Kapankah Khayal Nubuatan Ini Kelak Digenapi ?
<< Go Back


Kapankah Khayal Nubuatan Ini
Kelak Digenapi?

 

Menurut Yeheskiel 2 : 3 ; 3 : 1, 4, 5, 7, nabi itu membawakan pekabarannya kepada seluruh “isi rumah Israel” (sebutan “isi rumah Israel”, mungkin menunjukkan semua dua belas suku bangsa atau hanya sepuluh suku bangsa sesuai dengan masalah itu). Namun ia belum mengerti akan arti dari pada khayal itu. Sekiranya ia sudah mengerti, maka ia sudah akan menjelaskannya, bukan hanya menyatakan “Maka pergilah aku kepada mereka yang tertawan itu di Telabib, yang tinggal di tepi sungai Chebar, maka duduklah aku di mana mereka duduk, dan tinggallah aku di sana dengan tercengang-cengang di antara mereka tujuh hari lamanya”, Yeheskiel 3 : 15.

Oleh karena pada masa dari khayal itu, isi rumah Yehuda, kerajaan dua suku bangsa itu, sedang berada dalam tawanan di negeri orang-orang Kasdim, dan isi rumah Israel, kerajaan sepuluh suku bangsa itu sudah tercerai-berai di antara bangsa-bangsa kemana mereka itu telah dibawa dan dicerai-beraikan beberapa tahun sebelumnya (2 Raja-Raja 17 : 6), maka penyampaian pekabaran Yeheskiel itu tidak mungkin lagi ditujukan kepada mereka. Dan karena pekabaran itu adalah bagi isi rumah Israel dan isi rumah Yehuda (Yeheskiel 9 : 9), — dua belas suku bangsa itu, — maka dengan sendirinya pekabaran itu adalah merupakan nubuatan pada zaman Yeheskiel.

Lagi pula, bangsa Yahudi sampai kepada zaman Kristus belum memperoleh terang apapun mengenai nubuatan ini, dan ia itu bagi mereka tampaknya sangat sulit untuk dipahami, bahkan tidak mudah bagi pikiran biasa untuk membacanya. “Semua pasal ini tampaknya begitu gelap, dan penuh dengan rahasia-rahasia bagi orang-orang Iberani kuno yang lalu, sehingga sebagaimana kita pelajari dari St. Jerome (Ep. Ad Paulin.) mereka tidak memperbolehkan siapapun juga untuk membacanya sebelum mereka itu berusia tiga puluh tahun”. Douay Version, footnote to Ezekiel 1 : 5. Dan setelah melihat tidak ada satupun terang dalam kata-kata injil ini sampai sekarang, maka gereja Kristen tidak lagi berusaha untuk menjelaskannya.

Dan akhirnya karena tidak ada satupun pembantaian yang sedemikian seperti yang digambarkan di dalam Yeheskiel pasal 9 pernah jadi, maka jelaslah kegenapan nubuatan itu masih akan datang.

Sebab itu jelaslah, bahwa khayal itu adalah nubuatan di zaman Yeheskiel, dan telah merupakan nubuatan semenjak dari zaman itu sampai sekarang. Dan sekiranya ia itu akan pernah digenapi, sehingga tidak tetap merupakan tulisan yang sia-sia yang tak bermanfaat, — maka rahasianya tak dapat tiada tentu harus sekarang diungkapkan, dan tindakan pelaksanaannya akan jadi di masa depan yang tak lama lagi.

Dalam terang yang jelas mengenai kenyataan-kenyataan ini, maka pasal sembilan terlihat memegang gambaran yang tertinggi mengenai khayal itu. Dalam melukiskan pekerjaan yang mengerikan itu yang akan dilakukan Tuhan apabila la mengunjungi bumi bersama-sama dengan cherubim, ia itu menunjukkan akibat-akibat yang mengerikan terhadap mereka yang menolak pekabarannya : yang melalaikan berkat-berkatnya, yang kehilangan kerajaan itu! Pengalaman tragis yang menakutkan akan kelak menjadi nasib semua orang yang sekarang menolak untuk bangun dan untuk mengetahui akan hal itu, dan yang memilih untuk tetap bodoh terhadap kebenarannya dan mengenai

 

Tujuan Dari Pada Kedatangan
Tuhan Itu Di Dalam Tahta-Nya.

 

Sementara nabi itu memandang ke arah utara, maka dilihatnya segumpal “awan besar” datang bagaikan suatu “angin puyuh” ke bumi. Sambil memandang dengan perhatian penuh akan kedatangan awan itu yang makin hari makin dekat, ia pada akhirnya melihat “mahluk-mahluk hidup” itu, “roda-roda” itu, dan yang sisanya, — “rupanya sama seperti kemuliaan Tuhan”. Setelah mana ia mengatakan : “Aku jatuh bersujud dengan mukaku ke tanah, dan ku dengar suatu suara dari pada seseorang yang berbicara (yang tak dapat tiada Tuhan sendiri datang untuk memberikan sebuah pekabaran kepada Yeheskiel).

“……. Maka firman-Nya kepadaku : Hai anak Adam, Aku mengutus kamu kepada bani Israel, kepada suatu bangsa yang mendurhaka yang telah memberontak melawan Aku : mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka melawan Aku, bahkan sampai kepada hari ini. Karena mereka adalah anak-anak yang tebal muka dan kaku perasaan. Aku mengutus kamu kepada mereka itu; maka hendaklah kamu mengatakan kepada mereka : Demikianlah firman Tuhan Hua! Dan mereka itu, apakah mereka mau dengar ataupun tidak mau mendengar, (karena mereka adalah suatu rumah yang memberontak), namun akan diketahuinya bahwa sudah ada seorang nabi di antara mereka. Maka engkau, hai anak Adam, janganlah takut akan mereka itu, dan janganlah takut akan semua perkataannya, walaupun duri-duri dan onak berada dengan kamu, dan kamu tinggal di antara kalajengking-kalajengking: janganlah takut akan semua perkataan mereka, dan janganlah gentar akan pandangan mereka, walaupun mereka adalah suatu rumah yang mendurhaka”. Yeheskiel 1 : 28, 2 : 3 – 6.

Nabi itu selanjutnya mengatakan : “Maka firman-Nya kepa¬daku : Hai anak Adam, pergilah engkau mendapatkan isi rumah Israel,  dan berbicaralah  kepada mereka dengan firman-Ku. Karena kamu bukan diutus kepada suatu bangsa yang berbahasa sukar dan yang berbicara asing, ……. yang kata-katanya tidak dapat kamu pahami”. Yeheskiel 3 : 4 – 6.

Semua kata-kata perintah ini (yang mengandung arti penting bagi semua) mengungkapkan bahwa pekabaran yang diperoleh nabi itu adalah hanya bagi umat Allah, dan bahwa karena itulah dengan perluasan yang logis, maka seluruh khayal di mana terdapat pekabaran itu sebagai bagiannya, akan menemukan kegenapannya pada suatu masa di mana Tuhan mengirimkan amaran, bahwa karena sebab sidang-Nya berada dalam kondisi kerohanian yang sangat rendah, —— “tebal muka dan keras hati” dan “suatu rumah yang mendurhaka”, —— la akan melaksanakan di dalamnya suatu pekerjaan pembubuhan tanda dan pembantaian. Maka di dalam seluruh Alkitab akan ditemukan hanya di dalam sebuah sidang suatu situasi mengenai kondisi, sebab, masa, dan akibat yang memberi jawaban kepada apa yang dinubuatkan itu, dan itu adalah di dalam

 

Sidang Laodikea

 

Karena tuduhan dari Wahyu 3 : 14 – 18 melawan orang-orang Laodikea, dan tuduhan dari Yeheskiel 2 : 1 – 7 dan pasal 3 : 4 – 7 melawan “isi rumah Israel”, adalah sama, maka masing-masing tuduhan itu merupakan pelengkap antara sesamanya : yang satu merupakan Wahyu (Ungkapan) dari apa yang dinubuatkan oleh yang lainnya.

Keduanya itu menguatkan amaran Roh Nubuatan yang mengatakan bahwa tidak ada satupun “kesesatan yang lebih besar dapat datang menghinggapi pikiran manusia dari pada suatu keyakinan bahwa mereka adalah benar, padahal mereka semuanya keliru! Pekabaran dari Saksi Yang Benar itu menemukan umat Allah dalam suatu kesesatan yang menyedihkan (bukan dalam kondisi yang sempurna), namun mereka jujur dalam kesesatan itu. Mereka tidak tahu bahwa kondisi mereka adalah menyedihkan pada pemandangan Allah. Sementara orang-orang yang dituduh itu menyombongkan dirinya bahwa mereka sedang berada dalam suatu kondisi kerohanian yang tinggi, maka pekabaran dari Saksi Yang Benar itu memecahkan ketenangan mereka dengan tuduhan yang mengejutkan mengenai keadaan mereka yang sebenarnya, yaitu buta rohani, melarat rohani, dan sengsara rohani. Kesaksian yang sedemikian tajam dan keras itu, tidak mungkin salah, karena adalah Saksi Yang Benar itu sendiri yang membicarakannya, maka kesaksian-Nya itu tak dapat tiada harus benar”. — Testimonies, vol. 3, pp. 252, 253.

Oleh karena Tuhan mengatakan bahwa “seluruh isi rumah Israel adalah tebal muka dan keras hati” (Yeheskiel 3 : 7), maka tentunya untuk dapat diselamatkan setiap orang hendaknya mau “bertekad untuk mengetahui kejelekan perkaranya” (Testimonies, vol. 1, p. 163), dan

 

 99 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart