<< Go Back
Lambang Dari Meterai Yang Kedua
“Maka setelah ia membuka meterai yang kedua, aku dengar binatang yang kedua itu mengatakan: “Marilah dan lihatlah !” Dan keluarlah seekor kuda lain yang merah warnanya; maka kepada orang yang duduk di atasnya itu dikaruniakan kuasa untuk mengambil perdamaian dari bumi, sehingga orang berbunuh-bunuhan: dan sebilah pedang yang besar dikaruniakan kepadanya”. Wahyu 6 : 3, 4.
Karena kuda putih berikut penunggangnya yang bermahkota itu melambangkan periode sejarah manusia yang pertama, maka kuda merah berikut pengendara pembunuh dan perusak perdamaiannya itu, tak dapat tiada harus melambangkan periode sejarah berikutnya, yaitu periode sejarah dimana pembunuhan dan peperangan untuk pertama kalinya pecah.
Habil, tentunya, adalah korban yang pertama. Maka sebagai akibatnya, seluruh dunia di zaman Nuh telah dibinasakan oleh air bah, dan “suatu kutuk yang ketiga yang mengerikan telah berlaku atasnya sebagai akibat dari pada dosa”, — Patriarchs and Prophets, p. 107.


Walaupun adanya hukuman ini berikut objek pelajarannya, namun segera setelah penduduk bumi kembali meningkat berlipat ganda banyaknya sesudah air bah itu, maka dosa pun ikut meningkat berlipat ganda. Dan walaupun orang banyak itu tak dapat berbuat lain selain mengakui akan kebenaran ramalan Nuh mengenai air bah itu, namun mereka tetap saja tidak mempercayainya dalam ramalan berikutnya; yaitu ramalan yang mengatakan bahwa tidak akan ada lagi “air bah membinasakan bumi”. Kejadian 9 : 11. Bahkan pelangi di dalam awan-awan, yaitu tanda alamat milik Tuhan mengenai janji-janji-Nya untuk tidak lagi membanjiri bumi dengan air bah pada kedua kalinya, itupun gagal untuk menginsyafkan mereka.
Betapa rahasianya dosa itu sesungguhnya! Pertama sekali mereka tidak mau percaya bahkan pada kemungkinan datangnya air bah, dan berikutnya mereka tidak mau percaya pada ketidakmungkinnya datang sesuatu air bah. Sesungguhnya, penilaian terhadap orang-orang yang tidak percaya adalah sama saja bodohnya dengan penilaian terhadap seorang wanita desa yang setelah pertama kali ia melihat sebuah kereta api diam di atas relnya, maka dengan tegas ia menyatakan: “Kereta itu tidak akan pernah berjalan!” Kemudian setelah ia melihat kereta itu berjalan, maka kembali ia menyatakan dengan tegas sama seperti pada sebelumnya: “Kereta itu tidak akan pernah berhenti!” Demikianlah selagi roh tidak percaya terhadap FIRMAN masih selalu melumpuhkan pikiran dan merendahkan tubuh kepada dosa dan kebusukan, maka sekalipun dalam zaman sewaktu orang-orang masih kukuh kuat dan panjang umurnya, roh yang sama itu pun masih tetap memiliki pegangan yang jauh lebih besar atas manusia di waktu ini.
Gantinya membebaskan mereka itu dari pada ketakutan, Firman Allah yang diucapkan oleh perantaraan Nuh itu malahan telah mendorong orang-orang sesudah air bah itu untuk merasa bahwa ada suatu kebutuhan yang tak dapat dihindari, yaitu mendirikan tugu Babil sebagai pertahanan menghadapi sesuatu air bah yang kedua. Namun, karena ketidak percayaan dan ketakutan mereka yang palsu itu tidak berkenan kepada-Nya, maka Tuhan telah menunjukkan ketidak-puasan-Nya dengan cara mengganggu proyek pembangunan mereka yang jahat dan bodoh itu sebagai berikut: Ia membinasakan tugu mereka itu dan Ia mengacaukan bahasa mereka. Demikianlah halnya bahwa kekacauan di Babil itu (Kejadian 11 : 8, 9) telah melahirkan suku-suku bangsa dan bahasa-bahasa yang ada sekarang.
Akhirnya, sementara para tukang yang kacau-balau itu memisahkan diri berkelompok-kelompok, maka orang-orang yang saling bertetangga mulailah bersengketa satu dengan yang lainnya. Dan setelah sekian lamanya mereka bertumbuh menjadi bangsa-bangsa, maka pertikaian-pertikaian mereka itu pun bertumbuh menjadi peperangan-peperangan. Oleh sebab itu, kebenaran sejarah yang menyatakan bahwa semua peperangan itu untuk pertama kalinya pecah sesudah kekacauan bahasa-bahasa, menunjukkan bahwa kuda merah itu dan penunggangnya pada khususnya, menggambarkan periode sejarah dimana tugu Babil itu dimusnahkan dan dimana perdamaian membuka jalan bagi peperangan-peperangan.
Lagi pula, suatu tali jangkar yang lain bagi pembuktian ini, ialah kalimat yang mengatakan: “Untuk mengambil perdamaian dari bumi”, karena ini jelas mengandung arti, bahwa perdamaian itu memang ada sebelum waktu itu.
Walaupun demikian, segala akibat dari dosa Adam tidak saja berhenti dengan tindakan pembinasaan nyawa dan harta yang sedemikian ini seperti halnya peperangan. Ia itu telah menghantarkan semua keturunannya kepada kemerosotan derajat manusia yang lebih parah lagi, bahkan kepada penyembahan berhala, kepada pembinasaan jiwa-jiwa melalui perantaraan agama, yang dalam drama dosa telah diungkapkan dalam:
286 total, 1 views today


