<< Go Back
SIDANG YANG ABADI DAN MUSUHNYA
Yang pertama dari sekaliannya ini yang akan muncul lewat di hadapan Tahta Pengadilan itu ialah sidang yang abadi itu.
“Maka kelihatanlah di langit suatu keajaiban yang besar, yaitu seorang perempuan bersalut dengan matahari, dan bulan ada di bawah kakinya, dan di kepalanya bermahkotakan dua belas bintang,
“Adalah ia itu mengandung dan berteriak sebab sakit dan sengsara hendak beranak.
“Maka kelihatanlah suatu keajaiban yang lain pula di langit, yaitu ada seekor naga besar yang merah menyala, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di kepalanya bermahkota tujuh.
“Dan ekornya menyeret sepertiga dari pada segala bintang di langit lalu dicampakkannya ke bumi; maka berdirilah naga itu di hadapan perempuan yang sedang hendak beranak itu, supaya segera setelah anak itu lahir naga itu akan menelan anaknya itu.
“Maka ia memperanakkan seorang anak laki-Iaki, yang akan memerintah segala bangsa dengan sebuah tongkat besi; maka anaknya itu pun disambar dibawa kepada Allah, dan kepada tahtaNya.
“Maka perempuan itu pun larilah ke dalam padang belantara; di situ ada suatu tempat disediakan Allah baginya, supaya mereka memeliharakannya 1260 hari lamanya”. — Wahyu 12 : 1 – 6.
Adalah jelas terlihat bahwa “perempuan” ini bersalutkan matahari dan telah diserang oleh naga itu sebelum anaknya, Kristus, lahir; bahkan bertahun-tahun lamanya sebelum sidang Kristen dan Injil muncul. Jadi, untuk mengatakan bahwa perempuan itu melambangkan sidang Wasiat Baru yang berpakaian Injil Kristus, benar-benar adalah teori yang tidak berdasar dan juga tidak masuk akal, sama seperti mengatakan bahwa ayam ditetas sebelum ada telur.
“Berpakaian matahari”, perempuan itu tentunya adalah sidang Allah yang senantiasa hidup, yang berpakaikan Terang dari Sorga, yaitu Alkitab. “Firman-Mu”, demikian kata Pemazmur, “adalah sebuah terang bagi jalanku”. Mazmur 119 : 105.


Bulan sebagaimana kita ketahui adalah perantara oleh mana sinar matahari dipantulkan sehingga malam diterangi. Karena berada di bawah kaki perempuan itu, maka itu adalah lambang yang cocok sekali mengenai masa periode sebelum Alkitab muncul, yaitu masa periode semenjak dari kejadian dunia sampai kepada Musa. Tahap dari simbol ini menunjukkan dengan pasti, bahwa perempuan itu muncul dari masa periode dimana Firman Allah, “matahari”, dipantulkan secara tidak langsung, telah diteruskan dari bapa kepada anak, dan bahwa perempuan itu sedang memasuki masa periode dimana ia disaIutkan dengan Terang Allah, yaitu Alkitab.
Lagi pula, ia sedang mengandung pada waktu ia berpakaian matahari, dan bulan berada di bawah kakinya. Hal ini sendiri memperlihatkan secara pasti, bahwa pada waktu munculnya ia melambangkan sidang setelah sidang memperoleh janji untuk melahirkan Juruselamat dunia, “bayi laki-laki itu, Yang akan memerintahkan segala bangsa dengan sebuah tongkat besi”. Ia “telah disambar dibawa kepada Allah, dan kepada tahta-Nya”. Ia tentunya adalah Kristus, Tuhan itu.
Dua belas bintang yang merupakan mahkota perempuan itu, jelas sekali memperlihatkan pemerintahan Allah di bumi, yaitu kekuasaan kumulatif milik sidang — yang dipunyai oleh dua belas kepala suku, yang dipunyai oleh dua belas suku bangsa, yang dipunyai oleh dua belas rasul-rasul, dan yang dipunyai oleh 12.000 orang dari masing-masing dua belas suku bangsa Israel (mereka yang 144.000 itu).
Perlu juga diperhatikan, bahwa perempuan itu menggambarkan sidang Allah yang senantiasa hidup sementara dalam peperangan melawan musuhnya.
“Maka kelihatanlah suatu keajaiban yang lain pula di langit, yaitu ada seekor naga besar yang merah menyala, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan kepala-kepalanya itu bermahkota tujuh. Dan ekornya menyeret sepertiga daripada segala bintang di langit; lalu dicampakkan sekaliannya itu ke bumi; maka berdirilah naga itu di hadapan perempuan yang sedang hendak beranak itu, untuk menelan anaknya segera setelah ia itu lahir”. Wahyu 12 : 3, 4.
Jika penyelidik Kebenaran yang diilhami Sorga hendak mengetahui objek pelajaran yang diajarkan oleh simbol ini, maka sekarang ia harus mencatat dengan saksama pengertian yang dibawa oleh tanduk-tanduk yang tak bermahkota dari naga itu dan kepala-kepalanya yang bermahkota itu. Juga, jika penyelidik Kebenaran hendak mengambil manfaat dari apa yang diajarkan oleh Firman, maka ia harus sepenuhnya menyadari bahwa baik kata-kata Firman yang sebelumnya maupun kata-kata Firman yang berikutnya berikut pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal harus diperhatikan.
Untuk memulai, maka karena tanduk-tanduk naga itu adalah sekelompok tanduk yang sepuluh jumlahnya, sekaliannya itu tak dapat tiada harus menggambarkan semua raja-raja dan kerajaan-kerajaan yang ada pada waktu itu, sama seperti halnya sepuluh jari kaki dari patung besar Daniel pasal 2, dan juga sepuluh tanduk dari binatang Daniel pasal 7, yang melambangkan raja-raja atau kerajaan-kerajaan yang ada di seluruh dunia dalam masa-masa periode mereka masing-masing.
Juga janganlah diabaikan akan kenyataan, bahwa semua tanduk, kepala-kepala, dan mahkota-mahkota itu, terdapat di sana bergabung bersama-sama pada waktu naga itu berdiri siap “hendak menelan Anak-nya”. Tepatlah seperti yang diungkapkan oleh simbol itu, bahwa sekaliannya itu melambangkan suatu gabungan dari dua kelompok yang terkenal dan terpisah (tanduk-tanduk dan kepala-kepala), keduanya berada pada waktu yang sama, bukan yang satu menyusul yang lainnya. Baiklah juga untuk diingat, bahwa walaupun tanduk-tanduk dapat bertumbuh dan gugur, kepala-kepala tidak pernah berlaku demikian.
251 total, 1 views today


