<< Go Back
KELEPASAN SIDANG DARI
TALI I K A T A N “O R A N G
A S S I R I A.”
N a h u m 1 : 12, 13 : “Demikianlah firman Tuhan : Sekalipun mereka itu sentosa, dan banyak jumlahnya, namun demikianlah mereka akan ditumpas habis, apabila ia kelak berjalan lalu. Walaupun Aku sudah menyusahkan kamu, Aku tidak akan menyusahkan kamu lagi. Karena sekarang Aku akan mematahkan tali ikatannya dari padamu, dan memecahkan belenggu yang mengikat kamu.”
Orang ini (“kamu”) yang sudah dipalu Tuhan, jelas bukanlah raja Assiria atau bangsa Assiria yang disebut di depan, sebab Tuhan sedang melepaskan orang ini, sementara Ia memalu orang-orang Assiria itu bertekuk lutut di tangan dia “yang menghancurkan berkeping-keping itu.” Siapa gerangan tabiat yang ketiga ini (“kamu”) yang diperkenalkan di sini, akan segera ditegakkan oleh Yesaya di dalam kaitan nubuatannya mengenai Assiria yang sama ini sebagai berikut :
“Maka akan jadi kelak pada hari itu,” demikianlah pernyataan nabi itu, “bahwa bebannya (Assiria) akan disingkirkan dari pundakmu (Yehuda), dan tali ikatannya dari lehermu, maka tali ikatan itu akan dibinasakan karena sebab minyak.” Yesaya 10 : 27.
Segera dapat kita lihat bahwa dalam ungkapan terang dari Injil ini, maka orang itu (“kamu”), yang dalam kedua peristiwa itu dibebaskan dalam masa keruntuhan Assiria, terbukti merupakan sidang (Yehuda) yang dibebaskan dari kekuasaan Kapir (Assiria). Oleh sebab itu, secara meyakinkan Yesaya menjernihkan nubuatan Nahum itu sebagai menunjuk kepada kelepasan sidang dari belenggu ikatan Assiria akhir zaman. Walaupun demikian, dari kenyataan, bahwa sidang seperti yang dikatakan Nahum, bukan saja akan dibebaskan dari kesusahan dan dilepaskan dari perhambaan, tetapi juga akan dihukum mati (Nahum 1 : 14), telah menimbulkan suatu kebingungan. Tetapi bagaimanapun, Ilham dengan segera menjernihkannya kembali melalui Yesaya. Berbicara mengenai sidang, Yesaya mengatakan :
“Maka engkau akan meninggalkan namamu menjadi suatu kutuk bagi umat pilihan-Ku : karena Tuhan Allah akan membantai kamu, lalu memanggil hamba-hamba-Nya dengan suatu nama yang lain.” Yesaya 65 : 15.
Oleh sebab itu jelaslah, bahwa pada masa apabila Assiria menyusut, maka Tuhan akan melaksanakan suatu pekerjaan rangkap di antara umat-Nya, sebagian mereka akan dibebaskan karena sebab kesetiaan mereka, dan sebagian lagi akan dibunuh karena sebab kejahatan mereka. Orang-orang yang luput itu kemudian akan dipanggil dengan suatu nama yang lain.
Masa dari “pekerjaan” ini disebut “penuaian.” Matius 13 : 30. Oleh sebab itu, maka sampai kepada pemisahan ini lalang-Ialang (mereka yang akan dibantai itu) dan gandum (mereka yang akan dilepaskan itu) akan sama-sama membentuk keanggotaan Laodikea (sidang yang terakhir dari tujuh sidang itu — Wahyu 3 : 14 – 18), yaitu sidang yang terakhir sebelum “lalang-lalang” itu dipisahkan untuk selama-lamanya dari “gandum” (Matius 13 : 30). Jadi jelaslah sekali, bahwa orang-orang Laodikea yang bertobat itu akan dipisahkan dari orang-orang yang tidak bertobat dalam masa kejatuhan Assiria, dan kemudian akan dibebaskan dari kekuasaannya.
N a h u m 1 : 14 : “Dan Tuhan telah memberikan suatu perintah mengenai kamu, supaya jangan lagi namamu ditabur; dari dalam rumah dewa-dewamu akan Ku tumpas segala patung pahatan dan tuangan ; Aku akan membuat kuburmu ; karena engkau adalah jahat.”
Demikianlah, pada waktu ini, binasalah penyembah berhala itu untuk selama-lamanya berikut segala berhalanya.
Suatu demonstrasi yang terperinci mengenai pembersihan sidang ini adalah digambarkan di dalam nubuatan Yeheskiel. Di sana Tuhan memerintahkan kepada orang yang mencatat sejarah kehidupan itu, yaitu malaikat dengan pena penulis itu, untuk pergi memasuki kota itu dan menaruh suatu tanda (meterai) pada hanya orang-orang yang berkeluh-kesah dan menangis karena kekejian-kekejian yang ada di dalamnya. Kemudian lima malaikat yang lainnya pergi mengikutinya untuk membantai semua orang yang tidak memiliki tanda itu. (Lihat Yeheskiel pasal 9 ; Testimonies to Ministers, p. 445 ; Testimonies, vol. 3, p. 266, dan vol. 5, p. 211).
“Kota itu” adalah melambangkan Yehuda dan Israel, yaitu sidang dimana akan ditemukan 144.000 hamba-hamba Allah itu (Testimonies to Ministers, p. 445) yaitu orang-orang yang akan dipanggil dengan suatu nama lain setelah hamba-hamba yang tidak patut dibunuh. Dan karena mereka yang 144,000 itu adalah buah-buah pertama (Wahyu 14 : 4) hasil penuaian, maka mereka adalah “orang-orang yang luput” itu dari Yeheskiel 66 : 19 dan Yeheskiel pasal 9. Pemisahan lalang dari gandum ini di dalam sidang akan menandai permulaan dari penuaian bumi yang terakhir itu — yaitu akhir dunia. Kemudian akan tiba saatnya bagi berakhirnya n a m a madzab organisasi, karena semua dewa-dewanya akan ditumpas, dan karena suatu nama baru (Yesaya 62 : 2) akan diberikan kepada orang-orang yang luput itu. Kemudian orang-orang yang luput ini akan memberitakan kemuliaan Allah dan kemasyuran nama-Nya kepada orang-orang Kapir, lalu membawa keluar dari segala bangsa semua saudara mereka (semua orang yang akan diselamatkan) ke “rumah Tuhan.” Yesaya 66 : 16, 19, 20.
Untuk mencegah pehukuman yang sedemikian ini, maka keseluruhan sidang harus bertobat dari pemikirannya yang keliru, harus mulai merasakan kegelisahan dalam kesuamannya, harus menjadi benar-benar dingin atau hangat (tidak puas) dan kosong dari sifat mementingkan diri lalu dipenuhi dengan Roh. (Wahyu 3 : 14 – 18).
Nahum 1 : 15, “Tengoklah di atas gunung-gunung kaki orang yang membawakan kabar-kabar baik, yang memberitakan damai! Hai Yehuda, laksanakanlah pesta-pesta perayaanmu yang besar, laksanakanlah segala nazarmu ; karena orang jahat tidak akan lagi berjalan melaluimu ; ia sudah ditumpas habis.”
Sebutan “Yehuda” berkaitan dengan sidang Kristen bukan saja karena pengertian contoh saingan, melainkan juga karena faktor keturunan. Ini akan terlihat apabila kita melihat pada sejarah Yehuda sebagai berikut:
Sepuluh suku itu (Kerajaan Israel) oleh Assiria kuno yang lalu telah dicerai-beraikan ke seluruh kota-kota orang Medi, dan telah membaur dengan bangsa-bangsa Kapir di zaman itu, tetapi hal itu tidak sampai tahun-tahun kemudian karena dua suku bangsa itu (Kerajaan Yehuda) telah dibawa ke Babil, tinggal di sana sampai berakhir tujuh puluh tahun nubuatan Yeremiah itu, kemudian mereka kembali ke tanah airnya. Dengan demikian adalah hanya keturunan dari Kerajaan Yehuda yang telah sedemikian mendurhaka sehingga mereka telah menolak dan menyalibkan Tuhan. Tetapi orang-orang yang setia dari antara mereka itu telah menyambut Dia, dan telah menjadi orang-orang Kristen, yaitu anggota-anggota pendiri sidang Wasiat Baru. Oleh sebab itu, maka sidang itu sendiri ialah puteri dari Kerajaan Yehuda. Karena itulah ia pantas untuk tetap masih disebut Yehuda.
Sementara ia berdasarkan asal usul keturunan, kesetiaan, dan kemurnian (bebas dari lalang) adalah berhak untuk disebut “Yehuda”, juga karena kesuamannya di akhir zaman dan akibat infiltrasi “lalang-lalang” ke dalam keanggotaannya, maka perlu baginya diberi sebutan tambahan “Laodikea”.
Oleh memakaikan “salp mata” (Wahyu 3 : 18), maka mereka akan “memandang di atas gunung-gunung kaki orang yang membawakan kabar-kabar baik, yang memberitakan damai!” Dan oleh memandang DIA, mereka akan menyambut pekabaran-Nya dan mengetahui kebenaran, maka kebenaran itu akan membebaskan mereka, dan akan menyelamatkan mereka dari pada diludahkan keluar dari mulut-Nya (Wahyu 3 : 16).
Oleh sebab itu, maka hanya setelah mereka bangun dan mematuhi suara Saksi Yang Benar itu, dan mengalihkan langkah-langkah mereka ke arah gerbang-gerbang Kerajaan itu, baharu dapatlah mereka berharap untuk ikut serta dalam kata-kata ilahi yang terakhir : “Hai Yehuda, laksanakanlah pesta-pesta perayaanmu, laksanakanlah segala nazarmu : karena orang jahat tidak akan lagi berjalan melaluimu ; ia sudah ditumpas habis.”
Di sinilah di dalam ucapan nubuatan bukan saja terdapat sebuah janji untuk membersihkan sidang sewaktu Assiria modern sedang digilas, tetapi juga suatu pernyataan anjuran mengenai apa yang merupakan “makanan pada waktunya” bagi orang-orang di waktu ini ; dan mengenai pergerakan apa yang harus mereka mendaftarkan diri ke dalamnya jika mereka ingin memperoleh jaminan keselamatan. Mereka diperintahkan untuk memantapkan pandangan mereka pada kaki orang yang membawakan “kabar-kabar baik” (Pekabaran dari Tuhan), yang memberitakan “damai” (kedamaian Kerajaan Kristus) itu, dan yang menyatakan bahwa sementara semua kekuasaan bumi tertelan dalam suatu peperangan besar, maka orang jahat di dalam sidang akan ditumpas, tidak akan lagi berjalan melaluinya. Secara khusus, nabi itu menasehatkan semua orang untuk kembali bertobat kepada rumah Yehuda (Kerajaan Yehuda akhir zaman – Mikha 4 ; Yeheskiel 37 : 16 – 22) sidang, di dalam kemurniannya dari mana akan dimeteraikan 12.000 orang dari setiap 12 suku bangsa, sebagai buah-buah pertama. Dan ia menganjurkan semua warga kerajaan itu untuk melaksanakan segala tugas kewajiban agama mereka dan melaksanakan semua janji-janji mereka kepada Tuhan. Tegasnya, ia menasehati mereka untuk mematuhi pekabaran mengenai jam itu — yaitu pekabaran yang memberitakan perlunya pembersihan sidang, setelah mana, sesuai bunyi janji itu, “orang jahat tidak akan lagi berjalan melaluinya”, “karena ia sudah ditumpas habis.” (Lihat juga Matius 13 : 30, 47 – 50; Yesaya 66 : 16, 19, 20).
“Tengoklah, hari-hari itu datang, demikianlah firman Tuhan, bahwa Aku akan menumbuhkan bagi Daud suatu Cabang yang benar, dan seorang Raja akan memerintah dan berkembang maju, dan akan melaksanakan hukum dan keadilan di bumi. Pada zamannya Yehuda akan diselamatkan, dan Israel akan diam dengan sentausa : maka inilah nama-Nya oleh mana la akan dipanggil, TUHAN KEBENARAN KITA. Oleh sebab itu, tengoklah, hari-hari itu datang, demikianlah firman Tuhan, bahwa mereka tidak akan lagi mengatakan : Demi Tuhan yang hidup, yang telah menghantarkan bani Israel keluar dari negeri Mesir ; melainkan, Demi Tuhan yang hidup, yang telah menghantarkan dan memimpin benih isi rumah Israel dari negeri utara, dan dari semua negeri kemana sudah Ku halau mereka itu ; maka mereka akan diam di tanah airnya sendiri.” Yeremiah 23 : 5 – 8.
Satu-satunya jalan bagi “malaikat” Laodikea (terhadap siapa telah dituduhkan “tidak terkasihan, dan sengsara, dan miskin, dan buta, dan bertelanjang,” tetapi merasa puas) untuk masuk ke dalam kerajaan yang mulia ini, ialah supaya mereka secara sukarela menyerahkan segala kuasa pengawasan atas sidang, karena disaksikannya sendiri bagaimana Tuhan Sendiri sedang mengumpulkan mereka itu ke dalam tangan-tanganNya (Testimonies to Ministers, p. 300). Oleh sebab itu, bangunlah, hai “malaikat” Laodikea kepada seruan gugahan Sorga yang berbunyi :
“Bangunlah, bangunlah, kenakanlah kuatmu, hai Sion ; kenakanlah segala pakaian keindahanmu, hai Yerusalem, kota suci ; karena mulai sekarang tidak lagi akan masuk ke dalammu seorang kulup pun atau yang najis. Kebaskanlah habu dari padamu; bangunlah, dan duduklah, hai Yerusalem : lepaskanlah dirimu dari pada gelang-gelang ikatan lehermu, hai puteri Sion yang tertawan. Segala pengawalmu akan mengangkat suara ; dengan suara itu bersama-sama mereka akan menyanyi; karena mereka akan sepakat, apabila Tuhan kelak membawa kembali Sion.” Yesaya 52 : 1, 2, 8.
Jika sekiranya Perang Dunia yang ada sekarang (di masa Houteff) ialah perang yang diramalkan oleh Nahum, dan jika pemeteraian atau pembubuhan tanda “hamba-hamba Allah” itu akan lengkap tanpa genggaman malaikat-malaikat itu kembali mengekang angin-angin itu (Wahyu 7 : 1 ; Early Writings, p. 38), maka masa untuk mengembalikan kemuliaan Jakub dan Israel itu tak dapat tiada sudah dekat. Pada akhirnya tibalah jam bagi kelepasan Sion dari tawanan bangsa Kapir, dan bagi anak-anaknya untuk kembali ke tanah air nenek moyang mereka (Yeheskiel 36 : 23 – 38), yaitu kebun anggur Tuhan serwa sekalian alam. Sebab itu hendaklah ia bersiap-siap menantikan perintah Tuhannya untuk mulai berbaris maju ke sana.
Adalah pada waktu ini Assiria itu runtuh, karena alasannya :
N a h u m 2 : 2 : “Karena Tuhan sudah mengalihkan kemuliaan Jakub seperti juga kemuliaan Israel ; karena para perusak telah merusak mereka itu, dan telah mencemarkan carang-carang anggur mereka.”
Setelah sudah (oleh perantaraan para perusak) memalu umat-Nya, maka Tuhan tidak akan lagi memalu mereka, tetapi Ia akan membebaskan mereka itu sekarang.
Karena ikut bersalah dengan segala bangsa oleh mencemarkan carang-carang kebun anggur-Nya (Kerajaan-Nya), maka Assiria modern ini harus sekarang menerima bagian pembalasan Ilahi sementara Allah membawa kembali umat-Nya ke tanah air mereka sendiri. Kesimpulannya, dengan runtuhnya “orang-orang Assiria” itu (bangsa-bangsa Kapir yang menguasai Tanah Perjanjian), maka genaplah sudah “masa dari bangsa-bangsa Kapir itu.” (Lukas 21 : 24).
Sambil memandang ke depan kepada masa kelepasan ini malaikat menjelaskan kepada Daniel sebagai berikut : “Maka pada masa itu akan bangkit berdiri Mikhail, Penghulu besar itu yang akan membela bani bangsamu ; maka akan ada suatu masa kesukaran, yang sedemikian itu belum pernah ada semenjak berdirinya sesuatu bangsa sampai kepada masa itu ; maka pada masa itu umatmu akan dilepaskan, yaitu setiap orang yang kelak didapati namanya tercatat di dalam kitab.” Daniel 12 : 1.
“Dan akan jadi kelak pada hari itu, bahwa sangkakala yang besar itu akan ditiup, maka akan datang mereka yang tadinya sudah siap binasa di tanah Assiria, dan semua orang yang terbuang di tanah Mesir, maka sekalian mereka akan menyembah Tuhan di bukit kesucian di Yerusalem.” Yesaya 27 : 13.
Janji yang gilang gemilang! Adakah anda memperhatikannya, Saudara, Saudariku? Maka janganlah berlambatan menyambut anjuran Ilahi yang berbunyi : “Kembalilah kamu kepadaNya dari pada-Nya bani Israel telah memberontak sedalam-dalamnya. Karena pada hari itu setiap orang akan membuang semua dewa peraknya, dan semua dewa emasnya, yang telah dibuat oleh tanganmu sendiri bagimu untuk sesuatu dosa. Kemudian Assiria akan rebah mati oleh pedang, bukan oleh pedang seseorang perkasa ; dan pedang itu, bukan oleh pedang seseorang biasa, akan memakan habis dia ; tetapi ia akan melarikan diri dari pedang itu, dan orang-orang mudanya akan dipermalukan. Maka ia akan berlari ke kubu pertahanannya karena takut, dan para penghulunya akan menjadi takut karena tanda alamat itu, demikianlah firman Tuhan, Yang api-Nya terdapat di Sion, dan dapur api-Nya di Yerusalem.” Yesaya 31 : 6 – 9.
“Banyak orang akan disucikan, dan diputihkan, dan dicobai ; tetapi orang jahat akan makin melakukan kejahatan, dan tidak seorangpun dari orang jahat itu akan mengerti ; tetapi orang yang bijaksana akan mengerti.” Daniel 12 : 10.
Nahum memperjelaskan bahwa dalam pertikaian ini Allah berdiri menentang Assiria, dan bahwa sebagai akibatnya ia tidak mampu menentang dia yang “menghancurkan berkeping-keping itu.” Setelah Ia bertekad untuk merendahkannya, maka Ia memperkuat semua bala tentara musuhnya. Demikian itulah, maka Assiria runtuh, bukan karena sebab ia lemah dan kecil atau karena jumlahnya lebih kecil dan kekuatannya lebih rendah, melainkan karena sebab rencana Allah memutuskan keruntuhannya. Dengan perkataan lain, persekutuan itu yang mungkin memiliki sumber- sumber dan angkatan manusia yang lebih besar, dan yang dari segi pandangan manusia tampaknya pasti untuk menang, namun dalam hal ini adalah pasti kalah.
Sedemikian inilah suatu contoh sejarah yang ironis (berlawanan). Seringkali Allah melaksanakan hukum atas bangsa-bangsa atau orang-orang yang memiliki terang, tetapi mereka telah merasa benar sendiri dan berkecukupan sendiri, sehingga semua terang mereka itu telah menjadi padam dan semua perbuatan mereka menjadi jahat dan munafik. Pernah Ia menghukum mereka oleh pedang orang-orang biadab yang jahat yang tidak memperoleh terang dan yang tidak benar. Ini diperbuatNya karena dua alasan : pertama, supaya mereka dapat melihat akan kebodohan mereka mengakui dirinya sebagai suatu umat yang benar, padahal kenyataannya mereka adalah lebih buruk dari pada orang-orang biadab ; dan kedua, bahwa sementara orang-orang yang munafik ini dipimpin untuk bertobat, maka para pemenangnya pun dengan demikian dapat melihat, bahwa kemenangan mereka itu bukanlah dari kekuatan mereka sendiri. Dengan demikian, maka baik si pemenang maupun yang kalah kedua-duanya akan dibawa ke suatu tempat dimana mereka dapat tunduk kepada Allah dan memuliakan Dia.
Sesudah mengalahkan Babilon Kuno, maka Kores, orang yang belum beradab itu, menemukan bahwa kemenangannya dan bahkan namanya telah lebih dulu tercatat di dalam sejarah Kitab Suci bertahun-tahun lamanya sebelum ia lahir (Yesaya 44 : 28 ; 45 : 1 – 4). Kemudian “Tuhan telah menggerakkan roh Kores raja Persia itu supaya ia menyatakan suatu proklamasi di seluruh kerajaannya ……… Demikianlah titah Kores raja Persia, Tuhan Allah di sorga telah mengaruniakan kepadaku semua kerajaan di bumi ; maka Ia telah menugaskan kepadaku untuk mendirikan bagi-Nya sebuah rumah di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapakah di antara kamu yang berasal dari umat-Nya? Allahnya menyertai dia, maka hendaklah ia pergi naik ke Yerusalem, yang di Yehuda itu, dan hendaklah ia mendirikan rumah Tuhan Allah Israel (Ialah Allah), yang berada di Yerusalem. Dan siapapun yang tertinggal di sesuatu tempat dimana ia merantau, maka hendaklah ia dibantu oleh orang-orang di tempat itu dengan perak, dan dengan emas, dan dengan barang-barang, dan dengan binatang-binatang, di samping persembahan sukarela bagi rumah Allah yang di Yerusalem ……. Juga raja Kores telah membawa keluar bejana-bejana rumah Tuhan yang oleh Nebuchadnezar telah dibawa keluar dari Yerusalem dan telah ditaruh di dalam rumah dewa-dewanya. Bahkan sekalian itu disuruh Kores, raja Persia itu, mengeluarkan oleh tangan Mithredath bendahara negara, dan yang memperhitungkan sekaliannya itu kepada Seshbazar, penghulu dari Yehuda. Maka inilah daftar jumlahnya : tiga puluh bokor emas, seribu bokor perak, dua puluh sembilan pisau, tiga puluh piala emas, empat ratus sepuluh piala perak, dan seribu buah bejana-bejana lainnya. Semua bejana emas dan perak ada lima ribu empat ratus buah. Semuanya ini dibawa oleh Seshbazar sewaktu orang-orang buangan itu dibawa kembali dari Babil ke Yerusalem,” Ezra 1 : 1 – 4, 7 – 11.
Pada waktu yang sama, orang-orang yang dibebaskan oleh Kores dari tawanan orang Kasdim itu mengerti bahwa Allah telah melaksanakan kelepasan mereka. Sebab itu, “bani Israel, imam-imam, dan orang-orang Lewi, dan orang-orang tawanan yang sisanya itu, mentahbiskan rumah Allah ini dengan penuh kegembiraan, lalu mempersembahkan pada pentahbisan rumah Allah ini seratus ekor lembu, dua ratus ekor domba jantan, empat ratus ekor anak domba ; dan bagi suatu persembahan dosa bagi seluruh Israel, dua belas ekor kambing jantan, sesuai dengan bilangan semua suku bangsa Israel. Maka mereka menempatkan imam-imam itu dalam bagian golongan-golongan mereka, dan orang-orang Lewi itu dalam rombongan-rombongan mereka, bagi pelayanan Allah, yang di Yerusalem ; sesuai yang tertulis di dalam kitab Musa. Lalu bani yang tertawan itu melaksanakan paskah pada hari yang keempat belas dari bulan yang pertama. Karena imam-imam dan orang-orang Lewi secara bersama-sama
disucikan, sekalian mereka adalah suci, maka mereka menyembelih korban paskah itu bagi seluruh bani yang tertawan itu, dan bagi saudara-saudara mereka imam-imam itu, dan bagi dirinya sendiri. Maka bani Israel yang telah datang kembali dari tawanan, berikut semua orang yang sedemikian ini yang telah memisahkan dirinya bagi mereka dari kecemaran orang-orang kapir di tanah itu, untuk mencari Tuhan Allah Israel, sekaliannya makan, dan merayakan pesta roti yang tak beragi itu tujuh hari lamanya dengan penuh kesukaan.” Ezra 6 : 16 – 22.
Agar “Assiria” dan rekan-rekannya, yang bergabung bersama-sama seperti duri, dapat sekarang mempelajari pelajaran yang sama ini? maka Allah membiarkan mereka dirampok dan dijarahi. Kemudian, agar mereka dapat disembuhkan dari penyakit mereka, maka oleh perantaraan Yesaya Tuhan memberikan
316 total, 1 views today


