu di sana, kakidian, dan kitab itu selagi ia itu terbuka. Sekali lagi Daniel menyaksikan hanya sebagian dari persiapan-persiapan itu, sedangkan Yahya melihat pembukaan sidang Pehukuman itu berikut seluruh kejadian yang menyusul kemudian.
 
Sidang Pengadilan itu oleh Ilham dijelaskan terdiri dari seorang hakim — yaitu Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu, saksi-saksi — yaitu melaikat-malaikat, seorang pembela – Anak Domba itu, suatu Dewan Juri — yaitu para tua-tua itu, para terdakwa — yaitu binatang-binatang itu, dan pemimpin mereka — yaitu “singa dari suku bangsa Yehuda” itu. (Bahwa empat binatang itu adalah simbol yang melambangkan orang-orang suci sama seperti halnya binatang-binatang dari Daniel pasal 7 merupakan simbol yang melambangkan bangsa-bangsa, dijelaskan sendiri oleh pernyataan binatang-binatang itu sebagai berikut: “…… karena Engkau sudah tersembelih dan sudah menebus k a m i bagi Allah oleh darah-Mu, keluar dari pada setiap suku bangsa, dan bahasa, dan umat, dan bangsa”, Wahyu 5 : 9).

Siswa penyelidik Kebenaran lanjutan akan juga melihat, bahwa Daniel menunjuk hanya kepada satu sidang pengadilan saja, walaupun ia mengucapkan Pehukuman itu sampai dua kali, yaitu pertama di dalam pasal 7 ayat 10, dan kedua di dalam ayat 22. Ini akan terlihat di dalam delapan paragraf berikut ini.

Di dalam empat belas ayat yang pertama Daniel melukiskan semua yang ia saksikan sewaktu di dalam khayal, Dan di dalam ayat 15 ia menjelaskan bagaimana sedihnya dan terganggu dia setelah memperhatikan perbuatan pembinasaan yang dilakukan oleh binatang yang keempat itu. Kemudian di dalam ayat 16 ia menceriterakan, bahwa ia datang menghampiri malaikat yang berdiri itu, dan menanyakan interpretasi pengertian dari malaikat itu mengenai perkara-perkara yang disaksikan itu. Sesuai dengan permohonannya ini, maka malaikat itu menjawab:

“Binatang-binatang yang besar ini, yang empat jumlahnya, adalah empat orang raja yang akan bangkit keluar dari bumi. Tetapi umat kesucian dari Yang Maha Tinggi itu akan mengambil kerajaan itu, dan akan memiliki kerajaan itu untuk selama-lamanya, bahkan sampai selama-lamanya”. Daniel 7 : 17, 18.

Interpretasi yang sangat singkat ini tidak memuaskan hati Daniel. Maka karena ingin mengetahui secara khusus dan terinci perkara-perkara yang dilukiskan di dalam ayat 7 – 14 itu — yaitu kebenaran dari hal sidang Pehukuman itu, maupun mengenai binatang yang keempat itu berikut tanduk kecilnya yang memiliki mata manusia dan sebuah mulut yang membicarakan perkara-perkara besar — Daniel selanjutnya memohon penjelasan, sekali Iagi mengenai perlunya menyebutkan sidang Pehukuman itu. Sesuai dengan itu, maka secepatnya malaikat itu menjelaskan, sambil membatasi secara ketat interpretasinya terhadap lambang binatang yang keempat itu dan terhadap Pehukuman itu.

 

 

 

 347 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart