<< Go Back
Pemecahan Tujuh Meterai Itu
“Maka aku tampak sewaktu Anak Domba itu membuka salah satu dari meterai-meterai itu, lalu kudengar salah satu dari empat binatang itu berkata seperti bunyi guntur: ‘Marilah dan lihatlah.!’ Maka aku tampak, dan tengoklah, seekor kuda putih, dan dia yang duduk di atasnya itu memiliki sebuah anak panah; maka sebuah mahkota dikaruniakan kepadanya, lalu keluarlah ia dengan kemenangan dan untuk memenangkan lagi.
“Maka setelah Ia membukakan meterai yang kedua, aku dengar binatang yang kedua itu mengatakan: “Marilah dan lihatlah!” Dan keluarlah seekor kuda lain yang merah warnanya; maka kepada orang yang duduk di atasnya itu dikaruniakan kuasa untuk mengambil perdamaian dari bumi, sehingga orang berbunuh-bunuhan; dan sebilah pedang yang besar dikaruniakan kepadanya.
“Maka setelah Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga aku dengar binatang yang ketiga itu mengatakan: ‘Marilah dan lihatlah!’ Dan aku tampak adalah seekor kuda hitam, dan orang yang duduk di atasnya itu memiliki sepasang neraca timbangan di dalam tangannya. Maka aku dengar suatu bunyi ditengah-tengah empat binatang itu mengatakan: ‘Secupak gandum sedinar harganya; dan tiga cupak jelai sedinar harganya; tetapi perhatikanlah olehmu agar minyak dan air anggur jangan kau rusakkan.
“Maka setelah ia membukakan meterai yang keempat aku dengar suara binatang yang keempat itu mengatakan: ‘Marilah dan Iihatlah!’ Maka aku tampak ada seekor kuda kelabu, dan orang yang duduk di atasnya itu Maut namanya, maka Neraka itu mengikuti sertanya. Maka kuasa dikaruniakan kepada k e d u a n y a atas seperempat bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan, dan dengan kematian, dan dengan segala binatang yang di bumi”. Wahyu 6 : 1 – 8.
Melihat akan kenyataan bahwa meterai-meterai itu berisikan sejarah dunia, maka warna yang berbeda-beda dari keempat ekor kuda itu — putih, merah, hitam, dan kelabu — menggambarkan secara pasti empat kondisi yang berbeda-beda, yang satu menyusul yang lainnya.
Kemudian juga, mahkota dari pengendara kuda yang pertama, dan pedang dari pengendara kuda yang kedua, juga neraca timbangan dari pengendara kuda yang ketiga, dan nama M a u t pada pengendara kuda yang keempat, — keempatnya dalam suatu cara sederhana seperti yang dapat digambarkan oleh simbol Ilahi mengungkapkan bahwa oleh perbuatan-perbuatan manusia dunia telah beralih dari yang baik menuju kepada yang buruk, kemudian dari yang buruk menuju kepada yang terburuk, dan bahwa manusia perlu dibantu keluar dari kejahatannya, perlu dididik kembali sesuai dengan kehendak Khaliknya. Sungguhpun demikian, ungkapan kehendak Allah itu hanya akan menjadi jelas sejauh kesediaan seseorang untuk melepaskan teori-teorinya dan kemauan pribadinya.
Musa menemukannya seribu kali lebih mudah untuk memimpin orang banyak itu keluar dari Mesir, daripada memimpin Mesir keluar dari mereka itu.








Karena memperoleh manfaat dari berbagai macam halangan mereka itu, karena melepaskan setiap teori dan semua kehendak sendiri dengan segera, maka bukannya menempuh empat puluh tahun atau pun empat puluh hari, melainkan tanpa memiliki keragu-raguan yang sama Kaleb dan Yusak zaman ini akan melihat bahwa oleh kuda-kuda itu telah dilukiskan sesuatu yang diciptakan Allah tetapi diperintah (dikendalikan) oleh manusia. Maka bukankah itulah bumi yang merupakan karunia kuasa manusia untuk memerintahnya?
Jadi, tegasnya, bahwa apapun yang lainnya yang mungkin dapat digambarkan oleh lambang (kuda-kuda dan penunggang-penunggang) itu, ia itu tentunya mengungkapkan bahwa penyimpangan manusia dari kuasanya telah merendahkan tabiatnya sendiri, telah menyebabkan dia kehilangan mahkota karunia Allahnya berikut kuda putihnya, kebenaran dan kedamaian pemerintahannya; artinya apa yang pada mulanya adalah murni, “putih”, tanpa cacad noda, telah dibuat oleh manusia menjadi tidak murni, kejam dan penuh pertikaian, bersifat menguasai dan suka membunuh.
Sementara dosa terus berlipat ganda meningkat, maka kutuk demi kutuk terus dipertambahkan, sehingga akibatnya kuda putih itu diganti oleh kuda merah, kuda merah diganti oleh kuda hitam, dan kuda hitam diganti oleh kuda kelabu.
Kini untuk menyelidiki kebenaran dari semua yang terkandung di dalam masing-masing meterai itu, yaitu perkara-perkara yang dibawakan oleh kitab yang termeterai itu ke hadapan perhatian sidang Pengadilan yang mengelilingi tahta dari Dia Yang Tiada Berkesudahan HariNya itu, dan kepada perhatian kita yang membaca dengan pikiran terbuka dalam usaha mencari kebenaran yang menyelamatkan, maka kita mulai dengan:
280 total, 1 views today


