<< Go Back
Didiami atau Sunyi Sepi?
Dalam mempertimbangkan berbagai firman Alkitab yang berisikan masalah ini serta mengenai berbagai hal yang dipermasalahkan, maka kita hendaknya melandaskan semua kesimpulan kita hanya pada bukti kenyataan, supaya bukan saja kita boleh mengetahui semua kebenaran, melainkan juga tidak mengajarkan yang lain terkecuali kebenaran — suatu tujuan rangkap yang dapat dicapai hanya oleh memberikan perhatian yang tak terhalang baik terhadap tulisan-tulisan para nabi maupun terhadap tulisan-tulisan dari Pewahyu. Dan karena Buku Wahyu adalah pembukaan dari nubuatan-nubuatan, maka logika mendorong kita untuk terus maju dari nubuatan ke wahyu. Oleh karena itu dalam hubungan yang sekarang ini kita akan pertama-tama masuk kepada kata-kata Yeremiah:
“Aku tengok kepada bumi itu, maka bahwasanya adalah ia tanpa bentuk, dan hampa; dan segala langit, maka mereka itu tidak memiliki terang. Aku tengok kepada segala gunung, bahwasanya bergetarlah mereka itu, dan segala lereng bukit bergerak perlahan-lahan. Ke manapun ku tengok, seorang pun tiada, jikalau unggas yang di udara sekalipun sudah terbang semuanya. Aku tengok, maka bahwasanya tempat yang subur itu telah menjadi sebuah padang belantara, dan segala kotanya telah binasa pada kehadiran Tuhan dan oleh murka-Nya yang bernyala-nyala. Karena demikianlah difirmankan Tuhan. Seluruh tanah ini akan menjadi sunyi sepi, namun belum lagi Aku mengadakan kesudahannya. Karena inilah bumi kelak akan meratap; dan segala langit di atas menjadi hitam : karena sudah Ku katakan begitu, sudah Ku rencanakan begitu, maka tidak akan Ku sesalkan, ataupun berpaling Aku daripadanya.” Yeremiah 4 : 23 – 28.
Tindakan yang direncanakan di sini terhadap latar belakang dari pehukuman-pehukuman Allah yang datang ke atas tanah Israel kuno, karena pendurhakaan mereka, dalam hal-hal alasannya yang tepat, tidak mungkin dibatasi hanya kepada negeri itu. Dengan perkataan lain, tak mungkin itu hanya diartikan secara sempit, seperti yang disangka beberapa orang, untuk memaksudkan, bahwa hanya tanah dari umat Allah itu yang telah atau yang akan dijadikan “hampa” dan ditinggalkan “sunyi senyap” dan “tanpa bentuk”, — tanpa terang dan tanpa burung atau binatang atau penduduk, — dan penduduk bumi lainnya dibiarkan menikmati semua berkat-berkat ini. Sebaliknya kata-kata firman harus diambil sesuai sebagaimana yang terbaca, menunjukkan, bahwa seluruh bumi akan menderita kesudahannya yang sama. Oleh karena itu melihat kepada kenyataan ini, maka sebutan b u m i jelas tak dapat diinterpretasikan, sebagaimana telah dilakukan oleh beberapa orang, untuk memaksudkan kepada “tanah” — Palestina saja.
Lagi pula sewaktu Israel kuno dikalahkan oleh bangsa-bangsa, maka gunung-gunung dan lereng-lereng tidak dibuat bergetar dan “bergerak perlahan-lahan”; kota-kota tidak semuanya binasa serta ditinggalkan tanpa penduduk; burung-burung tidak ada yang diusir meninggalkan negeri itu; dan tanah itu tidak dibiarkan dalam kegelapan. Demikian itulah jelas, bahwa tercerai-berainya orang-orang Yahudi itu sedikitpun tidak menggenapi nubuatan dari Yeremiah 4 : 23 – 28. Oleh karena itu bumi akan perlu kembali menjadi seperti pada hari pertama kejadian dunia, yaitu “tanpa bentuk dan hampa”. Kejadian 1 : 2. Maka seperti halnya terdapat di sana “kegelapan ………. menutupi permukaan dari tubir yang dalam itu”, sedemikian itu pula terjadi lagi.
Dari paragrap-paragrap yang terdahulu kita saksikan, bahwa sementara dua puluh dua ayat yang pertama dari Yeremiah pasal 4 berbicara melawan kejahatan dari Israel kuno, maka ayat-ayat yang kedua puluh tiga sampai duapuluh tujuh adalah bersifat tambahan penjelasan, dan memberitakan tentang sunyi senyapnya bumi dan kebinasaan segala orang jahat di manapun mereka berada. Dengan tidak memasukkan ayat-ayat tambahan itu, maka kelanjutan pikiran akan tergabung kepada :
“Karena umat-Ku bodoh, mereka tidak mengenal akan Daku; mereka adalah anak-anak pecandu minuman keras, dan mereka tidak memiliki pengertian : mereka pandai untuk berbuat jahat, tetapi mereka tidak berpengetahuan untuk berbuat yang baik ………. Karena inilah bumi akan meratap, dan segala langit di atas menjadi hitam : karena sudah Ku katakan begitu, sudah Ku rencanakan begitu, maka tidak akan Ku sesalkan, ataupun berpaling Aku daripadanya.” Yeremiah 4 : 22, 28.
Dengan pengertian yang tergabung sedemikian, maka kenyataan muncul, bahwa dalam ayat yang kedua puluh delapan, “K a r e n a i n i l a h bumi akan meratap, dan segala langit di atas menjadi hitam”, kata pengganti i n i menjumpai asal kejadiannya yang terdahulu, “kejahatan”, di dalam ayat-ayat sebelum pengertian terhadap tambahan penjelasan itu. Oleh karena itu ayat-ayat 23 sampai 27 disisipkan sebagai tambahan penjelasan untuk menunjukkan, bahwa sebagaimana Allah tidak memaafkan umat-Nya yang dahulu karena kejahatan mereka, demikian juga tidak akan Ia memaafkan dunia di waktu ini untuk kejahatannya, tetapi Ia akan berbuat yang sama terhadap semua dosa apakah itu dilakukan di dalam sidang atau di dunia. Tegasnya, Allah sedang mengatakan kepada umat-Nya, Israel : Karena kejahatan yang sama dengan kejahatanmu itu “bumi akan meratap, dan segala langit di atas menjadi hitam.” Maka maukah Aku memikirkan untuk memaafkan anda?
Tetapi sementara di daIam Yeremiah pasal 4 Tuhan berbicara melawan Israel, sungguhpun dengan menunjukkan sesekali kepada sunyi senyapnya bumi, maka di dalam Yesaya Ia berbicara melawan bumi dan dengan penuh kasih terhadap tanah Israel, katanya : “Tetapi orang miskin akan dihukumkan-Nya dengan adil, dan ditegur-Nya dengan pantas terhadap semua orang yang lemah lembut di bumi : maka Ia akan memalu bumi dengan tongkat dari mulut-Nya, dan dengan napas bibir-Nya akan dipalunya segala orang jahat.“ Yesaya 11 : 4. Sekiranya terdapat sesuatu kemungkinan pengertian terhadap Yeremiah 4 diaplikasikan hanya kepada tanah Israel, maka tentunya tak ada lagi apapun yang sedemikian mengartikan kata-kata Alkitab ini seperti dari Yesaya pasal 11.
Lagi pula Tuhan berjanji, bahwa “selama adanya bumi tiada akan berhenti musim menabur dan menuai, sejuk dan panas, musim hujan dan musim kemarau, siang dan malam itu.” Kejadian 8 : 22. Kata-kata, “selama adanya bumi”, menunjukkan secara terbuka akan pembatasan waktu, mengandung arti bahwa sungguhpun bumi ini tidak akan selalu ada, namun selama bumi masih ada, maka semua keadaan yang disebutkan itu akan terus berlaku.
Juga : ” ………. kata Tuhan dalam diri-Nya, bahwa tiada Aku hendak mengutuki bumi itu lagi dari sebab manusia, meskipun sangka-sangka hati manusia itu jahat adanya sejak dari kecil mulanya, dan tiada lagi Aku akan membinasakan segala perkara yang hidup seperti yang telah Ku perbuat itu.” Kejadian 8 : 21. Dan sambil melengkapi ikatan janji ini Ia berjanji : “Bahwa inilah tanda perjanjian-Ku yang Ku perbuat di antara Aku dengan kamu dan dengan segala mahluk hidup yang ada sertamu, turun-temurun sampai selama-lamanya : bahwa pelangi-Ku telah Ku taruh di dalam awan-awan, maka ia itulah akan tanda perjanjian di antara Aku dengan bumi. Maka akan jadi kelak apabila Aku mendatangkan awan-awan ke atas bumi dan pelangi itupun kelihatan dalam awan-awan : maka Aku akan ingat akan perjanjian-Ku di antara Aku dengan kamu dan dengan segala mahluk yang hidup di antara segala yang berdaging; bahwa segala air itu sekali-kali tiada lagi menjadi air bah yang membinasakan segala yang berdaging itu. Maka pelangi itu akan berada di dalam awan; dan Aku akan menilik akan dia, sehingga Aku akan dapat mengenang akan janji kekal di antara Allah dan setiap mahluk hidup dari segala yang berdaging yang di bumi. Maka firman Allah kepada Nuh : bahwa inilah tanda perjanjian yang telah Ku teguhkan antara Aku dengan segala yang berdaging di atas bumi.” Kejadian 9 : 12 – 17.
Walaupun dalam kata-kata firman ini Tuhan telah berjanji untuk tidak pernah lagi membinasakan setiap mahluk hidup dengan air bah, Ia tidak memberikan janji untuk tidak membinasakan orang jahat itu dengan cara lain. Dengan kata lain, satu-satunya jaminan yang diberikan di dalam kata-kata firman yang disebut di depan itu ialah, bahwa tidak akan pernah ada lagi sesuatu air bah menyeluruh yang lain. Tetapi sesudah ini kata-kata itu tidak lagi berlaku. Baik dari pendekatan secara moral dan logika maupun dari pendekatan firman, hujung akhir nasib segala manusia tunduk kepada kebinasaan, adalah sesuatu yang mutlak perlu
244 total, 1 views today


