<< Go Back
Menyerahkan Kepada Allah Memerintah Atas Kita.
Berabad-abad lamanya para pengikut Kristus telah berdoa, “Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu.” Kini karena masa itu telah sampai bagi doa itu untuk digenapi, maka marilah kita menghidupkan doa-doa kita, supaya jangan seseorang dari kita kelak didapati di antara kelas orang-orang yang tidak setia itu dengan siapa Kristus menyimpulkan perumpamaan berikut ini:
“Sebab itu kata Yesus: ‘Ada seseorang bangsawan hendak berangkat ke negeri yang jauh hendak menerima kerajaan bagi dirinya, lalu kembali. Maka dipanggilnya sepuluh orang hambanya, lalu diberinya kepada mereka itu sepuluh kati perak, dan mengatakan kepada mereka: Pakailah ini untuk dagang sampai aku kembali. Tetapi warga negerinya itu membenci dia, lalu mengirim berita mengikuti dia, mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Tatkala ia kembali dari pada menerima kerajaan itu, maka disuruhnya panggil segala hamba yang telah diberinya uang perak itu datang kepadanya, supaya dapat ia ketahui berapa banyak masing-masing mereka telah memperoleh untung dari perdagangan mereka itu.
“Kemudian datanglah yang pertama itu menghadap sambil mengatakan, Ya Tuan, perak Tuan yang sekati itu telah menghasilkan sepuluh kati lebihnya. Maka kata tuan itu kepadanya: Berbahagialah, hai hamba yang baik, karena kamu telah setia dalam sesuatu yang sangat sedikit, maka engkau diberi kuasa memerintah atas sepuluh kota.
“Maka datanglah yang kedua itu sambil rnengatakan, Ya Tuan, perak Tuan yang sekati itu sudah menjadi lima kati lebihnya. Maka kata Tuan itu juga kepadanya, Engkaupun ditetapkan memerintah atas lima buah kota.
“Maka datanglah yang lainnya itu menghadap, katanya: Ya Tuan, tengoklah, inilah perak Tuan yang sekati itu yang telah hamba simpan di dalam sebuah sapu tangan; karena hamba takut akan Tuan, sebab Tuan adalah seorang yang keras hati: Tuan mengambil apa yang tiada Tuan taruh, dan menuai apa yang tiada Tuan tabor. Maka kata Tuan itu kepadanya, hai hamba yang jahat, oleh perkataanrnu itu juga Aku akan mengadilimu. Sudahkah engkau ketahui, bahwa aku ini seorang yang keras hati yang mengambil barang yang tiada kutaruh, dan menuai barang yang tiada ku tabur? Apa sebabnya tiada engkau taruhkan uang perakku itu dalam bank, supaya pada kedatanganku kembali dapat ku ambil kembali uang itu berikut bunganya? Lalu katanya kepada mereka yang berdiri di situ: Ambillah dari padanya perak yang sekati itu dan serahkanlah kepada dia yang memiliki sepuluh kati. (Maka kata mereka itu kepadanya, Tuan, ia telah memiliki sepuluh kati).
“Karena Aku mengatakan kepadamu, Bahwa kepada setiap orang yang memiliki, kepadanya akan diberikan; dan dari dia yang tidak memiliki, bahkan apa yang dipunyainya pun akan diambil dari padanya. Tetapi segala musuh-Ku itu yang tiada suka Aku memerintah atas mereka itu, bawalah kemari, dan bunuhlah mereka itu di hadapan-Ku.” — Lukas 19 : 12 – 27
“Seseorang bangsawan itu” dalam perumpamaan ini ialah Kristus, Dia sendiri, Yang segera sesudah kebangkitan-Nya telah bertolak ke sorga dari segala langit itu, yaitu “negeriyang jauh itu,” untuk dimakotai sebagai Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuan. Hamba-hamba-Nya yang sepuluh orang itu, yang akan berdagang sampai Ia datang melambangkan pihak kependetaan pada penutupan sejarah injil. Dan warga-warga-Nya itu sesuai dengan itu melambangkan para anggota biasa — warga dari kerajaan-Nya. Maka hamba-hamba-Nya dan para warga-Nya itu bersama-sama membentuk keseluruhan kerajaan-Nya itu — sidang.
Sebagaimana halnya mereka mengirim kabar mengikuti Dia, yang mengatakan, Kami tidak mau orang ini memerintah atas kami,”satu-satunya kesimpulan yang dapat diterima ialah, bahwa tak lama sebelum Ia kembali, Kristus akan memberitahukan kepada “para warga-Nya” bahwa Ia sedang memegang tampuk pemerintahan di dalam tangan-Nya sendiri” untuk mendirikan kerajaan-Nya, dan bahwa mereka, setelah mendengar pemberitahuan ini, mereka akan menolak untuk menyerahkan dirinya kepada seseorang itu oleh siapa Ia akan memerintah.
Perhatikanlah, behwa di dalam pesan yang mereka “kirim Menyusuli Dia itu,” hamba-hamba-Nya itu tidak mengatakan, “Kami tidak mau Kamu memerintah atas kami,” melainkan, “Kami tidak mau Orang ini memerintah atas kami.” Apa yang mereka keberatankan itu ialah pemerintahan Kristus atas mereka itu oleh perantaraan seseorang yang lain. Maka jelaslah, bahwa sebelum Ia dinobatkan sebagai Raja, dan mendahului kembali-Nya untuk membuat perhitungan dengan hamba-hambaNya itu, Ia akan menunjuk “seseorang” untuk memerintah atas mereka itu menggantikan-Nya. Sesudah mana mereka mengatakan kepada-Nya, oleh sikap dan pendirian mereka terhadap pekabaran-Nya, “Kami tidak mau orang ini memerintah atas kami,” walaupun “orang ini” sebagaimana kita ketahui sekarang adalah Daud contoh saingan (“alat sederhana” itu), yaitu raja yang kelihatan.
Dengan demikian apabila Kristus kembali dan membuat perhitungan dengan hamba-hamba-Nya, maka Ia akan memberi pahala kepada orang-orang yang setia seimbang sebagaimana mereka telah meningkatkan modal itu dengan mana mereka telah memulaikannya sejak mulanya. Tetapi Ia akan menghukum orang-orang yang tidak memikul beban tanggung jawab untuk bekerja bagi jiwa-jiwa dan untuk memajukan kerajaan-Nya, dan yang merasa puas membiarkan Dia sendiri bekerja tanpa bantuan pelayanan mereka. Karena ketidak-setiaan ini, maka Ia mengambil kembali dari mereka “uang perak itu”, yaitu terang kebenaran, dengan mana Ia telah mempercayakan kepada mereka, sambil menunjukkan, bahwa oleh karenanya semua orang akan diminta bertanggung jawab “bagi setiap sinar terang,” bagi setiap saat yang lenyap sia-sia, bagi setiap kesempatan yang dilalaikan. Maka mereka yang tidak mau Dia memerintah atas mereka itu, akan kelak, pada kedatangan-Nya kembali, dibunuh di hadapan-Nya sama seperti halnya orang-orang yang mendurhaka melawan pemerintahan Allah di zaman dahulu.
Orang-orang Yahudi pada kedatangan Kristus yang pertama salah mengartikan tugas misi-Nya, sebab mereka adalah buta terhadap apa yang diajarkan dari pekabaran mereka (upacara bayangan), dan terhadap apa yang telah ditulis oleh para nabi dari hal Dia, mereka telah salah mengartikan ajaran-Nya dari hal kerajaan itu. Karena terlalu mengharapkan hasil dari harapan mereka dari hal kerajaan itu yang sudah lama dianutnya, maka mereka telah menjadi bingung oleh ajaran-ajaran Kristus yang aneh, sehingga gantinya mereka menerima kesalahan-kesalahan mereka ditelanjangi di depan orang banyak yang mereka pelihara dalam kegelapan, mereka siap untuk melempari-Nya dengan batu sampai mati. Demikianlah halnya dengan sidang pada waktu ini. Ia pun adalah buta terhadap pekabaran dari hal jam, dan terhadap kebenaran dari hal kerajaan Kristus, sama seperti halnya orang-orang Yahudi dalam sejarah mereka yang lalu. Maka sebagaimana pekabaran ini mengetok pada pintunya dengan amaran-amaran, maka jawabannya adalah, Pergilah dari padaku, aku “kaya dan telah melimpah kekayaanku, sehingga tidak memerlukan apa-apa lagi,” walaupun ia sesungguhnya adalah “tidak terkasihan, dan sengsara, dan miskin, dan buta, dan telanjang.”
Sidang di zaman Kristus telah bertekad untuk mendirikan kerajaan pada masa itu sewaktu belum semua orang bersedia baginya; sidang di waktu ini bertekad bukan untuk mendirikannya sekarang, sewaktu “akhir dari segala perkara telah dekat” (1 Petrus 4 : 7), — sewaktu masanya sepenuhnya sudah sampai. Orang-orang Yahudi ingin mendapatkan kembali kerajaan itu yang telah lepas dari mereka — yaitu suatu kerajaan yang penuh dosa dan orang-orang berdosa. Mereka ingin sekali bebas dari hanya perhambaan Romawi, bukan juga dari dosa dan dari orang-orang berdosa. Akibatnya, setelah Kristus mengatakan: “Kerajaan-Ku bukanlah dari dunia ini” (Yahya 18 : 36), maka mereka tidak mau menyetujuinya begitu; sebaliknya sidang pada waktu ini, sambil dengan buta mengabaikan injil yang dengan jelas menyatakan, bahwa Allah kini sedang mendirikan kerajaan-Nya yang tidak bercacad cela, dan Ia akan membebaskan umat-Nya bukan hanya dari perhambaan Babil, melainkan juga dari dosa dan orang-orang berdosa, mereka bertekad untuk menyingkirkannya sampai sesudah masa seribu tahun milenium. Demikianlah adanya pertentangan dari hati manusia yang kacau — justru dalam menghadapi kenyataan, bahwa dalam setiap perjalanan ia terlihat sudah sampai pada perbatasan dari kekekalan itu,
275 total, 2 views today


