MENGAPA MILLER KELIRU : APAKAH ARTI AIR BAH ITU BAGI KITA?
<< Go Back


 

MENGAPA MILLER KELIRU : APAKAH ARTI AIR BAH ITU BAGI KITA?

 

 

Enoch mengatakan: “Tengoklah, Tuhan datang dengan sepuluh-ribu umat kesucian-Nya,” (Yudas 1 : 14). Nubuatan dari Enoch ini bukanlah mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali di dalam awan-awan, karena apabila kelak la muncul dalam kemuliaan Ia tidak datang bersama-sama dengan umat kesucian-Nya,”melainkan Ia datang bagi umat kesucian-Nya. Juga tidak mungkin kedatanganNya itu bersama-sama dengan umat kesucian-Nya pada sesudah seribu tahun millenium, karena dalam hal yang sedemikian ini ia itu tidak mungkin merupakan sebuah pekabaran bagi dunia kuno yang lalu. Adalah tidak tepat dan tanpa tujuan, bahkan sama sekali tidak merupakan pelajaran bagi umat di zaman itu, jika Enoch menghotbahkan kepada dunia kedatangan Kristus yang ketiga kalinya sebelum ia menghotbahkan kedatangan Kristus yang kedua kali bagi umat kesucian-Nya. Jadi bagaimana ?

 

Enoch menubuatkan tentang kedatangan Tuhan ke kaabah-Nya di dalam tempat yang maha suci di dalam kaabah kesucian sorga bersama-sama dengan umat kesucianNya secara bayangan (bukan secara badani) bagi pemeriksaan hukum untuk menghapuskan dosa-dosa mereka, peristiwa mana nabi Maleakhi menunjukkan sebagai berikut: “Tengoklah, Aku akan mengirim utusan-Ku, maka ia akan menyediakan jalan di hadapan-Ku; maka Tuhan, Yang kamu cari itu akan tiba-tiba datang ke kaabah-Nya, yaitu utusan perjanjian itu, Yang kamu senangi: Tengoklah Ia akan datang, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam. Tetapi siapakah yang dapat tahan pada hari kedatangan-Nya itu? Dan siapakah yang tahan berdiri apabila kelihatanlah Ia? Karena Ia adalah bagaikan api pembersih, dan seperti sabun binara; maka Ia akan duduk seperti pandai emas dan perak; dan Ia akan menyucikan bani Lewi, dan membersihkan mereka itu seperti emas dan perak, supaya dapat mereka mempersembahkan kepada Tuhan suatu persembahan dalam kebenaran.” (Maleakhi 3 : 1 – 3). Tengoklah, Aku akan mengirim utusan-Ku, maka ia akan mempersiapkan jalan di hadapan-Ku; yaitu utusan perjanjian itu.” Utusan itu adalah bukan Tuhan sendiri, melainkan tandailah, bahwa ia itu adalah seseorang yang akan menyediakan jalan bagi Tuhan. Ia disebut utusan perjanjian (persetujuan atau janji). Karena firman ini diperuntukkan bagi akhir zaman, maka utusan perjanjian ini tidak mungkin lain dari pada orang yang Tuhan telah janjikan: “Tengoklah, Aku akan mengirim kepadamu Eliyah nabi itu sebelum datang hari Tuhan yang besar dan menakutkan itu.” (Maleakhi 4 : 5).

 

            Tuhan datang ke kaabah-Nya di dalam tempat yang maha suci dalam tahun 1844 bagi sidang pehukuman terhadap orang-orang mati, ini adalah kegenapan dari Daniel 7 : 9, 10. Maleakhi menunjuk kepada pehukuman bagi orang-orang hidup, yaitu dari peristiwa-peristiwa yang sama itu juga (pehukuman). Karena dikatakannya: “Tetapi siapakah yang dapat tahan pada hari kedatangan-Nya itu ? Dan siapakah yang dapat berdiri apabila kelihatanlah Ia ? Karena ……… Ia akan duduk sebagai seorang pandai emas dan perak; dan Ia akan menyucikan bani lewi, dan mernbersihkan mereka itu seperti emas dan perak, supaya mereka dapat mempersembahkan kepada Tuhan suatu persembahan dalam kebenaran.” (Ayat 2, 3). Karena orang mati tidak mungkin dapat disucikan, atau orang mati mempersernbahkan pemberian-pemberian, maka jelaslah bahwa yang dimaksudkan itu ialah penyucian sidang, karena “Ia akan menyucikan bani Lewi” – imam-imam – mereka yang 144.000 itu. Selanjutnya Tuhan mengatakan: “Aku akan mengirim utusan-Ku,” dan karena tidak mungkin utusan dikirim kepada orang mati, maka ini tak dapat tiada harus merupakan pekabaran kepada orang hidup.

 

Kembali kepada nubuatan dari Enoch: “Tengoklah Tuhan datang dengan sepuluh ribu umat kesucian-Nya.” Kata-kata “ribu” (bahasa Inggeris: thousands) berada dalam bentuk jamak, bukan mengungkapkan angka bilangan orang-orang suci yang datang bersama-sama dengan Dia. Tetapi jika kata-kata sepuluh ribuitu sama sekali tidak mempunyai jenis pembatasan angka apapun, maka perkataan sepuluhitu akan merupakan sesuatu yang sia-sia saja terus diulangi dan asing bagi injil. Oleh sebab itu kita harus mencarikan suatu pembatasan simbolis dari hal perkataan itu. Angka bilangan sepuluh itu memiliki arti yang sama seperti halnya sepuluh anak dara” dari Matius pasal 25, yang menunjukkan universal (sidang sebagai sebuah badan). Dengan demikian ia itu secara simbolis berarti orang-orang suci secara kolektif – yaitu semua orang yang selamat semenjak dari Adam sampai kepada akhir dunia. Oleh sebab itu, maka nubuatan dari Enoch itu mulai kegenapannya dalam tahun 1844, pada waktu mana “Tuhan datang bersama dengan nama-nama dan catatan-catatan dari orang–orang yang sedang tidur di dalam kubur, dan setelah pemeriksaan terhadap orang-orang mati selesai, kemudian Ia datang dengan nama-nama dari orang-orang suci yang hidup. Pertama-tama dengan mereka yang 144.000 itu, dan kemudian bersama dengan “rombongan besar yang berasal dari segala bangsa, dan suku-suku bangsa, dan orang banyak, dan segala bahasa.” (Wahyu 7 : 9). Oleh sebab itu, maka kegenapan kata-kata nubuatan yang lengkap, “Tengoklah Tuhan datang dengan sepuluh ribu umat kesucian-Nya,” kelak akan direalisir pada akhir masa kasihan. Mengenai kedatangan Tuhan ini (bagi orang-orang mati), William Miller adalah utusannya, dan pekabaran dari nabi Eliyah – utusan perjanjian itu – ialah pelopor bagi kedatangan–Nya bersama dengan orang-orang suci yang hidup, kedua-duanya mengenai peristiwa yang sama – yaitu pehukuman. 

 

Di dalam buku The Great Controversy, halaman 426, yang menunjuk kepada kedatangan yang kedua kali, bagian dari ayat 14 telah dikutip bersama-sama dengan ayat 15, untuk melengkapi kalimat itu dengan perkataan “datang”; bagian dari ayat itu “dengan sepuluh ribu umat kesucianNya,” berlaku terhadap kedatangan-Nya ke kaabah di hadapan “Yang tiada berkesudahan hari-Nya itu.” Kata-kata “datang” dari ayat 14, bersama dengan ayat 15, adalah berlaku terhadap kedatangan-Nya yang kedua kali, sama dengan Zakharia 13 : 6. Ayat (6) adalah berlaku terhadap kedatangan Kristus yang kedua kali dan ayat (7) adalah terhadap penyaliban-Nya. Juga perhatikanlah, bahwa komentar ini adalah terhadap ayat lima belas, yaitu mengenai pehukuman-pehukuman terhadap orang-orang jahat dan bukan terhadap orang-orang suci.

 

Benar, Enoch telah menubuatkan mengenai hari grafirat contoh saingan (sejarah kita), tetapi jika sekiranya pekabarannya itu tidak mengandung arti apa-apa bagi dunia sebelum air bah dahulu, maka hotbahnya itu sudah akan berupa hanya pura-pura,Oleh karena itu, apa yang benar dari hotbahnya itu sekarang, ia itu pun benar bagi orang-orang kuno yang lalu; dan jika pernyataan ini adalah tepat, maka tak dapat tiada harus terdapat suatu perbandingan yang sama antara dunia pada zaman itu dengan dunia yang ada sekarang. Hotbah dari Enoch itu adalah disusul oleh khotbah dari Nuh. Sementara dunia kuno yang lalu itu tidak memiliki pengertian yang sempurna dari hal kedatangan Juruselamat, maka seperti halnya generasi yang ada sekarang, mereka pun terus memandang dan menunggui Dia yang akan menebus mereka dari dosa dan kematian, dan untuk memasukkan mereka kembali ke dalam taman Eden. Dengan bibir mereka menyatakan suatu kerinduan besar bagi-Nya, yaitu Dia yang mereka ingin untuk bertemu dalam kemuliaan-Nya, tetapi sikap mereka terhadap kabar-kabar gembira yang terkandung dalam pekabaran dari Enoch yang berbunyi: “Tengoklah Tuhan datang, “menunjukkan betapa piciknya apa yang terkandung di dalam hati mereka. Sebagaimana umumnya telah diharapkan bahwa Tuhan akan datang pada waktu itu, dan karena Enoch belum dikaruniakan terang mengenai bagaimana cara kedatangan-Nya itu, maka ia telah memberitakan pekabarannya itu sesuai sekali dengan pendapat umum generasi di zaman itu. Sekarang masalahnya adalah, apa yang telah membuat mereka menolak pekabaran itu sepanjang pemberitaannya adalah sesuai dengan harapan-harapan mereka dan mereka pun tidak dapat menyangkal kebenarannya ? Pertanyaan ini dapat dijawab melalui pengalaman Yahya pembaptis.

 

“Yahya tidak sepenuhnya memahami keadaan dari pada kerajaan Mesias itu. Ia berharap Israel dapat dilepaskan dari musuh-musuh kebangsaannya; tetapi kedatangan dari Raja dalam kebenaran itu, dan penegakan Israel sebagai suatu bangsa yang suci, telah menjadi obyek besar dari pada harapannya.” – The Desire of Ages, halaman 103.

 

Adalah tidak masuk akal dan sesuatu yang tidak adil bagi umat pilihan Allah, jika Ia membiarkan saja mereka dalam kegelapan mengenai saat dari peristiwa terpenting seluruh sejarah sidang itu – yaitu kedatangan Kristus. Bagian dari periode nubuatan 2300 hari (tahun) dari Daniel 8 : 14 yang panjang itu, yang berkenan dengan bangsa Yahudi; yaitu, tujuh puluh minggu itu, atau 490 tahun, mereka telah memahaminya dengan sempurna, sebab: “Telah diketahui umum bahwa tujuh puluh minggu dari nubuatan Daniel itu, yang meliputi kedatangan Mesias, sudah hampir berakhir; dan semua orang sungguh-sungguh rindu untuk memperoleh bagian dalam masa kemuliaan nasional yang telah diharap-harapkan pada waktu itu.” — The Desire of Ages, halaman 133.

 

Terang terus-menerus bercahaya kepada bangsa Yahudi, dan mereka telah diberi informasi sepenuhnya dari hal Dia (terhadap siapa mereka telah membelanjakan berjuta-juta dollar dalam bentuk korban-korban, dan beratus-ratus tahunlamanya dalam upacara-upacara bayangan), saatnya ia akan datang, dan keadaan dari pada kerajaan-Nya. Karena para pemimpin bangsa itu telah jatuh kedalam dosa, mereka meremehkan semua petunjuk dari para nabi. Dengan demikian sifat dari kerajaan yang dinanti-nantikan pada waktu itu telah disalah tafsirkan, terkecuali waktu yang telah mereka pahami dengan benar dan telah diterima oleh seluruh bangsa. Karena Yahya belum diberikan terang mengenai apa yang akan jadi sesudah Dia Yang Diurapi itu datang, maka ia telah memberitakan pekabaran itu sesuai tepat dengan pendapat umum tentang waktu nubuatan itu, dan tentang kerajaan yang akan datang itu. Kini, karena tidak ada pertentangan diantara ajaran-ajaran Yahya Pembaptis dan para pemimpin Israel, maka apakah yang telah membuat mereka itu menolak pekabarannya ?

 

“Menurut peraturan pada umumnya, putera dari Zakharia itu, seharusnya telah dididik bagi jabatan keimmamatan. Tetapi latihan-Iatihan pada sekolah-sekolah pendeta Yahudi itu tidak akan berhasil mempersiapkannya bagi tugasnya. Allah tidak mengirimkannya kepada guru-guru theologia untuk belajar bagaimana menginterpretasikan Injil. Ia memanggilnya ke padang belantara, supaya ia dapat belajar dari alam, dan dari Allahnya alam.

 

“Adalah suatu daerah yang sunyi sepi dimana ia telah menemukan tempat tinggalnya, yaitu di tengah-tengah bukit yang tandus, jurang-jurang yang menakutkan, dan gua-gua batu karang. Tetapi itulah pilihannya untuk menghindari kesenangan-kesenangan dan kemewahan-kemewahan hidup bagi disiplin yang ketat dari padang belantara.” – The Desire of Ages, halaman 101.

 

Sebagaimana para ahli torat dan orang-orang Parisi mengatakan dari hal Kristus dan para rasul-rasul itu: Kami tidak mau orang-orang bodoh ini berkuasa atas kami, mereka menumpahkan pula tuduhan-tuduhan yang sama terhadap Yahya, sehingga inilah yang membahayakan kebahagiaan mereka yang kekal itu. Halangan mereka yang kedua datang setelah munculnya Yahya seorang diri membawa pikiran-pikiran para pendengarnya kembali kepada para peramal zaman lalu. Dalam cara dan pakaiannya ia telah meniru nabi Eliyah. Dengan roh dan kuasa Eliyah ia menuduh penyelewengan bangsa itu, dan ia menegur dosa-dosa yang merajalela pada waktu itu …… Sebagai suatu lambang penyucian dari dosa, maka ia telah membaptiskan mereka itu di dalam air-air sungai Yarden. Dengan demikian melalui suatu objek pelajaran yang mengandung arti ia menyatakan, bahwa orang-orang yang mengakui dirinya umat pilihan Allah telah tercemar oleh dosa, dan bahwa tanpa penyucian hati dan kehidupan mereka tidak akan memperoleh bagian apapun di dalam kerajaan Mesias itu …….. Yahya menyatakan kepada para guru Israel itu, bahwa kesombongan mereka, sifat mementingkan diri, dan kekejaman mereka itu menunjukkan mereka menjadi suatu ular bisa, suatu kutuk yang mematikan terhadap bangsa itu, gantinya menyebut mereka sebagai anak-anak dari Ibrahim yang benar dan setia itu.” – Sda. halaman 104 – 106.

 

Demikianlah yang dilakukan oleh pelopor dari Kristus itu, karena ia melihat bangsanya tersesat, merasa kepuasan sendiri, dan tertidur dalam dosa-dosa mereka. Ia rindu untuk membangunkan mereka kepada suatu kehidupan yang lebih suci. Allah tidak mengutus juru-juru kabar-Nya untuk memuji-muji orang berdosa. Ia tidak menyampaikan pekabaran damai untuk meninabobokan orang-orang yang tidak suci ke dalam kesentausaan yang berbahaya. Oleh karena Yahya mengamarkan orang banyak itu dari hal bahaya dan nasib celaka bangsanya, maka mereka telah membencinya lebih banyak lagi.

 

Sekarang, apakah yang membuat dunia kuno yang dahulu itu menolak pekabaran dari Enoch? Pekabaran Enoch kepada dunia Tua itu adalah sama dan sesuai dengan penyambutan umum terhadap “kedatangan Tuhan”, tetapi karena pekerjaannya telah membawakan teguran yang sama seperti yang dibawakan oleh Yahya Pembaptis itu, maka ia pun telah menimbulkan kebencian dari bangsanya. Oleh memalingkan telinga dari pekabaran penyelamatan yang akan menghapuskan dosa-dosa mereka (nubuatan Enoch dari hal pehukuman itu), maka mereka telah menempatkan diri mereka di bawah hukuman yang lebih besar lagi. Oleh menolak satu-satunya usaha penyelamatan bagi mereka, maka mereka telah memutuskan diri mereka lepas dari Kuasa itu yang mempertahankan segala perkara, sehingga karena itulah telah mengundang datangnya air bah yang mengerikan itu.

 

Allah, karena tidak rela seorang pun binasa, maka Ia telah memerintahkan kepada Nuh untuk memberitakan bahaya itu sebelumnya, dan supaya mempersiapkan usaha dan fasilitas bagi orang-orang yang ingin melepaskan diri dari kebinasaan itu. Tetapi karena mereka menolak pekabaran dari Enoch, mereka pun berbuat yang sama terhadap pekabaran dari Nuh. Karena pekabaran-pekabaran ini telah diilhami oleh Roh Suci, maka mereka itu telah berdosa melawan-Nya; oleh sebab itu, maka mereka tidak pernah lagi dapat diampuni.

 

Demikianlah pekabaran dari William Miller adalah kegenapan dari nubuatan Enoch — juga merupakan suatu duplikatnya. Jika ini benar, maka harus terdapat suatu perbandingan yang tepat antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagaimana Enoch tidak sepenuhnya mengerti caranya “kedatangan Tuhan” itu, dan Yahya Pembaptis tidak sepenuhnya mengerti akan sifat dari Kerajaan itu yang akan didirikan, maka demikian itu pula Miller telah salah menginterprestasikan “penyucian kaabah kesucian”, sehingga telah memberitakan kedatangan Tuhan ke bumi gantinya kedatangan Tuhan ke tempat Yang Maha Suci di sorga. Jika ada sebagian orang menuduh Miller sebagai seorang nabi palsu, mereka sama saja dapat menuduh Enoch dan Yahya sedemikian. Kebutaan dan penyimpulan-penyimpulan yang tergesa-gesa sedemikian ini adalah suatu usaha untuk menghancurkan seluruh Aikitab.

 

Kini timbul pertanyaan: Mengapa Allah membiarkan hamba-hamba-Nya tetap tinggal dalam kegelapan terhadap apa yang akan jadi pada akhir dari pekabaran mereka itu? Ada beberapa alasan. Pekabaran-pekabaran dari Enoch dan Miller adalah sama dengan pelopor dari kedatangan Kristus yang pertama. Pekabaran Yahya adalah untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan, dan bukan untuk menjelaskan keadaan dari kerajaan-Nya itu. Demikian pula halnya dengan Miller dan Enoch. Alasan yang kedua: – Kalau saja kepada Yahya telah diberikan terang, bahwa kerajaan Kristus itu bukan berasal dari dunia ini, maka hal itu sudah akan menimbulkan perpecahan hebat di dalam di antara dia dan bangsanya. Oleh sebab itu, maka suatu masalah yang menimbulkan perdebatan seperti ini sudah akan menghancurkan pekerjaannya dan membuat pekabarannya itu menjadi tidak bermanfaat bagi umat Tuhan. Tetapi karena tidak ada argumentasi apapun terhadap apa yang telah diajarkannya kepada para pendengarnya, maka ia itu telah meninggalkan para pemimpin Israel yang buta dosa itu tanpa dimaafkan lagi. Kalau saja mereka telah menyambut pekabarannya, lalu bertobat dari dosa-dosa mereka, maka pekabaran itu sudah akan membuka mata rohani mereka, sehingga kedatangan Dia yang Diurapi itu sudah akan menerangi sisa perjalanan mereka itu.

 

Di zaman Miller dunia Kristen tidak kurang bodohnya terhadap masalah kaabah kesucian itu dari pada bangsa Yahudi terhadap kerajaan Kristus. Oleh sebab itu, maka kalau saja Miller telah diberikan terang mengenai tempat kemana Kristus akan datang pada akhir dari 2.300 hari itu; yaitu ke tempat Yang Maha Suci itu bagi sidang pehukuman terhadap orang-orang suci, pekabarannya sudah akan menimbulkan banyak argumentasi dan diskusi-diskusi yang sia-sia. Dengan demikian waktu dan pemberitaan mengenai periode nubuatan itu sudah akan dilalaikan, dan semua usahanya dikacaukan. Tetapi dalam cara ia memberitakan pekabarannya itu ia tidak memberikan mereka kesempatan untuk bertengkar, sehingga karena musuh-musuh Allah tidak dapat menentang hasil interprestasinya terhadap Injil, dan karena mereka menolak untuk dipuaskan dalam apa yang diajarkannya, maka dibiarkanlah mereka itu dengan tiada maaf.

 

Demikianlah pekabaran malaikat yang kedua dari Wahyu 14 : 8 diberitakan segera setelah kekecewaan itu, katanya: “Sudah roboh Babil, sudah roboh Babil.” Artinya, dunia dalam tahun 1844 telah jatuh dalam keadaan yang sama seperti halnya dunia menjelang air bah yang lalu. Dunia yang ada sekarang disebut Babil, sebab kerajaan Babil adalah kerajaan yang segera muncul sesudah air bah itu. Demikianlah Babil telah menjadi ibu dari pada segala bangsa.

 

Dunia kita berdiri pada waktu ini dalam tempat yang sama seperti halnya dunia menjelang air bah yang lalu. Dunia Tua yang lalu itu dihukum karena menolak pekabaran dalam contohnya, dunia Baru pun dihukum karena menolak pekabaran dalam contoh saingannya. Perhatikanlah betapa nyatanya kesamaan-kesamaan itu. Sesudah pemberitaan kabar-kabar baik itu (kedatangan Tuhan, oleh Enoch) tegas-tegas dilalaikan oleh dunia Tua yang lalu dan persiapannya ditinggalkan, maka Nuh lalu mengumumkan dari hal akhir dunia dalam generasinya. Pekabaran dari Miller telah disusul dengan pemberitaan yang sama seperti dari Nuh itu, sesuai yang diumumkan sesudah tahun 1844, yaitu “Akhir dunia dalam generasi ini.” 

 

Sebagaimana telah dipahami, bahwa Kristus akan datang ke bumi pada saat yang dinanti-nantikan, dan karena ajaran ini tetap tidak dapat dibantah, bahwa kembalinya Anak Allah yang sudah lama ditunggui itu telah dekat, maka sudah seharusnya sangat menyenangkan bagi orang-orang yang mengakui nama Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat dan Penebus mereka. Jika puji-pujian yang mereka ucapkan melalui bibirnya itu juga terdapat di dalam hati mereka, maka mereka sudah akan menyambut dengan gembira kabar-kabar baik itu, lalu mempersiapkan segala-galanya bagi peristiwa yang termulia di dalam segala sejarah itu. Tetapi karena mereka menolak untuk dipuaskan, karena mereka mengejeknya, dan dengan tegas menolak semuanya itu – menunjukkan tabiat mereka yang sebenarnya, lalu dengan demikian menandai diri mereka sendiri sebagai kambing-kambing. Oleh karena kabar-kabar yang sangat ditinggikan dan yang sangat membesarkan hati dari hal kemuliaan sorgawi itu ditolak, dan karena juru-kabarnya tidak disukai dalam kedua peristiwa itu (dunia Tua dan dunia Baru), maka pastilah bahwa kebenaran apapun yang disampaikan, tanpa melihat luasnya atau pun kemuliaannya, para pengolok-olok ini yang ada sekarang tidak akan mau percaya, sehingga demikianlah mereka akan mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri.

 

Sebagaimana Allah menunjukkan bahaya kepada dunia Tua yang lalu oleh perantaraan hotbah-hotbah dari Nuh dalam generasi yang satu, maka demikian pula Ia mengumumkan kepada dunia dari hal nasib akhirnya dalam generasi ini. Sebagaimana jaminan telah disediakan sebelum air bah yang lalu bagi orang-orang yang ingin menyelamatkan diri dari kebinasaan, maka demikian pula halnya Ia mengadakan usaha-usaha dan fasilitas-fasilitas bagi semua orang yang ingin menghindari diri dari bencana besar yang menantang dunia kita. Bukan untuk masuk ke dalam bahtera yang dibangun oleh tangan-tangan manusia, sekali-kali tidak; karena itu hanyalah suatu lambang; tetapi ke dalam “banyak tempat tinggal” yang disediakan oleh Tuhan sendiri; bukan ke dalam sebuah bahtera yang mengapung-apung di atas air-air yang ganas, melainkan ke dalam rumah-rumah tinggal yang berdiri di atas pondasi-pondasi yang terdiri dari batu-batu yang berharga. Air bah yang mengerikan itu adalah contoh dari seribu tahun millenium yang gelap itu. Sebagaimana umat Allah yang setia telah diselamatkan di waktu itu, maka demikian pula mereka akan diselamatkan sekarang. Tetapi orang-orang berdosa sekarang kelak akan binasa seperti juga orang-orang berdosa di masa lalu.

 

Air Bah Contoh dari Kebinasaan

Orang-Orang Jahat

 

Jika air bah itu merupakan contoh dari seribu tahun millenium itu, dan generasi yang binasa pada waktu itu merupakan contoh dari generasi yang hidup sekarang, maka angka bilangan hari-hari yang terpakai dalam membinasakan dunia Tua yang lalu itu harus diperbandingkan terhadap pembinasaan dunia yang sekarang ini.

 

“Maka Tuhan berfirman kepada Nuh: “Masuklah engkau berikut seluruh isi rumahmu ke dalam bahtera itu, karena engkau yang Ku-lihat benar di hadapan hadirat-Ku dari antara generasi ini. Karena tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan kepada bumi ini empat puluh hari empat puluh malam lamanya; dan setiap benda yang hidup yang telah Ku-jadikan itu akan Ku-binasakan dari permukaan bumi. Maka oleh Nuh diperbuatlah segala perkara yang telah diperintahkan Tuhan kepadanya. Maka Nuh dan anak-anaknya, dan isterinya, dan isteri-isteri dari anak-anaknya, masuklah mereka ke dalam bahtera karena air bah itu. Dan setelah tujuh hari berlalu datanglah air-air dari air bah itu di permukaan bumi. Pada umur Nuh yang ke enam ratus tahun, dalam bulan yang kedua, pada hari yang ke tujuh belas dari bulan itu, pada hari yang sama itulah semua mata air dari tubir yang dalam pecahlah, dan segala pintu langit pun terbukalah. Maka hujan yang deras turunlah ke bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Maka adalah air bah itu di atas bumi empat puluh hari lamanya, dan segala air itu pun bertambah-tambah lalu diangkatnya bahtera itu, sehingga ia itu naik tinggi di atas bumi. Maka segala air itu menutupi bumi seratus lima puluh hari lamanya.” (Kejadian 7 : 1, 4, 5, 7, 10 – 12, 17, 24).

 

Maka segala air itu baliklah dari atas bumi terus menerus; dan setelah akhir dari seratus lima puluh hari itu segala air itu pun surutlah. Dan segala air itu terus menerus surut sampai bulan yang ke sepuluh, dan dalam bulan ke sepuluh, pada hari yang pertama dari bulan itu kelihatanlah segala puncak gunung. Dan kemudian dari empat puluh hari dibukalah oleh Nuh jendela bahtera itu yang telah dibuatnya sendiri. Lalu dilepaskannya seekor burung gagak yang terbang pergi datang, sampai kekeringanlah air itu dari permukaan bumi. Juga dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat kalau-kalau air telah susut dari permukaan tanah; tetapi burung merpati itu tiada menemukan tempat bertengger, sehingga kembalilah ia kepadanya ke dalam bahtera, karena segala air itu masih ada pada permukaan seluruh bumi; maka oleh Nuh direntangkannya tangannya, lalu diambilnya burung itu dan dibawanya akan dia kembali ke dalam bahtera. Lalu ia menunggu lagi tujuh hari lamanya; dan kembali ia melepaskan merpati itu keluar dari bahtera. Maka merpati itu kembali lagi kepadanya pada sore harinya; dan heran, didalam paruhnya terdapat sehelai daun zait yang dipetiknya; sehingga demikianlah diketahui oleh Nuh bahwa air sudah surut dari permukaan bumi. Maka ia menunggu lagi tujuh hari lamanya; lalu dilepaskannya merpati itu, tetapi tiada burung itu kembali lagi kepadanya. Maka jadilah pada tahun yang ke enam ratus satu, dalam bulan yang pertama, hari yang pertama dari bulan itu, kekeringanlah segala air dari permukaan bumi; maka dibuka oleh Nuh tudung bahtera itu, lalu dilihatnya, dan sesungguhnya permukaan tanah itu keringlah sudah. Lalu firman Allah kepada Nuh, katanya: ‘Keluarlah dari bahtera itu, baik kamu, dan isterimu, dan anak-anakmu, dan isteri-isteri dari anak-anakmu itu sertamu.” (Kejadian 8 : 3, 5 -13, 15, 16).

 

Sesudah Nuh yang setia itu menyuarakan amaran kepada generasinya dan setelah Ia menyelesaikan pembangunan bahtera itu, maka Allah memerintahkan kepada hambaNya untuk masuk ke dalam bahtera itu tujuh hari lamanya sebelum hujan mulai turun. Setelah ia, berikut semua yang akan pergi ke dalam bahtera itu memasuki kapal yang indah itu yang berada di atas tanah kering tanpa sedikit pun terlihat tanda-tanda bahwa kapalnya itu akan kelak memperoleh kesempatan mengapung, maka kemudian Tuhan menutup pintunya.

 

Enam hari berlalu tanpa terlihat adanya tanda-tanda akan adanya sesuatu air bah, tetapi pada akhir dari hari yang ketujuh, maka curahan hujan dari atas dan desakan air dari mata-mata air dari bawah menghantam satu terhadap lainnya, maka ramalan Nuh itu mulailah dengan kegenapannya yang mengerikan dalam kehancuran terhadap tanah itu. Sementara segala air dari atas dan dari mata-mata air dari bawah menutupi permukaan bumi setinggi lima belas cubits (1 cubit = kira-kira 50 cm), dan membinasakan setiap benda yang hidup pada akhir dari empat puluh hari dan empat puluh malam itu, tiba-tiba sekaliannya itu berhenti; dari kegemparan menjadi tenang, dari amarah murka menjadi kedamaian, seolah-olah puas oleh penyelesaian kemenangan atas pendurhakaan melawan kebenaran dan keadilan. Selama seratus sepuluh hari air-air itu tidak naik dan juga tidak surut, tetapi tetap mempertahankan tingginya oleh suatu keajaiban. Setelah total keseluruhan seratus lima puluh tujuh hari digenapi semenjak dari hari Nuh memasuki bahtera, maka mulailah air-air itu surut. Artinya, semua mata air dari tubir yang dalam membuka mulut-mulut mereka menelan air-air itu ke bawah ke dalam perut-perut bumi.

 

Sekarang kita kembali untuk menjelaskan keruwetan Firman yang ternyata dalam pencatatan lamanya jangka waktu air bah itu dan terkurungnya mereka itu di dalam bahtera. “Pada tahun yang keenam ratus dari umurnya Nuh, dalam bulan kedua, pada hari yang ketujuh belas dari bulan itu, pada hari itu juga semua mata air dari tubir yang dalam pecahlah, dan segala pintu langit terbuka.” (Kejadian 7 : 11). Bulan kedua dan hari yang ketujuh belas dari bulan itu adalah tanggal dari tahun matahari (solar year) menurut kalender kuno dahulu sewaktu air bah yang mengamuk itu memulai hantamannya yang kejam terhadap setiap perkara yang hidup di atas bumi. Kemarahan alam yang sama ini pun terus berlangsung dengan bengisnya empat puluh hari lamanya, dan setelah mencapai puncaknya dan menyapu bersih semua penduduk, tiba-tiba ia kembali tenang. Dengan menambahkan empat puluh hari kepada tanggal yang terdahulu itu akan terlihat, bahwa hujan itu berhenti pada hari yang kedua puluh tujuh dari bulan yang ketiga. “Maka bahtera itu berhenti (tenang) dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas dari bulan itu, di atas pegunungan Ararat.” (Kejadian 8 : 4).

 

Oleh sebab itu, maka semenjak dari hari hujan mulai turun sampai kepada hari bahtera itu berhenti (bukan di atas tanah, melainkan berhenti dari hanyut kesana-kemari), adalah tepat lima bulan. Ini pun ada tercatat di dalam ayat tiga: “Dan segala air itu terus menerus kembali dari bumi; dan setelah akhir dari seratus lima puluh hari air-air itu surutlah.” Kenyataan ini membuktikan bahwa kalender bulanan kuno dahulu itu adalah terdiri dari tiga puluh hari untuk sebulan (5 x 30 = 150).

 

“Maka segala air surut terus rnenerus sampai bulan ke sepuluh; dan dalam bulan kesepuluh itu, pada hari yang pertama dari bulan itu terlihatlah puncak-puncak gunung.” (Ayat 5). Artinya, sejak dari hari segala air surut sampai kepada hari gunung-gunung itu kelihatan, terdapat tujuh puluh empat hari. (13) untuk melengkapi bulan yang ke tujuh, (30) dalam bulan ke delapan, (30) dalam bulan ke sembilan, dan (1) hari sejak dari bulan ke sepuluh = 74 seluruhnya.

 

“Maka jadilah dalam tahun yang ke enam ratus satu, dalam bulan pertama, hari yang pertama dari bulan itu, kekeringanlah segala air dari permukaan bumi.” (Ayat 13). Artinya, sejak dari hari puncak-puncak gunung terlihat sampai kepada hari segala air itu kembali ke tempatnya yang semula, terdapat sembiIan puluh hari – (29) untuk melengkapi bulan ke sepuluh, (30) dalam bulan ke sebelas, (30) dalam bulan keduabelas, dan (1)hari sejak dari bulan pertama dari permulaan tahun baru itu, membuat seluruhnya berjumlah sembilan puluh hari.

 

Catatan berikut ini akan memberikan kepada kita angka bilangan hari-hari untuk mengeringkan permukaan bumi dan mengokohkannya dari pengaruh-pengaruh air: “Maka dalam bulan kedua, pada hari kedua puluh tujuh dari bulan itu keringlah bumi itu.” (Ayat 14). Oleh sebab itu, maka bumi telah menjadi kering dalam jangka waktu lima puluh enam hari sejak dari hari air-air itu diambil – (29) hari untuk melengkapi bulan yang pertama, dan (27) dari bulan yang kedua, membuat keseluruhannya menjadi (56) hari.

 

Berikut ini adalah sebuah perincian dan suatu jumlah keseluruhan hari-hari itu: (40) selama hujan turun, 110 sampai kepada waktu air-air itu mulai surut, 164 hari bagi air-air itu masuk kembali ke dalam perut-perut bumi, dan (56) bagi bumi untuk mengering; menjadikan keseluruhan 370 hari dan tujuh hari sebelum air bah itu mulai, mencapai jumlah keseluruhannya 377 hari – dua belas bulan dan tujuh belas hari seluruhnya (30 hari untuk sebulan).

 

 
 

Tentu saja tak seorang pun akan mengira bahwa pengaturan mengenai air bah ini berikut dengan jumlah hari-harinya yang tertentu itu bagi setiap tindakan telah disusun tanpa rencana oleh Allah yang adil dan penuh bijaksana itu. Mengapa Nuh dan keluarganya berikut semua mahluk hidup yang masuk ke dalam bahtera itu ditutup di dalarnnya tujuh hari lamanya sebelum hujan dimulai ? ltu tentunya tidak bijaksana dan kejam pada pihak Allah, juga terlalu mahalbagi Nuh, dan cukup berat bagi semua mahluk yang ada di dalam bahtera itu karena lamanya mereka terkurung di dalamnya, kalau saja ia itu tidak mempunyai objek pelajaran apapun bagi generasi-generasi yang akan datang. Mengapa menghabiskan empat puluh hari untuk membanjiri bumi sementara Ia dapat saja melakukannya dalam waktu yang jauh lebih singkat ? Mengapa memperpanjang kurungan mahluk-mahluk ciptaan-Nya itu di dalam bahtera, dengan menahan kebebasan air-air itu untuk kembali surut, dan memaksa segala air itu mempertahankan tingginya lima belas cubit selama 110 hari ? Atau mengapa tidak lebih dari itu, atau pun kurang dari itu ? Mengapa harus Ia membuat segala air itu naik ke atas dalam empat puluh hari, dan menghabiskan 164 hari (lebih dari empat kali lamanya) untuk kembali surut ? Tidakkah ini bertentangan dengan alam ?

 

Bumi telah berada di bawah air selama lebih dari sepuluh bulan, dan karena derasnya tekanan air dari bawah dengan begitu keras telah membalikkan bentuk bumi ini, sehingga bumi telah menjadi tumpukan lumpur. Tetapi sesudah segala air itu turun ke daratan-daratan rendah, dan masuk ke dalam perut-perut bumi, maka Tuhan telah mengeringkannya hanya dalam lima puluh enam hari. Setiap perkara yang Allah lakukan dalam kaitannya dengan air bah itu adalah bertentangan dengan alam dan perhitungan manusia bahkan tidak masuk akal. Adalah tidak dapat dibantah, bahwa demikian itulah telah direncanakan untuk menjadi sebuah objek pelajaran bagi orang-orang yang hidup di akhir zaman.

 

Yang berikut ini tidak hanya akan membuktikan, bahwa apa yang telah dikatakan itu benar, tetapi ini pun akan menunjukkan bahwa penutupan pintu bahtera itu tujuh hari lamanya sebelum kehancuran oleh air bah dimulai, akan merupakan suatu contoh yang melambangkan jangka waktu sejak dari berakhirnya masa kasihan sampai kepada permulaan dari tujuh celaka itu. lni akan selanjutnya membuktikan, bahwa hujan selama empat puluh hari dan empat puluh malam itu pun adalah sebuah contoh dari kebinasaan orang-orang jahat dalam celaka-celaka itu. Seratus sepuluh hari itu (sesudah hujan berhenti dan sebelum air-air itu surut) adalah sebuah contoh waktu dari orang-orang jahat, baik selama seribu tahun millenium maupun untuk selama seratus tahun kemudian. Juga bahwa bersihnya bumi dari segala air itu adalah merupakan contoh dari kebinasaan orang-orang jahat oleh api (kematian yang kedua) sesudah seribu tahun millenium itu, dan lima puluh enam hari itu dalam mana bumi telah menjadi kering ialah contoh dari pendinginan bumi setelah penyuciannya dari dosa dan orang-orang berdosa.

 

Karena contoh-contoh yang disebut di atas itu adalah simbol-simbol dari enam periode peristiwa yang berbeda yang berkenaan dengan hari-hari, bulan-bulan dan tahun-tahun, tergantung pada kejadiannya, maka arti dari sekaliannya itu yang tepat tidak dapat ditentukan angkanya secara perbandingan, juga metode yang sedemikian ini tidak dapat membuktikan apapun juga dalam hal ini, juga belum menunjukkan Yang Maha Kuasa dalam menciptakan contoh itu. Oleh sebab itu arti dari sekaliannya itu yang tepat akan di dapat dengan cara memperkalikannya dengan angka-angka bilangan Alkitab yang mempunyai arti khusus untuk cocok dengan kejadian itu dan untuk memperluas gambaran itu. Juga pelajaran yang dapat ditarik melalui metode-metode yang sedemikian ini harus membuktikan tepat dan sesuai benar dari setiap segi seseorang mungkin menggambarkannya; dengan demikian perkara yang satu menguatkan yang lainnya.

 

Oleh sebab itu, kita akan pertama-tama membicarakan tujuh hari itu (sejak dari Nuh memasuki bahtera sampai kepada permulaan air bah) yang mana telah kita tegaskan merupakan contoh (type) dari jangka waktu di antara berakhirnya masa kasihan dan permulaan dari celaka-celaka. Metode yang akan dipakai untuk mengungkapkan lamanya waktu pada periode tersebut adalah juga untuk menunjukkan, bahwa masa kasihan bagi manusia dan kelengkapan pemberitaan injil telah berakhir. Satu-satunya angka bilangan Alkitab yang cocok yang dapat dipakai untuk menggambarkan kejadian-kejadian seperti ini maupun untuk mengungkapkan jumlah hari sejak dari peristiwa yang satu ke peristiwa lainnya, adalah angka bilangan tujuh. Oleh sebab itu, maka kita harus mengalihkan contoh itu dengan angka bilangan Alkitab yang menunjukkan kelengkapan. Dengan demikian, maka 7 x 7 = 49 hari sejak dari berakhirnya masa kasihan sampai kepada permulaan celaka-celaka itu. Maka sebab itu, turunnya celaka-celaka itu akan merupakan pertanda kepada orang-orang jahat bahwa mereka sudah sesat. Oh, betapa besarnya kekecewaan itu bagi mereka, yang seperti halnya orang-orang zaman dahulu mengharapkan untuk diselamatkan, tetapi ternyata menemukan diri mereka hilang.

 

Suatu hitungan dengan cara yang sama telah dipakai untuk menentukan tahun jobel (the year of jubilee). Tuhan berfirman: “Maka hendaklah kamu menghitung tujuh tahun sabat-sabat bagimu, yaitu tujuh kali tujuh tahun; maka jumlah tujuh tahun sabat-sabat itu kelak bagimu empat puluh sembilan tahun banyaknya.” (Immamat 25 : 8). Tahun yang kelima puluh selagi tanah itu diam juga merupakan contoh dari seribu tahun millenium (menunjukkan bahwa tanah itu akan memeliharakan satu Sabat – istirahat), suatu hitungan yang sama telah dipakai. Oleh sebab itu, pada permulaan dari seribu tahun itu ialah permulaan dari jobel (perayaan) dalam contoh saingannya. Dan karena tanah itu telah kembali kepada para pemiliknya yang sah dalam tahun jobel contoh itu, maka demikian itu pula kelak akan jadi dalam contoh saingannya – kembali kepada orang-orang suci. “Bangsamu pun sekaliannya akan menjadi benar; mereka akan mewarisi tanah itu selama-lamanya, yaitu tunas dari tanaman-Ku, hasil perbuatan tangan-Ku, supaya Aku kelak dimuliakan.” (Yesaya 60 : 21).

 

Angka bilangan dan peristiwa berikutnya yang akan kita bicarakan ialah empat puluh hari dan empat puluh malam contoh selagi hujan turun, dalam perbandingan dengan contoh saingannya (kebinasaan orang-orang jahat selama masa celaka-celaka itu dan sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali). Kebinasaan orang-orang jahat itu dengan angka bilangan yang mengartikan universal, sehingga membuktikan bahwa kebinasaan itu akan meliputi empat penjuru mata angin. Telah dibuktikan sebelumnya, bahwa sepuluh adalah satu-satunya angka bilangan yang cocok; maka sebab itu, 40 x 10 = 400, dengan demikian menghasilkan jumlah seluruhnya 449 hari, atau satu seperempat tahun (lima belas bulan) sejak dari berakhirnya masa kasihan sampai kepada kedatangan Kristus menjemput umat kesucian-Nya. Kenyataan ini akan dibuktikan dari segi lain dalam kaitannya dengan penyelidikan yang lain.

 

Karena dua bagian dari air bah itu (7 x 7 = 49 dan 10 x 40 = 400 hari) menghantarkan kita ke akhir dunia, maka bagian yang ketiga (110 hari selagi segala air itu mempertahankan tingginya lima belas cubits di atas atau sejak dari saat hujan berhenti sampai kepada waktu segala air itu surut) harus diaplikasikan kepada seribu tahun millenium. Ini pun karena meliputi seluruhnya (universal), maka kembali kita wajib mengalikan angka sepuluh dengan contohnya, yaitu 110 x 10 = 1100. Millenium itu adalah 1000 tahun lamanya, dan 100 tahun pada seberang sananya (setelah yang terakhir, lihat buku Tongkat Gembala, Jilid 1, BAB VI sebelum judul paragraf Pengumpulan Dari Segala Bangsa Kapir…). Membuat keseluruhannya menjadi 1100 tahun. Ini membuktikan bahwa 1100 hari yang berasal dari perkalian kita itu adalah secara nubuatan yang masih sisa dari air bah itu selagi air-air itu menyurut dan selagi bumi membersihkan dirinya dari air bah, harus berlaku terhadap kebinasaan yang terakhir orang-orang jahat dan terhadap penyucian bumi dengan api.

 

Oleh sebab itu, jumlah hari-hari contoh itu dapatlah diaplikasikan begitu saja seperti halnya air bah itu, dan sebagai berikut: Sejak dari hari air-air itu surut sampai kepada saat puncak-puncak gunung-gunung terlihat, terdapat tujuh puluh empat hari, dan sembilan puluh hari lagi sampai sekaliannya itu bersih, menjadikan seluruhnya 164 hari; dalam mana orang-orang jahat dan semua perbuatan mereka itu akan dibakar sampai menjadi habu. (Maleakhi 4 : 1).

 

Sisa lima puluh enam hari (sementara bumi mengering) berlaku terhadap jangka waktu bumi mendingin; dan sebagaimana Nuh keluar dari bahtera, maka demikian itu pula orang-orang suci akan berjalan-jalan keluar dari Kota Suci itu lalu mewarisi bumi untuk selama-lamanya. “Maka kerajaan dan pemerintahan, dan kebesaran kerajaan di bawah seluruh langit akan dikaruniakan kepada umat kesucian dari Dia Yang Maha Tinggi, yaitu Yang kerajaan-Nya adalah kekal, dan semua pemerintahan akan berbakti dan mematuhi Dia. Sampai disinilah berakhir perkara itu.” (Daniel 7 : 27, 28).

 

Tentu saja bahwa tak ada barang sesuatu pun yang dapat cocok dengan sedemikian sempurnanya secara kebetulan. Tetapi bayangkanlah ramalan yang mentaajubkan sedemikian ini dalam merencanakan suatu keajaiban seperti ini yang dapat mengungkapkan melalui suatu gambaran yang hidup, masa depan yang beribu-ribu tahun jauhnya. Bukankah kenyataan-kenyataan seperti ini menunjukkan kasih Ilahi terhadap mahluk-mahluk yang sudah jatuh ? Rasa syukur memancar keluar dari hati kita, yang tak mungkin dengan kata-kata, kita hanya dapat mengatakan bersama-sama dengan Pemazmur: “Bahwa firman-Mu adalah pelita bagi kakiku, dan terang bagi jalanku. Aku telah bersumpah, maka aku akan melakukannya, bahwa aku memeliharakan segala hukum kebenaran-Mu.” (Mazmur 119 : 105, 106).

 

Bukan hanya ajaib menciptakan sebuah pelita yang memancarkan terang dengan kemampuan lilin yang sedemikian mengherankan, tetapi juga adalah mentaajubkan  bagaimana mungkin Allah menyembunyikan keajaiban-keajaibanNya dari mata orang-orang cerdik pandai. Kemudian pada saat pilihan-Nya sendiri, Ia meletakkan sekaliannya itu di atas bukit-bukit yang tinggi dengan mana Ia dapat menerangi jalan dari para penyelidik kebenaran, dan oleh silau kekuatan cahayanya akan membutakan penglihatan orang-orang jahat. “Oleh sebab itu orang-orang yang tidak mengerti kelak akan jatuh.” (Hosea 4 : 14). “Bahwa terang ditaburkan kepada orang benar, dan kesukaan pun bagi orang yang tulus hatinya.” (Mazmur 97 : 11).

 

Allah kita dapat saja berbicara langsung kepada kita melalui perantaraan para nabi seperti di masa lalu, tetapi adalah tidak mungkin untuk meneruskan sama banyak terang kepada hanya satu generasi. Juga tidak mungkin kita dapat memahami pengertiannya seperti yang dapat kita pahami melalui sekalian contoh-contoh atau simbol-simbol ini. Juga karena mengetahui penipuan besar, ketidak percayaan dan keragu-raguan orang-orang yang sombong yang akan bangkit, maka Ia telah menempatkan sekalian keajaiban ini di dalam Alkitab untuk menelanjangi kesalahan dan untuk mengungkapkan kebenaran, sehingga dengan demikian menjatuhkan musuh manusia itu; dan juga supaya membiarkan orang-orang munafik dan orang-orang yang tidak percaya tanpa dimaafkan.

 

Sebagaimana setiap perkara yang hidup telah binasa dalam masa air bah yang lalu, yaitu yang berada di Iuar bahtera, maka demikian itu juga dalam seribu tahun millenium yang gelap yang akan datang, setiap perkara yang hidup akan kembali menjadi abu, terkecuali iblis dan malaikat-malaikatnya. Walaupun orang-orang sedang mengajarkan suatu millenium yang penuh damai, namun ajaran mereka itu kelak akan sia-sia, dan mereka sendiri akan kelak berbaring dalam kekecewaan besar terkecuali mereka bertobat.

 

Kesamaan Air Bah Dengan Paskah

Dan Penyaliban

Allah kita telah memerintahkan kepada Nuh dan keluarganya, binatang-binatang, unggas-unggas, dan segala binatang melata supaya memasuki bahtera pada hari persiapan – hari Jumat. “Pada hari yang sama itu juga Nuh masuk…….. seperti yang diperintahkan Allah kepadanya; lalu ditutupi Tuhan akan dia di dalam bahtera itu” karena Sabat sudah mulai, dan itulah hari kesepuluh dari bulan yang kedua. (Kejadian 7: 13, 16). Tujuh hari kemudian, atau pada permulaan dari hari Sabat berikutnya, yaitu hari yang ketujuh belas dari bulan itu, maka “semua mata air dari tubir yang dalam pecahlah, dan pintu-pintu langit terbuka” lalu turunlah hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Hujan itu berhenti pada hari yang kedua puluh tujuh dari bulan ketiga, dan hari ke empat dari minggu itu – hari Rabu pada masuk matahari. Terdapat suatu kesamaan yang luar biasa di antara air bah itu dan minggu paskah; juga dalam kaitannya dengan penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan Kristus. Oleh sebab itu, maka yang ditakdirkan ilahi ini sepatutnya mendapatkan perhatian kita yang sungguh-sungguh. Orang-orang Israel diperintahkan untuk mengambil anak domba paskah itu lepas dari kawanannya pada hari yang ke sepuluh dari bulan yang pertama, dan harus membunuhnya pada hari yang ke empat belas  dari bulan yang sama pada sore hari. (Keluaran 12 : 3, 6).

 

Karena Kristus telah disalibkan, dikubur, dan bangkit dalam minggu paskah, maka putaran mingguan itu dan kalender bulanannya terdapat kesamaan sebagai berikut: Hari ke sepuluh dalam mana anak domba itu harus diambil dari kawanannya, jatuh pada Sabat hari yang ke tujuh tahun itu; yang jatuh bersamaan dengan hari dari minggu dan bulan, dari hari pertama terkurungnya Nuh di dalam bahtera. Pada akhir dari hari ke empat belas dari bulan itu setelah Kristus melaksanakan perayaan paskah anak domba itu, ia telah dibawa ke hadapan para imam; Ia mati pada hari Jumat, hari yang ke enam belas dari bulan itu, dikuburkan pada permulaan hari yang ke tujuh belas (Sabat), yaitu yang kesamaannya adalah dengan permulaan dari air bah, dan Ia bangkit pada hari yang ke delapan belas – hari Minggu. Karena Ia telah naik ke sorga empat puluh hari kemudian, maka ia itu jatuh pada hari Kamis hari yang ke dua puluh tujuh dari bulan yang kedua; merupakan hari yang sama dari minggu itu, karena itulah yang menyusul setelah hujan empat puluh hari. Penjelasan kami sebelumnya telah menunjukkan, bahwa hari itu yang menyusul empat puluh hari hujan, dilukiskan dalam contoh (type) yaitu akhir dari dunia, yang disusul dengan berangkatnya orang-orang suci dari bumi.

 

Kita mungkin saja tidak menduga, bahwa Allah telah mengadakan semua peristiwa yang ada kesamaan-kesamaannya ini tanpa memikirkan sesuatu tujuan. Karena berhentinya hujan itu adalah suatu contoh waktu mengenai akhir dunia, maka dengan begitu kenaikan Kristus bersama-sama dengan orang-orang yang dibangkitkan dengan Dia, adalah sebuah contoh dari kenaikan orang-orang suci pada kedatangan Tuhan. Inipun mengungkapkan bahwa kedatanganNya itu akan jadi pada hari Rabu, dan kereta kemuliaan akan bertolak ke Sorga segala langit itu pada hari Kamis. Kembali lagi diberitahukan kepada kita, bahwa perjalanan orang-orang suci itu akan memakan waktu tujuh hari untuk sampai ke tahta Allah, dan bahwa kita akan beristirahat satu Sabat pada salah sebuah planet selama dalam perjalanan itu. Dari sini jelaslah, bahwa Kristus akan datang di pertengahan minggu. Demikianlah kembali kita jumpai bahwa perkara yang satu membuktikan perkara yang lainnya. Kalkulasi-kalkulasi yang ketat sedemikian ini mengenai daftar rencana peristiwa-peristiwa yang tak lama lagi akan jadi itu,membuatnya menjadi nyata bahwa akhir dari pada segala perkara sudah dekat sekali; sebab jika tidak, maka pemberitahuan ini belum akan dikeluarkan.

 

Terang ini yang telah disampaikan melalui keajaiban-keajaiban dari peristiwa-peristiwa contoh (typical events), adalah suatu manifestasi yang jelas bahwa akan ada sebuah contoh (type) bagi setiap kejadian yang memiliki kepentingan utama bagi sidang Allah; yang merupakan satu-satunya pembuktian yang pasti dan penjelasan-penjelasan yang terang mengenai kejadian-kejadian takdir ilahi. Karena tidak terdapat contoh bagi apa saja yang palsu, maka para guru yang memiliki teori-teori tanpa penyajian contoh bagi kebenaran-kebenaran Alkitab ajarannya, berikut orang-orang yang percaya kepada mereka itu, adalah bagaikan si buta yang memimpin sesama butanya. Contoh-contoh itu digunakan untuk membukakan kekeliruan dan mengungkapkan kebenaran. Orang-orang yang jujur akan meninggalkan iblis dengan cara memeluk kenyataan-kenyataan, dan dengan cara berjalan dalam terang.

 

Anak domba paskah yang dipisahkan dari kawanannya pada hari yang ke sepuluh itu, ada kesamaannya dengan pemisahan orang-orang benar dari orang-orang jahat dalam dunia kuno yang lalu. Hari penguburan Kristus itu ada kesamaannya dengan hari permulaan dari air bah, juga dengan permulaan dari celaka-celaka (tujuh celaka) itu; dan kenaikan-Nya ke sorga ada kesamaannya dengan hari setelah hujan berhenti, juga dengan akhir dunia dan pengobahan orang-orang suci. Semua kesamaan ini adalah tepat dengan hari dari minggu dan dari bulan; tetapi yang satu adalah sebulan lebih dulu dalam musimnya daripada yang lainnya; paskah itu yang berada dalam bulan yang pertama, dan air bah itu dalam bulan yang kedua. Telah dijelaskan, bahwa paskah itu merupakan contoh dari berakhirnya masa kasihan bagi sidang, (lihat judul pelajaran Tujuh Meterai Dan Tempat Kesucian di judul paragraf Meterai yang ketujuh), dan penutupan pintu bahtera itu adalah contoh dari berakhirnya masa kasihan bagi dunia. Oleh sebab itu, maka terdapat tiga puluh hari contoh di antara berakhirnya masa kasihan yang satu dengan berakhirnya masa kasihan yang lainnya. Jika sekiranya kepada kita diberikan terang mengenai bagaimana menentukan angka dari sekalian 30 hari contoh ini, maka tampaknya akan terungkap jumlah-jumlah tahun yang tepat sejak dari kegenapan nubuatan Yeheskiel sembilan (Paskah), sampai kepada berakhirnya masa kasihan yang terakhir. Fakta ini barangkali tidak akan diberitahukan sampai sesudah pekerjaan injil berakhir. Sebagai perincian singkat mengenai air bah itu dalam contoh dan contoh saingannya, kami meminta perhatian pembaca kepada gambar bagan diatas.

 

Arti Dari Bulan Pertama dan Bulan Kedua

 

Pekerjaan penghabisan bagi sidang adalah diartikan dengan bulan pertama“, dan penuaian bagi dunia diartikan dengan bulan “kedua.” Karena kebenaran yang satu mengungkapkan yang lainnya, maka perhatian kita diarahkan kepada Yoel 2 : 23, 28, 29 yang berbunyi sebagai berikut: “Bersukacitalah kamu pada masa itu, hai anak-anak Sion, dan bergembiralah dalam Tuhan Allahmu; karena Ia telah mengaruniakan kepadamu hujan awal secukupnya, dan Ia akan menurunkan kepadamu hujan, yaitu hujan awal dan hujan akhir dalam bulan pertama. Maka akan jadi kelak sesudah itu, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku atas segala manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan anak-anakmu perempuan akan bernubuat, semua orang tua-tuamu akan memperoleh mimpi-mimpi, orang-orang mudamu akan menyaksikan khayal-khayal; dan juga atas semua hamba laki-laki dan perempuan pada masa itu, Aku akan mencurahkan Roh-Ku.” Perhatikanlah, bahwa “hujan” itu datang lebih dulu dan curahan roh-Nya itu kemudian. Oleh sebab itu, maka hujan itu adalah masalah yang satu, dan curahan roh adalah masalah lain lagi.

 

Dengan “hujan” dilambangkan terang besar atau Firman Allah yang akan mendatangkan tuaian dan menerangi dunia dengan kemuliaannya – malaikat dari Wahyu 18 : 1. Curahan Roh ialah kuasa yang akan turun ke atas hamba-hamba Allah untuk memajukan pekerjaan yang dilambangkan oleh hujan awal dan hujan akhir itu. “Dan atas segala manusia” ialah roh yang akan meyakinkan orang-orang yang jujur hatinya terhadap kebenaran dan membawa mereka itu ke dalam sidang, yang mana Pantekosta telah merupakan contohnya. “Maka lantai-lantai akan penuh dengan gandum, dan segala lemak akan mengalir bersama-sama dengan air anggur dan minyak” – melambangkan suatu penuaian jiwa-jiwa yang besar yang akan dihimpunkan sebagai hasil dari “hujan” dan “Roh” itu. (Yoel 2 : 24).

 

“Hujan” itu turun dalam “bulan pertama”; yaitu, bulan yang dilambangkan oleh pekerjaan penghabisan bagi sidang — masa pemeteraian mereka yang 144.000 itu. Oleh karena itu, maka dalam masa periode itulah (sebelum Yeheskiel sembilan) sebuah terang besar akan diungkapkan. Adalah penting sekali untuk dicatat tepatnya urut-urutan gramatika dari kata-kata itu pada masa pengaplikasiannya, yang membagi Firman kebenaran itu dengan jelas seolah-olah ia itu telah ditulis tepat pada waktu kata-kata nubuatan itu diungkapkan. “Karena Ia telah mengaruniakan kepadamu hujan awal secukupnya” ialah terang kebenaran yang ditandai oleh hujan awal yang harus turun mendahului masa dari hujan akhir itu. Oleh sebab itu, maka hujan awal itu tak lain adalah tulisan-tulisan “Roh Nubuatan.” Bukti selanjutnya dari hal ini akan diberikan pada bab yang lain.

Tetapi catatlah bahwa turunnya hujan awal itu akan diulangi bersama dengan hujan akhir: “Dan Ia akan menurunkan bagimu hujan, yaitu hujan awal, dan hujan akhir dalam bulan pertama.” Oleh sebab itu, maka hujan awal itu (Roh Nubuatan) akan turun pada kedua kalinya – diungkapkan lebih sempurna lagi dalam masa “hujan akhir” – pertama kali lepas dari hujan akhir, dan kedua kali bergabung dengan hujan akhir dalam “bulan pertama” (mendahului Yeheskiel sembilan). Pengertiannya adalah, bahwa kebenaran yang tercatat di dalam tulisan-tulisan “Roh Nubuatan” itu belum sepenuhnya dipahami sampai pada masa hujan akhir. Demikianlah hujan awal itu datang kembali bersama-sama dengan hujan akhir, dan inilah yang akan menimbulkan “Seruan Keras” itu.
 

Kain dan Habil

Suatu fakta yang mencolok lainnya seperti terlihat pada gambar bagan itu ialah kejahatan yang dibuat oleh Kain dalam membunuh adiknya Habil. Keduanya ini adalah dua bersaudara yang pertama dan pertikaian yang pertama mengenai agama, juga adalah pembunuhan yang pertama di dalam keluarga manusia, maka ini tentunya harus mengandung suatu pelajaran yang maha penting.

Menurut hukum Alkitab jabatan keimmamatan harus dibentuk terdiri dari anak-anak yang pertama lahir di dalam setiap keluarga. Dengan demikian, oleh hak-hak hukum, Kain adalah imam. Tuhan sendiri telah menegaskan kenyataan ini sewaktu Ia berbicara kepada Kain, dengan mengatakan: “Dan bagimulah kelak keinginannya (bagian akhir, tunduk), dan engkau akan memerintah atasnya”. (Kejadian 4 : 7). Oleh sebab itu, maka kedua orang ini melambangkan dua kelas orang-orang. Karena kenyataan ini tidak mungkin dapat disangkal, maka Kain harus melambangkan suatu kelas kepemimpinan (imam-imam), dan Habil melambangkan keanggotaan sidang yang benar. Adalah Kain yang telah mendurhaka melawan Allah karena mempersembahkan suatu korban yang palsu, dan karena Habil mematuhi dan berbakti sesuai dengan cara yang diperintahkan oleh Khalik, maka ia telah menimbulkan kebencian kakaknya itu.

Jika penegasan bahwa Kain dan Habil melambangkan dua kelas orang-orang ini benar, maka ini harus dibuktikan dari kenyataan-kenyataan sejarah. Kami telah menegaskan .bahwa Kain yang melambangkan kepemimpinan itu telah menganiaya dia yang melambangkan keanggotaan sidang yang benar. Dengan demikian setiap bagian dari sidang Allah telah mendurhaka melalui kepemimpinan sidang yang tidak benar, dan setiap pekabaran yang menyerukan reformasi mereka juga yang melemparkannya keluar dari sidang. Dalam kebutaan mereka itu mereka berketetapan hati untuk tetap mempertahankan umat bodoh terhadap kebenaran dan demikianlah mereka menganiaya semua utusan dan orang-orang yang memeluk pekabaran itu dan yang mematuhi kebenaran. Oleh sebab itu, maka telah timbul pergerakan demi pergerakan yang diperlukan. Betapa menakutkan pendapat ini bagi mereka yang memikul tanggung jawab yang besar ini! Dan betapa bahayanya bagi kelas orang-orang yang membiarkan orang-orang lain berpikir dan bertindak bagi mereka. Kelas orang-orang yang menyambut keputusan-keputusan orang-orang lain, apakah itu bagi kebenaran ataupun melawan kebenaran, mereka adalah tertipu dan terampas dari kehidupan kekalnya, karena mereka tidak mungkin memiliki pengalamannya sendiri, tidak mungkin memiliki pertobatan yang benar, tidak mungkin memiliki hati yang berubah. Saudara-saudaraku, kata-kata ini bukanlah melawan kamu, karena adalah Allah yang sedang berbicara melalui firman kebenaran-Nya untuk menyelamatkan kamu dari dalam lobang yang tak terduga dalamnya itu. Maukah Anda membiarkan Dia bekerja bagimu dan bagi umat-Nya? Maukah Anda menjadi domba-dombanya ?

 

 89 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart