Berdiri bersama-sama dengan anak domba di atas Gunung Sion
<< Go Back


Berdiri Bersama-sama Dengan Anak Domba
Di Atas Gunung Sion

 

“Wahyu dari Yesus Kristus, yang dianugerahkan Allah kepada-Nya, untuk ditunjukkan kepada hamba-hamba-Nya perkara-perkara yang tak dapat tiada harus jadi dengan segeranya; maka diutus-Nya malaikat-Nya memberitahukannya kepada hamba-Nya Yahya.” Wahyu 1 : 1.

Penegasan ini bahwa peristiwa-peristiwa nubuatan yang Yahya telah dikuasakan untuk rnencatat, “akan jadi,” bukan sebelumnya, melainkan “segera” setelah ia rnemperoleh wahyu dari hal mereka itu, menunjukkan bahwa nubuatan-nubuatan dari Buku Wahyu akan digenapi dalam masa periode sejarah Wasiat Baru.

“Maka tiba-tiba aku tampak Anak Domba itu berdiri di atas gunung Sion, dan bersama-sama dengan Dia ada seratus empat puluh empat ribu orang yang memiliki nama Bapa-Nya tertulis pada dahi-dahi mereka. Maka kudengar suatu suara dari langit seperti bunyi banyak air menderu dan seperti bunyi guruh yang besar; dan aku dengar bunyi para pemetik kecapi yang memetik kecapinya; dan mereka itu menyanyikan sebuah nyanyian yang baru bunyinya di hadapan tahta itu, dan di hadapan keempat binatang itu dan para tua-tua itu; dan tiada seorangpun dapat mempelajari nyanyian itu, terkecuali mereka yang seratus empat puluh empat ribu itu yang telah ditebus dari bumi.” Wahyu 14 : 1 – 3.

Mendahului peristiwa nubuatan ini (berdirinya mereka yang 144.000 itu di atas gunung Sion) “sebuah pintu telah terbuka di dalam sorga; dan suara yang pertama sekali ku dengar,” demikian kata Yahya, “ialah bagaikan sebuah trompet yang berbicara kepadaku yang rnengatakan: Naiklah kemari, maka aku akan menunjukkan kepadamu perkara-perkara yang tak dapat tiada harus jadi kemudian kelak. Dan segeralah aku berada dalam roh; maka tengoklah, sebuah tahta terdiri di sorga, dan seseorang duduk di atas tahta itu. Maka Ia yang duduk itu rupanya seperti permata jasip dan akik; dan adalah sebuah pelangi mengelilingi tahta itu, seperti zamrud rupanya. Maka sekeliling tahta itu terdapat dua puluh empat tempat duduk, dan pada tempat duduk-tempat duduk itu aku tampak dua puluh empat tua-tua sedang duduk, yang berpakaian putih-putih, dan di atas kepala mereka itu terdapat mahkota-mahkota emas. Maka keluarlah dari tahta itu beberapa kilat dan guruh-guruh dan suara-suara; maka adalah di sana tujuh buah pelita yang bernyala-nyala di hadapan tahta itu, yaitu tujuh roh Allah. Dan di hadapan tahta itu terdapat suatu laut kaca yang bagaikan kristal dan di tengah-tengah tahta itu; dan sekeliling tahta, terdapat empat binatang yang penuh dengan mata di hadapan dan di belakang.” Wahyu 4 : 1 – 4, 6.

“Maka setelah diambilnya kitab itu bersujudlah keempat binatang itu dan dua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba, masing-masingnya memiliki kecapi dan bokor ernas yang penuh dengan bau-bauan, yaitu segala doa dari semua orang suci. Dan aku memandang; maka aku dengar suara dari banyak malaikat yang mengelilingi tahta itu dan binatang-binatang itu dan para tua-tua itu; maka bilangan mereka itu adalah sepuluh ribu kali sepuluh ribu, dan beribu-ribu; yang mengatakan dengan suara besar: ‘Berlayaklah Anak Domba yang sudah tersembelih itu menerima kuasa, dan semua kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan berkat.” Wahyu 5 : 8, 11, 12.

Anak Domba itu, pada mulanya berdiri di hadapan tahta di dalam sorga, Ia kemudian berdiri bersama-sama dengan mereka yang 144.000 itu di atas Gunung Sion, di bumi, walaupun para Tua-Tua dan Binatang-Binatang yang berada mengelilingi tahta itu tetap berada di dalam sorga. Dengan demikian, maka untuk memahami peristiwa nubuatan ini secara keseluruhan dengan tepat, kita harus membedakan dengan teliti bagian mana yang terjadi di dalam sorga dari pada bagian mana yang terjadi di bumi.

Tujuh pelita itu (ayat 5) yang merupakan bagian dari perlengkapan-perlengkapan tempat kesucian, memberikan kesimpulan nyata, bahwa pemandangan tahta sorgawi itu memang terjadi di dalam tempat kesucian, sebaliknya pemandangan Sion yang berikutnya itu berlangsung di atas Gunung Sion, yaitu tanah pekarangan istana Raja yang di bumi, bukan di atas Gunung Moriah, tanah-tanah pekarangan tempat kesucian itu, di mana ia itu mungkin perlu harus mengambil tempat kalau saja sekiranya ia itu menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi di dalam tempat kesucian. Sebab itu kedua pandangan ini adalah mengenai dua peristiwa yang berbeda, di dua tempat lokasi yang berbeda — yaitu berdirinya tahta itu di dalam sorga, dan berdirinya orang-orang tebusan bersama-sama dengan Anak Domba itu di bumi sementara kegiatan-kegiatan Di dalam pemandangan tahta itu masih  berlangsung.

Lagi pula, perkataan yang berbunyi: “Aku hendak menunjukkan kepadamu perkara-perkara yang tak dapat tiada harus jadi kemudian kelak,” menempatkan peristiwa-peristiwa ini dalam seiarah Kristen. Dan perkataan yang berbunyi: “berdiri seekor Anak Domba yang bagaikan telah tersembelih” (bermandikan darah sebagai pengganti manusia yang berdosa), menempatkan mereka itu dalam masa kasihan.

Kemudian oleh memperbandingkan Daniel 7 : 9, 10, 13, dengan Wahyu 4 : 2 dan Wahyu 5 : 1, 11 (sudah dikutip), maka nyatalah jelas bahwa kedua khayal itu adalah mengenai peristiwa yang sama – yaitu pehukuman. Yang satunya mengungkapkan peristiwa itu yang jadi dalam masa periode tahap kedua dari binatang yang tak tergambarkan, yaitu setelah tanduknya yang memiliki mata manusia dan sebuah mulut yang berbicara perkara-perkara yang besar-besar yang telah menghojat itu (sesudah Romawi Kristen memerintah), dan sebelum binatang itu dibunuh dan tubuhnva dibuang ke dalam api yang bernyala-nyala (Daniel 7 : 11) sebelum kebinasaan Romawi. Dan khayal yang lainnya mengungkapkan peristiwa itu yang jadi dalam sesuatu masa sejarah Kristen, dan selama dalam masa kasihan.

Daniel menyaksikan tahta-tahta itu turun, dan “Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu”, yaitu Hakim itu duduk, menunjukkan bahwa baik Dia maupun tahta-tahta-Nya itu sebelumnya tidak ada di situ. Jelaslah pada tahta-tahta yang sisanya itu, “tempat duduk-tempat duduk,” telah duduk dua puluh empat tua-tua itu. Dan akhirnya ia melihat “Anak Manusia,” yaitu Kristus, Pembela itu, yang dibawa ke hadapan “Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu.” Baik Daniel maupun Yahya sama-sama menyaksikan “sidang pehukuman itu …………… duduk, dan buku-buku itu ……… dibuka.

Maka karena Yahya menyaksikan mereka yang 144.000 itu berdiri di Gunung Sion bersama-sama dengan Anak Domba itu setelah sidang pehukuman dimulai dan sebelum ia itu berakhir, maka peristiwa itu dengan sendirinya akan datang bukan sebelumnya atau pun sesudah pehukuman itu, melainkan selama sidang pehukuman itu berlangsung.

Dan sekarang ingatlah bahwa khayal Yahya mengenai “Anak Domba itu berdiri di atas Gunung Sion” (Wahyu 14 : 1) mengungkapkan Kristus sebagai Juruselamat, sebaliknya khayalnya mengenai “Singa dari suku bangsa Yehuda” yang berdiri di hadapan sidang pehukuman itu mengungkapkan Dia sebagai Raja. Secara berkaitan, keduanya itu menunjukkan bahwa sementara Ia pada waktu itu adalah Juruselamat, la pun pada waktu yang sama adalah Raja atas segala raja.

Sekarang jelaslah dari hal kapan mereka yang 144.000 itu muncul, maka menyusul perhatian yang lebih meningkat lagi terhadap siapa sebenarnya mereka itu. Karena mereka itu adalah pengikut-pengikut Anak Domba itu (orang-orang Kristen) dan juga adalah “anak-anak Yakub,” maka sebab itu mereka adalah

 

 

 287 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart