Paradoks
<< Go Back


 
PARADOKS
 

      

“Maka kembali aku, lalu ku angkat mataku dan ku lihat, maka bahwasanya, adalah keluar empat buah kereta dari antara dua gunung; dan gunung-gunung itu adalah gunung-gunung tembaga. Pada kereta yang pertama terdapat pasangan kuda merah; dan pada kereta yang kedua pasangan kuda hitam, dan pada kereta yang ketiga pasangan kuda putih, dan pada kereta yang keempat terdapat pasangan kuda dauk dan pasangan kuda teji. Kemudian jawabku dan kataku kepada malaikat yang berbicara dengan aku itu : ‘Apakah artinya ini tuan?’ Maka jawab malaikat itu, katanya kepadaku : ‘lni adalah empat roh dari segala langit yang keluar setelah berdiri di hadapan Tuhan seluruh bumi. Pasangan kuda hitam yang ada padanya itu pergi keluar memasuki negeri utara; dan pasangan kuda putih pergi keluar menyusulnya; dan pasangan kuda dauk pergi keluar menuju ke negeri selatan. Dan pasangan kuda teji itu kemudian keluar, lalu berusaha untuk pergi agar mereka dapat berjalan-jalan ke sana sini di seluruh bumi; lalu katanya : ‘Keluarlah kamu dari sana, berjalan-jalanlah di seluruh bumi itu.’ Dengan demikian berjalanlah mereka itu ke sana-sini di seluruh bumi. Kemudian berteriaklah ia kepadaku, sambil berbicara kepadaku, katanya : ‘Bahwasanya, pasangan ini yang pergi menuju negeri utara itu telah mendiamkan roh-Ku di negeri utara.” Zakharia 6 : 1 – 8. (Terjemahan yang lebih tepat dari Alkitab bahasa Inggris).

Ayat-ayat ini berisikan salah satu dari nubuatan-nubuatan bergambar yang sangat luar biasa dan penting yang tercatat di dalam Kitab Suci, maka interpretasinya yang benar akan membawakan suatu wahyu mengenai sejarah sidang yang penting yang mengikat jiwa. Lambang yang pertama yang akan dibicarakan adalah

 

“GUNUNG-GUNUNG TEMBAGA”
       

Karena terbentuk dari tembaga, maka kedua gunung itu, bahkan sampai kepada bagiannya yang terkecil sekalipun, tidak akan pernah dapat dibawa angin ataupun dihanyutkan oleh air bah. Apapun juga yang menimpanya, gunung-gunung itu akan tetap berdiri teguh. Dan karena gunung-gunung itu adalah melambangkan sidang Allah yang suci (seperti yang terlihat dari kata-kata injil : “Demikianlah firman Tuhan; ……… Yerusalem akan disebut suatu kota kebenaran; dan gunung Tuhan serwa sekalian alam akan disebut bukit kesucianZakharia 8 : 3), maka keduanya itu tak dapat tiada harus melambangkan sidang pada sesuatu masa apabila ia itu mampu menahan angin ribut — yaitu apabila sidang berada dalam keadaan suci dan menjadi tempat yang pantas bagi tempat tinggal KEHADIRANNYA YANG SUCI, seperti yang ditunjukkan oleh gunung-gunung itu, yang akan menjadi sebuah benteng pertahanan yang kukuh bagi umat kesucian-Nya dan “suatu tempat berlindung daripada angin, dan suatu kubu persembunyian dari angin ribut; seperti sungai-sungai yang berair di tempat yang kering, seperti bayangan dari sebuah batu karang besar di tanah yang tandus.” Yesaya 32 : 2. Tetapi “orang yang menyesatkan”, demikian firman Tuhan, tidak boleh tinggal di dalam rumah-Ku : orang-orang yang berbicara bohong tidak akan bertahan di hadapan pemandangan-Ku.Mazmur 101 : 7.

Kenyataan-kenyataan yang sedemikian jauh terlihat menunjukkan Tempat Tinggal Allah di dalam dua bagian sejarah yang terpisah, karena Ia hanya memiliki satu organisasi sidang saja pada setiap masa. Lembah yang membentang di antara kedua gunung itu (daerah luas dari mana kereta-kereta itu keluar), tak dapat tiada menunjukkan masa periode di antara kedua organisasi sidang yang dilambangkan oleh gunung-gunung itu.

Landasan yang kukuh ini menjanjikan suatu struktur kebenaran yang pasti yang merangkul sejarah sidang yang mencapai puncaknya dalam suatu pelajaran kebenaran sekarang mengenai akibat penting bagi setiap orang. Hanya jika ia itu mengungkapkan suatu kebenaran yang sedemikian ini dapatlah kita ketahui bahwa hasil interpretasi kita adalah diilhami ilahi, bukan “interpretasi pribadi” dan bahwa ia itu akan tahan terhadap ‘setiap ujian Alkitab. Dalam mengikuti masalah ini, kita kini sampai kepada membicarakan

 

SEJARAH DARI GUNUNG-GUNUNG ITU
YANG SESUNGGUHNYA

       

Sewaktu Israel kuno yang lalu berbaris keluar dari Mesir, “Tuhan berjalan di hadapan mereka dalam sebuah tiang awan pada siang hari untuk menuntun perjalanan mereka; dan di dalam sebuah tiang api pada malam hari untuk memberikan kepada mereka penerangan; untuk terus berjalan baik pada siang hari maupun malam.” “Dan di tempat di mana awan itu berhenti, maka di sanalah bani Israel memasang tenda-tenda perkemahan mereka.” Keluaran 13 : 21; Bilangan 9 : 17. Tetapi beberapa tahun sesudah pergerakan Israel itu berbaris memasuki “tanah perjanjian”, maka Allah lalu menarik kehadiran diri-Nya dari antara mereka, karena dosa besar mereka yang mereka menolak untuk meninggalkannya.

“Oleh sebab itu Ia telah mendatangkan atas mereka itu raja orang Kasdim, yang telah membakar rumah Allah, dan merubuhkan tembok Yerusalem, dan membakar semua istananya dengan api, dan telah menghancurkan semua bejananya yang terbaik. Dan mereka yang berhasil meluputkan diri dari pedang telah dibawanya dengan tertawan ke Babil; di sana mereka dijadikan hamba-hamba baginya dan bagi anak-anaknya sampai kepada pemerintahan kerajaan Persia.” 2 Tawarikh 36 : 17, 19, 20.

Sekiranya ia itu bukan untuk menjadi kenyataan bahwa suatu peristiwa yang sama akan juga jadi di dalam sejarah Kristen, maka barangkali kita sudah akan menyimpulkan tanpa beranjak lebih jauh bahwa “dua buah gunung” dari “tembaga” itu adalah melambangkan dua bagian sejarah sidang di dalam zaman Wasiat Lama. Tetapi karena Zaman Kegelapan itu, semenjak dari tahun 538 TM sampai tahun 1798 TM (Daniel 7 : 25; Wahyu 12 : 6, 14), membagi Gunung Kesucian Allah ke dalam dua bagian yang terpisah, maka kita terpaksa membuktikan masa sejarah itu dari segi lain terhadap mana kedua “gunung tembaga” simbolis ini berlaku.
       

Belum pernah nubuatan simbolis ini berhasil dimengerti oleh umat manapun juga; dan belum pernah ia itu berhasil digenapi dan diungkapkan (karena pada waktu itu kebenarannya belum diperoleh oleh umat di masa lalu dan baru hanya sebagian yang berguna bagi kita sekarang). Jadi tak dapat tiada kegenapannya masih akan datang, yaitu kira-kira pada bagian akhir dari sejarah Kristen.

Logam yang membentuk “gunung-gunung” itu tak dapat tiada melambangkan sesuatu yang akan membentuk apa yang dilambangkan oleh gunung-gunung itu. Tegasnya, “tembaga” harus mengungkapkan orang-orang yang akan membentuk kedua bagian yang suci dari sidang Kristen.

Di dalam Daniel pasal yang kedua, empat kerajaan telah dilambangkan oleh sebuah patung logam yang besar yang daripada emas, perak, tembaga, dan besi — yaitu suatu nubuatan yang cukup dipahami melambangkan Babil, Medo-Persia, Gerika, dan Romawi.

Karena emas adalah yang tertinggi nilainya dalam urutan logam-logam itu, maka emas adalah satu-satunya yang sesuai untuk melambangkan kerajaan yang pertama sesudah air bah. Perak, karena menduduki urutan yang kedua sesudah emas, sebagai logam nomor dua, maka ia tepatnya melambangkan kerajaan yang kedua — yaitu Medo-Persia. Sedangkan tembaga, yang menduduki urutan ketiga setelah emas, tepatnya cocok bagi kerajaan yang ketiga (Gerika), dan dengan sendirinya memperoleh nilai angka tiga.

Dengan demikian, karena terbuat dari tembaga, maka “gunung-gunung” itu menunjukkan bahwa sidang yang dilambangkannya itu berada dalam masa periode yang ketiga. Dan ternyata bahwa adanya suatu masa periode yang ketiga mempersyaratkan adanya dua masa periode sebelumnya, sehingga membuat seluruhnya menjadi tiga bagian sejarah yang besar — yaitu pertama, semenjak dari kejadian dunia sampai kepada air bah; kedua, semenjak dari air bah sampai kepada penyaliban Kristus; dan ketiga, semenjak dari penyaliban Kristus sampai kepada kedatangan-Nya yang kedua kali. Oleh sebab itu sejarah Kristen adalah satu-satunya untuk mana simbol “gunung-gunung tembaga” itu berlaku.

        Jadi, tak dapat tiada yang pertama dari kedua “gunung-gunung” itu melambangkan sidang Kristen yang mula-mula yang dipenuhi roh sebelum tahun 538 TM, dan yang kemudian melambangkan sidang Kristen pada kira-kira sesudah tahun 1798 TM, apabila ia itu, seperti halnya dengan sidang Kristen yang mula-mula, telah mantap untuk menjadi TEMPAT TlNGGAL ALLAH YANG SUCl seperti digambarkan di dalam ayat injil berikut ini : “Hai engkau yang teraniaya, yang terhempas oleh angin ribut, dan tidak terhiburkan, bahwasanya, Aku ………. akan membuat segala jendelamu dari hablur, dan segala pintu gerbangmu dari permata intan ………. Maka semua anak-anakmu akan diajarkan dari hal Tuhan; maka besarlah kelak kedamaian segala anak-anakmu.” Yesaya 54 : 11 – 13.
       

Ini tidak mungkin sebuah simbol mengenai Kota Suci itu, yang akan datang “turun dari Allah dari sorga” (Wahyu 21 : 2), seperti yang disangka beberapa orang, karena kota angkasa itu memiliki pintu-pintu gerbang dari “sebutir mutiara” (Wahyu 21 : 21) sedangkan pintu-pintu gerbang yang digambarkan oleh Yesaya itu adalah dari “permata intan”. Oleh sebab itu, maka bahasa simbolis ini mungkin berupa gambaran saja mengenai orang-orang yang akan membentuk rumah Allah rohani itu. (Lihat Epesus 2 : 20 22). Semua “batu-batunya” terdiri dari “warna-warni yang indah” : sekaliannya itu semuanya adalah perhiasan-perhiasan yang mahal. Tidak ada sampah, tidak ada “lalang-lalang”, tidak ada orang yang mengaku beragama yang “suam rohani” terdapat di antara semua penghuninya, juga sesungguhnya tidak akan pernah ada, karena sebagaimana yang sangat mudah terlihat, melalui “pondasi-pondasinya” ada terlukis para pendirinya; melalui “jendela-jendelanya” keluar terang yang bersinar-sinar, nabi-nabinya yang hidup atau para peramalnya; dan melalui “pintu-pintu gerbang permata intannya” terdapat “para pengawalnya”, yaitu mereka yang akan mengijinkan masuk hanya orang-orang yang berhak masuk, dan melarang masuk semua yang lainnya. Dan “semua perbatasannya dari batu-batuan yang indah-indah” itu adalah para anggotanya yang memperindah rumah itu. Jadi jelaslah, bahwa hanya “yang sedemikian inilah yang akan selamat” yang akan menjadi bagian dari rumah itu.

“Dalam kebenaran engkau akan ditetapkan; engkau akan jauh dari aniaya, karena tiada engkau akan takut; dan dari ancaman bahaya, karena tiada ia itu akan menghampiri engkau. Tengoklah, mereka akan pasti berhimpun bersama-sama, tetapi bukan oleh Aku; barangsiapa yang akan berhimpun bersama-sama melawan dikau ia itu akan jatuh karena sebabmu …….. dan setiap lidah orang yang akan bangkit melawan dikau dalam pehukuman, ia itu akan dihukum olehmu.” Yesaya 54 : 14, 15, 17.

Sidang diramalkan secara simbolis ini tidak mungkin dimaksudkan kepada Kerajaan di dalam “Bumi Baru”, karena pada waktu itu kelak tidak akan ada lagi orang-orang jahat berhimpun melawannya, sedangkan terhadap sidang ini akan berhimpun orang-orang jahat melawannya, yaitu mereka yang “dihukum” olehnya. Dan jika ia hendak menghukum mereka itu, maka mereka tidak akan terhukum sebelum mereka berhimpun bersama-sama melawannya.

“Dengan memakaikan senjata kebenaran Kristus sidang akan memasuki peperangannya yang terakhir. ‘lndah seperti bulan, cerah seperti matahari, dan hebat seperti suatu bala tentara dengan panji-panjinya,’ ia akan keluar memasuki seluruh dunia dengan kemenangan dan untuk memenangkan.” —  Prophets and Kings, p. 725.

“Dengan berpakaikan kelengkapan senjata terang dan kebenaran, ia akan rnemasuki peperangannya yang terakhir. Sanga, benda yang tak berharga itu, akan dihapuskan, maka pengaruh kebenaran akan membuktikan kepada dunia tabiatnya yang menyucikan dan memuliakan.”Testimonies to Ministers, p. 17.

“Oleh sebab itu semua pintu gerbangmu akan senantiasa terbuka; sekaliannya itu tidak akan ditutup baik siang hari maupun pada malam; supaya orang-orang dapat menghantarkan kepadamu pasukan-pasukan orang-orang Kapir, dan supaya raja-raja mereka dapat dibawa. Karena bangsa dan kerajaan yang tidak mau melayani dikau akan binasa; bahkan, bangsa-bangsa itu akan dibinasakan sama sekali.” Yesaya 60 : 11, 12.

Sidang yang digambarkan di dalam ayat-ayat ini adalah jelas bukan sidang yang berada dalam keadaan Laodikeanya — yaitu “dingin tidak panaspun tidak”, dan yang sedang akan diludahkan keluar (Wahyu 3 : 16). Dan karena gunung-gunung tembaga simbolis itu keduanya adalah sama, tidak terdapat perbedaan apapun di antara keduanya, maka “gunung” yang kedua, yaitu sidang Allah yang segera akan datang itu, akan juga sama kuasa dan kesuciannya dengan yang dipunyai oleh “gunung” yang pertama, yaitu sidang Kristen yang mula-mula, suatu pandangan singkat dari halnya akan dipetik dari kata-kata injil berikut ini :

“Dan setelah hari Pantekosta tiba, maka mereka sekaliannya dengan sepakat berkumpul di satu tempat. Dan mereka itu sekaliannya dipenuhi Rohulkudus……. dan pada hari yang sama itu juga telah dipertambahkan kepada mereka kira-kira tiga ribu jiwa. Dan Tuhan menambahkan kepada sidang itu setiap hari bilangan orang-orang yang sedemikian ini yang akan diselamatkan.” Kisah Rasul-Rasul 2 : 1, 4, 41, 47.

“Tetapi seseorang laki-laki yang bernama Ananias dengan isterinya Sapphira, yang menjualkan sesuatu harta miliknya, dan telah menahan sebagian daripada harganya …….. Tetapi kata Petrus: ‘Hai Ananias, mengapakah Setan telah memenuhi hatimu untuk berdusta kepada Rohulkudus, lalu menahan sebagian dari harga tanah itu?’ …… Dan setelah Ananias mendengarkan semua kata-kata ini jatuhlah ia lalu putuslah nyawanya ……… Dan adalah kira-kira tiga jam kemudian sesudah itu sewaktu isterinya ……. masuk. Kemudian kata Petrus kepadanya : ‘Bagaimanakah halnya sehingga kamu telah bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan?’ ……… Kemudian jatuhlah ia langsung di kaki Petrus, lalu menghembuskan napasnya.” Kisah Rasul-Rasul 5 : 1 – 3, 5, 7, 9, 10.

Adakah terdapat sesuatu kesamaan di antara sidang yang digambarkan di dalam Kisah Rasul-Rasul itu dengan sidang yang ada sekarang? Di manakah kuasa Rohulkudus itu di dalam sidang di waktu ini? Di dalam sidang yang mula-mula itu setiap orang telah dipenuhi dengan-Nya. Di manakah dapat kita baca mengenai pernah rasul-rasul mencoba untuk menentukan target-target keuangan? Namun betapa seringnya kita dengar bahwa banyak dari orang-orang yang dibawa masuk ke dalam sidang pada waktu ini, telah keluar. Dan betapa sedikitnya orang-orang yang masih tinggal sekarang benar-benar bertobat mengikuti Kebenaran. Mengapakah terjadi sampah-sampah yang berbahaya sedemikian ini, kerugian yang disayangkan sedemikian ini? Dan mengapakah begitu banyak lalang-lalang yang merusak gandum? Yesus mengatakan “Selagi orang-orang tidur, maka musuhnya telah datang dan menaburkan lalang-lalang di antara gandum-gandum itu, lalu pergi.” Matius 13 : 25. Mengapa? — jelaslah karena para pengawal pada segala pagar tembok Sion tertidur. (Bacalah Testimonies, vol. 5, p. 235).

Dalam menyinari keadaan ini, maka Roh Nubuatan mengatakan : “Betapa besarnya kesesatan yang dapat datang menimpa pikiran manusia daripada merasa yakin bahwa mereka adalah benar, padahal mereka semuanya salah! Pekabaran dari Saksi Yang Benar itu menemukan umat Allah dalam kesesatan yang sangat menyedihkan, namun mereka jujur dalam kesesatan itu …….. Sementara orang-orang yang dituduh itu menyombongkan diri bahwa mereka sedang berada dalam kondisi kerohanian yang tinggi, pekabaran dari Saksi Yang Setia itu memecahkan kesentausaan mereka itu dengan tuduhan yang mengejutkan mengenai kondisi kerohanian mereka yang sebenarnya, yaitu buta rohani, melarat, dan sengsara. Kesaksian yang sedemikian tajam dan keras itu tidak mungkin salah, karena adalah Saksi Yang Benar itu sendiri yang berbicara, dan kesaksiannya harus benar.”Testimonies, vol. 3, pp. 252, 253.

Bagaikan dalam bunyi trompet, maka fakta-fakta yang sangat jelas ini menyatakan, bahwa sidang dalam kondisinya sekarang, adalah sama sekali tidak sama dengan sidang Kristen yang mula-mula itu, maka sebab itu tidak mungkin dapat dilukiskan oleh simbol yang sama yang melukiskannya. Dengan demikian, karena sidang yang ada sekarang sangat tidak sama keadaannya dengan sidang yang mula-mula itu bagaikan gelap daripada terang, maka sidang Allah yang suci yang dilambangkan oleh gunung tembaga yang kedua itu tak dapat tiada masih harus akan datang. Oleh sebab itu marilah kita memuji Allah karena sekaranglah dalam jangkauan kita terdapat kemuliaan dari

 

SIDANG YANG MENANG ITU !

Kapankah kelak sidang akan menjadi benar-benar Tempat Tinggal Allah? Oleh usaha manusia saja adalah tidak mungkin untuk mengadakan suatu perubahan yang sedemikian ini yang sama seperti halnya mengeringkan suatu benua. Hanya Allah saja yang dapat melakukannya. Namun apabila Ia melakukannya, maka Ia tentu akan melaksanakan suatu pekerjaan pembersihan terhadapnya seperti yang dikatakan-Nya :

“Maka Aku akan mengipas mereka itu dengan suatu kipas di dalam pintu-pintu gerbang negeri itu; Aku akan merampas dari mereka itu anak-anaknya, Aku akan membinasakan umatKu, karena mereka tidak mau berbalik daripada segala jalannya.” Yeremiah 15 : 7.

“Kipas-Nya ada di dalam tangan-Nya, maka Ia akan membersihkan seluruh lantai-Nya, lalu mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung; tetapi Ia akan membakar sekam itu dengan api yang tak terpadamkan.” Matius 3 : 12.

“Aku tampak bahwa Tuhan sedang mengasah pedangNya di dalam Sorga untuk menumpas mereka itu. Oh sekiranya setiap orang yang mengaku percaya itu dapat menginsyafi akan pekerjaan pembersihan yang Allah sedang akan lakukan di antara umat-Nya.” Testimonies, vol. 1, p. 190.

“Tuhan akan bekerja untuk menyucikan sidang-Nya. Aku menceriterakan kepadamu dalam kebenaran, bahwa Tuhan sedang akan membolak-balik di dalam lembaga yang terpanggil dengan nama-Nya. Tetapi berapa cepatnya proses pembersihan ini akan dimulai, tak dapat saya katakan, tetapi ia itu tidak akan lama lagi tertunda. Dia yang kipas-Nya terdapat di dalam tangan-Nya itu akan membersihkan kaabah-Nya dari kekotoran moralnya. Ia akan membersihkan seluruh lantai-Nya.” Testimonies to Ministers, p. 373.

“Masanya sudah datang bagi berbagai usaha yang sungguh-sungguh dan penuh kuasa untuk melepaskan sidang dari lumpur dan kekotoran yang sedang mencemarkan kesuciannya.” Sda., p. 450.

Saudara-Saudaraku, janganlah mengatakan : “Khayal yang disaksikannya itu adalah bagi zaman yang akan datang, dan ia bernubuat dari hal zaman yang masih jauh di depan.” Karena “hari-hari itu sudah dekat, dan hasil dari setiap khayal itu sudahlah hampir.” Yeheskiel 12 : 27, 23. “Karena sebab Sion tiada Aku mau berdiam diri-Ku, demikianlah firman Tuhan, dan karena sebab Yerusalem tiada Aku akan beristirahat, sampai kelak kebenarannya keluar seperti cerahnya terang, dan keselamatannya seperti sebuah pelita yang bernyala-nyala.” Yesaya 62 :  1.

“Tetapi hari-hari penyucian sidang itu sedang mendekat dengan cepatnya. Allah hendak memiliki suatu umat yang suci dan benar. Di dalam saringan yang maha kuat yang akan segera datang itu, kita akan kelak lebih mampu mengukur kekuatan Israel …….. Orang-orang yang menaruh harap kepada inteligensi, pemikir istimewa, ataupun talenta, tidak akan ……. berdiri pada barisan terdepan”. (Testimonies, vol. 5, p. 80),

 

APABILA SIDANG DILAMBANGKAN
SESUAI DENGAN GUNUNG-GUNUNG ITU

 

Walaupun saat dari pekerjaan yang besar ini – yaitu masalah yang maha penting bagi sidang Allah pada jam yang kritis ini — adalah jelas disajikan di dalam Alkitab dan Roh Nubuatan, namun secara bertentangan ia itu sedikit sekali dipikirkan dan sedikit sekali dipahami oleh umat di dalam sidang yang berkenan dengan masalah itu. Maka sebab itu terhadap hal ini kita akan terus menyelidikinya secara mendalam.

Dalam hal Ilham, maka nubuatan Yesaya menuliskannya sebagai berikut : “Karena oleh api dan oleh pedang-Nya Tuhan akan menghukum segala manusia; maka besarlah kelak jumlah orang yang dibunuh oleh Tuhan …….. Maka Aku akan mengutus orang-orang yang luput dari mereka itu kepada segala bangsa, …… dan mereka akan membawa semua saudaramu ……. di dalam sebuah bejana yang suci ke dalam rumah Tuhan.” Yesaya 66 : 16, 19, 20.

Tandailah karena kata-kata nubuatan ini mengatakan bahwa orang-orang yang “luput” yang berada di antara “orang-orang yang dibunuh Tuhan itu” akan diutus “kepada segala bangsa” dan bahwa mereka “akan menyatakan kemuliaan-(Nya) di antara bangsa-bangsa Kapir. Dan ………. akan membawakan semua saudara (mereka) ………. keluar dari segala bangsa.”

Karena pekerjaan pengumpulan besar yang meliputi seluruh dunia ini tidak mungkin dapat dilakukan sesudah masa kasihan berakhir, maka janganlah anda membiarkan musuh menyesatkan anda “dengan kata-kata manis dan bicara-bicara yang muluk-muluk.” Tunjukkanlah kepadanya bahwa ia tidak mungkin dapat menjelaskan pasal-pasal yang diilhami ini dengan cara lain, untuk mendapatkan penjelasan yang selaras dengan apa yang difirmankan Tuhan dalam kata-kata injil di atas maupun dalam ucapan berikut ini dari Roh Nubuatan :

“Sementara pemeriksaan hukum berlangsung di dalam sorga………. akan ada suatu pekerjaan pembersihan khusus ….. di antara umat Allah di atas bumi ………. Kemudian sidang yang akan disambut oleh Tuhan kita bagi diri-Nya sendiri pada kedatangan-Nya akan menjadi sebuah sidang yang mulia, tidak bercacad cela, atau kerutan, ataupun sesuatu perkara yang sedemikian ini. Kemudian ia akan tampak bagaikan pagi hari, indah bagaikan bulan, dan cerah bagaikan matahari, dan hebat menakutkan bagaikan suatu bala tentara dengan panji-panjinya.”The Great Controversy, p. 425.

Pernyataan dari Roh Nubuatan ini juga menunjukkan dengan jelas, bahwa pembersihan itu akan jadi sebelum masa kasihan berakhir, atau “sementara pemeriksaan hukum berlangsung di dalam sorga”, dan kemudian sidang yang bersih dan tidak bercacad-cela itu akan pergi masuk ke seluruh dunia dengan kemenangan dan untuk memenangkan (Prophets and Kings, p. 725).
       

Saudara, Saudari, janganlah bangkit berdiri menentang pekabaran kelepasan ini, lalu dengan berbuat demikian itu bergabung dengan barisan dari musuh itu yang telah menabur lalang-lalang di dalam sidang, dan yang bertekad untuk tetap mempertahankan mereka di sana, karena ia tahu bahwa dengan sebuah sidang yang bersih kuasanya akan ditindas, dan segala pagar rintangan yang telah didirikannya menentang pekabaran itu akan dirubuhkan berkeping-keping. Memang, “kita tidak perlu berharap bahwa apabila Tuhan memiliki terang bagi umat-Nya, maka Setan, akan berdiri tenang, dan tidak akan berusaha untuk menghalanginya. Ia akan berusaha atas pikiran manusia untuk mendorong ketidak percayaan dan iri hati dan keragu-raguan,”Testimonies, vol. 5, p. 728.

Dari bukti-bukti yang dikemukakan nyatalah dengan jelas bahwa pembersihan sidang itu akan jadi sebelum pekerjaan Injil berakhir di setiap bagian dunia; karena orang-orang yang “luput” dari pembantaian itu akan diutus untuk “menghantarkan semua saudara (mereka) bagi suatu persembahan kepada Tuhan keluar dari segala bangsa.” Oleh sebab itu perlu, bahwa terwujudnya “pekerjaan pembersihan yang istimewa” ini mendahului dimulainya “Seruan Keras” itu. Bukti rangkap yang meyakinkan mengenai hal ini adalah dari penegasan Roh Nubuatan bahwa “umat Allah yang sejati, yaitu mereka yang memiliki roh pekerjaan Tuhan, …….. akan selalu berada pada pihak penanganan yang jujur dan terbuka terhadap dosa-dosa ……. Terutama dalam pekerjaan penghabisan bagi sidang, dalam masa pemeteraian mereka yang seratus empat puluh empat ribu itu ….. ” Pekerjaan pembersihan yang istimewa ini dan “pemeteraian hamba-hamba Allah adalah sama dengan apa yang diperlihatkan kepada Yeheskiel dalam khayal.” — Testimonies, vol. 3, p. 266; Testimonies to Ministers, p. 445.

Khayal Yeheskiel itu mengungkapkan bahwa orang-orang yang “berkeluh kesah dan menangis karena segala kekejian yang dilakukan di tengah-tengahnya (sidang itu) akan dibubuhi tanda, atau dimeteraikan, dan bahwa orang-orang yang memegang “senjata-senjata pembantai” itu kemudian “membunuh seluruhnya baik tua maupun muda, baik anak-anak gadis maupun anak-anak kecil, dan wanita-wanita” yang tidak memiliki tanda. Oleh sebab itu, maka pembersihan sidang itu adalah suatu pemisahan orang-orang berdosa yang dipisahkan dari umat Allah yang sejati. Pada masa kegenapannya, masa depan yang tidak lama lagi itu, mereka yang 144.000 itu akan memperoleh meterai, atau tanda, mereka akan luput dari pembantaian itu, menjadi “hamba-hamba Allah”, lalu pergi keluar kepada segala bangsa untuk menyelesaikan pekerjaan itu. lnilah yang akan membuat mereka menjadi “buah-buah pertama” dari orang-orang hidup yang akan diobahkan, berikut “semua saudara mereka” yang mereka bawa (“rombongan besar” dari Wahyu 7 : 9 itu), yaitu buah-buah kedua dari orang-orang hidup yang akan diobahkan; karena jika tidak ada buah-buah kedua, maka tidak mungkin ada buah-buah pertama. (Bagi penjelasan lebih lanjut terhadap masalah ini bacalah Traktat No.1 Hampir “Jam Kesebelas” Esktra!)

Saudara-Saudara, kita harus “berkeluh kesah dan menangis” melawan dosa-dosa di dalam sidang; bukan melawan pekabaran itu yang akan memeteraikan kita untuk diobahkan dan membuat kita menjadi suatu umat yang cocok dilambangkan oleh gunung tembaga itu. Keluh kesah dan tangisanmu menentang segala kekejian yang dibuat “di tengah-tengahnya”, akan membuatmu terpilih untuk memperoleh “tanda” itu; namun jika engkau berusaha melindungi kekejian-kekejian itu, maka engkau akan jatuh di bawah senjata-senjata pembantai dari malaikat-malaikat. Sidang akan disucikan dan dibersihkan dan dipersiapkan untuk menjadi Tempat Tinggal Allah. Tidak ada lagi dalam cara lain yang dapat ia dikenal sebagai “gunung tembaga” itu, yaitu lambang kekekalan. Inilah sidang yang akan “memasuki peperangannya yang terakhir”, dan dialah satu-satunya yang akan “diserang” oleh naga itu; karena “perempuan” simbolis itu dan “benihnya”, sebagai suatu badan organisasi, memeliharakan perintah-perintah Allah dan berpegang pada “kesaksian Yesus Kristus”. Wahyu 12 : 17.

Setelah sepenuhnya menyelesaikan bagian pertama dari lambang Zakharia itu, maka kita sekarang mengarahkan perhatian kita kepada

 

LEMBAH YANG TERLETAK DI ANTARA
KEDUA GUNUNG ITU

       

Setelah kebenaran ditegakkan dengan kukuh bahwa sidang Kristen yang mula-mula dilambangkan oleh salah satu dari “gunung-gunung tembaga” itu, dan sidang yang mengakhiri pekerjaan Injil dilambangkan oleh gunung tembaga yang satunya, maka dengan sendirinya menyusul secara logis bahwa lembah di antara kedua gunung itu, dari mana keempat kereta itu keluar, tak dapat tiada harus melambangkan masa periode semenjak dari sidang yang satu sampai kepada sidang yang lainnya. Jadi, simbol berikutnya yang akan dibicarakan ialah

 

KEEMPAT KERETA ITU
       

Nabi Zakharia mengatakan : “Pada hari itu kelak akan terdengar pada lonceng-lonceng kuda-kuda itu, KESUCIAN BAGI TUHAN.Zakharia 14 : 20. Sebagai simbol-simbol untuk menggambarkan berbagai pelajaran, kuda agaknya sangat menonjol digunakan di dalam lnjil, tentunya karena dalam setiap contoh disesuaikan dengan tepat kepada keadaan dan situasi. Dalam hubungan ini, kuda-kuda itu melambangkan orang-orang, karena bunyi “lonceng-lonceng” mereka adalah “KESUCIAN BAGI TUHAN”; sedangkan “gerakan-gerakan yang seperti kekejangan yang tak teratur dari beberapa orang yang mengaku orang-orang Kristen adalah dilambangkan dengan pekerjaan dari kuda-kuda yang kuat tetapi tidak terlatih. Bilamana yang satu menarik ke depan, maka yang lainnya menarik ke belakang.” Testimonies to Ministers, pp. 489, 490.

Oleh sebab itu, “kuda-kuda” simbolis ini masing-masing menggambarkan suatu kelas umat tertentu dalam hubungannya dengan sidang. Dan karena kenyataannya masing-masing pasang sedang menarik sebuah kereta, maka mereka hanya dapat menunjukkan suatu kelas pemimpin-pemimpin sidang. Dengan sendirinya kereta-kereta itu tak dapat tiada harus menggambarkan keanggotaan sidang yang sedang dipimpin oleh kuda-kuda simbolis itu. Lagi pula, terhadap pertanyaan Zakharia yang berbunyi : “Apakah artinya sekaliannya ini, tuanku? …… malaikat itu menjawab dan mengatakan, …….. Sekaliannya ini adalah empat roh dari segala langit, yang pergi keluar daripada berdiri di hadapan Tuhan seluruh bumi.” Zakharia 6 : 4, 5. Oleh sebab itu simbol-simbol ini menunjukkan pekabaran-pekabaran dari sorga yang dibawa oleh sidang di bumi. Dan karena simbol itu memiliki batasan definisinya sendiri, maka ia akan menjawab pertanyaan :

 103 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart