<< Go Back
Lambang Meterai Yang Keenam
“Maka aku tampak setelah Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, maka heran, terjadilah suatu gempa bumi yang besar, dan matahari menjadi hitam seperti suatu kain kabungan dari pada rambut, dan bulan menjadi seperti darah, dan bintang-bintang di langit berguguran ke bumi seperti pohon ara meluruhkan buah-buah busuknya apabila ia itu digoncangkan angin yang keras.” Wahyu 6 : 12, 13.


Adalah salah satu dari kepercayaan-kepercayaan dasar Organisasi Gereja bahwa nubuatan-nubuatan dari meterai yang keenam itu mulai digenapi dengan gempa bumi Lisabon yang besar yang terjadi pada 1 November 1755. Menyusul gempa bumi itu, yaitu pada 19 Mei 1780, matahari telah digelapkan, dan bulan telah terlihat seperti darah pada malam berikutnya. Kemudian datang “berguguran bintang-bintang”, yaitu hujan meteor yang besar yang terjadi pada 13 November 1833 (The Great Controversy, pp. 304 – 309, 333, 334).
Sambil memandang ke depan kepada semua pameran demonstrasi yang di langit ini (tanda-tanda zaman itu), maka Yesus mengamarkan bahwa semuanya itu akan muncul “segera sesudah masa aniaya itu” berakhir (Matius 24 : 29). Dengan demikian, maka sementara perdamaian, peperangan-peperangan, perdagangan, naskah tulisan, dan aniaya, merupakan tanda-tanda zaman dan petunjuk mengenai lima meterai yang pertama, maka dalam cara yang sama gempa bumi itu, hari gelap, dan hujan meteor itu juga merupakan tanda-tanda zaman dan petunjuk mengenai meterai yang keenam.
Tetapi gangguan-gangguan bumi ini berikut pameran-pameran langit yang terjadi di antara tahun 1755 dan tahun 1833 itu, di dalamnya sendiri pun, tampak merupakan ramalan-ramalan dari hal perkara-perkara yang akan jadi selama “hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu”. Sekiranya ini benar, maka gempa bumi itu membayangkan kegoncangan yang akan datang, yaitu penyaringan di antara bangsa-bangsa, seperti yang diramalkan oleh para nabi berikut ini:
“Bahwa sesungguhnya, nama Tuhan itu datang dari jauh, bernyala-nyala dengan murka-Nya, dan bebannya itu berat sekali; Bibir-Nya penuh dengan geram, dan lidah-Nya seperti suatu api yang memakan habis; dan napas-Nya, seperti suatu aliran sungai yang meluap airnya, akan sampai ke tengah-tengah leher, untuk menyaring bangsa-bangsa dengan saringan kebinasaan; maka akan terdapat suatu kekang di dalam rahang orang banyak itu, yang membuat mereka itu keliru”. ”Maka pohon-pohon ara akan digoncangkan dengan amat sangat”. Yesaya 30 : 27, 28; Nahum 2 : 3.
Kegelapan matahari itu akan memperlihatkan berakhirnya injil, yaitu berakhirnya masa kasihan, yaitu masa apabila orang “akan berlarian ke sana ke mari mencarikan Firman Tuhan, tetapi tidak akan menemukannya”. “Karena, sesungguhnya, kegelapan akan menutupi bumi, dan kegelapan yang pekat menutupi orang banyak itu”. Amos 8 : 12; Yesaya 60 : 2.
Bulan, digabungkan dengan matahari, merupakan suatu simbol yang tepat cocok bagi sidang, yaitu perantara yang olehnya Firman Allah sebagai terang dunia dipantulkan. Berubahnya bulan menjadi seperti darah segera menyusul gelapnya matahari itu, sehingga menolak memantulkan terang, akan merupakan suatu pertanda yang tepat dari hal sidang mengakhiri tugas penyelamatannya, sehingga tidak perlu lagi memantulkan Terang injil. Dan sidang itu sendiri tentunya pada waktu itu telah diisi dengan kehidupan yang kekal, telah dilepaskan dari kebinasaan seperti halnya anak-anak sulung di dalam rumah-rumah tinggal di mana ambang-ambang pintu mereka telah dilaburi darah korban pada sore hari Paskah di negeri Mesir itu.
Bintang-bintang yang berguguran itu merupakan tanda dari hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu — yaitu hari dimana “segala langit …. akan berlalu” (2 Petrus 3 : 10), hari dimana semua penghuninya akan dibubarkan, dan dimana Iblis berikut malaikat-malaikatnya, juga semua orang jahat di dalam sidang maupun di dunia, “akan berjatuhan seperti daun yang jatuh dari pokok anggur, dan seperti suatu buah ara yang jatuh dari batangnya.” Yahya 34 : 4.
Semua tanda-tanda alamat ini berdiri tegak, sebagai saksi-saksi yang setia bahwa meterai yang keenam, yaitu masa periode yang keenam itu akan menghantarkan hari Allah yang besar itu, yaitu murka Anak Domba.
“Maka langit itu menghilang seperti sebuah gulungan surat apabila ia itu tergulung; dan setiap gunung dan pulau berpindah keluar dari pada tempat-tempatnya, Maka segala raja di bumi, dan orang-orang besar, dan orang-orang kaya, dan para panglima, dan orang-orang perkasa, dan setiap hamba, maupun setiap orang yang merdeka, sekalian mereka menyembunyikan dirinya di dalam gua-gua dan di dalam batu-batu karang; sambil mengatakan kepada gunung-gunung dan batu-batu karang itu, “Timpalah kami, dan sembunyikanlah kami dari pada wajah Dia yang duduk di atas tahta itu, dan dari pada murka Anak Domba itu; karena hari besar murka-Nya itu sudah sampai; maka siapakah yang mampu tahan berdiri?’” Wahyu 6 : 14 – 17.
Di dalam ayat-ayat ini digambarkan nasib, ketakutan, dan pikiran yang terpukul dari semua orang yang tidak mampu berdiri pada hari Pehukuman orang-orang hidup itu, yaitu hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu – yaitu murka Anak Domba dalam “masa kesusahan besar yang sedemikian itu belum pernah ada” (Daniel 12 : 1), yaitu hari sesudah munculnya “nabi Eliyah” contoh saingan itu (Maleakhi 4 : 5) — ya, hari dimana orang-orang yang tidak memakaikan dirinya dengan pakaian kawin akan dicampakkan ke luar ke dalam kegelapan, untuk di sana mereka menggeretakkan giginya (Matius 22 : 11 – 13).
Juga di dalam injil ini (Wahyu 6 : 14 – 17) Roh Kebenaran menyatakan, “dua kelompok akan dihadapkan ke depan. Kelompok yang satu membiarkan diri mereka disesatkan, lalu berpihak kepada orang-orang yang dimusuhi oleh Tuhan. Mereka memutar-balikkan pengertian dari pekabaran-pekabaran yang telah dikirimkan kepada mereka, lalu memakaikan diri mereka dengan jubah-jubah kebenarannya sendiri”. — Testimonies, Vol. 9, p, 268.
Demikianlah halnya bahwa sementara empat meterai yang pertama itu membawa kita melewati masa-masa periode dari hari dimana perbuatan-perbuatan manusia akan dinyatakan, maka tiga meterai yang terakhir itu akan membawa kita melewati hari Allah, yaitu hari dimana Kebenaran-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya akan dinyatakan.
Bahwa seharusnya terdapat sejenis puncak acara di dalam pekerjaan Pengadilan itu pada titik penting Firman Injil ini (Wahyu 6 : 14 – 17), bukanlah suatu rahasia. Dengan ditandai oleh peristiwa-peristiwa yang mengakhiri kuasa pemerintahan dosa, dan karena ini direalisasikan justru oleh orang-orang berdosa sendiri, jelas merupakan suatu petunjuk yang sangat baik bahwa selama meterai yang keenam Pehukuman terhadap orang-orang mati berakhir, dan persiapan-persiapan bagi Pehukuman terhadap orang-orang hidup dimulai. Itulah “hari yang mengerikan itu” bagi orang-orang jahat.
Lagi pula, karena tahap pertama Pehukuman itu berlalu dengan Wahyu pasal enam, maka tahap keduanya akan mulai dengan pasal tujuh; artinya, ia itu akan mulai dengan pemeteraian orang-orang suci yang hidup, buah-buah pertama itu. Itulah “hari besar” bagi orang-orang yang benar.
“Maka kemudian dari semua perkara ini aku tampak empat malaikat berdiri pada empat penjuru bumi, memegang empat angin di bumi, supaya jangan angin itu bertiup atas bumi, atau atas laut, atau pun atas sesuatu pohon kayu.
“Maka aku tampak pula seorang malaikat lain yang naik dari sebelah timur, memegang meterai dari Allah yang hidup; maka ia berteriak dengan suara besar kepada empat malaikat itu, yang telah dikaruniakan kuasa untuk merusakkan bumi, dan laut, katanya: ‘Janganlah. merusakkan bumi itu, ataupun laut, ataupun pohon-pohon kayu, sampai setelah kita memeteraikan hamba-hamba Allah kita pada dahi-dahi mereka. Maka Aku dengar bilangan mereka itu yang dimeteraikan; dan di sana dimeteraikan seratus empat puluh empat ribu orang dari pada segala suku bangsa bani Israel.” Wahyu 7 : 1 – 4.


Dari pengertian bahwa “empat angin itu” akan meniup dan empat malaikat itu akan merusak segera setelah hamba-hamba Allah dimeteraikan, terlihat muncul “masa kesusahan” itu yang sedemikian itu belum pernah ada sebelumnya (Daniel 12 : 1).
Karena bergerak dari empat penjuru mata angin, maka angin-angin itu tak dapat tiada harus melambangkan sesuatu bentuk kekacauan yang meliputi seluruh dunia. Juga jelas sekali, bahwa peniupan angin-angin itu dan pengrusakan malaikat-malaikat itu, melambangkan dua bala tentara dalam pertikaian. Peniupan angin-angin itu tentunya merupakan amarah bangsa-bangsa melawan orang-orang suci; dan pengrusakan malaikat-malaikat itu tak diragukan.lagi adalah hukuman Tuhan yang jatuh menimpa musuh-musuh-Nya. Dengan perkataan lain, malaikat-malaikat dan angin-angin itu bersama-sama melambangkan suatu kekacauan di antara Allah dan bangsa-bangsa, yang melibatkan juga baik orang-orang suci maupun orang-orang berdosa. Memang benar, itulah hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu.
Perbedaan di antara “sengsara besar, yang sedemikian itu belum ada semenjak dari kejadian dunia” (Matius 24 : 21), dan “masa kesusahan, yang sedemikian itu belum pernah ada semenjak berdirinya sesuatu bangsa” (Daniel 12 : 1), ialah bahwa selama “sengsara besar” itu orang-orang suci dibunuh (Matius 24 : 21, 22), sedangkan selama “masa kesusahan” itu mereka akan diselamatkan (Daniel 12 : 1).
Bahwa ditahannya angin-angin itu oleh malaikat-malaikat itu bukan berarti mereka mencegah bangsa-bangsa dari pada peperangan di antara sesamanya, akan dijelaskan oleh kenyataan bahwa angin-angin itu bukan ditahan supaya angin tidak menghantam angin (bangsa melawan bangsa), melainkan supaya mereka tidak merusakkan bumi, laut, dan pohon-pohon kayu. Lagi pula, bahwa bangsa-bangsa dari utara dan dari selatan, dari timur dan dari barat, telah terlibat dalam Perang Dunia I, dan juga dalam Perang Dunia II, walaupun mereka yang 144.000 itu belum juga dimeteraikan, merupakan suatu bukti lain yang tak dapat dibantah bahwa kekacauan yang diramalkan oleh tiupan angin-angin dan pengrusakan malaikat-malaikat itu, masih belum datang. Bahwa itu adalah suatu kekacauan yang menyeluruh di bumi akan kembali terlihat dalam kenyataan, bahwa angin-angin itu di satu pihak dan malaikat-malaikat itu di lain pihak, akan sama-sama mengacaukan baik bumi maupun lautan.
Karena sudah merupakan suatu kesimpulan yang pasti, bahwa Setan menentang orang-orang suci, dan bahwa Tuhan menentang rombongan besar pembenci kebenaran dan pelaku kejahatan itu, maka masalah itu menjadi jelas: Bilamana dilepaskan, maka angin-angin itu akan menghantam “umat yang sisa” yang setia itu, yaitu mereka yang masih tertinggal sesudah bumi membuka mulutnya dan menelan “air banjir itu”, yaitu “lalang-lalang” (Wahyu 12 : 16, 17); tetapi malaikat-malaikat yang disiagakan untuk merusak itu akan membunuh orang-orang yang berperang melawan umat yang sisa itu. Orang-orang yang nama-namanya tercatat di dalam kitab, akan ‘dilepaskan”. Daniel 12 : 1. Karena 144.000 hamba-hamba Allah itu masih belum juga dimeteraikan (belum ditutupi, dilindungi, diawasi, dan belum siap untuk berdiri bersama-sama dengan Anak Domba itu di atas Gunung Sion, melainkan masih bercampur dengan lalang-lalang), maka malaikat-malaikat itu diperintahkan untuk mencegah pertempuran itu.
Dengan sendirinya, bilamana pekerjaan pemeteraian ini selesai, maka malaikat-malaikat yang memegang angin-angin itu, akan membiarkan angin-angin itu bertiup, dan malaikat-malaikat yang akan merusak bumi, laut, dan pohon-pohon kayu itu, akan kelak memulai tugas mereka. Sebaliknya dikatakan, bahwa membiarkan angin-angin itu bertiup ialah mengijinkan kepada binatang yang bertanduk dua itu untuk mengeluarkan keputusan “bahwa seberapa banyak orang yang tidak mau menyembah patung binatang itu harus dibunuh” (Wahyu 13 : 15); dan membiarkan malaikat-malaikat itu merusak ialah mengijinkan keputusan perintah Tuhan untuk menjalankan ketentuannya yang berbunyi: “Jika seseorang menyembah binatang itu dan patungnya, dan menerima tandanya di dalam dahinya, atau di dalam tangannya, maka orang itu akan minum daripada air anggur murka Allah, yang dituangkan tanpa campuran ke dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di hadapan malaikat-malaikat yang suci, dan di hadapan Anak Domba itu”. Wahyu 14 : 9, 10. Amaran ini disusul ramalan yang berbunyi:
“Empat malaikat itu dilepaskan, yaitu yang telah dipersiapkan untuk sejam, dan sehari, dan sebulan, dan setahun, untuk membunuh sepertiga dari manusia”. Wahyu 9 : 15.
Kedua keputusan itu akan dijalankan setelah mereka yang 144.000 itu dimeteraikan.
Di sini terlihat bahwa dari antara buah-buah pertama dari penuaian itu muncul 144.000 orang, yaitu hamba-hamba Allah bagi pekerjaan penghabisan penuaian yang besar itu. Mereka ini adalah orang-orang suci yang pertama yang pernah akan dibebaskan dari “lalang-lalang” yang ditengah-tengahnya. Bersiap-siaplah Saudara-Saudari, karena masa itu sudah dekat sekali.
Kita sudah dapat menyaksikan sekarang bahwa enam meterai yang pertama itu mengungkapkan suatu tahap kebenaran yang meliputi sejarah dunia semenjak dari zaman Adam terus sampai kepada zaman kita sekarang. Tahap kebenaran ini mengungkapkan pemeteraian dari buah-buah pertama dan buah-buah kedua. Dari antara buah-buah pertama itu muncul mereka yang 144.000 itu — 12.000 masing-masing dari dua belas suku bangsa bani Israel. Melalui berabad-abad lamanya mereka itu berasal pertama sekali sebagai orang-orang keturunan Yakub (Jacobites) dan kemudian sebagai orang-orang Kristen (Christians). Sesudah mereka ini muncul buah-buah kedua, yaitu rombongan besar orang-orang yang berasal “dari segala bangsa”, Wahyu 7 : 9 – 17.
(Teori yang mengatakan bahwa orang-orang suci yang hidup pada kedatangan Tuhan akan hanya berjumlah 144.000 orang, tak dapat dibenarkan karena kelak tidak ada sama sekali kesempatan bagi seorang pun untuk diselamatkan dari sesuatu bangsa lain selain dari para keturunan Yakub itu saja, bahkan dari para keturunan Ibrahim pun tidak, melainkan yang melalui Yakub saja. Dan juga, bahwa teori itu telah membuat sebutan “buah-buah pertama” itu menjadi sesuatu yang sia-sia saja, sebab ia itu tidak menganjurkan adanya buah-buah kedua).
Yang tersisa dari Wahyu itu adalah terselubung di dalam
279 total, 1 views today


