<< Go Back
Mengapa Daud Merupakan Contoh?
Memang tak dapat dielakkan karena Ia adalah satu-satunya orang yang tepat secara sempurna untuk cocok dengan contoh saingannya —- yaitu kepemimpinan dalam masa Seruan Keras dari Pekabaran Malaikat Yang Ketiga. Karena demikian inilah halnya, maka adalah perlu diikuti, bahwa Saul, raja yang pertama memerintah atas Israel dan yang banyak bertanggung jawab bagi pengalaman hidup Daud yang mula-mula, adalah merupakan sebuah contoh dari kepemimpinan sidang dalam masa periode mendahului Seruan Keras itu —- yaitu kepemimpinan yang bangkit dalam tahun 1844 dengan satu-satunya maksud untuk menghimpunkan mereka yang 144.000 itu, yaitu buah-buah pertama dari kerajaan itu. Dalam setiap hal, contoh menyaingi dengan sempurna contoh saingannya.
Melihat kepada keadaan lahiriahnya yang pantas sebagai raja, maka Saul telah dipilih oleh orang banyak itu untuk menjadi raja mereka, walaupun Allah tidak memperkenankannya (1 Samuel 8 : 7). Maka pada akhirnya setelah Allah menolaknya dan setelah mengurapi Daud untuk menjadi raja menggantikannya, maka Saul memutuskan untuk tetap mempertahankan tahta dengan cara berusaha membunuh Daud. Namun usahanya berakhir karena ia dengan sengaja membunuh dirinya sendiri (1 Samuel 31 : 4).
Sejarah telah rnendemonstrasikan, bahwa organisasi Masehi Advent Hari Ketujuh sedang menggenapi contoh itu. Karena lebih suka untuk membentuk badan organisasi, dan memilih para pemimpin melalui pungutan suara orang banyak, maka dengan begitu mereka telah memperlihatkan, bahwa mereka tidak banyak berusaha untuk dapat berkenan kepada Allah dengan berlaku sebagai “suatu umat yang istimewa,” seperti yang diinginkan-Nya bagi mereka, karena mereka sebanyak mugkin lebih memuaskan dirinya sendiri mengikuti organisasi-organisasi gereja lain —- sama seperti halnya di zaman Saul dahulu oang banyak itu ingin supaya mereka sama dengan bangsa-bangsa yang ada disekitarnya (1 Samuel 8 : 5, 7). Dan walaupun telah dipilih oleh orang banyak, namun para pejabat General Conference itu bagaimanapun juga telah diterima Allah untuk menjadi pemimpin-pemimpin atas umat sekarang, sama seperti halnya Saul dahulu. Tetapi karena ia menghianati kepercayaan yang telah diberikan kepadanya dengan cara tidak mematuhi Firman Allah yang disampaikan kepadanya oleh nabi Samuel, maka sedemiklan itu pula organisasi sidang yang ada sekarang, “orang-orang bangsawan ……… di hadapan rumah itu telah menghianati kepercayaan yang telah diberikan kepada mereka.” —– Testimonies, vol. 5, p. 211, demikianlah kata nabi kepada sidang di waktu ini. (Bagi pelayanan yang lebih lengkap terhadap pokok organisasi, bacalah Organization Manual (Pedoman Organisasi) kita)
Berbicara kepada kepemimpinan Masehi Advent Hari Ketujuh, maka hamba Tuhan mengatakan: “Kamu tidak berhak untuk mengatur, jika tidak kamu mengatur sesuai tata pengaturan Allah. Adakah kamu berada di bawah pengawasan Allah? Adakah kamu melihat akan tanggung jawabmu kepada-Nya? Bahwa orang-orang ini akan berdiri pada tempat yang suci untuk jadi sebagai suara Allah kepada umat, seperti yang pernah kita percaya yaitu General Conference, — itu sudah lalu. Apa yang kita perlukan sekarang ialah reorganisasi.” — General Conference Bulletin, 34 th Session, vol. 4, Extra No. 1, April 3, 1901, p. 25. Cols. 1 dan 2.
Ungkapan pernyataan ini membuktikan secara khusus, bahwa sesudah pertemuan Minneapolis yang bersejarah itu dalam tahun 1888, setelah para pemimpin menolak pekabaran maupun nasehat yang telah diberikan kepada mereka (Testimonies To Minister, halaman 468), maka Tuhan tidak lagi menganggap General Conference sebagai hamba-hamba-Nya, sama seperti halnya Ia tidak lagi memandang Saul sebagai Raja atas Israel setelah ia memalingkan dirinya dari perintah-perintah Tuhan yang disampaikan kepadanya. Dan sekarang, setelah sekian lama semenjak memenuhi keinginan umum untuk mengorganisir General Conference itu, dalam menggenapi contohnya, maka Allah memperingatkan bahwa kini kesabaran-Nya telah sampai pada akhirnya sama seperti halnya zaman dahulu. Dengan tegas Roh Nubuatan memberitakan :
“Allah menyerukan supaya dilaksanakan suatu pembangunan rohani dan suatu reformasi rohani. Jika ini tidak dilaksanakan, maka mereka yang suam itu akan terus bertumbuh dengan makin menjijikan di hadapan Tuhan, sampai kelak Ia akan menolak untuk mengakui mereka sebagai anak-anak-Nya.
“Suatu pembangunan dan suatu reformasi harus dilaksanakan di bawah pengendalian Roh Suci. Pembangunan dan reformasi adalah dua perkara yang berbeda. Pembangunan berarti suatu pembaharuan kembali terhadap kehidupan rohani, suatu kebangkitan dari segala kuasa pikiran dan hati, suatu kebangkitan kembali dari mati rohani. Reformasi berarti suatu reorganisasi, suatu pengobahan dalam pendapat-pendapat dan teori-teori, kebiasaan-kebiasaan dan perbuatan perbuatan. Reformasi tidak akan mengeluarkan buah kebenaran yang baik jika ia tidak dikaitkan dengan pembangunan dari Roh. Pembangunan dan reformasi akan melaksanakan tugas mereka yang telah ditentukan, dan dalam melakukan tugas ini keduanya harus bergabung.” — Christ Our Righteousness, halaman 154, Dicetak kembali dari Review and Herald, February 25, 1902.
Sebagaimana kejatuhan Saul itu datang dari kelalaiannya mematuhi Firman Allah sampai kepada huruf, dan karena kemudian ia memaafkan pendurhakaannya dengan dalih, bahwa ia telah mempersiapkan domba-domba yang terbaik untuk korban dalam perbaktian kepada Allah, maka demikian pula halnya dengan kepemimpinan yang sekarang. Walaupun telah diperintahkan kepada mereka supaya meninggalkan semua hubungan dan jalan-jalan yang bersifat keduniawian, dan supaya menjauhkan semua bentuk usaha pada hari Sabat, seperti misalnya menjual buku-buku, mengemukakan tujuan-tujuan target untuk dicapai (goals) dan sebagainya, namun demikian mereka secara mendurhaka telah bergabung dengan dunia dan mengikuti dalam jalan-jalan yang terlarang, bahkan mengembalikan rumah Allah menjadi sebuah rumah dagang (Testimonies, vol. 8, p. 250). Kemudian dengan terus mengikuti mode ala-Saul mereka menyatakan perbuatan cemar dan durhaka ini sebagai ringan saja dengan alasan, bahwa perbuatan yang sedemikian adalah tugas penginjilan yang baik. Tetap Roh Nubuat mengatakan:
“Suatu kesalahan besar telah dilakukan oleh sebagian orang yang mengakui kebenaran sekarang, oleh menawarkan barang-barang dagangan selama berlangsung pertemuan-pertemuan, sehingga oleh perdagangan mereka mereka mengalihkan banyak perhatian dari tujuan pertemuan-pertemuan itu. Jika sekiranya Kristus ada sekarang di bumi, Ia akan menghalau keluar para penjaja barang-barang dan para pedagang ini dengan sebuah cambuk dari benang-benang halus, apakah mereka itu pendeta ataupun umat, sama seperti pada waktu Ia memasuki kaabah dahulu, ‘lalu mencampak keluar semua mereka yang berjual beli di dalam kaabah, dan membalikkan meja-meja penukaran uang dan tempat-tempat duduk mereka yang menjual burung-burung dara. Sambil mengatakan kepada mereka: ‘Adalah tertulis, bahwa rumah-Ku kelak akan disebut rumah sembahyang, tetapi kamu telah membuatnya menjadi sebuah sarang pencuri-pencuri.’ Para pedagang ini mungkin saja membela dirinya dengan alasan bahwa barang-barang yang ditawarkannva itu adalah bagi persembahan-persembahan kurban. Namun tujuan mereka adalah untuk memperoleh laba, untuk memperoleh uang, untuk menimbun keuntungan.
“Kepada saya ditunjukkan, bahwa kalau saja kemampuan-kemampuan moral dan kecerdasan tidak digelapkan oleh kebiasaan-kebiasaan hidup yang salah, maka para pendeta dan umat sudah akan bangkit melihat akan akibat-akibat jahat dari pada pencampuran perkara-perkara yang suci dengan perkara-perkara yang biasa. Para pendeta telah berdiri di mimbar dan menghotbahkan suatu hotbah yang sangat menarik, dan kemudian oleh menawarkan barang dagangan, dan bertindak sebagian sebagai seorang salesman (seorang promotor barang dagangan), bahkan di dalam rumah Allah, mereka telah mengalihkan perhatian para pendengarnya dari kesan-kesan yang diterima, dan menghancurkan buah dari usaha mereka sendiri.” — Testimonies, Vol. 1, pp. 471, 472.
Walaupun mengakui Samuel sebagai nabi Allah, namun Saul pada waktu yang sama dengan sengaja menolak mematuhi kata-katanya; demikian pula, walaupun juga mengakui Nyonya White sebagai hamba Allah, General Conference pada waktu ini, dengan sedih harus dikatakan, bahwa oleh jalan yang ditempuhnya, mereka sesungguhnya sedang menyangkal kekuasaannya. Kenyataan yang tak dapat disangkal ini telah dikemukakan berkali-kali di dalam Roh Nubuat, salah sebuahnya dipilih sebagai berikut :
“Orang-orang yang menaruh harap kepada kecerdasan berpikir, kepandaian istimewa, atau talenta, tidak akan berdiri pada waktu itu (sesudah penyucian sidang) pada barisan depan orang banyak. Mereka tidak mengatur langkahnya sejalan dengan terang itu. ……………. Mereka adalah orang-orang yang merasa kecukupan sendiri, lepas dari Allah, maka Ia tidak dapat menggunakan mereka. Tuhan memiliki hamba-hamba yang setia, yang dalam masa kegoncangan, yaitu masa ujian akan kelak muncul keliatan.” — Testimonies, vol. 5, p. 80.
“Jika mereka terus saja dalam keadaan ini, maka Allah akan menolak mereka.” — Testimonies, vol. 6, p. 427.
Akibatnya, sebagaimana yang dihasilkan oleh perbuatan Saul yang kelihatan, yaitu hanya dirinya sendiri yang diturunkan dari tahta oleh seorang raja yang lain, maka demikian itu pula kelak orang-orang besar yang ada sekarang, yaitu mereka yang berada pada kepemimpinan pekerjaan, dan yang menaruh harap kepada “kecerdasan berpikir, kepandaian istimewa, atau talenta,” mereka akan kelak diganti oleh orang-orang yang walaupun tidak memiliki lahiriah yang tergosok rapih, akan kelak “muncul keluar” pada masa ini, sambil mengungkapkan suatu tabiat Kristen asli yang cerah dan murni.” (Untuk penyelidikan selanjutnya terhadap penggantian kepemimpinan ini, lihatlah Buku Traktat kami No.2, yang berjudul “The Warning Paradox.”)
Selanjutnya, sebagaimana Saul telah menentang Allah oleh menolak meninggalkan tahtanya, dan oleh berusaha menghilangkan nyawa orang yang telah diurapi-Nya, yaitu raja Daud, maka demikian pula sekarang pada bunyi terompet yang ada sekarang kita menemui General Conference sedang menolak untuk membiarkan Allah memegang pemerintahan di dalam tangan-Nya Sendiri (Testimonies to Ministers, p. 300), mereka berusaha untuk merebut tahta-Nya dengan cara berketetapan hati, bahwa mereka akan memerintah gereja sampai kepada akhir sejarah dunia ini, dan mereka menggunakan segala kesempatan yang ada untuk membuang kita ke luar dari tengah-tengahnya dengan tujuan untuk mengamankan pengawasannya atas gereja. Orang-orang yang sedang melakukan segala perkara ini adalah mereka yang oleh nabi Yeheskiel didengar secara nubuatan mengatakan: “Kota ini adalah kuali, dan kami menjadi dagingnya.” Yeheskiel 11 : 3. Mereka sekarang sedang berbuat apa saja yang mungkin untuk meninggikan dan untuk mempertahankan mereka secara abadi pada kekuasaan, dan untuk melepaskan diri mereka dari orang-orang yang dalam nama Tuhan telah “memberitakan damai,” dan menghantarkan kepada mereka “kabar-kabar baik” bahwa “orang jahat kelak tidak lagi berjalan lalu melewati kamu; ia telah ditumpas selengkapnya,” Nahum 1 : 15. Tetapi “kota ini tidak akan menjadi kualimu, demikianlah firman Tuhan, juga kamu tidak akan menjadi daging di tengah-tengahnya; tetapi Aku akan mengadili kamu pada perbatasan Israel.” Yeheskiel 11 : 11.
Mereka yang ingin mengetahui kebenaran bagi dirinya sendiri tentang jenis penanganan apa yang telah kami terima di tangan penguasa-penguasa gereja (seperti yang diperoleh Daud di tangan Saul), dapatlah membaca buku kecil kami Traktat No.7, Menghitung semua bukti kenyataan pada kedua belah pihak sebelum menentang atau pun membela.
Oleh menolak pekabaran yang telah datang kepada mereka dengan amaran-amaran dan tegoran-tegoran, dan karena terus saja mengikuti jalan-jalan mereka yang jahat, maka saudara-saudara kita itu sedang mendesak Tuhan untuk memalu mereka dengan senjata-senjata pembantai dari Yeheskiel pasal 9, kalau saja tidak mereka cepat bertobat. Walaupun mereka sedang dalam perjalanan hendak membunuh diri bersama-sama dengan Saul, namun mereka masih saja mengatakan di dalam hatinya: “Tuhan tidak mau berbuat yang baik, juga Ia tidak mau berbuat yang jahat. Ia adalah terlalu panjang sabar untuk mendatangkan pehukuman atas umatNya. Demikianlah damai dan sejahtera adalah merupakan teriakan dari orang-orang yang tidak pernah lagi mengangkat suaranya bagaikan terompet untuk menunjukkan kepada umat Allah segala pendurhakaan mereka dan isi rumah Jakub segala dosa mereka. Anjing-anjing bisu ini, yang tidak mau menyalak, ialah orang-orang yang akan merasakan pembalasan yang adil dari suatu Allah yang murka. Laki-laki, wanita-wanita dan anak-anak kecil, sekaliannya akan binasa bersama-sama.” — Testimonies, vol. 5, p. 211.
Dan selanjutnya,sebagaimana Saul adalah bertanggung jawab atas kematian bukan saja anak-anaknya, melainkan juga rakyatnya (1 Samuel 31 : 6), maka demikian pula pihak kependetaan akan bertanggung – jawab atas “orang-orang laki-laki, perempuan-perempuan, dan anak-anak kecil” yang gagal memperoleh materai, dan yang akibatnya binasa di dalam pembantaian itu.
Sungguhpun demikian, walaupun dosa mereka besar serta nasib hukuman mereka sudah pasti, Daud contoh itu, mengungkapkan kenyataan bahwa walaupun mungkin kita memotong rok dari jubah mereka selagi mereka membenci dan murka terhadap kita, dan sementara mereka mengejar kita mengelilingi “kandang-kandang domba di tepi jalan” (1 Samuel 24: 3,4), atau mungkin kita mengambil “tombak dan tempat air dari” “bantalan kepala mereka” selagi mereka berada dalam “tidur lelap dari Tuhan,” atau bahwa kita mungkin mengasihani mereka, sementara kita menemukan mereka tertidur di dalam “parit”, atau sedang menutupi kaki mereka di tempat-tempat persembunyian kita (1 Samuel 26 : 7 – 12) dan kita berkesempatan dan mampu untuk menyusahkan mereka, namun tidak kita melukai mereka sedikit pun, tetapi justru kita menemani mereka.
Dan sementara mereka terus menganiaya kita, seperti halnya Saul menganiaya Daud, maka setiap orang yang berada dalam kesusahan, dan setiap orang yang berhutang, dan setiap orang yang berada dalam ketidak puasan, seperti juga yang ditunjukkan oleh contoh, akan menggabungkan diri dengan kita (1 Samuel 22 : 2); sebaliknya semua orang “yang panas tidak dingin pun tidak, ……… suam” (merasa puas) bersama-sama dengan malaikat sidang Laodikea berada dalam bahaya yang kritis arena tetap tinggal “dengan tidak dikasihani dan sengsara, dan miskin, dan buta, dan telanjang,” dan sebagai akibatnya “akan diludahkan,” yaitu ditolak —- “dibunuh.” — Testimonies, vol. 6, p. 427; vol. 5, p. 80; vol. 1, p. 190; vol. 5, p. 211.
Dalam ungkapan yang terdahulu kita saksikan, bahwa mereka yang mematuhi suara dari Gembala yang Baik itu adalah dilambangkan dengan pengikut – pengikut Daud, dan bahwa mereka yang tidak mematuhinya adalah dilambangkan dengan Saul dan pengikut – pengikutnya.
Dalam perumpamaan dari Lukas mengenai perjamuan besar Kristus kembali mengemukakan kedua kelas orang-orang itu. Pada satu pihak orang-orang yang bersimpati kepada Saul dalam perumpamaan ini melambangkan orang-orang yang memaafkan diri mereka dengan alasan, bahwa mereka adalah sangat sibuk dalam urusan pekerjaan, sehingga akhirnya “dengan persetujuan bersama mereka mulai berdalih-dalih”. Yang pertama mengatakan kepada-Nya, “Saya telah membeli sepotong tanah, maka saya harus perlu pergi melihatnya; saya mohon kiranya dimaafkan. Dan yang lainnya mengatakan, saya telah membeli keledai lima pasang, maka saya akan pergi mencobainya; saya mohon kiranya dimaafkan. Dan yang lainnya mengatakan, saya baru kawin, maka sebab itu saya tak dapat datang.” Sebaliknya, para pengikut Daud melambangkan orang-orang yang ditemui di “jalan-jalan dan lorong-lorong” dari negeri itu — yaitu “orang-orang miskin, dan orang-orang buntung, dan orang-orang tirnpang, dan orang-orang buta.” Lukas 14 : 17 – 24.
Tak lama kernudian setelah diberitahukan kepada Saul oleh Samuel, bahwa karena ketidaksetiaannya Allah telah menolaknya sebagai pemimpin atas umat-Nya, maka secara diam-diam Samuel telah diutus untuk mengurapi Daud untuk memerintah menggantikan Saul. Dan walaupun Saul telah diberitahu, bahwa Tuhan telah menolaknya, namun ia menolak untuk melepaskan tahtanya, dengan akibat bahwa orang-orang Philistin sadang mengepung tentaranya, dan sedang akan merebut kerajaan itu. Raksasa Goliat itu telah “berdiri dan berseru kepada bala tentara Israel, sambil mengatakan kepada mereka, Mengapa kamu keluar hendak mengikat perang? Bukankah aku ini seorang Philistin dan kamu sekalian hamba dari Saul? Pilihlah bagimu akan seorang, dan biarlah ia datang kepadaku. Jikalau dapat ia berperang dengan aku dan mengalahkan daku, maka kami sekalian akan menjadi hambamu, tetapi jikalau aku mengalahkan dia dan membunuhnya, maka kamu kelak akan menjadi hamba-hamba kami dan takluk kepada kami. Dan lagi kata orang Philistin itu: Pada hari ini aku menentang segala bala tentara Israel; berikanlah kepadaku seorang laki-laki supaya kita berperang bersama-sama. Setelah segala perkataan orang Philistin itu didengar oleh Saul dan seluruh Israel, maka tercenganglah mereka dengan ketakutan yang amat sangat.” 1 Samuel 17 : 8 – 11.
Walaupun tak berarti bahkan seorang remaja yang diremehkan oleh saudara-saudaranya, dan bahkan dianggap rendah oleh orang-orang lainnya, maka kata Daud kepada Saul: “Jangan seorang pun kecil hati karena orang itu; hambamu akan pergi dan memerangi orang Philistin itu. Lalu diambilnya tongkatnya di dalam tangannya, dan dipilihnya lima buah batu yang licin dari sungai, lalu dimasukkannya ke dalam kantong gembala yang ada padanya, yaitu di’dalam tempat batunya; dan ali-alinya berada dalam tangannya; lalu datanglah ia hampir kepada orang Philistin itu. Maka Daud memasukkan tangannya ke dalam kantongnya, lalu mengeluarkan sebuah batu, lalu diayunkannya batu itu, dan ia itu kena pada dahi orang Philistin itu, sehingga batu itu terbenam dalam dahinya, lalu rebahlah ia terjerumus dengan mukanya ke bumi. Demikianlah Daud telah menang atas orang Philistin itu dengan sebuah ali-ali dan sebuah batu, dan ia berhasil memalu orang Philistin itu dan membunuhnya; tetapi tiada sebuah pedang pun di dalam tangan Daud. Sebab itu berlarilah Daud datang dan berdirilah ia di atas tubuh orang Philistin itu, diambilnya akan pedangnya, dihunuskannya pedang itu dari sarungnya, lalu dibunuhnya akan dia dan dipancungkannya kepalanya dengan pedang itu. Maka setelah orang-orang Philistin itu melihat pahlawan mereka telah mati, maka larilah mereka itu sekaliannya.” — 1 Samuel 17 : 32, 40, 49 – 51.
Kemenangan Daud atas raksasa itu terhadap siapa tak seorang pun mampu memeranginya, adalah melambangkan kemenangan sidang (isi rumah Daud — Zakharia 12 : 8), dalam “masa kesusahan besar yang sedemikian itu belum pernah ada,” atas binatang itu dan patungnya (Goliat contoh saingan), yang karena kehebatannya Pewahyu bertanya: “Siapakah yang sama dengan binatang itu? Siapakah yang mampu memerangi dia?” Dengan begitu, maka raksasa itu, Goliat, melambangkan orang-orang yang kini menentang hamba-hamba Allah, dan yang kelak membentuk Patung dari Binatang itu, yaitu gabungan agama – politik yang kelak menentang bala tentara Tuhan, lalu mengeluarkan keputusan “supaya tak seorang pun boleh membeli atau menjual, terkecuali orang yang memiliki tanda itu; atau nama binatang itu, atau angka bilangan dari namanya ………. dan membuat agar sebanyak orang yang tidak mau menyembah patung binatang itu supaya dibunuh.” Wahyu 13 : 17, 15.
Tetapi “pada hari itu,” demikianlah firman Tuhan, “Aku akan membuat Yerusalem menjadi sebuah batu penumbuk bagi segala bangsa; segala orang yang membebani dirinya dengan batu itu akan dihancurkan berkeping-keping, sekalipun segala bangsa di bumi akan dihimpunkan melawannya. Pada hari itu Tuhan akan kelak melindungi semua penduduk Yerusalem; maka orang yang lemah di antara mereka pada hari itu akan jadi seperti Daud; dan isi rumah Daud akan jadi seperti Allah, seperti malaikat Tuhan di hadapan mereka itu.” Zakharia 12 : 3, 8.
Lima buah batu yang licin di dalam kantong Daud itu, yang dengan yang sebuahnya ia membunuh Goliat, adalah melambangkan lima rangkap kuasa di dalam kantong gembala contoh saingan (Alkitab), yang dengan salah satu bagiannya Allah akan memalu binatang itu dan patungnya di waktu ini, yaitu bangsa-bangsa yaitu Goliath contoh saingan. Dan karena sebagai kita ketahui, bahwa adalah oleh Firman-Nya, dalam bentuk sebuah pekabaran, Ia akan memalu bangsa-bangsa, maka jelaslah bahwa lima buah batu yang licin itu adalah melambangkan lima pekabaran, dan pekabaran yang terakhir itulah yang akan melukai binatang itu, membinasakan patungnya, dan membebaskan umat Allah dari ketakutan terhadap orang-orang kapir.
Dengan demikian sebagaimana lima buah batu di dalam kantong gembala itu adalah lambang dari lima pekabaran, maka sebab itu pekabaran-pekabaran itu perlu diatur jadwalnya di sesuatu tempat di dalam Alkitab. Sekaliannya itu terdapat dalam perumpamaan Kristus mengenai kebun anggur: pertama, pada jam “pagi-pagi sekali” (upacara bayangan); kedua, pada”jam tiga”
(penyaliban dan kebangkitan Kristus); ketiga, pada “jam keenam” (dua ribu tiga ratus hari dari Daniel 8 : 14); keempat, pada “jam kesembilan” (penghukuman orang mati); dan kelima, dan yang terakhir pada “jam kesebelas” (pehukuman orang hidup, masa dari Seruan Keras), yang akan melukai binatang itu, dan dengan pedangnya sendiri (sepuluh tanduk dari Wahyu 17 : 16), memotong putus kepalanya, dan kemudian dengan api membinasakannya, sehingga luka itu tidak pernah akan sembuh kembali. Oleh sebab itu, dalam pekabaran mengenai jam terletak jaminan keselamatan bagi umat Allah. (Untuk suatu penyelidikan lengkap terhadap perumpamaan dari Matius 20 : 1 – 16, dan dari hal binatang dari Wahyu pasal 17, bacalah buku Tongkat Gembala, Jilid II, halaman 315- 341; 199, 202).
Memberitakan “hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu” (Maleakhi 4 : 5), yaitu “suatu hari pembantaian” (Yesaya 30 : 25), dan “suatu hari kegelapan” (Yoel 2 : 2), maka pekabaran yang terakhir ini akan didengungkan pada jam kesebelas — yaitu sebelum masa di mana seperti yang diramalkan oleh Yahya, bahwa “segala raja di bumi, dan orang-orang besar, dan orang-orang kaya; dan para penghulu, dan orang-orang gagah perkasa, dan setiap hamba sahaya, dan setiap orang yang merdeka, akan menyembunyikan diri mereka di dalam lobang-lobang dan di dalam batu-batu karang dari gunung-gunung; dan mengatakan kepada gunung-gunung dan batu-batu karang itu: ‘Timpalah kami, dan sembunyikanlah kami dari pada wajah Dia yang duduk pada tahta itu, dan dari murka Anak Domba itu, karena hari besar murka-Nya itu telah sampai ; maka siapakah yang dapat berdiri” (Wahyu 6 : 15-17)? — tidak seorang pun terkecuali orang-orang yang benar, yaitu para pemimpin sidang yang akan datang, seperti yang dilambangkan oleh pemerintahan dari Daud.
“Siapakah yang telah membangkitkan orang benar itu dari timur, yang telah memanggilnya berdiri, menyerahkan segala bangsa ke hadapannya, dan menjadikan dia raja atas segala raja? Ia menyerahkan mereka “itu bagaikan debu kepada pedangnya, dan bagaikan jerami yang tertiup kepada panahnya. Ia mengejar mereka itu, dan berlalu dengan selamat, walaupun melalui jalan yang belum pernah dilaluinya dengan kakinya. Aku telah membangkitkan seseorang dari utara, maka ia akan datang kelak; dari sebelah matahari naik ia akan kelak menyebut nama-Ku; maka ia akan datang ke atas segala penghulu bagaikan atas geluh dan bagaikan penjunan yang menginjak-injak tanah liat.” Yesaya 41 : 2, 3, 25.
“Tengoklah, Aku telah memberikan dia bagi suatu saksi bagi bangsa itu, seorang pemimpin dan pemerintah bagi bangsa itu. Tengoklah, engkau akan memanggil suatu bangsa yang tidak kamu kenal, dan bangsa-bangsa yang tidak mengenalmu akan berlarian datang kepadamu karena sebab Tuhan Allahmu, dan karena Dia Yang Suci dari Israel itu; karena Ia telah memuliakan kamu.
“Carilah Tuhan selagi Ia masih dapat ditemui,berserulah kepadanya selagi Ia masih dekat.” Yesaya 55 : 4 – 6
Karena, demi kehormatan Allah dan demi kebahagiaan umatNya, maka baik pekabaran Eliyah maupun pemerintahan Daud keduanya telah menghabiskan banyak nyawa orang (pekabaran Eliyah menghabiskan nyawa para guru yang murtad di Israel — 1 Raja-Raja 18 : 40; dan pemerintahan Daud mengahabiskan nyawa orang-orang kapir yang menentang Allah dan bala tentara-Nya — 1 Tawarikh 22 : 6 – 8), oleh sebab itu pekerjaan Eliyah khususnya merupakan contoh dari hal pembantaian di dalam sidang, dan pemerintahan Daud merupakan contoh dari pembinasaan oramg-orang kapir dan penguasaan bumi (Zakaria 12 : 8, 9 ; Yeremiah 30 : 3, 9). Atas mana Kristus (putera Daud itu) akan kelak muncul terlihat, mengambil bagi diri-Nya kerajaan-Nya (Lukas 19 : 15), lalu memuliakannya dengan perdamaian abadi (seperti yang dilambangkan oleh pemerintahan yang damai dari putera Daud, yaitu Solaiman). Maka pada masa peristiwa-peristiwa contoh saingan ini akan kelak menjadi kenyataan sepenuhnya perjanjian berikut ini;
“Akan jadi kelak apabila sudah genap bilangan hari hidupmu sehingga engkau (Daud) harus pulang kepada segala nenek moyangmu, bahwa Aku akan membangkitkan benihmu kemudian dari padamu, yaitu salah seorang dari pada segala anakmu laki-laki, maka Aku akan menetapkan kerajaannya. Ia akan membangun bagi-Ku sebuah rumah, dan Aku akan menetapkan tahtanya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapa baginya, dan ia akan menjadi anak-Ku laki-laki; maka tiada Aku akan melalukan kemurahanKu dari padanya, seperti yang sudah Ku lalukan dari pada orang yang dahulu dari padamu itu.” 1 Tawarikh 17 : 11 – 13.
“Apabila orang benar memegang kuasa, maka bersuka citalah orang banyak itu; tetapi apabila orang jahat memegang perintah, maka orang banyak itu merataplah.” Amsal Solaiman 29 : 2.
Sementara bagi orang benar, Ia akan membuat kerajaan itu menjadi tempat dan perlindungan-Nya, sebaliknya bagi orang kapir,
252 total, 1 views today


