BAB VI IKHTISAR DARI PASAL-PASAL BUKU YESAYA
<< Go Back


BAB VI

 

IKHTISAR DARI BUKU YESAYA,

YANG MELIPUTI

PASAL 54 – 66

 

Panggilan bagi reformasi ini sebagaimana yang dikemukakan di sini adalah hasil langsung dari penyelidikan terhadap tiga belas pasal dari buku Yesaya, sebagaimana yang telah direncanakan oleh gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dan telah disampaikan kepada sidang-sidang dalam seluruh organisasi di seluruh dunia. Semua pelajaran ini telah diajarkan di dalam departemen Sekolah Sabat selama bulan Januari, Pebruari dan Maret tahun 1929, yang dimulai dengan pasal 54 dan berakhir dengan pasal 66. Kami yakin tangan Allah telah memimpin, dan bahwa pelajaran-pelajaran khusus ini telah datang pada suatu waktu yang telah ditentukan oleh pimpinan Ilahi, dengan maksud untuk membangunkan umat-Nya untuk bertindak dari kondisi Laodikea yang suam, dan kelemahan kerohanian.

Di dalam Testimonies, jilid 3, halaman 492 kita baca sebagai berikut: “General Conference yang merupakan otoritas tertinggi yang Allah miliki di atas bumi.” (“General Conference” yang dibicarakan di sini bukanlah pendapat seseorang, melainkan sebuah General Conference dari saudara-saudara yang datang berkumpul dari semua bagian di lapangan, seperti yang digambarkan di dalam buku Gospel Workers, halaman 489 sebagai berikut : “Tetapi apabila di dalam sebuah General Conference, keputusan dari saudara-saudara yang datang berkumpul dari semua bagian di lapangan dilaksanakan. Kebebasan pribadi dan keputusan pribadi harus tidak boleh dipertahankan dengan gigih, melainkan harus tunduk”). Karena alasan inilah Allah telah menghargai General Conference itu, dan telah mengirimkan pelajaran-pelajaran melalui saluran itu dengan maksud untuk melahirkan suatu reformasi di dalam keseluruhan gereja dalam hanya satu triwulan pelajaran-pelajaran Sekolah Sabat.

Tiga belas pasal dari buku Yesaya ini adalah sebuah surat bersambung yang telah ditulis kepada sidang. Walaupun semua itu telah berada di dalam Alkitab selama berabad-abad lamanya, semua itu dimaksudkan bagi kita pada waktu ini, dan terdiri sebagai sebuah surat yang langsung kepada sidang di waktu sekarang. Pasal 54 adalah permulaan dari isi surat itu, dan ia itu berakhir dengan pasal yang ke 66. Alasan-alasan berikut ini telah diberikan untuk meyakinkan sedemikian ini.

YESAYA 54 –

PERMULAAN DARI SURAT “ALLAH PENGHIBUR”

“Menyanyilah, hai kamu yang mandul, kamu yang belum tahu beranak! Bertempik soraklah dan berserulah dengan kuat suaranya, hai kamu yang belum tahu merasai sakit hendak melahirkan; karena wanita yang sunyi itu lebih banyak anaknya daripada wanita yang bersuami, demikianlah firman Tuhan.” Yesaya 54 : 1. Galati pasal empat mengatakan, bahwa wanita yang dibicarakan di sini, yang “mandul” itu, yaitu “dia yang tiada merasai sakit hendak beranak”, “dia yang sunyi itu”, adalah Sarah. Yang lainnya yang disebut wanita yang bersuami itu ialah Hagar. Sarah adalah sunyi, karena ia telah menyingkirkan diri dan telah memberikan suaminya kepada Hagar, sehingga dengan demikian Hagar adalah wanita yang bersuami. Sarah adalah mandul, tanpa anak, sebaliknya Hagar memiliki anaknya Ishmael.

“Karena ada tertulis, ‘Bersukacitalah, hai engkau yang mandul dan yang tiada beranak, hendaklah bertempik sorak, hai engkau yang tiada menanggung sakit bersalin; karena perempuan yang ditinggalkan itu lebih banyak anaknya daripada perempuan yang bersuami.” Galati 4 : 27. Galati 4 : 25 mengatakan, bahwa Hagar melambangkan sidang Wasiat Lama, atau Yerusalem di Palestina. “Karena Hagar ini ialah Gunung Sinai di Arabia, dan sama dengan Yerusalem yang sekarang, maka ia hidup dalam perhambaan bersama-sama dengan anak-anaknya.” “Tetapi Yerusalem yang di atas itu merdeka yaitu ibu dari kita semua. Sebab itu, hai Saudara-Saudaraku, kita ini bukanlah anak-anak dari hamba perempuan itu, melainkan dari perempuan yang merdeka itu.” Galati 4 : 26, 31. Demikianlah Sarah (wanita yang merdeka) adalah merupakan lambang dari Yerusalem yang di atas, atau sidang dari Wasiat Baru.

Ishmael melambangkan anak-anak dari sidang Wasiat Lama, tetapi Ishak melambangkan anak-anak dari sidang (Kristen) Wasiat Baru. “Sekarang kita, hai Saudara-Saudaraku, seperti halnya Ishak, kita adalah anak-anak perjanjian. Tetapi seperti halnya di masa itu dia yang telah dilahirkan oleh kehendak daging itu telah menganiayakan dia yang dilahirkan oleh kehendak Roh, demikian juga halnya sekarang ini”. Galati 4 : 28, 29. Sebagaimana Ibrahim telah menyuruh pergi hamba perempuan itu (Hagar) dan anaknya (Ishmael), maka demikian pula Allah telah membuang sidang Wasiat Lama itu, atau Yerusalem yang sekarang. Galati 4 : 30 berbunyi: “Akan tetapi bagaimanakah bunyi Alkitab? Buangkanlah hamba perempuan itu beserta anaknya karena anak hamba perempuan itu tiada akan mewarisi bersama-sama dengan anak dari perempuan yang merdeka itu.” Alkitab telah membuat masalah ini menjadi cukup jelas untuk tidak lagi diragukan. Sarah adalah lambang dari sidang Kristen, dan Hagar lambang dari sidang Yahudi.

Kembali kepada Yesaya pasal 54, dapatlah dicatat bahwa pasal ini adalah dialamatkan kepada wanita yang mandul, yang tidak beranak, yang ditinggalkan sunyi, yaitu Sarah, yang melambangkan sidang Kristen.  Roh Nubuatan dalam mengomentari pasal ini mengatakan bahwa nubuatan itu adalah bagi sidang Injil di waktu ini. Kita baca di dalam buku Prophets and Kings, halaman 374, 375 sebagai berikut: “Sambil memandang ke depan makin jauh ke depan berabad-abad lamanya, nabi itu menyaksikan peristiwa kegenapan dari semua janji yang mulia ini. Ia melihat para pembawa berita-berita keselamatan yang menggembirakan itu pergi ke seluruh hujung bumi, kepada setiap bangsa dan umat. Ia mendengar bagaimana Tuhan mengatakan mengenai sidang Injil, ‘Tengoklah, Aku hendak menyampaikan kepadanya damai sejahtera bagaikan sebuah sungai, dan kemuliaan daripada segala orang Kapir bagaikan arus sungai yang mengalir’; dan ia dengar penugasan yang berbunyi : ‘Perbesarkanlah tempat perkemahanmu, dan suruhkanlah mereka memperluas semua batas tempat kediamanmu : Janganlah kamu tahankan, panjangkanlah segala talimu, dan kokohkanlah segala patokmu, karena kamu akan bergerak maju ke kanan dan ke kiri; dan segala benihmu akan mewarisi semua bangsa Kapir,’ Allah mengatakan kepada nabi itu bahwa Ia akan mengirim saksi-Nya ‘kepada segala bangsa, ke Tarshis, ke Pul, ke Lud, …… ke Tubal, dan ke Jawan, ke pulau-pulau yang jauh-jauh. ‘Nabi itu mendengar suara Allah memanggil sidang-Nya kepada tugasnya yang telah ditentukan, supaya jalan dapat dipersiapkan untuk menyambut datang kerajaan-Nya yang kekal itu.”

Nubuatan itu tidak mungkin berlaku bagi bagian permulaan dari sidang Kristen, sebab kita baca di dalam ayat 17 sebagai berikut : “Tak ada senjata apapun yang dibuat melawan dikau akan berhasil; dan setiap lidah yang bangkit melawan dikau dalam pehukuman akan kau persalahkan. Inilah warisan dari hamba-hamba Tuhan, dan kebenaran mereka itu adalah daripada-Ku, demikianlah firman Tuhan.” “Tidak ada senjata apapun yang dibuat melawan dikau akan berhasil”. Jika Injil ini memang menunjuk kepada bagian sidang yang mula-mula, atau dahulu daripada masa kegelapan yang lalu itu, maka Allah sudah akan gagal untuk melaksanakan janji-Nya. Perhatikan bahwa semenjak dari permulaan sidang Kristen, batu-batu, pedang, salib, tali, api, dan banyak lagi alat-alat kekejaman lainnya yang telah dibuat melawan umat Allah telah berhasil, dan terus berhasil sampai pada kira-kira pertengahan abad ke 18. Oleh sebab itu nabi itu tidak mungkin menunjuk kepada bagian permulaan dari sejarah sidang Kristen. Kutipan yang berikut ini akan membuktikan waktu mana Injil ini berlaku : “Barangsiapapun yang akan berkumpul bersama melawan dikau akan jatuh karena kamu……..’Tak ada senjata apapun yang dibuat melawan dikau akan berhasil; dan setiap lidah yang bangkit melawan dikau dalam hukum akan kau persalahkan.’ ……. Dengan berpakaikan senjata kebenaran Kristus, sidang akan masuk menghadapi peperangannya yang terakhir. ‘Indah bagaikan bulan, cerah bagaikan matahari, dan hebat bagaikan suatu bala tentara dengan panji-panjinya.’ ……. Jam yang tergelap dari pergumulan sidang melawan kuasa-kuasa kejahatan ialah yang segera akan mendahului hari kelepasannya yang terakhir. Tetapi tidak seorang pun yang menaruh harap kepada Allah perlu takut, karena ‘apabila hantaman-hantaman yang hebat itu bagaikan angin ribut menghantam tembok’, Allah akan melindungi sidang-Nya bagaikan tempat berteduh daripada angin ribut.” Prophets and Kings, halaman 725.

Kembali kita baca di dalam buku Early Writings, halaman 284, 285 sebagai berikut : “Sementara orang-orang suci itu meninggalkan kota-kota dan kampung-kampung, mereka itu dikejar dari belakang oleh orang-orang jahat yang berusaha untuk membunuh mereka. Tetapi pedang-pedang yang diangkat untuk membunuh umat Allah itu patah dan jatuh bagaikan jerami yang tak berdaya. Malaikat-malaikat Allah melindungi umat kesucian itu. Sementara mereka berseru siang dan malam memohonkan kelepasannya, maka seruan mereka itu sampai ke hadapan Tuhan”. Demikianlah kita memiliki bukti bahwa pasal itu telah ditulis bagi umat Allah yang akan hidup di akhir zaman. Maksud yang terkandung di dalam bagian tulisan ini bukanlah untuk menjelaskan semua yang terdapat di dalam pasal, melainkan untuk menunjukkan waktu mana yang dimaksudkan oleh pasal 54 itu, dengan sedikit catatan petunjuk. Dalam penyelidikan yang lain kita akan membicarakan semua pasal secara terpisah sendiri-sendiri, ayat demi ayat.

Di dalam ayat 14 dan 15 terdapat dorongan yang membesarkan hati bagi umat Allah, dan ia itu hendaknya menguatkan iman kita. “Dalam kebenaran engkau akan diteguhkan; engkau akan dijauhkan dari penindasan; karena …….. sesungguhnya mereka akan berhimpun bersama-sama, tetapi bukan oleh suruhan-Ku; barangsiapapun juga yang akan berhimpun bersama-sama melawan dikau demi karenamu mereka akan jatuh. Masa kegenapan dari semua ayat ini telah dilukiskan di dalam buku Early Writings, halaman 282, 283 sebagai berikut : “Aku tampak orang-orang suci meninggalkan kota-kota dan kampung-kampung, dan berkumpul bersama-sama secara berkelompok, dan mereka hidup di tempat-tempat yang sangat terpencil. Malaikat-malaikat melengkapi mereka dengan makanan dan air, sementara sebaliknya orang-orang jahat menderita karena kelaparan dan kehausan. Kemudian aku tampak para pemimpin dunia bersama-sama berkonsultasi, dan Setan berikut malaikat-malaikatnya sibuk mengelilingi mereka. Aku tampak sebuah tulisan, yang mana salinan-salinannya tersebar di berbagai tempat di tanah itu, memberikan perintah-perintah bahwa jika orang-orang suci itu tidak melepaskan iman mereka yang aneh itu serta melepaskan Sabat, lalu mematuhi hari yang pertama dari minggu, maka orang banyak itu bebas setelah sesuatu waktu tertentu untuk membunuh mati mereka itu …… tetapi malaikat-malaikat dalam bentuk pasukan-pasukan tentara bertempur bagi mereka. Setan menginginkan memiliki hak untuk membinasakan orang-orang suci dan Yang Maha Tinggi itu; tetapi Yesus mengundang malaikat-Nya untuk mengawasi mereka dengan saksama ……. Berikutnya datanglah rombongan besar orang jahat yang murka itu, dan sesudah itu suatu rombongan besar malaikat-malaikat jahat, yang mendesak-desak segala orang jahat itu supaya segera membunuh segala orang suci itu. Tetapi sebelum mereka itu berhasil menghampiri umat Allah, orang-orang jahat itu harus pertama-tama melewati rombongan malaikat-malaikat suci yang perkasa itu. Ini adalah tidak mungkin. Malaikat-malaikat Allah membuat mereka itu mundur, dan juga membuat malaikat-malaikat jahat yang mendesak-desak sekeliling mereka itu jatuh terlentang.”

Ayat 11 dan 12, berisikan suatu janji yang indah lainnya, dan menunjukkan kemurnian dan kesucian dari umat Allah. “Hai engkau yang teraniaya, yang terhambat oleh angin ribut dan yang tiada terhiburkan, bahwasanya Aku akan meletakkan semua batumu dengan warna-warna yang serasi, dan meletakkan semua pondasimu dengan permata nilam. Maka semua jendelamu akan Kubuat daripada hablur dan segala pintu gerbangmu daripada permata intan, dan segala perbatasan tanahmu daripada batu-batu yang indah-indah.” Injil ini tidak mungkin menunjuk kepada Yerusalem yang baru, — yaitu Kota Suci itu, karena tidak ada petunjuk mengenai tembok-tembok kota itu yang memiliki jendela-jendela, juga tidak mungkin diperlukan jendela bagi mereka, karena hanya dua belas pintu gerbang yang disebutkan. Selanjutnya pintu-pintu gerbang itu terbuat daripada sebutir mutiara yang besar, dan bukan oleh permata intan. (“Maka dua belas pintu gerbang itu adalah dua belas butir mutiara, tiap-tiap pintu daripadanya sebutir mutiara.” Wahyu 21 : 21). Ayat-ayat yang sedang dibicarakan ini menunjuk kepada sebuah rumah kerohanian yang telah dilambangkan oleh kaabah Solaiman. Rumah kerohanian ini telah ditunjukkan oleh rasul Paulus di dalam Epesus 2 : 20 – 22 yang berbunyi : “dan telah dibangun di atas landasan rasul-rasul dan nabi-nabi, Yesus Kristus sendiri merupakan batu penjurunya; maka di dalam Dia seluruh bangunan itu disusun dengan tepat lalu bertambah-tambah menjadi suatu kaabah yang suci dalam Tuhan; di dalam Dia kamu juga dibangun bersama-sama menjadi suatu tempat kediaman Allah oleh perantaraan Roh.”

Perhatikan bahwa rumah kerohanian ini memiliki pondasi-pondasi, jendela-jendela, pintu-pintu gerbang, dan garis-garis perbatasannya (pagar-pagar). Pondasi-pondasi menunjuk kepada para rasul, Yesus Kristus sendiri merupakan batu penjurunya. Lihat Epesus 2 : 20. Jendela-jendela dari sebuah rumah biasa digunakan untuk memberikan penerangan. Ini menunjuk kepada para nabi yang sebelumnya lebih dulu melihat perkara-perkara yang akan jadi lalu memberikan terang terhadap masalah itu seperti terdapat di dalam 1 Samuel 9 : 9. (Adapun dahulu kala di Israel apabila orang pergi bertanyakan Allah, maka demikianlah katanya: Marilah kita pergi kepada seorang tukang melihat atau penilik.“) “Pintu-pintu gerbang dari sebuah rumah berfungsi untuk membiarkan masuk orang-orang yang berhak dan untuk mencegah orang-orang lainnya yang tidak berhak masuk. Ini tak mungkin berarti lain daripada yang dimaksudkan kepada para pengawal yang berdiri di atas lembok-tembok Sion (pihak kependetaan). “Garis-garis perbatasan” (atau pagar-pagar) berarti anggota-anggota sidang yaitu batu-batu yang hidup“. 1 Petrus 2 : 5 berbunyi : “Bahwa kamu pun, seperti batu-batu yang hidup, didirikan menjadi sebuah rumah kerohanian, suatu keimmamatan yang suci, untuk mempersembahkan korban-korban rohani yang berkenan kepada Allah oleh perantaraan Yesus Kristus.”

Perhatikanlah jenis dan kwalitas daripada bahan yang digunakan di sini di dalam rumah kerohanian ini. Bahan-bahan itu adalah yang termahal yang dikenal orang — “Aku akan meletakkan batu-batumu itu dengan warna-warna yang serasi” (Yesaya 54 : 11). Pondasi-pondasinya daripada permata nilam, jendela-jendelanya daripada hablur, pintu-pintu gerbangnya daripada permata intan, dan pagar-pagar perbatasannya daripada batu-batu yang indah-indah. Bayangkan Yesus sebagai batu penjuru; para rasul yang telah mengorbankan hidup mereka sebagai pondasi-pondasi yang indah-indah; para nabi (banyak di antaranya telah dibunuh dengan kejamnya, bahkan sampai digergaji di antara dua buah balok), sebagai jendela-jendela yang memberikan penerangan bagi rumah mungil ini; dan mereka yang di dalam sidang selama zaman kegelapan yang telah menderita dan disiksa oleh para penganiaya yang kejam, untuk mempercantik pagar-pagar daripada rumah kerohanian yang sangat mulia ini.

Hendaklah masing-masing menanyakan kepada dirinya sendiri, ‘Adakah diri saya pantas untuk digunakan di dalam susunan rumah kerohanian ini yang batu-batunya berwarnakan warna-warni yang serasi? Relakah saya menaruh harap kepada Allah, dan menderita bagi-Nya, apapun juga yang dapat diijinkan-Nya bagi kebaikanku? Atau adakah saya menghendaki dunia, lalu juga sorga bersama-sama? Dapatkah kita berbakti kepada Allah dan juga kepada Mammon bersama-sama? Dapatkah kita dengan sesuatu cara melalaikan petunjuk-petunjuk yang diberikan kepada kita oleh Roh Allah, lalu juga berharap untuk dapat dibuat menjadi pantas di antara mereka yang lebih rela mati daripada melanggar sesuatu yang terkecilpun daripada perintah-perintah-Nya? Betapa mengerikan pikiran yang sedemikian ini! Dapatkah sidang menggantikan petunjuk-petunjuk dari Allah dengan rencana-rencana manusia yang bijaksana sekalipun?

ALLAH MEMANGGIL UNTUK KEMBALI – FIRMAN YANG MENGUBAHKAN

YESAYA PASAL 55

“Hai kamu sekalian yang berhaus, marilah kepada air, dan barangsiapa yang tidak beruang, marilah, belilah, dan makanlah; bahkan marilah, belilah air anggur dan susu tanpa uang dan tanpa harganya. Untuk apakah kamu membelanjakan uang bagi barang yang bukan makanan? Dan usahamu bagi apa yang tidak mengenyangkan? Dengarlah akan Daku dengan rajinmu, dan makanlah olehmu barang yang baik dan biarlah jiwamu menyenangkan dirinya dalam kelimpahan.” Yesaya 55 : 1, 2. Kata-kata “Hai” menunjukkan “siapapun saja”, atau “setiap orang yang mau dengar”. Adalah tidak demikian itu dalam zaman Wasiat Lama, karena orang-orang Yahudi pada waktu itu mengira Alkitab itu diperuntukkan bagi keturunan dari Ibrahim saja.

“Marilah kamu kepada segala air, dan siapa saja yang tidak beruang.” Air adalah bahan terpenting untuk menunjang hidup, baik bagi manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan. Itu adalah unsur yang sangat limpah, tetapi tanpa air tidak mungkin ada yang hidup. Di dalam ayat ini air dimaksudkan untuk melambangkan kehidupan rohani yang terikat oleh Kekekalan. Yesus dalam membicarakan-Nya kepada wanita di tepi sumur itu mengatakan, “Barangsiapa yang minum daripada air yang akan Kuberikan kepadanya kelak tidak akan pernah berhaus lagi; tetapi air yang akan Kuberikan kepadanya itu di dalam dirinya kelak akan menjadi sebuah mata air yang memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Yahya 4 : 14.

Air adalah terdiri dan dua unsur, yaitu oksigen dan hidrogen. Tanpa hidrogen kehidupan tidak mungkin ada, dan tanpa oksigen kehidupan akan berhenti kurang dari lima belas menit. Air adalah tidak pernah dijual; ia itu bebas diperoleh. Harga yang kita bayarkan di kota-kota bukanlah untuk air, melainkan untuk pelayanan yang diberikan dalam mengantarkan keperluan ini bagi pemakaian kita setiap hari. Itupun bukan untuk dijual di dalam Alkitab, melainkan ditawarkan dengan percuma. Tidak ada harga apapun yang ditetapkan bagi kehidupan kekal. Kalau saja ia itu dijual, maka tidak seorang pun yang dapat membelinya, oleh karena itu lambang yang digunakan di sini adalah tepat. Adalah tidak mungkin untuk menggantikan dengan sesuatu bahan di bumi yang lain manapun juga untuk melambangkan kehidupan rohani.

AIR ANGGUR

“Bahkan, marilah, belilah air anggur dan susu tanpa uang dan tanpa harganya.” Walaupun air adalah bebas diperoleh, namun air anggur dan susu adalah dijual, tetapi tidak terdapat sesuatu harga yang tetap padanya, juga ia itu tidak dapat ditukar dengan uang. Sesuatu harus diberikan sebagai pengganti untuk melaksanakan transaksi itu. Apakah yang diharuskan itu? Jawabannya terdapat di dalam ayat yang ketujuh sebagai berikut: “Hendaklah orang jahat itu meninggalkan jalannya, dan orang berdosa itu meninggalkan segala kepikirannya; dan hendaklah ia kembali kepada Tuhan, maka Ia akan mengasihani dia; dan kembali kepada Allah, karena Ia akan mengampuni dengan limpahnya.” Kita harus meninggalkan semua jalan kita dan semua kepikiran kita, maka sebagai gantinya, ambillah kepikiran-kepikiran Allah dan ikutilah segala jalan-Nya. Ayat 8 berbunyi: Karena segala kepikiran-Ku itu bukanlah kepikiran-kepikiranmu, dan semua jalanmu itu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan.” Sebelum transaksi ini selesai dibuat orang tidak dapat berkenan kepada Allah, berbakti, atau memahami Allah, juga tidak dapat ia masuk sorga. Bilamana transaksi ini dibuat, maka pikiran, jalan, keinginan, tindakan, dan seluruh manusia seutuhnya akan berubah. Bagaimanakah dapat kita memperoleh pikiran-pikiran Allah? Hanya dalam satu cara semua itu dapat diperoleh. Pikiran-pikiran Allah dan jalan-jalan-Nya terdapat dalam firman-Nya (Alkitab). Barangsiapa yang mau mengikuti petunjuk-petunjuk lengkap dari Roh Allah ia berada dalam suatu suasana samawi, dan ia berjalan dengan Allah sama seperti halnya Enoch di masa lalu.

Apakah artinya air anggur dan susu itu? Kita akan pertama-tama berbicara mengenai air anggur itu. Jika air kaya dengan oksigen, maka air anggur adalah kaya dengan zat besi. Dengan tidak adanya zat besi di dalam tubuh, oksigen tidak akan bernilai penting bagi tubuh manusia, sebab zat besi adalah bagaikan kereta yang mengangkut oksigen itu ke seluruh bagian tubuh. Segera setelah oksigen memasuki paru-paru, maka zat besi sebagai perantara akan mengambil oksigen itu dan membawanya ke seluruh tubuh. Jadi demikianlah, apapun juga yang dilambangkan oleh air anggur itu, tanpa air anggur, maka air (kehidupan) tidak akan bernilai penting, sama seperti halnya air tanpa air anggur (sebagai simbol) akan seluruhnya tak berguna. Air anggur melambangkan darah Kristus. Oleh sebab itulah, maka air anggur telah digunakan dalam hubungannya dengan perjamuan Tuhan; suatu lambang dari darah Kristus yang tertumpah. Jika anda harus memiliki hidup yang kekal (air), anda harus juga memiliki darah Kristus (air anggur), karena yang satu tak akan berguna tanpa ikut serta yang lainnya. Kembali kita lihat bahwa tak ada benda apapun yang lain di bumi ini, atau bahan, atau unsur yang dapat digunakan untuk melambangkan darah Kristus.

AIR SUSU

Simbol berikutnya yang disebut ialah air susu, dan inipun harus dengan sendirinya tepat untuk menunjukkan kebenaran yang dimaksudkan oleh Roh Allah. Tubuh manusia dibentuk terdiri dari enam belas unsur-unsur yang berlainan. Jika kita hendak menghabiskan salah satu persediaan kita dari unsur-unsur ini, dan kehidupan tidak berhenti dengan segera (tergantung pada unsur yang tidak ada), maka akan terjadi gangguan di sesuatu tempat di dalam tubuh manusia. Jika air susu berisikan semua unsur yang diperlukan untuk mempertahankan tubuh manusia, maka arti daripada lambang ini akan menunjukkan, bahwa dua lambang yang pertama itu, atau doktrin-doktrin itu adalah tidak terlalu penting. Oleh karena air susu tidak mengandung semua unsur yang diperlukan, maka ia itu menunjukkan bahwa doktrin yang dilambangkan oleh air susu saja adalah tidak sempurna. (Unsur zat besi tidak terdapat di dalam air susu. Walaupun sesuatu bekas dari zat besi terdapat di dalam air susu, namun itu adalah kecil sekali, sehingga ia itu dikatakan dengan bahasa berikut ini: “Jumlah zat besi yang terdapat di dalam sepuluh galon air susu dapat ditaruh pada sudut mata seseorang”.) Apa yang tidak terdapat di dalam air susu disediakan oleh air anggur. Oleh sebab itu tiga doktrin itu yang diajarkan di sini tidak dapat dipisahkan satu daripada yang lainnya.

Doktrin apakah yang diajarkan oleh air susu? Lambang ini adalah sederhana sekali untuk dipahami. Air susu melambangkan Firman Allah sesuai yang terdapat di dalam Alkitab. 1 Petrus 2 : 2 berbunyi : “Seperti bayi-bayi yang baru lahir hendaklah kamu ingin akan susu yang sejati dari firman itu, supaya dapat kamu bertumbuh olehnya.” Firman Allah adalah sempurna, dan ia itu akan menyediakan semua doktrin (unsur) yang diperlukan bagi hati manusia untuk membuat kita sempurna, namun tanpa darah yang tertumpah dari Kristus, maka ia itu tidak bermanfaat apapun juga bagi kita. Juga Firman dan darah tidak akan banyak membantu kita jika tidak ada kehidupan di dalam Anak Allah. Demikianlah, air, air anggur, dan susu bercampur bersama-sama, dan tidak dapat dipisahkan satu daripada yang lainnya, jika hendak mempertahankan hidup yang kekal. Bukankah tepat lambang-lambang ini?

Andaikata anda hendak menambahkan sesuatu unsur ke dalam air susu, tidakkah ia itu kelak menjadi sesuatu yang lain? Dan jika ia itu menjadi sesuatu yang lain bagi susu itu, maka tidakkah ia itu kelak menjadi sesuatu yang asing bagi tubuh manusia? Jika ini benar, maka kita harus menyimpulkan bahwa ia itu akan menjadi racun bagi tubuh manusia. “Tetapi”, anda katakan “andaikata saya menambahkan unsur zat besi, maka ia itu tidak akan menjadi racun.” Dengan menambahkan unsur yang lain, maka ia itu akan membuat air susu itu tidak lagi seimbang, dan itu bukan lagi susu namanya. Adalah tidak mungkin bagi kepandaian manusia untuk memperbaiki pekerjaan Allah. Demikian pula adalah tidak mungkin bagi kita untuk melalaikan salah satu firman Allah lalu tetap dapat mempertahankan kehidupan rohani, atau pun menambahkan sesuatu, walaupun hal itu mungkin sekali baik pada pemandangan kita. Itu akan mengacaukan keseimbangan daripada Firman, dan itu kelak bukan lagi Firman Allah, sama seperti halnya air susu akan menjadi bukan lagi susu namanya. Firman Allah harus dipelihara di dalam hati manusia secara murni dan tidak diracuni, jika kita hendak hidup olehnya. “Jubah ini yang ditenun di dalam mata pintalan sorga tidak sehelai benang pun berasal dari ciptaan manusia.” Christ’s Object Lessons, halaman 311.

(Orang boleh saja mengatakan, bahwa kalau saja air susu bukan suatu makanan yang seimbang, maka bagaimanakah dapat seorang bayi dibesarkan oleh air susu dan tetap sehat sempurna? Allah yang menciptakan air susu itu, mengerti apa yang dibutuhkan oleh bayi bagi pertumbuhannya, dan apa yang dapat disediakan oleh air susu, dengan demikian Ia telah menciptakan persediaan sebelum bayi itu lahir. Di antara usus dan usus kecil, di dalam bagian perut, terdapat sesuatu “gumpalan” besar. “Gumpalan” ini ditempatkan di situ untuk menyediakan zat besi. Pintu yang menuju ke usus kecil seperti juga yang menuju ke usus besar, adalah sangat kecil untuk dilewati oleh “gumpalan” itu. Demikianlah ia itu terpaksa tinggal di situ. Setiap kali makanan lewat, maka sebagian zat besi daripadanya diisapnya; demikianlah unsur zat besi itu disediakan, sehingga bayi tidak akan menderita kekurangan zat itu. Sementara bayi terus bertambah tua, “gumpalan” itu perlahan-lahan mengecil bentuknya. Sebagaimana halnya dengan bayi manusia, sedemikian itu pula dengan kehidupan binatang.) Sesungguhnya Allah kita adalah sempurna, maka siapakah yang dapat mengerti hikmat pengetahuan-Nya?

MENGAPAKAH MEMBELANJAKAN UANG UNTUK BARANG YANG BUKAN MAKANAN?

“Untuk apakah kamu membelanjakan uang bagi barang yang bukan makanan? Dan untuk apakah usahamu bagi barang yang tidak mengenyangkan ? Dengarlah akan daku dengan rajin, dan makanlah olehmu barang yang baik dan biarlah jiwamu menyenangkan dirinya dalam kelimpahan.” Yesaya 55 : 2. Apabila kita membelanjakan uang kita bagi makanan yang tidak mengandung semua unsur yang diperlukan, atau jika ia itu proporsinya tidak seimbang, maka itu tidaklah sesuai dengan yang telah Allah ciptakan. Dalam hal yang sedemikian ini kita telah membelanjakan uang kita bagi barang yang bukan “makanan”.

Bilamana membeli makanan kita harus sangat berhati-hati dalam pilihan kita dan harus yakin, bahwa ia itu bebas dari pencemaran, atau hasil proses produksi yang rusak. Di dalam makanan-makanan yang sedemikian ini unsur-unsur yang dibutuhkan untuk menunjang kesehatan tubuh tidak terdapat. Membeli makanan-makanan yang sedemikian ini hanya merupakan pemborosan uang. Yang sangat merusak akibat menggunakan hasil-hasil produksi yang bermutu jelek ini bukan saja merugikan keuangan seseorang, melainkan juga merugikan kesehatannya. Ketahanan tubuh manusia bergantung kepada persediaan makanan yang diberikan kepadanya.

BERKAT-BERKAT BAGI ORANG-ORANG YAHUDI DAN ORANG-ORANG KAPIR – – PENGAWAL-PENGAWAL YANG BUTA YESAYA PASAL 56

Di dalam permulaan dari pasal ini Allah meminta kepada umat-Nya sebagai berikut : Peliharakanlah kebenaran dan bertindaklah yang adil.” Alasannya yang diberikan ialah karena keselamatan-Nya sudah dekat datang, dan kebenaran-Nya akan diungkapkan. Pengertiannya ialah bahwa gulungan suratan akan segera dibuka, dan segala perkara yang ada sekarang harus berubah. Jika para pengawal kepada siapa Allah sedang berbicara tidak mau memulaikan suatu pembersihan rumah secara menyeluruh, maka Allah akan mencarikan pengawal-pengawal yang lain yang akan mengangkat suaranya bagaikan nafiri dan menunjukkan kepada “umat-Nya pelanggaran mereka, dan isi rumah Yakub segala dosa mereka.” Di dalam pasal ini Allah meminta kepada umat-Nya untuk mematuhi penyucian Sabat dengan ketat, tanpa memandang siapapun mereka itu, tanpa membeda-bedakan kelas, suku, atau pun bangsa. Demikianlah mereka akan memperoleh ikatan janji-Nya, dan semua persembahan dan korban mereka itu akan berkenan di alas medzbah-Nya

Terdapat suatu tuduhan berat terhadap para pengawal-Nya karena kegagalan mereka menangani dosa-dosa yang terdapat di dalam sidang, dan akibatnya ialah bahwa umat-Nya telah ditelan oleh musuh. “Para pengawal-Nya adalah buta : Mereka semuanya tidak tahu, mereka adalah semuanya anjing-anjing bisu, mereka tidak bisa menyalak.” Ayat 10. Kata-kata “anjing-anjing bisu” bukanlah untuk menghina mereka, melainkan telah digunakan di sini sebagai sebuah simbol. Dari semua binatang anjing adalah sahabat manusia yang terdekat, dan adalah tugas daripada anjing untuk melindungi tuannya, atau mengamarkan kepadanya mengenai adanya bahaya melalui bunyi suara gonggongannya. Tetapi jika anjing itu menjadi bisu, dan gagal memberikan bunyi, maka ia bukan saja tidak berguna bagi tuannya melainkan juga berbahaya, sebab ia tidak dapat dipercaya. Demikianlah “anjing” merupakan suatu lambang yang tepat bagi pengawal yang menjaga mengawasi umat Allah.

Seorang pendeta yang baik dan setia adalah sahabat manusia karena mengamarkan kepadanya akan bahaya yang terkandung dalam dosa, tetapi jika pendeta itu tidak mau membunyikan tanda bahaya lalu memberikan amaran, maka ia telah menjadi bagaikan seekor “anjing bisu”; yang bukan saja tak berguna melainkan juga berbahaya, karena demikianlah domba-domba akan ditelan oleh musuh. Para pengawal itu bukan saja dituduh karena kelalaiannya menangani dengan sepatutnya semua dosa yang ada di dalam sidang, melainkan juga karena mereka adalah tamak dan gelojoh. “Marilah, kata mereka, aku hendak mengambil air anggur, dan kita akan mengisi diri kita sendiri dengan minuman keras.” Ayat 12. Ini menunjukkan kepada para pengawai yang sama atau para hamba seperti yang terdapat di dalam Matius 24 : 48 – 50, yaitu orang-orang yang gelojoh, yang meremehkan reformasi kesehatan, dan yang tidak melihat akan bahayanya. Bacalah buku “Isaiah the Gospel Prophets”, halaman 25, paragrap yang pertama. Para pengawal yang disebut oleh nabi itu bukanlah mereka yang berada di Babilon (Gereja-Gereja terkenal yang ada), melainkan “para pengawal-Nya” yang berada di dalam sidang-Nya, yang benar. Menurut tulisan Testimonies to Ministers, halaman 445, Yeheskiel 9, ialah pemeteraian dari mereka yang 144.000 itu. Berbicara tentang nubuatan Yeheskiel di dalam Testimonies for the Church, jilid 5, halaman 211, kita baca sebagai berikut ; “Orang-orang bangsawan, yaitu mereka kepada siapa Allah telah memberikan terang besar, dan yang telah berdiri sebagai pengawal-pengawal dari semua kepentingan kerohanian umat, mereka telah menghianati kepercayaan yang telah diberikan kepada mereka. Mereka telah mengambil kedudukan agar kita tidak perlu lagi mengharapkan keajaiban-keajaiban dan manifestasi nyata dari kuasa Allah seperti di masa-masa lalu. Zaman telah berubah. Kata-kata ini malahan menguatkan ketidak-percayaan mereka, sehingga mereka mengatakan, Tuhan tidak mau berbuat baik, juga Ia tidak mau berbuat yang jahat. Ia adalah sangat pemurah untuk mendatangkan hukuman atas umat-Nya. Demikianlah damai dan sejahtera adalah seruan daripada mereka yang tidak akan pernah lagi mengangkat suaranya bagaikan trompet untuk menunjukkan kepada umat Allah segala pelanggaran mereka dan isi rumah Yakub segala dosanya. Anjing-anjing yang bisu ini, yang tidak mau menyalak, adalah orang-orang yang akan merasakan pembalasan yang adil daripada suatu Allah yang murka. Laki-laki, wanita-wanita, dan anak-anak kecil, semuanya binasa bersama-sama.”

ORANG BENAR DAN ORANG JAHAT PADA HARI KEKACAUAN YESAYA 57

Keseluruhan pasal 57 membicarakan penyembahan berhala yang terdapat di dalam sidang Allah. Umat Allah dipanggil untuk keluar dari Babilon. Alasan mengapa kita dipanggil keluar ialah agar supaya kita harus memisahkan diri dari semua kebiasaan Babilon. Pasal ini mengungkapkan kebenaran itu. Walaupun kita keluar, kita membawa juga kebiasaan-kebiasaan dan penyembahan berhala ke dalam rumah Allah. Kejahatan yang dibicarakan di dalam pasal ini ialah perayaan Natal, dan pemberian hadiah-hadiah Natal dari seorang kepada seorang. Ayat 9 mengatakan, kita telah memberi hormat kepada raja (Iblis) oleh berbuat yang demikian, dan “merendahkan” diri kita sendiri “bahkan sampai ke dalam neraka”. Ini sungguh-sungguh benar. Kita sebagai umat membelanjakan uang Tuhan dengan memberitakan kepada umum, bahwa Natal adalah bukan hari lahir Kristus, lalu kemudian kita berpaling dan melakukan hal yang sama dengan apa yang sedang dilakukan oleh dunia. Oleh metode-metode yang sedemikian ini kita telah terlibat dalam bentuk kemunafikan yang tertinggi.

Ayat 4, 5, dan 6 menceriterakan tentang perbuatan-perbuatan jahat Israel kuno yang lalu, dan yang tertulis di dalam pasal ini untuk membuatkan suatu perbandingan dengan umat yang ada sekarang, sama dengan mengatakan, bahwa kita sedang berbuat juga yang sama seperti mereka di sana, dan tidak ada yang lebih baik. Mengutip Testimonies for the Church, jilid 1, halaman 129 yang berbunyi : “Aku tampak bahwa banyak orang yang mengaku percaya pada kebenaran bagi akhir zaman ini, menganggapnya aneh bahwa bani Israel bersungut-sungut sepanjang perjalanan mereka; bahwa setelah berbagai campur tangan Allah yang begitu indah bagi mereka, mereka harus menjadi tidak bersyukur sedemikian rupa sehingga mereka lupa akan apa yang telah dibuat-Nya bagi mereka. Kata malaikat, ‘Kamu justru telah berbuat yang terburuk daripada mereka itu’.” Untuk menjelaskan seluruh pasal, ia itu harus dibicarakan pasal demi pasal, namun karena terlalu panjang, maka ia itu tidak dapat dilakukan pada kesempatan ini.

PUASA YANG BENAR – SABAT DIKEMBALIKAN

YESAYA 58

Ayat yang berbunyi: “Berserulah dengan keras bunyinya, jangan engkau menahaninya, nyaringkanlah suaramu selaku nafiri, dan tunjukkanlah kepada umat-Ku segala kesalahannya, dan isi rumah Yakub segala dosanya.” Allah meminta kepada para pengawal-Nya untuk berseru dengan keras bunyinya dan jangan membiarkan sesuatu tertahan; untuk menyaringkan suaranya selaku nafiri, dan jangan takut sejauh mana yang dapat dicapai oleh suara itu; untuk menunjukkan kepada semua umat-Nya segala dosa dan pelanggaran mereka itu, oleh suatu pembersihan rumah yang menyeluruh, “karena selamat daripada-Nya sudah hampir datang, dan kebenaran-Nya akan diungkapkan.Mengutip buku Testimonies to Ministers, halaman 427, kita baca sebagai berikut : “Sucikanlah perkemahan dari kejahatan moral ini, jika ia itu melibatkan pula orang-orang yang tertinggi dalam kedudukan-kedudukan yang tertinggi, Allah tidak mau dipermainkan.

Ayat yang kedua menggambarkan umat kepada siapa Ia ingin berbicara. Bagian yang pertama dari ayat yang ketiga menceriterakan tentang keluhan-keluhan yang sedang dibuat oleh umat-Nya “Kami telah berpuasa”, demikian kata mereka, “dan telah menyusahkan jiwa kami, namun doa-doa kami tidak didengar.” Ia tidak memperdulikan mereka, demikianlah seruan mereka. Bagian terakhir dari ayat itu menceriterakan di mana kesulitan itu terletak sebagai berikut : “Bahwasanya pada hari puasamu itu kamu memuaskan napsumu, dan membebani semua pekerjamu.” Puasa ini tidak mungkin suatu puasa dari makanan, karena apabila orang berpuasa dari makanan ia diperbolehkan untuk bersenang-senang memuaskan napsunya, dan mendesakkan semua hasil kerjanya. Sesungguhnya orang harus mengusahakan semua kewajibannya sehari-hari seperti biasa, sehingga ia tidak akan memperlihatkan secara lahiriah bahwa ia berpuasa. Juruselamat kita mempersyaratkan agar tugas ini dilaksanakan dengan jujur dan bukan dengan munafik, bagi kemuliaan Allah, dan bukan untuk dilihat orang dan untuk menarik perhatian orang. Yesus mengatakan : “Lagipula apabila kamu berpuasa, janganlah kamu seperti orang-orang munafik itu dengan muram mukanya; karena mereka itu menjelekkan wajahnya supaya dapat dilihat orang bahwa mereka berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu tiada pahala bagi mereka itu. Tetapi kamu, apabila kamu berpuasa minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu; supaya jangan tampak kepada orang kamu berpuasa, melainkan hanya kepada Bapamu yang ada di tempat rahasia; maka Bapamu yang melihat secara rahasia itu akan memberi pahala kepadamu secara terbuka.” Matius 6 : 16 – 18.

Kembali kepada Yesaya pasal 58, ayat 13 menceriterakan jenis puasa yang berikut ini. “Jika engkau mengalihkan kakimu daripada melaksanakan kesenanganmu pada Sabat, yaitu pada hari suci-Ku; dan engkau menyebut Sabat itu hari kesukaan yang patut disucikan bagi Tuhan, dan yang harus dihormati; dan engkau mempermuliakan hari itu dengan tiada menuruti jalanmu sendiri atau mencari kesenanganmu sendiri, atau membicarakan kata-katamu sendiri.” Oleh sebab itu puasa yang disebut di sini bukanlah suatu puasa dari makanan, melainkan puasa dari keplesiran, dari pekerjaan, dan dari semua jalan dan pikiran kita sendiri, dan bahwa kita harus memuliakan Allah dan memeliharakan Sabat-Nya dengan suci. Tuduhan yang ada ialah, bahwa kita menagih semua kerja kita pada hari Sabat. Sebagai umat kita telah melupakan arti yang sebenarnya daripada pemeliharaan Sabat. Kita telah sampai menyangka bahwa apa saja yang sedikit ataupun banyak berhubungan dengan agama adalah diperbolehkan dilakukan pada hari Allah yang suci. Dikatakan, bahwa itu adalah pekerjaan Tuhan. Namun Allah tidak pernah mengatakan di manapun juga di dalam Alkitab, bahwa umat-Nya bebas melaksanakan segala macam pekerjaan (yang berhubungan dengan ibadah) pada hari Sabat. Pekerjaan yang dapat dilakukan pada sesuatu hari yang lain daripada hari Sabat bukanlah pekerjaan bagi hari Sabat. “Enam hari lamanya hendaklah kamu bekerja dan melaksanakan semua pekerjaanmu; tetapi hari yang ketujuh ialah Sabat dari Tuhan Allahmu; pada hari itu janganlah kamu melakukan pekerjaan apapun juga.”

Perhatikanlah bagaimana perintah itu dibaca : “Pekerjaan apapun juga”. Allah tidak memaksudkan bahwa kita dapat melakukan pekerjaan kita dalam enam hari dan kita boleh melakukan pekerjaan-Nya pada hari Sabat. Ia mengatakan bahwa itu adalah hari istirahat : bukan istirahat phisik, melainkan istirahat rohani. Sebagai contoh, adalah salah jika seseorang menjual buku-buku agama pada hari Sabat, walaupun ia mengembalikan semua uang hasil penjualan itu kepada gereja. Adalah salah jika seorang ahli bedah melaksanakan operasi pembedahan terhadap pasien-pasiennya pada hari Sabat, jika pekerjaan itu masih dapat dilakukan pada waktu yang lain. Adalah salah jika seorang perawat memberikan pelayanan kepada pasien-pasiennya pada hari Sabat jika hal itu tidak perlu secara mutlak. Bacalah Testimonies for the Church, jilid 7, halaman 106. Adalah salah jika sesuatu majelis sidang berkumpul pada hari Sabat dan membicarakan urusan sidang, atau membuat rencana-rencana apapun juga. Adalah salah jika seseorang pemelihara Sabat membebani dirinya sendiri dengan pengumuman-pengumuman penginjilan bagi serangkaian perkumpulan-perkumpulan, dan membagi-bagikannya dari rumah ke rumah pada hari Sabat. Semua macam pekerjaan ini dapat saja dilakukan pada sesuatu hari lain yang bukan hari Sabat.

Apabila kita melakukan jenis pekerjaan ini pada hari Sabat, kita melakukannya untuk menghemat waktu satu jam atau lebih bagi diri kita sendiri yang diperuntukkan bagi hari berikutnya, sehingga dengan demikian kita merampok Allah akan waktu-Nya dan menambahkannya kepada keplesiran duniawi kita sendiri. Jika memang adalah salah bagi seseorang untuk pergi dan menjualkan buku-buku agama pada hari Sabat, walaupun ia mengembalikan semua hasil penjualannya kepada Gereja, maka adalah dua kali ganda bersalah jika melakukan penjualan buku-buku yang sama di dalam rumah Allah pada hari Sabat, tanpa memperdulikan untuk apapun uang-uang itu digunakan. Kalau saja semua ini benar, maka adalah bersalah untuk pergi keluar dengan surat-surat Pengumpulan Derma dan menerima sumbangan-sumbangan bagi missi-missi pada hari Sabat. Sekaranglah waktunya bagi Allah untuk meminta perhatian kita kepada semua perkara ini.

Mengutip buku Patriarchs and Prophets, halaman 313, 314 yang berbunyi : “‘Sebab itu kamu harus memeliharakan Sabat itu, karena itu adalah suci bagimu …….. Siapapun juga melakukan sesuatu pekerjaan apapun di dalamnya, orang itu tak dapat tiada harus dibunuh dari antara kaumnya.’ Petunjuk-petunjuk baru saja diberikan untuk segera mendirikan tabernakel bagi perbaktian kepada Allah; dan sekarang orang banyak itu dapat mengambil kesimpulan, sebab objek yang ada di depan mata mereka itu ialah kemuliaan Allah, dan juga karena kebutuhan mereka yang sangat mendesak untuk memiliki sebuah tempat perbaktian, agar mereka dapat dibenarkan bekerja di bangunan itu pada hari Sabat. Untuk mengawasi mereka dari kekeliruannya ini maka amaran telah diberikan. Walaupun pekerjaan istimewa itu suci dan mendesak sekalipun bagi Allah semua itu tidak boleh membawa mereka untuk melanggar hari istirahat-Nya yang suci.”

Keseimbangan pasal 58 itu mengajarkan, bahwa kita harus melayani orang-orang miskin dan orang-orang sakit kaum kita, gantinya mengirim mereka ke rumah penampungan daerah, atau rumah sakit, jika kita ingin berkenan kepada Allah. Ada banyak pelajaran yang dapat kita tarik dari pelayanan-pelayanan dari umat Israel kuno yang lalu. Allah telah mengaruniakan kepada mereka Sabat hari yang ketujuh sebagai suatu hari istirahat bagi melaksanakan puji dan syukur. Sungguhpun pelayanan korban adalah suci dan merupakan suatu pelayanan agama yang memerlukan banyak kerja, mereka itu tidak diperkenankan untuk melakukannya pada hari Sabat. Untuk alasan inilah Allah telah memberikan kepada mereka hari-hari Sabat bulanan (hari-hari istirahat bulanan) di mana mereka harus melaksanakan pekerjaan yang suci itu. Jika di waktu itu Allah tidak memperbolehkan setiap jenis pelayanan agama dilakukan pada Sabat hari ketujuh maukah Ia memperbolehkannya sekarang? “Akulah Tuhan tidak pernah berubah.” Bacalah Immamat pasal 23.

SEORANG PENEBUS DIJANJIKAN BAGI SUATU UMAT YANG BERTOBAT

YESAYA 59

Ayat 2 – 8 menceriterakan tentang betapa mengerikan dan menyedihkan dosa-dosa kita pada pemandangan Allah. Ayat yang pertama berisikan janji-janji yang indah sebagai berikut : “Bahwasanya, tangan Tuhan tidak pendek sehingga tiada dapat Ia menolong kamu, telinga-Nya pun tiada berat, sehingga tak dapat Ia mendengar.” Kalau saja kita mau bertobat dari segala dosa kita dan kembali kepada-Nya dengan doa dan berpuasa, maka Ia akan mengasihani kita, dan Ia akan mendengar doa-doa kita. Walaupun dosa-dosa kita adalah tak terbilang besarnya, ayat 9 – 13, kita akan disebut baik. Sebagian dari orang banyak itu sadar dan bertobat daripada dosa-dosa mereka. Di dalam ayat 16 – 19 terdapat sebuah nubuatan yang sangat menyedihkan untuk dibicarakan. Nubuatan itu berlaku terhadap orang-orang yang bertanggung jawab untuk mengadakan reformasi dengan cara mengemukakan pelajaran-pelajaran kepada sidang dalam terangnya yang benar, yaitu menyebutkan setiap dosa itu sesuai namanya dan bukan mengaplikasikannya kepada umat yang lain dan kepada berbagai zaman yang lain, sehingga mengalihkan petunjuk-petunjuk yang dimaksudkan dari sidang. Nasehat-nasehat di dalam Alkitab telah dilewati dan tidak diperhatikan, sehingga apa yang diharapkan Allah dari umat-Nya untuk masa tiga bulan pertama dari tahun 1929 itu tidak dilaksanakan, hanya karena mereka yang menduduki jabatan-jabatan yang bertanggung jawab lalai melaksanakan tugas mereka.

Ayat 16 bagian pertama berbunyi : “Maka dilihat-Nya bahwa seorangpun tak ada, maka tercenganglah Ia karena tidak ada seorang perantara pun.” Allah “tercengang”. Musa dan Harun “berdiri di antara orang mati dan orang hidup”. Bilangan 16 : 48. Allah telah menggunakan Eliyah di atas Gunung Carmel. 1 Raja-Raja 18. Dalam krisis yang dikemukakan di sini, Allah tidak menemukan seorang-pun (Yeheskiel 22 : 30), sehingga dengan demikian Ia sendiri menyatakan diri.

Yesaya 59 : 16 – 18 berbunyi : “Oleh karena itu lengan-Nya sendiri membawakan keselamatan kepada-Nya; maka kebenaran-Nya itulah yang menunjang Dia. Karena Ia memakaikan kebenaran sebagai baju pelindung, dan sebuah helm pelindung di atas kepala-Nya; dan Ia memakaikan baju-baju pembalasan sebagai pakaian, dan ditudungi diri-Nya, dengan semangat bagaikan selimut. Sesuai dengan segala perbuatan mereka itulah akan dibayar-Nya, yaitu murka kepada semua musuh-Nya, pembalasan kepada semua pembenci-Nya; dan atas segala pulaupun akan di datangkan-Nya pembalasan.” Allah memakaikan pada diri-Nya perlengkapan-perlengkapan-Nya sendiri, lalu maju menegakkan segala perkara. Kalau saja ada seseorang di sana, Allah sudah akan membiarkan orang itu melaksanakan pekerjaan itu. Tetapi karena tidak ada seorangpun, maka Ia terpaksa melaksanakannya sendiri. Ini mengungkapkan salah satu dari prinsip-prinsip kerja Allah. Ia hendak menggunakan seseorang, atau sesuatu bangsa, untuk membantu membetulkan atau menghukum pihak yang lainnya. Apabila hal itu tidak dapat dilakukan, maka Allah akan terjun sendiri melaksanakan-nya. Sementara Allah akan datang dengan pembalasan terhadap sebagian orang. Ia datang dengan keselamatan bagi orang-orang lainnya. Ayat 20 berbunyi: “Maka Penebus itu akan datang ke Sion.” Ini bukan menunjuk kepada kedatangan Kristus yang kedua kali di dalam awan-awan, karena ini terjadi pada sebelum masa kasihan berakhir. Ia bukan datang dengan pembalasan terhadap orang-orang yang tidak beriman di dunia, melainkan Ia akan datang kepada sidang. Dan apabila Ia datang, Ia akan melaksanakan pekerjaan yang disebut di dalam Maleakhi 3 : 1 – 3.

Ayat 19 berbunyi: “Demikianlah mereka akan takut akan nama Tuhan dari sebelah barat, dan kemuliaan-Nya dari sebelah timur.” Allah akan membuat kedatangan ini sebagai suatu contoh bagi segala bangsa, sama seperti yang telah dibuat-Nya dengan Sodom dan Gommorah. Ayat 19 bagian terakhir : “Apabila musuh datang seperti air bah, maka Roh Tuhan akan meninggikan suatu standard melawan dia.” Yahya, di dalam Wahyu 12 : 15 menunjuk kepada peristiwa ini sebagai berikut; “Maka ular itu menyemburkan air dari dalam mulutnya seperti air bah dari belakang perempuan itu,  supaya dapat ia menghanyutkan perempuan itu oleh air bahnya itu.” Perempuan yang disebut di sini ialah sidang Allah (Masehi Advent Hari Ketujuh) “yang memeliharakan hukum-hukum Allah, dan memiliki kesaksian Yesus Kristus.” “Air bah itu” bukanlah hukum Hari Minggu yang menyusahkan itu, atau sesuatu aniaya di masa yang sudah lewat. Hukum yang menyusahkan itu mempunyai suatu penempatan yang berbeda, dan ia itu digambarkan di dalam Wahyu 13, sebagai suatu kuasa penganiaya untuk memaksakan tanda dari binatang.

“Air bah” adalah sama dengan “air”, yang berarti orang banyak (di dalam sidang) yang tidak bertobat, yang Setan gunakan untuk menghanyutkan sidang dalam cara yang sangat tenang, sehingga tidak seorangpun akan mencurigai akan penipuan yang besar itu. Dalam cara inilah ia mencoba menyesatkan orang-orang pilihan itu (144.000 orang itu) sedapat mungkin. Karena tidak mungkin, maka Kristus sendiri datang campur tangan dan melepaskan umat-Nya (mereka yang berkeluh-kesah dan menangis karena segala kekejian yang ada di dalam sidang) lalu kemudian membuatkan suatu teladan bagi orang-orang lainnya.

Wahyu 12 : 16 berbunyi : “Maka bumi menolong perempuan itu, dan bumi membukakan mulutnya, lalu menelan air bah yang disemburkan dari dalam mulut naga itu.” Pengertiannya ialah, bahwa mereka itu mati, dikuburkan di dalam bumi, seperti yang terdapat di dalam Nahum 16 : 32 yang berbunyi : “Maka bumi mengangakan mulutnya, lalu menelan mereka itu, dan rumah-rumah mereka, berikut segala orang pengikut Korah, dan semua harta benda mereka itu.” Demikianlah “Roh Tuhan akan meninggikan sebuah standard melawan dia.” Yesaya 59 : 19 bagian terakhir. Ini akan menggenapi Matius 13 : 29, 30 yang berbunyi : “Biarkanlah gandum dan lalang-lalang itu keduanya bertumbuh bersama-sama sampai kepada masa penuaian.” Pemisahan itu akan menandai permulaan daripada penuaian, yaitu Seruan Keras dari pekabaran malaikat yang ketiga. Wahyu 18 : 1. Roh Allah akan dituangkan atas umat-Nya (mereka yang luput dari kebinasaan itu), dan janjinya ialah, bahwa itu tidak akan pernah berpisah lagi meninggalkan mereka. Yesaya 59 : 21 berbunyi : “Akan Daku, inilah perjanjian-Ku dengan mereka itu, demikianlah firman Tuhan; bahwa Roh-Ku yang ada padamu itu, dan semua firman-Ku yang sudah Kububuhkan di dalam mulutmu itu, tiada akan lalu daripada mulutmu, atau daripada mulut anak-anakmu, atau daripada mulut cucu-cucumu, dari sekarang sampai selama-lamanya, demikianlah firman Tuhan.” Bacalah buku “Isaiah the Gospel Prophets”, jilid 3, halaman 43 – 49.

Segera setelah pemisahan itu berakhir, dan Setan gagal dengan rencana-rencana penipuannya, maka sidang akan menghadapi suatu peperangan besar dengan musuh itu. Wahyu 12 : 17 mengatakan : “Maka naiklah amarah naga terhadap perempuan itu, lalu pergi memerangi mereka yang lagi tinggal daripada benih perempuan itu (mereka yang sisa), yaitu mereka yang memeliharakan hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus Kristus,” (Peperangan melawan perempuan itu ialah hukum yang menyedihkan.)

KEMENANGAN TERAKHIR ORANG-ORANG BENAR

YESAYA 60

Pasal ini dimulai dengan kata-kata :“Bangunlah engkau, nyatakanlah cahayamu; karena terangmu ada datang, dan kemuliaan Tuhan sudah terbit atas kamu.” Hujan Akhir, Roh Allah, dan kemuliaan dari kuasa-Nya. Pasal ini menceriterakan dari hal pengumpulan dalam masa penuaian. Suatu rombongan besar orang-orang yang terambil dari segala bangsa, dan semua kelas orang-orang, baik kaya maupun miskin, dari semua tingkat kehidupan; raja-raja dan penghulu-penghulu di antara mereka, dan juga orang-orang kaya dari bangsa-bangsa Kapir, akan datang kepada sidang. Bangsa dan kerajaan yang tidak mau tunduk kepada mereka (sidang) akan binasa. Orang banyak itu yang berhimpun di sini adalah orang-orang yang memiliki pelepah kurma di dalam tangan mereka. Wahyu 7 : 9.

Yesaya 60 : 19, 20 menceriterakan tentang kesucian sidang Allah dan pengawasan-Nya atas umat-Nya. Ayat 21 mengatakan : “Adapun bangsamu, sekalian mereka itu akan saleh adanya.” Mereka yang keji dan yang tidak bertobat tidak akan diijinkan berada di dalam sidang. “Bangkitlah, bangkitlah kamu, hai Sion, kenakanlah kuatmu, kenakanlah pakaian-pakaian perhiasanmu, hai Jerusalem, kota suci; karena mulai dari sekarang tidak akan lagi masuk ke dalammu orang-orang yang keji dan orang-orang kulup.” Yesaya 52 : 1 “Israel yang sisa tidak akan melakukan kejahatan, atau pun berbicara bohong; lidah penipu tidak akan lagi terdapat di dalam mulut mereka; karena mereka akan makan dan berbaring, dan tak seorangpun akan membuat mereka takut.” Zepanya 3 : 13. Yesaya 60 : 22 menyebutkan keberhasilan mereka dalam menarik jiwa-jiwa kepada Kristus.

PARA PEMBANGUN TEMPAT-TEMPAT TUA YANG SUDAH RUSAK

YESAYA 61

Ayat pertama dan sebagian dari ayat kedua berhubungan dengan Kristus sendiri pada permulaan pekerjaan-Nya. Roh Nubuatan mengatakan bahwa itu akan berulang kembali dengan umat Allah. Ini akan menemukan kegenapannya dalam masa penuaian, dengan mereka yang 144.000 itu (mereka yang lolos dari kebinasaan yang disebut di dalam Yesaya 59 dan Yesaya 63), yang oleh usaha mereka rombongan besar orang banyak dan Wahyu 7 : 9 terbentuk.

Yesaya 61 : 2 berbunyi, “Untuk memberitakan tahun penyambutan Tuhan, dan hari pembalasan dari Allah kita.” Tahun penyambutan itu tidak mungkin merupakan suatu masa nubuatan, karena hal itu akan berarti 365 tahun. Itu harus merupakan suatu tahun yang sebenarnya yang terdiri dari dua belas bulan. Ada alasan yang benar untuk percaya bahwa ini harus berupa tahun itu di mana pelajaran-pelajaran ini datang, dan kebenaran yang terdapat di dalamnya diberitakan. Kalau saja ini adalah bukan tahun nubuatan, maka panggilan itu belum akan datang, karena Allah memegang dengan tepat akan waktu. Kepada orang-orang Niniweh, Allah telah memberikan empat puluh hari untuk bertobat. Kini kepada umat-Nya Ia memberikan satu tahun untuk berbuat yang baik, jika tidak Ia meludahkan mereka keluar dari dalam mulut-Nya, dan ini berlaku kepada mereka yang memikul tanggung jawab. Dan kepada malaikat sidangnya orang-orang Laodikea tuliskanlah;………. Aku tahu segala perbuatanmu, bahwa engkau adalah dingin tidak panas pun tidak: Aku ingin agar engkau dingin atau panas. Maka demikianlah karena engkau adalah suam, dan dingin tidak panas pun tidak; Aku akan meludahkan kamu keluar dari mulut-KuWahyu 3 : 14 – 16. “Panggilan bagi pekerjaan penting dan besar ini telah disampaikan kepada orang-orang yang terpelajar dan yang menduduki jabatan. Kalau saja mereka ini memandang dirinya kecil, lalu bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, maka Ia sudah akan menghargai mereka dengan memikulkan kepada mereka standar-Nya dalam kemenangan sampai kepada keberhasilan. Tetapi mereka memisahkan diri dari Allah, mereka menyerahkan diri kepada pengaruh dunia, sehingga Tuhan menolak mereka.” Testimonies, jilid 5, halaman 82.

Hari pembalasan yang terdapat di dalam Yesaya 61 : 2 menyusul tahun itu. Hari ini mungkin adalah hari nubuatan, yang di dalam masalah itu akan berarti suatu tahun yang sebenarnya. Dengan demikian ini akan berarti satu tahun untuk masing-masing masalah. Tahun pembalasan ini bukanlah tujuh bela yang terakhir itu, juga bukanlah pembinasaan orang-orang jahat pada kedatangan Kristus yang kedua kali. Ia itu akan jadi sebelum masa kasihan berakhir, sebab di dalam ayat yang ke empat kita baca sebagai berikut : “Maka mereka akan membangun segala tempat tua yang sudah rusak itu, mereka akan mendirikan kembali semua yang telah ditinggalkan sunyi sebelumnya, dan mereka akan memperbaiki kota-kota yang sudah rusak, peninggalan-peninggalan dari banyak generasi.” Arti daripada ayat ini ialah membawa kembali kebenaran Allah yang telah diinjak-injak di bawah telapak kaki selama banyak generasi. Mereka yang 144.000 itu — yaitu Israel yang benar milik Allah — adalah pembangun-pembangunnya. Demikianlah kita lihat, bahwa sesudah hari pembalasan itu kebenaran Allah akan dikembalikan dan diungkapkan kepada orang banyak. Oleh karena itu hal ini harus jadi pada sebelum masa kasihan berakhir. Keseimbangan dari pasal ini menguatkan pendapat yang sama.

“Hari pembalasan” itu adalah sama dengan yang terdapat di dalam Yeheskiel pasal 9; Yesaya pasal 63 dan Yesaya pasal 61, sesuai yang telah dijelaskan terdahulu. Ayat 6 mengatakan, bahwa mereka yang 144.000 itu adalah imam-imam, seperti yang dijelaskan pada BAB I judul paragraf “Perbedaan di antara 144.000 itu dan orang-orang suci lainnya”.

UMAT YANG SUCI – UMAT TEBUSAN TUHAN

YESAYA 62

Di dalam jilid 3, halaman 65 dan buku “Isaiah the Gospel Prophets” kita baca sebagai berikut: “Saya tidak akan berhenti.” Allah sedang berbicara. Ia telah memutuskan bahwa kebenaran daripada umat-Nya akan menjadi nyata, dan Ia tidak akan berhenti sebelum ia itu selesai dilaksanakan. Kata-kata ini menunjukkan bukan saja keputusan, melainkan juga bahwa telah terjadi penundaan, bahwa kini krisis telah datang dan bahwa Allah dengan hebatnya dan bersungguh-sungguh ingin melihat pekerjaan itu selesai. Allah bermaksud untuk memamerkan umat-Nya kepada dunia. Ia hendak mendemonstrasikan apa yang dapat dilakukan di dalam daging manusia; maka Ia tidak mau merasa puas sebelum umat-Nya memantulkan peta-Nya dengan sepenuhnya. Bilamana ini terlaksana, maka bumi akan diterangi dengan kemuliaan Allah. Wahyu 18 : 1.

Ayat 2 mengatakan : “Suatu nama baru.” Menunjukkan kepada pengalaman baru yang mereka lalui, yaitu pemisahan, atau penyaringan, seperti yang telah dijelaskan. Allah dengan mulut-Nya sendiri yang memberikan nama itu sehingga ia itu tidak mungkin dapat ditiru. Kapan nama itu diterima ialah pada akhir dari periode 430 tahun itu seperti yang dijelaskan pada bagan yang tertera pada akhir dari Bab IV. Demikianlah, sidang akan direorganisir kembali di bawah sebuah nama yang baru. Nama yang lama, karena telah dicemarkan, maka tidak dapat lagi dipertahankan. Tidak ada seorang pun yang akan terus berjalan dengan memakaikan nama yang lama itu, karena orang-orang yang tidak patut memperoleh nama baru itu telah binasa di bawah gambaran dari lima orang yang membawa senjata-senjata yang membinasakan dari Yeheskiel pasal 9. Nama itu hanya tinggal sebagai suatu kutuk. Di dalam Yesaya 65 : 15 kita baca sebagai berikut: “Maka kamu akan meninggalkan namamu sebagai suatu kutuk bagi umat pilihan-Ku; karena Tuhan Hua akan membunuh akan dikau, dan Ia akan memanggil hamba-hamba-Nya dengan suatu nama yang lain.” Perkara-perkara cara lama akan dirubah. Pengawal-pengawal yang tidak setia binasa.

“Aku telah menempatkan para pengawal di atas tembok-tembokmu, hai Jerusalem, yang tidak akan pernah diam suaranya baik siang ataupun malam; kamu yang menyebut nama Tuhan, janganlah berdiam dirimu.” Yesaya 62 : 6. (Mereka ini adalah para pengawal di bawah nama baru). Ayat 8 dan 9 mengungkapkan pengawasan dan perlindungan Allah terhadap sidang-Nya. Di dalam ayat 10 terdapat perintah Allah kepada umat-Nya sebagai berikut : “Berjalanlah, berjalanlah melalui pintu-pintu gerbang; persiapkanlah jalan bagi umat, bukalah, bukalah olehmu akan jalan raya, singkirkanlah batu-batu; tinggikanlah sebuah standard bagi umat itu,” Di dalam ayat 11 Allah mengatakan bahwa Ia telah memberitakan kepada orang-orang yang akan hidup pada akhir dunia sebagai berikut : “Bahwasanya Tuhan memberitakan kepada akhir dunia, ‘Katakanlah olehmu kepada puteri Sion, bahwasanya selamatmu ada datang; bahwasanya, pahala-Nya ada bersama-sama dengan Dia, dan pekerjaan-Nya ada di hadapan-Nya.”

MENDERITA DEMI KARENA UMAT-NYA

YESAYA 63

Ayat 1 – 3 mengatakan : “Siapakah yang datang dari Edom, yang datang dari Bozrah dengan baju-baju yang berwarna merah? Siapakah ini yang bersemarak dengan pakaian-Nya, yang berjalan dalam kebesaran kekuatan-Nya? Aku yang berbicara dalam kebenaran, berkuasa untuk menyelamatkan. Mengapakah pakaian-Mu merah begitu, dan baju-baju-Mu seperti baju pengirik buah anggur? Aku seorang diri yang telah melakukan pengirikan itu; dan dari antara umat itu tidak seorangpun yang menemani Aku; karena Aku hendak mengirik mereka dalam murka-Ku, dan menginjak-injak mereka dalam kehangatan amarah-Ku, maka darah mereka itu akan terpercik pada baju-baju-Ku, dan Aku akan menodai semua pakaian-Ku.”

Bagian terakhir dari pasal yang terdahulu berbicara dari hal “umat yang suci, yaitu orang-orang tebusan Tuhan.” Bagian pertama dari pasal ini adalah berkenan dengan mereka yang telah menolak Tuhan (orang-orang yang akan meninggalkan nama itu bagi suatu kutuk). Bagi mereka hari pembalasan ini datang. Gambaran ini adalah tidak menarik untuk dilihat, tetapi ini benar. Itu adalah “pekerjaan Allah yang aneh.” Edom adalah suatu nama lain bagi Esau. Lihat Kejadian 25 : 30. Nama Esau menjadi berubah karena ia menjual hak kesulungannya untuk mendapatkan semangkok kacang merah. Kelas orang-orang itu di sini disebut Edom karena mereka telah menjual hak kesulungan mereka untuk kepentingan diri sendiri untuk memuaskan nafsu, yaitu dewa selera (melalaikan reformasi kesehatan), seperti yang dijelaskan pada judul paragraf “Edom — Sebuah Contoh” dan “Perubahan Nama-Nama” di Bab III.

Ayat 4 berbunyi : “Karena hari pembalasan itu ada di dalam hati-Ku, dan tahun dari umat tebusan-Ku telah sampai.” Perhatikan, “hari pembalasan itu” kata Tuhan ada di dalam “hati-Nya”, tetapi “tahun” dari umat tebusan-Nya telah datang. Perhatikan kata kerja “datang” terdapat dalam waktu sekarang (present tense), sama seperti di dalam Wahyu 14 : 7 yang berbunyi : “Mengatakan dengan suara besar, Takutlah akan Allah, dan muliakanlah Dia; karena jam pehukuman-Nya ada datang.” Kita sebagai umat berpegang bahwa kata kerja “datang” itu telah ditulis dalam waktu sekarang (present tense) sebab pehukuman itu di dalam sorga terjadi (pada akhir dari 2300 hari dari nubuatan Daniel) dalam tahun 1844, tetapi ia itu belum dapat dimengerti sampai sesudah periode nubuatan itu lewat, oleh sebab itu Allah tidak bermaksud untuk membuat pehukuman itu diketahui orang sampai setelah datang jamnya. Karena alasan inilah Ilham telah menuliskan peristiwa kejadian ini dalam waktu sekarang (present tense),ada datang“, supaya secara tata bahasa dapat dibenarkan. Demikianlah William Miller telah membuat kesalahan mengenai peristiwa itu yang akan jadi pada akhir dari 2300 hari itu; yaitu kebenaran tentang kaabah, Yesus memasuki tempat yang Maha suci, dan permulaan dari pehukuman.

Jika Injil terdahulu itu benar, maka apa yang terdapat di dalam Yesaya 63 : 4 pun benar dan dapat dipercaya sama seperti yang lainnya. Pasal ini, atau peristiwa yang tercatat di dalamnya, belum pernah dapat dimengerti, sebab itu Allah sudah harus menyimpan nubuatan ini bagi suatu masa tertentu. Sekarang nubuatan itu dapat dimengerti, dan karena terdapat dalam waktu sekarang (present tense), maka kita harus percaya, bahwa “tahun dari umat tebusan-Nya ada datang. Jika seseorang tidak akan percaya kepada interpretasi yang diberikan, maka ini berarti ia mengatakan Allah telah membuat kekeliruan dalam menuliskan kata kerja itu dalam waktu sekarang (present tense). Ini dapat dikatakan kalau bukan oleh kata-kata, maka oleh tindakan.

UMAT TEBUSAN-NYA

Apa yang diartikan dengan “Umat tebusan-Nya” itu? “Karena hari pembalasan itu sudah Ku rencanakan, dan tahun dari umat tebusan-Ku ada datang”. Ayat 4. Di sini anda ditunjukkan kepada Keluaran 15 : 13, yaitu nyanyian yang dinyanyikan oleh Musa dan bani Israel sesudah mereka dilepaskan dari Mesir dan Laut Merah. “Dalam kemurahan-Mu Engkau telah menghantarkan keluar umat yang sudah Engkau tebus; dalam kuasa-Mu Engkau telah memimpin mereka ke dalam tempat kediaman-Mu yang suci.” Keluaran 15 : 13. Ilham menggunakan kata “ditebus” yang sama dalam nyanyian kelepasan itu. Pengalaman Israel merupakan lambang dari Israel yang benar, yaitu (mereka yang 144.000 itu), dan suatu salinan duplikat daripada sidang yang ada sekarang, seperti yang dijelaskan di dalam Bab IV, kita pun harus dapat ditebus sama seperti mereka. Karena alasan ini, maka nabi itu menggunakan kalimat “tahun dari umat tebusan-Ku ada datang. Sesuai dengan Injil, maka ini harus merupakan tahun itu (di mana pelajaran-pelajarannya datang – yaitu tahun 1929), pada waktu Allah mulai melepaskan umat-Nya dari segala penyelewengan di dalam sidang. Inilah sebabnya mengapa mereka itu menyanyikan nyanyian Musa dan Anak Domba itu. Kalau saja ini bukan tahun nubuatan itu, maka panggilan itu belum mungkin datang, karena Allah memegang teliti akan waktu.

Mengutip Keluaran 15 : 14 – 16 yang berbunyi : “Orang banyak itu akan dengar, dan menjadi takut; kesusahan akan mencekam semua penduduk Palestina. Kemudian akan tercenganglah segala kaum bangsawan di Edom, ketakutan akan mencekam orang-orang perkasa di Moab; semua penduduk Kanaan akan putus asa. Ketakutan dan kegentaran akan menimpa mereka; oleh kebesaran lengan-Mu mereka itu akan diam seperti batu; sehingga umat-Mu berjalan lalu ya Tuhan, sehingga umat itu berjalan lalu, yaitu mereka yang sudah Kau beli.” Tanah Kanaan melambangkan tanah di mana sidang pada waktu ini telah datang dan berdiri, yaitu Amerika Serikat. Nama “Palestina” berarti “tanah dari orang-orang asing”. Amerika Serikat dibentuk terdiri dari orang-orang asing; orang-orang yang berasal dari banyak bangsa dan suku-suku bangsa. “Para kaum bangsawan dari Edom” menunjukkan kepada kelas orang-orang yang disebut di dalam Yesaya 63 : 1, seperti yang telah dijelaskan terdahulu, Nama “Moab” berarti “anak cucu”, atau para leluhur.

Mengutip Yesaya 63 : 5 yang berbunyi: “Lalu Kupandang, maka tak seorangpun yang akan menolong-Ku, lalu Aku tertegun karena tidak seorangpun yang membantu; oleh sebab itu lengan-Ku sendiri membawakan keselamatan bagi-Ku: dan kehangatan murka-Ku itulah yang membantu-Ku.” Bagian nubuatan ini sesungguhnya telah menemukan kegenapannya. Pelajaran-pelajaran ini telah datang kepada sidang melalui salurannya yang tepat, maka telah disampaikan oleh departemen Sekolah Sabat, tetapi telah dibaca hanya sepintas lalu. Dosa-dosa yang disebutkan di dalam pelajaran-pelajaran ini telah diaplikasikan kepada umat yang lain, sehingga tidak ada suatu perbaikan apapun yang dibuat, sehingga pelajaran yang dimaksud telah hilang lenyap. Seluruh persoalannya telah dilupakan dan tak seorang pun memperdulikannya. Oleh karena itu, maka “tak seorangpun yang akan menolong.” Allah “tertegun karena tidak seorang pun yang membantu.” Kita juga heran. Injil adalah jelas, maka dengan bantuan pelajaran ini dapatlah diakui, bahwa pembantaian itu terjadi di dalam sidang sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali di dalam awan-awan. Bacalah buku “Isaiah the Gospel Prophets”, halaman 49, 70 – 73; juga pelajaran Sekolah Sabat Triwulan mengenai pelajaran yang sama. Jika pekabaran yang sedemikian seperti ini pun tidak bisa membangunkan umat, maka mungkin saja kita akan bertanya, pekabaran apa lagi yang dapat melakukannya? Demikian inilah surga “tertegun”. Sesungguhnya orang-orang itu telah mengatakan dalam hatinya, “Tuhan telah meninggalkan bumi, maka Tuhan tidak melihat; Ia tidak mau berbuat yang baik atau pun yang jahat.

Ayat 6 berbunyi : “Maka Aku akan memijak-mijak orang banyak itu dalam murka-Ku, dan membuat mereka itu mabuk dalam kehangatan amarah-Ku, dan Aku akan meruntuhkan kekuatan mereka itu sampai ke tanah.” Terjemahan A.R.V. mengatakan, “tercurah ke luar darah kehidupan mereka.” Ayat 7 – 9 berbicara tentang kebaikan hati Tuhan, kemurahan-kemurahan-Nya, dan kasih sayang-Nya yang tak terhingga. “Dalam semua kesusahan mereka itu Ia telah juga disusahkan.” Ayat-ayat ini memperlihatkan pemikiran yang indah dan berbahagia tentang penderitaan Allah bersama-sama dengan umat-Nya. Ayat 10 menarik suatu perbandingan bahwa apabila kita mendurhaka melawan Allah, maka Ia akan berbalik menjadi musuh kita. Dari ayat 11 dan seterusnya, termasuk pasal 64, terdapat suatu doa seseorang dari anak-anak Allah. Karena melihat kejahatan itu makin dekat, maka ia telah mencurahkan jiwanya kepada Allah dalam doa, untuk menyelamatkan umat-Nya. Karena ingat akan pertolongan Allah terhadap umat pilihan-Nya dan kelepasan Israel dari Mesir yang ajaib, maka orang yang mempersembahkan doanya itu ternyata mengerti akan keadaan itu.

Pengalaman Israel di Mesir ialah sebuah salinan duplikat, maka permohonannya ialah untuk mendapatkan seseorang seperti Musa. Ayat 11 – 13 berbunyi : “Lalu teringatlah ia kepada zaman dahulu, Musa dan semua pengikutnya, sambil mengatakan, Dimanakah dia yang telah menghantarkan mereka itu naik dari laut bersama-sama dengan pengembala kawanan dombanya? Dimanakah dia yang telah menaruh Roh Suci-Nya di dalam hatinya, yang telah menghantarkan mereka itu oleh tangan kanan Musa dengan lengannya yang mulia, yang telah memecahkan air di depan mereka itu, untuk membuat dirinya sendiri suatu nama yang kekal, yang menghantarkan mereka itu melintasi samudera yang dalam, seperti halnya seekor kuda di padang belantara, sehingga mereka itu tidak terantuk kakinya?”

Ayat 16 berbunyi : “Tak dapat diragukan engkau adalah Bapa kami, sungguhpun Ibrahim tidak mengenal kami, dan Israel tidak mengakui kami; Engkau, ya Tuhan, adalah Bapa kami, Penebus kami, nama-Mu kekal selama-lamanya.” Bahasa yang digunakan di dalam ayat ini membuktikan tanpa meragukan, bahwa orang yang mengucapkan kata-kata itu bukan seorang Israel badani (Yahudi). Orang-orang yang sedang dalam kesusahan ini adalah bukan dari keturunan Ibrahim, “sungguhpun Ibrahim tidak mengenal kami dan Israel tidak mengakui kami.” Adalah tidak mungkin bagi nabi Yesaya, atau pun seseorang lain dari bangsanya untuk dapat mengucapkan kata-kata itu, karena mereka itu bangga atas kenyataan bahwa mereka adalah orang-orang Israel, keturunan dari Ibrahim, yang bagi mereka merupakan suatu kehormatan besar.

Ayat 17 berbunyi: “Ya Tuhan, mengapakah Engkau membiarkan kami sesat dari jalan-Mu, dan membiarkan kami mengeraskan hati terhadap takut akan Dikau? Kembalilah Tuhan demi hamba-Mu, demi semua suku milik pusaka-Mu.” Ayat ini mengungkapkan alasan mengapa Allah murka akan umat-Nya : yaitu karena sesat, keras hati, tidak takut akan Allah. “Mengapakah Engkau membiarkan kami sesat?” Ini bukanlah suatu tuduhan terhadap Allah bahwa Ia telah membuat mereka itu berdosa, melainkan suatu keinginan agar kiranya Allah dapat menggunakan hukuman yang lebih keras lagi untuk membawa kembali mereka kepada kesadarannya.

Ayat 18 berbunyi: “Umat kesucian-Mu telah mempusakai-nya tetapi hanya sementara; para lawan kami telah memijak-mijak tempat kesucian-Mu.” “Lawan-lawan” mereka : Yesaya 59 : 18 menceriterakan bahwa lawan-lawan mereka itu adalah lawan-lawan Tuhan. Mereka itu telah menginjak-injak tempat kesucian dengan sekian banyaknya barang dagangan, dengan tertawa terbahak-bahak, dengan berbisik-bisik, dengan berbicara masalah-masalah biasa, dengan mencat kuku-kuku jari tangannya, dan berbagai bentuk penyembahan berhala lainnya yang mempermalukan Allah di depan wajah-Nya (di dalam sidang-Nya). Ayat 19 berbunyi: Kami adalah milik-Mu; Engkau tak pernah membuat peraturan atas mereka itu; mereka itu tidak dipanggil dengan nama-Mu.” Mereka tidak mengikuti petunjuk-petunjuk Allah. Walaupun mereka mempersamakan dirinya di antara umat Allah di dalam rumah perbaktian-Nya, mereka sesungguhnya tidak dipanggil dengan nama-Nya.

“Isaiah the Gospel Prophet”, halaman 73 (Pelajaran-pelajaran bagi Zaman ini) mengomentari ayat-ayat 1 – 6 dengan mengatakan : “Ayat-ayat ini harus membawakan pemikiran-pemikiran yang serius bagi setiap jiwa. Tidak ada lagi gambaran yang lebih mengerikan di dalam seluruh Alkitab daripada yang dikemukakan oleh Bab ini. Bentuk dari langkah maju Allah untuk menginjak irikan anggur murka-Nya adalah sesuatu yang mengerikan. Namun memang begitu. Esau telah memiliki segala kesempatan yang mana setiap orang dapat membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Ia dengan sengaja telah memilih yang salah, dan ia telah menjadi seorang penganiaya melawan umat Allah yang benar. Kita memahami bahwa tidak ada orang yang akan menerima murka Allah dengan sedemikian limpahnya seperti yang akan diterima oleh orang-orang yang telah mengetahui kebenaran, telah berhubungan dekat dengan kebenaran itu sebagaimana mestinya, tetapi kemudian berbalik meninggalkannya lalu menjadi penganiaya-penganiaya melawan orang-orang yang berbuat benar. Bahkan sebagaimana adalah sesuatu berkah karena menerima kebenaran, demikian pula adalah sesuatu yang mengerikan jika menolak kebenaran itu. Dan penolakan tidak perlu meliputi semua kebenaran. Menolak sebagian saja pun adalah sama bahayanya dengan menolak keseluruhannya. Jadi demikianlah semua orang harus berhati-hati.” Bacalah Testimonies, jilid 5, halaman 492; Testimonies, jilid 8, halaman 248 – 250; Testimonies, jilid 1, halaman 190; Testimonies, jilid 1, halaman 471 – 472; Testimonies, jilid 5, halaman 207 – 216; Testimonies to Ministers, halaman 380; Testimonies, jilid 2, halaman 708; Testimonies to Ministers, halaman 206, 407, 408.

SUATU UMAT YANG TERSEDIA BAGI SUATU LANGIT YANG BARU DAN SEBUAH BUMI YANG BARU

YESAYA 65

Ayat 1 berbunyi : “Bahwa Aku telah dinyatakan kepada mereka yang tiada bertanya akan Daku; Aku telah ditemukan oleh mereka yang tiada mencari akan Daku; kepada bangsa yang tiada disebut dengan nama-Ku Aku mengatakan, Tengoklah Aku, tengoklah Aku,” Bahasa yang dipakai di dalam ayat ini adalah dalam waktu yang sudah lampau (past tense). Tetapi terdapat kesempatan untuk berargumentasi apakah itu terdapat dalam waktu yang sudah lampau atau dalam waktu sekarang (present tense), karena itu telah diterjemahkan menurut versi King James. Berikut ini, yang mana seluruhnya terdapat dalam waktu yang sudah lampau (past tense), adalah dikutip dari terjemahan bahasa Iberani oleh Isaac Lesser, yang berbunyi : “Aku membiarkan diri-Ku untuk dapat dicari oleh orang-orang yang tidak menanyakan, Aku membiarkan diri-Ku ditemukan oleh orang-orang yang tidak mencarikan Daku; Aku mengatakan, ‘di sinilah Aku’, kepada suatu bangsa yang menamakan dirinya bukan menurut nama-Ku.” Dalam bahasa Yunani, juga dalam bahasa Bulgaria kata-kata itu terdapat dalam waktu yang sudah lampau (past tense), namun marilah kita mengutip ayat yang sama yang telah dikutip oleh Paulus untuk disampaikan kepada orang-orang Romawi, seperti yang terdapat dalam terjemahan versi King James berikut ini. Rum 10 : 20, “Tetapi Yesaya itu dengan beraninya mengatakan, ‘Aku telah ditemukan oleh mereka yang tidak mencari akan Daku; Aku telah dinyatakan kepada mereka yang tidak menanyakan Daku.”

Tentu saja tidak seorangpun dapat memperdebatkan bahasa yang digunakan oleh Paulus, sebab ia adalah cukup terpelajar baik dalam bahasa Iberani maupun dalam bahasa Latin. Lagi pula Paulus telah membuat terjemahan itu dengan diilhami oleh Roh Suci. Oleh sebab itu kita harus percaya akan Injil ini sebagaimana yang telah diterjemahkan oleh dia — dari bahasa Iberani ke bahasa Yunani, – yaitu dalam waktu yang sudah lampau (past tense). Kita akan berbicara mengenai ayat 2, lalu kemudian kembali dengan pengertian itu. “Aku telah mengembangkan tangan-Ku sepanjang hari kepada suatu bangsa yang mendurhaka, yang berjalan dalam jalan yang tidak baik menuruti kehendak hati mereka sendiri.” Perhatikan jika ayat yang pertama terdapat dalam waktu yang sudah lampau (past tense), maka ayat yang kedua terdapat dalam waktu sekarang (present tense). Paulus mengaplikasikan ayat yang pertama itu kepada orang-orang Kapir pada zamannya, tetapi ayat yang kedua diaplikasikannya kepada Israel, yaitu Israel badani. Di sini terdapat suatu kesempatan untuk konsentrasi pikiran terhadap pokok masalah itu. Paulus sedang mengaplikasikan firman itu dalam waktu yang sudah lampau (past tense) kepada waktu sekarang (present tense) pada zamannya, tetapi firman itu dalam waktu sekarang (present tense) ia aplikasikan kepada suatu umat yang sudah lalu. Caranya menggunakan aplikasi tentunya tidak benar bunyinya secara gramatika bahasa, tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa Paulus membuat kekeliruan. Aplikasi dan terjemahannya harus benar, sama seperti juga gramatika bahasanya betul.

Hikmah pengetahuan yang digunakan dalam firman ini adalah mentaajubkan, maka sebab itu hendaknya kita memuliakan Allah kita oleh karenanya. Paulus telah membuat aplikasi itu dengan diilhami Roh, supaya memperjelas firman itu daripada kesulitan yang tampak. Pasal ini bukannya ditulis bagi Israel, ataupun bagi orang-orang Kapir bukan Israel di zaman Paulus yang lalu, melainkan langsung kepada sidang yang ada di waktu ini. Jika ini dapat dibuktikan, maka kita harus menerimanya sebagai kebenaran sekarang yang langsung dari Allah. Kata-kata firman itu karena aplikasinya secara gramatika bahasa tidak benar membuktikan, bahwa sejarah dari pasal ini belum sampai atau masanya belum matang, sama seperti juga kata-kata firman dan nubuatan-nubuatan lainnya. Ia itu tidak dapat dimengerti, juga tidak dapat diaplikasikan dengan tepat sebelum sampai masanya yang telah ditentukan. Kemudian Allah mengungkapkan firman-Nya kepada umat-Nya dalam cara yang akan dipilih-Nya, tetapi hal ini akan datang dalam cara yang tidak disangka-sangka.

Ayat pertama berlaku tepat kepada orang-orang Kapir, ayat kedua berlaku kepada Israel badani, yaitu contoh dari Israel yang dijanjikan itu (mereka 144.000 itu, yaitu sidang di waktu ini; yaitu Masehi Advent Hari Ketujuh). Karena alasan inilah, maka Paulus sudah harus mengaplikasikan kata-kata firman itu kepada Israel contoh, sebab Israel yang sebenarnya atau Israel contoh saingan itu belum ada. Kini masanya sudah masak, maka kata-kata firman itu secara gramatika bahasa adalah tepat, ayat pertama dalam past tense ditujukan kepada orang-orang Kapir di zaman Paulus, ayat kedua kepada sidang di waktu ini, dalam present tense. Dengan demikian kita memiliki bukti positif mengenai aplikasi itu dan waktunya untuk mana kata-kata firman ini diaplikasikan. Ini hendaknya membalikkan hati kita kepada Allah, dan mendorong kita untuk menyelidiki dengan rajin nubuatan yang terkandung di dalam pasal ini.

Ruangan tidak mengijinkan untuk mengemukakan di sini semua yang terkandung di dalam pasal ini. Hanya satu garis besar dari beberapa perkara yang akan diberikan. Tuduhan terhadap sidang bukanlah sesuatu yang menyenangkan, tetapi janganlah ia itu mengecilkan hati kita, karena Allah kita adalah penuh kemurahan hati dan rela mau mengampuni kita dari semua dosa kita kalau saja kita mau mengakui kesalahan-kesalahan kita. Kalau saja tidak demikian halnya, maka Ia tidak akan perlu mengirimkan kepada kita pekabaran ini. Bagian terakhir dari ayat dikutip di sini sebagai berikut : Yang mempersembahkan korban di dalam taman-taman, dan membakar dupa di atas mezbah-mezbah batu bata.” Kita harus memahami, bahwa semua ini adalah simbol-simbol, tetapi semua itu tidak akan sukar untuk diuraikan. Kalau saja ia itu tidak mungkin untuk dipahami, maka tak seorangpun dapat memperoleh manfaat daripadanya, dengan begitu simbol itu tidak perlu digunakan di dalam pasal. “Taman-taman” adalah digunakan untuk pameran. “Korban” adalah sama dengan hadiah. “Dupa”, menurut Wahyu 8 : 3, 4 ialah cara doa-doa disampaikan kepada Allah. Tidak pernah di dalam Alkitab dapat kita baca tentang seseorang umat Allah yang membangun mezbah-mezbah dari batu bata. Mezbah-mezbah kepada Allah selalu dibangun dengan batu-batu.

Perbedaan di antara batu bata dan batu kini akan dibicarakan. Batu bata adalah hasil buatan manusia, tetapi batu ialah buatan Allah. Marilah kita sekarang pikirkan pelajaran yang dimaksudkan di sini. “Taman-taman”, pameran; “Korban”, hadiah-hadiah; “Dupa”, doa-doa; “Batu-batu bata”, rencana buatan manusia. Tuduhan itu adalah, bahwa kita berkorban untuk pameran, kita menyampaikan doa-doa kita kepada Allah (di atas medzbah-medzbah dari batu bata); kita mengikuti manusia dan bukan mengikuti firman Allah yang murni sesuatu yang diberikan kepada sidang.

Ayat 4 berbunyi : “Yang tinggal di antara kubur-kubur, dan bermalam di dalam monumen-monumen, yang makan daging babi, dan kuah dan barang-barang yang haram adalah di dalam bejana-bejana mereka.” “Di dalam kubur-kubur”; “di dalam monumen-monumen”, berarti alat-alat buatan manusia dari mana tidak terdapat kebangkitan apapun. “Daging babi”, “kuah dari barang-barang yang keji”, berarti melalaikan reformasi kesehatan; orang makan apa saja yang diinginkan oleh nafsu selera lidahnya.

Ayat 5 berbunyi : “Yang mengatakan, Berdirilah pada pihakmu sendiri, jangan datang dekat kepadaku, karena sucilah aku daripadamu.” Walaupun kelas orang-orang ini tidak menghidupkan kebenaran itu, namun mereka menyangka dirinya lebih baik daripada orang-orang lain, dan dengan begitu mereka adalah sangat angkuh, oleh sikapnya mereka mengatakan, ‘kami adalah lebih suci daripada kamu’. Dalam ayat 6 Allah mengatakan, bahwa Ia akan “membalas ke dalam ribaan mereka itu.’ Dari penjelasan yang sudah diberikan, para pembaca dapat menentukan sendiri arti daripada ayat yang ketujuh.

Ayat 8 berbunyi : “Demikianlah firman Tuhan, seperti halnya anggur baru ditemukan di dalam suatu tandan buah anggur, lalu kata orang, Janganlah ia itu dibinasakan; karena ada lagi suatu berkat di dalamnya; demikian itu pula akan Ku perbuat demi karena sebab segala hamba-Ku, bahwa Aku tidak akan membinasakan mereka itu seluruhnya.” “Tandan” adalah terdiri dari banyak buah, dan adalah melambangkan sidang sebagai suatu badan. Tuhan mengatakan bahwa Ia tidak akan membinasakan mereka seluruhnya. “Air anggur” di dalam tandan melambangkan darah Kristus, maka karena alasan inilah tidak semua mereka dibinasakan. Ayat sepuluh berbicara mengenai janji kepada mereka yang akan meloloskan diri. Ayat 11 dan 12 berbicara tentang kelas orang-orang yang akan binasa. Pembantaian di sini adalah sama dengan yang terdapat dalam Yeheskiel pasal 9. Mengutip Yesaya 65 : 12 bunyinya : “Sebab itu Aku akan menentukan kamu bagi pedang, dan kamu sekalian akan bertekuk lutut untuk dibantai; sebab ketika Aku memanggil kamu tidak menjawab; ketika Aku berbicara kamu tidak mendengar, tetapi kamu melakukan kejahatan di hadapan mata-Ku, dan kamu memilih barang yang tidak berkenan kepada-Ku.”

Ayat 13 dan 14 menunjukkan pemeliharaan Allah atas umat-Nya dan penderitaan dari kelas orang-orang yang lainnya. Ayat 15 berbunyi : “Maka kamu akan meninggalkan namamu bagi umat pilihan-Ku sebagai suatu kutuk, sebab Tuhan Allah akan memalu kamu, dan Ia akan memanggil hamba-hamba-Nya dengan suatu nama yang lain.” Ayat ini sebelumnya telah dijelaskan dalam hubungannya dengan Yesaya pasal 62. Kelas orang-orang yang disebut di sini adalah sama dengan yang terdapat di dalam Testimonies, jilid 5, halaman 82 yang berbunyi : “Panggilan kepada pekerjaan besar dan penting ini telah disampaikan kepada orang-orang terpelajar yang menduduki jabatan-jabatan penting. Kalau saja mereka ini menganggap dirinya kecil, lalu bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, maka Ia sudah akan menghargai mereka dengan memberikan kepada mereka standard-Nya dalam kemenangan untuk mencapai kemenangan. Tetapi mereka memisahkan diri dari Allah, mereka menyerahkan diri kepada pengaruh dunia, maka Tuhan menolak mereka.”

Ayat 16 berbunyi : “Sehingga orang yang memberkati dirinya sendiri di bumi akan memberkati dirinya sendiri dalam Allah dari kebenaran itu; dan orang yang bersumpah di bumi akan bersumpah oleh Allah dari kebenaran itu; sebab segala kesusahan yang terdahulu sudah terlupakan, dan sebab semua itu sudah tersembunyi dari mata-Ku.” “Memberkati dirinya sendiri dalam Allah dari kebenaran” : Banyak orang akan memberkati dirinya sendiri, tetapi bukan dalam Allah dari kebenaran. Artinya mereka memperoleh kekayaan atau berkat lainnya, tetapi bukan oleh kejujuran. Sebagian orang “bersumpah”, tetapi bukan oleh Allah dari kebenaran. Artinya mereka akan berbicara bohong, tetapi sesudah Allah membersihkan sidang-Nya segala perkara ini berlalu, dan dilupakan.

Ayat 17 – 19 berbicara mengenai bumi yang baru. Ayat 20 dikutip di sini dari terjemahan bahasa Iberani oleh Isaac Lesser. “Tidak akan ada lagi semenjak itu seorang bayi yang hanya hidup beberapa hari, ataupun orang tua yang tiada mencapai segala hari umurnya; karena sebagai anak kecil orang akan mati pada umurnya seratus tahun; dan sebagai orang berdosa akan kena kutuk ia yang (mati) pada seratus tahun umurnya.” Tampaknya terjemahan ini akan membuat arti dari ayat ini sedikit lebih jelas daripada terjemahan King James. Firman ini berbicara tentang waktu pada akhir dari 1000 tahun (millenium) sesudah kebangkitan orang jahat. Pada waktu itu tidak akan ada bayi-bayi yang lahir. “Tidak akan ada lagi semenjak itu seorang bayi yang hanya hidup beberapa hari.” Oleh sebab itu pelajaran ini tidak terlalu sukar bagi orang untuk dimengerti. Semua orang jahat dipanggil keluar dari kebangkitan yang kedua, baik tua ataupun muda (pada saat kematiannya). Semua mereka bangkit pada waktu yang sama. Jam ini menjadi jam kelahiran dari semua orang jahat dalam kehidupan yang kedua. Tidak akan ada lagi kematian yang biasa (alamiah) ataupun yang tidak biasa (tidak alamiah), karena semua mereka harus hidup sampai kepada saat dari kematian yang kedua, yaitu oleh api yang turun dari Allah dari dalam surga yang dituangkan ke atas mereka.” Bacalah Wahyu 20 : 7 – 10. “Maka sebagai seorang berdosa akan kena kutuk ia yang (mati) pada seratus tahun umurnya.” Firman ini meramalkan jangka waktu kehidupan dari orang jahat setelah mereka dibangkitkan yaitu 100 tahun. “Karena sebagai seorang anak kecil orang akan mati seratus tahun umurnya; dan sebagai orang berdosa akan kena kutuk ia yang (mati) pada seratus tahun umurnya.” Selama periode 100 tahun ini orang-orang jahat akan melakukan persiapan untuk menyerang kota suci. Bacalah Wahyu 20 : 8, 9.

Ayat 21 – 25 berbicara mengenai orang-orang suci di dalam bumi yang sudah diperbaharui. Di sini terdapat suatu bukti yang lain, bahwa pasal ini memang ditujukan bagi umat di akhir zaman, sebab ayat-ayat penutup berbicara mengenai bumi yang sudah diperbaharui.

PENGUMPULAN DARI SEGALA BANGSA KAFIR

PERIBADATAN DALAM BUMI YANG BARU

YESAYA 66

Ayat 1 berbunyi : “Demikianlah firman Tuhan, bahwa surga itulah tahta-Ku, dan bumi ialah alas kaki-Ku; manakah rumah yang hendak kamu bangun bagi-Ku, dan dimanakah tempat peristirahatan-Ku?” Rumah yang disebut di sini adalah sebuah rumah kerohanian seperti yang terdapat di dalam Epesus 2 : 20 – 22, yang dilambangkan oleh kaabah Solaiman. Kutipan berikut ini terdapat di dalam buku Prophets and Kings, halaman 35, 36 yang berbunyi sebagai berikut : “Demikianlah sebagaimana bangunan di atas Gunung Moriah telah didirikan dengan tidak berbunyi dengan ‘batu yang siap pakai sebelum ia itu dibawa ke sana; supaya tidak ada palu ataupun kapak ataupun sesuatu peralatan besi terdengar di dalam rumah itu, sementara ia itu dibangun’, sambungan-sambungan yang indah digabung-gabungkan dengan tepat sesuai dengan contoh-contoh yang diberikan oleh Daud kepada anaknya.”

Yang dimaksudkan dengan pelajaran ini ialah bahwa batu-batu rohani (anggota-anggota sidang) akan dibuat siap pakai sebelum semua batu itu dibawa ke sana. Jadi, mengapakah para calon baptisan seringkali diberikan baptisan dan keanggotaan di dalam sidang tanpa terlebih dahulu diberi petunjuk dalam semua kebenaran Advent? Adalah mengherankan untuk diketahui bahwa sejumlah besar apa yang disebut orang-orang Masehi Advent Hari Ketujuh, mereka itu tidak percaya kepada tulisan-tulisan Roh Nubuatan, dan sama sekali tidak tahu akan adanya kebenaran mengenai reformasi kesehatan. Bukankah semua ini adalah prinsip-prinsip dasar di dalam sidang? Bukankah reformasi kesehatan adalah tangan kanan dan lengan dari pekabaran malaikat ketiga? Bukankah praktik yang tak henti-hentinya inilah yang telah menghanyutkan sidang ke dalam duniawi?

Kaabah yang indah itu mengungkapkan kerinduan Allah bagi umat-Nya. Karena alasan inilah, maka Allah telah menghabiskan demikian banyak kekayaan atas struktur bangunan yang mewah ini di atas Gunung Moriah. Menurut perkiraan yang diberikan dalam bulletin bulanan oleh Persatuan Arsitek Illinois, bahwa ia itu mencapai suatu jumlah luar biasa yang lebih dari delapan puluh tujuh milliar dollar Amerika. Berbagai perkiraan menunjukkan biaya keseluruhannya mencapai 87,212,210,840 dollar. Jumlah ini menunjukkan kekayaan suatu bangsa. Pertanyaan yang timbul adalah, Bagaimanakah Israel pernah dapat mengumpulkan sejumlah uang yang sedemikian besarnya untuk dihambur-hamburkan bagi hanya sebuah bangunan? Allah tidak pernah minta dari kita untuk berbuat sesuatu jika Ia sendiri tidak membuatnya menjadi mungkin.

Jumlah kekayaan yang begitu hebat besarnya yang dibelanjakan kepada kaabah yang indah ini menunjukkan perlindungan Allah dan kasih-Nya terhadap umat-Nya, sama seperti halnya kemuliaan dari sidang. Solaiman sendiri mengakui bahwa kaabah ini hanya merupakan lambang dari sebuah kaabah yang ia tidak mampu membangunnya. Dalam 2 Tawarikh 2 : 6 kita baca sebagai berikut : “Tetapi siapakah yang mampu membuatkan sebuah rumah yang patut bagi-Nya, sedangkan langit, bahkan langit di atas segala langit pun tidak dapat menampung Dia? Maka siapakah saya ini yang harus membuat bagi-Nya sebuah rumah, kecuali hanya membakar korban di hadapan-Nya?” Allah meminta dari umat-Nya pada waktu ini: “Di manakah rumah yang kamu bangun bagi-Ku?” (Yesaya 66 : 1). Terjemahan versi Douay terbaca sebagai berikut: “Yang hendak kamu bangun bagi-Ku?” Terjemahan bahasa Iberani terbaca sebagai berikut : “Sebuah rumah yang dapat kamu bangun bagi-Ku?”

“Surga adalah tahta-Ku, dan bumi adalah alas kaki-Ku.” Firman ini menunjukkan ketidak-mampuan bagi manusia berdosa untuk melakukan sesuatu bagi Allah, terkecuali itu dilakukan-Nya melalui dia. Alangkah berdosa kita kepada surga apabila kita mengatakan kita akan menyelesaikan pekerjaan Allah dalam generasi ini, atau mencoba membangun bagi-Nya sebuah rumah dengan berbagai rencana manusia. Kita sudah mengatakan begitu, dan kita sudah bertindak begitu, tetapi kita telah gagal. Sekarang Allah bertanya kepada kita : “Di manakah rumah itu yang hendak kamu bangun bagi-Ku?” Orang dapat saja mengatakan, Lihatlah gereja yang besar ini telah kami bangun. Kalau saja terdapat sesuatu kebesaran dari pembangunan itu, maka itu bukanlah haknya manusia. Walaupun kita telah merasa sombong karena banyak usaha kita, Allah terus membiarkan kita berjalan mengikuti persangkaan kita yang dianggap bijaksana itu sampai kelak kita jatuh dan menemukan kesalahan kita. Benar, adalah sebuah sidang yang besar, namun Allah tidak melihatnya sesuai cara yang kita lihat. Dengan kecepatan yang sedang kita tempuh, ini akan menghabiskan beratus-ratus tahun bagi kita untuk menyelesaikan pekerjaan Tuhan, dan pada kenyataannya kita tidak pernah akan bisa menyelesaikannya. Selanjutnya, sebagai sebuah organisasi sidang yang besar, sidang ini belum siap untuk diobahkan. Oleh karena itu dapatlah kita menanyakan kepada diri kita sendri, ‘Di manakah rumah itu yang sudah kita bangun?’ Pasal 13 dari buku Yeheskiel telah ditulis bagi sidang di waktu ini dari mana kita kutip ayat 5 nya sebagai berikut: “Kamu tidak memanjat ke dalam celah-celah pagar tembok, atau pun membangunkan pagar-pagar bagi isi rumah Israel untuk dapat tahan berdiri dalam peperangan pada hari Tuhan.”

“Dan di manakah tempat peristirahatan-Ku?” Kita menyebut diri kita sebagai pemelihara-pemelihara Sabat dan amat bangga karena memeliharakan perintah-perintah Allah, namun di sini kepada kita ditanyakan “dimanakah tempat peristirahatan-Ku? Kita telah mencemarkan hari Allah yang suci itu, dan telah menajiskan Sabat dengan barang-barang dagangan, seperti yang dijelaskan terdahulu pada judul paragraf Puasa yang benar – Sabat dikembalikan Yesaya 58. Lihat juga pada judul paragraf Penjelasan dari ayat-ayat 12, 14, 15 di Bab V. Seorang pendeta Allah yang baik, setelah ditanyakan kepadanya mengenai kekuasaan untuk menjualkan hasil-hasil percetakan kita pada hari Sabat di dalam rumah Allah, mengatakan, “Adalah suatu pertanyaan berapa banyak hasil-hasil percetakan kita dapat terjual pada hari Sabat.” Pertentangan yang terdapat di dalam pikiran pendeta ini dijawab dalam tiga jenis perkataan : “Tiada satupun.” Tetapi jawaban ini tidak memuaskan orang yang menduduki jabatan yang suci itu, maka ia menambahkan, “Israel kuno yang lalu membunuh anak domba lalu mengorbankannya pada hari Sabat. Oleh sebab itu kita dapat juga menjualkan buku-buku kita.” Jawaban yang diberikan untuk ini adalah, “Jika Israel dahulu melakukan korban anak domba itu pada hari Sabat mereka memang diberitahu untuk berbuat begitu, tetapi kamu diberitahu untuk jangan berbuat, maka inilah perbedaannya.” Kenyataan dari masalah ini ialah, bahwa Allah tidak memberikan Sabat hari yang ketujuh itu kepada Israel kuno yang lalu bagi mempersembahkan korban, melainkan bagi suatu hari istirahat. Sabat-Sabat bulanan telah ditambahkan untuk korban-korban itu. Bacalah Immamat pasal 23.

Dalam ayat kedua dari buku Yesaya pasal 66, Allah memberitahukan kepada kita bahwa semua perkara ini yang karenanya kita merasa sombong, telah Ia ciptakan dan semua itu telah jadi, “tetapi Aku akan menilik kepada orang ini, yaitu kepada dia yang miskin dan patah semangatnya (bertobat), dan yang gentar karena firman-Ku.” Ayat 3 berbunyi : “Barangsiapa yang membunuh seekor lembu adalah seolah-olah ia membunuh seseorang; barang siapa yang mengorbankan seekor anak domba yaitu seolah-olah ia memotong putus leher seekor anjing; barangsiapa yang mempersembahkan persembahan makanan, ia itu seolah-olah mempersembahkan darah babi; barangsiapa yang membakar kemenyan, ia itu seolah-olah memuja berhala. Sesungguhnya, mereka telah memilih jalannya sendiri, dan jiwa mereka berkenan kepada semua kekejian mereka itu.” Firman ini adalah jelas tanpa salah, bahwa semua korban kita, persembahan-persembahan kita, doa-doa kita, dan apapun bentuk peribadatan kita yang kita punyai, adalah bukan saja suatu kekejian kepada-Nya, melainkan itu adalah sangat mendurhaka. “Sesungguhnya mereka telah memilih jalan-jalannya sendiri, dan jiwa mereka berkenan kepada semua kekejian mereka itu.”

Ayat 4 berbunyi : Aku juga suka akan pembalasan perbuatan mereka itu, dan barang yang ditakutinya itu Ku datangkan kelak atasnya; sebab sudah Aku berseru, tetapi seorangpun tiada yang menyahut; sudah Aku berfirman, tetapi tiada mereka itu mendengar, melainkan diperbuatnya barang yang jahat di hadapan mata-Ku, dan disukainya akan barang yang tiada Aku berkenan.” Allah telah menyerukan melalui pelajaran-pelajaran ini sewaktu disampaikan kepada sidang melalui departemen Sekolah Sabat, tetapi semua itu datang, dan pergi, dan telah dilupakan. Maka dengan begitu, oleh sebab mereka telah memilih jalan-jalannya sendiri, dan telah berbuat jahat di hadapan Allah, dan tidak menyukai untuk mengikuti petunjuk-petunjuk yang telah diberikan kepada sidang, maka sekarang, Ia mengatakan Ia akan memilih pembalasan terhadap perbuatan mereka itu, dan akan mendatangkan apa yang ditakutinya atas mereka itu. Adalah sesuatu perkara yang mengerikan jika menutup telinga daripada suara Allah. Jika ayat ini berbicara mengenai suatu kelas orang-orang yang berketetapan hati untuk mengikuti pilihan mereka sendiri daripada jalan Allah, maka ayat berikutnya berbicara mengenai suatu kelas orang-orang yang takut akan Allah, dan dengan berani berbakti kepada-Nya. Dengan demikian jelas sekali bahwa ada dua kelas umat di dalam sidang.

Ayat 5 berbunyi: “Dengarlah olehmu akan firman Tuhan, hai kamu yang gentar akan firman-Nya; adapun saudara-saudaramu yang membenci akan dikau dan yang membuang engkau karena sebab nama-Ku, kendati mereka itu berkata demikian, ‘supaya Tuhan dipermuliakan!’ Tetapi Tuhan akan kelihatan kelak bagi kesukaan kamu, dan mereka itu akan malu.” Ayat ini menunjukkan, bahwa walaupun seruan yang terdapat di dalam pelajaran-pelajaran ini ditolak oleh mereka yang menduduki jabatan-jabatan bertanggung jawab, firman Allah tidak akan pernah kembali dengan hampa kepada-Nya, karena kelas orang-orang yang terdapat di dalam ayat ini mereka takut akan Allah, dan mereka gentar akan Firman-Nya, maka akibatnya ialah bahwa ada pemisahan di dalam sidang. Kelas orang-orang yang menentang Allah itu di samping besar jumlahnya, mereka juga memiliki suatu pengaruh yang kuat atas anggota-anggota sidang, sebab ayat itu mengatakan mereka memecat keluar akan saudara-saudaranya (kelas orang-orang yang benar) demi karena nama Tuhan. Kelas orang-orang yang memecat keluar umat Allah ini menyangka bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan-Nya, sebab terbaca dari firman itu; (mereka) “mengatakan, supaya Tuhan dipermuliakan.”

Adalah cukup jelek bagi seseorang untuk menolak firman Allah, tetapi jauh lebih buruk lagi apabila orang yang sedemikian adalah begitu buta, sehingga oleh menolak seruan sorga, ia masih mengira bahwa ia sedang melakukan pekerjaan Allah. Ayat ini berisikan suatu janji yang membesarkan hati bagi orang-orang yang takut akan Allah, sebab dikatakan di sana, “Ia akan kelihatan kelak bagi kesukaan kamu,” maka apabila Tuhan kelak memenuhi janji-Nya para penindas Allah itu “akan malu”. Telah menjadi salah satu dari siasat-siasat Setan sepanjang sejarah kehidupan sidang ialah membanjirinya dengan agen-agennya dan orang-orang yang tidak bertobat, supaya apabila kebenaran datang kepada sidang, segera setelah umat Allah menyambut seruan itu, maka ia telah siap berdiri untuk memecat mereka keluar oleh suara terbanyak dari para pengikutnya. Akibatnya adalah bahwa perlu melahirkan suatu pergerakan yang baru atau organisasi sidang, tetapi, menurut ayat 4 dan 6, dalam peristiwa ini Allah akan menanganinya dengan cara yang sama sekali berbeda. Alasan yang ada ialah, sebab Allah telah mengorganisir sendiri organisasi gereja ini melalui perantaraan seorang nabi, dan telah diberikan kepada kita terang istimewa dari kebenaran sekarang. Jadi, dengan tiada maaf terserah kepada kita, maka Allah menanganinya sesuai dengan itu terhadap umat-Nya.

Mengutip Testimonies, jilid 3, halaman 265 yang berbunyi : “Tetapi jika dosa-dosa orang banyak itu dilewati saja oleh orang-orang yang menduduki jabatan yang bertanggung jawab, maka wajah amarah-Nya akan ditujukan atas mereka, dan umat Allah sebagai suatu badan akan diminta bertanggung jawab karena dosa-dosa itu. Dalam penanganan-Nya terhadap umat-Nya di masa lalu, Tuhan menunjukkan perlu adanya pembersihan sidang dari segala kesalahan.” “Suara keributan”, ayat 6, menunjuk kepada kelas orang-orang yang telah memilih jalan mereka sendiri sebagai gantinya jalan Tuhan, yaitu mereka yang disebut-Nya sebagai musuh-musuh-Nya.

Ayat 7 dan 8 berbunyi: “Sebelum ia menggeliat kesakitan, ia sudah melahirkan, sebelum sakitnya untuk melahirkan tiba, ia sudah melahirkan seorang bayi laki-laki. Siapakah yang telah mendengar akan hal yang sedemikian ini? Siapakah yang telah melihat perkara-perkara yang sedemikian ini? Dapatkah bumi dilahirkan dalam sehari jua? Atau dapatkah suatu bangsa dilahirkan dengan tiba-tiba? Karena segera sesudah Sion menggeliat kesakitan, maka ia melahirkan anak-anaknya.” Di dalam dua ayat ini sebuah perbandingan telah dibuat antara sidang pada kedatangan Kristus yang pertama (orang-orang Yahudi) dan sidang yang berada tepat pada menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali. “Sebelum Ia menggeliat kesakitan, ……….. sebelum sakitnya untuk melahirkan tiba.” Ini menunjuk kepada sidang pada waktu Kristus datang. Ia tidak menyangka akan kedatangan-Nya (tidak menggeliat kesakitan), juga tidak merasa, ataupun mengetahui kapan kedatangan-Nya. Sungguhpun ia belum patut, “ia sudah melahirkan seorang bayi laki-laki.”

Sidang yang dimaksud di dalam ayat delapan adalah kebalikan dari sidang yang terdapat di dalam ayat tujuh. Waktunya sudah masak bagi suatu pergerakan yang besar, di mana beribu-ribu orang dapat ditobatkan dalam sehari saja. Ini adalah sidang dalam masa hujan akhir, yaitu seruan keras dari pekabaran malaikat yang ke tiga. Sidang telah sepenuhnya bersungguh-sungguh. Segera setelah adanya suatu kesakitan hendak melahirkan yang sungguh-sungguh bagi kesucian orang-orang berdosa, maka segera pula pekerjaan itu selesai, hampir secara tiba-tiba. “Dapatkah bumi dilahirkan dalam sehari jua? Atau dapatkah suatu bangsa dilahirkan dengan tiba-tiba? Karena segera setelah Sion menggeliat kesakitan, maka ia melahirkan anak-anaknya.”

Ayat 9 menunjukkan bahwa Allah adalah orang yang melaksanakan pekerjaan itu. Ayat sepuluh mengatakan, bahwa orang-orang yang mencintai perempuan itu (sidang) dan yang meratapinya sekarang, mereka akan kelak bersuka cita dan bergembira. Ayat sebelas menunjukkan mengapa mereka akan bersuka-cita dan bersenang-senang; karena sebab kebenaran dan terang yang ada di dalam Firman Allah yang akan datang kepada sidang yang dilambangkan oleh air susu. “Supaya boleh kamu mengisap susu sampai kenyang dan dipuaskan dengan penghiburan, supaya boleh kamu mengisap susu, dan merasa nikmat dengan berkelimpahan kemuliaan dari perempuan itu.” Yesaya 66 : 11. Ayat 12 – 14 menceriterakan tentang pengawasan Allah atas umat-Nya, dan kasih sayang sidang terhadap anggota-anggotanya, kebaikan Tuhan terhadap hamba-hamba-Nya, dan penghinaan terhadap musuh-musuh-Nya.

Ayat 15 – 17 berbunyi : “Karena, tengoklah, Tuhan akan datang dengan api, dan dengan segala kereta-Nya bagaikan suatu angin puyuh, untuk melampiaskan murka-Nya dengan hangat,  dan hardik-Nya dengan nyala-nyala api. Karena dengan api dan dengan pedang-Nya Ia akan menghukum segala manusia; maka besarlah kelak bilangan segala orang yang dibunuh Tuhan. Mereka yang menyucikan dirinya sendiri, dan yang membersihkan dirinya di dalam taman-taman di balik sebatang pohon yang di tengah-tengahnya, yang makan daging babi dan barang-barang yang keji, dan tikus, akan dihapuskan bersama-sama, demikianlah firman Tuhan.” Kedatangan Tuhan “dengan api …….. untuk melampiaskan murka-Nya dengan panas”, bukanlah kedatangan Kristus di dalam awan-awan untuk menyambut umat-Nya. Ini adalah pada sebelum berakhir masa kasihan, dan dalam masa pembersihan sidang. Lihat Maleakhi 3 : 1 – 3. Ia datang dengan membawa pembalasan terhadap orang-orang yang mengakui nama-Nya, tetapi mengikuti manusia gantinya mengikuti Kristus, sehingga akibatnya ialah bahwa mereka tidak memeliharakan kebenaran-Nya. (Kelas orang-orang yang tidak memeriksa sendiri bagi dirinya, melainkan menerima saja keputusan-keputusan orang-orang lain yang sedang mengikuti manusia, dan berada di dalam genggaman Iblis).

“Di balik sebatang pohon” : Secara terbatas dibaca, “yang satu mengikuti yang lainnya”. Bacaan ini membenarkan terjemahan : “Mengikuti pemimpin”. Artinya, orang banyak cenderung untuk mengikuti seseorang yang menduduki jabatan yang tinggi, gantinya menyelidiki di dalam Firman bagi diri mereka sendiri dan menuntut sesuatu “demikianlah firman Tuhan”. “Di dalam taman-taman di balik sebatang pohon” : Kalimat ini juga mengemukakan “pohon pengetahuan baik dan jahat”. Mengambil buah larangan di dalam taman Eden telah mendatangkan dosa. Tuduhan di sini adalah sama, hanya lebih buruk. Manusia telah memilih bagi makanannya perkara-perkara yang dilarang Allah, sehingga mereka “membelanjakan uangnya bagi barang yang bukan makanan.” “Dengan pedang-Nya Tuhan akan menghukum segala manusia”. Ini tidak dimaksudkan kepada orang-orang yang di luar sidang, karena kita baca di dalam ayat sembilan belas, “Maka aku akan menaruh suatu tanda di antara mereka, dan Aku akan mengutus orang-orang yang luput dari mereka itu kepada segala bangsa.” Bagian terakhir : “Maka mereka akan memasyurkan kemuliaan-Ku di antara segala bangsa Kapir.” Adalah jelas di sini bahwa orang-orang yang akan menghindari kehancuran itu, Allah akan mengutus mereka kepada segala bangsa, dan mereka akan memasyurkan kemuliaan-Nya kepada segala bangsa Kapir”. Oleh sebab itu, ini tak dapat tiada harus jadi di dalam sidang saja, dan dalam sesuatu jangka waktu sebelum berakhir masa kasihan. “Bangsa-bangsa” yang disebut di dalam ayat ini adalah hanya untuk menunjukkan luasnya wilayah yang akan diliputi oleh hamba-hamba-Nya (di dalam segala bangsa).

Kehancuran yang disebut di dalam ayat 15 – 17, dan di dalam Yesaya 63, adalah sama. Jadi demikianlah Allah membuat semua itu menjadi suatu contoh, atau tanda bagi segala bangsa, karena kita baca di dalam bagian terakhir dari ayat delapan belas dan bagian pertama dari ayat sembilan belas: “Akan datang kelak, bahwa Aku akan menghimpunkan segala bangsa dan segala bahasa; dan mereka akan datang, dan melihat kemuliaan-Ku. Dan Aku akan menaruh suatu tanda di antara mereka itu.”

Ayat 20 berbunyi : “Maka mereka akan menghantarkan semua saudaramu bagi suatu persembahan bagi Tuhan keluar dari segala bangsa dengan menunggang kuda, dan dengan kereta-kereta, dan dengan usungan, di atas bagal dan onta betina yang cepat, ke bukit kesucian-Ku Yerusalem, demikianlah firman Tuhan, sama seperti bani Israel menghantarkan suatu persembahan dalam bejana yang suci ke dalam rumah Tuhan.” Ayat ini menunjukkan berhimpunnya orang-orang Kapir kepada sidang oleh hamba-hamba-Nya (mereka yang 144.000 itu). “Bukit kesucian-Nya” berarti organisasi Gereja-Nya; “Yerusalem” berarti bagian yang memimpin.

Ayat 21 berbunyi : “Dan lagi Aku akan mengangkat beberapa orang dari mereka itu akan imam-imam dan orang-orang Lewi, demikianlah firman Tuhan.” Sudah kami jelaskan di depan, bahwa mereka yang 144.000 itu akan menjadi imam-imam dan orang-orang Lewi, tetapi di dalam ayat ini Tuhan mengatakan, bahwa Ia akan mengambil juga dari orang-orang Kapir itu “akan imam-imam dan orang-orang Lewi”. Alasan untuk ini diberikan di dalam dua ayat berikutnya. Ayat 23 berbunyi : “Maka akan jadi kelak, bahwa dari satu bulan baru sampai kepada bulan lainnya, dan dari Sabat yang satu sampai kepada Sabat lainnya, segala manusia akan datang menyembah sujud di hadapan-Ku, demikianlah firman Tuhan.” Akan ada suatu sistem perbaktian, maka sebab itu perlu adanya imam-imam dan orang-orang Lewi.

Ayat 24 berbunyi : “Maka mereka akan keluar, dan akan melihat akan bangkai-bangkai dari orang-orang yang mendurhaka melawan Aku; karena cacing-cacingnya itu tidak akan mati, dan api mereka itu pun tidak akan padam; maka mereka itu akan menjadi sesuatu yang menjijikkan bagi segala manusia.” “Karena cacing-cacing mereka itu tidak akan mati, dan api mereka itu pun tidak akan padam.” Tubuh manusia dimakan habis oleh cacing, maka artinya cacing-cacing pembasmi ini tidak akan mati sebelum bangkai itu habis menjadi habu. Juga api tidak akan padam sebelum “bangkai-bangkai” itu habis menjadi habu. Alasannya mengapa cacing dan api disebut di sini adalah diceritakan di dalam ayat enam belas : “Karena dengan api dan dengan pedang-Nya Tuhan akan menghukum segala manusia”. Pembinasaan akan diselesaikan oleh keduanya, maka di mana pedang digunakan, cacing akan melaksanakan tugasnya. “Cacing itu tidak akan mati ……. api tidak akan padam”, berarti bahwa nubuatan ini adalah pasti, dan pembinasaan yang diramalkan akan dilaksanakan.

 

* * *

 

 

 118 total,  1 views today

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart