<< Go Back
Lambang Dari Meterai Yang Ketiga
”Maka setelah Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga aku dengar binatang yang ketiga itu mengatakan: “Marilah dan lihatlah!” Maka aku tampak adalah seekor kuda hitam, dan orang yang duduk di atasnya itu memiliki sepasang neraca timbangan di dalam tangannya. Maka aku dengar suatu bunyi suara di tengah-tengah keempat binatang itu mengatakan: ‘Secupak gandum sedinar harganya, dan tiga cupak jelai sedinar harganya; tetapi perhatikanlah olehmu agar minyak dan air anggur jangan kau rusakkan.” Wahyu 6 : 5, 6.
Sebagaimana sudah kita lihat, kuda putih itu melambangkan pemerintahan manusia atas bumi selagi bumi masih bersih dan bebas. Maka sekarang karena hitam adalah lawan kata dari pada putih, maka kuda hitam itu tak dapat tiada harus melambangkan pemerintahan manusia dalam kegelapan rohani dan perhambaan — suatu kondisi yang berlawanan terhadap apa yang dilambangkan oleh kuda putih itu.


Ini dikuatkan oleh sejarah: Bahkan jauh ke belakang sejauh zaman Ibrahim, yaitu hanya kira-kira tiga ratus tahun sesudah air bah itu, penyembahan berhala telah merajalela menguasai penduduk dunia. Pada waktu itulah maka Ibrahim telah meninggalkan Haran, rumah dan negeri ayahnya (Kejadian 11 : 31; 12 : 1). Semua keturunannya, yaitu Israel, akhirnya telah menjadi budak kepada Phiraun, dan kemudian kepada Nebukhadnezzar, Raja dari Babilon.
Sepasang neraca timbangan di dalam tangan penunggang kuda itu seharusnya bahkan lebih pasti menunjuk kepada masa periode ke dalam mana akan dicapai oleh kuda hitam itu dan penunggangnya dan yang dilambangkan oleh keduanya. Seperti yang sudah kita lihat, panah dari penunggang kuda yang pertama melambangkan alat dengan mana Adam menaklukkan bumi (karena semua keturunan manusia berasal dari dia) ; dan pedang dari penunggang kuda yang kedua melambangkan alat dengan mana orang-orang keturunan dari Adam telah mengambil perdamaian dari bumi. Dengan cara yang sama pun, neraca-neraca timbangan dari penunggang kuda yang ketiga itu tak dapat tiada melambangkan apa yang berikutnya diperkenalkan oleh manusia. Dan apakah selain jenis-jenis perdagangan yang dapat digambarkan oleh simbol ini? Setiap orang dapat cepat mengetahui, bahwa seseorang dengan sepasang neraca timbangan tak dapat tiada harus melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pembelian dan penjualan.
Di zaman Ibrahim hubungan dagang di antara bangsa-bangsa belum dikenal. Tetapi selama masa periode berikutnya, yaitu periode yang dilambangkan oleh kuda hitam itu, ide ini telah lahir. Pada waktu itulah kemudian Sidon dan Tyre telah menjadi pusat-pusat perdagangan yang utama. Maka Ilham mengemukakan pertanyaan ini: “Siapakah yang telah membicarakan ini menentang Tyre (Tsur), kota yang dimahkotai itu, yang para saudagarnya adalah bagaikan penghulu-penghulu, yang para pedagangnya adalah orang-orang yang dihormati di bumi?” Yesaya 23 : 8 (Terjemahan yang lebih tepat).
Tyre, kota ratu dari orang-orang Phenicia itu adalah hanya dekat jaraknya dari kota Sidon. “Berangsur-angsur mereka menyebarkan daerah-daerah perdagangannya meliputi seluruh Laut Tengah, bahkan sampai masuk ke tanah-tanah yang lain, senantiasa mencarikan daerah-daerah Perdagangan yang baru dan pusat-pusat pasar. Mereka adalah bagaikan lebah-lebah dari dunia kuno yang lalu yang membawakan butir-butir sari kebudayaan kemana-mana saja mereka itu pergi, Kebutuhan-kebutuhan dagang dan jual beli telah mendorong mereka untuk menyempurnakan suatu alphabet, dan dari merekalah dunia barat telah memperolehnya. Dalam beberapa hal mereka adalah unik sekali dalam dunia kuno yang lalu, dan keadaan yang menonjol ini telah terkubur bersama-sama dengan mereka, Karena mereka tidak berminat dalam kemenangan-kemenangan perang, terkecuali perdagangan saja; maka mereka tidak segan-segan untuk membayar upeti kepada penguasa-penguasa militer selama penguasa-penguasa itu tidak mencampuri dalam hak-hak perdagangan mereka. Mereka memiliki suatu kemampuan yang sama seperti orang-orang Gerika untuk berasimilasi dengan siapa saja apakah itu Mesir, Babilonia, Asyur, Persia, ataupun sesuatu tahap peradaban lain yang ditawarkan kepada mereka. Tetapi kesenangan utama mereka terletak dalam mencipta, keahlian teknik, kegiatan usaha, dan dalam bidang industri. Dalam pekerjaan besi, emas, tembikar, gelas, dan cat pewarna ungu, mereka dalam dunia kuno yang lalu tidak ada tandingannya.
“…… Melalui kota-kota mereka mengalir banyak barang-barang dagangan Arab dan Timur yang sangat menguntungkan; dan para penghasil barang-barang mereka itu terus sibuk memproduksi hasil-hasil mereka yang berupa barang-barang logam, gelas, dan cat berwarna ungu. Melalui lautan dan daratan mereka itu membuat perjalanan kemana-mana — yaitu misi-misi dagang — ahli-ahli penawaran dari Dunia Kuno yang lalu”, — ESSENTIAL KNOWLEDGE, The Phoenicians, vol. 1, pp. 69, 70.
Perintah yang berbunyi: ”Minyak dan air anggur itu jangan kau rusakkan,” datang dari tengah-tengah tahta, yaitu dan Dia Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya, bukan dari penunggang kuda itu. Oleh sebab itu, maka kedua barang dagangan itu, minyak dan air anggur, bukan saja melambangkan sesuatu yang hanya dapat diciptakan oleh Allah, melainkan juga itulah yang Ia bertekad untuk melindungi karena orang-orang jahat hendak membinasakannya; sehingga dengan demikian perlu bagi-Nya untuk mengeluarkan perintah menghalangi siapapun yang mengganggu keduanya. Dan barang-barang dagangan kerohanian lain apakah yang sedemikian ini yang dapat dilambangkan oleh minyak dan air anggur pada masa yang tentu itu — yaitu masa periode dari kuda hitam itu, kaIau bukan melambangkan hasil-hasil yang dilahirkan oleh Alkitab pada waktu itu? Lagi puIa, merupakan kenyataan yang diterima oleh hampir semua penyelidik Alkitab bahwa “minyak” melambangkan kebenaran nubuatan, yaitu kebenaran yang melemparkan terang kepada masa depan, yang menerangi jalan orang yang membuat perjalanan (Mazmur 45 : 7; Zakharia 4 : 12); dan air anggur melambangkan bagian kebenaran yang membuat orang yang menerimanya itu gembira, membuat dia bertindak berbeda daripada sebelumnya (Yesaya 61 : 1 – 3).
Untuk memperincinya, maka adalah jelas bahwa perintah yang berbunyi: ”Minyak dan air anggur jangan kau rusakkan”, melarang orang mengganggu tulisan-tulisan Injil, kembali menunjukkan bahwa pemecahan meterai yang ketiga itu mengungkapkan masa periode dimana alphabet (abjad) telah diciptakan dan dimana asal mulanya pengetahuan perdagangan datang; masa periode dimana Alkitab ditulis, dan dimana bangsa yang satu mengalahkan bangsa yang lainnya; masa periode yang telah melahirkan Kerajaan-Kerajaan dunia.
Sebab itu, maka sementara sejarah Wasiat Lama berakhir dengan meterai yang ketiga, maka permulaan sejarah Wasiat Baru diungkapkan dalam
265 total, 1 views today


