<< Go Back
Lambang Dari Meterai Yang Pertama
“Maka aku tampak sewaktu Anak Domba itu membuka salah satu dari meterai-meterai itu, maka ku dengar salah satu dari keempat binatang itu berkata seperti bunyi guntur: ‘Marilah dan lihatlah!’ Maka aku tampak, dan tengoklah, seekor kuda putih; dan dia yang duduk di atasnya itu memiliki sebuah anak panah; maka sebuah mahkota dikaruniakan kepadanya; lalu keluarlah ia dengan kemenangan dan untuk memenangkan lagi”. Wahyu 6 : 1, 2.


Pada dasarnya, meterai yang pertama, yaitu meterai dengan mana sidang Pehukuman itu dimulai, harus berisikan perkara-perkara yang ada sejak masuknya manusia pada mulanya. Jadi, dapatlah dimengerti, bahwa kuda putih itu, yaitu yang pertama dalam simbol itu, adalah sama dengan keadaan dunia yang pertama sekali — bersih dan tidak berdosa dengan seorang raja (penunggang) bermahkota yang dikaruniai Ilahi, yang untuk pertama kali tidak mempunyai tujuan apapun terkecuali menundukkan bumi dan mengisinya dengan mahluk-mahluk yang kekal seperti Allah. Bumi itu sendiri adalah terbungkus dalam suatu selimut keindahan dan kebersihan, berikut semua keajaiban di darat dan di dalam lautan. Tidak ada satupun yang kurang.
Di dalam Taman Eden “terdapat pohon-pohonan dari berbagai bentuk, banyak dari padanya dibebani dengan buah yang enak dan menarik. Terdapat di sana pokok-pokok anggur yang menarik……yang menyajikan wajah kehadiran yang sangat menyenangkan, berikut tangkai-tangkainya yang menjalar di bawah beban buahnya yang mempesona dengan beraneka ragam warna-warni yang sangat bervariasi”. — Patriarchs and Prophets, p. 47.
Bumi dalam masa kemudaannya itu dipenuhi dengan kembang-kembang yang enak menawan dan ditutupi dengan suatu permadani kehijauan yang hidup, terbentang melalui seluruh langit yang biru, memamerkan kecantikan dan kerapihan alami yang sedemikian rupa sehingga tak ada bahasa yang mampu melukiskannya. Suatu keajaiban hidup tanpa cela, yang hanya Seniman Agung yang besar itulah yang dapat membuatnya.
Oleh sebab itu, maka penunggang berikut kuda putihnya itu (raja yang dimahkotai Allah, Adam, berikut pemerintahannya yang damai, kuda putihnya), adalah yang pertama sekali akan ditimbang pada neraca-neraca timbangan, yang pertama sekali datang lewat di hadapan Tahta Pengadilan itu. Sebab itu, kita kembali diingatkan bahwa peristiwa pemeriksaan-tabiat ini, yaitu Pehukuman, adalah perkara yang terpenting yang akan jadi “kemudian” dari zamannya Yahya, bertahun-tahun lamanya sesudah abad yang pertama dari sejarah Kristen.
Mahkota penunggang itu dan panahnya mengingatkan kepada. jabatan yang pertama sekali diisi manusia segera setelah Allah berfirman: “Marilah kita membuat manusia dalam bentuk Kita, mengikuti kesamaan Kita: dan biarlah mereka itu memiliki pemerintahan atas ikan-ikan di laut, dan atas unggas-unggas di udara, dan atas setiap binatang melata yang melata di atas bumi”. Kejadian 1 : 26. Maka Allah memberkati Adam dan Hawa, dan kepada mereka Allah berfirman: “Berbiaklah, dan berlipat gandalah kamu, dan penuhilah bumi itu, dan taklukkanlah dia,” memenangkannya, Kejadian 1 : 28.
Jelaslah bahwa pada Tahta Pengadilan itu, kuda putih, pengendara, dan mahkotanya, secara simbolis adalah sama dengan Adam, raja ciptaan Allah itu berikut kerajaannya. Maka jika sekiranya satu-satunya perkara yang diperintahkan kepadanya untuk dimenangkan olehnya adalah bumi, dengan cara memenuhi dan mengalahkannya, maka apa lagi lainnya yang dapat dilambangkan oleh “a n a k p a n a h” itu, yaitu alat yang digunakan untuk mengalahkan bumi, kalau bukan Hawa?
Generasi berikutnya yang dipanggil untuk mempertanggungjawabkan iman dan kesetiaan mereka, akan dibuka dalam
229 total, 1 views today


