<< Go Back
Daniel 7
“Demikianlah katanya, Binatang yang keempat itu akan menjadi kerajaan yang keempat di atas bumi, yang akan berlainan dari pada semua kerajaan, maka ia itu akan menelan seluruh bumi, dan akan memijak-mijaknya, dan akan menghancurkannya berkeping-keping.
“Maka sepuluh tanduk itu yang keluar dari pada kerajaan ini adalah sepuluh orang raja yang akan bangkit: dan seorang raja lainnya akan bangkit sesudah mereka; dan ia akan berlainan dari pada raja-raja yang pertama itu, dan ia akan menundukkan tiga orang raja.
“Maka ia akan membicarakan beberapa perkataan besar melawan Yang Maha Tinggi itu, dan ia akan menganiayakan umat kesucian dari Yang Maha Tinggi itu dengan kejamnya, dan dengan sengaja merubah masa dan hukum; maka mereka itu akan diserahkan ke dalam tangannya sampai satu masa dan dua masa dan setengah masa.
“Tetapi majelis Pehukuman akan duduk, dan mereka akan mengambil dari padanya kerajaannya untuk menghabiskan dan membinasakannya sampai kepada kesudahan. Maka kerajaan itu dan pemerintahan, dan kebesaran kerajaan itu di bawah seluruh langit, akan diserahkan kepada umat kesucian dari Yang Maha Tinggi, yaitu yang kerajaannya adalah sebuah kerajaan yang kekal, maka semua pemerintahan akan melayani dan mematuhi Dia.” Daniel 7 : 23 – 27. (Terjemahan yang lebih tepat dari Alkitab bahasa Inggris).
Jadi, jelaslah, bahwa Daniel menyaksikan hanya satu sidang pengadilan yang duduk, tetapi ia telah menyebutnya dua kali – pertama dalam kaitannya dengan gambaran mengenai apa yang dilihatnya dalam khayal, dan kedua dalam kaitannya dengan perolehan interpretasi khayal itu oleh malaikat.
Malaikat itu menjelaskan kepada Daniel, bahwa Pehukuman itu akan berlangsung sesudah tanduk kecil itu muncul, dan sebelum orang-orang suci memiliki kerajaan itu. (Lihat pasal 7, ayat 8, 9, 22).
Tetapi Yahya, setelah kepadanya diperlihatkan keseluruhan kejadian pengadilan itu, melukiskan Pehukuman itu dalam tiga bagian, dalam tiga persidangan yang berbeda-beda: yang satu sebelum setengah jam tenang itu (Wahyu 8 : 1), yang satu lagi sesudah ketenangan setengah jam itu, dan yang ketiga selama seribu tahun (Wahyu 20 : 11, 12). Kebenaran ini akan terlihat dari kenyataan-kenyataan berikut ini:
Selama masa periode enam meterai itu, sementara sidang Pehukuman yang pertama berlangsung, empat binatang itu tidak henti-hentinya siang dan malam mengatakan, “Suci, suci, suci, Tuhan Allah Yang Maha Kuasa, yang dahulu ada, dan sekarang ada, dan yang akan datang”. Wahyu 4 : 8. Tetapi apabila meterai yang ketujuh dibuka, akan ada diam tenang di dalam sorga (binatang-binatang itu berdiam diri, juga “kilat-kilat”, “guntur-guntur”, dan “suara-suara” itu berhenti — pasal 4, ayat 5) “kira-kira setengah jam lamanya”. Wahyu 8 : 1. Ketenangan itu jelas mengungkapkan, bahwa sidang yang pertama dari peristiwa-peristiwa Pengadilan itu akan berakhir, dan bahwa sidang yang kedua akan dimulai sesudah ketenangan itu berlalu.
Sidang yang ketiga, yang berlangsung selama seribu tahun itu, adalah pada ”Tahta Putih Yang’ Besar” (Wahyu 20 : 11, 12), yaitu tahta dari DIA yang dari pada wajah-Nya bumi dan langit melarikan diri. Pada tahta yang terakhir ini tidak ada “lautan kaca”, tidak ada “binatang-binatang”, tidak ada “Singa”, tidak ada “Anak Domba,” dan walaupun ada terdapat “tahta-tahta” yang lebih kecil (Wahyu 20 : 4) Ilham tidak mengatakan dengan tegas siapa-siapa yang duduk di atasnya,
Kini, sifat Pehukuman itu di dalam masing-masing dari ketiga sidang Pengadilan itu, dan saat sekaliannya itu benar-benar bersidang, akan dapat terlihat di dalarn analisa penyelidikan berikut ini:
Walaupun kejadian peristiwa-peristiwa dari dua persidangan yang pertarna itu agak berbeda, namun sekaliannya itu dalam semua pandangan lainnya adalah sama. Tetapi yang ketiga adalah sama sekali tidak sama dengan dua persidangan yang pertama itu. Perbedaan-perbedaan itu terlihat bahwa sebelum terjadi ketenangan setengah jam itu terdapat pada tahta itu “suatu lautan kaca yang bagaikan kristal” (Wahyu 4 : 6), dan tak ada seorang pun berdiri di atasnya; tetapi sesudah ketenangan setengah jam itu lewat, maka pemandangan itu berubah: “Lautan kaca” itu “bercampur dengan api: dan mereka yang telah memperoleh kemenangan atas binatang itu, dan atas patungnya, dan atas tandanya, dan atas angka bilangan namanya, berdiri di atas lautan kaca itu, sambil memegang kecapi-kecapi Allah”. Wahyu 15 : 2.
Dengan perkataan lain, pada persidangan Pengadilan yang pertama itu tidak ada seorang pun berdiri di atas lautan kaca, dan lautan itu sendiri adalah “bagaikan kristal”, sebaliknya pada persidangan yang kedua lautan itu muncul terlihat bagaikan suatu aliran sungai api, dan orang-orang suci berdiri di atasnya.
Kebenaran yang menyatakan bahwa dua persidangan yang pertama itu berlangsung sebelum bumi melarikan diri, yaitu sebelum keadaan dunia yang sekarang ini berakhir; juga kebenaran yang menyatakan bahwa persidangan yang kedua itu berakhir bersama-sama dengan orang-orang suci yang hidup pada masa sejarah yang terakhir sekali, sejarah dari patung binatang itu, yaitu masa sebelum bumi melarikan diri; — semuanya ini menyajikan bukti yang tak dapat dibantah, bahwa dua persidangan yang pertama itu, yaitu sidang-sidang pada sebelum seribu tahun millenium itu, akan menghantarkan dunia yang ada sekarang ini kepada ajalnya; sehingga Pehukuman itu tidak lain adalah pemisahan “lalang-lalang” dari pada “gandum”, baik di antara orang-orang mati maupun di antara orang-orang hidup; sehingga itupun merupakan pemeriksaan terhadap semua tamu dengan tujuan utama untuk menentukan siapa yang memakai dan siapa yang tidak memakaikan “pakaian kawin” — yaitu persyaratan utama yang akan menentukan siapa yang akan dibiarkan dan siapa yang akan dimasukkan ke dalam kebinasaan sewaktu bumi melarikan diri.
Bahwa orang-orang mati diadili di dalam persidangan yang pertama, dan orang-orang hidup diadili di dalam persidangan yang kedua, akan terlihat dari lambang itu sendiri. Seperti ditunjukkan sebelumnya, pada sidang yang pertama tidak seorang pun berdiri di atas lautan kaca, dan lautan itu sendiri adalah “jernih seperti kristal”. Tetapi pada sidang yang kedua orang-orang suci berdiri di atas lautan, dan Iautan itu adalah bercampur dengan api (lambang dari kehidupan).
Juga kemudian, di dalam dua sidang yang pertama itu Juruselamat dilambangkan bagaikan seekor anak domba yang tersembelih (Wahyu 5 : 6), sehingga menempatkan dengan tegas peristiwa-peristiwa itu berlangsung dalam masa kasihan — selagi darah dari Anak Domba itu masih dapat digunakan untuk menebus dosa-dosa manusia. Maka pernyatan Daniel bahwa “Pehukuman itu diserahkan kepada orang-orang suci dari Yang Maha Tinggi”, setelah mana “datang waktunya bahwa orang-orang suci itu mempusakai kerajaan itu” (Daniel 7 : 22), menempatkan dengan tegas masa Pehukuman itu mendahului masa orang-orang suci itu menerima Kerajaan. Dengan sendirinya, maka bobot kenyataan itu berulang kali menunjukkan bahwa Pehukuman itu tidak lain adalah suatu pemeriksaan terhadap “tamu-tamu” yang telah datang menghadiri perjamuan kawin Anak Domba, yaitu mereka yang telah menggabungkan diri dengan sidang. Mereka yang kemudian didapati tidak berpakaikan pakaian kawin akan dicampakkan ke luar.
Juga, kebenaran-kebenaran yang mengatakan bahwa selama Kaabah itu terbuka, bahwa tujuh malaikat dan binatang-binatang itu keluar dari dalamnya, bahwa ia itu kemudian dipenuhi dengan asap dari kemuliaan Allah sehingga tidak seorangpun mampu memasukinya “sampai tujuh bela dari tujuh malaikat itu digenapi” (Wahyu 15 : 5 – 8), sampai kota-kota dari bangsa-bangsa runtuh, sampai setiap pulau melarikan diri, dan gunung-gunung lenyap (Wahyu 16 : 19, 20), — sekaliannya ini menunjukkan dengan pasti, bahwa bersamaan dengan sidang yang kedua itu sidang Pengadilan itu akan tertangguh, masa kasihan berakhir bagi semua orang, tujuh bela turun, dan bumi melarikan diri. Kemudian dimulai pada Tahta Putih Yang Besar itu pelaksanaan Pengadilan terhadap orang-orang mati, yaitu terhadap mereka yang tidak bangkit dalam kebangkitan yang pertama, dan terhadap mereka yang bukannya diobahkan, melainkan dibunuh pada kebesaran cahaya kedatangan-Nya.
Mendahului peristiwa-peristiwa yang terakhir ini “binatang itu diambil, dan bersama-sama dengannya nabi palsu itu yang melakukan berbagai keajaiban di hadapannya, dengan mana ia menyesatkan mereka itu yang telah menerima tanda binatang itu, dan mereka yang menyembah patungnya. Keduanya ini dicampakkan hidup-hidup ke dalam suatu lautan api yang bernyala-nyala dengan belerang.
“Maka mereka yang lagi tinggal itu (yang tersisa dari dunia yang jahat) dibunuh dengan pedang dari Dia yang menunggang kuda, pedang mana keluar dari dalam mulut-Nya; maka segala unggas kenyang dengan daging mereka itu”. Wahyu 19 : 20, 21. Kemudian malaikat itu, akan mengikat Iblis, pendurhaka yang terakhir itu, lalu bumi melarikan diri.
Demikianlah seribu tahun millenium itu dimulai, dan demikianlah malaikat itu mencampakkan Iblis ke dalam lobang yang tak terduga dalamnya – yaitu ke dalam suatu tempat dimana tidak mungkin lagi bagi sesuatu mahluk Iainnya untuk berdiri — mengunci dia, dan memeteraikan dia dengan sebuah segel, “supaya jangan lagi ia menyesatkan bangsa-bangsa, sampai kelak genap seribu tahun itu (sampai kebangkitan yang kedua): dan sesudah itu ia harus dilepaskan sedikit waktu lamanya. Dan aku tampak tahta-tahta, dan mereka duduk di atasnya, lalu Pehukuman diserahkan kepada mereka” selama seribu tahun itu.
“Maka aku tampak sebuah Tahta Putih Yang Besar, dan Dia yang duduk di atasnya, dari wajah-Nya bumi dan langit melarikan diri; dan tidak didapati lagi tempat bagi mereka. Lalu aku tampak orang-orang mati itu, kecil besar, berdiri di hadapan Allah; dan kitab-kitab dibuka: dan sebuah kitab lainnya juga dibuka, yaitu kitab hayat: maka orang-orang mati itu diadili dari segala perkara itu yang tercatat di dalam kitab-kitab itu, sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka. “Wahyu 20 : 1 – 5, 11, 12.
Yahya melihat bahwa sesudah segala perkara ini jadi, maka “laut menyerahkan orang-orang mati yang terdapat di dalamnya; dan kematian dan neraka melepaskan orang-orang mati yang ada di dalamnya: maka mereka itu diadili masing-masing orang sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka. Lalu kematian dan neraka dicampakkan ke dalam lautan api. Inilah kematian yang kedua. Maka barangsiapa pun yang tidak terdapat tertulis namanya di dalam kitab hayat dicampakkan ke dalam lautan api.” Wahyu 20 : 13 -15. (Lihat juga buku The Great Controversy, p. 480).
Adalah tegas sesuai Alkitab bahwa pada permulaan seribu tahun millenium itu semua orang jahat akan “dibunuh dengan pedang dari Dia yang menunggangi kuda itu; yaitu pedang yang keluar dari mulut-Nya: maka segala unggas (akan) kenyang dengan daging mereka” (Wahyu 19 : 21), dan bahwa yang diadili pada Tahta Putih Yang Besar itu ialah orang-orang mati, dan juga bahwa berikutnya semua orang yang diadili itu akan dibangkitkan pada akhir dari seribu tahun itu; artinya, sesuai dengan yang dikatakan oleh Yahya, kemudian “laut menyerahkan semua orang mati yang ada di dalamnya; dan kematian dan neraka melepaskan semua orang mati yang ada di dalamnya”.
Kenyataan-kenyataan ini memastikan dalam kalimat-kalimat yang tidak meragukan lagi, bahwa tidak akan ada seorangpun yang hidup di bumi selama masa “seribu tahun” itu, dan bahwa orang-orang yang bangkit dalam kebangkitan yang kedua, semuanya itu adalah orang-orang yang tidak suci — yaitu semua mereka yang tidak bangkit dalam “kebangkitan yang pertama itu” (Wahyu 20 : 6), yaitu semua orang yang tunduk kepada kematian yang kedua (ayat 14).
Lagipula, karena hanya ada satu sidang Pengadilan yang duduk selama seribu tahun millenium itu, maka “tahta-tahta” dari ayat 4 itu tak dapat tiada harus ada di dalam persidangan bersama-sama dengan Tahta Putih Yang Besar itu. Selanjutnya adalah tidak mungkin bahwa “Tahta Putih Yang Besar itu” akan sepenuhnya sendiri berada di dalam persidangan.
Dan juga, mengingat bahwa kebangkitan yang pertama itu, yaitu kebangkitan pada permulaan seribu tahun millenium itu akan membawa keluar semua umat kesucian, yaitu orang-orang yang suci, dan tidak seorangpun yang lainnya, maka ia itu menyusul bahwa kebangkitan yang kedua, yaitu kebangkitan pada akhir seribu tahun millenium itu akan membawa keluar semua orang yang tidak suci, tanpa seorang benarpun di antara mereka itu.
Semua peristiwa yang terakhir ini dalam jam-jam penutupan Injil berulang kali membuktikan, bahwa tidak satu pun orang jahat akan hidup dalam masa seribu tahun itu, yaitu tahun-tahun setelah bumi melarikan diri dan sebelum ia itu diperbaharui, dan dengan sendirinya selama masa itu tidak akan ada seorang pun dapat diselamatkan, dan tak seorang pun akan hilang.
Seperti yang ditunjukkan sebelumnya, semua orang jahat mati pada permulaan seribu tahun millenium itu; pertama-tama binatang dan nabi palsu itu, kemudian mereka yang lagi tinggal itu, yaitu yang tersisa dari dunia. (Lihat Wahyu 19 : 20, 21). Walaupun demikian, orang-orang suci itu, yaitu mereka yang hidup dan mereka yang bangkit pada permulaan seribu tahun millennium itu sekaliannya akan hidup dan memerintah seribu tahun lamanya bersama-sama dengan Kristus, bukan Kristus bersama-sama dengan mereka. Yang tersisa dari orang-orang mati, yaitu seluruh dunia, tidak akan hidup kembali sebelum seribu tahun itu berakhir (Wahyu 20 : 4, 5).
“Aku pergi”, demikian kata Yesus, “mempersiapkan suatu tempat bagimu. Maka jika Aku pergi dan mempersiapkan suatu tempat bagimu, Aku akan datang kembali, dan menerima kamu bagi diri-Ku sendiri; supaya dimana Aku berada, disanapun kamu berada”. Yahya 14 : 2, 3. Jelaslah, bahwa mereka yang hidup selama seribu tahun millenium itu, mereka hidup bersama-sama dengan Kristus di dalam rumah-rumah tempat tinggal yang di atas. Kemudian sesudah seribu tahun itu berakhir, maka Yahya mengungkapkan: “Iautan menyerahkan semua orang mati yang ada di dalamnya; dan kematian dan neraka melepaskan orang-orang mati yang ada di dalamnya; dan mereka itu sudah diadili masing-masing orang sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka”.
Demikianlah keadaannya orang-orang jahat itu akan dibangkitkan dari pada mati apabila seribu tahun itu berakhir, dan sebagai akibatnya Setan akan dilepaskan dari penjaranya, sehingga memungkinkan kembali baginya untuk menyesatkan orang-orang yang nama-namanya tidak terdapat di dalam kitab hayat, yaitu “Djudj dan Madjudj, untuk menghimpunkan mereka bersama-sama untuk berperang; maka jumlah mereka itu adalah bagaikan pasir di pantai laut. Maka naiklah mereka itu ke atas tanah yang luas, Ialu mengepung perkemahan orang-orang suci itu berkeliling berikut kota yang dikasihi itu; maka turunlah api dari Allah dari dalam sorga, lalu menelan mereka itu.
“Maka Iblis yang menyesatkan mereka itu dicampakkan ke dalam lautan api dan belerang, dimana binatang dan nabi palsu itu berada, maka mereka itu akan disiksa siang dan malam untuk selama-lamanya. Maka kematian dan neraka dicampakkan ke dalam lautan api itu. Inilah kematian yang kedua itu”. Wahyu 20 : 7 – 10, 14. Peristiwa yang terakhir ini dalam drama dosa yang terakhir akan menghantarkan kekekalan yang tak berdosa ke bumi.
Kemudian selanjutnya, karena baik orang-orang suci yang hidup maupun yang dibangkitkan itu akan diambil untuk “hidup dan memerintah bersama-sama dengan Kristus,” dan karena semua mereka yang akan diadili pada Tahta Putih Yang Besar itu, akan diadili sementara mati, maka kebenaran itu menunjukkan lebih jelas lagi bahwa tidak terdapat seorang jahatpun yang hidup selama seribu tahun itu. Memang tidak ada, karena bumi dan langit pada waktu itu telah melarikan diri yaitu keluar dari bidang lingkungannya yang semula, menjadi kosong dari kehidupan, dan hampa (Yesaya 24 : 1 – 6; Yeremiah 4 : 23 – 26), yaitu suatu “lubang yang tak terduga dalamnya” (Wahyu 20 : 1) pada mana tak seorang pun dapat berdiri. Orang-orang suci itu, yaitu mereka yang tinggal itu perlu hidup dan memerintah seribu tahun lamanya bersama-sama dengan Kristus di dalam Sorga dari segala langit itu, dimana “banyak tempat tinggal” itu berada. Pada akhir dari seribu tahun itu turunlah Kota Suci yaitu tempat-tempat tinggal itu, yaitu Yerusalem Baru, berikut orang-orang suci bersamanya (Wahyu 21 : 2). Semenjak dari saat itu dan seterusnya orang-orang suci bukan hidup bersama-sama dengan Kristus, melainkan IA akan hidup bersama-sama dengan mereka (Wahyu 21 : 3).
Seperti yang telah ditunjukkan sebelumnya, kepada Yahya masa permulaan dari Pehukuman itu telah ditegaskan secara lepas akan jadi “kemudian” dari zamannya, tetapi kepada Daniel ia itu diperlihatkan secara pasti akan berlangsung pada sesuatu masa setelah tanduk kecil dari binatang itu bangkit, dan sebelum orang-orang suci mempusakai Kerajaan itu (Daniel 7 : 8 – 11). Sungguhpun demikian, tanggal yang tepat akan ditentukan oleh Daniel 8 : 14 — “Sampai dua ribu tiga ratus hari; kemudian tempat kesucian itu akan kelak disucikan,” lalang-lalang akan kelak dibuang dari dalamnya. Pada masa itu, sementara pembersihan itu berlangsung, sidang akan memberitakan: “Takutlah akan Allah dan hormatilah akan Dia, karena jam pehukuman-Nya ada datang.” Wahyu 14 : 7. (Penyajian yang lengkap terhadap Daniel 8 : 14 dapat dibaca pada buku PEHUKUMAN DAN PENUAIAN).
Mengenai kitab yang termeterai dengan tujuh meterai, yaitu satu-satunya kitab yang “tidak seorang pun di dalam sorga ataupun di bumi……mampu membukanya…..ataupun melihat ke atasnya”, terkecuali Singa dari suku bangsa Yehuda itu, ia itu tegas adalah kitab yang di dalamnya tercatat ikhtisar perbuatan-perbuatan manusia, seperti yang diungkapkan sendiri oleh meterai-meterai itu.
Kenyataan ini kembali dikukuhkan oleh Ilham sebagai berikut: “Demikianlah para pemimpin Yahudi itu membuat pilihan mereka. Keputusan mereka itu dicatat di dalam kitab yang oleh Yahya dilihat berada di dalam tangan Dia yang duduk di atas tahta, yaitu kitab yang tidak seorangpun dapat membukanya. Dalam semua keutuhannya keputusan ini akan muncul ke hadapan mereka pada hari bilamana kitab ini dibukakan dari meterainya oleh Singa dari suku bangsa Yehuda itu”. — Christ’s Object Lessons, p. 294.
Apa yang terkandung di dalam kitab itu, kini menjadi jelas sejelas-jelasnya, bahwa ia itu berisikan sejarah dunia dan perbuatan-perbuatan dari semua manusia. Dan tentunya, menurut pengaturan akal sehat bahwa dengan dibukanya kitab itu pemeriksaan Pengadilan terhadap perbuatan-perbuatan umat Allah harus dimulai, sesuai yang diungkapkan sendiri oleh Buku Wahyu itu. Lagi pula, karena baik perkataan maupun simbolisasi dari Buku Wahyu itu menolak setiap interpretasi lainnya terkecuali interpretasi yang dibuat di sini, maka kebenaran segala perkara ini kini berdiri teguh dan pasti.
Oleh sebab itu, maka tempat kesucian (sidang), yaitu tempat yang menampung umat Allah itulah yang kelak akan dibersihkan. Sungguhpun demikian, akhirnya sebagaimana diperlihatkan sebelumnya, maka semua manusia, bahkan orang-orang kapirpun, harus datang ke hadapan meja Pengadilan Allah, di hadapan “Tahta Putih Yang Besar itu”.
Dengan demikian, maka peristiwa itu benar-benar akan jadi “kemudian” dari zaman Yahya, yaitu masa dalam mana akan diperiksa segala perkara yang terjadi sebelum zaman Yahya, dan segala perkara yang akan jadi sesudah zaman Yahya (Wahyu 1 : 19) — yaitu perbuatan-perbuatan dari semua manusia semenjak dari mula pertama sampai kepada akhir dunia.
Secara nubuatan, Pengadilan itu duduk dan kitab-kitab dibuka, tetapi tidak seorangpun di dalam seluruh alam semesta milik Allah yang luas ini berlayak untuk membuka kitab yang tersegel itu, ataupun memandang ke dalamnya, terkecuali Anak Domba itu — yaitu Juruselamat dunia, Raja atas segala raja, Singa dari suku bangsa Yehuda, Raja dan Pembela kita, Alpha Kejadian dan Omega, yaitu Permulaan dan Yang Akhir itu. Demikian itulah, maka sebagai satu-satunya Pembela kita, yaitu Dia yang telah hidup di antara kita, Dia-lah satu-satunya orang yang karena pengalaman pribadi dapat menyajikan secara terbuka dengan penuh pengertian dan simpathi segala rahasia masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang — yaitu satu-satunya orang yang layak untuk membuka kitab itu dan untuk membela manusia yang sudah jatuh.
Pintu yang terbuka pada permulaan dari khayal Yahya itu, menunjuk ke belakang kepada hari Grafirat contoh, yaitu satu-satunya hari sepanjang tahun dalam mana pintu di antara Tempat Suci dan Tempat Yang Maha Suci itu terbuka, sehingga kedua ruangan itu terbentang menjadi satu, dan pada waktu yang sama itu juga pintu sebelah luar ditutup. Demikian itulah, karena yang ditunjukkan permulaan dari Grafirat contoh saingan, maka Yahya telah melihat pintu sebelah dalam itu terbuka, sehingga kedua ruangan itu terbentang menjadi satu.
Dalam Grafirat contoh (yang dahulu) nasib setiap orang di antara umat Allah telah diputuskan untuk selama-lamanya – mereka yang menyesuaikan hidupnya dengan semua tuntutan hukum telah dibiarkan untuk hidup, tetapi orang-orang yang tidak memenuhi semua tuntutan hukum “ditumpas” dari antara orang banyak itu. Demikian itu pula akan harus berlaku dalam Grafirat contoh saingan.
“Dalam upacara contoh (upacara bayangan), hanya orang-orang yang telah datang ke hadapan hadirat Allah dengan pengakuan dan pertobatan, dan yang dosa-dosanya telah dialihkan ke tempat kesucian oleh perantaraan darah dari persembahan dosa, yang memperoleh bagian dalam upacara hari grafirat. Demikian pula dalam hari besar grafirat yang terakhir dan pemeriksaan pengadilan (Pengadilan dari dua persidangan yang pertama yaitu masa untuk memisahkan lalang-lalang dari gandum, ikan-ikan yang jelek dari ikan-ikan yang baik, baik dari antara orang-orang mati maupun dari antara orang-orang hidup – yaitu penuaian), hanya perkara-perkara dari umat Allah yang dipertimbangkan” (The Great Controversy, p. 480), yaitu mereka yang pada satu atau lain kesempatan telah menyambut panggilan dan telah memperoleh hak untuk memakaikan “pakaian kawin”. Dengan demikian pertanyaan berbunyi: Jika Pehukuman itu “pertama dimulai terhadap kita, maka apakah kelak nasib mereka yang tidak mematuhi injil Allah?” 1 Petrus 4 : 17.
Sementara kitab-kitab catatan terbuka di dalam Pengadilan itu, maka kehidupan dari semua orang yang pernah tertangkap oleh “pukat” (sidang) penyelamatan, baik yang baik maupun yang buruk akan datang lewat di hadapan Allah, untuk di sana dipisahkan. Di sana pilihan terhadap masing-masing orang diperiksa dan ditentukan. Sesungguhnya, Pehukuman itu ialah penuaian. Benar, setiap lalang yang akan dicabut dan dipisahkan untuk dibinasakan, dan setiap gandum yang akan ditaruh di dalam “lumbung” (kerajaan) untuk dipakai oleh Tuannya, akan dipisahkan pada hari Grafirat contoh saingan. Dimulai dengan mereka yang pertama hidup di bumi. Pembela kita menyampaikan perkara-perkara dari masing-masing generasi secara berurutan, lalu mengakhiri Pengadilan sebelum seribu tahun millenium itu dengan perkara-perkara dari para anggota sidang yang hidup.
Kemuliaan Allah dilambangkan oleh kemuliaan yang sama dari batu-batu mulia. Dan pelangi di atas tahta Pengadilan-Nya itu mengungkapkan janji-Nya yang tak pernah gagal dan kemurahan-Nya yang besar. lni diberitahukan-Nya kepada Nuh sewaktu la mengumumkan:
“Inilah tanda perjanjian yang Ku buat di antara Aku dan kamu dan setiap mahluk yang hidup yang menyertaimu, turun-temurun sampai selama-lamanya: bahwa Ku taruh pelangi-Ku di dalam awan-awan, maka ia itu akan menjadi tanda perjanjian di antara Aku dan bumi ….. Maka Aku akan ingat akan perjanjian-Ku yang di antara Aku dengan kamu dan setiap mahluk yang hidup dari pada segala yang berdaging; maka segala air itu tidak akan lagi menjadi air bah untuk membinasakan segala yang berdaging”. Kejadian 9 : 12, 13, 15.
Kehadiran Anak Domba itu di hadapan tahta memberi jaminan bagi kita bahwa “jika seseorang berdosa, maka kita mempunyai seorang Pembela bersama-sama dengan Bapa, yaitu Yesus Kristus kebenaran itu”. 1 Yahya 2 : 1.
Tujuh tanduk kepunyaan Anak Domba itu menunjukkan kelengkapan kekuatan dan kekuasaan, yang dalam jaminannya Kristus mengatakan: “Segala kuasa dikaruniakan kepada-Ku di dalam sorga maupun di bumi”. Matius 28 : 18. Kuasa-Nya yang tak terbatas itu adalah bagi kebaikan kita, dan bagi kegunaan kita. Ia menegaskan: “Jika kamu memiliki iman sebesar sebutir benih sesawi, maka kamu akan mengatakan kepada gunung ini, Pindahlah engkau ke sana; maka ia itu akan pindah; dan tak ada satupun yang mustahil bagimu”. Matius 17 : 20.
Tujuh mata milik Anak Domba itu menunjukkan bahwa segala perkara adalah terbuka dan telanjang bagi-Nya. Pemazmur bertanya: “Kemana gerangan aku harus pergi dari pada Roh-Mu? Atau kemanakah aku harus lari dari pada kehadiran-Mu? Jikalau kiranya aku naik sampai ke dalam langit”, katanya, “Engkau ada di sana; jikalau kiranya aku membuat tempat tidurku di dalam neraka, heran, Engkau ada di sana. Jika sekiranya aku mengambilkan sayap-sayap fajar pagi, lalu tinggal pada hujung-hujung laut yang terjauh sekalipun; disanapun tangan-Mu kelak akan memegang aku. Jikalau kiranya kataku, Pasti kegelapan akan menudungi aku; bahkan malam itupun akan kelak menjadi terang mengelilingi diriku. Sesungguhnya kegelapan tidak dapat menyembunyikan dari pada-Mu; melainkan malam akan bercahaya seperti siang hari; kegelapan maupun terang akan sama saja keduanya bagi-Mu.” Mazmur 139 : 7 – 12.
Benar, tujuh “tanduk” simbolis, “mata”, dan “pelita-pelita api” itu sesungguhnya adalah “tujuh Roh Allah itu”, yaitu pekerjaan Roh dalam semua tahap, yang diutus ke dalam seluruh bumi untuk memberikan kepada orang-orang suci kuasa melawan bala tentara iblis, juga terang atas Injil Kristus, yaitu suatu khayal mengenai keadaan mereka yang sekarang dan mengenai kemuliaan masa depan mereka, dan seterusnya. Karena jaminan Juru-selamat berbunyi: “Adalah perlu bagimu bahwa Aku ini pergi, karena jika tidak Aku pergi, maka Penghibur itu tidak akan datang kepadamu; tetapi jika Aku pergi, Aku akan mengutus-Nya kepadamu”. Yahya 16 : 7. ”Tetapi Penghibur itu, yaitu Rohulkudus, yaitu Dia yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Ia akan mengajarkan kamu segala perkara, dan menghantarkan segala perkara ke dalam ingatanmu, apapun yang telah Ku katakan kepadamu”. Yahya 14 : 26. Jadi jelaslah, bahwa perkara-perkara apapun yang tidak diajarkan dan diinterpretasikan sendiri oleh Ilham, maka sekaliannya itu tidak patut untuk diingat, untuk diajarkan, ataupun untuk didengarkan.
Pelita-pelita api itu karena tujuh jumlahnya, maka sekaliannya itu tentu hanya dapat melambangkan sidang yang senantiasa hidup (Wahyu 1 : 20) yang berpakaian terang dari seluruh Kebenaran Allah — yaitu ajaran kebenaran sekarangnya kepada masing-masing generasi secara berurutan semenjak dari permulaan dunia, oleh kebenaran mana perbuatan-perbuatan dari masing-masing generasi itu diperiksa dan diadili, kebenaran masing-masing orang ditimbang.
Maka bagi seseorang untuk menolak apakah itu kuasa Roh, atau khayal, atau terang, sesungguhnya adalah berdosa melawan Rohulkudus, maka “ia itu tidak akan diampuni, baik di dunia ini, maupun di dalam dunia yang akan datang”. Matius 12 : 32. Di dalam pengadilan itu orang yang sedemikian ini tentu sekali akan didapati kurang.
Mengenai lautan kaca itu, di dalam kata-kata Daniel ia itu adalah “suatu aliran sungai api,” sebaliknya di dalam kata-kata Yahya ia itu adalah “suatu laut kaca yang bercampur dengan api”. Aliran sungai api ini yang datang dari tahta pengadilan sementara, dan Sungai Hayat yang dari tahta administrasi yang kekal itu (Wahyu 22 : 1), dalam beberapa pandangan tak dapat tiada harus melambangkan sesuatu yang biasa bagi kedua tahta itu. Maka apakah itu sebenarnya? — Jika sungai itu bersama-sama dengan pohan hayat adalah suatu lambang pokok yang mengabadikan kehidupan, maka lautan itu ialah suatu lambang dari adanya kehidupan kekal, sebab “lautan” ialah gudang, atau sumber dari semua air — ia mempertahankan sungai-sungai itu tetap mengalir.
“Api” ialah suatu lambang yang tepat bagi kehidupan, dan “lautan” suatu lambang yang tepat bagi kekekalan, menunjukkan bahwa keduanya ini, kehidupan dan kekekalan, datang dari tahta Allah saja.
“Jernih seperti kristal”, tentu menunjukkan bebas dari segala cacad cela. Karunia-karunia ini, yang tanpa ikut sertanya semua yang lainnya akan hilang, adalah diberikan dengan cuma-cuma kepada semua orang yang dosa-dosanya akan dibersihkan dalam darah Anak Domba yang mahal itu, yaitu darah Juruselamat, Perantara di antara Allah dan manusia.
“Maka kelak tidak akan lagi masuk ke dalam (negeri itu) sesuatu perkara yang mencemarkan, ataupun apa saja yang berbuat kekejian, atau berbuat dusta; terkecuali mereka yang tertulis namanya di dalam Kitab Hayat Anak Domba”. Wahyu 21 : 27.
Jelaslah, bahwa semua orang yang memperoleh kemenangan “atas binatang itu, dan atas patungnya, dan atas tandanya, dan atas angka bilangan namanya,” menerima pahala mereka — yaitu “berdiri di atas laut kaca”.
Pemecahan berturut-turut tujuh meterai itu berikut masing-masing isinya, masing-masing mengungkapkan bahwa sejarah manusia dibagi dalam tujuh masa periode yang berbeda-beda.
Kini Kebenaran mengungkapkan, bahwa dengan dipecahkan meterai yang pertama — yaitu dengan dibukanya bagian kitab itu yang pertama — Pengadilan itu dimulai. Ia itupun dengan sendirinya terbukti bahwa pada tahta Pengadilan Allah itu, di dalam tiga persidangannya, simbol Wahyu Tuhan melukiskan bangsa-bangsa dan orang-orang banyak, orang-orang suci dan orang-orang berdosa, sidang-sidang dan pemimpin-pemimpin sidang, Setan dan malaikat-malaikatnya, — di masa lalu, di waktu ini, dan dalam masa yang akan datang. Dengan demikian “semua kitab dari Alkitab itu bertemu dan berakhir di dalam kitab Wahyu”. — The Acts of the Apostles, p. 285.
Maka sekarang untuk melanjutkan penyelidikan terhadap masalah itu, adalah lebih baik diingat, bahwa sesuatu interpretasi injil yang gagal membangun dengan cocok suatu struktur kebenaran yang kukuh dan membawakan suatu pelajaran yang khusus penting bagi masa dimana ia itu disajikan, maka itu adalah keliru, tidak diilhami oleh Roh Kebenaran — suatu perkara yang sia-sia.
Lagi pula, karena informasi yang tegas di dalam lembaran halaman-halaman ini dan penjelasan injil yang seimbang dibicarakan di sini tidak mungkin dapat diabaikan oleh siapapun yang jujur terhadap dirinya, maka tak dapat tiada demi bagi kepuasan mereka landasan bagi aplikasi “perkara-perkara” yang dilihat oleh Yahya itu telah dibangun dengan kukuh.
Injil sebagaimana diketahui oleh setiap penyelidik Alkitab adalah dimaksudkan untuk menjadi kebenaran sekarang pada masa-masa tertentu — “makanan pada waktunya”, terutama disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan umat. “Sekarang segala perkara ini telah berlaku atas mereka itu untuk menjadi teladan; maka sekaliannya itu telah ditulis bagi nasehat kita terhadap siapa akhir dunia akan datang”. 1 Korinthi 10 : 11. Dengan kata lain, Injil adalah sama dengan surat obligasi jangka panjang, atau surat-surat berharga, yang akan berlaku pada sesuatu masa tertentu. Jadi jelaslah, bahwa masa yang ditentukan oleh Ilham itu adalah seolah-olah masa dimana seseorang harus menguangkan surat-surat berharga itu.
Hal ini adalah terutama tepat dengan buku Wahyu, maka karena kita telah sampai pada masa itu untuk mana Wahyu ditulis, maka dapatlah kita sekarang oleh pengalaman mengucapkan kembali dengan sepenuh hati dan tanpa ragu-ragu: “Berbahagialah orang yang membaca, dan mereka yang mendengarkan semua perkataan nubuatan ini, lalu mempertahankan segala perkara yang tertulis di dalamnya; karena masanya sudah dekat.” Wahyu 1 : 3.
Sekarang setelah melewati penjelasan-penjelasan pendahuluan ini, maka penyelidik Kebenaran tambahan harus bersiap-siap untuk menyelidiki buku Wahyu dengan penuh pengertian terhadap perkara-perkara yang akan menyediakan jalan dan akan memungkinkan dia untuk memahami dengan sejujurnya, bahwa sekaranglah masa itu sudah dekat sekali, sehingga pengetahuan terhadap buku Wahyu akan memungkinkan dia dapat tahan berdiri dalam “Hari Tuhan Yang Besar Dan Mengerikan Itu”. Ia harus mampu melihat, bahwa sekaranglah waktunya baginya untuk memanfaatkan pengetahuan tentang “segala perkara itu” yang tidak mungkin diberitahukan sebelum,
240 total, 1 views today


