<< Go Back
Mereka Yang Setia Bertindak Segera
Karena Lot maupun Ibrahim terlihat dalam silsilah keturunan Kristus, maka pertanyaan dengan sendirinya timbul: ‘Mengapa kedua orang ini begitu besar dihormati?’ Maka jawabannya yang menunggui kita adalah: Ibrahim memperoleh hormat yang besar ini karena ia setia kepada Firman Allah dan ia tidak pernah rnernpermasalahkannya, walaupun segala perkara tampaknya tertuju untuk memenuhi perkara-perkara itu sendiri bertentangan dengan kepentingan-kepentingannya dan janji-janji Allah. Walaupun Allahtelah menjanjikan untuk memberikan tanah itu kepadanya dan keturunannya bagi suatu harta pusaka yang kekal, Ibrahim secara pribadi tidak pernah menerima apa yang dijanjikan itu. Di samping menjalani ujian-ujian iman yang sangat berat ini, ia telah menunggu dua puluh lima tahun lamanya terhadap anak yang dijanjikan itu, hanya untuk diperintahkan supaya apabila putera satu-satunya itu telah menjadi seorang pemuda, supaya mernpersembahkannya sebagai suatu korban bakaran. Selanjutnya, melalui setiap cobaan ia tidak pernah lepas imannya dari pada Allah, melainkan sapenuhnya ia menaruh harap kepada-Nya dan mematuhi semua perintah-Nya. Karena alasan inilah Allah menghormati dia.
Namun ajaran istimewa itu di sini untuk dipelajari bukan hanya lebih banyak dari pengalaman Ibrahim dari pada pengalamannya Lot, karena walaupun Lot kurang bermurah hati seperti halnya Ibrahim, dan tidak begitu rela untuk tinggal jauh terpisah dari dunia, namun imannya pada janji-janji Allah yang kepada Ibrahim, itu adalah sama kuatnya seperti halnya iman Ibrahim sendiri, bahkan dalam beberapa hal imannya malahan lebih besar; karena Allah berbicara kepada Ibrahim secara pribadi, sedangkan kepada Lot la berbicara melalui perantaraan Ibrahim. Oleh sebab itu, maka Lot sudah harus memiliki keyakinan yang penuh, bahwa Allah telah berbicara kepadanya melalui Ibrahim.
Apalagi, karena di zaman Ibrahim itu belurn terdapat satu pun Alkitab oleh mana dapat dibuktikan apakah perginya dia ke luar dari rumah orangtuanya itu benar-benar menggenapi nubuatan, dan apakah Allah benar-benar sedang memimpin dia untuk pergi meninggalkan Ur di Kasdim itu untuk menuju ke suatu tanah yang letaknya pun ia sendiri tidak mengetahui (Iberani 11 : 8, 9), maka kita saksikan bahwa Lot adalah tidak sama dengan kebanyakan orang yang ada sekarang, yang mempermasalahkan dan mengkritik apa saja kebenaran yang dibukakan. Tanpa sedikitpun pertanyaan dan keragu-raguan ia menaruh harap sepenuhnya kepada Allahnya Ibrahim, dan dengan keyakinan penuh ia ikut dalam pencarian terhadap tanah perjanjian itu.
Alangkah bedanya antara tabiat dari Lot dan tabiat dari orang-orang Yahudi yang menolak nabi-nabi dan bahkan membunuh mereka itu sampai mati. Karena alasan inilah Allah telah menghargai Lot dengan karunia terbesar yang sorga dapat berikan kepada umat manusia — yaitu memperoleh bagian sebagai leluhur di bumi dari Tuhan Kemuliaan itu, yaitu Raja yang kekal.
Selanjutnya, walaupun orang-orang keturunan dari Lot, yaitu orang-orang Moabi dan orang-orang Ammon itu tidak lebih baik dari pada orang-orang kapir lainnya, namun demi karena Lot, maka Allah tidak menangani mereka itu sama seperti yang dilakukan-Nya terhadap orang-orang Kapir lainnya, melainkan diperintahkan-Nya kepada Musa supaya “jangan menyusahkan orang-orang Moabi, itu dan jangan memerangi mereka, karena tiada akan Kuberikan kepadarnu tanah mereka itu untuk milikmu; karena Aku telah mengaruniakan Ar kepada bani Lot sebagai miliknya.” “Dan apabila kamu sampai dekat menghadapi bani Ammon, janganlah kamu menyusahkan mereka itu, jangan juga kamu mencampuri urusan mereka itu, karena tiada Aku akan memberikan apapun dari tanah bani Ammon itu menjadi milikmu; karena sudah Ku karuniakannya kepada bani Lot untuk milik mereka.” Ulangan 2 : 9, 19.
Maka kata Yesus, “Jika seseorang melayani Aku, hendaklah ia mengikut Aku; dan di mana Aku berada di sanapun hendaklah hamba-Ku berada; jika seseorang melayani Aku, dia akan dihargai oleh Bapa-Ku.” Yahya 12 : 26. Juga kata Pemazmur, ia akan berseru kepada-Ku dan Aku akan menjawabnya: Aku akan berada bersamanya dalam kesusahan; Aku akan melepaskan dia, dan Aku akan menghargai dia.” Mazmur 91 : 15.
Terlepas dari perbuatan yang menggembirakan oleh menunjukkan penyambutan yang ramah kepada malaikat-malaikat yang mengunjungi Sodom (Kejadian 19 : 1), tindakan termulia dalam catatan kehidupan Lot yang bernoda ialah bahwa ia telah mengikuti Ibrahim dalam agama asing yang baru ditemukannya itu dan, bahwa untuk berbuat begitu ia tetah berpisah meninggalkan rumah bapanya maupun tanah airnya, tanpa mengetahui kemana ia sedang pergi. Sebagai akibatnya, maka di samping memperoleh berkat kekal oleh menjadi salah seorang leluhur Kristus di bumi ini (suatu berkat yang akan disadarinya melalui Kristus pada hari kebangkitan yang menggembirakan, dan bersukaria untuk selamalamanya), ia juga tidak berjalan dengan hampa tanpa berkat-berkat kebutuhannya yang ada, karena sementara dikelilingi oleh bahaya dunia ini, malaikat-malaikat utusan dari sorga juga telah melepaskannya dari bencana kota Sodom itu sebelum kota itu hangus menjadi abu. (Kejadian 19 : 16, 24, 25).
Walaupun demikian, kalau saia ia telah menunggu untuk melihat kenyataan yang lebih besar lagi apakah Allah benar sedang memimpinnya dalam detik-detik yang sangat menentukan bagi hidupnya itu; kalau saja ia mengatakan dalam hatinya: ‘Aku belum akan bertindak, tetapi aku akan menunggu sampai perjuangan ini terbukti berhasil. Aku akan pertama-tama menyelidiki sampai mengetahui dengan pasti bahwa tanah itu subur, dan alam udaranya cocok bagi keluargaku, kawanan lembuku dan sebagainya, maka ia tidak pernah akan memperoleh bagian dalam pergerakan itu sendiri, atau pun dalam garis keturunan dari Tuhan Kemuliaan, atau dalam kerajaan kekal-Nya.
Saudara, Saudariku, adakah anda memiliki iman dari Lot itu? “Semua perkara ini telah jadi terhadap mereka sebagai contoh-contoh; dan………. tertulis sebagai nasehat bagi kita, kepada siapa akhir dunia ini akan datang.” 1 Korinthi 10 : 11. Maka marilah kita mengikuti jejak-jejak dari orang-orang besar milik Allah ini, menaruh harap pada Firman-Nya yang tak berobah, dan bertindak sesuai dengan itu tanpa sedikitpun ragu-ragu. Janganlah mengikuti jalan orang-orang yang ragu-ragu, yang mempermasalahkan ini dan itu, dan yang mengkritik ini dan itu, dan yang berada dalam akibat-akibat berbahaya, yang tidak pernah sampai pada pengetahuan kebenaran. Dari hal orang-orang yang sedemikian ini yang pernah hidup pada permulaan Pergerakan Advent yang lalu, sejarah gereja menegaskannya sebagai berikut: “Orang banyak, karena menaruh harap sepenuhnya kepada pendeta-pendeta mereka, maka mereka telah menolak mendengarkan amaran; dan orang-orang lainnya, walaupun telah yakin akan kebenaran itu, mereka tidak berani mengakuinya, supaya tidak mereka ‘dibuang keluar dari kaabah.’
“Halangan besar baik terhadap penyambutan maupun terhadap pemberitaan kebenaran ini, ialah karena kenyataan bahwa ini mengandung penghinaan dan hal-hal yang tidak menyenangkan. Inilah satu-satunya alasan terhadap kebenaran yang oleh para penganjurnya tidak pernah dapat dibantah. Namun ini tidak sedikitpun menggoyahkan pengikut-pengikut Kristus yang sejati. Mereka ini tidak menunggu akan kebenaran itu sampai menjadi populer disukai. Karena yakin akan kewajiban mereka, maka mereka dengan rela menerima salib, lalu bersama-sama dengan rasul Paulus membuat perhitungan, bahwa “penderitaan kita yang ringan, yang hanya sementara saja lamanya, mengerjakan bagi kita suatu kemuliaan kekal berbobot yang jauh lebih besar;’ dari pada salib tua yang dahulu itu, menjunjung tinggi akan celaan Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada harta kekayaan di Mesir.’ ” — The Great Controversy, pp, 380, 460.
Baik orang-orang Moabi maupun orang-orang Ammon yang adalah keturunan dari Lot, dan Lot yang merupakan satu dengan Ibrahim, juga orang-orang Edom yang adalah keturunan dari Esau, saudara kembar dari Yakub, dari hal sekalian mereka itu Allah menyatakan, “tetapi dalam generasi yang keempat mereka kelak akan kembali ke sini” (Kejadian 15 : 13 – 16), maka sebab itu mereka seharusnya sudah tahu bahwa masa itu sudah sampai bagi kegenapan dari peristiwa yang sudah lama dinantikan itu, dan seharusnya mereka sudah bersiap-siap sesuai dengan itu, atau, kalau saja mereka tidak melihat akan kebenaran itu, maka mereka seharusnya sudah mengenangkannya kembali apabila mereka melihat akan pergerakan itu yang kini telah sampai pada perbatasan-perbatasan tanah mereka. Kalau seja mereka itu percaya kepada Allahnya Ibrahim seperti Lot percaya, maka mereka tentunya tidak akan menolak untuk mengijinkan bani Israel, keluarga sedarahnya itu, untuk berjalan melewati negeri mereka menuju ke tanah perjanjian, melainkan sebaliknya mereka sudah akan menggabungkan diri dengan bani Israel itu, seperti halnya Lot telah menggabungkan diri dengan Ibrahim, untuk membantu mereka itu menguasai tanah itu.
Ternyata benar, orang-orang Moabi itu telah melangkah sedemikian jauh dalam permusuhan mereka melawan saudara-saudara mereka sendiri sehingga mereka bahkan mengupah Biliam untuk mengucapkan kutuk atas mereka itu, walaupun pada kenyataannya bahwa Allah dalam mengingatkan orang-orang Israel itu akan janji-Nya kepada Lot, Ia telah memerintahkan mereka itu supaya tidak mereka mengganggu akan saudara-saudaranya (Hakim-hakim 11 : 16 – 18).
Dengan demikian karena menolak menyambut mereka itu dan karena menolak memberikan kepada mereka jalan yang aman melewati negerinya, maka orang-orang Moabi itu bukan saja menolak mengakui takdir Allah yang ajaib, melainkan juga mereka telah menolak Dia dalam pribadi umat-Nya yang sudah mereka kenal sebagai orang-orang yang telah dipimpin-Nya dengan tanda-tanda alamat dan keajaiban-keajaiban keluar dari negeri Mesir.
Kiranya pelajaran yang mengerikan ini dapat menerobos masuk ke dalam bathin semua orang pada hari ini, sehingga membuat mereka mengakui kuasa Allah yang maha besar dalam menggenapi nubuatan. Maukah orang-orang Kristen menjauhi kesalahan-kesalahan dan segala kekeliruan masa lalu, lalu tanpa ragu-ragu menggabungkan diri dengan umat Allah dalam barisan langkah maju mereka ke depan menuju ke tanah perjanjian contoh saingan itu? Atau maukah seseorang dalam zaman yang diterangi sekarang ini tetap bersikeras melalaikan Firman Allah, dan menentang umat-Nya, seperti yang diperbuat oleh orang-orang Moabi dan orang-orang Ammon dahulu, yang akibatnya mereka telah kehilangan kerajaan mereka maupun hidup kekalnya? Oh, betapa celakanya, sesudah diterangi oleh Firrnan kebenaran sedemikian ini, mendengarkan hukuman yang sama mengerikan yang diucapkan terhadap diri sendiri, yaitu hukuman yang telah mengeluarkan orang-orang Moabi dan orang-orang Ammon itu dari persekutuan umat Tuhan.
“Seorang Ammon atau pun seorang Moabi tidak diperbolehkan masuk ke dalam sidang jemaat Tuhan; bahkan sampai kepada generasi mereka yang kesepuluhpun mereka dilarang masuk ke dalam sidang jemat Tuhan sampai selama-lamanya : sebab tiada mereka itu menyambut kamu dengan roti dan dengan air sepanjang perjalanan, tatkala kamu keluar dari Mesir; dan karena untuk melawan kamu mereka telah mengupah Biliam bin Beor dari Pethor di Mesopotamia, untuk mengucapkan kutuk atas kamu,” Ulangan 23 : 3, 4.
Pengupahan Biliam oleh orang-orang Moabi itu menarik perhatian kepada kenyataan, bahwa dalam contoh saingannya nanti, orang-orang yang sedang menyambut dan memberkati umat Allah, sebaliknya akan kelak diupahi dengan janji-janji uang dan nama baik oleh hamba-hamba yang tidak jujur untuk mengucapkan kutuk terhadap mereka. Tetapi kita dihiburkan oleh kebenaran (dalam contohnya), bahwa apa yang Allah telah berkati, tak seorang pun dapat mengutuknya.
“Saya tercengang,” demikianlah kata hamba Tuhan, “bahwa oleh teladan-teladan yang ada di depan kita mengenai bagaimana seseorang mungkin keadaannya, dan apa yang dapat ia perbuat, kita sama sekali tidak terdorong terhadap usaha yang lebih besar untuk menandingi perbuatan-perbuatan baik dari orang-orang benar. Mungkin tidak semua dapat menduduki suatu jabatan tertinggi, namun semua orang dapat saja mengisi jabatan-jabatan yang berguna dan terpercaya, bahkan mungkin sekali, oleh kesetiaan mereka yang bersungguh-sungguh, mereka dapat berbuat jauh lebih baik dari pada yang mereka pikirkan. Mereka yang memeluk kebenaran hendaklah berusaha mencarikan suatu pengertian yang cerah terhadap Injil, dan suatu pengetahuan pengalaman dari hal suatu Penebus yang hidup. Inteligensia harus dipelihara, ingatan harus diisi. Segala kemalasan inteligensia adalah dosa, dan tidur rohani ialah kematian.” — Testimonies, vol. 4, p. 399.
“Kami ingin supaya masing-masing kamu menunjukkan kesungguhan yang sama menuju kepada jaminan pengharapan yang penuh sarnpai terakhir, supaya kamu tidak rnenjadi lalai, melainkan menjadi pengikut-pengikut orang-orang yang oleh iman dan kesabaran mewarisi sagala janji itu.” Iberani 6 : 11, 12.
Mereka yang menunggu agar pendeta lebih dulu menyambut pekabaran ini sebelum mereka sendiri bertindak oleh keyakinannya, mereka tidak akan pernah sampai pada pengetahuan akan kebenaran itu. Roh Nubuatan mengatakan:
“Sebagaimana terang dan kehidupan orang-orang itu telah ditolak oleh penguasa-penguasa agama di zaman Kristus yang lalu maka demikian pula itu telah ditolak dalam setiap generasi berikutnya. Berulang kali sejarah pengunduran diri Kristus dari Yudea itu telah diulangi. Pada waktu para pelopor Reformasi menghotbahkan firman Allah, mereka sama sekali tidak memikirkan untuk memisahkan dirinya dari sidang yang ada; tetapi para penguasa agama tidak mau membiarkan terang itu bercahaya, maka mereka yang membawakannya itu dipaksa untuk berusaha mencarikan kelas orang-orang yang lain, yaitu mereka yang rindu akan kebenaran itu. Dalam sejarah kita sekarang hanya sedikit dari para pengikut pelopor-pelopor Reformasi itu yang digerakkan oleh roh mereka. Hanya sedikit yang sedang mendengar akan suara Allah, dan siap untuk menyambut kebenaran dalam cara apapun juga ia itu disampaikan. Seringkali orang-orang yang mengikut jejak-jejak para pelopor Reformasi itu terpaksa berbalik meninggalkan gereja-geteja yang mereka cintai, demi untuk memberitakan ajaran Firman Allah yang jelas. Dan banyak kali orang-orang yang sedang berusaha mencari terang oleh ajaran yang sama mereka terpaksa meninggakan sidang dari para orangtuanya, supaya mereka dapat melaksanakan kepatuhannya.” — The Desire of Ages, p. 232, par. 2
“Pada waktu itu, dan pada masa itu, demikianlah firman Tuhan, akan datang segala bani Israel serta dengan segala bani Yehuda pun bersama-sama, sambil berjalan sambil menangis: mereka akan pergi, hendak mencari Tuhan Allah mereka. Mereka akan menanyakan jalan yang menuju ke Sion dengan muka mereka mengarah ke sana, sambil mengatakan, Datanglah, dan marilah kita bergabung dengan Tuhan dengan suatu perjanjian yang kekal yang tiada akan dilupakan. Bahwa umat-Ku telah menjadi laksana domba-domba yang sesat : gembala gembalanya telah membuat mereka itu tercerai-berai, mereka telah mengusir domba-domba itu di atas gunung-gunung: mereka telah mengembara dari gunung ke bukit, mereka telah lupa akan tempat perhentiannya. Mereka telah ditelan oleh semua orang yang menemui mereka itu; dan kata segala musuhnya : Kami tidak bersalah, sebab mereka itu telah berdosa melawan Tuhan, ternpat keadilan mereka itu, yaitu Tuhan, harapan dari segala nenek moyangnya. Larilah kamu keluar dari tengah-tengah Babil, dan keluarlah kamu dari negeri orang Kasdim, dan jadilah kamu seperti kambing-kambing jantan (pemimpin-pemimpin) di hadapan kawanan kambing-kambing.” Yererniah 50 : 4 – 8.
“Masanya sudah sampai bagi suatu reformasi yang menyeluruh untuk dilaksanakan. Bilamana reformasi ini dimulai, maka roh berdoa akan menggerakkan setiap orang percaya, sehingga akan menghapuskan dari sidang roh perpecahan dan suka menang sendiri. Orang-orang yang belum hidup dalam ikatan persaudaraan Kristus akan saling mendekati satu dengan yang lainnya. Anggota yang satu yang bekerja dalam garis-garis yang benar akan memimpin anggota-anggota lainnya untuk bergabung bersama-sama dengannya mengajukan permohonan untuk mendapatkan ungkapan dari Roh Suci. Tidak akan ada lagi kekacauan, karena semua mereka akan berada dalam persatuan yang harmonis dengan pikiran yang berisikan Roh. Jurang-jurang yang memisahkan orang-orang percaya yang satu dengan yang lainnya akan hancur, maka hamba-hamba Allah akan berbicara perkara-perkara yang sama. Tuhan akan bekerja sama dengan hamba-hamba-Nya. Sekalian mereka akan mengucapkan doa yang diajarkan Kristus kepada hamba-hamba-Nya itu dangan penuh pengertian sebagai berikut : ‘Datanglah, kerajaan-Mu. Jadilah kiranya kehendak-Mu di bumi seperti halnya di dalam sorga.’ Matius 6 : 10.” — Testimonies, vol. 8, p. 251.
“Tuhan berfirman kepada Tuhanku: Duduklah Engkau pada sebelah kanan-Ku, sampai kelak Ku jadikan semua musuh-Mu menjadi alas kaki-Mu. Tuhan akan mengirim tongkat kekuasaanMu dari dalam Sion: peganglah olehMu perintah di tengah-tengah segala musuh-Mu. Umat-Mu akan merelakan diri pada hari kekuasaan-Mu, dalam segala keindahan kesucian semenjak dari kandungan fajar, tampil bagimu embun dari masa mudamu. Tuhan telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal, bahwa Engkau adalah imam untuk selama-lamanya semartabat dengan Melkhizedek. Tuhan pada sebelah kananmu itu akan memalu segala raja-raja pada hari murka-Nya. Ia akan mengadili di antara orang-orang kapir, Ia akan memenuhi tempat-tempat dengan bangkai-bangkai orang mati; Ia akan melukai orang-orang yang menjadi kepala atas banyak negeri-negeri. Ia akan minum dari anak sungai selama perjalanan; maka sebab itu Ia akan mengangkat kepala.” Mazmur 110.
“Ingatlah akan istri Lot.”
“Larilah demi hiduprnu.”
Dengan demikian tinggikanlah struktur kebenaran, sampaikanlah pekabaran, bahwa kerajaan itu akan diperdirikan kembali oleh nabi Eliyah contoh saingan itu, sebelum berakhir masa kasihan, namun karena bumi adalah tidak siap bagi orang-orang suci tinggal selama-lamanya di atasnya, maka sebab itu Yesus akan “datang kembali” dan menyambut semua umat tebusan (baik mereka yang bangkit dari kubur-kuburnya maupun mereka yang akan ditemukan hidup pada saat kedatangan-Nya — 1 Tesalonika 4 : 16, 17), lalu akan dibawa-Nya mereka itu ke rumah-rumah tinggal yang di atas, yang sudah Ia pergi menyediakannya (Yahya 14 : 3). Kemudian karena orang-orang suci itu naik dan orang-orang jahat mati, maka bumi akan ditinggalkan kosong dan gelap (Yeremiah 4 : 23 – 29) selama seribu tahun (Wahyu 20 : 3), setelah mana Tuhan akan turun bersama-sama dengan orang-orang suci (Wahyu 21 : 1 – 3) menyucikan bumi dengan api (2 Petrus 3 : 10 – 13) lalu mempersiapkannya kembali untuk menjadi tempat tinggal kekal bagi orang-orang suci (Yesaya 45 : 18).
Sebab itu sekarang hendaklah imanmu kepada Firman memperbaharui kembali kasihmu kepada kebenaran dan kepada janji kemuliaan yang akan datang itu, sebagai berikut:
“Nyanyikanlah bagi Tuhan suatu nyanyian yang baru, karena telah diperbuat-Nya perkara-perkara yang mentaajubkan: tangan kanan-Nya dan lengan kesucian-Nya telah membawakan kemenangan bagi-Nya. Tuhan telah memberitahukan selamat-Nya: Ia telah menyatakan kebenaran-Nya di hadapan mata segala orang kapir. Maka telah teringatlah ia akan kemurahan-Nya dan kebenaran-Nya terhadap isi rumah Israel: segala hujung bumi telah melihat selamat yang dari Allah kita. Bergembiralah secara ramai-ramai bagi Tuhan, hai seluruh bumi; nyaringkanlah suaramu, dan bersukacitalah, dan nyanyikanlah puji-pujian. Nyanyikanlah bagi Tuhan dengan kecapi; dengan kecapi dan dengan suara mazmur. Dengan serunai dan bunyi trompet-trompet bersoraklah di hadapan hadirat Tuhan, Raja itu. Hendaklah laut dan segala isinya menderu-deru bunyinya, dan juga bumi serta dengan segala yang mendudukinya. Hendaklah segala banjir bertepuk tangan: hendaklah segala bukit bersukaria bersama-sama di hadapan Tuhan; karena Ia datang hendak mengadili bumi: dengan kebenaran akan diadili-Nya dunia dan segala bangsa dengan adil.” Mazmur 98.
O betapa mulianya gambaran-gambaran masa depan itu! Siapakah yang hendak melalaikannya? Saudara-Saudariku, Anda harus berada di sana. Apapun juga kerugian yang Anda alami di sini, pertetapkanlah hatimu untuk memperoleh sebuah rumah di sana.” ………… Itu kelak merupakan suatu keberkatan yang kekal, suatu kebahagiaan kekal, yang mengungkapkan kemuliaan-kemuliaan baru sepanjang segala zaman yang tak terhingga.” — Testimonies, vol. 8, p. 131.
Tengoklah : ………. sungai yang jernih dan padang-padang yang hijau, pohon-pohon yang melambai-lambai dan mata-mata air yang hidup, kota yang bercahaya-cahaya dan para penyanyi yang berjubah-jubah putih, dari rumah samawi kita, — dunia yang cantik itu yang tak seorang pun artist dapat melukiskannya, tidak satu pun bahasa manusia berdosa dapat menceriterakannya. ‘Yang mata tiada tampak, dan pun telinga belum pernah mendengar, atau pun pernah timbul di dalam hati manusia, yaitu perkara-perkara yang telah Allah sediakan bagi mereka yang mencintai-Nya.’ “ 1 Korinthi 2 : 9.
“Untuk tinggal selama-lamanya di dalam rumah yang berbahagia ini, untuk dikandung di dalam jiwa, tubuh, dan roh, bukan bekas-bekas dosa dan kutuk yang gelap itu, melainkan kesamaan yang sempurna dengan Khalik kita, dan sepanjang zaman yang tak terhingga terus malu dalam hikmah pengetahuan, dan dalam kesucian, yang senantiasa menggali lapangan-lapangan ilmu yang baru, senantiasa menemukan keajaiban-keajaiban baru dan kemuliaan-kemuliaan baru, senantiasa bertambah-tambah dalam kemampuan untuk mengetahui dan untuk menikmati dan untuk mencintai, sambil mengetahui bahwa masih ada lagi di seberang kita kegembiraan dan kasih dan hikmah pengetahuan yang tak terhingga, —- yang sedemikian inilah objek yang dituju oleh harapan orang-orang Kristen ………. “ — Counsels to Teachers, p. 55.
*******
306 total, 1 views today


