Mengapa Kereta melambangkan sebuah Sidang ?
<< Go Back


 

MENGAPA KERETA MELAMBANGKAN
SEBUAH SIDANG ?

 
  
 
Firman Allah memberi lambang kepada sidang Allah dengan berbagai objek di bumi. Untuk melukiskannya Tuhan berfirman : “Pada hari itu Aku akan membuat Yerusalem menjadi sebuah batu tanggungan bagi segala bangsa; maka semua orang yang membebani dirinya dengan batu itu akan ditumpas berkeping-keping.” Zakharia 12 : 3. “Engkau pun akan menjadi sebuah mahkota kemuliaan di dalam tangan Tuhan.” Yesaya 62 : 3. “Dan ketujuh kaki pelita yang kau lihat itu adalah tujuh sidang.” Wahyu 1 : 20.
Objek yang sama tidak mungkin dapat menggambarkan tabiat sidang secara tepat dalam berbagai kondisi dan keadaan atau hubungan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, di satu pihak sidang yang telah melahirkan Kristus (Wahyu 12 : 1, 2) tidak mungkin dapat dilambangkan secara tepat cocok oleh sesuatu kereta, melainkan hanya oleh seorang perempuan, sedangkan di lain pihak sidang dengan mana Allah hendak menghancurkan bangsa-bangsa, tidak mungkin dapat secara tepat cocok disamakan dengan seorang perempuan, melainkan sebaliknya dengan sebuah “batu” (Daniel 2 : 45), atau sebuah “kapak”, Yeremiah 51 : 20. Bagi sebuah sidang dalam tugasnya mengumpulkan jiwa-jiwa, lambang yang tepat cocok adalah sebuah “kereta”, dan bagi kepemimpinannya dengan sendirinya adalah “kuda”.
Karena di dalam lambang di hadapan kita ini ada terdapat empat kereta yang akan dicari identitasnya, maka kita harus membicarakan masing-masingnya secara terpisah, dimulai dengan

 

KERETA YANG PERTAMA
 

Urutan kereta-kereta itu menunjukkan suatu seri peristiwa-peristiwa Injil. “Pada kereta yang pertama terdapat pasangan kuda merah.” Bahwa warna merah itu melambangkan pertumpahan darah, Roh Nubuatan membuktikannya sebagai berikut: “Sementara kami berjalan bersama-sama, maka kami menemukan suatu rombongan ….. Saya melihat warna merah sebagai suatu batas pinggiran pada baju-baju mereka. …….. Saya menanyakan kepada Yesus siapa mereka itu. Jawab-Nya bahwa mereka itu adalah para martir yang telah dibunuh karena-Nya.” Early Writings, pp. 18, 19. Karena batasan warna merah pada baju-baju dari rombongan ini merupakan lambang dari mati sahid, maka jelaslah bahwa warna merah dari “pasangan kuda” itu menunjukkan para pemimpin sidang yang mati sahid sebelum tahun 538 TM.

 
Dalam menjawab pertanyaan Zakharia mengenai siapakah kuda-kuda itu dan sedang kemanakah mereka itu pergi, maka malaikat itu menjawab : “Pasangan kuda hitam yang ada di dalamnya itu pergi memasuki negeri utara; dan pasangan kuda putih itu pergi keluar mengikutinya; dan pasangan kuda dauk itu pergi keluar ke arah negeri selatan. Dan pasangan kuda teji itu pergi keluar, lalu berusaha pergi agar mereka dapat berjalan ke sana ke mari di seluruh bumi.” Zakharia 6 : 6, 7. Walaupun jawaban malaikat itu mengungkapkan masing-masing arah yang dituju oleh pasangan-pasangan kuda hitam, putih, dauk dan teji itu, ia sama sekali tidak menyebut mengenai pasangan kuda merah, sehingga dengan demikian dapat disimpulkan dengan kuat bahwa pasangan kuda merah itu sudah mati sahid sehingga tidak lagi pergi lebih jauh dari tujuan mereka yang terakhir yang bersangkutan itu. Karena ini adalah jelas, maka langkah kita berikutnya secara logis ialah mengidentifikasikan

 

KERETA YANG KEDUA
 
 
“Dan pada kereta yang kedua itu (terdapat) pasangan kuda hitam.” Secara umum, arti simbolis dari “hitam” ialah terikat. Demikianlah karena mati sahid sidang Kristen yang mula-mula itu telah disusul oleh Zaman Kegelapan Agama semenjak dari tahun 538 TM sampai tahun 1798 TM, maka adalah jelas sekali bahwa kereta dengan pasangan kuda hitam itu melambangkan sidang berikut kepemimpinannya selama masa periode nubuatan yang panjang ini di bawah penjajahan Romawi Kerohanian. Kenyataan ini dibuktikan oleh penjelasan malaikat mengenai arah tujuan pasangan kuda itu : “Pasangan kuda hitam itu”, katanya, “……. pergi keluar memasuki negeri utara.” Dan “negeri utara” adalah sebuah sebutan Alkitab bagi Babilon kuno, seperti yang cepat terlihat dari kata-kata injil berikut ini :
“……….firman Tuhan Hua; ………. Aku hendak membawa ……. Nebukhadnezar raja Babilon, …….. dari utara.” Yeheskiel 26 : 7. Dan lagi : sewaktu orang-orang Yahudi kembali dari Babilon ke Yerusalem, maka Allah berfirman melalui nabi-Nya Zakharia, kata-Nya : “Wahai, dengarlah, keluarlah, dan larilah dari tanah utara” (Zakharia 2 : 6), dengan demikian mengidentifikasi Babilon sebagai “negeri utara itu”. Tetapi karena kita sedang membicarakan kegenapan nubuatan ini di dalam sejarah Wasiat Baru, maka negeri utara dalam hubungan ini tak dapat tiada harus berupa Babilon contoh saingan — yaitu Romawi Kristen — di mana umat Allah selama periode sejarah Wasiat Baru berada. Kebenaran yang tegas, jelas, mengenai kereta yang kedua ini membawa kita kepada mengungkapkan

 

KERETA YANG KETIGA
 
 
Maka terdapat “di dalam kereta yang ketiga itu pasangan kuda putih”. Karena warna hitam adalah berarti terikat, maka warna putih, sebagai kebalikan dari warna hitam, tak dapat tiada harus menunjukkan kebebasan. Sesuai dengan itu, maka pasangan kuda putih berikut keretanya itu tak dapat tiada harus melambangkan sidang, sesudah masa periode 1260 tahunnya di bawah penjajahan Romawi. Kata malaikat itu kepada Zakharia : “Pasangan kuda putih itu pergi keluar menyusul” pasangan kuda hitam ke negeri utara. Oleh sebab itu pasangan kuda putih itu melambangkan sebuah sidang yang bebas merdeka, yang membawakan sebuah pekabaran dari sorga kepada negeri utara tak lama kemudian sesudah tahun 1798 TM, dalam masa kebebasan. Satu-satunya pekabaran yang sedemikian ini yang ditemukan pada catatan sejarah ialah mengenai pergerakan Miller, antara lain kita baca sebagai berikut :
“Kepada William Miller dan pembantu-pembantunya telah diijinkan menghotbahkan amaran itu di Amerika. Negeri ini telah menjadi pusat pergerakan Advent yang besar itu …… Tulisan-tulisan Miller dan sekutu-sekutunya telah disebarkan ke daerah-daerah yang jauh-jauh. Dimanapun para missionaris dapat masuk ke seluruh dunia ini, maka kabar kesukaan dari hal kedatangan Yesus yang secepatnya itu mereka siarkan.”The Great Controversy, p. 368.
Tetapi walaupun “pasangan kuda putih itu” pergi ke “negeri utara”, orang-orang dari pergerakan Miller itu, atau “Pergerakan Advent yang Pertama” bukanlah menyambut seruan, “keluarlah daripadanya hai umat-Ku”. Ini dijelaskan oleh kata-kata Miller sendiri yang berbunyi : “Dalam seluruh pekerjaan saya ……… saya tidak pernah memikirkan atau bermaksud untuk mendirikan sesuatu kepentingan yang terpisah daripada semua kepentingan berbagai gereja-gereja yang sudah ada, atau mengambil keuntungan dari yang satu dengan mengorbankan yang lain. Yang saya pikirkan adalah untuk kepentingan semua.”The Great Controversy, p. 375.
Wahyu penutupnya adalah : “Tengoklah, mereka ini yang pergi menuju negeri utara telah mendiamkan RohKu di negeri utara itu.” Zakharia 6 : 8. Setelah pekabaran amaran oleh pergerakan Miller itu ditolak oleh gereja-gereja, dalam menggenapi kata-kata, “telah mendiamkan Roh-Ku di negeri utara”, maka Allah kemudian menarik Roh-Nya dari mereka. Dalam kenyataan mengenai hal ini, maka “Malaikat yang Kedua” memberitakan : “Babilon sudah jatuh”. Wahyu 14 : 8.
Rantai kenyataan-kenyataan yang disebut di atas yang meliputi tiga “kereta-kereta” simbolis yang pertama itu, menunjukkan bahwa beberapa seri peristiwa-peristiwa injil yang mereka pahami berakhir dengan pergerakan Miller dalam tahun 1844. Dan kenyataan tambahan bahwa warna “putih” dari “pasangan kuda” itu juga berarti kemurnian, menunjukkan bahwa “kereta yang ketiga” adalah melambangkan sidang yang dari seluruh tujuh sidang itu merupakan satu-satunya sidang yang putih, tanpa tuduhan — yaitu sidang Philadelfia (Wahyu 3 : 7).
Firman Allah adalah penuh dengan pengertian; dalamnya adalah tak terduga; dan kebenarannya, bagaikan ombak-ombak yang senantiasa pecah di garis pantai, membersihkan pantai kehidupan dengan ombak-ombak yang tak pernah berhenti, salah satunya membawa masuk kenyataan bahwa sidang Miller yang dinamakan “Philadelfia” itu bukanlah hanya secara kebetulan. Nama itu, yang berarti “cinta persaudaraan” telah direncanakan secara ilahi, dan dalam seluruh sejarah Kristen tidak akan cocok dengan suatu organisasi gereja lain selain daripada gereja Miller saja — yaitu satu-satunya gereja yang tidak didapati bersalah karena memecat anggota-anggotanya yang mendengarkan sesuatu pekabaran dari Allah, atau karena membatasi kebebasan beragama mereka dalam menyelidiki bagi dirinya sendiri sesuatu kebenaran yang diakui. Oleh sebab itu, maka gereja Miller itu sajalah yang berdiri bebas dari kesalahan maupun tuduhan yang digariskan di dalam tuduhan Tuhan yang berbunyi :
“Dengarlah akan firman Tuhan, hai kamu yang gentar akan firman-Nya; kendatipun Saudara-Saudaramu yang membenci kamu, yang membuang kamu keluar karena sebab nama-Ku, mengatakan, Supaya Tuhan dipermuliakan; namun Ia akan kelihatan bagi kesukaan kamu, dan mereka itu akan dipermalukan.” Yesaya 66 : 5. Para hakim yang dituduh sorga ini karena mengangkat dirinya sendiri, mereka sendiri tidak masuk, tetapi orang-orang yang masuk mereka halangi (Lukas 11 : 52). Mengulangi : pergerakan Miller itu, atau “Pergerakan Advent yang Pertama”, karena merupakan satu-satunya gereja yang tidak pernah membuang keluar satupun dari saudara-saudaranya, maka dengan sendirinya merupakan satu-satunya sidang yang dapat dilambangkan oleh kereta yang putih itu, dan satu-satunya yang pantas memperoleh nama “Philadelfia” — “cinta persaudaraan”.
Keseluruhan tujuh sidang contoh saingan ini (Wahyu 2 dan 3) memulai dengan baik, tetapi lambat laun Setan berhasil membanjiri ke dalam masing-masingnya secara berturut-turut dengan agen-agennya (secara simbolis, yaitu “lalang-lalang”) di dalam jubah orang-orang yang mengaku percaya kepada Kebenaran. Terutama sekali demikian ini terjadi dengan pihak kependetaan, oleh siapa ia mampu menyesatkan seluruh sidang-sidang. Maka seringkali sebagian dari para anggota yang menolak mengikuti kepemimpinan manusia yang menggantikan tempat Kristus telah dibuang keluar. Memang, kapan saja Allah mengirimkan sesuatu pekabaran kepada sidang-Nya, maka pihak kependetaan, gantinya mereka berdiri pada pihak utusan itu dan membantunya meneruskan pekabaran itu kepada seluruh umat, mereka ternyata telah memeranginya, mereka berdiri hampir-hampir bagaikan suatu kesatuan menghalangi jalannya, supaya pekabaran itu tidak sampai ke umat itu. Menunjukkan bagaimana pihak kependetaan telah berusaha untuk meletakkan suatu pembasmi terhadap “Pergerakan Advent yang Pertama” itu, dan bagaimana mereka menganiaya anggota-anggota yang berani menghadiri hotbah-hotbah Miller, sejarah gereja menuliskannya sebagai berikut :
“Tetapi sementara para pendeta dan pemimpin-pemimpin agama mengambil keputusan melawan ajaran Advent itu, serta ingin untuk menindas semua pergerakannya, maka mereka bukan saja menentangnya dari atas mimbar, melainkan juga mereka menolak hak-hak para anggotanya untuk menghadiri hotbah-hotbah yang membicarakan kedatangan yang kedua kali itu, ataupun bahkan membicarakan harapan mereka itu di dalam pertemuan-pertemuan sosial gereja.” “………… oleh karena itu pekabaran itu sebagian besarnya dipercayakan kepada anggota-anggota biasa yang sederhana. Para petani meninggalkan ladang-ladang mereka, para montir meninggalkan peralatan mereka, para pedagang meninggalkan barang-barang dagangan mereka, para ahli meninggalkan kedudukan-kedudukan mereka; tetapi pun jumlah pekerja adalah kecil dibandingkan dengan tugas yang akan diselesaikan.”The Great Controversy, pp. 376, 368.
“Pekerjaan itu tidak berdiri karena kepintaran dan terpelajarnya  orang-orang, melainkan karena kuasa Allah. Bukannya orang-orang yang sangat berbakat, melainkan orang-orang yang sangat sederhana dan berserah diri, yang pertama sekali mendengar lalu mematuhi seruan itu …… Orang-orang yang dahulunya memimpin di dalam pekerjaan adalah terdapat di antara yang terakhir menggabungkan diri dalam pergerakan ini.” — The Great Controversy, p. 402. “Dari kenyataan bahwa pekabaran itu sebagian besarnya dihotbahkan oleh anggota-anggota biasa, telah dikemukakan sebagai alasan untuk menentangnya. Seperti halnya di zaman dahulu kesaksian Firman Allah yang jelas telah dihadapi dengan pertanyaan, ‘Adakah salah satu dari para pemimpin atau orang-orang Parisi mempercayainya?’ Rombongan orang banyak, karena menaruh harap sepenuhnya kepada gembala-gembala mereka, maka mereka menolak untuk mendengar kepada amaran; dan orang-orang lainnya, walaupun mereka yakin akan kebenaran itu, mereka tidak berani mengakuinya, supaya tidak mereka dibuang keluar dari kaabah.” — The Great Controversy, p. 380.
“……….Pengikut-pengikut Kristus yang sejati ……… tidak akan menunggu sampai kebenaran itu menjadi terkenal. Karena yakin akan tugas mereka, maka mereka secara terbuka menyambut salib itu.” — The Great Controversy, p. 460. Orang-orang yang setengah hati dan tidak bersungguh-sungguh tidak lagi dapat bersandar pada iman saudara-saudara mereka.” — Sda., p. 395. “Gantinya mempertanyakan dan mempertengkarkan apa yang belum mereka pahami, hendaklah mereka memperhatikan terang itu yang sudah menyinari ke atas mereka, maka mereka akan memperoleh terang yang lebih besar lagi.” — Sda., p. 528.
“Senantiasa ada terdapat suatu kelas orang-orang yang mengaku beribadah, yaitu mereka yang gantinya mengikuti terus untuk mencari tahu kebenaran, padahal mereka membuatnya menjadi agama mereka untuk berusaha mencari kesalahan tabiat atau kekeliruan iman pada diri orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Orang-orang yang sedemikian ini adalah pembantu-pembantu tangan kanan dari Setan.” — Sda., p. 519.
“Semua orang yang mencarikan cantolan-cantolan untuk menggantungkan keragu-raguan mereka, mereka akan menemukannya. Dan orang-orang yang menolak untuk menyambut dan mematuhi firman Allah sampai kelak setiap sanggahan disingkirkan, dan tidak ada lagi kesempatan untuk ragu-ragu, mereka tidak akan pernah datang kepada terang.” – Sda., p. 527.
Dari keseluruhan “tujuh sidang itu” (Wahyu pasal 2 dan 3), hanya sidang Philadelfia (sidang Miller) yang tidak terlibat dengan praktek-praktek iblis yang sama ini. Senantiasa setia kepada Allah, maka ia mengakhiri masa kerjanya yang tidak bercacad tetapi singkat itu dalam tahun 1844, sasaran tujuannya yang telah ditentukan itu. Setelah menghayati seluruh hidupnya di bawah pengawasan pribadi pendirinya, maka ia itu tidak pernah bercorak baru. Demikianlah karena tanpa tuduhan, sebagaimana dilukiskan secara tepatnya oleh “kereta” yang ketiga berikut “pasangan kuda putih”nya, maka ia itu menonjol bagi pergerakan berikutnya yang ditunjukkan oleh

 

KERETA YANG KEEMPAT
 
 
Oleh karena tiga “kereta” yang pertama itu meliputi sejarah sidang sampai tahun 1844 TM, maka kereta yang keempat tak dapat tiada harus melambangkan suatu organisasi sidang berikutnya — pengganti sidang Miller atau sidang Philadelfia. Oleh sebab itu, maka yang terakhir dari “tujuh sidang itu”, yaitu sidang dari “orang-orang Laodikea”, tak dapat tiada adalah sidang yang dilambangkan oleh “kereta” yang keempat itu.
Di tengah-tengah kekacauan faham-faham agama yang sedemikian banyak yang tersebar meliputi seluruh dunia Kristen pada waktu ini, mungkin sekali sukar tampaknya untuk memisahkan orang-orang Laodikea daripada orang-orang lainnya. Namun Pencipta contoh-contoh dan lambang-lambang yang besar itu, Dia yang melihat akhirat semenjak dari mulanya, sedemikian ini meramalkan dengan tepat apa yang kelak merupakan kondisi dan pekerjaan dari sidang yang terakhir dari “ketujuh sidang itu”. Oleh sebab itu harus oleh Firman-Nya dapat dipetik sidang ini dari antara gereja-gereja yang banyak itu, lalu menempatkannya bagaikan suatu mercu suar yang bersinar-sinar di dalam jam yang tergelap pada malam hari.
Tetapi bahkan seperti halnya Setan melaksanakan usaha-usahanya yang sungguh-sungguh untuk memutarbalikkan nama “Philadelfia” itu, lalu dengan demikian menggelapkannya dari pandangan dan membuatnya berlalu tanpa diperhatikan, maka demikian itu pula ia telah mengacaukan

 

NAMA DARI KERETA YANG TERAKHIR
 
 
Sama seperti halnya nama “Philadelfia” hanya cocok bagi sebuah organisasi sidang, dan bagi hanya sebuah dari kereta-kereta itu, maka demikian pula nama “orang-orang Laodikea” itu logisnya hanya dapat cocok bagi salah satu daripada kereta-kereta itu dan hanya bagi satu madzab agama. Perkataan itu sendiri adalah berasal dari kata Gerika, Lego-dikean, yang berarti, “memberitakan pehukuman”. Sesudah peristiwa sidang Philadelfia itu, maka tak dapat tiada harus ada sebuah sidang yang memberitakan pehukuman. Dan adalah suatu kenyataan sejarah bahwa dalam tahun 1844 TM, yaitu tahun di mana pergerakan Miller itu mengakhiri tugasnya yang telah ditentukan, maka suatu pergerakan baru, yaitu madzab Masehi Advent Hari Ketujuh telah bangkit dengan memberitakan : “Takutlah akan Allah, dan muliakanlah Dia; karena jam pehukumanNya sudah sampai. Wahyu 14 : 7.
Meskipun adanya catatan yang tidak menimbulkan iri hati mengenai sidang Laodikea, namun pendiri pergerakannya itu, tidak sama dengan para pendiri dari pergerakan-pergerakan lainnya, secara jujur menegaskan di dalam buku Testimonies, vol. 3, p. 252 : “Pekabaran kepada sidangnya orang-orang Laodikea adalah suatu tuduhan yang mengejutkan, dan adalah berlaku bagi umat Allah pada waktu ini” — Masehi Advent Hari Ketujuh. Memberitakan pehukuman, maupun dalam kondisi tidak berbuat apa-apa seperti yang digambarkan, sidang Masehi Advent Hari Ketujuh adalah hanya satu-satunya sidang yang dapat secara tepat disebut “Laodikea” — yaitu memberitakan Pehukuman. Betapa mutlaknya keseimbangan di antara gambaran dan keadaan! “Hendaklah kamu menyertai aku dalam membesarkan Tuhan, dan hendaklah kita bersama-sama memuliakan nama-Nya”, karena Ia “telah membesarkan firman-(Nya) melebihi semua nama-(NYA).”  Mazmur 34 : 3; 138 : 2.
Karena baik kereta yang ketiga maupun sidang Philadelfia telah diidentifikasikan melambangkan pergerakan Miller, dan juga karena sidang Laodikea telah diidentifikasikan melambangkan pergerakan Masehi Advent Hari Ketujuh, maka dengan sendirinya tak dapat dibantah bahwa “kereta yang keempat”, yang terakhir dari kereta-kereta itu, akan melambangkan madzab gereja Masehi Advent Hari Ketujuh — Laodikea itu.
Kini jika sekiranya penerapan ini terhadap “kereta itu” keliru, maka bukti yang pasti dan sederhana tentunya adalah bahwa ia itu tidak mungkin dapat dibuat sama dan sebangun untuk cocok dengan sidang Masehi Advent Hari Ketujuh, tetapi jika sekiranya ia itu benar, maka ia itu tidak mungkin dengan tanda yang sama dibuat sama dan sebangun untuk mencocoki sesuatu yang lain daripada sidang Masehi Advent Hari Ketujuh; karena simbol-simbol ilahi telah direncanakan dengan sempurna untuk mencocoki hanya satu objek. Oleh sebab itu, maka ujian terakhir mengenai interpretasi yang diberikan di sini adalah kesimpulan yang meyakinkan daripada bagian yang membingungkan dari simbol
 

 

 148 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart